Minggu, 15 Desember 2019

Alasan Paling Masuk Akal Untuk Izin Gak Masuk Kerja (Part II)



Meski saat LGD kemarin pendampingnya bilang menyukai ideku, aku tidak berharap banyak bisa lanjut ke tahap tes berikutnya. Itulah kenapa aku kembali kelimpungan mencari alasan izin gak masuk kerja ke atasanku begitu menerima e-mail undangan interview user di markas besar bank BUMN tersebut. Aku benar-benar stres karena alasan BPJS tentu tidak bisa kuandalkan dua kali.

Namun seperti kalimat bijak kepsek sekolah sihir Hogwarts, ‘bantuan akan selalu diberikan kepada mereka yang mengharapkan’, aku kembali mendapat ide (kurang kreatif tetapi bernilai kemanusiaan tinggi). Alasan itu : menjaga sepupu di rumah sakit.

“Oalah. Kamu itu baru masuk, masa sudah dua kali izin?” begitu kata atasanku.
“Iya, Bu. Saya juga berat untuk izin, tapi dia sepupu saya yang tidak punya kerabat lain di sini selain saya. Mohon di-acc ya, Bu?”

Jelas aku terdengar lebih kepada memaksa daripada memohon izin. Tapi ajaibnya beliau setuju, dengan syarat aku harus lebih cepat mempelajari sistem kerja di bagian marketing ini.

“Kamu bulan depan sudah meng-handle customer sendiri. Dan itu tidak mudah, Lena.”

Ya, kuharap bulan depan aku sudah angkat kaki dan bergabung dengan BUMN itu,-

Interview. Hm, ini sudah interview yang keberapa ya, yang kuhadapi sebagai jobseeker. Pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan sudah bisa kutebak, cara menjawabnya pun sudah kucoba untuk diingat-ingat. Malamnya aku tidak numpang di kosan Desry, kuputuskan menggunakan bedak dan lipstik saja.

Aku naik KRL ke gedung dimana tempat interview-nya akan berlangsung. Wah, lingkungan sekitar kantornya memang khusus kantor-kantor perusahaan. Orang-orang berpakaian sangat rapi dan terlihat berkarisma. Yang laki-laki tinggi menjulang. Yang wanitanya cantik gemulai. Penampilan mereka semua mewah. Daerah ini sangat elit. Kurasa harga air mineral pun dipatok 20 ribu segelas di sini. Aku jadi takut haus.

Masuk ke lantai dan ruangan yang sudah disebutkan di undangan e-mail. Di sana kudapati si cewek yang sempat mendebat ideku saat LGD tempo hari sudah duduk manis dengan setelan blazer-nya yang berwarna krem. Rambutnya dibiarkan terurai. Dia memang cantik sih. Kalau sempat dia gak keterima dalam program ini, aku rasa recruiter perlu periksa mata ke dokter.

“Hey, sudah lama?” sapaku.
“Eh, belum kok,” katanya. “Tadi dikasih surat pernyataan ini,” dia menunjukkan kertas yang sudah bermaterai dan ditandatanganinya.

Kubaca poin-poin dalam surat pernyataan itu. Ada poin yang seolah-olah mengatakan bahwa kami sudah pasti diterima meski belum interview dengan user hari itu. Poin seperti : Tidak akan menikah selama program berlangsung. Entahlah, mungkin aku yang terlalu bego memaknai poin itu.
Satu per satu peserta berdatangan dan semakin banyak. Bahkan satu kelompok LGD-ku kemarin sepertinya lolos semua. Aku mulai meragukan kesimpulanku soal surat pernyataan itu. Tidak mungkin kami semua diterima!

Tibalah giliranku untuk interview. Kumasuki ruangan itu dengan jantung bergemuruh. Ini adalah interview paling besar, penting dan berdebar yang pernah kuhadapi. User bank BUMN,..

“Halo, selamat siang, silahkan duduk.”
TENG! BELIAU SATU RAS-KU..!
“Terima kasih, Pak.”
“Bisa diperkenalkan diri dan aktivitasnya saat di kampus atau pengalaman kerja mungkin.”
Aku mulai menjabarkan panjang lebar siapa diri ini dengan sejujurnya. Beliau hanya memandangi ijazahku dengan kacamatanya yang dinaik-turunkan.

“Skripsinya dulu tentang apa?”
*-Answer*
“Nilainya apa?”
*Answer*
“Loh kenapa begitu? Memang pengerjaan skripsinya bagaimana prosesnya?”
“Saya menganalisis data-data yang saya dapatkan dengan metode x, lalu saya tarik kesimpulan apa yang akan terjadi terhadap objek penelitian saya, Pak.”
“Oh, begitu saja? Simpel ya.”
“Saya sengaja ambil judul yang tidak rumit, Pak, mengingat proses pencarian perusahaan tempat penelitiannya sudah lama, saya tidak ingin proses pengerjaan skripsinya juga butuh waktu yang lama. Jadi saya ambil yang sederhana.”

(Aku merasa bukan sedang interview dengan salah satu bank BUMN, tapi interview beasiswa magister)

“Dimana prioritas daerah penempatan pilihanmu?”
Sebelum menjawab aku tersenyum.
“Kalau boleh, Pak di Samosir.”
Beliau tertawa.
“Kita lagi butuh orang di Palangka Raya. Kamu dulu kuliah di sana, kan?”
“Benar, Pak. Tetapi kalau diizinkan saya ingin mengabdi ke desa asal saya. Ada kata petuah bijak dari tanah asal saya begini, ‘Sejauh-jauhnya merantau ke negeri orang, ingatlah untuk pulang dan membangun daerahmu sendiri.’

