Jumat, 12 April 2019

PPAN 2019


Kemarin adalah sejarah,

Hari ini adalah berkah,

Masa depan adalah misteri.

   Jika setiap orang bisa memahami benar-benar makna kalimat-kalimat tersebut. Aku adalah salah satu yang belum bisa mengambil pelajaran darinya. Ya, tapi aku sedang belajar menuju ke sana.

Tahun 2017 aku membaca sebuah postingan di Facebook tentang kegiatan kepemudaan yang diselenggarakan oleh Kemenpora RI. Kegiatan yang sangat bergengsi, karena jika kau beruntung, kau akan menginjakkan kaki di negara lain dengan full funded oleh negara ini. Namamu juga akan tercatat sebagai duta muda Indonesia. Kecuali bukan orang yang haus pengetahuan dan pengalaman, tentu tidak akan tertarik dengan program ini.

Aku tentu saja langsung menelusuri asal muasal, sebab akibat dan syarat-syarat untuk mengikuti program ini. Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang diadakan sekali setahun dengan negara tujuan : Jepang (SSEAYP) , Kanada (ICYEP), China (IChiYEP), Australia (AIYEP), Malaysia (IMYEP), Korea Selatan (IKYEP), Singapura (SIYLEP) dan India (ASVI). Ternyata setiap program (negara tujuan) memiliki fokus yang berbeda-beda. Misalnya Jepang (SSEAYP) lebih fokus pada leadership, sedangkan Korea Selatan (IKYEP) pada kebudayaan (culture). Dan ya, karena ini program yang sangat bergengsi sehingga banyak peminatnya, diadakanlah seleksi. Seleksi berkas, kemampuan bahasa inggris, kebudayaan (seni daerah), LGD, psikotest, program pemberdayaan masyarakat. Bertekad ingin mengikuti seleksinya di tahun yang akan datang (2018), aku pun tanpa ragu meminta bapakku dari kampung untuk mengurus surat pindah KTP-ku. Sebab salah satu syarat berkasnya harus punya KTP domisili provinsi yang akan diwakili. Ibuku mengetahui hal ini panik dan langsung menelpon. Bertanya apakah aku akan menetap selamanya di Kalimantan dan tidak ada niatan untuk pulang.

Pengurusan perpindahan KTP dari domisili Samosir (Sumatera Utara) ke domisili Palangka Raya (Kalimantan Tengah) ini ternyata tidak cepat. Aku mengantar berkasnya ke Dukcapil pada Januari 2017 dan selesainya pada bulan Agustus. Mulai mempersiapkan diri dengan mengerjakan soal-soal TOEFL, mempelajari sejarah suku Dayak dan memperbanyak kegiatan organisasi. Mem-follow media sosial PCMI KalTeng (perkumpulan alumni PPAN) untuk mengetahui informasi lebih lanjut. Semuanya demi bisa mengikuti seleksi PPAN 2018.

Namun sekali lagi, masa depan adalah misteri. Tak ada yang tahu kecuali sang pencipta. Setiap tahun, provinsi mendapatkan jumlah kuota yang tidak sama. Misalkan tahun ini provinsi Kalimantan Tengah mendapatkan 3 kuota untuk program IKYEP, AIYEP dan IMYEP belum tentu di provinsi Kalimantan Selatan mendapat kuota dengan jumlah begitu. Bisa saja hanya 2 atau 1 saja. Bahkan bisa saja sebuah provinsi tidak mendapatkan kuota sama sekali. Dan itulah yang terjadi pada tahun 2018, Kalimantan Tengah tidak mendapatkan kuota sama sekali untuk program PPAN itu. Aku? Tidak bisa kusebut tidak kecewa. Namun semua yang kupersiapkan tidak akan sia-sia.

Waktu berjalan, begitu juga dengan umurku di kampus. Jumlah semester yang sudah banyak dan minta penyelesaian studi. Aku sudah disibukkan dengan masa skripsi dan kerja paruh waktu. Meski terasa berat, kita hanya bisa tetap menjalaninya dengan hati yang lapang. Tak bisa dikatan semua selalu berjalan mulus. Sebab hidup bagai gelombang, yang punya dua sisi, lembah dan bukit. Ada saat jatuh dan bangkit. Di sisi yang mana pun kamu saat ini, tetaplah berpikiran positif dan selesaikan apa yang telah kamu mulai!

