Actually, aku sangat ingin kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Tapi dengan kondisiku yang sekarang aja salah jurusan, hal itu jadi agak sedikit mustahil. Maksudku begini. Pemberi beasiswa hanya ingin mahasiswa yang inteligent dan punya visi yang jelas soal studinya. Apa yang akan dia lakukan begitu lulus. Beside, jurusan kuliah S1 dan S2 baiknya (dan memang sudah sewajarnya) harus berkesinambungan. Misalnya S1 ngambil Teknik Informatika. Mungkin S2-nya bisa ngambil fokus ke .. apa gitu. Pokoknya gak jauh-jauh lah dari dunia komputer dan sekitarnya.
Lah aku, jurusan S1 Teknik Pertambangan. Aku salah jurusan. Garisbawahi salah jurusan. Apakah aku ingin melanjutkan kesalahan ini. Dengan mengambil konsentrasi Metalurgi misalnya? Itu sama aja bunuh diri. Aku masih ingin menikah dan punya anak...
Salah satu cara bisa ke luar negeri adalah ikut program-program kayak gini. Ada lomba bikin esai dengan topik tertentu terus hadiah pemenangnya jalan-jalan gratis ke luar negeri. Korea Selatan misalnya. Atau Jepanglah. Kalau lagi mood sih, aku mau aja ikut lomba begituan. Tapi karena bukan dari latar belakang sastra atau bahasa, hasil esai yang kutulis sangat sederhana. Gak ada menarik-menariknya. Juri yang membaca ini baru kalimat pertama mungkin udah langsung disisihkan (terdiskualifikasi).
Inilah hasil esai dari anak jurusan Teknik Pertambangan (Gile,, gak ada sangkut pautnya sedikit pun sama sastra..)
Tema: Studi di luar negeri, why not?
Tesis: Studi di luar negeri membuatmu merasakan sejuta pengalaman seru.
Kata pepatah, "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China." Tapi, kenapa harus ke China? Bukan Jepang atau Korea Selatan atau Taiwan. Namun bukan itu yang perlu dipersoalkan di sini. Sebab jelas maksud sang pepatah adalah ajakan untuk belajar sampai jauh ke negeri orang, meninggalkan negeri sendiri. Buat beberapa orang yang belum pernah jauh dari rumah dan orang tua ini mungkin hal yang berat untuk dilakukan. Bagaimana seorang anak tunggal yang selama ini nempel dengan ibunya tiba-tiba harus memasak makanannya sendiri? Mencuci pakaian sendiri? Di negeri yang bahasanya beda dengan negeri asalnya!
Saat ini kuliah di luar negeri bukanlah hanya impian lagi. Telah banyak mahasiswa Indonesia yang berhasil menyelesaikan studinya di luar negeri dan kembali ke tanah air untuk membangun negerinya sendiri. Wajah mereka berseri-seri, berkharisma, cerdas dan seolah berkata, "Tak ada masalah yang berarti dalam hidup ini. Kamu hanya harus menjadi dua kali lebih tegar." Dengan bekal selama ini di negeri orang, bukan tidak mungkin mereka telah mengantongi 'tiket emas' dalam dunia lapangan kerja.
Studi di luar negeri entah dengan biaya sendiri atau dengan beasiswa tentunya akan memberikan sejuta pengalaman seru buat anda. Apa saja? Check it out..
Mandiri
Mungkin selama ini kamu dimasakin sama mamah. Mau makan dimasakin. Gak mau makan disuapin. Lagi sakit dimanjain. Pokoknya enak tenan. Lain kisahnya kalau jauh dari ortu. Apa-apa harus bisa sendiri. Kamu yang tadinya gak bisa nyuci kain atau nyeplok telor, akhirnya lambat laun jadi bisa. Horay..
Meningkatkan rasa nasionalisme
Jauh dari negeri sendiri, kamu pasti kangen sama tanah airmu, tumpah darahmu. Banyak hal dari Indonesia yang gak bisa kamu temui di luar negeri. Contoh kecilnya indomie. Mungkin selama ini kamu benci dengan negaramu sendiri. Benci dengan orang-orangnya yang suka korupsi. Benci dengan beberapa sistemnya. Tapi percaya deh, saat kamu melihat sesuatu yang lebih "absurd" di negara lain, kamu pasti langsung bersyukur udah jadi warga negara Indonesia. Tiba-tiba saja kamu ingin pulang dan memeluk bendera merah putih. Yeah, merdeka!
Berkenalan dengan beraneka jenis orang
Kalau yang ini udah pasti. Bahkan kamu bakalan ketemu sama orang dari berbagai jenis kulit, rambut, mata (bukan rasis loh), makanan, kebiasaan sampai cara menyapa yang unik. Misalnya selama ini kamu dengar kalau cara orang Jepang tidak bisa mengucapkan huruf "L", yang terdengar malah huruf "R". Misalkan mau bilang 'lapar' malah jadi 'rapar'. Bertemu orang Jepang langsung di luar negeri kamu bisa buktiin langsung itu benar atau nggak. Seru kan?
Semakin menghargai Hidup
Jauh dari orang tua dan kerabat. Kamu dituntut harus bisa mandiri. Mungkin selama ini kamu egois, boros dan tak pernah menghargai apapun. Suka buang-buang makanan karena gak habis. Di luar negeri? Saat uangmu menipis atau beasiswa belum cair, kamu harus bisa memanfaatkan keadaan. Yang tadinya buang-buang nasi basi jadi dipanasin dengan cara digoreng (misalnya). Atau saat uang kritis kamu mencari pekerjaan part time. Ini menjadi sedikit sulit karena kamu harus kuliah, ngerjain tugas dan kerja. Tapi dari sini kamu jadi semakin menghargai waktu. Bahwa 1 menit pun sangat berharga buat kamu dan ingin memaksimalkannya.
Berkesempatan mendatangi tempat-tempat baru
Kamu mungkin penggemar film Harry Potter dan sangat ingin berpose di platform 9 ¾. Atau ingin mendatangi kediaman Dursley di Privet Drive 4. Atau pengen membuktikan rumor asmara di kota Venesia? Tenang saja, kuliah di luar negeri akan membantumu mewujudkan itu. Saat liburan tiba kamu bisa mendatangi tempat-tempat eksotis di berbagai belahan dunia. Eits, tapi sebelumnya harus udah nabung duit banyak-banyak ya. Seekreatif mungkin-lah jadi backpacker misalnya. Kadang sambil ngamen di jalanan. Wah, bakalan jadi pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi kalau sampai dikejar-kejar petugas keamanan. Hahahah.
![]() |
| Imut ya |
Oh iya, jangan tanya ke petugas di stasiun ya, "Sir, could you show me where platform 9 ¾ is?"
Hayoo, masih mau hidup dalam kepakan sayap orang tua selamanya? Mungkin ini sedikit kejam, tapi kenyataannya adalah ayah dan ibu kita kita gak selamanya berada di samping kita. Anda harus bisa mandiri. Buat anda yang tidak bisa jauh dari rumah dan orang tua, mungkin tak ada salahnya mencoba studi di luar negeri.

