Keinginan untuk menjelajahi, sebenarnya memang udah
terpatri di dalam diri ini. Yang jadi penghalang untuk melaksanakannya adalah
dana dan waktu yang pas. Terutama dana. Anak kuliah kayak aku mana ada
penghasilannya.
Namun, sepertinya kali ini akan segera terwujud. Aku
dan Bonita udah sepakat buat jadi backpacker
libur semester ini. Disaat teman-teman seangkatan kami lagi sibuk magang di
perusahaan, kami malah menyusun rencana petualangan ini. Bonita sempat khawatir
soal dana. Jadi kuberitahu dia kalau aku juga hanya punya budget 1,7 aja. Itu
pun uang yang seharusnya untuk beli hp. Tapi.. ah! Biarlah hp ku gak ganti.
Asal bisa jalan-jalan.
Malang tak bisa ditolak, untung gak bisa diraih.
Kebalik ya? Kan sama aja maknanya. Jadi, malang buatku karena Bonita gak jadi
ikut. Dia menyarankan kami untuk berangkat awal Agustus. Aku gak bisa menunggu
lagi sampai Juli berakhir. Jadinya kuputuskan untuk berangkat sendirian. Aku
membaca tentang perjalanan seorang dirinya yang katanya akan membawa banyak
pelajaran bagi diri kita, melatih mental, dan tentunya … banyak resikonya.
Sendirian! Mana aku cewek lagi!
Tapi itulah yang namanya tekad. Aku pun nekad
berangkat sendirian. Bermodalkan kata-kata sang guru Julian Balia dalam Sang
Pemimpi, ‘Bebaskan! Bebaskan hidup kalian. Ambil resiko yang paling tinggi.
Supaya hidup kalian lebih kaya.’ Persiapan yang kulakukan juga minim. Bisa
dibilang demikian.
Aku mulai mencatat info-info tentang destinasi tujuan.
Rencananya aku akan ke Surabaya dulu naik kapal dari Banjarmasin. Antara tiga
atau empat hari di sana lanjut ke Malang, terus ke kota Batu. Setelah itu balik
lagi. Tempat-tempat yang akan kukunjungi juga kucatat dan kucari info lebih
banyak tentang itu. tiket masuk, hari buka, sampai akses menuju ke sana naik
apa. Aku juga memprint daftar sekretariat MAPALA yang ada di Jawa Timur. Ini
kelak berguna sebagai tempat peristirahatan sekaligus silaturahmi, jika
seandainya gak ada tempat penginapan murah atau masjid yang ditemui. Aku memang
gak ada niat mau nginap di penginapan sih. Namanya juga backpacker, jalan-jalan murah. Tidur ya, di pom bensin aja. Atau
teras toko.
Berbekal ransel pinjaman dari Yuni, aku pun packing semua barang-barang yang kiranya
akan kubutuhkan. Mulai dari baju, sabun, charger, buku, alat tulis, senter,
sarung, novel, topi, dan sebagainya. Kemudian sehari seblum berangkat, aku
menelepon keluarga ayah dan ibu, kakak dan saudaraku yang lain memberitahu
kalau aku akan ke jawa, jalan-jalan. Mereka awalnya khawatir, tetapi aku
meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku juga sudah meyakinkan
diri sendiri bahwa perjalananku ini akan baik-baik saja walaupun aku sendirian.
Aku sudah membaca artikel-artikel tentang perjalanan yang dilakukan seorang
diri itu sangat banyak manfaatnya. Jadi aku putuskan untuk berangkat.
Sabtu, 16 Juli 2016
Aku diantarkan Yuni ke terminal Logos. Sayangnya, kami
telat. Sang bus udah berangkat ke Banjarmasin hanya beberapa menit yang lalu.
Aku bahkan melihatnya dari seberang jalan. Apa boleh buat, aku terpaksa naik
taksi yang harganya 50 ribu. Itu pun mereka minta lagi mau ditambahi 10 ribu
lagi. Kubilang aja gak punya duit lagi. Aku sempat merasa kacau dan berpikir
sepertinya perjalanan ini gak akan berjalan mulus, karena di awalnya aja udah
ketinggalan bus.
Di dalam taksi ternyata ada seorang penumpang asal
Murung Raya (kalau gak salah ingat), cowok. Sebut aja namanya Rian. Tidak, ini
terlalu kren untuk orang setidak kren dia. Oke sebut saja dia Oki. Pertama kali
aku masuk, pertanyaan yang dilontarkannya sangat tidak berperi-usia-an.
“Sendirian aja, Mbak? Suaminya mana?”
Kampret! Sekalian aja tadi dia nanya, ‘Anaknya kok gak
dibawa.’
Apakah aku terlihat seperti orang yang sudah mengenal
cinta? Maksudku pertanyaannya itu hanya bisa diajukan untuk orang yang sudah
menikah. Sementara aku?
Dengan santai kujawab, “Oh, saya masih kuliah. Belum
menikah.”
Kemudian dia mulai memperkenalkan dirinya. Namanya,
kerjaannya, asalnya, lulusannya, sampai statusnya. Bahkan dia terang-terangan
mengatakan dirinya jomblo. Oh ini sangat sangat… tidak efisien. Aku bahkan
tidak pernah ingin tahu. Dia juga mengatakan kalau dia mau jalan-jalan ke
Surabaya, tapi belum tahu mau kemananya. Mendengar itu aku langsung senang
karena aka nada teman backpackeran. Kesenangan
ini gak berlangsung lama, karena beberapa jam kemudian aku muntah dan plastik
untuk menampung muntah gak ada. Aku menuang sesuatu dari palstik yang
membungkus isinya sembarangan ke dalam tas, lalu memakainya sebagi tampungan
muntahan. Waks, baru memulai perjalanan, udah seburuk ini? Pelajaran moral
nomor 1: jangan lupa minum antimo.
Tiba di Banjarmasin, aku nginap di rumah teman,
Yulisa. Dia juga anak GmnI, makanya aku kenal. Kalau si Oki katanya mau ke
pasar dulu cari makan. Terserahlah. Lama-lama aku ragu mau mengikutkannya dalam
petualangan ini. Haruskah aku pergi sendirian aja? Tapi kami (aku dipaksa)
sudah tukeran nomor hp, jadi nanti sore bakal naik kapal sama-sama ke Tanjung
Perak, Surabaya.
Yulisa menyambutku dengan ramah, bahkan mmbelikan makan
siang buat kami. Ayah dan ibunya bekerja sampai sore. Jadi dia sendirian di
rumah. Aku baru tahu kalau ternyata Yulisa anak tunggal. Ketika jam 2 siang, ia
mengantarkan aku ke pelabuhan Trisakti. Oke, ini akan jadi pelayaran perdanaku.
Namun sialnya adalah aku lupa ngambil uang dari atm untuk beli tiket kapal. Di
dompet sisa 30 ribu. Sangat susah mencari atm BRI dalam perjalanan menuju pelabuhan.
Pelajaran moral nomor 2: jangan pernah lupa mengecek isi dompet anda sebelum
bepergian. Untungnya kita ketemu dengan pusat atm di area PELINDO. Ada berbagai
macam atm disitu. Tapi sialnya atm BRI-nya lagi gak ada uangnya. Terpaksa pake
atm BNI. Potongan 7 ribu!
Yulisa sudah tahu tentang aku bertemu si Oki ini dan
perihal kami akan berpetualang bersama. Tapi setelah mmikirkannya, aku sendiri
mulai ragu. Bukankah aku yang ingin bepergian sendirian? Semacam uji nyali.
Lalu kenapa aku harus mengandalkan orang itu? Baiklah, akan kudepak dia dengan
wajar. Bahkan Yulisa sendiri mengatakan, “Itukah orangnya? Kok gak meyakinkan
gitu ya,” setelah melihat penampilan si Oki. Aku ingin mengatakan jangan
menilai dari penampilan, tapi itu sama saja aku membela si Oki.
“Hei, ini temanmu?” tanyanya begitu kami tiba. Ya,
kami ada di depan area agen yang menjual tiket kapal. Mereka tidak bersalaman,
sepertinya layaknya orang yang belum saling kenal. Sebaiknya kita, eh aku mulai
mencari tiket kapal. Saat itu sudah jam 2 siang. Kami pun mendatangi sebuah
agen dan mengatakan kalau harga tiket kapal Banjarmasin-Surabaya seharga 260
ribu. Itu akan sama untuk semua agen penjual tiket di sekitar pelabuhan ini,
katanya. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan perlakuan hyper persuasif si ibu itu. Makanya aku
meninggalkan Yulisa dan Oki lalu pergi mendatangi agen lain. Seorang
bapak-bapak gendut. Memang benar harga tiketnya sama. Berangkatnya jam 6 sore
itu.
Mereka berdua datang menyusulku ke sana, dan
meninggalkan tas ranselku yang besar di agen sebelumnya. Hujan pun datang. Tas
itu masih di luar. Pelajaran moral nomor 3: jangan pernah meninggalkan barang
anda sembarangan. Terjadi perbincangan antara aku, Yulisa dan si bapak.
Topiknya tentang kuliah dan hubungannya dalam mencari pekerjaaan. Si Oki gak
ada ikutan ngomong di sini. Dia diam. Dan akhirnya pergi keluar. Selamanya.
Maksudku aku berhasil mendepaknya dan bisa pergi sendirian. Tiba-tiba muncul si
ibu hyper persuasif tadi. Dengan
bertolak pinggang dia berbicara keras-keras dalam bahasa banjar mungkin. Jadi
aku gak mengerti. Tapi mungkin dia merasa dikhianati karena aku gak jadi
membeli tiket di tempatnya, malah pergi ke tempat lain. Jantungku berdetak
cepat ketika di akhir si ibu berkata, “Perjalananmu nantinya gak akan selamat.”
Oh tidak. Ini menakutkan. Apakah si Oki mengadu pada si ibu itu? Atau si ibu
itu punya indera ke-6 bisa tahu kami ada dimana.
“Benar-benar pemikiran dangkal,” kata si bapak ketika
si ibu hyper persuasif pergi.
“Seharusnya dia bisa menerima kenyataan. Kalau bukan rezeki ya, jangan
dipaksakan. Lha kok marah-marah gak masuk akal.”
Aku membenarkan perkataan si bapak dalam hati. Dia
kesal atau cemburu karena aku gak jadi beli tiket di tempatnya. Tapi bagaimana
dengan sumpah serapah tadi, tentang aku yang gak akan selamat dalam perjalanan?
Yulisa pamit karena ibunya menelpon. Setelah membeli
tiket, aku sendiri langsung ke pelabuhan. Bersama seorang lelaki tua yang tadi
membeli tiket juga di tempat si bapak ini. Kami bersamaan ke pelabuhan. Saat
itu sudah jam 4 sore. Kami menunggu 2 jam kemudian, tetapi yang terjadi adalah
kapalnya delay. Aku juga baru tahu
gak cuma pesawat yang bisa delay. Delay selama 10 jam. Karena kapal
jadinya akan berangkat besok jam 4 subuh. Dalam waktu sejenak saja aku sudah
jadi kayak gelandangan. Tidur di lantai ruang tunggu. Ada sih yang menyewakan
alas tidur (bekas karung gitu) 5 ribu sepuasnya. Tapi gak deh.
Minggu, 17 Juli 2016
Kurasa aku dibangunkan seseorang. Kukira si Oki datang
mengikutiku. Oh, ternyata pak Abdul. Lelaki tua yang membeli tiket kapal di
tempat yang sama denganku kemarin. Sudah jam 2 pagi. Aku mendapati hp ku mati.
Mencari tempat colokan, gak ada. Pelajaran moral nomor 4: bawalah power bank kalau bepergian jauh.
Akhirnya kuputuskan untuk duduk-duduk saja dan berbincang dengan Pak Abdul.
Beliau takjub (atau terkejut) dengan rencana perjalananku yang sendirian ke
Surabaya. Selanjutnya aku bertanya terus tentang daerah wisata di sana karena
ternyata beliau asli orang Surabaya.
Sejam kemudian, petugas mempersilahkan kami check in. Lagi-lagi aku sempat heran. Kukira
hanya di pesawat aja ada check in. Di
sini kita harus bayar lagi 10 ribu. Terjadi kekhawatiran karena tiket pak Abdul
sempat hilang. Semua orang seolah menyalahkanku. Kau kan putrinya, masa gak bisa menjaga tiket ayahmu. Untungnya
ketemu. Kami segera melewati petugas yang memeriksa tiket lalu masuk ke kapal.
Kapalnya KM Gerbang Samudera I yang lumayan besar. Akhirnya aku akan naik kapal
juga … selama 20 jam ke Surabaya.
Kapal ini dua tingkat. Tingkat bawah untuk truk,
mobil, dsb. Tingkat atas untuk penumpang. Di atas tidak ada kasur atau matras
empuk seperti yang kubayangkan. Hanya ada papan tempat untuk berbaring. Tanpa
alas. Si bapak yang membawa-bawa alas karung tadi di ruang tunggu sekarang
mondar-mandir di sini menawarkan karungnya. Banyak yang menyewa (atau
membeli?), termasuk Pak Abdul. Beliau meminta 2 alas karung. Segera kusodorkan
uangku 5 ribu. Padahal tadi saat check in
malah beliau yang membayarkan 10 ribu untukku. Ketika mau kukembalikan malah
ditolak.
Aku segera membaringkan tubuh begitu alas karung
digelar. Semua berkelebat dalam pikiranku. Kejadian-kejadian yang terjadi
bahkan saat perjalanan petualangan baru akan dimulai. Ketinggalan bus dari
Palangka Raya, ketemu si Oki yang aneh, ibu penjual tiket yang menyumpahiku,
sampai delay keberangkatan kapal selama 10 jam. Apa lagi yang akan terjadi
nanti setibanya di Surabaya? Apakah aku akan dicopet? Atau lebih buruk lagi
dari yang terjadi hari kemarin dan hari ini? Haruskah aku mundur saja sebelum
kapal ini bergerak meninggalkan pelabuhan, dan kembali ke kos?
