Jumat, 25 Desember 2020

Merry Karismasu & Kilas Balik 2020

Mungkin salah satu indikasi sudah dewasa adalah anda tidak merayakan natal bersama orang tua dan saudara untuk waktu yang sudah lama,
Kesimpulan geblek memang, dari seorang pengangguran kayak awak.
Kalau diitung-itung udah dari natal 2013 sampai natal 2020 aku gak pernah merayakannya sama keluarga. 
Tujuh tahun, kalau itu anak manusia udah kelas 2 SD. 

Dimanapun anda berada, apapun yang saat ini sedang terjadi dalam hidup anda, lemaskan aja. Seperti kata salah satu lagu natal : 

'You better not cry
You better not pout
I'm telling you why
Santa Claus is coming to town

Tadi malam aku ibadah malam natal di HKBP. Padahal 162 meter dari HKBP ada gereja katolik. Hem, kurang eksplor emang. Tadi malam banyak umat yang disuruh pulang karena kapasitas gereja gak muat lagi. Aku yang datang sejam sebelum ibadah dimulai aja hanya kebagian aula, gereja penuh. 

Di dalam gereja posisi duduknya berjarak, harus selalu pakai masker. Yang bikin geli karena cuma tau satu lagu, 'Nunga jumpa muse ari pesta i'
Pulangnya terpaksa jalan kaki. Dekat sih, dari kosan hanya 600 meter. Naik gojek sayang, 15 ribu. Tapi jalan kaki malam di Jakarta seram juga, apalagi sendirian. Apalagi pake rok - heels. Apalagi.. 

Omong-omong soal jobseeker, sudah kurang lebih 42 hari semenjak punya pekerjaan terakhir kali. Selama 42 hari itu yang sudah kulakukan : makan - tidur -makan - tidur, oh iya, ikut tes TOEFL. Tapi hasilnya belum keluar. Bikin deg-deg an karena ..ah sudahlah. Padahal kalau skornya 500 pas aja, aku udah planning mau ngambil kursus jadi tutor bahasa inggris. Mungkin itu lebih baik daripada luntang-lantung.

Aku : Pagi admin, mau nanya ada kursus untuk tutor gak ya di LIA?
Admin : maksudnya jadi pengajar/guru mbak?

Loh? Tapi yaudah, bagus juga kalau ada lowongan jadi pengajar. 

Aku : Iya, admin. ada gak?
Admin : boleh kirim ke saya. Lengkap cv, surat lamaran ya. Minimal S1 semua jurusan.
Aku : Oke admin, thank u (nunggu hasil TOEFL dulu).

Senang banget waktu dia bilang S1 semua jurusan. Coba bayangin kalau dia bilang min S1 Sastra Inggris atau Pend. Bhs Inggris. Sekarang tinggal nunggu hasil TOEFL. Plis, berpihak lah padaku kesempatan...

Kalau skor TOEFL aja gak nyampe 500, terus jurusan juga non bahasa inggris, apa kata pihak lembaga bahasanya nanti?! 

Gak kerasa 2020 berakhir sebentar lagi. Rasanya baru kemarin memulai hari-hari pertama di bulan Januari. Tahun ini memang berat sih. Mau tau kronologi, bukan kronologi deh. Apa ya, hal-hal yang terjadi di 2020 ini buat awak.

1. Januari - cabut dari marketing di perusahaan eksportir stainless steel (mengawali 2020 pun ternyata aku udah gak bagus ya)

2. Februari - pulkam ke Samosir, stay for 1 month

3. Maret - balik ke Jakarta, numpang di kosan 'mereka'

4. April - Korona masuk Indonesia, banyak perusahaan yang PHK karyawan, boro-boro buka lowongan pekerjaan - aku masih numpang di rusun 'mereka'

5. Mei - training seminggu dari Home Credit, gak lolos ujian praktik akhir sebagai desk call/tukang tagih by phone, katanya kurang galak. Untung dapat uang saku 430 ribu yang cair 4 bulan kemudian. Dapat pra kerja dari pemerintah 400 rb/ bulan selama 4 bulan. 

6. Juni - bergabung ke perusahaan pialang/saham Cyber Future yang mana dari awal takut2 datang setelah baca pengalaman kerja orang lain di perusahaan pialang

7. Juli - Dapat klien orang India, CEO kaya yang rumahnya di Bogor. Kami meeting di kantornya

8. Agustus - Aku closing dari CEO India dengan nominal terbilang gede, meski ada kejadian kurang menyenangkan juga di sini (postingan sebelumnya)

9. September - Dapat HP Samsung A71 sebagai hadiah pemenang kontes di kantor yang diadakan bos bule, perdana dapat gaji 2 digit

10. Oktober - Konflik dengan 'mereka' di rusun, setelah membayar biaya selama tinggal bareng 'mereka', aku cabut nyari kosan di daerah Jakarta Timur setelah bilang ke cewek itu : "Eh, ini uang kosanku ya. Tapi JANGAN PERNAH bilang aku anak manja, karena kau gak pernah tau apa yg sudah kulalui." - SWAG to the MAX!

11. November - Gak tahan lagi liat muka si kampret di kantor, pamit sama bos bule dengan dramatis ; pamit jadi A.R.M.Y

12. Desember - Natal, Home alone. Eh, bukan. Kos alone. Selain itu akhir tahun ini juga setelah nonton youtube, sebuah tekad muncul lagi, buat nyoba beasiswa S2 ke luar negeri dengan beasiswa Chevening jurusan Sastra Inggris (semoga direstui Tuhan, Amin). Kapanpun, kalau ada kesempatan bakal kucoba. 

Ah. absurd juga hidupku di 2020 ini. Selain absurd penuh keajaiban dari-Nya (terima kasih banyak Tuhan Yesus). Gak kebayang gimana seseorang yang kerjaannya gak stabil kayak awak bisa bertahan hidup di kota yang buas ini. 

Kadang kuingin menamai diri sendiri sebagai 'The Nekad Jobseeker' karena beberapa hal. Kalau kisah itu dibikin novel komedi kira-kira bisa gak ya..,

Selamat natal, sudara-sudara sebangsa dan setanah air.. 
May God's Bless with you. 
Luph u,
MPH

(Loc : Mcd's Corner - Jkt Timur)
(Suhu tubuh : 36.2 derajat celsius)




Sabtu, 05 Desember 2020

When You Too In Love To Let It Go

 05 Desember 2020.

Sudah mendekati penghujung tahun dan hari ini usiaku 25 tahun 07 bulan 0 hari. 

Bagi sebagian orang, 2020 adalah tahun yang panjang. Sebagian lagi mungkin beranggapan tahun ini penuh berkah (masa iya?) karena tidak semua yang gelap membawa keburukan. Duh hancur banget kalimatku. Maksudku tuh, di balik sesuatu yang gelap pasti ada sesuatu yang menyenangkan. Karena setiap hal buruk yang terjadi, pasti berbarengan dengan hal baik juga (berlaku sebaliknya). Misalnya saat memandang langit gelap di malam hari, kalian pasti bisa melihat bintang dengan jelas. Itu karena langitnya gelap, makanya bintang kelihatan bersinar terang. Coba bayangkan kalau langitnya terang. Jelas bintangnya gak akan keliatan. 

Pemikiran tentang bintang itu sebenarnya kukutip dari salah satu leader keren dari grup yang saat ini sedang-sedang-sedang sangat-sangat-sangat bagus prestasinya. Mereka masuk nominasi Grammy Award, penghargaan musik bergengsi yang paling tinggi sejagad raya. Yup, BTS. Langit gelap dan bintang itu dari si leader, RM. 

Aku percaya dalam hidupnya seseorang pasti akan mengalami turning point atau titik balik. Titik balik sejenis dari positif ke negatif atau sebaliknya. Dari yang sebelumnya melarat jadi mulai sukses. Atau dari yang sebelumnya sukses lama-lama jadi dikucilkan masyarakat. Untuk usia mengalami turning point ini jelas beda-beda tiap orang. Kurasa turning point-ku sendiri sedang dimulai saat ini. Khusus buatku, turning point-nya mungkin gak soal karir atau keuangan. Tapi tentang menjadi fan girl. 

Per 30 November 2020, AKU RESMI MENGUNDURKAN DIRI JADI FANS MEREKA. 

Aku berhenti jadi ARMY. 

Bukan! Bukan karena mereka terkena skandal atau hal negatif. Kalau fans sejati jelas tidak akan mempermasalahkan hal begitu. Aku bersyukur sekali selama 4 tahun ini sudah mengikuti jejak mereka di media sosial. Hal ternekat yang pernah kulakukan selama jadi fans? Hahaha, kalian pasti akan terkejut. H-1 ujian compre skripsi, aku nekat ke luar kota demi nonton film dokumenter mereka. 

Tapi alasan pensiun jadi ARMY adalah karena kurasa ini saatnya fokus pada masa depan. Kau tau, aku tipe orang yang tidak bisa multitasking. Saat fokus pada satu hal, aku tidak bisa merencanakan hal lain. Saat fokus fan girling, mengagumi mereka di dunia maya, aku gak akan pernah bisa melakukan sesuatu untuk masa depanku. Memang harus ada yang dikorbankan. Karena aku masih sangat muda, aku tidak bisa mengorbankan masa depanku...

Meski tidak pernah mendaftar secara resmi untuk menjadi ARMY, aku malah membuat pengumuman di media sosial kalau sudah tidak menjadi ARMY lagi. IG, twitter, FB, WA. Sok orang penting sekali memang aku tuh.Sok ngartis juga. Tapi beberapa teman nanyain dengan heran. Mereka adalah orang-orang yang paham betapa gilanya aku soal BTS. 

Berikut punya announcement-nya : 

sokngartis.com

Tapi aku tetap berharap yang terbaik untuk karir dan kehidupan setiap member ke depannya. 

Hari pertama setelah melepaskan ke-ARMY-an itu sangatlah berat. Karena ternyata hampir semua aspek kehidupanku sudah kutempeli dengan mereka. Mulai dari nama hotspot dan password-nya, playlist di HP, akun-akun fanbase yang ku follow di ig (setiap buka ig, jadinya postingan tentang BTS yang muncul di timeline ig), akun official channel BTS di youtube, fan fiction yang kubaca di wattpad (tokohnya mereka semua). Bahkan kemarin sportify mengirimkan notifikasi tentang 'lihat apa saja yang kamu dengar di 2020'. Ketebak lagu yang paling sering kudengar tahun 2020 ini.. jatuh kepada BTS! Tau gak total berapa jam mendengar lagunya? 

Song I've listen the most goes to ...

daebak.com 129.6 jam ~ 130 jam !

Memang gak mudah untuk move on dari idola. Apa bedanya coba buat move on dari mantan. Tapi ingat, time is the best healer. Seiring berjalannya waktu, aku pasti terbiasa. Kumulai dengan unfollow semua akun-akun/channel youtube yang berhubungan dengan mereka supaya tidak dapat notifikasi lagi atau postingan di timeline, ganti nama hotspot, wallpaper HP/laptop/WA. Dibanding mendengar lagu mereka untuk menemani keseharian, kuputar lagu The Script atau Oasis. 

Aku belajar TOEFL dan setiap hari ke perpusnas. Ini sedikit membantu karena pulang dari sana aku lelah dan bisa langsung tidur di malam hari. Lelah lah, bawa laptop dalam tas sama buku soal TOEFL yang tebalnya ngalahin pantat badak bercula satu (semoga backpack NAMA ini awet sampai dapat kerjaan baru ya Lord). 

Dan hari ini, aku sudah mendaftar untuk ikut tes TOEFL ITP tanggal 16 di LIA Pramuka. 
Baru ingat, sisa hari sampai tes tinggal 11 hari. Pemahaman belum 80%..

