Sabtu, 27 Juli 2019

Pikirkanlah Ini Sebelum Apply di Bimbel STAN

Aku udah bilang belum, kalau saking frustasinya nyari kerjaan aku memutuskan untuk apply lamaran ke semua loker yang tersedia? Kayaknya udah ya. Kali ini loker yang kurang beruntung ku-apply itu adalah salah satu pusat bimbingan belajar (bimbel) untuk siswa yang mau mempersiapkan diri menyongsong SPMB STAN. Tau STAN, kan? Itu loh yang buat dipegang pas bawa motor, oh bukan. Ah iya ituloh, yang kalau rok cewek belakangnya ada belahannya. Oh bukan? Oke, serius. STAN. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Orang-orang yang lulus dari sana jelas karirnya akan kemana. Tinggi gajinya. Enak hidupnya. Wajar masuk ke sekolah itu susah.

Waktu masih di bangku SMA, aku sering dengar STAN disebut-sebut oleh guru kami. Beberapa siswa yang sering juara kelas juga menyebutnya beberapa kali. Kepala sekolah juga pernah. Tak sembarang orang yang menyebut kata STAN pada waktu itu. Pola pikir yang terbentuk di benak pada saat itu adalah masuk STAN itu setara dengan susahnya kayang sambil main gitar. Susah, tapi bukannya tak mungkin. Tapi memang susah, tapi bukannya gak mungkin. Tapi ya.. sudahlah. Pada masaku SMA hanya ada satu orang teman yang tembus ke sekolah ikatan dinas bergengsi itu. Dialah si juara umum dari kelas 10 hingga kelas 12, si cerdas yang sering ikut olimpiade nasional, Imelda Agnes Rumahorbo. Sekarang dia,. jelaslah sudah bekerja dengan ikatan dinas itu. 

Barang siapa yang ingin ikut SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru) STAN dia harus punya kemampuan analisis yang kuat dalam memecahkan soal. Sebab soal-soal yang diujikan memang  bukan sembarang soal. Untukku itu cukup membuat mimisan, baru melihat soalnya saja. Namun jika diperhatikan lagi, ternyata ada cara-cara cerdik untuk menyelesaikan soal-soal tersebut hanya dalam beberapa detik, tanpa panjang lebar. Calon mahasiswa STAN pasti tau itu, apalagi kalau ikut bimbingan di tempat bimbel khusus persiapan masuk STAN. 

PT E** (aku cari kepanjangan E** enggak ketemu) adalah salah satu pusat bimbel khusus STAN. Di iklan lokernya tertera di sana posisi yang dicari : Academic Marketing. Sebagai jobseeker yang haus akan darah, eh info loker, aku pun apply di posisi tersebut via link yang disediakan. Tentu aku sudah membaca kualifikasi yang dibutuhkan (memenuhi dari segi umur saja) dan paham marketing itu tugasnya ngapain. Selang empat hari kemudian sebuah nomor baru masuk. Aku diundang untuk ikut test. Setelah mereka menelpon, masuk juga sebuah e-mail berisikan informasi waktu dan tempat test-nya diadakan. Di sana tertera keperluan : tes tertulis, microteaching dan wawancara.

Keesokan harinya ada test, malamnya sibuk googling microteaching itu ngapain sih wujudnya. Kalau tes tertulis ya, paling pilihan berganda a,b,c,d. Kalau enggak ya a,b,c,d,e. Untuk wawancara juga paling seputar memperkenalkan diri dan alasan apply. Aku pun fokus dengan microteaching
Eh, bentar. Kok ada tes tertulis buat posisi marketing? Aku kan, gak lamar jadi tutor.  Mungkin tes perhitungan biasa kali ya, atau tes psikotes.
Keesokan harinya aku tiba di lokasi test tepat seperti jam di undangan. Pusat bimbel E** cabang kota ini agak masuk ke jalan gang. Masuk ke gedungnya, aku bertemu dengan cewek agak gendut berkacamata dan dipersilahkan masuk sebuah ruangan. Sepi. Hanya ada aku, meja dan kursi. Apakah yang lain menyerah sebelum perang?

Ternyata..oh ternyata.