TIDAK! Kata suara dalam hatiku. Kau harus melanjutkan apa yang sudah kau mulai, katanya. Aku pun
terlelap.
Keesokan paginya kudapati diriku berada dalam sebuah
kapal. Ya, kami di tengah laut jawa. Aku berusaha mengumpulkan nyawa dan
ingatanku yang berserakan. Pak Abdul sedang menonton dengan segelas kopi di
tangan kirinya. Aku tersenyum ke arah beliau saat melihatku. Kapal ini ternyata
lengkap. Ada kafe-nya juga. Berani bertaruh harganya pasti lebih mahal. Aku
malas mandi, jadinya hanya mencuci muka. Minum air dari botolku dan menguyah
roti gandum sambil membaca Cinta di Dalam
Gelas-Andrea Hirata. Aku sudah minum antimo kemarin. Jadi pasti gak akan
mual lagi. Oh iya, hp ku mati. Untung ada tempat colokan. Pukul 8 lewat dikit,
kami diberitahu lewat pengeras suara bahwa penumpang silahkan mengambil makan
pagi dengan membawa tiket di ruang cafeteria. Pak Abdul mengambilkan untukku.
Makan pagi yang terdiri atas nasi, telur goreng bulat, sedikit tumis kangkung
dan sebutir tahu goreng. Lumayanlah. Kulihat beberapa orang berlalu-lalang
dengan pop mie atau gelas di tangannya. Mereka ini ngambil air panas darimana,
tanyaku dalam hati. Ah, ternyata di kapal memang disediakan.
Tak banyak yang bisa dilakukan. Nonton, membaca,
mendengar headshet, memandang laut.
“Kok gak ada lumba-lumba, Pak?”tanyaku pada Pak Abdul.
Kami naik ke atas kapal. Di atas tingkat penumpang.
“Itu karena kita menuju selatan,” katanya. Aku aja gak
tau mana selatan mana utara. “Kalau berlayar ke Flores atau NTT pasti ada, karena
menuju timur,” tambahnya. Beliau jadi kayak ahli perlautan yang mengerti kemana
lumba-lumba berenang. Aku meminta tolong beliau mengambil foto dengan hp
bututku yang kameranya sangat jelek itu. Kami turun ke bawah dan aku memutuskan
untuk mandi.
Malamnya barulah terasa guncangan ombak dalam kapal.
Kapal oleng ke kiri dan ke kanan. Aku mulai pusing dan mual. Ini pertanda
sangat buruk. Kuputuskan untuk tidur saja. Tetap gak bisa.
Senin, 18 Juli 2016
Kami tiba di Tanjung Perak pagi-pagi sekali. Jam 3
subuh. Aku sudah meminta nomor hp Pak Abdul. Sekedar jaga-jaga aja. Kami
berpisah di sini. Berdasarkan rencana yang telah kususun di agenda perjalanan,
dari sini aku akan naik Damri ke terminal Bungurasih. Setelah bus penuh barulah
berangkat. Ketika kenek mulai meminta karcis, aku membuka dompt dan mendapati
uang 50 ribu. Gak ada pecahan lain. Terpaksa itu yang kusodorkan. Si kenek
mengembalikan 40 ribu. Busyet, seingatku 7 ribu deh, berdasarkan hasil
searching di internet.
“Bu, berapa karcis ibu?” tanyaku pada orang di
sebelahku.
“15 ribu untuk dua orang.”
Pelajaran moral nomor 5: Kalau mau bayar karcis di bus
atau angkot, bayarlah dengan uang pas.
Setibanya di Bungurasih, aku bingung mau kemana.
Awalnya mau langsung ke House of
Sampoerna. Tapi aku teringat bahwa saat itu hari Senin dan museum itu
tutup. Jadinya aku duduk di sebuah angkringan dekat terminal. Banyak supir yang
menanyakanku mau kemana. Kujawab dengan senyuman. Hahaha. Pemiliknya tertidur.
“Permisi,..”
Gak ada sahutan. Kuliat sekeliling, ada tulisan Bisa charger HP: 5000. Langsung hilang
nafsu mau nge-charger HP. Aku
mengutuki diri sendiri yang gak membawa power
bank. Emang gak punya sih!
“Permisi..”
Akhirnya pemiliknya terbangun. “Bu, kalau makan
berapaan ya?”
“12 ribu.”
Tweng! Surabaya sama Palangka Raya bahkan masih lebih
mahal makan di sini.
“Teh aja Bu.”
Sambil melihat keadaan di sekeliling terminal, aku
memikirkan akan kemana aku hari ini.
Kuputuskan untuk ke pantai Kenjeran. Aku menanyakan si
ibu rute mau ke sana.
“Kamu asalnya dari mana?”
Dan aku pun menceritakan yang sebenarnya. Asal sumatera, kuliah di kalimantan, jalan-jalan ke jawa. Fantastik bukan?
Akhirnya hari pertama kuputuskan mengunjungi Kenjeran Park. Rute yang kutempuh start dari Bungurasih naik Damri ke Joyoboyo. Dari Joyoboyo naik angkot ke satsiun Kenjeran seharga 7 ribu. Perjalanan ke Pantai Kenjeran gak berjalan mulus karena macet. Aku kena macet di Surabaya!
Dari terminal bisa jalan kaki ke pantainya. Tapi sebelumnya makan gorengan dulu di pinggir jalan sambil nge-charger hp.Yup, kayaknya nge-charger HP bakalan jadi masalah yang serius dalam petualangan ini.
Dari terminal bisa jalan kaki ke pantainya. Tapi sebelumnya makan gorengan dulu di pinggir jalan sambil nge-charger hp.Yup, kayaknya nge-charger HP bakalan jadi masalah yang serius dalam petualangan ini.
Pantainya sih bagus. Tiket masuk pengunjung 5 ribu aja. Dan ketika masuk, keadaan sepi. Gak ada pengunjung lain. Padahal tadinya pengen minta tolong diambilin foto. Inilah susahnya kalau liburan sendirian.
Kenjeran
ada dua, Kenjeran Lama dan Kenjeran Baru. Di Kenjeran Lama yang ada memang
hanya pantai dan jasa perahu. Seorang bapak menawarkan perahu padaku.
“Di
sana ada tempat pemandian. Tempat buang sial,” katanya. Hampir saja kubilang,
saya tidak lagi sial pak. Aku hanya tersenyum dan mengangguk sopan.
“Iya,
Pak. Terima kasih.”
Kenjeran
Lama bisa dibilang kampung nelayan. Jadi wajar saja kalau aroma ikan tercium
jelas di sini. Ikan yang busuk juga. Aku keluar gak dari pintu keluar yang
disediakan. Justru melalui jalan sempit perumahan penduduk. Di sini kayaknya
sedang ada perbaikan saluran air gitu. Selanjutnya aku bisa melihat jembatan,
kalau gak salah itu tuh bagian dari jembatan Suramadu. Banyak pelajar yang
kesana. Pasangan kekasih juga. Aku ngerasa aneh, karena jadi manusia
satu-satunya yang menyandang ransel bengkak dan tas sandang bersamaan. Tapi
lupakan saja. Dari awal aku memang udah aneh. Makanya dengan santai aku meminta
seorang siswi (kayaknya SMP) mengambil fotoko dengan latar pantai dan jembatan
itu.
Keluar
dari Kenjeran Lama aku ingin ke Kenjeran Baru. Ada masalah hebat yang terjadi
di sini!
Berbekal
nanya sama penduduk dimana tepatnya Kenjeran Baru, aku pun berjalan kaki ke
sana. Kata mereka sih jauh lagi. Kira-kira 200 meter lagi. Ah, itu mah dekat.
Penduduk sekitar menatapku lekat-lekat seperti aku ini makhluk aneh utusan dari
planet mars yang dikirim untuk meneliti bumi. Tapi tetap kupasang wajah ramah
dan senyum. Ketika sudah berjalan lumayan lama, keringat mulai bercucuran. Aku
minum air dari botolku. Lalu menanya seorang bapak tua, sudah bisa dibilang
kakek, apakah Kenjeran Baru masih jauh. Tapi sepertinya aku salah nanya orang.
“Mau
ya, jadi pacar saya. Nanti saya traktir makan,” katanya terkekeh. Aku gak tahu
kalau beliau kurang waras. Soalnya si kakek keliatan normal aja mendorong
gerobak berisi kardus-kardus bekas yang sudah dibongkar. Melihat kenyataan jiwa
si kakek aku pun mempercepat langkah.
Setelah
berjalan beberapa lama, kembali menanya penduduk sekitar. Kali ini seorang ibu
yang rambutnya pake roll. Beliau menunjukkan gang yang katanya adalah pintu
masuk ke Kenjeran Baru. Aku berterima kasih lalu masuk dari gang itu. Sekali
lagi, ini adalah pemukiman penduduk. Tapi aku merasa ada yang aneh. Ada yang
salah dengan … daerah ini! Hingga akhirnya dugaanku diperkuat dengan adanya
tulisan ‘SELAIN PENDUDUK DILARANG MASUK
DARI SINI.’
Aku
sudah keluar dari gang dan mendapati semacam sebuah taman bermain. Tapi sepi,
juga misterius. Di sana ada semacam tanaman (mungkin bunga) yang membentuk
gerbang kayak ucapan selamat datang. Penduduk mulai menatapku lagi sekarang.
Lekat-lekat. Aku pun memberanikan diri menanyakan seorang ibu yang berjualan
gorengan.
“Bu,
ini pintu masuk ke Kenjeran Baru?”
Si
Ibu dan beberapa anak gadis didekatnya bertatapan. “Kamu mau kesana? Sendirian?
Mana rombongannya?”
“Ah,
saya sendirian.”
“Yakin
mau sendirian? Nanti kamu digodain lho,” nada suaranya meyakinkan.
Digodain?
Sama siapa? Aku frustasi. Setelah mnegucapkan terima kasih, aku masuk melewati
gerbang tanaman tadi. Si Ibu dan gadis-gadis tadi menatapku curiga. Emang aku
siapa mesti harus dicurigai!
Benar-benar
ada yang salah dengan tempat ini. Sebuah bangunan bertuliskan “PET SHOP” aku
berjalan ke sana. Beberapa motor lewat, pengendaranya cowok. Mereka menatapku
lekat-lekat. Apakah ada yang salah dengan mukaku? Mungkin ada sisa gorengan
gitu nempel di pipi. Aku membatalkan niat masuk ke sana dan melangkah keluar.
Kuputuskan beristirahat sebentar karena kelelahan dan lapar. Di pinggir jalan.
Di seberang sana ada motor dan sepasang kekasih, di bawah rimbunan tanaman
(atau bunga) menjalar. Aku berusaha berpikir. Tempat apa sebenarnya ini?
Laki-laki dari Samarinda…
Aku
duduk di pinggir jalan. Berharap dari sini ada becak atau ojek. Tapi entah
kenapa ojek juga jadi kelihatan menyeramkan. Makanya aku menolak ketika seorang
bapak menawarkan ojek. Aku hanya perlu istirahat sebentar lalu bisa berjalan
lagi. Kemudian seorang laki-laki botak datang menghampiri. Usianya sekitar
50-an. Aku udah curiga. Dia bertanya asalku darimana, dan kujawab aja dari
Kalimantan. Gak taunya dia juga dari Kalimantan, Kalimantan Timur-Samarinda.
Karena yakin itu modus doang, cepat-cepat kubilang kalau di sana cuma kuliah
aja, aslinya dari Sumatra Utara. Obrolan
berlanjut terus. Tentang bagaimana dia bisa sampai di Surabaya, kehidupan di
Surabaya, usaha warung kopinya yang karyawannya adalah cewek dan hal-hal
lainnya. Sampai kuketahui hal mngejutkan, kalau tempat sekitar itu adalah
daerah prostitusi!
Gila!
Hati
nurani memang gak pernah salah. Pantesan aja dari tadi…
Kemudian
motor-motor yang lewat di sekitar sana adalah motor yang berisi pasangan anak
manusia, laki-laki dan perempuan. Si cewek memeluk erat si cowok dari belakang.
“Itu
mau cari kamar,” si bapak botak berkata. Aku langsung merinding. Entah apa yang
membawa kakiku ke tempat seperti ini. Parah!!!
Si bapak botak (sebut saja Ojan) juga bercerita
kalau dia seorang katolik dan aktif dalam perkumpulan jemaat. Bahkan botaknya
itu didapatnya bersama-sama dengan beberapa temannya sebagai rasa syukur karena
mereka dapat sumbangan lumayan besar dari sebuah rumah sakit.
“Jadi
kamu sendirian dari Kalimantan ke Surabaya?” tanyannya.
Aku
pun bercerita. Selesai bercerita, dia malah sampai nanya-nanya hal bersifat
pribadi seperti pacarku siapa. Aku mulai merasa ada yang gak beres di sini. Beliau
menawarkan diri untuk mengantarkanku mencari tempat penginapan. Aku menolak dan
mengatakan akan menemukan sendiri. Dia juga menawari mengantarku berkeliling
Surabaya dengan motornya. Kutolak juga.
“Kayaknya
saya kembali sekarang aja, Pak. Kalau sempat mau ke kebun binatang.”
“Nanti
aja saya antar. Sekarang kita makan mie ayam dulu.”
Kebetulan lewat tukang mie ayam. Karena lapar
juga, aku setuju. Kami pun makan di sana. Setelah makan, dia yang bayar.
Anehnya si paman tukang mie ayam gak jual sesuatu yang bisa diminum. Mana botol
minumku juga sekarat. Si Pak Ojan minta kami bertukar nomor. Aku memberinya
nomorku dan juga pin bbm. Gila kan, aku seharusnya gak ngelakuin itu!
“Lha, HP saya mati, Pak. Dimana ya, bisa
nge-charger HP?”
Dia berpikir sebentar. Kemudian aku dibawa ke
resepsionis sebuah penginapan, masih di daerah yang katanya daerah prostitusi
itu. HP ku dicharger di sana. Sempat kulihat ada pasangan yang meminta kunci
kamar ke resepsionis. Mataku membesar, jantung berdebar!