Oh nooooo!

Bye, mau belajar dulu. 

(hujan di Mcd Pemuda Rawamangun - Jakarta Timur - 11.35 WIB)






Minggu, 22 November 2020

Dari Uniqlo sampai Steak

Menurutku ya, ngabisin duit banyak-banyak untuk beli barang bermerek atau makanan mahal itu adalah sesuatu yang memboroskan. Tujuan kita beli baju misalnya. Kan untuk menutupi tubuh aja. Terus kenapa ada orang (kaya) yang ngabisin duit belanja jaket yang harganya bisa buat uang semesteran adekku sampai lulus kuliah? (Btw adekku masih SMA) Atau ngabisin duit beratus ribu hanya untuk makan daging? Steak-lah misalnya. Kenapa coba? 

Kenapa?!

Hari ini aku tau jawabannya.

Jadi, hari ini aku ketemu sama senior di tempat kerja lama yang ternyata dia udah resign juga dari sana. Namanya Kak Astuti, orang Batak yang tinggal di Bandung. Awalnya sih sekedar say Hi aja, tapi lama kelamaan chat-an Kak Tuti ngajak ketemuan di MOI. Awalnya dia ngajak di Atrium Senen sih, tapi kubilang di MOI aja dan dia gak keberatan. Kebetulan di MOI aku mau nyari sesuatu. Apa itu? Jeng..jeng..jeng!


Yap, Uniqlo. Bacanya gimana sih? 'Unik loh', atau 'yuniqlo', atau gimana sih. Pokoknya Uniqlo ajalah ya kan. Aku tuh tau Uniqlo ini brand pakaian asal Jepang yang kualitas oke punya. Kenapa aku tau? Karena pernah 'mencuri' celana pendek bermerk Uniqlo milik adek kosan Butet waktu masih kuliah di Kalimantan. Celananya nyamaaaaaaaaaan banget di pa**at. Sejak itu aku memutuskan suatu hari kalau ada diskon di Uniqlo aku pasti beli.

Akhirnya hari itu pun datang juga. Gak sengaja scroll time line instagram dan liat postingan Uniqlo Indonesia 'Arigatoo Indonesia...' Tidak menunggu lama kumeluncur ke berandanya dan ... ya! Emang lagi ada diskonan untuk beberapa produk. Terus liat insta story-nya 'Belanja min 500 K dapat mug gratis', di bawahnya 'Selama persediaan masih ada'. Mug-nya warna hitam, ada pegangannya gitu sama tutupnya. Kece deh badai. Entah kenapa aku malah pengen punya mug-nya aja, ketimbang beli produk pakaian Uniqlo-nya. 

Of course aku ke MOI-nya naik busway. Dua kali ganti busway. Dan karena sama sekali belum pernah ke mall itu, aku nyasar dong. Malah ke area apartemen. Kak Tuti udah nyampe duluan dan nungguin di J-CO Hall 8.

Jangankan Hall 8, Kak Tuti. Halaman depan MOI aja belum ketemu nih..

Akhirnya setelah nanya sekitar 5x sama sekuriti yang berbeda ku pun berhasil mendaratkan pantat di kursi J-CO dimana Kak Tuti sudah nangkring duluan. Dia sudah pesan frappe avocado dan bebebrapa donat tersaji di hadapannya. Duh, gak mungkin awak gak mesan ya kan. Jadilah kumemesan Thai Tea size regular seharga 28 ribu. Alamak, mending minum teh manis aja di kosan. Tapi yasudah lah, biar hemat bayar pakai Shopeepay biar dapat cashback. Ternyata dapat gratis 1 donat juga. Hm, lezaaaat. Udah dapat gratis donat dapat cashback pula. Bayangin deh, bayar 28 ribu dapat cahback koin shopee sebesar 16.800. Jadi kalau dihitung lagi, awak cuma bayar 11.200. 

Waw kan..
Itulah salah satu tips bertahan di kala masih pengangguran seperti saya.

Kita pun ngobrol lama. Tentang kantor lama, tentang kisah lucu melamar ke perusahaan ini itu. 
Kak Tuti itu di perusahaan itu udah lama banget, 9 tahun hampir katanya. Gile ya, awak aja yang hanya mampu bertahan 3 bulan (lalu cabut diam2) udah ngos-ngosan. Lebih ke situasi kantor yang bikin gak nyaman aja sebenarnya. Kalau masalah gak capai target mah aing gak apa-apa diomeli. 

"Berarti kakak dapat pesangon 3 tahun gaji lah ya," kataku.
Dia ngakak.
"Lena, Lena. Kalau kayak gitu, gak bakalan ada karyawan yang mau resign. Maksudnya resign-nya nunggu umur 70-an lah, biar dapat pesangon 3 tahun gaji. Eh, enggak. Lebih. Kalau kerja 9 tahun dapat pesangon 3 tahun gaji, kerja 40 tahun dapat 12 tahun gaji."

Kami ngakak berjamaah.

"Terus kakak mau nyari kerja dimana apa mau pindah ke Bandung?"
"Iya, aku lagi nunggu interview sih yang buat penempatan di Bandung."

Selesai dari JCO, kami cus ke Uniqlo. Tentu setelah nanya sekuriti di lantai berapakah Uniqlo ini bertahta. 

Tiba di sana, uhm. Rame pake abis. Rame abis. Orang Indonesia memang kalau masalah diskonan pasti cepat. 
Dan mungkin aku satu-satunya orang di sana yang belanja 500 K hanya supaya dapat mug. Emang freak abis sih. 

Tapi nih penampakan mug nya, 


Keren, kan? Itulah yang terjadi. Awak yang biasanya kolor aja beli yang 10 ribu dapat tiga, tiba-tiba ngabisin duit beli baju sebanyak : Rp. 656.000 hanya supaya dapat MUG ! Padahal kalau aja otak awak berpikir rasional, kenapa gak beli mug-nya aja, gak usah harus belanja 500K dulu gitu, Zaenab! Tapi Mali, Mug-nya emang gak dijual. Cuma sebagai gift gratis aja dengan belanja minimal 500 K!

Di sana bahkan yang paling murah itu di harga 99.000 ribu, cuk. Wajar sih pengangguran macam awak terkejut terheran-heran dengan harga barangnya. Ber-merk, bagus gitu, wajar mahal. Yang biasal pake kolor 10 ribu 3 memang gak akan paham. 

Aku udah semangat ngantri di kasir. Tapi ternyata ...

"Mug-nya untuk persediaan hari ini sudah habis, Mbak. Kalau mau silahkan datang besok pagi jam 11.00 supaya kebagian," kata si cewek kasir.

Oh my... Perjuangan dapatin si Mug kupret itu gak mudah ternyata. Besok awak mesti datang lagi ke mall ini cuma buat nukarin struk belanjaan. 

"Yaudah, Lena. Kalau gak mau dapat mug-nya gak usah datang lagi besok. Gitu aja kok dipikirin," Kak Tuti mencoba mempengaruhi.

GAK!! 
AKU BAKALAN DATANG BESOK. BAHKAN KALAU PERLU JAM 9 UDAH DI SINI !!! DUITKU,, BAYI-BAYIKU YANG BERHARGA SUDAH BERKORBAN LEBIH DARI 500 K . MUG, LIAT AJA BESOK, KAU PASTI JATUH KE TANGANKU. HAHAHAH #ketawasetan
Itu struk belanjaannya yg besoknya ditukar dengan Mug



Selesai dari Uniqlo, kami ngacir ke Guardian. Di sini awak beli deodoran doang loh. Kayak sepele ya, padahal di indomaret dekat kosan kan bisa. Tapi udahlah, mumpung di sini sekalian. 

Lanjut ke Gramedia, Kak Tuti nyari2 sesuatu, aku numpang bikin insta story.

Lanjut ke Sport Station, Kak Tuti beli kaos, aku numpang selfie. Kami selfie. 

"Aku pengen makan daging lah, " Kak Tuti.
"Daging apa, Kak?"
"Babi."
"Emang ada di sini?"
"Enggak sih, paling .. steak aja yok?"

Steak? Apa itu? Demi kolor spongebob, steak adalah sesuatu yang tidak lumrah di telinga ini. Dan karena gak mungkin nolak juga, kami pun akhirnya mendarat di Steak 21. Kirain bioskop doang yang ada '21'-nya. 

Pas buka menu, unchhh... tersentil ginjalku! Gak ada yang harga 50 ribu, cuk. 87 ribu lah paling murah. Sirloin Premium 150 gr. Supaya gak tersedak, minumnya kupilih iced lemon tea - 24 ribu. Belum sama pajak itu loh ya, 10%. Belum makan aja udah stress duluan awak nih. 

"Tingkat kematangannya?" tanya si masnya.
Demi menghindari kenyataan belum pernah makan steak, kujawab : "Mateng aja, Mas."
"Well done," timpal Kak Tuti. 

Ya itu deh, pokoknya. Duh cara makannya gimana tuh nanti. Pasti ada garpu sama pisau kan, ya?!

Untung ada Kak Tuti.

Ternyata makan steak itu gak ada nasinya ya, baru tau hamba. Nasi diganti sama jagung ini : 





Sama ada bonus kentang gorengnya.

Oh iya, biar dapat cashback lagi bayar pakai shopeepay lagi. Lumayan cashback 10 ribu.

Selesai makan, kami pun pulang. 

Jumat, 20 November 2020

Ide Konyol yang Terlintas Sepintas

 Katanya ide itu datang kayak hantu. Gak diundang, datang. Eh itu mah jelangkung ya?!

Pokoknya gitu deh. Jadi sebelum keburu lupa, aku mau torehkan di sini aja. Numpang ya, blog nya siapapun ini. Ehem.


Ceritanya tentang siswa kelas 12 SMA dengan segala problematika mereka dalam berusaha untuk lulus Ujian Nasional dan masuk perguruan tinggi negeri. Gak semua juga sih. Cerita akan berfokus pada dua kubu cewek yang merupakan fans fanatik boyband asal Korea Selatan, A.R.M.Y (fandom BTS) vs EXO-L (fandom EXO). Bukannya berkutat dengan buku kumpulan soal-soal, mereka malah sering perang dingin menjagokan idolanya. 

Butet (sebut aja dulu demikian), adalah siswi kelas XII IPS 3 yang kebetulan cinta mati sama BTS. Apapaun dia lakukan supaya bisa terhubung dengan BTS, mulai dari memalak anak-anak cupu di sekolah, main serong sama pelanggan toko souvenir ibunya atau restaurant BPK bapaknya. Butet ini anaknya slengean (kok kayak gue sih ujung-ujungnya. Duh) dengan rambut yang selalu berantakan. Hobinya naik sampan di Danau Toba. Ya selain mengikuti BTS di dunia maya. Oh iya, tadinya Butet itu anak IPA, tapi pindah ke IPS setelah semester berjalan 3 bulan. Menurutnya ilmu pasti tidak cocok untuknya. Ia lebih suka menemukan yang belum pasti. Pulang sekolah Butet naik sampan dan memunguti sampah yang berseliweran di danau. Ya, itu dia lakukan kalau pulang sekolah gak ada yang ngajak tawuran. Cita-cita Butet lulus SMA : keliling dunia dengan uang tabungan hasil malak-memalak.

Lisbet, teman sepenanggungan Butet. Mereka adalah ketua dan wakil dalam kubu fandom BTS. Saling melengkapi. Kalau Butet slengean, maka Lisbet sangat penuh perhatian dan terorganisir dalam melakukan sesuatu. Cita-cita Lisbet : bikin agensi entertainment. Cita-cita Lisbet bersama Butet : nonton konser BTS. 

