Sabtu, 06 April 2024

A Man Called Sahat

Rasanya waktu berjalan begitu cepat.

Tahun ini aku akan berusia 29 tahun. Dan siapa sangka aku bisa bertahan di pekerjaan sekarang selama 2 tahun 4 bulan. Saat hari pertama bekerja kukira aku akan bertahan hanya dua hari saja. Hahahah.

Teman-teman sebaya sudah banyak yang menikah. Ada yang anaknya sudah masuk SD. Waw. Itu tadi kubilang, waktu rasanya berjalan begitu cepat. Cuma aku yang ketinggalan.

But it’s fine. Waktu semua orang berbeda-beda. Yang penting isi hidupmu dengan hal-hal bermanfaat. Naik gunung misalnya. Hahah. Oh yeah, itu sangat bermanfaat. Setidaknya untukku. Karena sepulang dari gunung, seseorang datang kehidupku. Ceile.

His name Sahat. Itu adalah nama orang batak kebanyakan. Yang artinya sampai. Kami ketemu saat ikut open trip pendakian Gunung Sindoro. Sebenarnya kami dari open trip yang berbeda. Tapi saat itu jadi digabungin. Dan tentu saja dia yang dekatin duluan.

Aku masih ingat saat itu pagi hari jam 8.30 saat baru tiba di basecamp setelah semalaman pegal di bus ukuran tanggung. Kalau gak salah tanggal 29 Juni atau 30? Pertama kali jumpa. Tim dia dan tim kami sedang bersiap-siap untuk memulai pendakian. Aku yang habis cuci muka pergi ke luar ingin menghirup udara segar. Disana dia lagi beres-beresin barang.

Waktu itu aku ngomong sendirian, “Wah, udaranya segarrrr. Beda banget sama BSD.”

Dan ternyata dia juga tinggal di BSD.

“Dimana di BSD?”

“Hah? Oh di itu, em serpong.”

“Aku juga tinggal di BSD.”

“Abang halak kita? Marga apa abang?”

“Aritonang.”

“Aku boru Nainggolan.”

“Asal darimana?”

“Samosir.”

“Kalau abang?”

“Aku Pekanbaru.”

Dan setelah semua selesai siap-siap, pendakian pun dimulai. Dan ini adalah pendakianku lagi sejak tahun 2016. Jadi bisa dibilang aku gak begitu lihai dalam menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan buat menanjak. Misalnya saja trekking pole. Aku tak bawa. Padahal semua orang di rombongan aku punya pakai itu. Termasuk dia.

“Nih, pake punyaku aja,” dia menyodorkan trekking pole-nya.

“Serius? Gak apa-apa nih, Bang?”

Akhirnya kami sampai di puncak Sindoro tanggal 01 Juli. Saat di tenda sebelum turun ke basecamp, dia minta nomor WA-ku. Dan semua berjalan kurang lebih dua bulan sebelum kami resmi pacaran tanggal 08 September. Dia nembak di kosku abis kami balik dari kfc.

Dan memang tidak romantic saat itu. Wkwkwk. Tak ada bunga atau boneka kayak di drakor-drakor. Realita memang tak seindah drakor ya.

Sejauh ini aku bahagia sama dia. Cowok yang sensitif hatinya. Mungkin karena dia anak bungsu? Tapi dia lebih dewasa dari aku. Padahal usiaku setahun lebih tua. Emang betul ya, usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Dia suka nonton anime, gampang keringetan, suka yang manis-manis. Akhir-akhir ini aku juga jadi kecanduan anime, tapi baru satu judul sih, Demon Slayer. Itu gara-gara dia.

Dan juga perokok. Mungkin terkesan melarang-larang, tapi aku udah bilang dia buat kurangin rokoknya. Ya setidaknya 3 batang sehari. Ini kan demi kebaikan dia juga.

Kami memang baru bersama selama hm, 7 bulan kurang 2 hari. Udah pernah ribut gara-gara beberapa hal. Tapi kurasa itu manusiawi dalam sebuah hubungan. Gak ada yang selamanya adem ayem kan? Harus ada bumbu-bumbunya.

Well, Dear Sahat yang kujumpai karena Gunung Sindoro. Terima kasih sudah datang ke dalam hidupku. Dan maaf apabila kelakuanku sering di luar nurul ya sayang. Hahaha. Kamu harus kuat dengan keajaibanku.