“Itu HP saya ditinggal di sana?” tanyaku curiga.
“Iya, nanti aja diambil. Sekarang kamu istirahat
aja dulu.”
Entah apa yang membuatku menurut saja ketika
dibilang istirahat. Aku kira kami balik lagi ke tempat duduk di taman. Tapi
ternyata.. sebuah kamar! Gak bener lagi ceritanya. Aku mulai menangis. Makin
lama makin deras air mata yang jatuh.
“Kau juga sama. Sama kayak mereka. Gak ada yang
bisa dipercayai!!!
Aku bergerak cepat dari sana. Dia ikutan
melangkah. Aku menguatkan diriku supaya suaraku tidak terdengar bergetar.
“STOPPP!!! BERGERAK SATU LANGKAH, AKU BAKALAN
TERIAK SEKARANG,” bisa-bisanya aku mengancam orang lain. Tapi kayaknya berhasil
karena dia diam di tempat dan gak mengucapkan apa-apa. Si Ojan keparat itu!
Tuhan, apa yang baru terjadi tadi adalah
kenyataan? Aku hampir.. sesuatu yang buruk hampir terjadi padaku! Air mataku
meleleh lagi. Gak sanggup membayangkan apa yang terjadi seandainya…
AHHHRRGGHH!!! Wajah bapak, mama juga saudara-saudaraku langsung terbayang di
kepalaku. Kekhawatiran mama terngiang di telinga.
Apakah aku memang sudah melakukan kesalahan?
Maksudku, apakah seharusnya perjalanan ini gak terjadi? Pelajaran moral nomor
6: Don’t trust anyone, suspect everyone!!!
HP-ku sudah kuambil. Aku berjalan kaki dari sana
cepat-cepat menuju tempatku tadi masuk, dari gang penduduk. Tapi kakiku
bergetar dan rasanya gak bakalan sanggup berdiri. Aku melihat si ibu penjual
gorengan dan gadis-gadis tadi yang menanyakanku kenapa aku sendirian. Nanti kamu digodain loh!
Aku kembali menangis. Saat itu yang paling
terpikirkan olehku adalah mmbeli tiket pesawat dan pulang ke Palangka Raya hari
itu juga. Tapi kok ya, aku keliatan rapuh dan pengecut sekali kalau itu yang
akan kulakukan?
Sebuah motor melintas di depanku. Aku menghapus
air mata. “Ojek ya, Pak?”
Beliau menggeleng. “Bapak mau kemana, saya bisa
numpang ke terminal kenjeran, Pak?”
Nampak jelas bahwa aku belum belajar. Seharusnya
setelah apa yang terjadi barusan aku gak mudah percaya sama orang. Itu malah
menyerahkan diri sama orang tak dikenal. Beliau pergi, karena katanya memang
gak lewat sana. aku putus asa. Lalu muncul seorang bapak berkumis menawarkan
diri mengantarku ke terminal. Aku sempat ragu.
“Berapa, Pak sampai terminal? 10 ribu bisa ya,”
tawarku.
“Udah gak usah. Saya antar saja,” katanya. “Mbak
kenapa?”
Aku mengusap hidung. “Entahlah, Pak. Kayaknya
saya gak bakalan bisa mempercayai siapa pun lagi setelah ini.”
Aku naik. Dan kemudian beliau memang benar-benar
mengantarkanku ke terminal. Dan gak mau dibayar. Aku pun berterima kasih.
Tiba-tiba aku teringat sumpah serapah si ibu
penjual tiket kapal di Banjarmasin. Apakah itu yang jadi kenyataan buruk hai
ini?
Perdana: Tidur di Masjid…
Aku tiba di terminal joyoboyo dan langsung
kelaparan cari warung nasi. Sebuah angkringan. Aku makan sambil nge-charger HP.
Setelah makan baru sadar di dompet tinggal 5 ribu.
“Berapa,
Bu?”
Udah
di dompet tinggal 5 ribu malah berani-berani nanya harga makanan yang baru
dimakan. Iyalah, masa iya aku lari setelah kenyang. Dengan segan, aku
menitipkan ranselku di sana lalu pergi mencari atm. Untungnya ketemu. Aku balik
dan membayar apa yang baru kumakan. 8 ribu cuy. Nasi, pake ayam, pake sayur
terong. Ketika aku kembali dari atm, yang menjaga angkringan mereka sekarang
seorang bapak. Lha, kayaknya bapaknya mbak yang tadi atau mertuanya. Sama
seperti orang-orang yang kutemui sebelumnya, beliau menanyakanku darimana dan
mau kemana. Kuceritakan yang sebenarnya. Sama juga dengan reaksi orang-orang
yang lain yang menanyakan, beliau beranggapan kalau aku pemberani. Kukoreksi
kata-kata pmberani itu, nekat lebih cocok untukku.
“Kalau
di Surabaya hati-hati lho, Mbak.”
Dalam
hatiku, aku tahu, Pak. Apa yang bapak maksud bahkan sudah hampir terjadi hari
ini. Aku nyaris jadi korban si botak Ojon kampret itu. dari ceritanya dia
terlihat seperti orang baik-baik saja. Aku udah jijik sebenarnya waktu dia
mengangkat tanganku seenaknya dan membuat tanganku menyentuh botaknya itu.
Perasaan jijik mulai menjalariku. Kenapa aku begitu polos ya, Tuhan? Seharusnya
aku tadi tanggap lebih cepat mau dibawanya k tempat begituan!
Tapi
tentu saja kisah menjijikkan itu gak kuceritakan kepada bapak pemilik
angkringan. Beliau menyarankanku agar mandi saja dulu di kamar mandi umum dekat
situ. Katanya bayarnya cuma 2 ribu. Aku rasa saat itu penampilan dan mukaku
benar-benar lusuh sampai-sampai seorang bapak pemilik angkringan yang baru
kukenal saja menyarankanku untuk mandi. Jadinya aku menurut saja. Pergi mandi.
Orang
Papua…
Selesai
berurusan dengan orang Samainda, datang lagi orang Papua. Hadeh, kayaknya
memang Surabaya ini kota yang…ahhh…!!!
Aku
sudah selesai mandi dan kembali ke angrkingan. Rasanya aman di sini. Sekarang
yang jaga angkringan ganti lagi. Ibu itu pastilah istri si bapak. Lagi-lagi aku
harus brcerita tentang asal-usulku. Setelah itu hening. Aku memesan nutrisari
smabil main HP. Buat PM di BBM. Tiba-tiba muncul laki-laki yang dari tampangnya
sudah jelas dia asalnya darimana. Maaf ya, bukannya rasis. Aku gak tahu apa
yang membuatku menyapanya duluan dengan bertanya, “Kuliah dimana?”
Dia
tertegun sejenak. Mungkin mencerna pertanyaanku. Setelah menghirup kopinya, ia
menyebutkan nama sebuah universitas swasta di Surabaya. Semester 5. Ah, kukira
anak UNESA atau UNAIR. Dia bertanya asalku dan sekali lagi aku harus bercerita.
Lalu, gak disangka langsung minta nomor HP-ku. Gila! Karena gak ada alasan
masuk akal yang terlintas saat itu untuk menolak, kukasih. Hening sejenak. Aku
kembali main HP. Tiba-tiba ada sms masuk, nomor baru. Isinya: Dek, nanti bisalah kakak yang ngantar kamu
pulang?
Sms
dari si Papua itu. Aku berlagak seolah-olah belum membaca sms itu. Pura-pura
ketawa-ketawa BBM-an sama orang. Biar dia jengkel. Sumpah deh, kejadian tadi
siang aja aku masih trauma luar biasa. Tiba-tiba ada cowok Papua yang mau
ngantar aku pulang ke penginapan (aku bohong, mengatakan kalau aku mau nginap
di penginapan). Kira-kira maulah aku? Jelas nggaklah!!
Dia
udah mau pulang. Menanyakan berapa minumannya dan minumanku lalu membayarnya.
Hei, aku gak pernah menginginkan itu. Jelaslah aku tolak, tapi dia bersikeras
membayar nutrisari yang kuminum. Terserahmulah. Aku tetap gak akan mau
mengikuti saranmu, mengatakan sebaiknya aku ikut dia untuk mencari penginapan
yang lebih murah. Hohoho! Modus aja. Dia belum juga pergi. Sekarang ada orang
makan di angkringan. Si Papua masih ingin menggoyahkan keyakinanku.
“Ya?
Pindah ya?”
Kampret!
Udah kayak kenal lama aja.
“Gak
enak lho, sama ibu ini. Tadi udah dibayar sama mereka biaya penginapannya. Masa
aku pergi ninggalin gitu aja?”
Pelajaran
moral nomor 7: Kalau mau berbohong mikir-mikir juga bohongnya yang masuk akal!
Tapi
si Papua kayaknya percaya. Dia pun berkata biar besok aku menelponnya dan
bersedia menemaniku jalan-jalan di Surabaya. Aku iyakan aja, padahal dalam
hati. No way!
Jadinya
malam itu aku tidur di masjid. Ada sedikit adegan lucu disini.
Aku pamit sama ibu pemilik angkringan. Aku udah
bilang mau tidur di masjid malam itu. dalam hati berharap akan ditawari nginap
di rumahnya. Tapi ternyata gak sama sekali. Aku pun menuju masjid di dekat situ
dan.. tweng! Pagarnya udah dikunci. Kulihat ada dua orang tidur di serambi
masjid. Mereka masuk darimana? Masa iya tadi loncat pagar? Di samping majid ada
semacam teras, ada lemari di sana, juga kursi. Aku memutuskan untuk tidur di
sana saja. Nyamuk? Banyak sangat!
Baru beberapa lama memejamkan mata, aku
dibangunkan seseorang. Setelah mata kubuka tampaklah laki-laki jangkung dalam
seragam polisi. Gawat, aku pasti dikiranya gelandangan!
“Kenapa tidur disini, Mbak?”
Kutarik nafas sejenak. Untuk kesekian kalinya
hari itu, aku harus bercerita lagi asal-usulku. Stelah itu, beliau berkata
supaya aku masuk serambi masjid saja lewat samping kantor.
“Lapor aja ke kantor. Paling cuma diminta KTP
aja. Besok pagi dikembalikan lagi kok.”
Aku pun melakukan seperti itu. Melapor ke
kantor. Yang berhadapan denganku ternyata orang batak. Marga Samosir
jelas-jelas tertulis di seragam polisinya. Menemukan teman satu suku di tanah
orang itu rasanya kayak berhasil menemukan jarum diantara jerami. Wkwkw.
“Dari Samosir? Berarti bisa bahasa batak?”
“Ya, Pak. Bisa.”
“Udah makan?” tanya beliau lagi.
Padahal aku udah lapar lagi. “Udah, Pak.”
KTP-ku pun ditahan dan malam itu aku tidur di
masjid. Di serambinya tepatnya. Berjuang melawan rasa dingin dan gigitan nyamuk
yang jumlahnya mengalahkan tentara Palestina.
Pertanyaannya adalah, kok gak ada ya, yang
menawarkan tempat nginap. Padahal aku udah ketemu sama ibu pemilik angkringan.
Mereka udah tahu aku gak punya tujuan tempat nginap malam itu, si bapak polisi
juga, dia malah orang batak. Teman sesuku, gak ada tuh ditawarin. Sedangkal
itukah rasa kemanusiaan itu??!! Pelajaran
moral nomor 7: Jangan terlalu berharap pada apa atau siapa pun juga.
Selasa, 19 Juli 2016
Paginya aku terbangun karena suara masjid,
maksudku orang sembahyang. Aku sempat heran kok suaranya bisa sedekat ini. Oh
iya, aku tidur di serambi masjid. Tidurku sama sekali gak nyenyak.
Nyamuk-nyamuk pada kenyang, aku anemia. Bapak-bapak yang sholat, salah satu
dari mereka ada yang menyapaku. “Mbak, gak sholat?”
Kujawab, “Silahkan, Pak. Silahkan.”
Kemudian kulanjutkan lagi tidurku. Dari balik
sarung kuintip mereka yang sholat. Tampak olehku para wanita yang berjilbab dan
bermukena. Mukena bukan sih namanya?
Setelah semua selesai sholat, aku bangun.
Mendapati diri masih bernafas di pagi ini lalu menyampaikan syukur pada Tuhan.
Tenggorokanku kering, airku habis. Di masjid itu ada air dalam gallon. Orang
yang kulihat semalam tidur di masjid ternyata keduanya laki-laki. Salah seorang
mengambil air dari gallon, memenuhi botolnya. Pas giliranku air itu malah udah
habis.
Aku cuma cuci muka di tempat wudu perempuan.
Sikat gigi juga. Makan beng-beng satu biji lalu menghadap kantor polres dan
meminta kembali KTP-ku. Yang memberikan petugas lain. Buakan si Bapak
Samosir. Hari ini aku ke kebun binatang
Surabaya (KBS). Aku sempat teringat dengan si Papua tentang jam 10 pagi dia
akan datang membawaku jalan-jalan Surabaya. Nggak! Aku gak akan mempercayai
siapa pun lagi!
KBS belum buka. Masih jam 8 kurang saat itu.
Makanya aku foto-foto dulu di depan si Sura dan Baya. Ituloh, patung ikan hiu
sama buaya yang menjadi simbol kota Surabaya. Tentunya aku minta tolong sama
orang lain mengambilkan fotoku. Seorang bapak, katanya dari Makassar. Kulihat
rombongannya yang banyak. Kayaknya sih ini liburan keluarga. Sedangkan aku?
Sendirian. Aku langsung merasa kesepian. Kayakanya single backpacker gak cocok buat orang periang dan banyak omong
kayak aku! Rasanya itu sendu banget nih hidup..