Benjamin, dia adalah sahabat sehidup semati Butet. Mereka kenal sejak SD. Ibarat Butet sepatu kanan, maka Ben adalah sepatu kirinya. Ben tinggal berdua dengan neneknya yang berjualan sayur di pasar. Ben punya anjing peliharaan yang diberi nama dengan salah satu member BTS (yang bikin kesal setengah mati si Butet) - Suga. Ben juga sangat menyukai menggambar dan anak-anak. Cita-citanya : Masih bingung antara mau jadi dokter hewan atau dokter spesialis anak. Iya, hobinya memang gak nyambung dengan cita-citanya . Ben anak IPA, tapi satu-satunya yang dia pintar adalah menggambar organ tubuh. 

Luis, Anak baru yang pindah ke sekolah mereka. Luis ini anaknya nackal-nackal ngangenin. Lidahnya setajam silet kalau menghina. Tapi dia baik kok, dia hanya kurang belaian eh, kasih sayang. Dia anak orang kaya, tinggal dengan bapak yang selalu sibuk dengan bisnis. Luis punya pengalaman kecil kurang baik dengan ayahnya (yang juga penyebab ibunya meninggal waktu dia masih SD). Bapaknya punya hotel besar yang terkenal di pinggiran danau Toba (Butet pernah coba manjat pagar hotel dari atas sampannya di danau, tapi ketahuan sama si Luis). Pada akhirnya bapak si Luis ini bakalan jadi tokoh antagonis karena dampak bisnisnya ke Danau Toba. Cita -cita Luis : jadi pianis terkenal. 


(Tokoh-tokoh lain akan segera meluncur, dengan cita-cita dan problema anak SMA-nya. Aku juga mau masukin karakter beberapa guru SMA-ku dulu yang kalau diingat-ingat sekarang bikin ngakak). 

Latar belakang tempat : 

Untuk mempermudah dalam penggambaran visualisasi, aku mau coba backgorund tempatnya di pinggiran Danau Toba. Wkwkwkwk. Tapi serius, ini tokohnya gak ada yang kayak aku kok. Beneran. Meski ada BTS-BTS-nya atau Dananu Toba, sama sekali bukan tentang kisah SMA-ku.

Aku cuma mau mengembalikan memori ke bangku SMA aja. Maksudnya mengenang masa-masa SMA dulu melalui tulisan ini nantinya. Dan perjuangannya. Awak dulu mah, mana pernah mikirin masa depan. Tapi kalau di cerita ini nanti para tokohnya punya mimpi masing-masing, dan mereka punya kisah jatuh bangun dalam mewudujkannya. 


Judul???


Hm, itu yang paling sulit. Dulu SMA-ku dijuluki 'Sijambur'. Tapi letaknya di pedesaan kok.

Nah, untuk cerita ini nanti kira - kira kalau judulnya "Sijambur City" keren gak ya?!!


Kamis, 12 November 2020

I Lost My Obsession For Money

To be honest, gue orang yang fair play. Selama alasannya sudah jelas dan masuk akal, gue akan menerima itu dengan tenang. Gak akan menuntut lagi. Yang begitu kan, fair play ya?!

Hari ini adalah batas maksimal komisi telemarketing ditransfer. Dan gue udah bilang sama bos Charli kalau mau cabut begitu terima komisi. Tapi berhubung kemarin ada insiden pembobolan di kantor yang mengakibatkan beberapa laptop hilang (termasuk laptop Oskar dan Carol), sepertinya akan ada penundaan. Tapi ternyata dugaanku salah. Jam 10 an lebih dikit, iseng-iseng ngecek m-banking .. triiing! Udah ada aja dana yang masuk. Eh, tapi kok gak sesuai sama yang diajukan? Kurang banyak ini.. Kurang 2 jutaan. Mana besok mau cabut lagi.. Oi, Oskar, what do you mean?!

Segera gue melapor ke Pak Charli yang barusan aja masuk habis training anak baru. 

"Pak, saya komisinya kurang."

"Kurang banyak? Makanya cari deposit lebih gede lagi!"

"ihh. Bukan, bos. Ini tuh gak sesuai kenyataan..eh gak sesuai yang kita ajuin kemarin di kertas."

"Masa sih?!"

Gue dan bos Charli pun sepakat akan menanyakan hal itu lewat Ola, si translator. Untung gue langsung cegat dia sebelum keburu pergi ke kantor polisi. Gak lama kemudian setelah si Ola melapor, Pak Charli dipanggil masuk ke ruangan Oskar. Gue deg-deg an. Berharap besar si Oskar emang salah transfer. Lumayan atuh 2 jeti, bisa beli teh poci (maksa amat rima-nya).

Kirain si bos Charli bakalan lama di dalam. Sekilas mereka duduk berdua di dalam tuh kayak rentenir sama kontraktor. Si bos Charli tentu yang jadi kontraktornya.

'Bray, lu coba deh. Yang bulan Agustus lu nerima berapa? Komisi redep yang 670 juta ternyata udah dibayar sama itu. Gak mungkin kan dua digit kemarin cuma bonus komisi FD lu yang 100 juta?"

"Gak lah, Pak. Saya udah itung sama si Natan kemarin per bulannya. Redep Agustus sekian. Redep September sekian. Gitu. Yang baru ditransfer itu komisi redep bulan September. Agustus belum nerima saya."

Tiba-tiba si Oskar datang nyela, "to my room."

Duh, si Ola malah ke kantor polisi pulak. 

"So, begini Mister. I count the redep comission each month, August, September. I have receive the September. But August not yet. I and mr Charli think maybe will be transfered on the next month."

Bodo amatlah ya, berantakan.

"If you have the problem, you should come to me on that month. No need to wait untill next month. Ok? Now I will check it on my historic transfer," kira-kira gitulah dia ngomong.

Kami berdua meninggalkan ruangan si Oskar. Kembali beradu argumen dengan bos Charli, apakah dua digit yang gue terima pada Agustus itu sudah termasuk komisi redep bulan Agustus atau belum. 

"Kita hitung ulang ya," Pak Charli.

"Bonus deposit 100 jt, sekian. Bonus one shoot, sekian. Bonus tiga akun, sekian. Tuh kan belum dua digit, bray. Berarti benar, emang udah sama komisi redep itu."

Tiba-tiba gue tersadar, bener eh. Kaming dah, malu-maluin. Tiba-tiba satu tim gue ngakak so hard sambil nge-bully gue. "Eh Lena, udah salah ngitung malah nuntut ke ruangan si Oskar."

Gelak tawa belum reda waktu si Oskar suruh gue lagi ke ruangannya. Lama-lama berasa simpanannya gue, keluar-masuk ruangannya dia. Wkwkwkwk. 

"I've check it, and already transferred."

"Yes, Mr Oskar. It's done. Thank u."

Masih ngakak so hard di meja tim Ferrari dengan gue sebagai objeknya. Akhirnya gue mengeluarkan pembelaan. Ini pasti sangat sangat mempan sekali. 

"Yee, maklum lah. Gede banget soalnya komisinya. Emang kayak lu pada? Deposit cuma di bawah 20 juta, hahahaha."

Tuh kan,, 


GAK MEMPAN!

Mereka masih mem-bully gue. Yaudah lah, gak apa-apa. Besok juga gua bakalan cabut dari sini. 

-------------------------------


Gak pernah membayangkan hari ini akan datang.

Hari dimana gue akan cabut dari kantor yang baru 5 bulan gue didalamnya (kalau itu kandungan, paru-paru aja belum terbentuk sempurna kali ya) melenggang dengan swag meninggalkan ruangan Oskar seolah bermakna 'Hei, gue keluar dari kantor ini dengan terhormat ya, pernah deposit - malah jadi Best Telemarketing on August - komisinya 2 digit, dapat HP Samsung A71 pulak' ke orang-orang lain di kantor itu. Buat si Bangsul yang udah pernah memperdaya gue? Hm, biar Tuhan yang menentukan. Lagian sehari sesudah kejadian dia perdaya gue, iphone 11-nya jatuh di lift. Kabarnya sih gak bisa dipake lagi. Itu iphone atau jelly, kok langsung bengek gitu..

Perdana, malamnya gue nulis surat pengunduran diri. Heran, kok air mata gue gak netes ya? Atau rasa sesak di dada kek dikit. Ini malah gak ada. Gue malah dengan excited mempersiapkan apa yang akan gue bilang ke Oskar besok seandainya dia nanyain kenapa gue out. Untung ada google translate. 

Oskar : Why?

Gue : I lost my obsession of money.

Oskar : Are you kidding me? Yesterday you come to my room and asked for your comissions - yang gak masuk padahal udah lu ajuin? *Anggap aja ini si Oskar udah pinter speak in bahasa. 

Gue : It's a ..a..

Duh. Jangan sampai mati kamus dong. Ayo, Lena. Lu harus resign dengan SWAG. Tydack boleh lemah!!!

Padahal kan, si Oskar lagi kesusahan. Kantor habis dibobol. Laptop dia, laptop Carol, laptop HRD sama laptop si Ola dicuri. Gak cuma itu, bahkan ber-box tisu yang udah di-stock juga lenyap. Gak ketinggalan kopi, gula, obat dari laci, beberapa CPU dan LCD juga diambil. Uang dalam box yang dibuat depan meja HRD juga lenyap. Padahal itu kotak amal. Itu belum seberapa mengejutkan dengan mengetahui pencurinya. 

Pencurinya adalah leader yang baru join 1 bulan lebih dikit di kantor. Dia diajak oleh Oskar sendiri. Entahlah bagaimana keduanya ketemu. Gosip anak-anak sih di cafe gitu. Yakali Oskar main di cafe, club malam dia mah!

Tanpa ditanya pun, bisa kita simpulkan bagaimana kondisi hati Oskar saat ini. Dikhianati oleh orangnya sendiri. Orang yang dibesarkannya dengan tangan sendiri, ehm maksudku orang yang direkrutnya sendiri. Belum lagi kalau dia tau salah satu telemarketing terbaiknya akan resign. Ehem. #betulin kerah baju.

"Lu tega emang Kak Len?" -Winni. Tuh bocah ngikut gue buat cabut juga. 

"Kenapa gak tega?"

"Enggak aja. Dia sendirian gitu, Mr Carol gak balik-balik. Mukanya gue liat kusuuuuuut banget."

Hem, si Winni ngakunya kesemsem sama Carol. Tapi Oskar juga kayaknya. 

"Heh, gini ya. Waktu kejadian si Bangsul memperdaya gue, Pak Charli nanyain dia. Kata si Bangsul lu tau gak apa. Gue cuma menjalankan perintah. Ban**at banget gak. Perintah siapa lagi kalau bukan si bos bule berdua itu."

Winni diam. Laju motornya gak cepat-cepat amat, tapi kenapa rasanya kayak kantor jadi lebih dekat dari biasanya.

-------------------------------------------

Kami ngelantai di toilet cewek, setelah balikin kartu akses sama HRD. Nunggu jam makan siang, baru masuk ke dalam. Pamitan sama semua orang. 

Gue udah merangkai lagi kalimat alasan yang bakal gue bilang ke Oskar.

Oskar : Why?

Gue : I just think that money is addictive. And all addictive thing is dangerous. I'm a weak creature. When someone addictive for money, they will do everything to get it. Include hurt their friend or more than that. And I don't wanna be like that, Sir. 

Gue menghafal-hafalkan kalimat itu dalam benak supaya nanti bisa gue lontarkan dengan SWAG di depan muka Oskar. Meski gue tau, Pak Charli tadi pagi pasti udah ngasih tau perihal gue cabut karena mau ngikut kakak ke Batam. Tapi gue gak akan menyebutkan itu, karena terdengar lemah. WEAK!

