Aku udah bilang belum, kalau
saking frustasinya nyari kerjaan aku memutuskan untuk apply lamaran
ke semua loker yang tersedia? Kayaknya udah ya. Kali ini loker yang kurang
beruntung ku-apply itu adalah salah satu pusat bimbingan belajar
(bimbel) untuk siswa yang mau mempersiapkan diri menyongsong SPMB STAN. Tau
STAN, kan? Itu loh yang buat dipegang pas bawa motor, oh bukan. Ah iya ituloh,
yang kalau rok cewek belakangnya ada belahannya. Oh bukan? Oke, serius. STAN.
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Orang-orang yang lulus dari sana jelas
karirnya akan kemana. Tinggi gajinya. Enak hidupnya. Wajar masuk ke sekolah itu
susah.
Waktu masih di
bangku SMA, aku sering dengar STAN disebut-sebut oleh guru kami. Beberapa siswa
yang sering juara kelas juga menyebutnya beberapa kali. Kepala sekolah juga
pernah. Tak sembarang orang yang menyebut kata STAN pada waktu itu. Pola pikir
yang terbentuk di benak pada saat itu adalah masuk STAN itu setara dengan
susahnya kayang sambil main gitar. Susah, tapi bukannya tak mungkin. Tapi
memang susah, tapi bukannya gak mungkin. Tapi ya.. sudahlah. Pada masaku SMA
hanya ada satu orang teman yang tembus ke sekolah ikatan dinas bergengsi itu.
Dialah si juara umum dari kelas 10 hingga kelas 12, si cerdas yang sering ikut
olimpiade nasional, Imelda Agnes Rumahorbo. Sekarang dia,. jelaslah sudah
bekerja dengan ikatan dinas itu.
Barang siapa yang
ingin ikut SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru) STAN dia harus punya
kemampuan analisis yang kuat dalam memecahkan soal. Sebab soal-soal yang
diujikan memang bukan sembarang soal. Untukku itu cukup membuat mimisan,
baru melihat soalnya saja. Namun jika diperhatikan lagi, ternyata ada cara-cara
cerdik untuk menyelesaikan soal-soal tersebut hanya dalam beberapa detik, tanpa
panjang lebar. Calon mahasiswa STAN pasti tau itu, apalagi kalau ikut bimbingan
di tempat bimbel khusus persiapan masuk STAN.
PT E** (aku cari
kepanjangan E** enggak ketemu) adalah salah satu pusat bimbel khusus STAN. Di
iklan lokernya tertera di sana posisi yang dicari : Academic Marketing.
Sebagai jobseeker yang haus akan
darah, eh info loker, aku pun apply
di posisi tersebut via link yang
disediakan. Tentu aku sudah membaca kualifikasi yang dibutuhkan (memenuhi dari
segi umur saja) dan paham marketing
itu tugasnya ngapain. Selang empat hari kemudian sebuah nomor baru masuk. Aku
diundang untuk ikut test. Setelah mereka menelpon, masuk juga sebuah e-mail
berisikan informasi waktu dan tempat test-nya diadakan. Di sana tertera
keperluan : tes tertulis, microteaching
dan wawancara.
Keesokan harinya
ada test, malamnya sibuk googling microteaching itu ngapain sih wujudnya.
Kalau tes tertulis ya, paling pilihan berganda a,b,c,d. Kalau enggak ya
a,b,c,d,e. Untuk wawancara juga paling seputar memperkenalkan diri dan alasan
apply. Aku pun fokus dengan microteaching.
Eh, bentar. Kok ada tes
tertulis buat posisi marketing? Aku
kan, gak lamar jadi tutor. Mungkin tes
perhitungan biasa kali ya, atau tes psikotes.
Keesokan harinya aku tiba di
lokasi test tepat seperti jam di undangan. Pusat bimbel E** cabang kota ini
agak masuk ke jalan gang. Masuk ke gedungnya, aku bertemu dengan cewek agak
gendut berkacamata dan dipersilahkan masuk sebuah ruangan. Sepi. Hanya ada aku,
meja dan kursi. Apakah yang lain menyerah sebelum perang?
Ternyata..oh ternyata.
Soal seleksi
tertulisnya adalah soal-soal TPA sekelas seleksi masuk STAN dengan kadar
kesulitan yang bikin otakku luntur di tempat. Jelas, karena aku tak pernah SAMA
SEKALI punya keinginan masuk STAN sehingga TAK PERNAH bersinggungandengan
soal-soal mereka. Never Ever !!!
"Silahkan
dikerjakan dulu ya, waktunya 30 menit nanti saya kembali lagi."
"Bisa minta
kertas buat coret-coret, Mbak? Ah, sebelumnya saya mau tanya. Saya kan, lamar
posisi Academic Marketing bukan
tutor. Saya ikut ngerjain soal tertulis ini juga?"
