Meski
saat LGD kemarin pendampingnya bilang menyukai ideku, aku tidak berharap banyak
bisa lanjut ke tahap tes berikutnya. Itulah kenapa aku kembali kelimpungan
mencari alasan izin gak masuk kerja ke atasanku begitu menerima e-mail undangan
interview user di markas besar bank BUMN tersebut. Aku benar-benar
stres karena alasan BPJS tentu tidak bisa kuandalkan dua kali.
Namun
seperti kalimat bijak kepsek sekolah sihir Hogwarts, ‘bantuan akan selalu
diberikan kepada mereka yang mengharapkan’, aku kembali mendapat ide (kurang
kreatif tetapi bernilai kemanusiaan tinggi). Alasan itu : menjaga sepupu di rumah
sakit.
“Oalah.
Kamu itu baru masuk, masa sudah dua kali izin?” begitu kata atasanku.
“Iya,
Bu. Saya juga berat untuk izin, tapi dia sepupu saya yang tidak punya kerabat
lain di sini selain saya. Mohon di-acc ya, Bu?”
Jelas
aku terdengar lebih kepada memaksa daripada memohon izin. Tapi ajaibnya beliau setuju,
dengan syarat aku harus lebih cepat mempelajari sistem kerja di bagian
marketing ini.
“Kamu
bulan depan sudah meng-handle customer sendiri. Dan itu tidak
mudah, Lena.”
Ya, kuharap bulan depan aku sudah angkat kaki dan
bergabung dengan BUMN itu,-
Interview. Hm, ini sudah interview
yang keberapa ya, yang kuhadapi sebagai jobseeker. Pertanyaan-pertanyaan
yang akan ditanyakan sudah bisa kutebak, cara menjawabnya pun sudah kucoba
untuk diingat-ingat. Malamnya aku tidak numpang di kosan Desry, kuputuskan
menggunakan bedak dan lipstik saja.
Aku
naik KRL ke gedung dimana tempat interview-nya akan berlangsung. Wah, lingkungan
sekitar kantornya memang khusus kantor-kantor perusahaan. Orang-orang berpakaian
sangat rapi dan terlihat berkarisma. Yang laki-laki tinggi menjulang. Yang wanitanya
cantik gemulai. Penampilan mereka semua mewah. Daerah ini sangat elit. Kurasa harga
air mineral pun dipatok 20 ribu segelas di sini. Aku jadi takut haus.
Masuk
ke lantai dan ruangan yang sudah disebutkan di undangan e-mail. Di sana
kudapati si cewek yang sempat mendebat ideku saat LGD tempo hari sudah duduk
manis dengan setelan blazer-nya yang berwarna krem. Rambutnya dibiarkan
terurai. Dia memang cantik sih. Kalau sempat dia gak keterima dalam program
ini, aku rasa recruiter perlu periksa mata ke dokter.
“Hey,
sudah lama?” sapaku.
“Eh,
belum kok,” katanya. “Tadi dikasih surat pernyataan ini,” dia menunjukkan kertas
yang sudah bermaterai dan ditandatanganinya.
Kubaca
poin-poin dalam surat pernyataan itu. Ada poin yang seolah-olah mengatakan
bahwa kami sudah pasti diterima meski belum interview dengan user hari
itu. Poin seperti : Tidak akan menikah selama program berlangsung. Entahlah, mungkin
aku yang terlalu bego memaknai poin itu.
Satu
per satu peserta berdatangan dan semakin banyak. Bahkan satu kelompok LGD-ku
kemarin sepertinya lolos semua. Aku mulai meragukan kesimpulanku soal surat
pernyataan itu. Tidak mungkin kami semua diterima!
Tibalah
giliranku untuk interview. Kumasuki ruangan itu dengan jantung
bergemuruh. Ini adalah interview paling besar, penting dan berdebar yang
pernah kuhadapi. User bank BUMN,..
“Halo, selamat siang, silahkan duduk.”
TENG! BELIAU SATU RAS-KU..!
“Terima kasih, Pak.”
“Bisa diperkenalkan diri dan aktivitasnya saat di kampus
atau pengalaman kerja mungkin.”
Aku mulai menjabarkan panjang lebar siapa diri ini dengan
sejujurnya. Beliau hanya memandangi ijazahku dengan kacamatanya yang
dinaik-turunkan.