Jam makan siang, orang-orang pada turun makan. Tinggal beberapa tim Ferrari yang bawa bekal dan makan di dalam. Salah satunya Mbak Dwi, si pemenang kontes motor.

"Yaah, gak ada Winni lagi dong yang nanti ngupasin buah kalau makan siang."

Winni cuma bisa ketawa. Gue nimpal, "Jadi Mbak, si Winni di kantor ini fungsinya cuma buat ngupasin buah pas makan siang ya. Hahaahaha."

"Sama bawain laptop Pak Charli kalau meeting di ruangan sebelah," timpal Bella - sepupu Winnie.

"Nanti tugas itu diwariskan ke si anak baru kayaknya."

Satu jam gak kerasa anju. Jam makan siang udah habis. Saatnya pamitan ke ruangan Oskar. 

"Lu yang ngomong duluan," gue ke Winni.

"Lu aja." - Winni

Kamfret. 

Gue perlahan mengetuk pintu kaca itu. Gile. mukanya kusut amat. Itu muka atau kain dari jemuran.

"Mister Oskar, we want to say goodbye."

"What happen to you?" -Oskar

I just think that money is addictive. And ..

"Nothing. I want to take my time."- Gue.

What the heck are you doing Lena. Lu barusan terdengar sangaaaaaaaaat LEMAH!

Gue gak tega.


Beneran.






Sabtu, 07 November 2020

On The Way (OTW)

Salah satu impian gue adalah jadi penulis. 

Jadi bisa dibilang blog ini adalah salah satu bentuk latihan untuk meragkai kata demi kata untuk membentuk kalimat. Tepatnya sih latihan buat bacot dalam bentuk tulisan. Meski tiap hari ketakutan akan masa depan menghantui, kumencoba tegar. Cari kerja di Jakarta, apalagi pekerjaan yang enak hampir sama dengan menyalakan sumbu lilin yang basah. Harus di coba bakar agak lama dulu biar sumbunya kering, baru setelah kering dia akan menyala. See? Dia menyala kan, meski butuh waktu. 

Tuhan sayang banget sama gue, gue yakin itu 1000%. Setelah setahun di Jakarta dan melewati berbagai hal tak terduga dan masih bisa bertahan di kota yang kejamnya ngalahin ibu tiri ini. 

Setiap ingat impian itu, gue selalu berpikir ungkapan 'Tuhan Tau Tapi Menunggu' lah yang selalu membuat gue bertahan meski gak punya satu pun sanak keluarga di kota ini. Istilah lainnya : On The Way (OTW). 

Hm, daripada bahas yang melo-melo, mending bahas soal bos di kantor aja. 

Aku udah pernah bilang kan, soal bos bule di kantor yang dua orang itu. Satu bos Carol yang mirip aktor yang main di 365 Days, satu lagi bos Oscar yang mirip Adam Levine di klip Memories. Jelas siapa yang hot dan diidolakan di kantor. Sayangnya si bos Carol udah menikah dan punya anak yang kata mba Dwi imutnya minta ampun. Dari segi kematangan emosi juga bos Carol menang. Mungkin karena emang Oscar lebih muda 5 tahun. Dia seumuran gue dan udah jadi direktur aja. Lha gue? Masih pontang-panting tanpa kompas. 

Oh iya, ini gak dosa kan, gosipin atasan di postingan ini?! 

Bodo amatlah ya. Kalau semisal dia baca juga, emang dia mau apa. Toh yang kutulis di sini bukan hoax. Absulotely facts

Sudah bulan baru aja. November Rain, kalau Pak Charli bilang. Dia sudah menyusun strategi terbaru lagi supaya bulan ini tim Ferrari bisa dapat closing-an lebih banyak dari tim lain. Tapi aku sudah memutuskan : begitu terima komisi (paling lambat tanggal 10), aku akan cabut. Jadilah menunggu sampai tanggal 10 itu aku ogah-ogahan nelpon. Kadang pura-pura ngomong sambil nempelin HP di telinga. Padahal aslinya aku ngomong sendirian. Mana gak ada yang curiga lagi. Jangan-jangan bakatku jadi actress ya!

"Kak Len..." ini Winnie. Dia juga pengen cabut, tapi gak jelas. Bisa-bisanya dia galau. Mungkin dia berat nanti gak bisa liat Mr. Carol lagi. 

"Apaan?"

"Lu udah fix mau cabut kak, habis nerima komisi?"

"Menurut lu aja? Gue masih betah gitu, ketemu si Bangsul yang udah memperdaya gue di kantor ini? Plis Win, cukup dua bulan gue nahan-nahan sesak nafas tiap liat muka dia. Itu aja kemampuan gue."

"Tapi lu belum dapat kerjaan baru, kan?"

Memang belum. Gimana mau dapat, nyari aja belum, Yakali kerjaannya datang menyodorkan diri ke depan mata awak. Tapi memang gak ada niat nyari kerja baru juga sih. Begini lah efek salah dari dasar. Coba dulu SMA gue belajar yang benar, mikirin jurusan kuliah yang sesuai bakat. Mungkin saat ini gak perlu ketemu si Bangsul di perusahaan broker.

"Kayaknya belum mau nyari kerja baru dulu, Win. Lu juga lulusin kuliah dulu aja kenapa. Malah kerja.."

"Ladies, why you are not calling?" 

Entah sejak kapan si Oscar udah di belakang kami berdua. Menjulang kayak pohon kelapa, aku dan Winni yang jadi pasirnya. 

Kami berdua buru-buru sok sibuk. "Selamat pagi. Dengan bapak Katimin..Perkenalkan Pak, saya Lena.." Acting-ku berjalan mulus. Si Oscar kembali masuk ke ruangannya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Banyak telemarketing lain yang gak serius nelpon. Beberapa ada yang ngobrol juga dengan teman di sebelahnya. Jadi kenapa hanya kami yang ditindas???

Apa dia punya dendam sama awak? Perasaan ngobrol aja gak pernah. Terakhir cuma masalah kontes Samsung A71. Itu pun gak ada masalah.

Seperti hari ini, sorenya (ini belum pernah terjadi sebelumnya) 5 menit sebelum jam pulang, dia mengumumkan yang belum dapat 20 KYC tidak boleh pulang. KYC itu data klien yang sudah lengkap : alamat, pekerjaan, pengalaman investasi, nomor WA. 

"We will stay till night."

Kupandangi kertasku, baru berisi 13 KYC. Kulirik kertas Winni : 17 KYC. 

Pala lu lah Oscar!!

Tepat jam 5 sore, satu per satu pulang. Yeah, mereka sudah dicek sama si Oscar. Tinggal kami ber.. ber berapa ya, oh iya. Ber 5 : aku, Winni, Pak Charli (sebagai leader yang bertanggung jawab), Oscar dan pacarnya. FYI pacarnya lokal punya, dengan kulit eksotis kayak kulitku. Rambutnya panjang amat. Kalau kapal kekurangan tali buat tambatan di dermaga bisa tuh pake rambut dia. 

Bukannya menyesal, kami berdua malah cekikikan senang. Rasa-rasanya seperti sedang dihukum di sekolah karena ribut di kelas dan disuruh menuliskan permintaan maaf. 

--------------

Briefing tim adalah saatnya Pak Charli mencak-mencak kalau ada yang bikin dia kesal. Meskipun itu sangat jarang terjadi karena beliau lebih sering bikin kami ngakak dengan pernyataan konyolnya. Kalau pun mencak-mencak, pasti di akhir ada aja sesuatu yang bikin kami ngakak. Ini adalah salah satu hal yang akan kurindukan jika sudah cabut dari kantor ini kelak.

"Saya jangan dijadikan tumbal ya. Saya gak mau tuh pulang di atas jam 5 karena ada anak buah saya yang belum lengkap KYC-nya. Si bos kan, emang gitu. Suka tiba-tiba ngecek. Makanya tiap hari tanpa menerka-nerka dia bakalan ngecek atau enggak sorenya, lu fokus aja dapatin 20 KYC tiap hari. Jangan kayak Lena sama Winni."

Hening. 

Semua pada dengerin dengan serius.

"Dri, Lu Ndri udah 3 bulan gak deposit. Bulan ini kalau lu gak deposit-deposit juga, besok lu pake baju adat ke kantor."

Satu ruangan ngakak terjungkcal...

"Lena juga jadi ikut-ikutan tuh -"

Kena lagi!

"Saya kan gak nuntut harus seratus juta, lima puluh juta. Nama lu ada di papan aja, udah. Itu saya udah bangga, kalau nama anak buahnya bejejer di papan. Kalau semua udah deposit di tim Ferrari, kita bisa party!

Yeah, bos Charli emang leader yang beda dari yang lain. Selalu ada bonus di tim ini. Akun demo yang paling banyak profitnya aja dapat hadiah. Yang absennya 0 juga dapat reward. Apalagi yang paling banyak deposit. 

---------------------

Bos Carol udah seminggu gak masuk. Kata Pak Charli sih dia lagi di Bali - liburan. Jadilah si Oscar gak betah di ruangannya. Dia bolak-balik keluar masuk ruangannya yang berarti kami tidak punya celah untuk ngobrol barang sedikit pun. 

Selain emosi yang meledak-ledak, bos Oscar ini juga suka dadakan. Aku udah pernah bilang kan. Nah kali ini dia mengurangi jam istirahat kami. Biasanya di hari Jumat, karena ada sholat Jumat jam 11.30 udah break. Tapi begitu jam 11.25 dia muncul dan mengeluarkan pengumuman dadakan. Ola si transalator udah stand by di sampingnya.

"Sudah tiga hari ini semua saham-saham teknlogi naik. Tapi di papan hanya ada 1 nama yang baru deposit. Kenapa? Where the deposit? Lena?"

Anju!

KENAPA GUE LAGI YANG KENA, plis. 

Bulan lalu gue masih jualan ya, Oscar. Meski gak gede, tapi ada nama gue di papan. Ada kurang lebih 3/4 dari jumlah total telemarketing di ruangan ini yang gak deposit bulan lalu. Dan lu nanya ke gue, where the deposit?

R U OK??!!

Lu semakin memantapkan langkah gue buat cabut...

"On the way, Sir," kujawab singkat. 

Siang itu kami disuruh nelpon lagi sampai jam 12.00. 











Selasa, 20 Oktober 2020

The Naked Jobseeker

 Dari awal kedatangan awak ke Jakarta adalah sebuah kenekatan. Nekat! Kalau dicari artinya dalam KBBI, nekat adalah : terlalu berani (dengan tidak berpikir panjang lagi) ; tidak memedulikan apa-apa lagi (karena putus harap, hilang akal, dsb). 

Lagi pula ini bukan kenekatan pertama yang pernah kulakukan. Banyak sekali kenekatan-kenekatan lain yang sudah terjadi. Berangkat kuliah ke kalimantan mungkin salah satunya. Ngambil jurusan teknik pertambangan mungkin salah duanya. Dilanjutkan dengan berangkat ke luar kota H-1 ujian skripsi. H-1 SKRIPSI loh ya! Malah keluyuran di CGV Banjarmasin demi nonton film dokumenter world tour concert BTS. 

Disinilah aku terdampar, ngekos di pinggiran kota Jakarta. Telemarketing adalah pekerjaan yang mau menerima pencari kerja dengan kategori : semua jurusan, keterampilan berkomunikasi dan mampu bekerja dalam tekanan. Untung tidak ada syarat berpenampilan menarik. 

Perusahaan pialang memang tidak mencetak duit. Sewa gedung dan gaji karyawan adalah hasil deposit para telemarketingnya. Kalau dipikir-pikir memang pekerjaan ini simpel. Tugasnya hanya menelpon. Hanya. Tapi jangan salah. Menelepon justru menguras banyak emosi positif dalam diri dan meninggalkan emosi negatif. Itulah mengapa pagi hari datang ke kantor wajah masih fresh, begitu jam 5 sore muka kusut kayak headshet digulung-gulung dalam tas. 