I love u.

   


   

Rabu, 06 Maret 2024

Malam ini aku nangis lagi. Selalu kulakukan diam-diam supaya gak ada yang tau. Aku bukannya rapuh atau cengeng. Hanya saja dengan menangis aku bisa lebih 'manusia'. Bukannya aku monster, vampir, iblis atau pun makhluk abadi lainnya. Aku menagis biar lebih.. Gitu deh. Gimana ya jelasinnya..

Sehari-hari aku bekerja sebagai call center, dituntut harus ceria, smiling voice. Itu sih gampang. Aku pintar berpura-pura. Bahkan status medsos-ku (kalau lagi pengen upload sesuatu) selalu cerita senang, bahagia, lucu. Biar orang-orang mengira hidupku selalu baik-baik saja. Entah ini penyakit atau kelainan. Aku pengen orang iri denganku. Padahal aku gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. 

Hahahah.

Udara malam ini sejuk. Sambil memandangi langit, air mataku bercucuran. Untung tetanggaku semuanya udah pada tutup pintu. Jadi aku bisa keluar kamar untuk menangis sambil menghirup udara malam. Kos seberang sebenarnya sedang ramai. Kayaknya mereka lagi masang wifi. Untungnya gelap, mereka pasti gak bisa melihat ke arahku. 

Kalau sedang menangis, aku bisa mengingat semua hal menyedihkan yang pernah terjadi. Itu yang bikin air mataku mengalir deras mengalahkan air terjun kurasa. Aku tau ini salah. Merasa aku jadi orang paling tidak beruntung sedunia. Meratapi nasib. Tidak mensyukuri yang sudah kumiliki saat ini. Tapi biar bagaimanapun aku manusia. Manusia itu susah bersyukur. 

Ketika sedang menangis, aku berharap punya rokok atau alkohol yang bisa menemaniku. Sebenarnya bisa kubeli dengan mudahnya. Rokok tinggal beli di warung. Alkohol pesan di gofood atau grabfood. Tapi aku takut mati. Hah, konyol sekali bukan.

Jujur, aku gak mau mati cepat. Masih banyak hal di dunia ini yang belum kulakukan, kurasakan, kunikmati. Kata orang, apa yang kita masukkan ke dalam tubuh, itu juga respon yang akan diberikan tubuh. Ketika merokok, kamu sudah mencemari alat pernafasanmu. Maka perlahan-lahan alat pernafasanmu akan memberikan respon buruk. 

Lagian kayaknya susah deh nangis-nangis sambil merokok. Ya gak sih? Apalagi nangis sambil minum alkohol. Bisa-bisa tersedak, alkoholnya masuk hidung. Ih, perih! 

Tapi aku orang yang mudah berubah mood-nya kok. Tenang aja. Mood swing ini kayaknya sejalan dengan ke-plin plan-an ku dalam mengerjakan sesuatu. Misalnya menulis. Aku pernah berjanji bakalan menerbitkan bukuku sebelum usia 30 tahun. Apa yang terjadi setelah janji itu? Aku malas menulis. Padahal tahun ini aku udah 29 tahun. 

Itu baru soal menulis. Stan up comedy juga sama. Aku pernah belajar dan pengen jadi stand up comedy-an yang bisa ngoceh-ngoceh (lucu) di panggung soal cerita hidupnya atau orang lain tapi dibayar. Betapa menggiurkannya bisa menghasilkan uang dengan cara begitu. Aku hanya harus berani tampil di hadapan banyak orang dan punya teknik serta materi yang bagus. Aku sampai ikut kursus stand up comedy berbayar seharga 1 juta. Tapi gara-gara cutiku gak di acc, aku pun cuma bisa lihat tanyangan ulang di Youtube. Padahal seharusnya kursusnya offline.

Lah. kok aku malah cerita hal lain. Padahal tadi cuma mau cerita kalau malam ini aku menangis lagi, eh malah ngelantur kemana-mana.

Apapun itu, berbicara memang lebih mudah dari melakukan ya. Banyak video-video motivasi hidup yang kutonton dan kusimpan. Begitu merasa down, kutonton ulang. Tapi sering tak memberikan dampak besar. 


Regards,


CCO yang sedang sedih malam ini



#baladacco 

  

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...