Aku menyusuri kebun binatang yang sangat luas
itu. Di sini aku bisa melihat hewan yang sebelumnya hanya kulihat dalam gambar,
film atau kubayangkan saja dalam benak. Banyak juga petugas yang sedang
membersihkan kandang, memberi makan hewan. Mereka pastilah orang-orang yang
sayang dengan binatang. Di depan kandang hewan-hewan itu ada informasi tentang
kelakuannya, asalnya, habitat asli dan tingkatan terancam punah di alam.
Beruang madu. Aku melihatnya bermalas-malasan
dan langsung teringat dengan seseorang. Kukirimkan pesan padanya..
Aku :
Eh, aku lagi di kebun binatang nih. Ada yang mirip samamu di sini
Dia :
Ah masa? Berarti kau lagi rindu sama aku kan.
Aku mengirimkan foto beruang madu itu.
Dia :
Dasarrrrr…
Aku mulai kelaparan. Sambil berjalan-jalan, aku
makan chocholatos. Puas dan lelah berkeliling, aku keluar dari pintu keluar.
Kembali ke masjid dan mngambil ranselku yang ditinggalkan di sana. Kukira sih
hilang, tapi ternyata gak.
Pasar Turi…
Dari terminal joyoboyo aku naik angkot hijau jurusan pasar turi. Ongkosnya 5 ribu. Ini berbekal nanya juga sama supir-supir sekitar terminal joyoboyo.
Awalnya kukira pasar ini mirip kayak di Malioboro. Pusat oleh-oleh Surabaya. Ternyata bukan. Malah pasar modern dalam bangunan bertingkat. Isinya ya, macam-macam. Baju, mainan anak, sepatu, tas. Seputar itu deh. Pasar Turi hadap-hadapan dengan PGS (Pasar Grosir Surabaya). Aku gak beli apa-apa dari sini. Padahal tadi sempat nitip tas di tempat penitipan barang, berat soalnya.
HP kembali lowbat. Benar-benar masalah ekstrim nih. Kuputuskan untuk mengisi perut dulu. Sambil nge-charger kalau bisa. Sebuah angkringan di perempatan jalan. SUP BUTUT SAPI ASLI MADURA. Air liur terbit! Aku memesan satu porsi. Ternyata dikasih nasinya juga. Aku makan dengan lahap. Lezat! Sampai-sampai lupa dengan kondisi HP.
Tibalah saatnya pembayaran. Aku gak mesan es teh, karena tadi beli es cincau 3 ribu di luar.
“Berapa, Pak?” tanyaku kepada bapak yang memakai baju hitam dalamnya garis-garis merah khas Madura itu. Karena ini angkringan palingan 15 ribu, dalam hatiku.
“Gak pake es teh ya tadi. Berarti.. 30 ribu, Mbak?”
WHAT???!!!
Sial, perkiraanku melesat abis. Dua kali lipat, cuy dari yang kuprediksi. Pelajaran moral nomor 8: Jangan meremehkan harga makan di angkringan. Dalam hatiku, don’t trust anything and anyone else! Suspect them all..
House
of Sampoerna (HOS…
Dari pasar turi aku naik angkot ke JMP (Jembatan
Merah Plaza). Bayar 5 ribu. Kayaknya di sini jauh, dekat angkot tetap bayar 5
ribu deh. Jembatan Merah ada di dekat situ. Tapi aku mau ke House of Sampoerna (HOS). Kenapa? Karena
mereka punya tour gratis dengan bus.
Kita diajak keliling-keliling tempat bersejarah di Surabaya. Dari depan JMP,
aku berjalan kaki ke HOS dengan ransel berat di pundak. Mungkin di sini memang
gak ada ojek atau bemo. Aku bertanya pada seorang pedagang cendol.
“Dari sini lurus dulu, terus blok kiri-belok
kanan-baru belok kiri lagi, lurus, baru ke kanan. Ketemu.”
Jiah, otakku berusaha mencerna rute yang
ngejelimet ini. Kok banyak belok-belok gitu sih. Aku berterima kasih dan
langsung lupa dengan petunjuk si bapak itu. Nanya lagi dan lagi. Dekat
sebenarnya, jalannya aja yang berkelok-kelok. Aku melewati tembok-tembok putih
yang tinggi. Catnya sudah mengelupas. Menurut sumber internet yang kubaca itu
adalah bekas penjara kalisosok yang sadis. Dengan berkat TYME, aku pun berhasil
menemukan HOS. Untungnya lagi aku tiba jam 1 lebih dikit di sana. Langsung ke
café di sebelah HOS untuk pendaftaran. Mengisi buku tamu, kartu dan diberi
tiket. Finish. Ransel berat kutitip
disitu. Tinggal menunggu jam 3 sore untuk tour-nya.
Karena masih lama, sebaiknya aku masuk ke museum
itu dulu. Museum HOS. Begitu masuk diminta diliat KTP sama penjaganya, baru
dibolehkan. Begitu masuk langsung tercium aroma tembakau. Hm, sadis harumnya.
Jadi pengen merokok. Wkwkwk. Aku segera menjelajahi museum. Ya yang namanya
museum kan, digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda peninggalan. Di situ
juga sama. Semua yang berhubungan sama rokok, pembuatannya. Kertas pembungkus
tembakau, pencetaknya, lengkap dah semua. Kagak kesebut satu per satu. Juga
benda-benda pribadi peninggalan si Sampoerna ini tadi. Baju, topi, sepeda, mata
uang zaman itu.
Di lantai dua adalah tempat cindera mata. Tapi
mahal-mahal amat. Aku gak beli. Di lantai dua ada colokan tergeletak di lantai.
Kukeluarkan charger dari tas sandang dan manfaatkan momen itu. oh iya, dari
sini kita bisa melihat berpuluh-puluh (atau beratus) karyawan wanita dalam
seragam kuning dan merah sedang membungkus tembakau dalam kertasnya. Snagat
cekatan sekali. Aku bisa melihat batangan-batangan rokok yang sudah dihasilkan
mereka. Sambil menunggu HP terisi aku duduk mengamati mereka.
Batre HP hanya beberapa persen. Aku keluar dari
museum dan mendapati beberapa turis mancanegara ada di sana. Kayaknya tuh ada
yang dari China atau Vietnam. Matanya sipit gitu. Timbul ide cerdas dalam
pikiranku. Kuhampiri seorang bule yang sedang menjepret museum HOS dengan
SLR-nya.
“Excuse me, Sir. Can
you take my photo please?”
“Oh sure,”
jawabnya. Ada rasa enggan dan malu ketika aku menyodorkan HP Samsung kecil yang
tidak ada apa-apanya itu dengan kamera beliau. Ibarat langit dan bumi. Tapi
beliau menerima HP-ku itu dan menjepretku dengan latar museum HOS. Setelah
selesai, aku berterima kasih. “Have a
nice day,” katanya ikhlas lalu pergi. Biar sopan seharusnya kujawab you too. Tapi aku malah diam dan
termangu menatapi jangkungnya dia.
Kembali batre lemah. Itu HP memang ngajak
berantam deh. Kuliat jam, masih jam 2. Sempat. Kucari warung atau angkringan di
sekitar HOS. Aku memesan nutrisari sambil men-charger HP. Ibu pemilik warung
berbincang-bincang dengan ibu lain dalam bahasa Jawa. Yang bisa kutangkap hanya
nandi, koe, sampean. Jam 3 kurang 15
menit aku kembali ke café. Bis-nya udah ada di sana. Aku bertemu dengan 2 orang
gadis kecil kakak beradik di pintu café. Kami berkenalan. Namanya Nola dan
Novi. Mereka memanggilku Mbak Lena. Entah kenapa ini agak geli!
Jam 3 tepat kami berangkat. Tour ini dipandu oleh seorang pemandu laki-laki. Dia menyapa kami
dan menjelaskan tujuan kami sore itu.
“Belanda mempunyai 3 misi selama penjajahan, 3G.
Gold, Glory,Gospel. Untuk mencapai Gold (kekayaan), mereka membangun bank
yang disebut Javassche Bank, untuk Glory
(kejayaan) membuat kantor pos dan Gospel
dengan pembangunan gereja katolik tertua di Surabaya.”
Ke sanalah tujuan kami. Kantor pos, bank dan
gereja katolik. Pertama-tama ke kantor pos. Pemandu menjelaskan tentang sejarah
bangunan itu, mengapa warna kantor pos berwarna orange. Setelah dari sana kami
ke Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria. Dari atas katanya gereja ini terlihat
berbentuk salib. Gereja itu bagus, bergaya Belanda. Sedang diperbaiki saat itu.
Di halaman depan ada sekelompok umat yang tengah berlatih koor-menyanyi.
Terakhir kami ke Javassche Bank.
Sekali lagi bangunannya benar-benar khas Belanda. Desain interiornya keren
abis. Coba aja ke sana.
Tour berdurasi 1 jam itu
berakhir. Kami diantar kembali ke HOS. Aku berpisah dengan Novi dan Nola.
Keduanya ternyata tinggal dengan neneknya di sana. Kembali jalan kaki ke
Jembatan Merah. HP ku sudah mati lagi. Memandangi Jembatan Merah sejenak,
membayangkan jenderal Mallaby yang tewas di sana. Aku bertanya kepada
orang-orang arah ke Tugu Pahlawan. Pelajaran moral nomor 9: Bertanya adalah
peta paling ampuh saat buta arah.
Perjalanan ke Tugu Pahlawan lancar. Tapi sore
itu sudah tutup. Aku sangat senang karena di sana di area Tugu Pahlawan ada
mushola dan kamar mandi. Malam itu aku nginap di sana.
Rabu, 20 Juli 2016
Terbangun di pagi hari dan mendapati diri
sendiri tidur di mushola perempuan. Waw, ternyata ada kipas angin, pantesan
nyamuknya agak kurang banyak semalam. Tapi aku gak berharap nyamuknya banyak
kok. Segera mandi dan tanpa makan pagi go
to Tugu Pahlawan di dekat situ. Masuk ke sini gak bayar, tapi kalau ke
museumnya bayar. Kalau gak salah nama museumnya Museum 10 November. Masuk ke
sini juga gak bayar kalau status anda masih pelajar atau mahasiswa. Tinggal
nunjukin kartu pelajar atau kartu mahasiswa aja. Ngisi buku tamu dan silahkan
masuk. Kartu mahasiswaku tadinya ketinggalan di tas,jadinya aku balik bntar ke
mushola buat ngambil tas. Lagian sih, masa jalan-jalan ke sana tapi task u
ditinggal semua di mushola? Pelajaran moral nomor 10: Bawalah tas sandang kecil
yang berisi barang-barang berharga kemana pun anda pergi, termasuk ke toilet.
Museum itu bagus. Aku jadi merasa lebih dekat
dengan Bung Tomo dan perjuangannya melawan para penjajah. Bung Tomo dengan
pidatonya yang membakar semangat arek-arek
Suroboyo. Tapi ada rasa merinding juga di dalam museum itu. aku pun gak
berlama-lama di sana. Lewat pintu keluar ada penjual cindera mata museum. Aku
merasa sangat sial ketika ingin membeli kaos merah bertulisan kata-kata
motivasi keren yang harganya 80 ribu, ternyata di dompet tinggal 20 ribu.
“Mbak, bisa bayar pakai atm gak ya?”
“Oh, gak bisa, Mbak,” jawab si mbak.
Aku udah di tangga, tiba-tiba teringat sama si
Papua. Kulihat HP-ku, di sana ada banyak sekali panggilan tak terjawab. Nomor
dia, tentu saja. Ada 20 panggilan tak terjawab tanpa ada pesan satu pun. Ketika
masuk panggilan ke-21 segera kujawab. Aku memintanya datang ke museum itu.
dengan senang hati dia pun datang, tapi gak bawa cukup uang untuk beli kaos
itu. Sial!
Melewati tangga, ada semacam properti berlatar
area pertempuran, drum hijau bertulisan MERDEKA
ATAOE MATI dan satu pasang baju tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat) saat
penjajahan. Warnanya hijau muda, lengkap dengan sabuk dan topinya, juga lencana
‘BKR’nya. Singkatnya aku mengambil foto dengan latar itu dan mengenakan baju
BKR tadi. Dengan datangnya si Papua (sumpah, aku lupa namanya. Maaf loh kalau
ini terdengar agak kasar atau rasis), aku bisa eksis di depan Tugu Pahlawan dan
patung Bung Karno-Bung Hatta.
“Aku bisa ikut gak?”
APA?!
“Emang kamu mau kemana nanti di Malang?”
“Adak ok temanku kuliah di Malang.”
Aku kembali teringat dengan prinsip perjalanan
yang sendirian ini, don’t trust anyone,
suspect everyone, tapi dalam hati timbul pemikiran lain. Lumayan ongkos
yang bisa kuhemat kalau anak ini ikut denganku ke Malang. Kita bisa naik motor.
Dia berjanji akan meminjamkan helm untukku. Okelah, lagian dia cowok papua, gak
mungkin berani macam-macam sama cewek batak. Awas saja!
“Baiklah,”kataku.
Kami makan dulu di warteg yang dekat kos-nya
dia. Sambil mau ngambil barang katanya. Enak benar makanannya, saking laparnya
aku. Saat itu sudah jam 1 siang dan aku belum makan pagi. Nasi padang yang cara
makannya prasamanan. Ditemani teh manis lengkap sudah. Tapi justru aku gak suka
ketika mau bayar, si Papua membayar makananku. Aku kan masih punya uang, enak
saja dia! Tapi dia tetap bersikeras.
Bekeliling-keliling jalanan di Surabaya, kami
bukannya sampai ke kosnya dia. Ini malah entah udah ada dimana. Di tengah
jalan, dia berhenti dan telponan lama dengan seseorang dengan bahasa yang gak
aku tahu artinya. Sesekali dia ketawa dan melihatku. Aku mulai curiga. Ah,
Tuhan. Gak bener juga ternyata anak ini. Dia pikir bisa membawa aku kemana? Aku
harus melakukan sesuatu!
“Yakin gak mau istirahat dulu hari ini? Soalnya
kalau sekarang kita pergi bisa hujan di tengah jalan. Nanti basah,” katanya
dalam logat papua.
“Terus gimana,” selidikku.