Kebanyakan ditolak.

Siapa bilang mudah meyakinkan orang untuk mendepositkan uangnya dalam jumlah cukup besar hanya dari satu dering panggilan? Tanpa tau wajah si penelpon, dimana kantor brokernya, penipu atau enggak sih, malah itu pasti yang menghantui si calon klien.  Ditambah lagi dengan keadaan pandemik saat ini, orang-orang pasti mengutamakan kebutuhan pokok. Investasi saham jelas kebutuhan tersier. 

Enak kalau punya banyak relasi orang kaya. Suruh aja dia kirim dokumen, terus buka akun, terus transfer depositnya. Pasti meyakinkannya lebih mudah, dibanding meyakinkan orang yang nomornya  baru sekali nelpon. Tiap bulan deposit. Tiap bulan dapat komisi + allowance aman. 

******************

Sebagai orang yang cukup tau diri dengan skill background S1-ku, aku pun melamar di pekerjaan sejenis marketing. Always marketing. Seperti yang kusebutkan di atas, karena dialah yang mau menerima semua jurusan. Tak disangka kemarin diundang interview di sebuah perusahaan yang namanya cukup unik. PT. Sem**lan Benua. Posisi yang kulamar : Digital Marketing.

Tanpa izin dengan team leader-ku di kantor, aku berangkat ke sana. Aku sudah minta tolong ke teman bilang sakit aja kalau beliau nanya. 

Informasi untuk perusahaan yang ku-apply dari website kemnaker itu tidak banyak di internet. Di sana disebutkan bahwa perusahaan itu bergerak di bidang media agency yang membantu perusahaan-perusahaan lain untuk mengembangkan bisnisnya melalui media branding. Dalam pikiranku aku yakin itu perusahaan periklanan, yang tugasnya bikin iklan. Tapi ternyata aku salah besar.

Dengan sedikit petunjuk dari satpam, aku berhasil menemukan lokasi kantornya. Ada 7 orang yang menghadiri interview hari itu. Karena takut nanti ditanya 'apa yang anda tau tentang perusahaan kami', aku pun buka google. Tapi di sana malah kuketikkan : berapa jumlah benua?

Geblek memang. Tapi jangan salahkan aku. Daya pikirku memang hanya sebatas itu. Lagian nama perusahaannya kok sem**lan benua. Pas ketemu kucari di internet, benua cuma ada 7. Begimane sih!

Tak lama kemudian aku dipanggil masuk. Pewawancaranya cowok usia sekitar 30-an .. mungkin?

"Silahkan duduk."

"Terima kasih."

Aku diberi waktu memperkenalkan diri selama 10 menit. Nyatanya tak sampai 3 menit, aku udah selesai. Sesingkat dan sesederhana itu diri ini . Wkwkwkwk. Oh ya, kusebutkan tentang prestasi Best Telemarketing on August-ku itu.

"Berapa komisinya kemarin?" tanyanya.

"Ehm,, lumayanlah, Pak."

Kok malah nanyain itu?!

"Ada yang mau ditanyakan?"

Lohh??????

"Oh iya. Jadi Pak, perusahaan ini bergerak di bidang periklanan?"

Beliau membenarkan posisi duduknya. "Bukan. Kita punya beberapa produk yang harus kamu tawarkan ke klien."

"Beberapa?"

"Iya. Ada robot trading, properti, travel agent, dll. Kamu kan dulu di perusahaan pialang tuh. Sangat bisa klien di perusahaan sebelumnya ditawari robot trading."

Oh No!! Masih ada bau-bau trading/pialang lagi. Beliau menjelaskan panjang lebar bagaimana mendapatkan komisi, beberapa trik menawarkan produk ke nasabah supaya closing, dan segudang motivasi hidup lainnya. Tau-tau beliau sudah nanya kenapa aku gak nyari pekerjaan sesuai ilmu sarjanaku, apa rencanaku ke depannya, kenapa mau jadi marketing.

"Hidup itu gak selamanya berjalan sesuai keinginan kita. Saya pun harus bertahan hidup, jadi disinilah saya sekarang."

"Kalau bisa sih, Pak saya mau buka travel agent di kampung saya yang sekalian punya tour guide. Kebetulan kan, daerah saya itu daerah pariwisata. Kalau bapak tau Danau Toba."

"Ya marketing ini kan pekerjaan yang ada target-targetnya. Sudah jelas apa yang menjadi motivasi kita juga pastilah bonusnya yang besar."

Beliau hanya mendengarkan. 

"Kenapa kamu mau keluar dari pekerjaan sekarang? Padahal kan kemarin dapat closing-an cukup besar ya."

Sudah kuduga ini pasti ditanyakan. 

"Saya ingin mencari tantangan baru, Pak. Saya masih muda. Orientasi saya bukan uang, melainkan pengalaman."

"Memangnya pengalaman itu bisa kasih makan?"

"Pengalaman tentu saja bisa menghasilkan uang, Pak."

"Berarti kalau kamu disuruh kerja tapi gak digaji mau ya? Kan katanya cari pengalaman aja?"

Duh!

"Gak masalah, Pak. Asalkan saya diberi uang transport dan uang makan."

Beliau tersenyum. "Itu kan uang juga."

"Tapi kan yang saya terima bukan gaji. Hanya pengganti transport, Pak."

Perdebatan sampai disitu. Beliau bertanya kapan aku bisa mulai join.

"Sebulan ke depan, Pak."

"Gak bisa dipercepat lagi?"

"Di tempat saya harus mengajukan resign minimal sebulan, Pak."

Kemudian beliau menuliskan sesuatu di atas CV-ku. 


Aku meninggalkan ruangan itu.


Apa-apaan yang terjadi hari ini??!!

Aku gak masuk kerja hari itu hanya karena interview di posisi yang sama, dengan jobdesk yang sama pula??? Cari klien????


Huft. 


Tuhan, aku mau belajar TOEFL aja. Biar skornya bisa mendingan. Biar bisa lamar di tempat lain yang mensyaratkan skor TOEFL sekiannnn. 


Minggu, 18 Oktober 2020

80 % Masalah Manusia diselesaikan oleh UANG

 "80% permasalahan manusia diselesaikan dengan uang," begitu kata Pak Charli saat briefing pagi sebelum tim mulai calling.

Beliau berkata demikian tentu untuk memotivasi kami supaya lebih bersemangat mencari deposit.

Mungkin ada benarnya. Bayar tagihan listrik, air, internet, biaya makan, pendidikan anak (buat yang udah punya), bayar sewa tempat tinggal, belanja, liburan. Semua butuh uang alias duit alias hepeng alias money!

Tapi ingin kubalas, 'Bapak jangan salah, 90% permasalahan manusia juga disebabkan oleh UANG !'

Kuakui Pak Charli (nama panjangnya Charles Parulian) adalah sosok team leader yang keren. Tidak hanya memotivasi kami dengan analogi-analogi yang kadang mengocok perut, beliau juga care dengan tim. Ferrari adalah satu-satunya tim di kantor yang langsung makan ayam geprek kalau ada yang baru deposit. Yang bayar jelas beliau. Pak Charli, tidak seperti leader tim lain (kayaknya) yang akan ribut di grup WA mengirimkan sesuatu bahkan meskipun sudah jam 23.40 atau baru jam 04.00 subuh. Berita pasar saham luar, yang sekiranya mengandung sentimen positif yang perlu kami sampaikan saat adu argumen dengan klien. 

Berada di tim Ferarri memang bikin pintar ngeles. Salahkan yang ngajarin. 

Seperti yang terjadi kalau ada calon klien minta jaminan berupa BPKP atau sertifikat rumah. Padahal hal itu jelas-jelas bertentangan dengan aturan perdagangan berjangka.

"Pak, jaminannya begini saja. Kalau semisal bapak tidak profit, saya ganti jumlah uang bapak yang rugi. Tapi kalau ternyata profitt, profitnya buat saya semua. Bagaimana? Terdengar cukup adil, kan Pak?"

Biasanya calon klien langsung ketawa atau mematikan sambungan telepon. 


Hari ini genap 4 bulan sejak aku join dengan perusahaan. Tiap hari selalu motivasi uang yang ditekankan kepada para telemarketing. Kalau lu dapat deposit gede, maka komisi yang akan lu dapat gede. 

Nyatanya, makin kesini semangat nelpon klien berangsur-angsur berkurang. Aku maksudnya. Tidak menutup kemungkinan memasuki bulan kelima semangat mencari deposit ini akan benar-benar lenyap. 

Apa ya, selain insiden 'pencurian klien' yang kualami bulan Agustus lalu, aku juga tidak merasa bisa bekerja lagi dengan visi dan misi perusahaan. 

Kita punya pemikiran berbeda soal uang!


Selasa, 29 September 2020

Pinjam 20 ribu?

 Gara-gara pemprov DKI memberlakukan psbb lagi (katanya kali ini lebih ketat, padahal masih banyak kerumunan manusia di kafe), kantorku membagi jam kerja jadi dua, shift pagi dan siang. Udah jalan tiga minggu ini, tim-ku Ferrari masuk pagi. Masuk jam 8 pulang jam 12.30. Biasa nyampe di rumah sekitar jam 15.00 an lah. 

Meski di rumah disuruh buat nelpon database lagi, aku gak demikian. 

Paling dibilang, 'Ya, keadaan lagi pandemic gini, Mbak.'

Untuk alasan seperti itu Pak Charli mengajari kami untuk memberi argumen :'Justru keadaan begini, Pak. Bapak join di saham teknologi. Gara-gara psbb banyak yang WFH, sekolah online, hampir semua aktivitas tatap muka diambil alih dengan kegiatan online, bersandar pada teknologi. Ini momen yang pas untuk bapak bergabung.'

Tapi yang kuhadapi adalahorang Indonesia. Susah diajarin, apalagi merubah pandangannya terhadap sesuatu. Mereka cenderung berpikiran keyakinannya lah yang paling benar. Yang lain salah!

Si bule Iran yang kemarin sempat kuajak untuk join saham perusahaan tempatku kerja. Tapi jawabannya : I don't have money sukses membuatku ngakak. Sebenarnya aku baru menanyakan, belum mengajak malah. Tapi udah ditolak duluan. 

Dua hari sebelumnya aku yang nolak dia. Hahahah. 

Bule : Hi, Lena. How are u today.

Me : Hi. I'm good. Otw home. What r u doing?

Bule : Just arrived from Pluit. When we can meet?

Mulai gak enak nih firasat ...

Me : I dunno. No place open because of pandemic. (padahal ada, maksudnya gak bisa nongkrong)

Bule : You can come to my apartment, Lena.

WHATT??????

Me : Saya gak biasa main ke apartment orang yang baru saya kenal. 

Bule : Ok.


Anehnya, beberapa menit kemudian aku ngerasa kok kayaknya terlalu kasar udah ngomong begitu ke si bule Iran. Gimana kalau si Farzad gak ada niatan aneh-aneh, pure ngajak ke apartmentnya buat main aja. Tapi ya, main apaan cewek di apartment seorang cowok bule dewasa yang baru ditemuinya sekali?!

Makanya kubalas lagi : Sori ya, Maybe kalau psbb sudah berakhir, kita bisa ketemu. Dia balas : ok. 

----------------

Karena pulang siang, panas matahari pun tak terelakkan. Pake payung pun rasanya tetap ditembus sama panasnya. 

Tadi siang gak sengaja ketemu bapak-bapak di halte busway yang keliatan kebingungan. Pas aku lewat, si bapak nanya. 