Berbagai hal telah terlewati. Kawan-kawan seangkatanku banyak yang sudah bekerja dan menikmati penghasilan mereka. Aku cukup mensyukuri akhirnya bisa menyelesaikan ujian sidang skripsi pada 28 Januari 2019. Tanggal ini akan menjadi tanggal penting lainnya dalam hidupku. Aku lulus sarjana dalam waktu 5 tahun 5 bulan.

Pada suatu malam sekitar jam 10-an disaat hendak memejamkan mata, ada pesan masuk di WA dari seseorang. Penasaran, aku langsung meraih HP dan membuka pesan itu. Ternyata dari salah seorang adik tingkat. Ia mengirimkan gambar screenshot tentang kegiatan seleksi PPAN Kalimantan Tengah 2019. Oh, benar-benar tidak terpikirkan bahwa saat ini Maret dimana kegiatan seleksinya dimulai setiap tahun. Aku tahu kenapa dia mengirimkan info itu, karena dia tahu aku K-popers dan kebetulan kuota tahun ini ada 2, AIYEP (laki-laki) dan IKYEP (perempuan). Oke, my identity card’s ready        

Di sela-sela waktu pekerjaan paruh waktuku, aku menyiapkan berkas-berkas yang diminta. Termasuk didalamnya esai, describe yourself dan what do you expect from this program. Aku mempelajari sendiri salah satu tarian daerah Kalimantan Tengah dari Youtube dan mencari info sanggar penyewaan kostum untuk perform nanti. Oh iya, peserta seleksi juga harus menyusun sebuah proposal sederhana terkait pemberdayaan masyarakat yang akan dilaksanakan seandainya terpilih sebagai peserta PPAN. Untuk mengikuti serangkaian seleksi yang akan diadakan, aku meminta izin off dari bos yang ditanggapi positif. Padahal seleksinya hanya dua hari, satu hari technical meeting di hari pertama. 
  
Seminggu sebelum pendaftaran ditutup, ada info terbaru bahwa kuota KalTeng ditambah menjadi 3; AIYEP-Australia (laki-laki), IKYEP-Korea Selatan (perempuan) dan program yang terakhir adalah Jepang (SSEAYP) dan itu untuk perempuan. Tiga hari sebelum pendaftaran ditutup, panitia seleksi Dispora KalTeng menelponku dan menanyakan program yang ingin diikuti. Baiklah, aku sempat bingung. Berhubung tidak bisa melamar kedua program sekaligus, aku menanyakan jumlah peserta yang mendaftar IKYEP-Korea Selatan, baru 5 orang katanya. Siapa sih K-popers yang gak pengen ke negri ginseng itu, syukur-syukur ketemu BTS. Namun, sejenak aku berubah haluan saat kata panitia tersebut untuk program SSEAYP-Jepang belum ada peserta yang mendaftar. Tempo hari aku sudah menelusuri detail program-program PPAN ini di google. Dengan mantap kujawab : SSEAYP, Bu.



DAY I
Tadinya aku sempat mengira akan menjadi satu-satunya orang non pribumi KalTeng yang mengikuti seleksi PPAN ini. Ternyata tidak, karena ada dua lagi perantau asal Sumatera Utara, yang setelah berkenalan salah satu dari mereka adalah sainganku. Hahah. Ada Putri yang melamar program IKYEP dan Tiur, si saingan. Mereka berdua masih adikku, dan sadar aku sudah tua ternyata. Tapi tunggu, setelah berkenalan dengan peserta lain ada yang sudah lulus S2 yang ikut mendaftar. Mereka dalam tahap penyusunan tesis dan rela pulang ke KalTeng demi mengikuti seleksi PPAN. Kan sudah kusebutkan kalau kegiatan ini sangat bergengsi. Semakin tahu background para peserta, lutut semakin gentar, hati cenat-cenut.

Setelah upacara pembukaan, selanjutnya perkenalan dari alumni-alumni PPAN. Meski tidak lengkap, ada yang dari Kanada, Korea Selatan, China, Jepang. Dan alumni yang hadir kebanyakan dari SSYEAP-Jepang, 4 orang. Mereka semakin terlihat gagah karena mengenakan seragam duta muda Indonesia miliknya. Pemaparan terkait setiap program dan tanya jawab. Lalu penjelasan jadwal seleksi yang akan dimulai besok serta pakaian yang digunakan.