“Nginap kah, atau dimana dulu. Di dekat sini
banyak penginapan.”
TWENG!
Aku udah trauma sama kata yang satu itu.
Penginapan.
“Turunin aku sekarang. Berhenti sekarang.
Cepaat!!!”
Dia malah ketawa-ketawa. Apa dia udah gila?
“Kalau gak, aku loncat sekarang ya. Kalau aku
kenapa-kenapa, kanu bisa kena denda nanti.”
Dia gak peduli. “Pokoknya nginap dulu. Besok
baru pegi,” enteng saja dia bilang itu. kampret, kau kira aku cewek apaan!
Tepat di lampu merah, para kendaraan berhenti. Di
sebelah kiri jalan aku hampir gak percaya, karena berhenti di tempat yang
tepat, terminal bungurasih. Dari sini aku bisa naik bus ke Malang. Tuhan,
terima kasih.
“Yakin mau turun di sini?” tanya si kampret itu.
Kau kira turun dimana
lagi yang aman. Dasar otakmu memang otak penginapan. Seharusnya dari awal aku
gak percaya sama kau!!!
Aku gak menjawab dan menggerakkan tangan kanan
kayak mengusir. Biar aja. Aku gak peduli. Bahkan gak ada satu pun cowok yang
beres tanpa memikirkan penginapan sejak kemarin, sejak aku tiba di kota ini.
Apakah sesuram ini Surabaya?
Malang…
Aku masuk ke terminal dan menanyakan petugas bus
mana yang akan ke Malang. Dia menunjukkan ruang tunggu dan bus yang akan ke
Malang. Waktunya sangat tidak tepat karena begitu aku tiba di ruang tunggu
bus-nya udah akan berangkat. Aku buru-buru keluar, berdesakan dengan
orang-orang. Di luar ruang tunggu, ada belasan supir dan kenek yang berteriak
meneriakkan jurusan yang dibawanya. Belum lagi suara klakson dan teriakan
pedagang akua. Benar-benar berisik. Suasana hatiku yang meringis mengingat
kejadian barusan. Kemarin orang Samarinda, sekarang orang Papua. Dua kali, dan
nyaris! Haruskah aku balik aja ke Palangka? Malang, apakah dirimu juga akan
seperti itu? Kuharap kau lebih baik.
Aku udah akan naik ke dalam bus ketika sadar
uang di dompetku tinggal 20 ribu. Kuhampiri supir (atau mungkin kenek). “Pak,
ini gak sempat lagi ke atm ya?”
“Nanti aja, Mbak di terminal Arjosari ada atm
kok,” kata si bapak. Aku pun duduk di dekat jendela, menatap suram ke luar
lewat kaca. Bergantian masuk penjaja akua, kerupuk, tahu, buah ke dalam bus.
Yang jualan bapak yang udah tua. Andai aja uangku cukup, akan kubeli
dagangannya. Ada juga pengamen, seorang ibu tapi gayanya rock’n roll dengan
memanggul gitar menghibur kami di dalam bus. Suaranya bagus.
Yang paling unik adalah penjual buku gambar
anak-anak. Ituloh yang untuk diwarnai sama anak-anak TK. Si penjual
membagi-bagikan buku itu ke kami. Gratis kah?
“Ini gratis, Bu?” tanyaku pada ibu di sampingku.
Beliau sepertinya berminat, untuk anaknya.
“Bayar toh.”
“Lha, tapi kok langsung dibagikan gini, kalau
kita gak beli gimana?”
“Tinggal dikembalikan toh.”
Bener juga. Kalau aku udah gak sanggup lagi backpackeran di Jawa Timur ini sendirian
tinggal kembali aja ke Palangka Raya!
Si bapak kenek mulai menagih ongkos. Ketika tiba
giliranku, aku bilang, “Pak, bisa gak ya bayarnya nanti setiba di sana?”
Beliau mengangguk. Aku memang gak pernah belajar
dari pengalaman. Kau bodoh, Magdalena.
Suara lain dalam benak ini.
Perjalanan ini sepi tanpa musik. Batre HP selalu
habis disaat-saat diperlukan. Gerimis di luar menambah kegalauan hati.
Surabaya-Malang ditempuh dalam 2 jam. Aku sudah berencana akan tidur di
sekretariat Mapala Universitas Brawijaya malam itu. Gampang aja nyari kampusnya
nanti. Asal udah sampai Malang. Udah di daerah Malang, berhenti di lampu merah.
Masuk lagi penjual kayak buku anak TK tadi. Tapi kali ini yang dibagikannya
stiker aremania. Astaga, aku aja gak ngerti sepak bola!
“Seikhlasnya aja bapak-ibu, mbak-mas.
Seikhlasnya saja,” katanya dengan menyanyikan kata-kata itu.
Oh, mungkin lagi usaha dana, pikirku. Aku meraih
kantung dan yang terlihat hanya selembar uang seribu. Dengan enggan kusodorkan.
Dia berterima kasih dengan tulus. Dari sini kupetik pelajaran moral nomor 11:
Keikhlasan adalah yang terpenting.
Malang menyambutku. Kami tiba di terminal
Arjosari. Penumpang lain sudah turun semua, sedangkan aku turun di dekat atm
BRI. Kubayarkan ongkos bus, 25 ribu. Ternyata jauh lebih murah daripada kata
Toguma. Dia naik kereta api, Surabaya-Malang seharga 40 ribu. Aku hemat 15
ribu!
Aku berhasil menemukan angkot yang akan
membawaku ke Universitas Brawijaya, warna biru dengan label ADL. Tentunya
setelah bertanya. Sambil menunggu penumpang penuh, aku beli pulpy di warung
dekat situ sambil charger HP. Tapi ternyata angkot penuh tiba-tiba dan batreku
gak berisi. Malang kayaknya lebih bersahabat daripada Surabaya. Aku bisa
merasakan kelembutan dan keramahan di kota ini. Di tengah jalan kulihat seorang
gadis kecil dalam kostum badut namun tidak mengenakan penutup kepalanya. Ia
tertawa ceria dikejar-kejar badut lain. Dari jauh masih kelihatan olehku, badut
itu cewek seusiaku ketika dia melepas penutup kepalanya.
Aku sengaja duduk paling dekat dengan supir di
belakangnya. “Pak, saya turun di Universitas Brawijaya, ya.”
Beliau menginyakan. Tapi setelah mengendara
begitu jauh, penumpang-penumpang lain juga udah ada yang turun satu pe satu
sementara aku belum juga tiba. Apakah memang sejauh ini? Kuberanikan diri
bertanya, “Pak, UB belum ya?”
“UB ta, Mbak? Sudah lewat tadi.”
Lah! Aku kan tadi
udah bilang, Pak. Pelajaran moral nomor 12: Selalu mengingatkan supir
tempat anda turun jika anda belum tahu dimana itu.
“Si Mbak-nya tadi udah bilang, Pak mau turun di
UB,” cewek yang duduk di depan membelaku. Tadi kami sempat berbincang di
terminal. Dia mau ke Batu.
Tibalah kami di terminal Landungsari. Kalau mau
ke Batu katanya dari terminal ini. Batu memang salah satu tujuanku. Mungkin
besok aku akan ke sana. Si bapak mengatakan aku ikut lagi dalam angkotnya
menuju UB. Jujur dalam hati aku sempat kepikiran, apakah ini modus terbaru
penculikan? Atau kayak si Ojon atau Papua kemarin lagi? Tapi ternyata gak. Si
bapak supir menurunkan aku di kampus UB.
IMPALA
UB…
Aku berhasil menemukan sekretariat pecinta alam
kampus Brawijaya, setelah menanya satpam. Mereka tergabung dalam Ikatan
Mahasiswa Pecinta Alam (IMPALA) Universitas Brawijaya. Kampret, kampusnya bagus
amat. Meskipun aku gak pernah ingin kuliah di sini, rasanya aku mau aja
sekarang kalau pindah kuliah ke sini. Ada adegan lucu saat aku berdiri di pintu
sekre mereka.
“LESTARI,” teriakku penuh semangat sambil
berdiri di depan pintu. Sontak beberapa pasang mata mentapku dari ujung rambut
sampai ujung lantai. Seorang cowok dengan jiwa kemayu nyeletuk, “Cari Lestari,
Mbak?”
Aku menggeleng.
“Adiknya Lestari?”tanyanya lagi.
Aku kembali menggeleng. Ayolah, itu salam khas
pecinta alam sejagad, masa mereka gak tahu sih?
“Salam Lestari, maksudnya?” tanya cewek yang
lain.
“Tepat,” kataku.
Mereka mempersilahkanku masuk. Kita pun
berkenalan. Aku harus cerita panjang lagi di sini tentang asal dan usulku.
Mereka semua ramah. Rata-rata orang Jawa. Tapi katanya ada juga orang batak,
bahkan dari Samosir juga satu daerah denganku, yang kebetulan namanya Lestari.
Tapi orangnya sedang gak ada di sana. Karena mapala mereka tingkat universitas,
jadinya mahasiswa di sini berasal dari berbagai fakultas. Berani bertaruh semua
pasti pintar-pintar. UB coy, masuk dalam peringkat universitas terbaik di
Indonesia. Salah satunya adalah Mbak Rini. Dia masih satu tahun dibawahku, tapi
kayaknya dia lebih dewasa sih. Kau tahu dia jurusan apa? Kedokteran coy!
Seorang mahasiswa jurusan kedokteran yang alhasil bakalan sibuk dengan
praktikum, laporan dan tugas kuliah malah masuk organisasi kampus yang ekstrem
dan bisa dibilang sibuk juga di dalamnya. Tapi salut sama dia. Rini, asal
Jogja.
Aku langsung ngerasa down lagi. Aku berasal dari UPR, kampus yang mereka bahkan nanya
itu ada di provinsi mana. Bahkan ada yang nanya itu negeri atau swasta. Bahkan
ada yang nanya Palangka Raya itu di pulau mana.
Sebegitu gak terkenalnya kah kampusku itu?
Ya, sekre mereka luas pakai banget. Ada beberapa
lemari dan rak buku. Ada juga rak khusus untuk memajang album foto setiap
kegiatan yang mereka lakukan. Ada ruang depan, ada juga semacam kamar untuk
ruang tidur. Di sana bahkan ada beberapa kasur. Yaelah, jauh amat dari
jangkauan sekre kami “DOZER”
“Kalau Mbak di sana masuk divisi apa?”
Aku langsung jantungan.
“Minat dan Bakat,” jawabku hati-hati. Padahal
itu tahun lalu. Periode tahun ini aku bahkan gak ikut musyawarah anggota dan
pemilihan dewan pengurus.
“Itu maksudnya ngapain?”
Aku menelan ludah.
“Ya misalnya kan anggota itu punya bakat-bakat
lain selain misalnya panjat dinding atau naik gunung. Nah, bakat-bakat lain
misalnya seperti catur bisa juga kita kembangkan di sini. Jadi lebih kaya,
gitu.
“Kalau Mbak bakatnya apa?”
Kambing guling!
“Menulis.”
“Apa yang ditulis?”
“Ehm, pengalaman. Kebanyakan berdasarkan
kejadian nyata sehari-hari yang terjadi dalam hidup,” aku benar-benar
keroncongan.
“Wah, bisa nulis novel dong.”
Aku juga berharap gitu.
Malam itu aku mandi. Hebat! Bahkan mereka punya
2 buah kamar mandi. Kami? Sapu aja brserakan di depan sekre. Dinginnya minta
ampun. Kok Malang bisa sedingin ini ya? Ah, tapi segarlah. Malam ini aku yakin
bisa tidur nyenyak. Mereka kedatangan tamu, 2 orang. Aku lupa dari mapala mana.
Yang pasti malam itu kita makan bersama, ya mungkin bisa disebut dijamu.
Setelah makan, aku melihat-lihat daerah sekitar
kampus. Kata Mbak Rini ada sekitar 30 UKM lebih di kampus ini. Luar biasa. Di
kampus kami aja paling ada 5. Itu pun gak aktif semua bikin kegiatan. Sekarang
aku mengerti kenapa orang jawa pintar-pintar. Aku berjalan di bagian belakang
kampus, dimana di sana berdiri dinding panjat mereka yang megah. Tinggi dan
dindingnya penuh dengan tantangan sulit. Mereka pasti pada jago-jago panjat
dinding. Ke-down-an kembali merajai
diriku. Merasa jadi sebutiran pasir aja, sedangkan merka adalah gurun pasir.
Aku berjalan lagi. Di sana, ada sekelompok cewek
lagi latihan dance. Pastinya tari
modern kayak korea K-Pop gitu. Soalnya musik yang terdengar juga lagunya Suju.
Cukup lama aku memandangi mereka latihan. Gerakannya yang lincah dan cepat
menyihirku. Mulai mengantuk, aku kembali ke sekre.
“Kalau ke Gunung Semeru pasti udah sering ya
mbak,” kataku sama Mbak Uci. Ia sedang main HP. Aku juga ikutan main HP.
Dia menggeleng. Sama sekali belum pernah. Dia
tuh, udah sering,’” Mbak Uci nunjuk Mbak Rini.
“Iya Mbak?” aku takjub.
“Ah iya, udah dua kali, Mbak.”
“Waw, keren. Oh iya, kalau Mbak Uci belum ke
sana, ayo sama-sama aja berdua besok ke sana. sSya juga belum pernah naik
gunung yang sebenarnya ini. Di Kalimantan ada bukit aja.”
Aku berharap besar. Sekalinya Mbak Uci
menggeleng. Katanya ada beberapa hal yang harus diurusnya selama libur semester
ini.
“Gak papa ya kalau sendirian naik Semeru?
Dibolehin petugas gak sih?” tanyaku penasaran setengah mati. Ini gunung yang
terkenal sekali. Dalam 5 Cm, siapa yang gak tau. Aku harus naik, harus. Apalagi
karena aku memang sudah di Malang. Apa salahnya ya kan.
“Kayaknya bisa sih. Kalau Mbak gak tahan sampai
puncak, sampai Ranu Kumbolo aja dulu, Mbak.”
