Kemarin adalah sejarah,
Hari ini adalah berkah,
Masa depan adalah misteri.
Jika setiap orang bisa memahami benar-benar makna
kalimat-kalimat tersebut. Aku adalah salah satu yang belum bisa mengambil
pelajaran darinya. Ya, tapi aku sedang belajar menuju ke sana.
Tahun 2017 aku membaca sebuah postingan di Facebook tentang kegiatan kepemudaan
yang diselenggarakan oleh Kemenpora RI. Kegiatan yang sangat bergengsi, karena
jika kau beruntung, kau akan menginjakkan kaki di negara lain dengan full funded oleh negara ini. Namamu juga
akan tercatat sebagai duta muda Indonesia. Kecuali bukan orang yang haus
pengetahuan dan pengalaman, tentu tidak akan tertarik dengan program ini.
Aku tentu saja langsung menelusuri asal muasal, sebab
akibat dan syarat-syarat untuk mengikuti program ini. Pertukaran Pemuda Antar
Negara (PPAN) yang diadakan sekali setahun dengan negara tujuan : Jepang
(SSEAYP) , Kanada (ICYEP), China (IChiYEP), Australia (AIYEP), Malaysia (IMYEP),
Korea Selatan (IKYEP), Singapura (SIYLEP) dan India (ASVI). Ternyata setiap
program (negara tujuan) memiliki fokus yang berbeda-beda. Misalnya Jepang
(SSEAYP) lebih fokus pada leadership,
sedangkan Korea Selatan (IKYEP) pada kebudayaan (culture). Dan ya, karena ini program yang sangat bergengsi sehingga
banyak peminatnya, diadakanlah seleksi. Seleksi berkas, kemampuan bahasa
inggris, kebudayaan (seni daerah), LGD, psikotest, program pemberdayaan
masyarakat. Bertekad ingin mengikuti seleksinya di tahun yang akan datang
(2018), aku pun tanpa ragu meminta bapakku dari kampung untuk mengurus surat
pindah KTP-ku. Sebab salah satu syarat berkasnya harus punya KTP domisili
provinsi yang akan diwakili. Ibuku mengetahui hal ini panik dan langsung
menelpon. Bertanya apakah aku akan menetap selamanya di Kalimantan dan tidak ada
niatan untuk pulang.
Pengurusan perpindahan KTP dari domisili Samosir
(Sumatera Utara) ke domisili Palangka Raya (Kalimantan Tengah) ini ternyata
tidak cepat. Aku mengantar berkasnya ke Dukcapil pada Januari 2017 dan
selesainya pada bulan Agustus. Mulai mempersiapkan diri dengan mengerjakan
soal-soal TOEFL, mempelajari sejarah suku Dayak dan memperbanyak kegiatan
organisasi. Mem-follow media sosial
PCMI KalTeng (perkumpulan alumni PPAN) untuk mengetahui informasi lebih lanjut.
Semuanya demi bisa mengikuti seleksi PPAN 2018.
Namun sekali lagi, masa depan adalah misteri. Tak ada
yang tahu kecuali sang pencipta. Setiap tahun, provinsi mendapatkan jumlah
kuota yang tidak sama. Misalkan tahun ini provinsi Kalimantan Tengah mendapatkan
3 kuota untuk program IKYEP, AIYEP dan IMYEP belum tentu di provinsi Kalimantan
Selatan mendapat kuota dengan jumlah begitu. Bisa saja hanya 2 atau 1 saja.
Bahkan bisa saja sebuah provinsi tidak mendapatkan kuota sama sekali. Dan
itulah yang terjadi pada tahun 2018, Kalimantan Tengah tidak mendapatkan kuota
sama sekali untuk program PPAN itu. Aku? Tidak bisa kusebut tidak kecewa. Namun
semua yang kupersiapkan tidak akan sia-sia.
Waktu berjalan, begitu juga dengan umurku di kampus.
Jumlah semester yang sudah banyak dan minta penyelesaian studi. Aku sudah
disibukkan dengan masa skripsi dan kerja paruh waktu. Meski terasa berat, kita
hanya bisa tetap menjalaninya dengan hati yang lapang. Tak bisa dikatan semua
selalu berjalan mulus. Sebab hidup bagai gelombang, yang punya dua sisi, lembah
dan bukit. Ada saat jatuh dan bangkit. Di sisi yang mana pun kamu saat ini,
tetaplah berpikiran positif dan selesaikan apa yang telah kamu mulai!