Soal seleksi tertulisnya adalah soal-soal TPA sekelas seleksi masuk STAN dengan kadar kesulitan yang bikin otakku luntur di tempat. Jelas, karena aku tak pernah SAMA SEKALI punya keinginan masuk STAN sehingga TAK PERNAH bersinggungandengan soal-soal mereka. Never Ever !!!

"Silahkan dikerjakan dulu ya, waktunya 30 menit nanti saya kembali lagi."

"Bisa minta kertas buat coret-coret, Mbak? Ah, sebelumnya saya mau tanya. Saya kan, lamar posisi Academic Marketing bukan tutor. Saya ikut ngerjain soal tertulis ini juga?"
“Loh Mbak-nya tidak baca ya, di info e-mail kan disebutkan kalau posisi Academic Marketing ini merangkap tutor TPA juga?”
Ingin kubalas lagi dengan ‘Loh’, tapi yasudahlah. Mari mengerjakan soal.
Si Mbak-nya pergi meninggalkan aku dengan keheningan dan kehampaan yang langsung menjerat. Sungguh. Di soal pertama saja aku langsung di hadapkan dengan sinonim dari kata yang seumur hidup tak pernah kudengar. Entah sengaja terdengar pun tidak pernah. Atau sengaja terbaca di petunjuk jalan atau tiang listrik juga tidak pernah. Soal sinonim dan antonim kata sampai nomor 4, semua kata yang tidak pernah kudengar. Kata-kata itu terasa asing di mata ini...

RENJANA =

TAFAHUS =

VASAL X

FARAK X


Renjana samar-samar kayaknya pernah kudengar dalam sebuah lirik lagu, 'bila malam, malam minggu tiba. Anak muda mengadu rencana.. wakunca ohooo..wakunca...' 

Itukah? Kebetulan ada di salah satu option

Tafahus? Kalau tafakur aku (mungkin) pernah dengar.

Vasal? Kalau pasal aku tau. Artinya sebab, lantaran. 

Farak? Sama sekali baru dengar!


Setelah mengamati ruangan itu yang ternyata tidak ber-CCTV, aku memutuskan membuka kamus KBBI dari HP. Maafkan kecurangan ini,..

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, keempat soal itu beres. Lanjut ke soal berikutnya..

Oh BIG NO..

Soal matematika serumit itu mereka sebut TPA? Tes Potensi Akademik? Tak bisa kubayangkan serumit apalagi soal hidangan utamanya. 

Aku menyerah. Dengan waktu yang sedikit, dan pemahaman yang sangat sangat sangat super terbatas aku hanya bisa menjawab benar-benar soal perpangkatan dan luas persegi. Jadi total soal yang benar-benar murni bisa kujawab dari 30 soal itu adalah... 2 soal!

Ketika si mbak-nya kembali, dengan berat hati (karena malu kebodohan tiada tara ini akan terungkap) kuserahkan kertas jawaban. Setidaknya skor-nya tidak akan bernilai minus, karena jawaban salah diberi nilai 0. Yap, memang 24 soal lagi kujawab dengan menuliskan asal acak option a,b,c,d. 

Tahap selanjutnya adalah micro teaching di hadapan manager cabang. Ini sama sekali berbeda dengan mengajari adekmu di rumah soal-soal perkalian atau pecahan. Ada pembuka, metode mengajar dan penutup. Kini kupaham jadi guru itu bukan perkara mudah. Kuambil satu soal dari yang benar-benar bisa kukerjakan tadi dan menuliskannya di white board sambil mengoceh seperti sedang menerangkan.Namun di tengah-tengah pengerjaan aku malah kebingungan sendiri karena hasil akhirnya beda dengan yang kudapat tadi. Kini hasil akhirnya tidak ada di option a, b, c atau d. Kutermenung sejenak dengan posisi mengamati tahap pengerjaan yang sudah kutulis, lalu berkata : 'maaf, ini seharusnya begini..bla..bla..bla..

Tahap wawancara kurasa tidak perlu dilanjutkan lagi jika sang manager sudah melihat caraku mengajar tadi. Aku jelas sudah tereliminasi..