Ah, dia benar. Aku akan sampai danau itu
dulu.
Aku dipersilahkan tidur duluan. Punggungku
langsung keenakan saat merasakan kasur empuk. Ah, sedap.
Besok paginya aku terbangun duluan. Aku sudah
memikirkannya matang-matang. Hari ini aku akan ke kota Batu. Anak-anak yang
lain masih ngorok. Aku gak tau jam berapa mereka tidur semalam. Tapi kayaknya
lama. Aku berjalan sekitar kampus UB. Megah dan bersih. Seharusnya dulu aku
punya niat buat kuliah di sini.
Kembali ke sekre, aku mandi. Siap-siap buat
berangkat. Setelah mereka bangun, aku pun berkata akan pamit hari itu juga.
Mereka memberiku buku tamu untuk diisi. Aku juga diberi stiker. Kami pun
berfoto bersama di depan sekre, aku gak lupa mengenakan slayer merahku yang
memang sengaja kubawa dalam petualanganku ke jawa ini sebagai identitas pecinta
alam.
“Mbak, kok buru-buru amat sih. Makan dulu lah,
isi perut,” kata Mbak Rini.
“Ah, nanti aja Mbak di terminal.”
Padahal karena aku gak tahan lagi dengan gejolak
dalam hatiku. Ada semacam rasa iri dalam arti positif di sana. Melihat pesatnya
sekre dan prasarana mereka. Terbayang reyotnya jiwa dan sekre kami di mapala
kampusku. Ah.. benar-benar bumi dan langit!
Aku melihat begitu banyak perbedaan antara
orang-orang di mapala itu dengan orang-orang di mapala kampus kami. Jauh
sekali. Kepedulian mereka maksimal. Kerapihan dan kebersihan. Mereka juga gak
punya rasa bangga yang berlebihan dengan ke-mapala-an mereka. Gak ada rasa
iniloh aku anak mapala. Mereka rendah hati, namun nasionalis. Mereka juga
mengutamakan pengabdian kepada masyarakat ketimbang jalan-jalan untuk
kesenangan sendiri.
Mbak Uci mengantarku ke terminal Landungsari.
Kamis, 21 Juli 2016
Batu…
Aku makan di sebuah warteg di terminal
Landungsari. Sambil nge-charger HP juga. Setelah makan pembayaran, hanya 10
ribu padahal udah sama teh hangat. Murah ya. Lanjut dengan naik bus yang akan
membawaku ke air terjun Coban Rondo. Ongkos busnya kalau gak salah 10 ribu. Aku
diturunkan di pinggir jalan dimana ada patung sapi yang lagi diperah susunya
sama seorang wanita. Maksudnya mereka semua patung, wanita itu juga. Suatu
kesalahan besar kayaknya bawa ransel berat ke sini, karena jalanannya tanjakan
curam. Kuputuskan menitipkannya di warung di desa itu. Si ibu dengan senang
hati menerimanya.
Tiket masuk air terjun Coban Rondo 17 ribu kalau
gak salah. Ke sana nya ada sekitar 2 km lagi kata petugasnya. Gila, aku jalan
kaki sendirian. Beberapa motor lewat, tepatnya pasangan manusia. Tiba-tiba
berhenti sebuah motor mio di sampingku.
Bapak-bapak berjaket dan bertopi. Aku waspada.
“Ayo mbak ikut saya, lumayan jauh loh 2 kilo,”
katanya.
“Saya gak punya uang bayar ojek, Pak,” kataku
lebih kepada pengaduan.
“Gak apa-apa kebetulan ada yang saya urus juga.”
Aku pun duduk di belakang dengan perasaan agak
takut-takut. Apalagi yang kami lewati adalah hutan belantara. Air terjun, ini
demi dirimu.
Kali ini aku salah. Si bapak menurunkanku ketika
kami udah tiba di air terjun. Tidak meminta bayaran. Aku pun hanya bisa
berterima kasih.
Air terjunnya keren dan seger abis. Kalau bisa
mandi di sana, aku bakalan mandi saat itu juga. Minta tolong difotoin sama
seorang bapak, yang keliatannya datang berdua sama anak lelakinya. Mereka juga
minta gentian difotoin. Puas berfoto, aku mendekatkan diri ke air terjun dan
membasahi kakiku. Brrr.. dingin!
Setelah puas main air, berhubung langit juga
mulai mendung kayaknya bakalan turun hujan, aku selesai dengan air terjun. Di
sana banyak juga kios yang menjual cindera mata dan makanan khas Batu. Keripik
dari berbagai macam buah adalah yang mendominasi. Aku hanya membeli sebuah kaos
lengan panjang, ada tulisan Malang-nya.
Harganya 36 ribu dan gak bisa ditawar. Selanjutnya aku memutuskan untuk
langsung melangkah naik ke atas, desa tempat aku menitipkan tas. Sialnya hujan
turun di tengah jalan. Deras abis. Aku basah. Kedinginan. Gak tau deh HP masih
nyala atau udah kena air. Beberapa motor ada yang lewat tapi semua adalah
penduduk yang membawa rumput untuk makanan ternak mungkin. Dengan kata lain gak
ada jok kosong di belakang. Sempat juga ketemu dengan ibu-ibu pakai penutup
kepala dengan bakul di punggung (pasti nyari rumput juga). Ditanya dalam bahasa
jawa. Entah apa, aku gak ingat.
“Maaf Bu, saya tidak mengerti.”
Akhirnya ditanyakan dalam bahasa Indonesia.
Ternyata artinya kenapa sendirian.
Aku berteduh di sebuah tempat peneduhan.
Satu-satunya yang kutemukan di pinggir jalan sejak tadi aku jalan kaki. Aneh
juga. Berteduh setelah basah. Ketika hujan tinggal gerimis, aku melanjutkan
perjalanan. Menggigil. Muncul mobil kijang berhenti di sampingku. Pemiliknya
menjulurkan kepala, bapak yang tadi di air terjun yang sama anak lelakinya.
“Ayo mbak, masuk aja. Kenapa hujan-hujanan?”
“Ah, kayaknya saya jalan aja Pak. Soalnya udah
basah juga.
Tapi karena dipaksa terus, akhirnya aku masuk ke
dalam. Duduk di jok hangat. Si bapak langsung bertanya banyak-banyak.
“Kebetulan saya juga mau ke Malang. Sampean bisa
ikut saya,” tawar beliau. Aku kepikiran dengan ranslku di warung tadi dan
menolak ajakan si bapak. Aku pun turun di warung.
Ibu pemilik warung tengah menyetrika pakaian
ketika aku datang. Karena masih gerimis kuputuskan untuk duduk menunggu di
terasnya. Tapi beliau menawarkan aku masuk dan dijamu dengan teh hangat dan kue
lebaran sisa kemarin katanya. Wah, baik bener ya penduduk Batu. Ramah lagi. Aku
numpang kamar mandi dan berganti pakaian dengan yang kering. Kemudian mengobrol
dengan si ibu. Cucunya juga ada di sana, sekitar 2 tahunan.
Hujan benar-benar berhenti. Aku berterima kasih
banyak pada ibu itu. Perjalanan ingin kulanjutkan ke agrowisata kusuma. Tapi
saat itu udah jam 2, gak sempat lagi. Aku naik bus yang sama kayak sebelumnya.
Di dalamnya ketemu sama dua orang pemuda jawa, yang sok asik dan langsung minta
nomor HP. Kukasih aja, soalnya toh HP-ku yang itu gak ada baterainya. Katanya
dia sih biar aku bisa nanya-nanya sama dia. Apalagi karena aku jalan-jalan
sendirian dan belum tau persis daerah situ. Aku senyumin aja.
Aku diturunkan di halte, persis simpang menuju
kusuma agrowisata. Wisata petik apel di Batu. Bingung mau ke mana atau tidur
dimana. Duit di kantung juga gak ada lagi. ATM BRI sebelah mana sih?
Alun-alun Batu…
Dari halte itu aku jalan kaki ke alun-alun.
Tentunya setelah nanya orang sekitar. Yang pertama kali kulakukan adalah cari
tempat charger HP. Ada sebuah kamar mandi yang dilengkapi dengan pemandian air
hangat dan tempat charger HP. Nge-charge HP-nya bayar 2 ribu aja sampai baterai
full. Aku memberanikan diri mandi air
dingin. Busyet, Batu lebih dingin dari Malang ternyata. Setelah mandi
celingukan cari atm BRI. Ketemu, samping-sampingan dengan Eiger. Melihat toko
itu, keinginan untuk naik ke Semeru timbul.
Aku masuk dan melihat-liat harga carrier-nya. Gila! Bisa untuk tiket
pesawat. Tapi masa iya aku pake ransel beginian kalau mau naik gunung?
Tiba-tiba teringat sesuatu, tempat rental alat-alat pendakian gunung ada di
Pasar Tunpang. Keputusan untuk naik gunung Semeru udah fix. Malamnya di alun-alun
sambil makan bakso (baksonya murah, 5 ribu udah kenyang plus lezat) aku search informasi pendakian ke Semeru.
Dokunenn apa yang dibawa dan sebagainya. Aku juga menghitung-hitung seandainya
berapa uang yng habis termasuk untuk sewa jeep dan logistik lainnya.
Banyak orang yang jualan di alun-alun. Semuanya
ada. Baju, tas, sepatu, sandal, makanan, mainan, ikan kring, nasi, semua ada. Di
tengah-tengah taman alun-alun ada patung apel gede banget tiga buah. Kalau itu
apel beneran kayaknya gak bisa deh kuhabiskan selama seminggu. Setelah puas
berjalan-jalan, makan dan membeli gantungan kunci oleh-oleh, aku menuju masjid
di dekat situ. Tempatku kan tidur, sebuah teras yang dialasi dengan karpet
karet sebenarnya khusus untuk pengunjung. Di sanalah aku tidur sambil memikir-mikirkan
rencana untuk besok ke Semeru.
Jumat, 22 Juli 2106
Paginya
dingin minta ampun. Kaki dan tanganku kayaknya mati rasa deh. Telinga sama
hidung juga. Kuberanikan untuk mandi pagi itu, air dingin. Membereskan ransel
dan berjalan ke arah darimana aku datang kemarin. Aku ketemu lagi sama seorang
bapak-bapak yang heran melihatku berjalan sendirian dengan ransel di punggung.
Aku was-was. Dia menawarkan diri mengantarku ke gunung Semeru. Kubilang aja
kalau aku bisa sendiri. Ujung-ujungnya aku diantarnya ke terminal Batu. Aku
makan di sana, mampir ke pasar dan kaget dengan harga apel yang dijual per
kilonya, 30 ribu/kg.
Kok bisa mahal begitu, Pak? Bukannya Batu
penghasil apel ya?” tanyaku sama si bapak penjual.
“Iya, tapi lagi gak musim, Mbak. Sampean maunya
berapa kilo?”
Jiah,jangankan sekilo, mau beli sebiji aja jadi
mikir.
“Gak banyak-banyak kok, Pak. Saya cuma pengen
untuk cuci mulut aja. Kalau yang 2 biji ini 5 ribu bisa ya, Pak?” aku
mengangkat apel yg kumaksud.
“Wah, itu 6 ribu sudah.”
“Saya ganti deh dengan yang kecil ini.’
Si bapak setuju.
Sambil menggigit apel, aku kembali ke warteg
makan tadi mengambil ransel. Naik angkot ke terminal arjosari, bayar 5 ribu.
Dari sana aku naik angkot warna putih ke Pasar Tumpang, bayar 7 ribu. Tiba di
Pasar Tumpang langsung bloon nyari atm BRI susah banget. Terpaksa narik di atm
BCA. Entah dipotong berapa saldo gue. Aku berhasil menemukan toko yang
menyediakan jasa rental alat-alat pendakian itu. pemiliknya ramah, meskipun
brewokan. Aku merental tas carrier 60 L, headlamp,
sleeping bag dan matras. Sewanya
dihitung per hari dan setiap item beda-beda harga sewanya.
Satu hal yang nyaris (sebenarnya sempat) bikin
aku gak jadi naik gunung Semeru adalah surat keterangan sehat dokter belum ada.
“Ada di dekat sini, tapi harus naik ojek. Mau
mbak?” tanya pak brewok.
Aku menurut aja. Ojek bayar 15 ribu dibonceng
sama seorang anak laki-laki yang kayaknya masih SMA itu. Dia katanya udah
sering naik Semeru. Kami ke poliklinik desa. Setelah diukur tensi darah, berat
dan tinggi badan, selesailah surat itu. Biayanya hanya 10 ribu.
Kembali ke toko rental. Aku memfotokopi KTP di
tempat fotokopian di sanping situ. Memasukkan roti dan minuman ke dalam
carrier. Gak ada kompor, gak ada tenda. Tekadku aku hanya akan sampai Ranu
Kumbolo. Saat itu jam 2 siang. Jeep yang kami sewa (aku bersama 3 orang abang
pendaki dari Samarinda) berangkat jam 3. Aku gak tahu berapa harga aslinya sewa
jeep itu, soalnya Bang Amang cuma minta 80 ribu aja dari aku. Perjalanan ke
Ranu Pani ditempuh dalam waktu 2 jam. Udah gelap saat kami nyampe di Ranu Pani,
desa terakhir sebelum trekking.
Carrier yang dibawa abang bertiga itu
besar-besar. Pastinya berat juga. Malam itu kami nginap di Ranu Pani. Oh iya,
di sini dingin abis pakai amat. Jangan coba-coba gak pakai jaket kalau tidur.
Jaket aja kagak bakalan cukup. You will
need sleeping bag too. Sarung tangan, sarung kaki, syal dan kupluk. Sialnya
jaketku basah, itupun tipis. Terpaksa aku rental jaket lagi di desa itu, 10
ribu/hari. KTP ditinggalkan. Kami ketemu sama pasangan kekasih yang mau mendaki
juga dari Mojokerto. Karena ini pertama kali buat si cewek, dia juga bakal
sampai Ranu Kumbolo aja katanya. Si cowok kedua kalinya ke sana.