Berbagai hal telah terlewati. Kawan-kawan seangkatanku
banyak yang sudah bekerja dan menikmati penghasilan mereka. Aku cukup
mensyukuri akhirnya bisa menyelesaikan ujian sidang skripsi pada 28 Januari
2019. Tanggal ini akan menjadi tanggal penting lainnya dalam hidupku. Aku lulus
sarjana dalam waktu 5 tahun 5 bulan.
Pada suatu malam sekitar jam 10-an disaat hendak
memejamkan mata, ada pesan masuk di WA dari seseorang. Penasaran, aku langsung
meraih HP dan membuka pesan itu. Ternyata dari salah seorang adik tingkat. Ia
mengirimkan gambar screenshot tentang
kegiatan seleksi PPAN Kalimantan Tengah 2019. Oh, benar-benar tidak terpikirkan
bahwa saat ini Maret dimana kegiatan seleksinya dimulai setiap tahun. Aku tahu
kenapa dia mengirimkan info itu, karena dia tahu aku K-popers dan kebetulan
kuota tahun ini ada 2, AIYEP (laki-laki) dan IKYEP (perempuan). Oke, my identity card’s ready…
Di sela-sela waktu pekerjaan paruh waktuku, aku
menyiapkan berkas-berkas yang diminta. Termasuk didalamnya esai, describe yourself dan what do you expect from this program.
Aku mempelajari sendiri salah satu tarian daerah Kalimantan Tengah dari Youtube
dan mencari info sanggar penyewaan kostum untuk perform nanti. Oh iya, peserta
seleksi juga harus menyusun sebuah proposal sederhana terkait pemberdayaan
masyarakat yang akan dilaksanakan seandainya terpilih sebagai peserta PPAN. Untuk
mengikuti serangkaian seleksi yang akan diadakan, aku meminta izin off dari bos
yang ditanggapi positif. Padahal seleksinya hanya dua hari, satu hari technical meeting di hari pertama.
Seminggu sebelum pendaftaran ditutup, ada info terbaru
bahwa kuota KalTeng ditambah menjadi 3; AIYEP-Australia (laki-laki),
IKYEP-Korea Selatan (perempuan) dan program yang terakhir adalah Jepang (SSEAYP)
dan itu untuk perempuan. Tiga hari sebelum pendaftaran ditutup, panitia seleksi
Dispora KalTeng menelponku dan menanyakan program yang ingin diikuti. Baiklah,
aku sempat bingung. Berhubung tidak bisa melamar kedua program sekaligus, aku
menanyakan jumlah peserta yang mendaftar IKYEP-Korea Selatan, baru 5 orang
katanya. Siapa sih K-popers yang gak pengen ke negri ginseng itu, syukur-syukur
ketemu BTS. Namun, sejenak aku berubah haluan saat kata panitia tersebut untuk
program SSEAYP-Jepang belum ada peserta yang mendaftar. Tempo hari aku sudah
menelusuri detail program-program PPAN ini di google. Dengan mantap kujawab : SSEAYP, Bu.
DAY I
Tadinya aku sempat mengira akan menjadi satu-satunya
orang non pribumi KalTeng yang mengikuti seleksi PPAN ini. Ternyata tidak,
karena ada dua lagi perantau asal Sumatera Utara, yang setelah berkenalan salah
satu dari mereka adalah sainganku. Hahah. Ada Putri yang melamar program IKYEP
dan Tiur, si saingan. Mereka berdua masih adikku, dan sadar aku sudah tua
ternyata. Tapi tunggu, setelah berkenalan dengan peserta lain ada yang sudah
lulus S2 yang ikut mendaftar. Mereka dalam tahap penyusunan tesis dan rela
pulang ke KalTeng demi mengikuti seleksi PPAN. Kan sudah kusebutkan kalau
kegiatan ini sangat bergengsi. Semakin tahu background para peserta, lutut
semakin gentar, hati cenat-cenut.
Setelah upacara pembukaan, selanjutnya perkenalan dari
alumni-alumni PPAN. Meski tidak lengkap, ada yang dari Kanada, Korea Selatan,
China, Jepang. Dan alumni yang hadir kebanyakan dari SSYEAP-Jepang, 4 orang. Mereka
semakin terlihat gagah karena mengenakan seragam duta muda Indonesia miliknya.
Pemaparan terkait setiap program dan tanya jawab. Lalu penjelasan jadwal
seleksi yang akan dimulai besok serta pakaian yang digunakan.
Aku mungkin tipe orang yang luar biasa ekstrovert.