"Mbak, bisa pinjam uang 20 ribu?"

WHATT??????

Karena takut dia orang jahat, aku pun langsung nolak bilang gak punya uang cash. 
"Dompet saya tadi dicopet, Mbak di halte jembatan merah.'
"Iya, tapi maaf pak, gak punya uang cash."

Aku bergegas meninggalkannya. Ia tampak kebingungan. 
Duh..
Bantu gak ya..

bantu-
enggak-
bantu-
enggak-
bantu.. shut!

"Bapak mau kemana? Pulang ke rumah?"
"Bukan, Mbak. Tempat kerja. Saya kerja di percetakan. Ini udah terlambat, harusnya masuk jam 1."
"20 ribunya buat naik gojek?"
"Iya. Saya biasa naik dari gojek yang mangkal dekat halte ini. 20 ribu ke Pasar Sumur Batu."
"Oh gitu, yaudah saya pesankan gojek aja ya Pak."

Kucari Pasar Sumur Batu. Eh ternyata gak semahal itu kok, cuma 13 ribu. 

"Pak, ini sudah saya pesan. Pasar sumur batu, kan? Saya udah bayar pake gopay, jadi nanti bapak gak perlu bayar lagi ya sama mas ojeknya."
"Makasih banyak, Mbak. Makasih banyak."
"Iya, gak apa-apa Pak."

Kami turun dari jembatan halte. Begitu tiba diujung halte, si gojek udah nyampe.

"Kak Lena ya?"
"Iya. Yang ke pasar sumur batu kan, Pak?"
"Iya."

"Oke Pak, naik aja Pak. Hati-hati ya pak."
"Terima kasih ya,Mbak," kata si bapak lagi sambil mengenakan helm yang diulurkan si mas gojek. 
Kubalas dengan menganggukkan kepala. 

Kupandangi sampai gojek itu berlalu . 

Kubayangkan bapakku yang mengalami kejadian seperti si bapak tadi. Beliau kebingungan di halte busway, antara mau pulang ke rumah atau jalan kaki ke tempat kerja.

Kutarik nafas lega. Aku senang, meski sederhana ortuku tinggal di kampung aja. Di kampung kehidupan masih aman dari pencopetan. Masih erat kekeluargaan. Dan yang paling penting masih ada lahan kosong yang bisa ditanami singkong. Daripada di sini..

Satu-satunya yang gak berbayar di kota ini adalah udara, koreksi : udara kotor. 

Senin, 21 September 2020

Bule dari Iran

 Emang benar kali ya.

Kalau punya pekerjaan pastikan itu adalah sesuatu yang sesuai dengan hobi, supaya kalau bekerja rasanya bukan sedang bekerja. Melainkan melakukan hobi, sehingga tak pernah terasa membosankan.

Bisa dibilang aku sudah gak respek lagi dengan pekerjaan saat ini. Orang-orang yang di dalamnya juga penuh dengan kepicikan. Bekerja di sana membuatmu hanya akan memikirkan uang. Uang, uang dan uang. Tak akan punya nurani lagi. Tikung menikung kawan, dari 'pencurian' database. Mengklaim klien kawan sebagai klien sendiri. 

Cukup sudah. Aku mu*k!!

Untung jam kerja hanya setengah hari, jam 13.00 kami sudah pulang. Dilanjutkan yang shift dua sampai jam 17.00. 

Seperti biasa aku naik busway koridor 1 Blok M - Kota. Di halte Harmoni banyak penumpang yang turun. Aku bisa merasakan bus sudah sepi. Tiba-tiba seorang duduk di kursi sampingku. 

"Permisi. Kalau halte Kota masih jauh?"

Kok logatnya .. 

Kulirik ke samping. Bule toh. Tapi bukan logat british atau amerika.

"The last stop is Kota," meski dia nanya dalam bahasa, entah kenapa aku memaksa menjawab dalam english. 

"Kalau Pluit?"

"From Kota you take busway heading to Penjaringan.." (heading = tujuan. Benar gak sih?). Lagian kenapa gak speak bahasa aja awak.

Si bule mengangguk. 

Aku kembali fokus dengan HP. Di bus, hanya ada tiga penumpang. Satu lagi bapak-bapak yang duduk persis di depanku. Agak horror sih. Gimana kalau ini strategi hipnotis terbaru? Tapi masa iya busway Transjakarta gak aman lagi??!

Kulirik si bule di sampingku. Kayaknya gak cocok penjahat. Ajak ngobrol ah.

"Traveling in Indonesia?"

"No. I'm stay."

"How long you have been here?"

"2 years."

"Where do you work?"

"Serpong."

"What company?"

"Textile."

"Oh," Aku reflekmenunjuk-nunjuk baju yang kupakai. 

"You wanna go to Pluit now?"

"Yes, meet my friend. You work?"

Iya, tapi setengah hari.

"A half day, because of pandemic."

"Where are you going now?"

"Home. I wanna sleep."

"Where do you live?"

"Kemayoran."


Entah kenapa awak jujur-jujur aja ngobrol sama si bule ini. 


"What do you do on weekend?"

"Me? Of course sleep. Beside the pandemic is not good. Stay home is the best choice," kataku. 

"Yeah. Maybe we can going somewhere on weekend. I don't have friend here."

"You said you want to meet your friend?"

"Yeah, I mean I don't have Indonesian friend. He is my Iranian Friend."

Oh, sampean urang Iran. Pantesan logatnya beda. 

Akhirnya kita udah sampai di halte Kota, tinggal antre bus.

"Maybe I can save your number?" ask the bule.


Kusempat perang batin. Kasih tydak ya? Terakhir kali aku chattingan sama bule, dia malah nanyain bdsm. Kampret gak sih. Waktu itu aku masih di bawah umur. Masih anak kuliahan.. 


"Of course."

Dengan santai kuketik nomorku di HP-nya. OMG. What I've done?!


"What's your name?" ask bule.

"Lena."

"Ok Lena."

"What's your name?" kutanya.

"Farzad."

"Ok Farzad, if you want to go to Pluit you have to wait here. The bus will come."

"Oke, nice to meet you."

"Nice to meet you to. Bye -"


Aku pergi ke antrian lain, bus yang akan membawaku ke arah Sunter. 

Ternyata si Farzad ngirim sesuatu ke WA. Foto 3 ekor kucing yang lagi tidur di jalalanan.


They tired to waiting for the bus.


Kubalas : Sleeping is the best.

dia balas : Because you like sleeping.

Kubalas : Hahahah.

Dibalasnya dengan emoticon jempol.


Kenapa aku gampang akrab sama orang ya???

Atau sok akrab.


Selasa, 15 September 2020

Struggling, You Have My Word...

 First of all, selamat buat siapapun anda yang mampir (tersesat) ke blog ini. Blog ini memang tempat curcol perasaan pemiliknya. Aneh ya, lebih nyaman curhat sama medsos beginian daripada sama makhluk hidup bernama manusia. Tadinya juga privasi blog ini kukunci, supaya gak ada yang bisa akses. Tapi udah dua minggu ini dibuka untuk umum. Aku malah mencantumkan link-nya di bio instagram. Yeah, I think something wrong with my brain. 

Apa ya, .

Cuma ingin didengar aja (dalam hal ini dibaca) !

Seakarang kupaham mengapa mahasiswa dan rakyat melakukan demonstrasi ke jalanan atau gedung DPR. Itu karena tidak didengarkan itu sakit rasanya. 

Bulan ini genap setahun gue merantau di Jakarta. Gila ya, waktu cepat amat berlalu. Baru kemarin rasanya HP awak dicopet di Blok M. 

Udah mau setahun tapi kerjaan juga belum tetap. Belum bisa kirim uang ke ortu. Malah kadang masih ngemis sama kakak yang udah punya anak. Miris amat hidup. 

Kabar terbaru dari kampung adalah ortu baru berhasil jual sebidang tanah dengan harga fantastis - 100 juta. Bapak gue emang jago marketingnya dah. Closingnya gak nanggung-nanggung. Lah anaknya? Jadi marketing di perusahaan pialang malah diperdaya seseorang bernama Bangsul. Ckckckck.

Tadinya gue mau minta uang ke bapak, tapi kayak gak pantas. Apalagi gue dapat kabar kalau adek cowok yang kuliah di Banten dikirimin buat beli motor baru. A*s gak tuh bocah. Kuliah gak kelar-kelar malah minta dibelikan motor. Nyusahin banget emang. 

"Bergaya lah sesuai dompetmu. Jangan nyusahin ortu, kalau gak bisa membahagiakannya. Minimal jangan nyusahin," kata gue dari WA. BTW uang hasil jual tanah itu sebagian besar dipakai bapak buat bagusin rumah Nenek yang udah lama tinggal sendirian. Jadi bapak gue lagi sibuk2nya martukkang (baca : jadi ahli bangunan). Adik laknat memang, dia malah matikan teleponnya terus kirim pesan suara. Kesal gue, sok sibuk banget tuh bocah. 

Balik lagi ke kejadian sehari-hari di kantor. Setelah beberapa hari kejadian 'pemberdayaan' si bangsul (baca postingan sebelumnya), aku diperbolehkan menghadap si bos bule ke ruangannya. Iya, face to face. Rasanya gue jadi semut di depan meja dia. Bahkan bulu idungnya bisa gue liat karena posisi duduk gue yang lebih rendah.

Harusnya sih langsung buka sesi percakapan. Tapi tiba-tiba si Ola, translator keluar dari ruangan itu menyisakan gue dan si bule. Duh, akward. Antara aku, kau dan bulu idung.

"Can I sit here?" Setelah berucap demikian gue sadar pronounciation sit-nya kurang tepat. Demi apa tadi kedengaran 'shit' = omong kosong.

"Yes, of course." - Oscar. Si Carol di meja lain dalam satu ruangan yang sama, tapi dia kayaknya lagi sibuk. Gak peduli. 

"So, english is your national country?"

Mampus, SALAH! Maksudnya aku mau nanya 'your national language'. Kenapa bahasa Inggris gue jadi kesana-kemari sih? Ola, balik cepetannnn!!

"I'm sorry, I mean your national language?"

"No, it's Polandish (entah, gak nangkap dia ngomong apa. Yang jelas bahasa Poland lah bahasa ibunya).

"Oh I see."

"You can speak English?"

"Not so much, Sir." 

Ini bener gak sih jawabnya gini kalau mau bilang 'sedikit-sedikit'? Gak mungkin 'little-little', kan. Untung si Ola saat itu udah balik ke ruangan. Dimulailah curhatan gue ke si bos bule dan diterjemahin kalimat per kalimat sama si Ola. Sekali lagi gue merasa dijajah. Entah kenapa. 

Si Oscar menjelaskan kalau dia gak tau si bangsul ngelarang gue ikutan meeting berikutnya dengan si klien India. Iyalah, elu gak tau. Atau mungkin seandainya pun lu tau, lu bakalan ngedukung bangsul kan? Secara dia orang yang paling lama mengabdi ke lu. Dibanding aku anak kencur ini. 

"You know Sir, because of this situation, I can't winning the Samsung Contest. I should get deposit 250 million, right?" -gue nanya dengan nelangsa. Saat itu juga, si bos Carol langsung nimbrung. Kacau, logat Poland-nya kental amat. Dia memang speak english, tapi gue gak ngerti apa-apa yang dia bilang. Even single word!

"Ngerti, Gak?" -Ola.

Aku jelas menggeleng. Si Ola langsung membantu. "Katanya dia bakalan ngasih HP-nya kalau Lena bisa dapat satu akun lagi, gak peduli itu entah deposit berapa pun."

Wihh. 

Bangsul juga sih. Analoginya, gue udah kejepit tangga nih, malah dipatuk ular berbisa. Benar-benar dah.