Masa sekelas orang ini mengajar calon-calon penerus STANBig No, get out! Begitu mungkin pikirnya. Mungkin untuk nambah kerjaan dia saja, wawancara empat mata itu pun tetap berlangsung dengan tak mulus. Aku yang masih dibayang-bayangi kebegoan sendiri saat praktik micro teaching tadi masih belum bisa move on. Jawaban atas pertanyaan wawancara pun kujawab dengan tersendat-sendat. Fokusku telah meninggalkan tuannya. 
“Ada yang ingin ditanyakan?” tanyanya di akhir sesi.
“Ah iya, saya ingin klarifikasi saja, Bu. Untuk posisi ini benar ya merangkap sebagai tutor TPA nantinya?”
“Iya benar sekali, karena takutnya nanti kalau ada tutor utama yang berhalangan hadir bisa digantikan dengan tutor TPA dari academic marketing. Anda tidak baca dengan teliti ya?”
“…”

Aku sudah tau gak bakalan berhasil melewati tahap test itu. Jelas sekali. Tapi rasanya tetap saja nyesek saat e-mail resmi dikirimkan dan mengatakan 'anda belum memenuhi kualifikasi yang kami cari'.



















Kamis, 18 Juli 2019

Pengangguran Paling Elit


            Delapan (80) puluh hari setelah hari wisuda berlalu. Pagi ini adalah rekor terbaru aku bangun paling lama dalam sejarah kemanusiaan. Tak tanggung-tanggung, jam 11.30 WIB aku baru bergerak meninggalkan tempat tidur karena perut keroncongan. Bergerak ke dapur (sebenarnya bukan dapur, karena kosku adalah satu kesatuan tanpa dinding penyekat), aku mengambil dua buah jeruk yang kubeli tadi malam, membelahnya menjadi dua bagian lalu memerasnya dengan alat pemeras jeruk. Kuambil dua lapis roti tawar dan mencomotnya dengan pisang. Perfect! Sarapan yang sehat sekali bukan? Tanpa pemanis buatan atau MSG atau kafein. 

Aku mungkin adalah pengangguran paling elit saat ini. Padahal tak punya pemasukan lagi, hanya uang lima ratus ribu tiap bulan yang itupun kubujuk-bujuk kakakku mengirimkannya sambil menunggu aku dapat panggilan kerja. Aku masih bisa sarapan sehat, tidur nyenyak dan berleha-leha streaming film terbaru di depan laptopku. Kurang elit apalagi? Iya sih, aku tetap mengarahkan jari tangan ini untuk mengetikkan 'loker' di tab baru. Tapi itu tak bertahan sampai setengah jam karena banyaknya lowongan pekerjaan yang dibuka tapi satu pun tak kupahami sistem kerjanya. Sebentar, aku bahkan tidak tau jenis pekerjaan yang kuinginkan seperti apa yang membuatku betah bertahun-tahun di dalamnya. Sarjana macam apa aku ini?

Bosan dengan semua itu, aku membaca Wattpad. Kau tau, kan di sana banyak sekali cerita-cerita khayalan tingkat tinggi yang berguna mengalihkan fokusmu sejenak dari mumetnya tekanan batin pengangguran ini (kalau aku benar-benar tertekan! Hey, tapi aku tertekan kok?!!). Cerita imajinatif luar biasa fiktif hanya karangan semata, kesamaan nama dan latar belakang waktu adalah unsur kesengajaan tanpa bermaksud menyinggung pihak tertentu yang juga sangat dibutuhkan cewek single berusia 24 tahun sepertiku. Yaps, cerita romance dewasa. Hey, itu juga kebutuhan. Kebutuhan biologis!!

Apa seharusnya kuceritakan lagi di sini? Sebaiknya bergeraklah sana sendiri ke Wattpad. Nanti ada cerita tentang gadis pejuang tangguh yang sedang terhimpit biaya perawatan rumah sakit tunangannya yang telah koma selama dua tahun akibat insiden kecelakaan. Kedua orang tua si gadis dengan tragis sudah meninggal di tempat. Berbekal cinta kasihnya kepada si tunangan, gadis itu banting tulang bekerja malah sampai berhutang banyak sekali di perusahaan tempat ia bekerja. Dirawat selama  dua tahun di rumah sakit, kau kira biayanya sedikit? Hingga direktur (cerita fiktif romance mana pun tokoh utama wanitanya selalu dipasangkan dengan CEO. Menarik sekali..) tempat si gadis bekerja tertarik kepadanya secara  seksual. You know exactly what happen in the next part. Sang direktur menawari si gadis uang yang sangat banyak sekali asalkan mau menjadi simpanan si bos. Didasari kebutuhan mendesak untuk biaya operasi sang tunangan, gadis tersebut pun (terpaksa) setuju. Meski pada akhirnya si gadis jatuh hati juga dengan sang direktur dan merelakan tunangannya dengan perawat yang sudah merawatnya begitu sabar. 