“Loh Mbak-nya tidak baca ya, di
info e-mail kan disebutkan kalau posisi Academic Marketing ini merangkap tutor
TPA juga?”
Ingin kubalas lagi dengan ‘Loh’,
tapi yasudahlah. Mari mengerjakan soal.
Si Mbak-nya pergi meninggalkan
aku dengan keheningan dan kehampaan yang langsung menjerat. Sungguh. Di soal
pertama saja aku langsung di hadapkan dengan sinonim dari kata yang seumur
hidup tak pernah kudengar. Entah sengaja terdengar pun tidak pernah. Atau
sengaja terbaca di petunjuk jalan atau tiang listrik juga tidak pernah. Soal
sinonim dan antonim kata sampai nomor 4, semua kata yang tidak pernah kudengar.
Kata-kata itu terasa asing di mata ini...
RENJANA =
TAFAHUS =
VASAL X
FARAK X
Renjana samar-samar
kayaknya pernah kudengar dalam sebuah lirik lagu, 'bila malam, malam minggu
tiba. Anak muda mengadu rencana.. wakunca ohooo..wakunca...'
Itukah? Kebetulan
ada di salah satu option.
Tafahus? Kalau
tafakur aku (mungkin) pernah dengar.
Vasal? Kalau pasal
aku tau. Artinya sebab, lantaran.
Farak? Sama sekali
baru dengar!
Setelah mengamati
ruangan itu yang ternyata tidak ber-CCTV, aku memutuskan membuka kamus KBBI
dari HP. Maafkan kecurangan ini,..
Hanya dalam waktu
kurang dari dua menit, keempat soal itu beres. Lanjut ke soal berikutnya..
Oh BIG NO..
Soal matematika
serumit itu mereka sebut TPA? Tes Potensi Akademik? Tak bisa kubayangkan
serumit apalagi soal hidangan utamanya.
Aku menyerah.
Dengan waktu yang sedikit, dan pemahaman yang sangat sangat sangat super
terbatas aku hanya bisa menjawab benar-benar soal perpangkatan dan luas
persegi. Jadi total soal yang benar-benar murni bisa kujawab dari 30 soal itu
adalah... 2 soal!
Ketika si mbak-nya
kembali, dengan berat hati (karena malu kebodohan tiada tara ini akan
terungkap) kuserahkan kertas jawaban. Setidaknya skor-nya tidak akan bernilai
minus, karena jawaban salah diberi nilai 0. Yap, memang 24 soal lagi kujawab
dengan menuliskan asal acak option a,b,c,d.
Tahap selanjutnya
adalah micro teaching di hadapan
manager cabang. Ini sama sekali berbeda dengan mengajari adekmu di rumah
soal-soal perkalian atau pecahan. Ada pembuka, metode mengajar dan penutup.
Kini kupaham jadi guru itu bukan perkara mudah. Kuambil satu soal dari yang
benar-benar bisa kukerjakan tadi dan menuliskannya di white board sambil mengoceh seperti sedang menerangkan.Namun di
tengah-tengah pengerjaan aku malah kebingungan sendiri karena hasil akhirnya
beda dengan yang kudapat tadi. Kini hasil akhirnya tidak ada di option a, b, c atau d. Kutermenung
sejenak dengan posisi mengamati tahap pengerjaan yang sudah kutulis, lalu
berkata : 'maaf, ini seharusnya begini..bla..bla..bla..
Tahap wawancara
kurasa tidak perlu dilanjutkan lagi jika sang manager sudah melihat caraku
mengajar tadi. Aku jelas sudah tereliminasi..
Masa sekelas orang ini mengajar calon-calon penerus STAN? Big No, get out! Begitu mungkin pikirnya. Mungkin
untuk nambah kerjaan dia saja, wawancara empat mata itu pun tetap berlangsung
dengan tak mulus. Aku yang masih dibayang-bayangi kebegoan sendiri saat praktik
micro teaching tadi masih belum bisa move on. Jawaban atas pertanyaan
wawancara pun kujawab dengan tersendat-sendat. Fokusku telah meninggalkan
tuannya.
“Ada yang ingin ditanyakan?”
tanyanya di akhir sesi.
“Ah iya, saya ingin klarifikasi
saja, Bu. Untuk posisi ini benar ya merangkap sebagai tutor TPA nantinya?”
“Iya benar sekali, karena
takutnya nanti kalau ada tutor utama yang berhalangan hadir bisa digantikan dengan
tutor TPA dari academic marketing. Anda
tidak baca dengan teliti ya?”
“…”
Aku sudah tau gak
bakalan berhasil melewati tahap test itu. Jelas sekali. Tapi rasanya tetap saja
nyesek saat e-mail resmi dikirimkan
dan mengatakan 'anda belum memenuhi kualifikasi yang kami cari'.