“Tapi ilmu yang kamu dapatkan itu belum banyak, belum cukup untuk kamu mengadi ke tempat asalmu berada. Sekarang saya tanya, apa yang membuatmu berbeda dari kandidat lain? Hal posistif yang kamu miliki, tapi tidak dimiliki peserta lain.”

Krek!
Hatiku mencelos. Tepat di saat setelah menanyakan hal itu, HP beliau berbunyi. Sambil si bapak ngobrol dengan orang yang menelponnya, aku memutar otak – memikirkan alasan.

Ting!
Persis beliau selesai bertelepon, sebuah lampu menyala di benakku.

“Jadi apa kelebihan kamu itu?”
“Hm, saya kan Pak seperti yang saya sebutkan di awal tadi, saya berasal dari Samosir Sumatera Utara, saya kuliah ke Kalimantan, begitu lulus ke Jakarta sendirian untuk mencari pekerjaan. Tanpa ada keluarga di sini. Tapi saya bisa bertahan hidup. Dibanding kandidat lain, saya pastinya punya mental yang lebih berani, lebih tahan banting.”

“Berarti siap ditempatkan di Palangka Raya, kan?”
Jawaban pertanyaan itu adalah penentu nasibku, diterima atau tidak. Begonya, aku bersikeras dan sok-sok suci ingin mengabdi kepada setan daerah asal.

“Ada yang mau ditanyakan?”
“Kalau boleh tau bapak dulu dari program *sensor* ini juga?”
“Iya dan saya memilih merantau. Dari saya cari pekerjaan, hingga menikah dan punya anak, saya di perantauan. Merantau itu membuat mental kuat. Sebab semakin banyak masalah yang dihadapi, semakin tangguh seseorang.”

“Jadi bapak tidak ada niatan kembali dan membangun kampung halaman sendiri?” tanyaku.
“Nanti,” jawabnya pendek.
Kuamati rambut beliau yang mulai memutih dan tau jawabannya.
“Berarti kita beda prinsip, Pak,” jawabku.

Perjuangan sampai di sana. Meski belum pengumuman aku sudah bisa menebak hasil akhirnya. Dua hari kemudian aku mendengar kandidat lain yang lanjut ke tahap medical check up (MCU).

 – aku TIDAK LOLOS seleksi program bergengsi bank BUMN itu. Saatnya kembali ke kantor – menawarkan stainless steel kepada pelanggan. 

Sorenya sepulang interview, sepupuku yang berada di Tangerang menelponku – dia masuk rumah sakit. Demi janggut Merlin, kenapa dia jadi beneran sakit????!!!
Sambil menyalahkan diri, aku menuju kosan, mengepak baju dan bergegas ke stasiun menuju Tangerang..
Apa ini yang dimaksud ‘perkataan adalah doa..?!



Alasan Paling Masuk Akal untuk Izin Gak Masuk Kerja (Part I)




Sebagai anak baru yang masih cengo sana-sini, tentunya sangat-sangat tidak dianjurkan untuk izin gak masuk kerja mengingat usia bergabung dengan perusahaan baru seumur amuba. Masih baru masuk gitu, tiba-tiba ngomong ke atasan, “Bu, saya besok izin gak masuk ya, ada acara keluarga.”

Bagi yang sudah menikah bisa saja alasan itu masuk akal. Tapi bagi orang yang bahkan belum punya gebetan? Alasan itu terdengar klise, tidak kuat dan meragukan.
Sekitar tiga minggu setelah masuk dan mempelajari sistem kerja di bagian marketing perusahaan pemasok stainless steel, datanglah undangan tahap LGD dari sebuah bank BUMN via e-mail. Aku bahkan gak ingat ada atau enggak kirim lamaran kerja kesitu. Saking banyaknya perusahaan yang ku-apply, tanpa jelas mengerti perusahaan apa itu, dan job desk-nya seperti apa.


LGD (Leaderless Group Discussion) adalah tahapan yang selalu ada dalam rangkaian test penerimaan karyawan BUMN dan perusahaan besar. Terakhir kali aku ikut LGD saat apply di posisi MT (Management Trainee) kontraktor batubara di Kalimantan. Hasilnya? Tentu saja tidak lolos. Membaca undangan LGD dari bank itu aku jadi mikir, ‘LGD yang topiknya benar-benar 100% jurusanku saja aku tidak bisa lolos. Apalagi yang topiknya tentang bank? Emang tentang bank kan, ya?

“Bu, saya mau izin besok,” kuberanikan ngomong sama atasanku, kusengaja datang lebih awal.

“Mau kemana?”
“Ngurus BPJS, Bu.”
Cerdas!
Urusan izin beres. Alasan itu sebenarnya kudapat detik-detik mau tidur di malam hari. Gak mungkin kan, kubilang : ‘Bu, saya mau izin, besok ada test di perusahaan lain.’
Dia tau aku baru pindah dari kalimantan. Administrasi seperti BPJS pasti harus diurus kalau pindah provinsi.

Masalah lainnya adalah peserta LGD diwajibkan ber-make-up. Dari zaman lahiriah pun aku tak pernah belajar memakai such things. Wajar sih, disuruh pakai make-up. Ini kan bank, coy. Penampilan numero uno.
Untunglah pencerahan kembali datang dari Yang Maha Kuasa. Desry, temanku yang kerja di salah satu bank swasta menawarkan diri untuk memakai peralatan make-up-nya. Ingat ya, memakai bukan dipakaikan. Aku pun nginap di kosannya.
“Ini namanya apa?” tanyaku mengangkat benda persegi yang isinya terdapat bermacam-macam warna. Udah macam pelangi.