Aku mungkin tipe orang yang luar biasa ekstrovert. Belum ada 5 jam kenal dengan Tiur kami sudah sepakat pergi ke tempat penyewaan baju untuk perform kesenian daerah lusa. Ya, aku akan menari. Meski masih banyak jenis kesenian lainnya, kurasa menari punya penilaian tersendiri buat juri (mungkin). Kutahu dan sangat sadar bahwa raga ini sangat kaku sekali sampai mengalahkan papan. Belum lagi aku yang sering lupa gerakan.

Biaya penyewaan untuk 3 hari dikenakan biaya 200 ribu. Khusus untukku, karena ikut menyewa tongkat tari ditambah lagi 25 ribu. Setelah seleksi selesai, kurasa aku akan numpang makan di kosan orang. Tapi lihat sisi positifnya, setelah hampir 6 tahun aku tinggal di sini, akhirnya pernah mengenakan pakaian dayak, bahkan aku membawakan tariannya. Aku akan punya foto kenangan yang bisa kubuka kembali saat sudah tua nanti. Heheh.

DAY II

Seleksi pertama di hari pertama diawali dengan TPA (Tes Potensi Akademik) yang berlangsung 60 menit untuk 60 soal yang terdiri dari : sinonim, antonim, peryataan-kesimpulan, deret angka dan gambar. Tes kedua yaitu tes tertulis psikologi. Wah, aku benar-benar buruk dalam menggambar. Dijeda dengan istirahat makan siang. Dilanjutkan dengan proposal pemberdayaan masyarakat. Proposal yang kubuat mirip dengan kegiatan ENJ yang sudah kuiikuti 2017 lalu. Ada beberapa tambahan dan penentuan daerah tujuan. Pada tahap wawancara pemberdayaan ini, peserta dihadapkan dengan dua orang alumni SSEAYP dan IKYEP. Waw, baru datang sudah disambut dengan English.

Have a sit, please,”
Oh, thank you.”
So, your name?”
Aku memperkenalkan diri,
You have 10 minutes to explain your proposal. Include answer question from us.”
“In English or Indonesia?” tanyaku.
“Up to you.”

Tidak ingin mempermalukan diri sendiri, jadi cari aman saja menjelaskan pakai bahasa Indonesia. Aku tidak tahu 10 menit itu waktu yang singkat atau lama untuk menjelaskan proposal yang hanya 3 lembar ini. Ya hanya segitu. Karena sudah diberi batas waktu di awal tadi, suaraku tiba-tiba tancap gas. Tiba-tiba saja sudah di lembar terakhir.

“Kapan kamu akan berangkat?”
Nah loh, jadwal kegiatan gak ada tercantumkan.
“Jadi kan, Kak ini kegiatannya harus mengumpulkan bantuan dulu dari masyarakat dan hasil dari permohonan bantuan dana dari instansi-instansi. Sekitar sebulan, setelah semua terkumpul, sudah bisa berangkat.”
“Daerah mana yang menjadi target kamu ini?”
“Kabupaten Seruyan, Kak.”
“Alasannya? Anggaran biaya untuk proposal kamu ini berapa? Rinciannya?”
“………”
10 menit terasa hanya sebentar.

DAY III

Ini adalah hari terakhir dan test-nya berat-berat. Dimulai dengan tes TOEFL, yang mana aku sama sekali belum pernah kursus bahasa inggris. Pernah sekali ikut tes TOEFL meski itu bukan lembaga resmi, hanya mendapat skor 430. Dalam persyaratan peserta PPAN harus punya skor TOEFL 500.

Tes kedua adalah tes tertulis psikotest. Diminta memilih ‘apa yang akan anda lakukan jika teman anda punya masalah’, diminta menggambar seseorang, menggambar pohon dan melanjutkan gambar pola yang sudah ada.

Yang ketiga adalah yang paling menegangkan : tes kemampuan berbicara bahasa inggris. Nomor urutanku yang kecil malah membuat semakin gugup, bayangkan saja aku peserta dengan nomor 07, sementara peserta 04 dan 05 sudah didiskualifikasi karena tidak hadir dari hari pertama seleksi. Dan yang terjadi adalah peserta yang belum mendapat giliran masuk ke dalam ruang wawancara akan berusaha mengorek informasi penting dari peserta yang sudah masuk. Padahal kan, pertanyaannya belum tentu sama.

Next!” wajah salah satu panitia muncul dari balik pintu.
Dengan mantap kuambil langkah. Apapun yang akan terjadi, silahkan terjadi! 

