Kamis, 26 Mei 2016

BUKIT TANGKILING, INTERMEZO RUTINITAS


Kami libur satu minggu. Jurusan kami aja. Soalnya kan, para dosen pergi ke Jogja membawa angkatan 2014 yang Kuliah Lapangan di Kulon Progo.
Tanggal 22 Mei kemarin aku sama Friska ke Bukit Tangkiling. Ini katanya bukit tertinggi (karena gak ada gunung di sini) di daerah ini. Kami berangkat pagi-pagi jam 3 dari Palangka Raya menuju desa Tangkiling. Karena si Friska masih ngantuk (dia menderita insomnia), terpaksalah aku yang bawa motor. Mengarungi jalanan sepanjang kurang lebih 32 km sendirian dengan terkadang tanpa sadar mataku terpejam juga. Uhh, untung gak nabrak. Bukan pertama kalinya aku pergi pagi-pagi untuk mendaki bukit itu. Sebelumnya juga udah pernah. Ngecamp di sana sama anak-anak MAPALA juga sering.
Berhubung si Friska ini bukan anak MAPALA, bisa diperkirakan fisiknya lemah. Apalagi dia kurus. Apalagi dia insomnia. Kami parkir di tempat parkir pengunjung. You know what? Kirain gak ada penjaganya, eh malah ada. Beberapa motor ada juga yang parkir di sana. Mungkin pendaki yang lain ada yang bermalam di puncak. Jadi mereka terpaksa tidur di sana untuk menjaga motor-motor itu.

"Parkirnya 10 ribu, uang masuk tiap orang 10 ribu," kata si bapak.
WHAT THE ...
"Kok semahal itu, Pak. Kayaknya kemarin-kemarin cuma bayar uang parkir aja dah."
"Kapan kemarin-kemarinnya?"
"Itu.. Saya orang sini loh, Pak."

Begonya aku, aku gak sadar kalau logatku saja sudah tidak memungkinkan untuk disebut orang sini. Dasar bego Magda!
"Yaudah berapa tadi, Pak? Ada tukaran uang 100 kan?" tanya si Friska selo.
Yaelah. Mau aja dia dibohongin. Tapi kan, aku memang karena gak bawa duit makanya mencoba berdebat dengan di si bapak. Kalau si Friska bawa uang ya it's ok.

"Gak bisa kurang lagi nih, Pak?" tanyaku gak rela. Padahal kan uang Friska yang melayang 30 ribu.
"Kami banyak loh yang jaga. Sampai tidur sini. Hasilnya harus dibagi-bagi, Mbak."
"Udahlah, Len. Biar aman motor kita."

Itu kan motor mu Fris. Hahahah.

Masih jam 4 lewat 10 menit. Terlalu pagi menurutku. Si Friska dibilangin gak percaya sih.
"Sunrise-nya jam 5 loh, Len."
Terserah dah. Yang pasti ini dingin sangat. Padahal aku udah pake jaket (jaket angkatan yang jelek banget), jins (mana ada mendaki pake jins?), topi rajut, selendang mama yang kujadikan syal di leher dan sendal gunung (yang ini malah bikin kaki makin kedinginan). Karena kami dari jalur aman yang ada tangga-tangganya, perjalanan ini jadi terasa kurang menantang. Untuk anak MAPALA kayak aku sih ini enak aja. Tapi ya, harus sadar juga . Kita sama siapa. Friska aja muntah-muntah di tengah pendakian. Belum sampai puncak loh. Aku sempat takut kalau dia muntah terus, kehabisan cairan dalam tubuh, akhirnya .. meninggal. Yang ada dibenakku:

1. Aku dituduh melakukan pembunuhan terhadap Friska dengan motif kecemburuan sosial karena dia     cantik padahal aku jelek.
2. Gimana cara membawa mayat ini nanti? 
3. Kalau dia beneran mati, aku bakal pulang sendirian.

Untungnya Friska gak mati. Dia cuma lemas. Aku gosokin balsem ke lehernya. Terus kukasih minyak angin ke hidungnya untuk dihirup-hirup. Tentu saja dia juga kukasih minum air yang kami bawa sebagai bekal dari kos.

Mendaki sambil berpegangan tangan. Apa boleh buat. Anak itu semakin lemah. Gak terasa udah jam 5 kurang. Langit mulai terang. Inilah dia kawan-kawan.



Ternyata benar, ada yang nginap semalam di puncak bukit. Dengan PD-nya aku minta si Friska ngambil fotoko di samping tenda-tenda mereka. Keliatannya kayak kami semalam juga nginap di sini. Wkwkwkwk.




Saling menyapa dengan orang-orang di sana. Meskipun memang gak kenal. Tata krama ya, kan. Kayak sih mereka anak-anak Pramuka soalnya kuliat pas udah terang mereka foto-foto dengan bendera pramuka. Aku dan Friska langsung naik ke batu yang adalah puncaknya. Assekk..

















































Menikmati pemandangan hutan dari atas batu. Setelah itu tepar dan tertidur sejenak. Aku gak tau udah berapa lama kami tertidur ketika ada suara-suara anak kecil super cerewet yang menyuruh kami bangun. Udah siang, begitu katanya. Kubuka mataku dan tampaklah manusia-manusia berumur 11 tahun yang mungkin baru selesai ujian nasional. Jadi mereka datang kesini dengan guru-gurunya. Saat itu udah jam 8.30. Udah cukup panas dan tidur pun gak nyaman lagi. Kubangunkan si Friska biar kita pulang. Back to Palangka Raya.

Dalam perjalanan turun, sempat-sempatin lagi jepret foto di tempat strategis ini. Di lorong sempit, di bawah batu (sekilas kayak goa), jalanan menurun yang berlalang hijau. Hm,, serasa di Oro-oro Ombo Mahameru. 

















Kembali ke kos. Kembali ke rutinitas. Pendakian hari ini hanyalah intermezo. 

SALAM LESTARIII ....!!!

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...