Eye shadow.”
“Oke, bayangan mata,” kataku enteng.
Begitulah yang terjadi, Desry ber-make-up, aku pun ikutan. Tapi akibatnya fatal, orang yang belum pernah memakai make-up dilepas sendiri. Jadilah aku memakai eye-liner terlebih dahulu, baru menyapukan bayangan mata, eh eye-shadow. Hasilnya eye-liner melumer di kelopak mataku. Gagal abisss..

Satu-satunya transportasi yang akan membawaku lebih cepat ke lokasi adalah gojek. Lagi-lagi aku berharap driver-nya gak nanya, ‘lewat mana ya, kak?’ Karena kalau itu terjadi, sudahlah. Sejarah akan kembali terulang, aku ketinggalan test.

“Gedung yang mana kak? Ada dua nih, soalnya,” kata si driver. Hm, pertanyaan ini tidak terlalu sulit untuk dijawab, bila dibandingkan dengan pertanyaan ‘lewat mana,kak’.
“Saya turun di sini aja, Pak,” kataku memutuskan. Gedungnya sebelah-sebelahan kok. Kalau gak yang kanan, ya yang kiri.
Seorang satpam bertanya ada keperluan apa. Lha, pak? Menurut bapak aja, saya rapi gini mau ngapain, masa nagih tagihan? Eh bisa aja sih.

“LGD, pak.”
Setelah mendapat penjelasan arah dari si pak satpam, aku pun menuju lantai yang dimaksud sebagai tempat pertarungan hari ini. Kalau kau tanya bagaimana kondisi jantungku, cukup kukatakan aku lumayan tenang. Ya emang apalagi yang bisa kulakukan. Tak mungkin kuhafalkan jelimet-jelimet dunia perbankan dalam semalaman, bukan? Bisa-bisa aku terlambat bangun.

“Sertifikat TOEFL-nya kadaluarsa ya, mohon segera dilakukan test yang baru,” kata petugas di bagian depan meja administrasi.
Aku mengangguk dan menerima name-tag yang diberikan, masuk ke ruangan dimana terdapat para … musuh! Ralat : saingan. Oke, sekarang aku makin gugup. Mereka tinggi-tinggi, cakep-cakep. Dan bening tentu saja. Kalau pengetahuan tidak bisa diandalkan, penampilan apalagi, lalu apa yang mau kutonjolkan dalam persaingan ini? Hopeless.
Sebelum LGD, diadakan pengenalan program yang akan dijalani peserta seandainya lolos sampai tahap akhir (MCU). WAW, aku tergiur. Air liurku nyaris menetes. Buru-buru kutraik dan telan. This program is something.

-Career path (ceklis)
-Gaji dan tunjangan (ceklis)
-Kesempatan dapat beasiswa untuk program magister (ceklis)
-Kesempatan dapat suami ganteng plus tinggi (ceklis)
-Kesempatan untuk semakin cantik (ceklis)

Yang terakhir tentu saja. Pegawai bank kan, memang harus ber-MAKE-UP. Penampilan selalu nomor satu.
Kami sudah diberi tahu topik yang akan dibahas dalam LGD-nya lewat sebuah video setelah pengenalan program selesai. Guest what. Topiknya adalah..jeng..jeng..jeng… MRT!
Aku bahkan belum pernah pakai transportasi itu. Wujudnya pun belum tau gimana, bahan bakarnya apa, drivernya disebut apa, ganteng apa enggak, eh..
“Bagaimana kalian bisa menarik orang lebih banyak supaya mau menggunakan jasa MRT dan tentunya dengan produk bank *sensor*.

Aku tergabung dalam kelompok 5 yang terdiri dari 6 orang. Setelah diadakan perkenalan, tanganku keringat dingin. Ada cowok putih yang udah S2 dari London, ada yang jago bahasa Jepang dan Inggris, ada yang udah pernah kerja dll. Kami mendapat dua orang pendamping, laki-laki dan wanita usia 50-an. Si bapak mempersilahkan kami untuk menyebutkan pengalaman atau hal apa yang kita kuasai yang bisa membuat down peserta lain (baca : saingan).

“Saya pernah jadi ketua di UKM pecinta alam,” suaraku kalem.
“Bahasa Inggrisnya gimana?”tanya pendamping.
“Uhm, itu kemampuan saya biasa-biasa saja,” kataku.
Teknik pemasaran. Lagi-lagi berhubungan dengan marketing. Pengalaman tiga minggu di penjualan stainless steel tentu tidak bisa dipakai di sini. Selain karena beda wujud, juga beda calon pelanggan.

Ada ide untuk memsarkan produk bank *sensor* melalui kerja sama dengan selebgram atau youtuber terkenal. Bikin video gitu. Ada juga ide untuk pengadaan shuttle bus bagi penumpang yang rumahnya jauh dari MRT (kira-kira bank *sensor* mau gak ya bikin?). Ada juga ide untuk bikin iklan berjalan di papan reklame, tentang keuntungan menggunakan kartu produk bank *sensor*untuk transportasi MRT.

“Kalau saya punya ide, sebenarnya saya belum tau sudah ada atau belum. Begini, orang kan lebih sering ketinggalan kartu daripada HP. Nah, bagaimana kalau kartu tadi dibuat aplikasi saja, yang bisa di-download di Playstore. Setiap ingin masuk MRT, tinggal scan dari aplikasi di HP.”