Wah,. 

Kau tau apa yang kupikirkan? Setelah mendekam di penjara sempit (baca : kosan) ini selama kurang lebih tiga bulan tanpa penghasilan, makan sekali sehari, tidak bisa beli barang apa-apa, tidak bisa hang out ke luar apalagi liburan jalan-jalan ke suatu tempat, aku paham perasaan orang yang rela mengerjakan pekerjaan apapun yang bahkan melanggar moral. Belum lagi kalau mereka punya tanggungan, entah itu ayah atau ibu, atau adik yang masih bersekolah. Persis seperti drama, kehidupan ini. Atau drama itu yang persis seperti hidup ini? 

Kemarin malam salah seorang teman menelponku. Kami sempat satu tempat tinggal di kosku sebelum akhirnya dia berangkat ke Jakarta, mencoba peruntungan di sana. Namanya Bonita. Di Jakarta ia tinggal di kosan kakaknya yang bekerja di NGO, aktivis lingkungan. Keduanya jelas bertentangan dari segi idealisme. Yang satu menghasilkan limbah, yang satu memerangi penghasil limbah. Aku tau kenapa Bonita menelponku. Pasti ia mau curhat seputar kegalauan dalam mencari pekerjaan.

"Hey.. apa kabar," kalimat sapaan standar kuucapkan kala handphone sudah menempel di telingaku. 

Kami ngobrol sangat lama. Termasuk mendata kawan-kawan seangkatan yang sudah bekerja dan yang masih bernasib sama. Entah kenapa kami melakukan itu. Seolah-olah jika kami menemukan masih banyak kawan seangkatan yang masih berstatus jobseeker sama layaknya kami, maka tekanan batin serasa berkurang menjadi lebih ringan. Bukan cuma gue, kok kira-kira demikian. Bonita juga cerita tentang dia yang sudah berhasil melewati tahap tes psikotes di salah satu head office perusahaan tambang di Jakarta. Tibalah ke tahap paling akhir, wawancara. 

Interviewer : "Anda yakin mau bekerja sebagai admin di perusahaan kami? Padahal kan, anda sarjana."

Bonita diam.

Interviewer : "Bekerja sebagai admin ya, anda akan selamanya jadi admin karena memang tidak ada jenjang karirnya. Kami juga tidak mau jika misalnya anda bersedia bekerja di sini lalu tiba-tiba dua atau tiga bulan resign yang membuat kami kewalahan mencari pengganti baru lagi."

Bonita diam (2).

Interviewer : "Jadi, bagaimana? Saran saya anda silahkanlah pertahankan dulu idealismenya. Cari dulu pekerjaan yang bisa memanfaatkan gelar sarjana teknik anda. Memang sudah berapa lama menganggur?"

Kalian kira.. ini bukan perkara sudah berapa lama menganggurnya! Ini perkara 'apa yang kau gunakan untuk bertahan hidup kalau tak punya penghasilan'. Kenapa tiba-tiba aku bergabung dengan interview mereka sih..

Bonita : "Satu tahun, Pak genap bulan ini."

Interviewer : "Baru satu tahun. Ingat ya, katakan 'baru' bukan 'sudah'. Jadi, anda baru menganggur satu tahun bukan 'sudah menganggur satu tahun.' Ingatlah bahwa pekerjaan pertama anda akan menentukan karir anda ke depannya. 