Belum ada 5 jam kenal dengan Tiur kami sudah sepakat pergi ke tempat penyewaan
baju untuk perform kesenian daerah lusa. Ya, aku akan menari. Meski masih
banyak jenis kesenian lainnya, kurasa menari punya penilaian tersendiri buat
juri (mungkin). Kutahu dan sangat sadar bahwa raga ini sangat kaku sekali
sampai mengalahkan papan. Belum lagi aku yang sering lupa gerakan.
Biaya penyewaan untuk 3 hari dikenakan biaya 200 ribu.
Khusus untukku, karena ikut menyewa tongkat tari ditambah lagi 25 ribu. Setelah
seleksi selesai, kurasa aku akan numpang makan di kosan orang. Tapi lihat sisi
positifnya, setelah hampir 6 tahun aku tinggal di sini, akhirnya pernah
mengenakan pakaian dayak, bahkan aku membawakan tariannya. Aku akan punya foto
kenangan yang bisa kubuka kembali saat sudah tua nanti. Heheh.
DAY II
Seleksi pertama di hari pertama diawali dengan TPA
(Tes Potensi Akademik) yang berlangsung 60 menit untuk 60 soal yang terdiri
dari : sinonim, antonim, peryataan-kesimpulan, deret angka dan gambar. Tes
kedua yaitu tes tertulis psikologi. Wah, aku benar-benar buruk dalam
menggambar. Dijeda dengan istirahat makan siang. Dilanjutkan dengan proposal
pemberdayaan masyarakat. Proposal yang kubuat mirip dengan kegiatan ENJ yang
sudah kuiikuti 2017 lalu. Ada beberapa tambahan dan penentuan daerah tujuan. Pada
tahap wawancara pemberdayaan ini, peserta dihadapkan dengan dua orang alumni
SSEAYP dan IKYEP. Waw, baru datang sudah disambut dengan English.
“Have a sit, please,”
“Oh, thank you.”
“So, your name?”
Aku
memperkenalkan diri,
“You have 10 minutes to explain your
proposal. Include answer question from us.”
“In English
or Indonesia?” tanyaku.
“Up to
you.”
Tidak ingin
mempermalukan diri sendiri, jadi cari aman saja menjelaskan pakai bahasa
Indonesia. Aku tidak tahu 10 menit itu waktu yang singkat atau lama untuk
menjelaskan proposal yang hanya 3 lembar ini. Ya hanya segitu. Karena sudah
diberi batas waktu di awal tadi, suaraku tiba-tiba tancap gas. Tiba-tiba saja
sudah di lembar terakhir.
“Kapan kamu
akan berangkat?”
Nah loh,
jadwal kegiatan gak ada tercantumkan.
“Jadi kan,
Kak ini kegiatannya harus mengumpulkan bantuan dulu dari masyarakat dan hasil
dari permohonan bantuan dana dari instansi-instansi. Sekitar sebulan, setelah
semua terkumpul, sudah bisa berangkat.”
“Daerah
mana yang menjadi target kamu ini?”
“Kabupaten
Seruyan, Kak.”
“Alasannya?
Anggaran biaya untuk proposal kamu ini berapa? Rinciannya?”
“………”
10 menit
terasa hanya sebentar.
DAY III
Ini adalah
hari terakhir dan test-nya berat-berat. Dimulai dengan tes TOEFL, yang mana aku
sama sekali belum pernah kursus bahasa inggris. Pernah sekali ikut tes TOEFL
meski itu bukan lembaga resmi, hanya mendapat skor 430. Dalam persyaratan
peserta PPAN harus punya skor TOEFL 500.
Tes kedua
adalah tes tertulis psikotest. Diminta memilih ‘apa yang akan anda lakukan jika
teman anda punya masalah’, diminta menggambar seseorang, menggambar pohon dan
melanjutkan gambar pola yang sudah ada.
Yang ketiga
adalah yang paling menegangkan : tes kemampuan berbicara bahasa inggris. Nomor
urutanku yang kecil malah membuat semakin gugup, bayangkan saja aku peserta
dengan nomor 07, sementara peserta 04 dan 05 sudah didiskualifikasi karena
tidak hadir dari hari pertama seleksi. Dan yang terjadi adalah peserta yang
belum mendapat giliran masuk ke dalam ruang wawancara akan berusaha mengorek
informasi penting dari peserta yang sudah masuk. Padahal kan, pertanyaannya
belum tentu sama.
“Next!” wajah salah satu panitia muncul dari
balik pintu.
Dengan
mantap kuambil langkah. Apapun yang akan terjadi, silahkan terjadi!