Si cewek (cantik) yang jago bahasa Jepang tunjuk tangan, ingin menyela ideku.
“Menurut saya itu kurang efektif, karena untuk bisa scan barcode di HP harus ada jaringan internet. Bagaimana kalau si pelanggan kehabisan paket internet?’
Benar juga. Aku gak kepikiran tuh. Ingin kudebat, berkata : ini lebih masuk akal daripada kalau dia ketinggalan kartu. Gak ada yang mau di-scan. Tinggal minta theathring internet orang aja sih,.

Tapi itu tidak kulakukan.
“Saya ingin mengingatkan kalian, bahwa segalanya mungkin. Harus berpikiran posotif. Ide-ide kreatif seringkali muncul dari hal yang awalnya sama sekali tidak mungkin,” suara pendamping terdengar.
Aku tidak tahu dia sedang membantu ideku, maksudku mendukung ideku atau bagaimana. Tapi begitu semua sudah mengungkapkan idenya, si bapak pendamping kembali bersuara.

“Semua ide kalian bagus-bagus. Saya suka. Tapi ada satu yang paling saya suka tadi tentang pembuatan aplikasi. Itu belum ada ya, di kita. Bagus sekali.”

Hah? APAAAAA? AKU GAK SALAH DENGAR, PAK?
Bagus darimananya sih, Pak. Emang sekarang era digital aja, makanya aku kepikiran untuk bikin aplikasi tadi. Lagian, sekarang apa sih yang gak ada aplikasinya? Aplikasi untuk cukur kumis pun kayaknya bentar lagi ada. Jadi nanti tinggal arahkan layar HP anda ke kumis yang ingin dicukur. Tidak perlu pisau cukur, krim atau air.
Aku pulang dengan kondisi hati agak riang. Tidak bisa sepenuhnya riang, mengingat izin tidak masuk kerja hari ini = potong gaji. Bukannya langsung ke kosan, kuputuskan untuk kr kantor BPJS kesehatan mengurusi perpindahan faskes kartu itu.
Jadi, aku tidak berbohong kan, izin ke atasanku tidak masuk karena mau mengurus BPJS?!



Selasa, 05 November 2019

On The Job Training (OJT)



Yassh! Akhirnya aku punya meja kerja. Hahaha, meja kerja loh. Kalian tau kan, artinya apa. Artinya sekarang aku udah dapat kerjaan. Betapa hebatnya pengaruh seperangkat meja kerja itu hingga di pagi hari aku semangat bangun pagi dan berangkat dari kosan, tiba setengah jam sebelum jam kantor mulai. Padahal aku masih dalam proses OJT, sehingga sebenarnya belum benar-benar bekerja. Cuma melihat-lihat bagaimana karyawan lain bekerja, jika disuruh fotokopi ini – lakukan.

OJT itu bisa dibilang masa ospek (bedanya disini gak ada acara nyanyi rame-rame atau kirim surat cinta ke senior) – pengenalan lingkungan dan sistem kerja perusahaan. Dari awal saat interview, kepala departemen (kadept) sudah mengingatkanku bahwa posisi yang akan aku bergabung di dalamnya sangat penuh dengan tekanan, menekan pikiran tentu saja.

“Kita adalah tulang punggung perusahaan ini. Bisa kamu bayangkan betapa tidak enaknya itu? Tanggung jawab terbesar terletak di tangan kita, tangan saya. Kepala cabang hanya bisa menargetkan sekian ton untuk bulan ini, orang-orang yang pontang-panting memenuhi omset tadi adalah orang-orang di sales marketing – kita. Jika target terpenuhi akan ada reward, jika tidak terpenuhi ada punishment.”

Benar. Aku bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan stockiest dan distributor stainless steel. Butuh 5,5 tahun bagiku untuk lulus kuliah mempelajari batubara dan segala isinya, tapi ujung-ujungnya aku jualan stainless steel – bukan batubara! Padahal aku pernah bertekad apapun yang terjadi aku gak akan mau bekerja jadi sales atau marketing. But here I'm..

Sudah dua minggu aku menjalani OJT (normalnya 3 bulan) ini dan menyaksikan bagaimana orang-orang bekerja di departemen ini. Semuanya sibuk dan ‘lupa waktu’. Ketika jam makan siang tiba, departemen sales marketing memang tidak boleh makan di luar. Beli makananmu dari luar dan makan di meja kerja. Beberapa ada yang sambil menyuapkan nasi ke mulutnya sambil tetap bekerja di depan komputernya. Saat jam pulang tiba, mereka masih betah di kantor. Datang lebih awal, pulang lebih lama. Semua demi omset.

Aku ngeri sendiri membayangkan bagaimana nasibku jika sudah tiba waktunya diberikan target dan daftar customer. Bisa-bisa saat jongkok di toilet pun aku harus telponan untuk meyakinkan pelanggan supaya mau membeli stainless steel.

Padahal saat wawancara ada pertanyaan : menurutmu kamu suka pekerjaan yang ada target-target-an? Kujawab : ‘Justru itu, Bu karena ada target saya akan semakin bersemangat bekerja supaya bisa mencapainya. Apalagi kalau ada komisi dan bonusnya dan saya sedang ingin membeli sesuatu. Pasti saya akan semakin termotivasi.’

Bleh! Tak lama lagi kebohonganku terbongkar. Hahaha. Namanya juga wawancara, meski diri ini buruk tak mungkin aku jujur, bukan? Jika demikian sampai dunia ganti bahan bakar menjadi air pun aku gak bakalan dapat kerja.