Bijaksana sekali petuah anda rekruiter yang bestari. Sejujurnya aku tertohok sekaligus takut. Apa kabar aku yang selama ini asal apply aja di lowongan manapun tanpa memikirkan kelanjutan karir di masa mendatang. Sekonyong-konyong aku dilingkupi perasaan ngeri tiada tara. Jika ingin jadi pianis terkenal, itu berarti dari umur bisa melangkah harus sudah dekat dengan piano di rumah. Jika semua lancar-lancar saja maka menjadi pianis bukan hambatan besar. 

Aku lahir di Jambi dan besar di Samosir, Sumatera Utara. Kepindahan keluarga kami dari perantauan ke bona pasogit (kampung halaman) karena kewajiban bapakku sebagai anak laki-laki tertua kakek. Aku SD 5 tahun di kampung yang dimana ternak masih dibebaskan berkeliaran itu, selama itu pula aku dan saudara-saudaraku membantu orang tua di ladang begitu pulang sekolah. Mengangkat cangkul, memanggul kayu bakar, menjinjing air dari sumur. Begitu masuk ke perguruan tinggi tanpa ada sanak keluarga yang bekerja di indutri itu, aku masuk ke jurusan pertambangan. 

Kurasa aku terlalu kalut karena terlalu lama menganggur di kosan. Padahal kan si rekruiter cuma bilang 'pekerjaan awal', tetapi aku sampai membandingkannya ke kehidupan awal. 

"Jadi beneran gak kau ambil admin itu?" tanyaku di akhir Bonita berkisah. 
"Kalau kuambil, ngapain aku repot-repot nelpon samamu selarut ini? Yang ada aku udah molor gegara seharian capek di kantor."

Oh gitu. Jadi gue ditelpon cuma sebagai pendengar yang setia aja nih. Huft..

Sebenarnya aku pun mendapat pertanyaan serupa seminggu yang lalu. SAKING FRUSTASI-nya aku melamar di perusahaan F&B yang mau buka cabang di kota ini. Saat itu interviewernya cewek cantik berhijab yang aku ragu dia lebih tua dariku. 

Dia : "Saya mau bertanya nih pada anda. Kenapa melamar di pekerjaan ini, sementara anda kan sarjana. 

Tips untuk menjawab pertanyaan interview seperti itu : berbohonglah! 

Karena tak mungkin kan, kubilang : saya sudah capek melamar kemana-mana yang sesuai dengan jurusan dan kualifikasi saya. Tapi saat seleksi Engineer Trainee salah satu kontraktor tambang batubara, saya malah tereliminasi pada tahap FGD karena lupa topik kuliah produktivitas alat muat angkut..

Jadi kujawab saja : "Saya tipe orang yang berpikiran luas dan terbuka, Bu (aku geli). Itulah mengapa banyak pengangguran di negara kita, bahkan di belahan negara manapun di dunia ini. Pengangguran lulusan sarjana lebih banyak dibanding pengangguran yang lulusan SMA. Kenapa demikian? Banyak sarjana yang gengsi. Mereka pilih-pilih kerja persis pilih-pilih kasih. Saya tidak begitu. Saat ada kesempatan muncul di depan mata, saya ambil saya coba. Tak ada pengalaman yang sia-sia. Bisa saja sehabis kontrak dari perusahaan ini saya bisa membuka usaha sendiri berdasarkan pengalaman saya. (Upsss..)

Aku dan Bonita terbahak setelah aku menjelaskan jawabanku atas pertanyaan interviewer itu. Tentu saja kami berdua paham, kelewat paham malah, bahwa kami diam-diam jiwa kami terkelupas oleh rasa menahan ego untuk mengesampingkan gelar dan background ilmu yang telah diterima selama 4 (dalam hal ini aku 5,5 tahun) tahun di kampus. Tentu saja kami ingin bekerja di bidang yang sesuai ilmu ini. Tapi entah belum berjodoh saja dengan pekerjaan itu.

Saat ini aku butuh pekerjaan tak peduli itu menyimpang atau membelok dari jurusan dan gelar kesarjanaanku. Sejujurnya aku punya tiga adik yang masih tanggungan, hutang membahagiakan orang tua, dan seabrek bucket  list yang ingin dipenuhi. 


Om Direkturlah, datanglah kepadaku..,

Tapi kalau bisa, jangan mengharapkan imbalan apa-apa dariku..