Sore itu kami masih sempat ikut briefing, lebih
tepatnya arahan teknis massal dari petugas Taman Nasioanl Bromo Tengger Semeru
(TNBTS) kepada para pendaki. Terutama hal-hal apa aja yang gak boleh dilakukan
selama di gunung dan bagaimana jalur pendakiannya. Petugasnya yang ngomong
menyampaikan dengan cara yang lucu, kayak lagi stand up comedy. Malam itu setelah seharian kelaparan aku hanya
bisa makan pop mie sambil menggigil. Kompor portable
yang dibawa Bang Amang gak bisa diharapkan untuk menghangatkan tubuh. Selesai
makan, saatnya membungkus diri dalam sleeping
bag. Brrrrr, dingin…!!!
Sabtu, 23 Juli 2016
Trekking Semeru Begin…
Trekking Semeru Begin…
Enggan banget pagi-pagi ninggalin kehangatan sleeping bag. Mau gak mau ya harus mau.
Kalau enggak, entar ditinggal sama pendaki yang lain. Kami berempat sarapan
roti dan kopi. Mem-packing ulang carrier (mereka), cuci muka (aku).
Selesai mengurus administrasi di loket, pendakian pun dimulai. Ternyata petugas
TNBTS memang tidak mengizinkan pendakian seorang diri. Jadinya aku dimasukkan
dalam rombongan mbak dan mas dari Mojokerto itu.
Aku mengenakan jaket rental yang tebal, sandal
gunung, celana panjang kain, dan topi tokopedia hasil roadshow kemarin di Palangka. Abang bertiga pakai celana pendek
semua, sepatu dan topi. Pasangan Mojokerto udah naik duluan. Kami berempat
menyusul dari belakang. Bagi Bang Amang ini juga pendakian keduanya.
Beberapa kali aku mengerjapkan mata, berusaha
meyakinkan diri sendiri kalau saat itu bukan mimpi, bahwa itu nyata, aku
bersama dengan orang-orang itu melakukan pendakian ke Semeru, salah satu target
yang kubuat di dinding kamar kos ku tahun 2015 lalu. Ketika sampai pada gerbang
selamat datang para pendaki Gunung Semeru, aku pun tahu ini benar-benar nyata. Berderet-deret
pendaki yang ingin naik pagi itu. Di tengah jalan saling bertegur sapa dengan
sesama pendaki, ada yang mau naik ada juga yang udah turun. Ada juga yang
istirahat sejenak di pinggir. Mungkin karena carrier mereka berat, abang-abang
dari Samarinda sering berhenti. Jadinya aku jalan sendiri, kadang.
Dari belakang muncul seorang penduduk asli yang
memikul di pundaknya. Apapun itu pastinya berat dengan medan seperti ini. Tapi
mungkin juga mereka sudah terbiasa naik gunung.
“Mbak, temannya dimana? Jangan berjalan
sendirian,” kata beliau. Aku tersenyum dan berkata temanku di belakang. Aku pun
menunggu mereka.
Pos demi pos terlalui. Ada yang jualan ternyata
di atas sini. harganya otomatis lebih mahal. Misalnya gorengan jadi
Rp.2.500/bji. Kami berempat istirahat sambil makan semangka. Lumayan segar.
Banyak juga pendaki yang istirahat di sini. Aku kelelaan, padahal baru lewat
pos 1. Maklum, selain 1980 mdpl Pusukbuhit, aku belum pernah naik gunung lain.
Ah, ini demi dirimu, Ranu Kumbolo. Lihatlah, aku akan datang!
Ketika kaki sudah semakin lelah berjalan,
kerongkongan terasa kering, otak kepanasan, perut lapar, tampaklah sebuah
genangan air yang sangat biru. Dari atas smuanya terlihat jelas dan sangat
indah. Tuhan, apakah ini surga Mahameru itu? Ranu Kumbolo, akhirnya kita
bertemu…
Aku dan Bang Aji segera ganti-gantian berfoto
dengan latar belakang danau itu. Setelah itu kami bergegas menuruni jalan yang
memang menurun. Rasa penat langsung terlupakan dengan pemandangan di sana.
Malam itu kami bermalam di sana. aku tentu saja satu tenda dengan rombongan
abang Samarinda. Pasangan Mojokerto juga udah di sana. ada banyak tenda-tenda
yang didirikan di dekat danau. Udara menusuk kulit. Makan malam kami adalah
capcay dan tahu goreng.
Minggu, 24 Juli 2016
Sunrise Ranu Kumbolo…
Sunrise Ranu Kumbolo…
Paginya suhu sudah minus 10 derajat kurasa. Aku
menggigil tapi tetap keluar tenda demi menyaksikan sunrise Ranu Kumbolo. Pendaki lain juga udah siap-siap dengan momen
itu. Kamera di tangan. Bang Eli bangun duluan dari yang lainnya. Untunglah ada
beliau, maksudku kamera HP-nya bagus. Tepat saat matahari muncul jepretan
sana-sini. Aku juga menuliskan sesuatu di kertas dan mengambil fotonya di
belakang matahari terbit. Keren!
Matahari mulai semakin hangat. Para pendaki ada
yang udah bongkar tenda bersiap melanjutkan pendakian, ada yang masak, cuci
muka di danau dan mendaki tanjakan cinta yang berada tepat di belakang
tenda-tenda. Aku tahu mitos tanjakan itu. Muncul sebuah nama di benakku. Sambil
senyum-senyum sendiri aku mulai menaiki tanjakan itu, tentunya tidak menoleh ke
belakang sekali pun. Hingga tiba di ujung tanjakan. Banyak muda-mudi lain juga
di sini. Aku merasa kecil begitu melihat gadget canggih mereka dan banyak alat
selfie lainnya.
Cuci muka di Ranu Kumbolo gak boleh langsung ke
airnya. Mesti pakai akua atau botol apapun. Terus menjauh kira-kira 10 meter
dari danau. Barulah boleh cuci muka atau sikat gigi. Gak dibolehkan mandi di
sini, maksudnya nyebur ke danau. Film 5 CM tentu saja pengecualian. Aku cuci
muka dan sikat gigi. Kembali ke tenda dan sarapan roti selai yang adalah bekalku.
Aku merasa berat hati sebenarnya hanya sampai
Ranu Kumbolo aja. Padahal sedikit lagi aku akan tiba di puncak tertinggi jawa,
puncak Mahameru. Tapi janji adalah janji. Seorang traveler sejati selalu menepati janjinya. Lagipula kalau aku naik
ke puncak itu artinya sewa jaket dan rental peralatan dari Pasar Tumpang akan
semakin mahal. Uangku gak bakalan cukup untuk tiket psawat pulang. Jadi aku
hari itu berpisah dengan abang-abang dari Samarinda dan turun ke Ranu Pani
dengan pasangan Mojokerto. Kukembaliakn
sarung tangan yang dikasih pinjam Bang Eli. It’s hurt enough, you know. But I promise, I’ll back here to reach the
top of Semeru before graduation. You
have my word!
Turun ke Ranu Pani lebih cepat tentu saja. Kalau
naik kemarin butuh waktu 6 jam sampai di Ranu Kumbolo, kalau turun ke Ranu Pani
hanya butuh waktu kurang lebih 3 jam. Aku juga berpisah dengan pasangan Mojokerto di Ranu Pani. Kami tiba jam 3 siang di
sana. Mereka berdua naik motor datang ke sini. Ah iya, aku harus mencari jeep
pulang. Setelah mandi dan istirahat sebentar, aku turun ke desa di bawah,
mencari jeep.
Jaket
yang kurental kupulangkan. KTM-ku juga dikembalikan.
Andika Fajar Firdaus cs…
Aku bertemu dengan serombongan mahasiswa dari
Surabaya, 2 cewek dan 3 cowok. 2 cowok pakai kacamata. Satu namanya Hakim, yang
satu lagi gak tahu. Yang gak pakai kacamata namanya Andika. Hakim sama cewek
berdua kuliah di UNESA jurusan Sastra Jepang. Uh, nyaris deh. Maksudku aku juga
dulu pengen kuliah di sastra juga, tapi Sastra Inggris. Kami kenalan dan mereka
semua baik, ramah. Salutnya aku adalah cewek berdua sama si Hakim itu nyampe ke puncak Mahameru. astaga, aku aja sampai Ranu Kumbolo aja udah mau pingsan.
“Jarang loh mbak, ada orang sumatera yang
kuliah di Kalimantan, terus jalan-jalan ke jawa,” kata Andika. Aku dalam hati
mengerang, kau tidak tau sih apa alasan perjalanan nekad yang sendirian ini!
“Berani
ya, samnpean,” timnpal yang cewek.
Sebenarnya
nekad lebih cocok, daripada berani.
Mereka
makan bakso dan aku ditawari. Tapi berhubung uang di dompet gak ada lagi, aku
jadi bilang kalau aku sudah makan tadi di atas.
“Jadi
jeep ini sudah kalian rental?” tanyaku. Soalnya ada yang ganjil di sini.
Jeep-nya udah dirental buat naik sama turun. Itu artinya kekuasaan tertinggi
berada di tangan parental. Mau mereka menambah kuota penumpang, terus minta
bayaran sendiri kan itu udah jadi urusan mereka? Kenapa si supir ini malah
minta uang lagi dariku? Kali ini bukan karena uang di dompetku gak ada lagi
buat bayar jeep. Soalnya si Hakim udah bersedia minjamin aku duit untuk jeep.
Tapi ini demi keadilan sosial bagi penumpang dan pemilik jeep.
“Pak,
begini. Mereka kan sudah rental jeep-nya untuk naik sama turun. Artinya kalau
ada teman mereka lagi yang nambah, itu jadi urusan mereka kan? Gak ada bayar
lagi sama pemilik jeep?” kataku berusaha menjaga nada suara agar tidak kurang
ajar.
“Lho?
Itu kan jeep saya. Saya yang bayar uang parkirnya. Liat, kalian kira saya
berhenti di sini nunggu kalian gak bayar uang parkir?”
Jiah,
uang parkir berapa banyak sih. Palingan 10 ribu dah paling mahal. Masa jawaban
beliau gitu sih? Aku mengamati sejenak profil fisik orang itu. keriting,
gondrong, buncit. Tipikal orang gak konsisten. Wkwkwk!
Terpaksa,
aku tetap harus bayar. Mahal cok, 75 ribu. Hakim minjamin uang seratus, begitu
kami tiba di tempat pemilik jeep yang sebenarnya, namanya Pak Rudy. Gila, jadi
bapak gondrong keriting ini supir aja, bukan pemiliknya? Artinya aku udah
dimanfaatin kan? Lebih parah lagi, ini pemerasan!!! Kampret. Itu bukan
satu-satunya masalah saat itu. Aku baru ingat kalau harus mengembalikan
barang-barang rental malam itu juga. Kalau enggak, sewanya bakalan nambah lagi.
Ini aja udah telat satu hari balikinnya. Apalagi KTP-ku ditahan di sana. Aku
harus ke sana malam itu juga. Kulihat si bapak gondrong keriting. Bisakah dia
menolongku?
“Pak,
saya mau ke alamat ini mau balikin barang,” kataku sambil menyodorkan selembar
kartu nama. Di sana ada alamat toko rental itu.
“Oh,
bisa sekalian sama saya. Saya juga mau kembali ke Ranu Pani. Tapi nanti
pulangnya saya ndak bisa antar ke
sini lagi,” katanya.
Dasar!!
Aku
berhasil mengembalikan barang-barang rental malam itu. Biaya nambah 30 ribu
atas keterlambatan satu hari. Si bapak pemilik toko rental lagi mengasah pisau
(atau membuat pisau itu) psanan orang katanya dan harus selesai malam itu juga.
Belum lagi bayar uang si Hakim 100 ribu. Sebentar, aku gimana pulangnya ke
tempat pemilik jeep tadi? Tempat dimana Andika cs juga berada.
Bapak
pemilik toko mencarikan ojek untukku. Persis kayak kemarin aku mau ke
poliklinik, tapi ini orangnya beda. Dia minta dibayar 20 ribu.
“Tapi
ke atm dulu ya,” kataku. Disepakati. Aku pun pamit dengan bapak toko rental.
Setidaknya tidak semua orang gondrong itu jahat kayak supir jeep tadi,
manfaatin orang. Nanti kalau mau bayar utang ke Mahameru aku janji bakalan
rental alat-alat di situ lagi.
Tiba
di rumah Pak Rudy, mereka lagi dijamu makan bakso. Aku yang memang udah
kelaparan yang tadi siang pura-pura udah makan bilangnya sama si Hakim,
langsung ikutan. Sedaaap!
Malam
itu rencana pulang pun disusun ke Surabaya. Berhubung mereka berlima juga mau
pulang ke Surabaya, aku juga sekalian ikut mereka. Rencananya aku naik pesawat
aja deh ke Palangka Raya. Naik kapal 24 jam gak sanggup, udah capek.
“Mbak,
tiket sampean udah ada?”tanya si
Andika. Mulai sekarang panggil aja Dika, biar lebih singkat.
“Ah,
belum. Kalau itu sih gampang aja nanti,” kataku. Tapi ternyata musibah kembali
meluncur. Si Dika search di traveloka dan tiket untuk besok gak ada, alias
kosong. Untuk lusa dan lusanya lagi mahal. Semua Garuda, gak ada Lion. Paling
murah 2 jutaan. Gila, ini ada apa tiba-tiba tiket habis gini? Ini kan
tanggal-tanggal akhir bulan Juli. Apa?? Arus mudik? Sial!!
Pantesan
aja tiket mahal-mahal plus langka. Tapi gimana nasib KRS-ku? Terakhir konsul
sama dosen PA dipatok sampai tanggal 27 Juli. Itu artinya setidaknya tanggal 26
aku sudah harus ada di Palangka Raya. Saat itu udah tanggal 24. Kalau naik
kapal mungkin sempat, tapi gak tahan loh selama 24 jam duduk terus
terombang-ambing goyang oleh ombak. Udah diliat dan ternyata harga tiket
pesawat bulan Agustus udah ada yang 1 jutaan. Tapi apa artinya aku balik di
tanggal segitu. Kan mau ngurus KRS.