Sudah dua minggu juga otakku dijejali dengan purchasing order (PO), sales quotation (SQ), sales order (SO), delivery order (DO), forum persetujuan transaksi, ACC validasi dan segala istilah-istilah dalam dunia penjualan (baca : marketing). Bisa kan, kau bayangkan seorang yang tak pernah berhubungan sama sekali dengan kertas-kertas administrasi penjualan itu kini harus belajar dari dasar. Namun demikian, begitu jam pulang kantor tiba aku langsung mengemas tas dan pulang. Padahal kadept dan jajarannya masih pada betah di depan komputer atau teleponan dengan pelanggannya. Aku satu-satunya yang tidak mengejar omset. Atau aku satu-satunya yang merdeka dari tanggung jawab tulang punggung perusahaan.

Bu Sari adalah kadept yang mood-an orangnya. Beliau sendiri mengakui. Aku diam-diam menjulukinya Dolores Umbridge II, meski beliau tak punya tongkat sihir seperti di film Harry Potter. Dua hari pertama jika mau pulang duluan, aku akan izin pamit kepada beliau. Tapi hari ketiga dan berikutnya kuputuskan untuk menunjukkan sifat asli saja. Hahaha. Bukannya begitu, tak ada artinya otakmu dipaksa berpikir jika sudah mumet. Kembalilah esok hari, ketika pikiran sudah fresh. Dengan demikian informasi yang diterima pun bisa diproses dengan lancar.

Tak kusangka aku bekerja di kantor sekarang. Di mejaku ada seperangkat meja kerja, komputer, telepon dan berkas-berkas penjualan. Hampir setiap menit ada telepon masuk. Yeah, bahkan sekarang aku ada kemajuan karena bisa meneruskan panggilan dengan nomor extension. Aku juga sudah bisa mengirim fax lho. Hahaha.

‘Selamat pagi Sut*****, dengan Magdalena ada yang bisa dibantu?
‘…..’
‘Darimana, Pak/Bu?’
‘Ditunggu.’

Sesekali cerewetan Dolores Umbridge.. uhm maksudku Bu Sari kepada jajarannya memenuhi ruangan kerja.




Hasil gambar untuk penjualan marketing

Minggu, 20 Oktober 2019

Entah Apa yang Merasuki(nya)ku


Aku gak pernah tau kalau undangan tes psikotest datang secepat ini setelah mengikuti job fair di Jakarta. Perusahaan itu bergerak dalam produksi logam dan sejenisnya. Baru tadi siang ikut job fair, sorenya dapat sms untuk besoknya ikut psikotest. Sebagai orang yang sama sekali buta arah tentang Jakarta, kutanyakan Meika, temanku yang udah duluan ke Jakarta.

Sebenarnya ada dua perusahaan yang harus kudatangi hari itu, hanya beda jam. Tapi waktunya mepet. Perusahaan advertising yang ku-apply dari indeed itu mengundang interview jam 11. Posisi yang kulamar : Manajemen Trainee (Sales and Marketing). Iya, aku tau, wajah sales itu harusnya di atas rata-rata. Tapi, ingat kata Coldplay : ‘if you never try you’ll never know.’ Lagian aku gak idealis lagi kok. Kerja apa aja deh dulu, untuk bertahan hidup dan punya pekerjaan awal sebagai pengalaman.

Kukirimkan pesan kepada beliau.

Me : Halo, selamat malam. Saya Magdalena, kemarin dapat undangan untuk wawancara posisi management trainee (sales and marketing) di **. Namun kebetulan saya belum bisa hadir pada jadwal tersebut. Apakah saya bisa diundurkan harinya jadi keesokannya?
Beliau : Ok, Jumat jam 11
Me : Terima kasih.

Malamnya segala berkas kupersiapkan. Aku tidur cepat supaya besok bisa bangun lebih awal. Jam 5 aku bangun, langsung mandi. Jam 6 lewat sedikit aku berangkat menuju halte busway. Semua berjalan lancar sesuai petunjuk Meika, mengenai busway jurusanku dan dimana aku harus turun. Ketika turun dari halte busway, aku bingung. Arah manakah Mega Glodok Kemayoran (MGK)? Apakah aku harus turun dari jembatan penyebarangan lalu ke kiri atau kanan? Seorang mas-mas yang jualan gorengan di jembatan penyebarangan busway menjadi narasumberku. Maaf mas, belum bisa beli gorenganmu.

“Naik angkot aja, Mbak. Paling 4 ribuan.”

Ahaa! Itu saran yang sangat bagus. Meika tadinya menyarankan supaya aku naik gojek dari halte aku turun menuju MGK. Tapi kalau naik gojek lumayan, 11 ribu. Kalau ada yang lebih murah kenapa enggak?

Sesuai petunjuk si Mas Gorengan, aku menyetop angkot nomor 53. Kutanya, “Bang, lewat MGK, gak?”

Sang supir tanpa ragu langsung menjawab, “Iya, lewat.”

Tadinya aku pengen duduk di depan, samping pak kusir supir, karena gak tau dimana MGK ini. Tapi niat itu kuurungkan setelah melihat paras tak ramah si supir. Aku duduk di belakang bersama penumpang lain, sambil menjalankan GPS HP-ku yang menunjukkan posisi angkot semakin mendekati MGK. Namun yang awalnya di google map itu tertera jaraknya 4 menit lagi, tiba-tiba berubah menjadi 5 menit lalu 6 menit, dan terus naik. Apakah si supir mengambil rute lain? Kulihat jam, sudah jam 8 kurang. Tesnya dimulai setengah jam lagi.