“Hello..”
aku langsung disambut dengan senyum oleh kakak ketua PCMI. Kubalas dengan
senyuman dan mengucapkan hello juga. OMG, ada 4 juri di sini.!!!
“Have a sit.”
“Thank
you.”
“So, are
you ready?”
“Yes, I
am.”
“Please
tell us about yourself so we can know about you. Everything you want to tell.”
Ah, ini sih
bisa sampai minggu depan. Wkwkwk. Maksudku kalau kuceritakan sejak aku lahir
dan pindah dari Jambi ke Sumatera Utara, sempat sekolah di Pekanbaru sebelum
sekeluarga pindah ke Samosir dan bla bla bla..
Gak lah, I
know their point.
Kuceritakan
asalku, kuliah dimana, kegiatan selama di kampus ikut UKM apaan,..sesingkat
itu.
“What major
?” (aku lupa kalimat mereka nanya gimana)
“Mining Engineering.”
“So what do
you know about traditional mining in Central Borneo?”
Dengan
terbata-bata karena lupa nama alatnya kujawab sebisanya.
“You have
been here for 6 years, what you know about local culture here?”
Tertatih-tatih
kujawab pertanyaan ini, menyebut soal kehidupan di DAS dan hutan yang sangat
dijaga oleh masyarakat adat Dayak.
“What do
you think about our governor and president?”
See? Tidak
ada pertanyaan yang sama bagi semua peserta. Dan ini jenis pertanyaan yang
kalau dijawab aku tidak punya banyak kosakata.
“Why we
have to choose you?”
Sudah
seperti wawancara pekerjaan.
Well, aku
gak terlalu ingat jawab apa, tapi menyebut-nyebut soal pengalaman berorganisasi
dan itu adalah salah satu fokus program SSEAYP : leadership and corporate.
Ada
wawancara lagi setelah itu. Wawancara seputar agama dan kepemudaan. Pertanyaan
seperti agama apa kamu, ada berapa gereja katolik di kota ini, apa pengalaman
organisasimu, bagaimana kamu menjadi pemimpin, apa yang menjadi kelemahanmu
sebagai pemimpin.
Yang paling
membuatku gelisah tak karuan adalah tes kesenian daerah nanti malam. FYI, aku
menyiapkan tarian yang kupelajari dari Youtube hanya dalam tempo waktu yang
sangat singkat : semiggu.
Aku dan
Tiur sepakat untuk ganti pakaian di kosnya. Berhubung kami tidak mengerti soal
dunia per-make up-an, kami cukup beruntung karena tetangga Tiur bersedia
menanggungjawabi hal itu. Namun tat arias penari ini butuh waktu yang tidak
sebentar sehingga kami terlambat ke gedung Dispora. Panitia sudah ngomong dan
para peserta sudah duduk melingkar dengan kursi masing-masing.
“Yang baru
datang masuk langsung. Siapa namanya?”
Bagus.
Semua orang di ruangan ini akan tahu nama peserta 07 yang sangat tidak disiplin
waktu ini.
Malam itu
banyak yang menyanyi dan menari. Aku sangat lega begitu giliranku selesai.
Tidak apa-apa hancur dan kaku sama sekali, yang penting sudah lewat.
Aku banyak
belajar selama 3 hari itu. jangan pernah underestimate lawanmu hanya karena
menilai dari luarnya. Jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun, karena yang
membuat seseorang tersandung justru kerikil kecil. Aku sudah tahu tidak akan
masuk bahkan dalam posisi ke-3 untuk SSEAYP. Tapi,..
At least, I’ve tried my best.
Ini akan
jadi pengalaman dan pembelajaran di hari yang akan datang.
Aku sudah
memenuhi tugas KTP-ku yang kuganti tahun 2017 yang lalu.
![]() |
| [[PERDANA !!!! Setelah 6 tahun tinggal di Tanah Borneo]] Gadis Batak dengan kostum penari Dayak 😊 |
![]() |
| Partner in-Fight (Magdalena Hutabalian, Putri Lumbangaol, Tiur Simarmata) |
![]() |
| Demi apa yang ngambil foto ini amatir banget ya Lord, bisa gitu pas aku kedip, padahal kakaknya udah ganteng. 😡 Btw, itu namanya Kak Takdir alumni AIYEP (Australia) |
![]() |
| Para ladies peserta seleksi PPAN 2019 memperebutkan utusan Jepang dan Korea Selatan |
![]() |
| Para peserta dan Panitia PPAN 2019 |
![]() | |
|
![]() |
| Seluruh peserta PPAN dan KPN 2019 |