Entah
gimana lagi mau berpikir, pikiran udah sumpek. Diputuskan besok pagi jam 3 kami
naik angkot dari sana dijemput terus ke stasiun Malang, naik kereta pagi ke
Surabaya.
Senin, 25 Juli 2016
IT’S ALL END HERE…
Semuanya
ketiduran. Seharusnya bangun jam 3 malah jam 4. Setengah sadar, aku membawa
ranselku ke angkot yang udah nunggu di depan rumah Pak Rudy. Tiba di stasiun
Malang, kereta udah pergi. Kami pun ke terminal arjosari, naik bus biasa yang
ongkosnya 15 ribu. Lho, kok bisa-bisanya kemarin aku naik bus Surabaya-Malang
bayar 25 ribu?
Tiba di terminal Bungurasih. Mereka menungguku
kembali dari agen penjual tiket. Tiket pesawat benar-benar gak ada. Tiket kapal
mahal juga, 500 ribu dari Tanjung Perak ke Banjarmasin. Belum lagi dari
Banjarmasin naik taksi ke Palangka Raya. Oh iya, utangku sama Hakim juga belum
dibayar.
“Gimana,
Mbak?” tanya Dika begitu aku kembali. Lesu. Aku menggeleng. Cowok yang satu
lagi udah pulang duluan katanya, dijemput. Mereka tinggal bertiga di sana.
“Gini
aja, kita ke angkringan aja dulu. Aku ada teman yang kerja di kapal laut. Tadi
kutanya agen yang masih jual tiket kapal katanya ada, Darma Lautan Utama (DLU).
Nanti setelah mandi saya antar mbak ke pelabuhan kita cari tiketnya, pasti
sempat KRS-an,” katanya.
Aku
malu sendiri begitu mereka tahu kalau kampus kami tersayang masih belum menggunakan
sistem KRS online. Memalukan, mau ditaruh dimana muka ini?!
Dalam
perjalanan menuju angkringan kami berempat makan nasi sate di pinggir jalan.
Murah loh, anya 8 ribu. Belum termasuk minum memang. Ya 10 ribu lah sama
minumnya.
Angkringan
yang dimaksud Dika ternyata milik mas-nya si Hakim. Kayak kafe gitu, tapi dalam
konsep tradisional modern. Pokoknya gitu deh. Bukanya cuma malam aja. Setelah
si Hakim mandi, mereka pergi berdua ke rumah Dika. Katanya buat ngambil motor
satu lagi. Nanti yang satu ngantar aku ke pelabuhan yang satu lagi ngantar
cewek teman kampusnya Hakim. Kalau gak salah namanya Atus.
Sambil
menunggu mereka aku mandi. Segarlah. Gak lama kemudian Hakim balik duluan. Si
Dika pasti lagi mandi di rumahnya. Aku sama Atus disuguhi Good Day es dalam
cangkir besar. Tapi habis juga sih. Begitu Dika datang, kami pun pergi. Terlebih
dahulu berpamitan sama Hakim dan Atus. Berterima kasih buat semuanya, dan
sempat tukaran pin bbm. Dika ngasih helm. Kami pun berangkat. Di tengah jalan
menuju pelabuahn kocar-kacir dulu nyari atm BRI.
“Moga
deh tiket kapalnya ada dan murah,” kataku memulai percakapan.
“Emang
punya budget berapa sih?” tanyanya.
“Gak
lebih dari 500.”
“Oh
cukup aja. Kata temenku tadi 300-an tiket kapalnya.”
Demi
apa coba, udah badan pegal setelah naik ke Ranu Kumbolo, eh pulang-pulang ke
Palangka mesti naik kapal mengarungi lautan jawa 24 jam kurang lebih. Dalam
kasusku ini itu pun kalau tiket kapalnya masih ada. Gimana kalau udah habis
juga?
Kami
langsung nyari-nyari kantor DLU. Disana ramai, tentu saja. Si Dika malah
menenteng ranselku yang berat itu kesana-kemari. Udah kubilang tinggalkan aja
di motor, gak ada barang berharga juga kok di dalamnya, tapi dia malah tetep
bawa. Aku mendatangi petugasnya.
“Pak
saya mau tanya tiket kapal ke Banjarmasin untuk hari ini.”
Si
petugas melihat monitornya. Aku menahan nafas.
“Berapa
orang?”
Yes!
Ada.
“Satu
orang aja.”
“Harganya
375 ribu berangkat hari ini kapal Satya Kencana III jam 5 sore.”
Mau
satya kencana berapa pun itu, yang penting tiket udah di tangan. Ya, meskipun
terpaksa naik kapal lagi. Berdoa aja ombaknya gak kencang. Aku kembali ke kursi
dimana Dika lagi nonton berita yang lagi menyiarkan berita kapal karam. Deg!
Yang bener aja deh. Setelah menyaksikan berita itu kami berpandangan. Tapi gak
bilang apa-apa.
“Habis
ini mau langsung ke pelabuhan atau kemana?” Tanya si Dika.
Wah.
Aku aja gak tau jawabannya tuh. Tapi karena saat itu baru aja jam 1 sementara
tiket kapal berangkat jam 5, dapat dipastikan aku bakalan bosan nunggunya.
“Kemana
ya, gak tau juga nih.”
“Atau
makan mungkin?”
Ah
ide bagus.
“Oh
iya makan itu.. Lontong balap! Dari kemarin gak jadi-jadi,” aku semangat.
Kami
berkeliling mencari makanan khas Surabaya itu. Tapi gak ketemu-ketemu. Bahkan
sekarang udah di pusat kota, dekat Tugu Pahlawan. Udah gitu, entah mungkin
karena kelamaan kuliah di Bali si Dika ini gak terlalu hafal jalan di Surabaya.
Akibatnya kami sering mutar-mutar bahkan nyaris nabrak truk di depan. Dia
ngerem mendadak. Akibatnya aku terpental ke depan. Shit, sakit banget!
“Pelan-pelan
dong, Mas,” kataku. Sebenarnya aku bilang gitu buat ngingetin dia biar
hati-hati. Eh dia malah nanya.
“Sakit
ya, Mbak?”
Somplek!
Yang dia maksud sakit apa ya?!!!
“Ah,
gak kok. Gini aja, kalau lontong balapnya gak ketemu gak usah dipaksain nyari
deh. Makan nasi biasa aja.”
“Gak
apa-apa kok. Aku juga lagi pengen soalnya.”
Ini
anak kok jadi kayak lagi ngidam gitu sih?
“Bensin
mu ituloh, nanti habis, mati di tengah jalan,” aku mengingatkan.
“Biar
aja, motor teman kok. Bodo amat.”
What?
Kalau di Palangka Raya mah, pertemanan kita benar-benar diuji kalau minjam
motor teman tapi bensinnya gak diisi. Lha disini si Dika malah bilang bodo
amat.
Beruntunglah
kita karena si lontong balap berhasil ditemukan. Herannya aku adalah kenapa
namanya lontong balap, padahal yang banyak di piring itu adalah tauge dan
kacang. Seharusnya namanya Tauge Kacang. Enak sih, apalagi pas udah lapar. Ada
rasa pedas-pedas sama manis asin gitu. Sambil makan si Dika cerita gimana dia
sampai bisa kuliah di Bali, bukan di Surabaya. Teknik Mesin-UNUD, semester 5.
Lontong
balapnya habis, gak terasa. Kalau dikasih seporsi lagi gratis aku mau deh. Oh
iya, dalam benakku timbul pemikiran untuk bayarin makanan ini, termasuk punya
si Dika. Secara dia udah baik banget nolongin aku nyari tiket kapal sampai
akhirnya mgantar ke pelabuhan dan keliling-keliling nyari lontong balap.
Aku
udah berdiri berhadapan dengan si bapak kasir, saat yang sama Dika juga
berdiri. Kami sama-sama bilang, “Berapa, Pak?”
“Saya
aja yang bayar,”kataku ke dia.
“Saya
aja, Mbak,” dia bersikeras juga.
“Oh,
jangan berebut. Jangan berebut! Biarkan si cowok yang bayar. Mbak-nya mundur
aja,” kata si bapak kasir.
Saat
itu juga kami jadi sorotan orang-orang yang juga lagi makan di sana. Bagus, ini
udah kayak orang pacaran.
Kami
kembali ke pelabuhan, sebenarnya baru jam 3. Masih lama.
“Kemana
lagi nih, Mbak?”
“Pelabuhan
aja deh. Eh, kamu kenapa sih tadi bayarin makanan aku? Aku kan mau terima kasih
sama sampean, setidaknya itu yang
bisa kulakukan. Oh iya, gimana kalau ngisi bensin aja?”
“Ah,
ndak usah, Mbak. Nanti enakan teman
saya, pulang-pulang bensinya full.”
Gak
full-full juga keles, Dika. Paling 2
liter lah. Duit gue juga sekarat kok! Hahah.
Tiba
di pelabuhan, dia ngantar aku ke ruang tunggu. Bentar deh, kok aku ngerasa ini
perpisahan bakalan berat ya. Maksudku aku kan baru sehari kenal dia, ketemu
dia. Tapi kenapa rasanya sedih banget mau ninggalin dia, ninggalin Jawa, dan
semua petualangan yang selama seminggu ini kualami dengan berbagai warna
cerita?
Sedih
banget. Sumpah. Gak sanggup.
“Ah,
Mbak. Ini no HP saya. Siapa tahu kapalnya ditunda berangkat atau apa, jadi
sampean bisa hubungi saya.”
Aku
menyimpan nomornya. Kemudian aku terpikir sesuatu.
“Mas,
hm..ini buat uang teh,” aku merogoh saku dan ngeluarin selembar 20 ribu. Malu
sih aku, dikit banget kan itu. Dia aja tadi udah bayarin aku makan.
Bisa-bisanya aku cuma ngasih dia 20 ribu? Tapi sekali lagi, uangku sekarat.
“Ndak
usah, Mbak. Sampean simpan aja.”
“Aduh,
saya gak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa. Kamu baik banget udah
bantuin saya. Makasih ya, makasih banyak.”
Kami
bersalaman.
“Mas
udah bisa pulang aja, istirahat di rumah. Pasti capek banget habis pendakian ke
Semeru,” kataku.
“Kalau
begitu saya pergi dulu ya, Mbak. Hati-hati di jalan.”
Dia
berbalik lalu berjalan menjauh. Aku berharap dia membalikkan badannya sebentar.
Kalau itu sampai terjadi, aku janji bakalan melambaikan tangan sambil tersenyum.
Satu..dua..tiga.. itu gak terjadi! Dia berjalan terus. Menjauh dan akhirnya
menghilang di antara kerumunan orang.
Bye, Andika..
Bye Surabaya…
25-26 Juli 2016
Surabaya-Banjarmasin-Palangka Raya…
Aku
masuk ke ruang tunggu yang penuh dengan penumpang. Sesak. Udaranya juga pengap.
Setelah boarding pass, aku mencari colokan HP.
Duduk
sambil menunggu jam 5, pikiranku mengawang, merenungi ke belakang hari dimana
aku memutuskan akan melakukan perjalanan sendirian ini. Ingatan itu mengalir
terus hingga hari ini. Aku jadi senyum-senyum sendiri. Luar biasa ternyata!
Seorang
laki-laki asal Madura duduk di belakangku mengajak ngobrol. Obrolan kami bahkan
makin lama makin jauh lebih ke hal-hal tentang agama. Dia bertanya bagaimana
seorang bisa berpindah agama dari Islma ke Katolik. Lha, aku mana tau. Dia juga
nanya hal-hal lainnya tentang agama. Aneh deh. Lebih aneh lagi waktu dia nanya
hal pribadi.
“Mbak,
udah punya pacar?”
Kampret!
“Udah.”
“Pasti
satu kampusnya ya?”
“Iya,
satu jurusan dan satu angkatan.”
Dia
diam sejenak. Dia lalu bercerita tentang daerahnya. Madura. Kalau di sana
pendidikan gak diperhatikan. Banyak yang putus sekolah, lalu mencari kerja. Kemudian
menikah. Pemerintah kayaknya kurang peduli dengan nasib anak-anak sekolah.
“Kami
orang-orang Madura ya begini, Mbak. Terbiasa mandiri dan bekerja keras. Kami bisa
melakukan hal-hal sendirian. Ketika lebaran tiba kita kembali ke kampung
halaman berkumpul dengan keluarga. Kalau sudah ketemu dengan jodoh ya menikah.”
Ketika
jam masuk ke kapal udah dibuka, aku berusaha menghindar dari dia. Aku sengaja
berlama-lama sendirian di belakang biar kita terpisah. Tapi dia dengan ramahnya
mengajakku supaya bergabung dengan rombongannya yang terdiri dari beberapa
laki-laki dan gadis-gadis Madura itu. Bukan apa-apa sih. Hanya saja aku agak
risih.
Di
kapal gak ada kursi kosong. Satu-satunya kursi kosong ada di dekat jendela, di
samping seorang bapak Madura (hampir seisi kapal itu orang Madura semua. Ini kan
arus mudik), yang mirip persis sama Blade Trinity. Tinggal nyediain vampir-nya
aja lagi. Di sanalah aku terpaksa duduk.
Jam
demi jam berlalu. Untungnya aku gak mabuk. Kami tiba di pelabuahn Trisakti-Banjarmasin
jam 4 sore 26 Juli 2016. Dari sana aku naik taksi ke Palangka Raya, bayar 100
ribu smapai di kos. Ah, lelah luar biasa.
2
pulau, 3 provinsi, sendirian, sejuta pengalaman…































































