Angka jarak angkot yang kutumpangi dengan google map semakin naik terus, yang artinya kami semakin jauh dari MGK. Tapi si supir di depan menggerutu tak jelas, persis cewek lagi datang bulan. Entah apa yang terjadi di belakang sana. Ia sesekali melihat ke belakang, lalu menggerutu lagi. Nyaliku ciut untuk bertanya. Jam semakin mendekati setengah sembilan.

Angkot terjebak macet. Entah apa yang merasukiku datang mencari pekerjaan ke kota yang tiap hari macet ini. Aku frustasi, kerongkonganku kering, namun tetap tak berani menanyakan dimana tepatnya lokasi MGK kepada si supir. Soalnya ia kembali menggerutu tak jelas karena diselip motor-motor lain. Lalu tiba-tiba saja setelah bebas dari macet, supir tancap gas. Kulihat di map, kami sudah berjarak 16 menit dari sana.

BRAK!!!

Angkot yang kutumpangi menabrak pengendara motor yang memacu kendaraannya dari samping kanan. Si pengendara motor terjatuh, tetapi..

“MAKANYA LIAT LAMPU SEN MOBIL. LIAT! PAKAI MATA. UDAH DILIAT LAMPU SENNYA MAU BELOK KE KANAN, TETAP AJA MASUK DARI KANAN!”

What? Dia orang batak! Si supir maksudku. Hadeuh. Kenapa gak kepikiran. Dari sononya orang Batak memang emosinya lebih meledak-ledak dari suku lain. Ditambah kena macet di kota berpenduduk urat tegang ini membuatnya semakin komplikasi.

Orang-orang mulai berkerumun membantu mas-mas yang jatuh dari motornya itu. Mereka meneriaki si supir angkot. Ajaibnya sambil memaki balik, supir angkot kami malah melajukan angkotnya kencang tanpa ada niatan untuk minta maaf. Kulihat penumpang angkot, ekspresi mereka tegang. Kulihat map di HP, posisi kami sekarang dari MGK berjarak 30 menit. Ujian psikotest pasti sudah dimulai..

Akhirnya kuberanikan bertanya. “Bang, MGK-nya masih jauh ya?”

Kukira emosinya akan meledak lagi, tetapi ia menjawab dengan suara lembut. “Waduh, udah kelewatan. Atau kakak mau ikut nanti mutar balik lagi?”

“Yaudah deh, Bang. Berapa menit kira-kira?”
“30 menit-an lah.”

Mampus! Kalau ujiannya dimulai on time (tepat 08.30) itu artinya ujiannya udah dimulai sekarang. Tapi kalau ngaret 30 menit, aku masih sempat tiba di sana jam 9-an.

Semua penumpang sudah turun. Tinggal aku yang tersisa. Bukannya tancap gas mengantarkanku ke MGK, si supir malah memperlambat laju angkotnya, berteriak mencari penumpang sambil tangannya menghitung uang. Busyet, sampai Sponge Bob pindah rumah pun aku gak bakalan nyampe di MGK.

“Bang, aku turun di sini aja.”

Kubuka aplikasi gojek dan menyesal tiada ampun karena tidak menuruti perkataan Meika untuk langsung naik gojek dari halte tempatku turun tadi. Entah sekarang aku ada di bagian mana Jakarta ini. Kuketikkan tujuanku dan…24 k! Anj*** banget. Bukannya menghemat, kini malah merugi.
“Pak, saya sedang buru-buru. Bisa bawa motornya lebih cepat aja?”

“Biasanya lewat mana, Neng?”

Blah stadium akhir!!!
“Saya gak tau, Pak. Saya gak biasa lewat sini. Saya -”
“Memang biasa lewat mana?”
“Gak pernah, Pak (saya biasanya tiduran di kosan sambil apply loker online). Bapak kan, bisa liat di GPS gojeknya aja. Kan ditunjukin arahnya tuh.”

Seandainya di aplikasi gojek bisa memilih supir yang sudah paham arah dalam keadaan terdesak seperti sekarang. Tidak bertanya ke penumpang, ‘biasanya lewat mana, Neng?’ Sepertinya si bapak ini baru bergabung menjadi driver gojek. Dia tidak memakai jaket gojek, motornya juga tidak ada modifikasi yang bisa bikin HP menggantung di atas motor seperti driver gojek lain, sehingga bisa sambil nyetir dan liat HP. Hadeuh, aku benar-benar ..

Tanpa tau arah, si bapak gojek meluncur aja begitu. Kukira dia udah tau mau lewat mana. Tetapi tepat di lampu merah, ia bertanya ke driver sesama gojek.

“Mas, MGK ke arah mana ya?”
“Wah, mas udah kebablasan. Ini udah jauh dari MGK. Nanti dari sini aja ..bla bla.”

Entah apa yang merasukiku tidak menuruti perkataan si Meika dari awal. Di sinilah aku terperangkap dengan driver gojek yang buta arah, sama sepertiku. Kami beberapa kali berhenti bertanya ke pada orang, dimana gerangan si MGK ini berada. Kulihat jam di HP, 9.01. Seandainya ngaret 30 menit pun, ujian sudah dimulai sekarang. Padahal tadi malam aku mimpi punya bayi dan menyusuinya. Kukira artinya bakalan baik, seperti misalnya mendapat pekerjaan? Nyatanya aku mendapat driver gojek newbie yang buta arah.