"You have my word." -Oscar.

"Okay, Sir. I'll do my best. Thank you for the curhat session." Gue meninggalkan ruangan itu.


-------------

Atasan gue, Pak Charli, demi meringankan sakit hati gue yang udah parah ini, dengan senang hati sudah memberikan satu kliennya ke gue. Gue bunyikan bel dan nulis jumlah deposit di white board. Ya, meski sebenarnya sebagai tim leader persen komisi dia pasti lebih besar dari anak buahnya. Misalnya anak buahnya gak deposit, dia allowance-nya juga dipotong. Anak buahnya deposit, dia dapat komisi juga. Lebih gede malah.

"Apa kata si bos?" -Pak Charli.

"Untuk Samsung contest-nya, kalau saya bisa cari satu akun lagi, berapapun nominal depositnya gak masalah, HP-nya akan diberikan ke saya."

"Tuh kan, saya udah bilang."

Udah bilang??? Bilang apa???

Massalah terbesarnya adalah waktu yang diberikan si bos bule hanya sampai hari Jumat minggu ini. It means , aku punya waktu 4 hari lagi. Baiklah, mari kita buktikan bahwa seorang Magdalena akan mengeluarkan the best part of her!

Kuawali semuanya dengan masang status di WA. Gambar screen shoot-an kenaikan saham hari itu. Gak lama, ada yang komen. Teman masa kuliah yang sekarang (beruntung) kerja di perusahaan tambang.

Dia nanya, 'Cara join gimana?'

Gotcha!!!

Langsung dah kutelepon pake nokia tune milik kantor. Yakali pakai pulsa sendiri..

Singkat cerita dia setuju untuk join. Udah ngisi form dan kirim dokumen pelengkap yang dibutuhkan. 

Aku di samping si anak IT buat ngisi data-data form klien baru itu saat si bos Carol lewat. 

"Open a new acoount?" 

Senyumnya manis kali. Coba aja belum nikah lu, bos..

"Yes, Sir."

"Deposit today?" -tanyanya lagi.

"Uhm, maybe tomorrow. So, about the contest.. It doesn't matter the nominal of the deposit? Seven million?"

Bos Carol mengangguk, "It doesn't matter." Mungkin dia berpikir, 'Ini cewek ngotot banget pengen dapat HP. Apa HP-nya udah gak berfungsi lagi? Atau dia gak punya uang untuk beli sendiri'.

Sering gue ngerasa bos Carol lebih dewasa dalam mengatur emosinya dibanding bos Oscar. Atau karena perbedaan usia? Mereka dengar-dengar beda 5 tahun. Bos Carol juga lebih berwibawa. Kalau dia yang speech pagi-pagi sebelum mulai bekerja, dijamin deh semua telemarketing cewek betah berlama-lama dengerin. Gak usah nelpon, speech aja teross!

-------------------------

Ada yang bilang masa depan adalah misteri. Benar banget. Seperti yang gue alami.

Si Temen kuliah itu udah jadi buka akun dan deposit uangnya 7 juta ke akunnya tersebut. Tapi sama dia uangnya ditarik lagi. Alasannya : dia dapat peringatan bakalan di-cut dari perusahaan tempatnya bekerja. 

What the...

Sebagai cewek yang sedang belajar untuk dewasa, gue gak mungkin maki-maki dia. Bagaimanapun dia juga gak tau bakalan terjadi peng-cut-an di perusahaannya. Tapi gak bisa dibilang juga gue gak kecewa. Secara, gue udah bunyikan lonceng dan menambahkan jumlah deposit di papan. 

Semua orang dengar

Semua orang baca

Semua orang tau

Kalau sampai si bos bule salah paham, mengira ini settingan gue doang sama si teman kuliah - kan gak agus. Nama baik gue bisa tercoreng abis-abisan. Cuma biar bisa dapat HP Samsung A71 doang, dia rela main kotor. SORI.. Gue gak kayak si bangsul yang udah perdayain orang. Masih punya ya, saya. Sesuatu yang disebut akal sehat dan nurani. 

Dan seperti yang dikatakan oleh kepala sekolah Hogwarts, bahwa 'Pertolongan selalu diberikan kepada mereka yang membutuhkan'. Gue teringat dengan ortu di kampung yang baru closing.. uhm, maksudnya jual tanah. Gue gak langsung nelpon bapak, harus melalui sekretarisnya dulu - Emak. 

"Kira-kira bapak mau gak ya, Ma? Aku bukan minta, tapi minjam. Pasti Kubalikkan." 

Gue nelpon emak dan bilang begitu dengan perasaan campur aduk. Entah lah, sebagai anak yang sudah dikuliahkan, harusnya gue ngirim uang ke kampung, bukan minta uang. Dalam hal ini 'minjam' uang.

Seperti biasanya, emak dengan penuh kelemah-lembutan akan meyakinkan anaknya yang pecicilan ini, dengan bahasa yang siapapun tidak akan berani menolak permintaannya. Dan bisa ditebak, sebelum gue nelpon bapak, emak pasti udah kabarin bapak duluan.

Malamnya bapak gue nelpon, tapi gue gak berani ngangkat. Pengecut amat ya. I'm truly feel like a looser, yang merepotkan ortunya. Baru kemarin gue sindir-sindir adik cowok yang kuliah di Banten karena dia beli motor hasil minta uang ke ortu. Tapi ternyata beberapa waktu kemudian gue juga ada di pihak yang menyusahkan ortu.

Sejujurnya kenapa gue pengen banget kontes ini dimenangkan oleh gue, terlepas dari HP Xiaomi yang emang udah suka mati sendiri. Ada sejenis PERASAAN tidak mau DIREMEHKAN dalam diri gue, yang berontak gue harus BERHASIL memenangkan kontes ini. Seolah-olah kontes ini ajang PEMBUKTIAN gue ke si bos bule dan orang-orang kantor yang beberapa pasti tau ketidakadilan yang gue alami. Pembuktian ke si bangsul yang pengen gue LENYAPKAN dari muka bumi.. 

Pak, Mak,..

Uangnya pasti akan Lena balikkan. Lebih besar. You have my word.


Love,

Your daughter





Minggu, 30 Agustus 2020

Perseteruan dengan orang yang tidak punya kecerdasan EMOSIONAL

Manusia diberikan tiga jenis kecerdasan oleh Tuhan. Kadang satu kecerdasan lebih menonjol dibandingkan yang lain. Bisa jadi hal itu berbahaya. Misalnya seseorang punya kecerdasan intelektual yang menonjol, tapi kecerdasan emosionalnya merosot. Seperti seseorang yang kukenal di kantor. Sebut aja namanya 'Bangsul'. 

Si Bangsul ini adalah orang yang menemaniku meeting dengan klien di Bogor. Menurut peraturan kantor, jelas itu klienku karena aku yang pertama kali canvassing dengan beliau dari database kantor. Tapi entah karena kurang beruntung, si Bangsul memanfaatkanku mentang-mentang aku anak baru yang masih polos. Dia menghalalkan berbagai cara supaya aku tidak ikut meeting di hari-hari berikutnya hingga si klien India ini deposit. 

Pada hari si Bapak India itu deposit, Bangsul sengaja hanya menampakkan bukti transfer 100 juta di grup WA. Padahal di hari itu, klienku tersebut deposit 350 juta. Ya, dia mengklaim 250 juta lagi adalah miliknya. 

Aku jelas protes. Hal pertama yang kulakukan adalah protes kepada tim leader. Tapi Pak Charli malah memintaku untuk tetap tenang dan mengikuti rencana beliau.

"Lagian kita tidak ada bukti, Len. Berapa pun klien kamu itu deposit, kita tidak tahu. Bangsul memang sudah merencanakan ini dari awal. Tapi percayalah, otak picik seperti itu tidak akan kemana."

Aku membunyikan lonceng tanpa semangat, mencatat nama di white board dan menulis jumlah deposit. Hanya ada tiga nama di papan yang baru mendapat deposit, aku salah satunya. 

Menurut Pak Charli, kasusku ini seandainya dibawa ke ruangannya bos bule Oscar atau Carol juga gak akan berhasil. Lagi-lagi karena bukti transfer yang tidak kumiliki. Mau minta sama klien itu? Tidak yakin bakalan dikasih. Dari awal meeting kedua dia juga pasti dicuci otaknya sama si Bangsul kampret. Bisa aja dia bilang, 'dia itu anak baru, Pak. Udah sama saya aja.'

Padahal kalau dihitung-hitung, total yang kudapat (seandainya Bangsul gak main kotor) ; 17.000.000


Iya, segitu. 


- keesokan harinya, jam makan siang -

Si Bangsul gak ngantor. Hal ini seolah menguatkan fakta kalau ia bersalah. Dia memang bersalah, karena udah menikung aku, kan? Bangke sekali dia tidak masuk. Tangan dan mulut sudah gatal ingin bereaksi. 

"Len, masa lu rela deposit lu ditikung si Bangsul?" Bang Ayub membuka percakapan. Siapa sih yang rela juga. Kubalas dengan mengangkat bahu malas.

"Coba SMS saja si Bangsul. Pertanyaan begini, 'Bangsul ternyata klienku deposit 350 juta ya?' Ini kan di papan baru kutulis 100 juta. Aku nambahin di papan aja ya, gak usah bunyikan lonceng lagi?'"

Ide ini dari Bang Febri, orang batak yang mahir ngomong pake 'lo-gue'.

Kukeluarkan HP dari saku dan mengirimkan WA persis seperti ide Bang Febri. Setelah terkirim, kami kembali mengobrol tentang lowongan pekerjaan di broker lain. Iya, udah tau dapat klien yang mau deposit susah, malah nyari kerjaan di broker lagi, broker lagi. 

Kulirik layar HP-ku yang menyala tanda ada WA masuk. Setelah dicek, ternyata dari si Bangsul. Tapi pesannya sudah dihapus tanpa sempat kubaca. 

Anj**g banget ya. 

Setelah jam makan siang berakhir, Pak Charli dipanggil Oscar ke ruangannya. Mereka hanya mengobrol sebentar. Begitu keluar dari ruangan Oscar, Pak Charli mengajakku ke ruangan meeting.

"Jadinya sisa yang 250 itu dianggap redeposit," katanya begitu pintu dibelakangku tertutup.

"Apa?"

"Jadi redeposit."

Hatiku mencelos. Persen untuk redeposit sangat kecil, hanya 0.5%. Dibandingkan kalau 350 juta itu terhitung sebagai deposit awal dikalikan 4%.. Duh! Bangke banget si Bangsul. Pengen cakar-cakar mukanya sampai hancur gak berbentuk.

Sisa hari itu kulewati dengan hati tidak tenang. Alih-alih menelepon, kurangkai kata-kata yang tepat untuk membalas perbuatan si Bangsul yang tidak punya kecerdasan emosional itu. Kayaknya waktu sekolah dia selalu cabut saat pelajaran PKn dan Agama. 

'Jadi begini ya, caramu nyari uang? Memperdaya anak baru yang masih belum tau banyak. Kau kira aku bakalan diam, hah? Kau gak pantas dibiarkan. Sampai ketemu besok di kantor. Oh iya, aku lupa. Kau kan pengecut, mungkin aja besok gak masuk.'

Pesan itu kukirimkan hari Minggu pagi. Aku lupa besok itu libur 17 Agustus. Bodo amatlah, yang penting terkirim. Tentu cuma di-read tanpa balasan. Kan sudah kubilang dia itu pengecut. 