“Skripsinya dulu tentang apa?”
*-Answer*
“Nilainya apa?”
*Answer*
“Loh kenapa begitu? Memang pengerjaan skripsinya
bagaimana prosesnya?”
“Saya menganalisis data-data yang saya dapatkan dengan
metode x, lalu saya tarik kesimpulan apa yang akan terjadi terhadap objek
penelitian saya, Pak.”
“Oh, begitu saja? Simpel ya.”
“Saya sengaja ambil judul yang tidak rumit, Pak,
mengingat proses pencarian perusahaan tempat penelitiannya sudah lama, saya
tidak ingin proses pengerjaan skripsinya juga butuh waktu yang lama. Jadi saya
ambil yang sederhana.”
(Aku merasa bukan sedang
interview dengan salah satu bank BUMN, tapi interview beasiswa magister)
“Dimana prioritas daerah penempatan pilihanmu?”
Sebelum menjawab aku tersenyum.
“Kalau boleh, Pak di Samosir.”
Beliau tertawa.
“Kita lagi butuh orang di Palangka Raya. Kamu dulu kuliah
di sana, kan?”
“Benar, Pak. Tetapi kalau diizinkan saya ingin mengabdi
ke desa asal saya. Ada kata petuah bijak dari tanah asal saya begini, ‘Sejauh-jauhnya
merantau ke negeri orang, ingatlah untuk pulang dan membangun daerahmu sendiri.’
“Tapi ilmu yang kamu dapatkan itu belum banyak, belum
cukup untuk kamu mengadi ke tempat asalmu berada. Sekarang saya tanya, apa yang
membuatmu berbeda dari kandidat lain? Hal posistif yang kamu miliki, tapi tidak
dimiliki peserta lain.”
Krek!
Hatiku mencelos. Tepat di saat setelah menanyakan hal
itu, HP beliau berbunyi. Sambil si bapak ngobrol dengan orang yang menelponnya,
aku memutar otak – memikirkan alasan.
Ting!
Persis beliau selesai bertelepon, sebuah lampu menyala di
benakku.
“Jadi apa kelebihan kamu itu?”
“Hm, saya kan Pak seperti yang saya sebutkan di awal
tadi, saya berasal dari Samosir Sumatera Utara, saya kuliah ke Kalimantan,
begitu lulus ke Jakarta sendirian untuk mencari pekerjaan. Tanpa ada keluarga
di sini. Tapi saya bisa bertahan hidup. Dibanding kandidat lain, saya pastinya punya
mental yang lebih berani, lebih tahan banting.”
“Berarti siap ditempatkan di Palangka Raya, kan?”
Jawaban pertanyaan itu adalah penentu nasibku, diterima
atau tidak. Begonya, aku bersikeras dan sok-sok suci ingin mengabdi kepada setan
daerah asal.
“Ada yang mau ditanyakan?”
“Kalau boleh tau bapak dulu dari program *sensor* ini
juga?”
“Iya dan saya memilih merantau. Dari saya cari pekerjaan,
hingga menikah dan punya anak, saya di perantauan. Merantau itu membuat mental
kuat. Sebab semakin banyak masalah yang dihadapi, semakin tangguh seseorang.”
“Jadi bapak tidak ada niatan kembali dan membangun kampung
halaman sendiri?” tanyaku.
“Nanti,” jawabnya pendek.
Kuamati rambut beliau yang mulai memutih dan tau jawabannya.
“Berarti kita beda prinsip, Pak,” jawabku.
Perjuangan sampai di sana. Meski belum pengumuman aku
sudah bisa menebak hasil akhirnya. Dua hari kemudian aku mendengar kandidat
lain yang lanjut ke tahap medical check up (MCU).
– aku TIDAK LOLOS seleksi program bergengsi bank BUMN itu. Saatnya kembali ke kantor – menawarkan stainless
steel kepada pelanggan.
Sorenya sepulang interview, sepupuku yang berada di
Tangerang menelponku – dia masuk rumah sakit. Demi janggut Merlin, kenapa dia jadi
beneran sakit????!!!
Sambil menyalahkan diri, aku menuju kosan, mengepak baju
dan bergegas ke stasiun menuju Tangerang..
Apa ini yang dimaksud ‘perkataan adalah doa..?!