Aku sudah lelah akting sengaja tidak menelpon ibuku meski rindu setengah mati padanya karena takut ditanya sudah dapat kerja atau belum..

Dimana Letak Surga Itu..???!!












Rabu, 10 Juli 2019

Lagu yang Tidak Bisa Diiringi DRUM


Butet. Nama panggilan buat anak gadis orang Batak. Biasanya sih cuma panggilan kecil. Tapi kadang ada juga yang sampe nikah pun dipanggil ‘butet’.

Nah, sobat aku yang satu ini juga dipanggil ‘butet’. Di kampus, di kos, di pom bensin, pinggir jalan. Hahahah. Sekarang butet lagi pusing skripsian, sedangkan aku pusing karena belum dapat kerja. Disitulah butet enak diajak cari udara segar. Berbekal motor pinjaman, kami nongki di warteg dekat lampu merah. Dia pesan lalapan, aku pesan es buah. Supaya bisa saling mencicipi, begitulah prinsip hemat kami.

Saat sambil curhat kegalauan masing-masing, butet tiba-tiba mendadah-dadah tangannya ke arah di belakangku. Taulah rusuhnya sobatku yang satu itu. Sambil tereak-tereak manggil nama tuh orang. Aku berbalik badan dan kenal orang yang dipanggil. Kedua cowok itu bergabung di meja kami. Yang satu aku gak kenal. Cowok gondrong (yang kayaknya) berjiwa seni tinggi. Sementara satu lagi aku emang kenal, namanya ala-ala Japan : Kaizen. Si Kai ini tampangnya juga mirip orang Jepang sih, sipit, kurus, putih, kacamataan. Nama adeknya Hana (bunga dalam b.jepang), mamanya dulu kuliah sastra jepang. Kai pernah sekolah di sekolah seminari (untuk pastor dalam katolik) tapi pindah ke SMA biasa.

Kai itu jelas salah jurusan. Tampangnya ala anak IT gitu yang hobinya bikin program atau nge-hack situs resmi. Bukan cuma tampang sih, aku sering dengar anak-anak tambang di jurusan kami minta bantuan si Kai soal urusan laptop atau kendala seputar alat teknologi lainnya. Tapi jangan salah, dia juga pintar dalam bidang musik. Bisa main gitar, piano, drum dll. Oh ya, satu lagi. Kai juga nulis cerita science fiction. Paket complete yaw..

Loh, kok aku bisa tau info sebanyak itu soal si Kai? Jelas dari butet lah. Apasih yang gak dia sebar ke aku? Ya butet emang gitu orangnya, dia kenal baik latar belakang kawan-kawan satu angkatan dia. Aku sebagai sobatnya ketularan info-info ini.

Butet, Kai dan cowok satu lagi masa-masa skripsian. Entah angin apa yang membawa aku sama butet makan di warteg itu dan ketemu mereka berdua. Si Kai orangnya emang gak banyak bacot. Mending aku tanya si cowok satu lagi.

“Kalau dari Lubuk Pakam berarti kenal si x ya?”
“Kenal di sini juga sih, Kak. Kalau kakak asli Samosir?”

Gitulah sesama anak rantau di perantauan bercengkerama. Waktu pesanan kami udah datang kami pun makan.

Aku : Eh, Kai sini dong kubaca cerita yang kau tulis genre science fiction itu. Kata Meli ada. Karya itu dibuat untuk dinikmatin loh, Kai. Bukan dipendam sendiri.

Butet : Iya tuh. Kak Magda sering loh ikut lomba nulis cerpen, terus menang dapat duit.

Sering pala lu! Baru sekali juga menangnya.

Aku : Sebenarnya si Kai ini juga berpotensi kan, Tet jadi youtuber. Tapi gak dimanfaatkan kemampuan IT-nya itu.

Butet : Iya tuh. Kak Magda aja punya channel di youtube, meski kontennya bikin gak nafsu makan.

Mulai bikin kesel kan, masa dia mau bongkar aib sobatnya di sini? Di hadapan ading tingkat gua. 

Aku : Hey, kalau kalian percaya sama Butet, besok ganti agama kalian.

Butet : Emang punya kok dia. Cari aja namanya di youtube, bla bla bla.. Subscribe ya..