Gak puas sampai disitu, kukirim juga pesan ke si bos Oscar. Tadinya mau minta translator kantor yang bantuin, berhubung WA-ku gak di-read, jadilah kumanfaatkan google translate : 

Good afternoon, Sir. Sorry for bothering your weekend. I am Magdalena. I still remember clearly how I phoned the client, he did seem interested and asked to meet him soon. If that day I never called him, maybe there will be no next meeting or even a deposit. Of course I am not saying 100% is my effort the client deposits today, because there is a support team in it.

I know you talked to Mr. Charles the other day about this, but I still don't think it's fair. I am a new kid at the office, but I feel that this is not quite right. I don't demand 100%. If you wish, maybe we can discuss it in the office on Tuesday with full personnel.

Thank you.

Terlihat kontras isi dua pesan yang kukirim ke Bangsul dan Oscar. Ke si Bangsul jelas pesan berisi sindirian bahwa dia itu pengecut. Ke si Oscar lebih ke curhat atas perlakuan kurang adil yang diterima. Kurang dari 20 menit, si Oscar udah balas : 

Hello Magdalena, of course we can always talk, keep the spirit on Tuesday and Wednesday and next Monday I guarantee You that we will figure it out, I always pay my people for the work they did, good that You are texting me, I will figure out some bonus for You that you will like it. Have a good weekend and keep the spirit

Kubalas : Ok, thank you Sir. Have a good weekend👌

Semoga si Oscar gak omdo = omong doang !

Sekitar jam 2 sore, ada telepon masuk dari Pak Charli. Wih, gak enak nih perasaanku. Jangan-jangan ...

"Len, saya kan udah bilang urusan dengan Bangsul udah kelar. Saya juga udah bilang kan, nanti akan bantu kamu. Saya ada klien yang mau deposit 50 juta, nanti saya kasih ke kamu biar HP-nya bisa buat kamu.'

Ada perasaan menggelegak yang membuncah di dada ini begitu beliau ngomong demikian.

"Pak, saya diperlakukan tidak adil. Saya ditipu, Pak -"

"Kamu bukan ditipu, diperdaya iya. Hati-hati dengan ucapan, salah-salah kamu malah bisa dituntut balik kare-"

"Gak peduli saya, Pak. Itu kantor memang gak jelas. Tidak jelas batas tugas telemarketingnya sampai dimana, tugas retention sampai dimana. Kejadiannya malah begini, kan? Ada retention yang melarang telemarketingnya ikut meeting dengan kliennya sendiri. Saya tau, itu kebodohan saya. Makanya saya makin marah."

"Kamu percaya sama saya. Oscar kan udah bilang sisanya jadi redeposit, bukan deposit awal. Kamu tau gak, WA kamu ke Bangsul itu dia ngadu ke Oscar. Oscar nge-WA saya. Hari Selasa deh kamu liat ya. Kan saya udah bilang, percaya sama plan yang saya rencanakan tap-"

"Maaf, Pak. Saya udah gak bisa percaya sama siapa lagi di kantor. Gak ada yang bisa dipercaya lagi orang-orang di sana. Mohon maaf kalau bapak tersinggung. Mungkin Selasa saya masuk hanya mau kasih surat resign. Udah gitu aja."

"Len, jangan mengambil keputusan di saat emosi kamu gak stabil. Yang ada nanti malah penyesalan, Len. Kamu ikuti aja arahan saya dulu, tetap masuk seperti biasa sampai gaji dan komisi dibayar."

Tut.

Kuputus sepihak. Apa-apaan Pak Charli itu. 



------------------



Kamis, 20 Agustus 2020

Malam Minggu Penuh Petualangan


Malam minggu kali ini lebih malam minggu daripada biasanya. Bukan karena ada yang ngapelin. Tapi karena beberapa kejadian random yang aku alami bersama si kampret Meika. Iya, dia cewek. Pertemanan kami sudah dimulai semenjak SMP. Kurang lebih sudah 10 tahun aku mengenalnya. Dia udah tau busuk-busuknya aku, demikian sebaliknya.

Petualangan kami dimulai ke PGC. Ada teman semasa kuliah yang minta tolong dibelikan sampel kaos cowok untuk dikirimkan ke Kalimantan. Katanya dia mau buka toko baju eceran gitu. Nah, sesuai namanya PGC – Pusat Grosir Cililitan kesanalah aku dan Meika berangkat. Tapi ternyata nama itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

“Namanya aja itu mah, Mbak. Di sini eceran semua. Saya sudah 12 tahun jualan di sini tapi gak ada tuh grosir pakaian atau grosiran apapun,” kata seorang bapak penjual kaos cowok.

Iya, tadinya aku mau beli kaos sampelnya dari penjual grosiran aja supaya lebih murah. Eh, malah begitu kejadiannya. Tapi kita berdua gak menyerah. Langsung menuju lantai 3 buat mencari lebih teliti lagi.

“Gak di sini mah, Mbak. Kalau grosiran kaos paling di pasar Jatinegara,” begitu kata penjual kaos anak-anak.

“Pasarnya buka sampai jam berapa biasa, Bu?”

“Jam 4 sore.”

Demi saat itu sudah jam 14.33, aku dan Meika bergegas turun mengejar pasar Jatinegera masih buka. Tapi kami malah dicegat mbak-mbak berjilbab dari belakang dan diberi tiket beli barang gratis katanya. Tepatnya dipaksa.

“Kita lagi buru-buru, Mbak,” jawab Meika. Aku mengiyakan di belakang. Muncul cowok ganteng temannya si mbak itu. “Gak apa-apa, gak lama kok Kak. Sebelah sini gerainya kita.”

Gak apa-apa gimana, udah dibilang lagi buru-buru ngejar pasar Jatinegara tutup. Entah karena kasian nolak atau kami berdua yang terlalu ogeb, jadilah kami berdua dibawa ke tokonya dan didudukkan di atas kursi plastik rendah mirip kursi anak TK. Mulailah ditanya-tanya sama si mbak jilbab ini tentang nama dan tempat kerja. Sempat-sempatnya dia nanya ada lowongan gak di tempatku. Setelah itu dia nunjukin barang-barang yang masuk kategori kebutuhan tersier dalam kamus hidupku. Barang-barang seperti : sliming suit, i-care buat mata minus, alat catok wajah, happy call, head band pengurang lemak, dll. Dia pun nanya kira-kira mana barang yang paling pengen didapat.

“Ya kalau sesuai kebutuhan saat ini sih paling yang buat mata minus itu,” kuilang. Sementara Meika nunjuk wajan happy call. Padahal dia belum emak-emak perasaan. Kemudian aku diminta pilih sekumpulan amplop yang katanya berisi berbagai hadiah. Asal ambil, ampolp itu disuruh kubuka. Tampaklah kupon hadiah bertuliskan ‘potongan 900 ribu’.

“Kak Lena mau ngambil produk apa?” tanya si mbak jilbab.

What? Ini salah satu jenis trik marketing baru kali ya. Pura-pura aja dibilang kita dapat kupon potongan harga, biar merasa kehilangan kalau kuponnya gak dipakai. Biar kita tergiur beli produknya. Heh, emang muka kita keliatan amat ya ndesonya yang bisa ditipu gitu? Eh, kita orang lagi buru-buru mau ke pasar Jatinegara loh!

“Mbak, kupon hadiahnya buat mbak-nya aja. Saya gak tertarik ya, terima kasih.”

Jadi begini rasanya menolak orang. Tiap hari di kantor gue nelpon database nawarin investasi saham dan 89% menolak dengan bilang ‘gak tertarik’.

Sesuai petunjuk petugas busway, aku dan Meika berhasil turun di halte stasiun Jatinegara. Kebetulan dekat situ ada bangunan mirip pasar senen jaya. Ke sanalah kami bergegas. Dasar duo kupret gak baca tulisan di gedungnya itu pasar jatinegara atau bukan. Setibanya di dalam kami disambut dengan oleh penjual batu akik. Sepanjang mata memandang hanya ada bapak-bapak dan batu akik. Berasa berada di sarang penyamun.

“Nyari apa, mbak?” tanya seorang bapak berkumis. Tuh kan, disapa duluan. Mpuss deh!

“Di sini gak ada yang jualan kaos grosiran, Pak?”

“Itu mah gak ada di sini atuh. Di pasar jatinegara.”

“Loh, ini bukannya pasar jatinegara ya, Pak?”

“Bukan.”

Jadilah aku dan Meika keluar dari sana dengan diiringi tatapan beberapa lelaki yang tidak tau buaya darat atau bukan. Mata mereka itu loh, kayak gak pernah liat makhluk bernama cewek. Aku juga apa-apan sih pake dres segala. Gak kepikiran rencana beli kaos bakala segitu ribetnya.

Sesuai petunjuk satpam, kami naik angkot dan turun dekat halte busway pasar jatinegara. Kali ini barulah benar. Setelah keliling-keliling di dalam, kami menemukan penjual wanita yang kebetulan memang grosir kaos. Tapi pas kutanya dia ngambil barang darimana eh gak mau kasih tau.

“Mana mungkin dia mau kasih tau, Get. Nanti kau malah gak jadi beli ke dia,” komentar Meika begitu kami selesai beli kaosnya. Dia sendiri jadi ikutan belanja – beli seprai yang satu set sama sarung bantalnya.

Kami memutuskan buat gak langsung pulang, tapi nge-WA beberapa teman masa SMA yang kerja di Jakarta juga untuk ketemuan di kota tua. Apesnya begitu sampai di sana ternyata alun-alun (apapun itu namanya) kota tua belum dibuka karena corona. Padahal kawan awak udah otw, eh tempat kongkow malah belum dibuka. Jadinya kami berdua cus ke dalam stasiun dan memutuskan KFC sebagai tongkrongan. Sejam kemudian datang si Desri sama si Gokki. Desri jadi teller di BCA, Gokki jadi audit di Indomaret. Sesuai jurusan kuliah? Enggak tuh.

Seperti halnya orang-orang yang sudah lama tidak bertemu, kami juga demikian. Setiap orang menceritakan kisahnya sambil sesekali kami terbahak kalau ada hal lucu. Mengenang masa SMA dulu, kabar kawan-kawan yang lain udah dimana. Sampai nanya loker di tempat masing-masing.

“Coba aja walk in interview, Magda. Lengkapi berkas persyaratannya, terus datang ke HO-nya yang di Ancol,” si Gokki menawarkan.

“Ada posisi apa aja yang nerima semua jurusan?” kutanya.

“MT ada tuh. Tapi kayaknya ada persyaratan tinggi badan.”

Kampret, si Gokki langsung mengernyitkan keningnya melihat tinggiku yang mungkin gak berubah sejak SMA.

“Iya, iya. Tau kok aku pendek.”

Mereka bertiga ngakak so hard.

Jam 9 kami diusir. Iya, KFC-nya udah tutup. Karena belum pengen pulang, kami pun mencari tempat baru. Di dekat museum-museum bank di kota tua ternyata ramai banget. Alun-alun kota tua yang biasa seperti pindah ke sana. Banyak penjual makanan, pengamen, seniman jalanan. Aku malah kepincut beli boneka BT21 Shooky yang lagi diskon jadi 35 ribu. Astaga, aku masih juga belum dewasa. Beli sesuatu karena ingin, bukan karena kebutuhan.

Belum sampai 30 menit duduk di lesehan yang disediakan pedagang kaki lima di sana, sudah ada sekitar 15 pengamen yang menghampiri. Si Gokki sampai pegal mengangkat tangannya – menolak secara halus. Sekitar jam 11 lewat 20 mnit barulah kami berpisah. Sialnya di tengah jalan hujan turun dengan derasnya. Gojek yang membawaku pulang hanya punya satu jas hujan katanya. Terpaksa kami berteduh di bawah flyover. Sekitar jam 2 subuh baru berhasil sampai di kosan.



Tiga lawan satu


 

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...