Samar-samar kulihat gedung bertuliskan M-G-K. Kusipitkan mata, lalu terlihatlah ‘Mega Kemayoran’. Lho? G-nya mana? Tapi huruf di atasnya M-G-K, kenapa di bawahnya cuma ‘Mega Kemayoran’?
“Pak, Pak..Pak. stop! Kayaknya itu MGK-nya.”
“Benar itu ya?”
“Kayaknya sih. Coba kesitu aja, Pak. Mutar arah.”

Si driver gojek bertanya kepada satpam, dan si satpam mengangguk. Kulihat jam di HP, 09.26. Hebat, calon karyawan perusahaan mana yang datang 1 jam lewat dari undangan yang dikirimkan. Bahkan ini masih tes awal, sudah menunjukkan etika tidak bagus.

Kuambil uang dari dompet, yang menyebabkan dompetku langsung kosong. Aku kesal sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Jika bisa mengulang waktu ke satu setengah jam yang lalu, aku akan langsung naik gojek begitu turun dari halte busway, persis melakukan sesuai saran Meika. Kuserahkan uang itu, tanpa mengucapkan terima kasih kepada si driver gojek. Biar saja. Daripada aku kasih dia bintang 0 di aplikasi? Mending aku gak bilang terima kasih, tapi tidak dendam padanya.
Aku berhasil menemukan blok A berkat petunjuk si satpam. Tapi ini terlihat seperti ruko yang menjual peralatan bangunan?

“Permisi, Mbak. Saya dapat undangan tes psikotes hari ini, tapi waktunya sebenarnya sudah agak lewat dari yang di undangan.”

Si mbak-nya memencet telepon dan berbicara dengan seseorang. Aku memasang muka harap-harap cemas, berharap mereka melihat kegigihanku (jika mereka tau apa yang baru saja kualami untuk bisa sampai ke lokasi), terharu dan memberikan aku kesempatan kedua. Mungkin tes sendirian?

“Begini, mbak. Tes-nya sudah mulai dari sejam yang lalu. Jadi mbak-nya gak bisa ikut lagi. Mungkin nanti mbak-nya bisa di-reschedule sama HRD kami. Tunggu aja nanti, kapan pastinya belum tau.”

Re-schedule adalah kata ganti dari ‘anda tidak memenuhi kualifikasi yang perusahaan kami cari. Pulang aja sana!’ Mana ada yang seperti itu, perusahaan memberikan kesempatan kedua untuk kandidat yang telat datang ujian psikotest.

Entah apa yang merasukiku. Ku-WA perusahaan advertising yang sempat kuminta undur jadi keesokan harinya itu.
Me : Mohon maaf sekali, tetapi kalau saya tetap datang hari ini apa tidak apa-apa?
Belau : Ga pa2.

Begitu dibalasnya tidak apa-apa, aku langsung ke atm dan memesan gojek. Semoga kali ini driver-nya tidak bertanya, ‘biasanya lewat mana, Neng?’

Aku sempat gak percaya udah sampai pas gojeknya berhenti. Jangan-jangan nih driver mau nanya arah lagi sama orang lain. Tapi..

“Udah sampai, Mbak.”

APAAAA? SEDEKAT INI 17 RIBU?! Eh sudahlah, yang penting dia gak mutar-mutar Jakarta sambil nanya sesama driver gojek arah yang harus dituju.

Aku sempat kebingungan nyari kantornya. Untungnya tepat saat itu ada yang keluar dari salah satu pintu, cewek tipe-tipe jobseeker. Iya, jadi kalau jobseeker itu bisa kebaca dari pancaran matanya. Matanya itu kayak memelas, ‘beri hamba uang pekerjaan apa saja, hamba berjanji akan bekerja keras..’  Tapi, cewek tadi cakep amat busyet. Saingan gue berat nih kayaknya. 

Aku masuk dan bertanya kepada resepsionisnya (emang hotel? Pokoknya yang jaga di meja depan gitu) yang memberi form untuk diisi. Kulihat di ruangan itu ada juga cowok mirip anime yang juga sama mengisi form sepertiku. Hm, saingan nih. Tapi dia lebih menjanjikan dari segi fisik dan penampilan untuk posisi ini. Meski berkaca mata, dia tinggi, putih, rambutnya rapi dan style-nya keren. Lha aku? Apa perlu harus kujelaskan lagi bagaimana penampilan cewek yang baru kebut-kebutan mengejar jam ujian psikotest bersama driver newbie gojek sambil bertanya alamat kesana kemari terus gue malah mau bayar full meski terpaksa telat nyampe di lokasi dan berakhir tidak bisa ikut ujian??

Setelah selesai mengisi form, kami berdua dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Si cowok anime diminta memperkenalkan diri terlebih dahulu. Begitu dia bersuara, image anime-nya yang kubangun dalam pikiranku langsung hancur karena logatnya yang medok. Untung aku berhasil menahan diri untuk tidak cekikikan. Kuhapus bayangan Luffy One Piece yang tiba-tiba medok terus bilang, ‘Aku ora butuh GPS. Karo kowe, aku wis yakin kudu ning ngendi’.

Hasil interview hari itu katanya menunggu tiga hari kemudian, tidak terhitung hari Sabtu dan Minggu. Aku sih tidak berharap banyak. Cukup tau diri saja. Kulihat si cowok anime pergi ke motornya. Entah apa yang merasukiku, melihat pandangan sayunya, aku ingin melindunginya. Dunia Jakarta ini terlalu jahat untuk cowok selembut dia.