“Hello..” aku langsung disambut dengan senyum oleh kakak ketua PCMI. Kubalas dengan senyuman dan mengucapkan hello juga. OMG, ada 4 juri di sini.!!!
“Have a sit.”
“Thank you.”

“So, are you ready?”
“Yes, I am.”
“Please tell us about yourself so we can know about you. Everything you want to tell.”

Ah, ini sih bisa sampai minggu depan. Wkwkwk. Maksudku kalau kuceritakan sejak aku lahir dan pindah dari Jambi ke Sumatera Utara, sempat sekolah di Pekanbaru sebelum sekeluarga pindah ke Samosir dan bla bla bla..

Gak lah, I know their point.

Kuceritakan asalku, kuliah dimana, kegiatan selama di kampus ikut UKM apaan,..sesingkat itu.

“What major ?” (aku lupa kalimat mereka nanya gimana)
  “Mining Engineering.”
“So what do you know about traditional mining in Central Borneo?”

Dengan terbata-bata karena lupa nama alatnya kujawab sebisanya.

“You have been here for 6 years, what you know about local culture here?”

Tertatih-tatih kujawab pertanyaan ini, menyebut soal kehidupan di DAS dan hutan yang sangat dijaga oleh masyarakat adat Dayak.

“What do you think about our governor and president?”

See? Tidak ada pertanyaan yang sama bagi semua peserta. Dan ini jenis pertanyaan yang kalau dijawab aku tidak punya banyak kosakata.

“Why we have to choose you?”

Sudah seperti wawancara pekerjaan.

Well, aku gak terlalu ingat jawab apa, tapi menyebut-nyebut soal pengalaman berorganisasi dan itu adalah salah satu fokus program SSEAYP : leadership and corporate.

Ada wawancara lagi setelah itu. Wawancara seputar agama dan kepemudaan. Pertanyaan seperti agama apa kamu, ada berapa gereja katolik di kota ini, apa pengalaman organisasimu, bagaimana kamu menjadi pemimpin, apa yang menjadi kelemahanmu sebagai pemimpin.

Yang paling membuatku gelisah tak karuan adalah tes kesenian daerah nanti malam. FYI, aku menyiapkan tarian yang kupelajari dari Youtube hanya dalam tempo waktu yang sangat singkat : semiggu.
Aku dan Tiur sepakat untuk ganti pakaian di kosnya. Berhubung kami tidak mengerti soal dunia per-make up-an, kami cukup beruntung karena tetangga Tiur bersedia menanggungjawabi hal itu. Namun tat arias penari ini butuh waktu yang tidak sebentar sehingga kami terlambat ke gedung Dispora. Panitia sudah ngomong dan para peserta sudah duduk melingkar dengan kursi masing-masing.
“Yang baru datang masuk langsung. Siapa namanya?”
Bagus. Semua orang di ruangan ini akan tahu nama peserta 07 yang sangat tidak disiplin waktu ini.

Malam itu banyak yang menyanyi dan menari. Aku sangat lega begitu giliranku selesai. Tidak apa-apa hancur dan kaku sama sekali, yang penting sudah lewat.

Aku banyak belajar selama 3 hari itu. jangan pernah underestimate lawanmu hanya karena menilai dari luarnya. Jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun, karena yang membuat seseorang tersandung justru kerikil kecil. Aku sudah tahu tidak akan masuk bahkan dalam posisi ke-3 untuk SSEAYP. Tapi,..

At least, I’ve tried my best.
Ini akan jadi pengalaman dan pembelajaran di hari yang akan datang.
Aku sudah memenuhi tugas KTP-ku yang kuganti tahun 2017 yang lalu. 


 [[PERDANA !!!! Setelah 6 tahun tinggal di Tanah Borneo]]
Gadis Batak dengan kostum penari Dayak 😊

Partner in-Fight (Magdalena Hutabalian, Putri Lumbangaol, Tiur Simarmata)
Demi apa yang ngambil foto ini amatir banget ya Lord, bisa gitu pas aku kedip, padahal kakaknya udah ganteng. 😡 Btw, itu namanya Kak Takdir alumni AIYEP (Australia)

Para ladies peserta seleksi PPAN 2019 memperebutkan utusan Jepang dan Korea Selatan 

Para peserta dan Panitia PPAN 2019

Para ladies peserta seleksi PPAN 2019 memperebutkan utusan Jepang dan Korea Selatan (Part II)

Seluruh peserta PPAN dan KPN 2019




Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...