Pengen gua telan tuh si Butet yang bau ketek T-rex. Ogebnya lagi si Kai sama temannya langsung gaspol buka youtube cari nama channel yang disebutin si Butet. Mampus dah, isinya ada video dance cover K-Pop labil gua waktu masih semester-semester awal…NO!!!! Itu gerakan kaku banget kayak kukang....

Si Kai duduknya persis di sampingku. Dengan gesit kuberusaha merampas HP-nya. Sialnya, dengan gesit pula dia menghindar. Busyet si Kai, refleks amat gerakannya. Kalau di slow motion-in keren kayaknya. Jangan-jangan si Kai ini jago Wing Chun (beladiri China) juga.

Aku : Kai, isinya cuma video dokumentasi perjalanan aja buat konsumsi pribadi. Makanya gak aku sebar-sebar link minta subscribe. Jaga-jaga aja HP ilang, terus video ilang sama foto-foto juga. Kalau disimpan di youtube kan, aman.

Kai : Kak, karya itu ada untuk dinikmatin loh, bukan dipendam sendiri.

Mampus. Kalimat gua jadi bumerang. 

Adegan rampas-menghindar pun terjadi. Untung orang-orang di warteg gak peduli dengan meja kami. Aku akhirnya berhasil merebut HP si Kai. Tapi cowok yang satu lagi udah berhasil liat judul video yang terakhir ku-upload.

“Judulnya ‘Palangka Raya-Banjarmasin bla bla bla,’ udah kayak pemetaan ya, Kak.”

“Serah, Dek. Serah. Seenggaknya liat di kosan aja nanti, plis? Pas aku gak ada. Nih orangnya masih di depan mata. Malu weeeeee….”

Untungnya dia nurut. Karena penasaran sama isi folder HP si Kai Wing Chun, aku pun geser-geser. Isinya aplikasi game semua sama aplikasi musik. Benar-benar salah jurusan, malah masuk teknik pertambangan.

“Eh, ini mainnya gimana?” aku buka aplikasi drum.

Dengan enteng si Kai ketuk-ketuk drum-nya dilayar dan terdengar ketukan berirama.

Aku : Coba lagu.., eh, ada gak sih lagu yang gak bisa diiringi drum?

Kai : Mana ada, Kak. Semua lagu kan, ada ketukannya. Jadi, semua pasti bisa diiringi drum.

Butet : Pasti ada bos yang gak bisa. Penyakit AIDS aja ditemukan obatnya, kok.

Loh, pie ike si ketek T-rex malah bawa-bawa nama penyakit.

Butet : Bentar, aku search google. Kalau ada awas ya kau Kai. Kalau ada, kau selesaikan skripsiku? Wkwkwkwkw. 

Teman Kai : Kalau gak ada gimana, kalau ternyata semua lagu bisa diiringi drum gimana kau, Tet?

Butet : Pokoknya kalau aku nemuin lagu yang gak bisa diiringi drum, si Kai telanjang di lampu merah sampai lampu hijau.. BAHAHAHAHAH. Sama kerjain skripsiku juga. 

Kami semua spontan ngakak. Sangat tidak manusiawi taruhan si butet dari goa hantu ini. Aku malah bertekad memanasi suasana. Harusnya sih kami di pihak yang sama.

Aku : Kalau ternyata gak ada, Tet? Kau tiduran telentang ya di jalan raya selama lampu merah. Gimana?

Butet : Oke, cocok. Pasti ada yang gak bisa, lagu-lagu daerah pasti gak bisa.

Butet kembali dengan google-nya. Aku menyebutkan judul lagu satu per satu. Mulai dari Ampar-Ampar Pisang, Potong Bebek Angsa, Anging Mamiri, Apuse, Sue Ora Jamu, Fur Elise, He’s A Pirate sampai lagu daerah Tapanuli Utara yang judulnya ‘Butet’, semua bisa diiringi si Kai dengan drum elektroniknya itu. kayaknya si Butet mesti telentang di lampu merah deh. 




Pas ultah gua dia ngajakin ke Hypermart. Katanya dia mau beliin sesuatu sebagai hadiah, ujung-ujungnya malah main ke Fun City ... Main lempar basket. 


Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...