Rabu, 25 September 2019

The Naked (Nekat) Jobseeker

Bukan tanpa pertimbangan aku memutuskan untuk pindah ke ibukota, Jakarta. Setelah hampir menganggur satu tahun, setelah berjanji tidak akan meninggalkan dinding kos yang sudah kusulap dengan wajah-wajah member BTS dan menyemprotkan filox simbol 'BTS' dan 'ARMY' di dindingnya, akhirnya hari itu datang juga. Rela tak rela, suka tak suka - kepindahan ini harus terjadi. Untuk memulai sebuah kisah yang baru, seseorang harus berani meninggalkan kisah yang lama. Dalam artian bukan benar-benar melupakan, melainkan ambil pelajaran bermakna dari pengalaman lama. 

Pertama, ibukota adalah pusat bisnis. Di sana berpuluh bahkan beratus kantor berbagai jenis perusahaan berada di sana. Hampir setiap jam ada loker yang dibuka jika kita cek di aplikasi jobseeker online, seperti Jobstreet, Jobsdb dll. Hal ini sangat berkebalikan dengan loker di kota Palangka Raya. Tiap hari mungkin ada satu loker yang tampil di web-nya. Bayangkan satu loker diperebutkan berpuluh-puluh orang di sini. 

Peluang loker di Jakarta tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang mentalnya kuat, punya prinsip dan tentu membawa dampak positif bagi perusahaan. Namun perlu diketahui jika semua orang berpikiran sepertiku, artinya persaingan dalam mendapatkan pekerjaan juga sangat ketat. Apalagi aku adalah orang yang tak punya siapa-siapa sebagai orang dalam yang bisa kuharapkan untuk membantuku diterima bekerja di sebuah perusahaan. 

Kedua, Jakarta adalah kota dimana kau bisa menemukan apa saja yang kau cari. Aku bercita-cita menjadi penulis, artinya aku semakin dekat dengan impianku karena di sana banyak sekali perusahaan yang merupakan penerbit buku berbagai genre. Salah satu incaranku adalah Penerbit Gagasmedia yang menerbitkan novel komedi sejenis pelit (personal literatur). Aku tau mungkin ini pemikiran agak dangkal. Pindah ke Jakarta supaya lebih dekat dengan penerbit, padahal sekarang para penulis karyanya gak mesti diterbitkan dan menjadi buku fisik kok. Banyak penulis yang karyanya dipublikasikan di dunia maya, online. Karena banyak yag baca, kemudian diterbitkan dan jadilah wujud buku. Tapi jangan salahkan pola pikirku ini. Beda kepala, beda pemikiran. Mungkin aku tipe orangnya kebalikannya, diterbitkan dulu baru dibaca banyak orang (bestseller). 

Ketiga, keyakinan bahwa semakin besar masalah yang kau hadapi, semakin banyak jenis orang yang kau temui, semakin kompleks tempat tinggalmu, akan melatihmu menjadi pribadi yang tangguh, kritis dan semakin kebal menjalani kenyataan hidup. Kau tau, aku berangkat ke Jakarta bermodalkan uang pinjaman untuk membeli tiket pesawat. Aku bahkan belum tau nanti tinggal dimana (biaya kos disana pasti selangiiittt). Sementara ini, kurencanakan numpang di sekre WALHI karena dari bandara aku bakalan nyampe malam jam 20.10 Sabtu, 28 September 2019 nanti. 

Modalku untuk bertahan hidup di kota metropolitan itu hanya dua buah celengan kaleng yang dulunya uang di dalamnya kutabung untuk membeli tiket konser BTS jika suatu hari di 2019 atau setelahnya mereka kembali mengadakan konser di Indonesia. Isinya? Hm, kuisi dengan uang dua ribuan, kadang sepuluh ribuan. Tak pernah dengan uang 100 ribu. Iya, I know lagi-lagi BTS. Aku benar-benar belum dewasa karena belum bisa lepas dari bayang-bayang ketujuh pria tampan itu. Tapi jangan salah, merekalah yang memotivasiku untuk tetap semangat berusaha mewujudkan impian. Ya, tujuh orang itu dari agensi tak terkenal menjadi seterkenal sekarang.  

Aku tidak bisa membawa semua barang-barangku setelah 6 tahun hidup di pulau, err kota ini. Banyak yang kutinggalkan termasuk novel-novelku sekardus besar, peralatan masak dan makan, sepatu-sepatu, gitar, bantal dan sekardus besar baju. Inilah resiko kuliah jauh di luar pulau. Dalam kasusku ini aku dua kali luar pulau, karena Sumatera dan Kalimantan dipisahkan oleh pulau Jawa. Satu-satunya yang mungkin bisa kubawa untuk kutenteng di dalam pesawat bersamaku (mengingat pesawat garuda hanya gratis 20 kg bagasi) hanyalah rice cooker kecil merk miyako yang sudah setia menemaniku kurang lebih 5 tahun ini. Mungkin di dalam kardusnya nanti bisa kuselipkan satu piring, cangkir dan sendok. Di Jakarta nanti bisalah beli beras, terus rebus telur. Menu makan sampai dapat pekerjaan. 

Menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru. Rasanya seolah jadi mahasiswa baru lagi. Kuharap bisa secepatnya menemukan pekerjaan dan punya penghasilan sendiri. Sekeras apakah kota metropolitan itu?

Tunggu kisahnya di tulisan selanjutnya ...

The Naked Jobseeker













Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...