First of all, terima kasih Tuhan Yesus yang sudah mengizinkan aku bertambah usia setahun lagi tepat 05 Mei yang lalu.
26.
Apa yang harusnya sudah dimiliki oleh seseorang yang berusia 26 tahun? Rumah? Mobil? Karir yang cemerlang? Pacar? Sayangnya aku hanya punya khayalan. Jadi kalau ditanya apakah usia 26 masih dalam rentang usia krisis usia seperempat abad, jawabannya jelas masih.
Krisis seperempat abad merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun. Wikipedia
Setelah hampir 6 tahun kuliah di Kalimantan dan berangkat ke Jakarta, rasa-rasanya tiba di Jakarta aku harus memulai semua dari awal lagi. Ibarat anak kecil yang memulai langkah pertamanya, berdiri dengan kaki gemeteran sambil menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjungkal ke depan atau ke belakang. Itulah yang kurasakan. Bedanya, kalau anak kecil yang belajar berdiri tadi punya orang tua yang setia disisinya, aku di sini sendirian. Jakarta jelas bukan tempat untuk mereka berhati lemah dan tak punya semangat juang.
Ini bukan keluhan, tapi apa ya. Curhatan, mungkin..
Oke, daripada cerita yang sedih-sedih, mending cerita hal-hal yang bikin dua minggu terakhir ini aku harus mantengin laptop seharian.
Jadi setelah 3 kali 'menolak' kesempatan bekerja di Ruangguru, akhirnya kali ini aku memutuskan untuk mengambilnya. Program STAR, yang mempersiapkan seseorang untuk menjadi education consultant (lagi-lagi ini hanya sebutan keren aja karena ujung-ujungnya kita jualan produk ruangguru ke anak-anak sekolahan). Sudah memasuki minggu kedua, dan setiap akhir minggu selalu ada ujian. Yap, masih ada tahap seleksi hingga penentuan yang berhak lulus ke OJT 4 minggu nanti.
Kemarin pas ditanya kenapa mau bergabung di RG, banyak yang jawabannya 'ingin membantu pendidikan di Indonesia supaya lebih baik'. Heloww.. Bukan apa-apa, jawaban itu mulia sekali, aku mengakuinya. Hanya terdengar terlalu polos dan .. jujur. Kenapa mereka gak jawab sederhana kayak aku, 'ingin meningkatkan skill di bidang sales'. Simpel, tidak neko-neko dan egois!
Selama 3 hari pertama minggu kedua kemarin, peserta yang domisili Jakarta dapat kesempatan training offline di HQ Ruangguru yang beralamat di daerah Tebet. Harusnya. Tapi karena ada karyawan yang positif covid, kami pun dialihkan ke Brain Academy di daerah Kemanggisan. Selain jadi lebih jauh dari kosan, awak pun kecewa karena udah sempat excited pengen liat kantor pusat ruangguru itu. Intinya covid-19 adalah musuh segala bangsa!
Training offline jelas jauh lebih seru daripada mantengin laptop sambil terkantuk-kantuk. Bisa ketemu langsung sama peserta lain, yang sialnya masih muda-muda kayaknya baru pada wisuda. Berasa jadi wali murid diantara peserta training.
Kami diberitau sebagai agen lapangan (udah kayak mata-mata aja) = Fiel Education Consultan / FEC, cara mendapatkan data/kontak siswa adalah dengan school visit. Tapi lagi-lagi karena si covid berkuasa, school visit digantikan dengan webinar. Secara acak, kami ditunjuk untuk melakukan roleplay sebagai FEC yang melakukan school visit ke sekolah.
Apesnya aku dapat tugas untuk bagian introduction. Ini adalah bagian sangat krusial karena akan menentukan apakah siswa akan tertarik untuk mendengar bagian intinya. Kalau tidak berhasil menarik perhatian mereka di awal, maka dapat dipastikan siswa tidak akan excited lagi mendengarkan apapaun bagian berikutnya.
"Halo, selamat pagi adek-adek. Apa kabar?" sapaku dengan tenggorokan bergetar. Udah lama gak speech di depan khalayak umum. Pesera training menyahut dengan peran anak SMP.
"Wah, kalian gak semangat nih. Gini aja, untuk membangkitkan semangat kalian, nanti kalau kakak bilang semangat pagi, kalian jawab 'pagi, pagi, pagi'. Bisa ya?"
Selanjutnya sesuai protokol FEC, aku harus konfirmasi kelas dan nama sekolah mereka, lalu dilanjutkan dengan perkenalan si FEC sendiri. Di sini aku pura-pura bilang kalau aku terkenal.
"Ah, masa kalian gak ada yang kenal dengan kakak. Kakak ini terkenal loh." -Lidah ini keseleo menyebutkannya.
"Kakak youtuber?"
"Kakak selebgram?"
"Baiklah, kalau kalian belum kenal, kakak kenalan dulu ya. Perkenalkan nama kakak Magdalena. Adek-adek bisa panggil Kak Lena aja. Nah, kakak ini siapa sih, gitu ya. Kak Lena ini adalah konsultan pendidikan dari ruangguru. Artinya kakak adalah solusi dari semua permasalahan belajar kalian..."
Entah ide darimana aku punya keberanian menyebutkan hal kayak gitu. Padahal di skrip FEC mah gak ada. Tapi tepuk tangan bergema di ruangan training. Aku bingung itu tepuk tangan dari siswa SMP atau tepuk tangan sebagai peserta training.
Setelah bagian introduction selesai, dilanjutkan bagian berikutnya oleh peserta training yang lain. Dengan nafas ngos-ngosan karena tadi ngomongnya teriak-teriak supaya terdengar lebih enerjik, aku balik ke kursiku. Jantung juga belum bisa stabil. OMG, ini hanya roleplay. Gimana kalau school visit sungguhan. Nakalnya anak-anak SMP sekarang apalagi di Jakarta nih ya pasti macam-macam.
Yang gak kusangka adalah, selama sisa training hari itu sampai pulang, aku terus diledekin trainer cowok kam***t yang menyampaikan materi selanjutnya setelah roleplay. 'Kakak adalah solusi dari semua permasalahan belajar kalian.' Bahkan sampai besoknya hari ketiga juga masih diledekin dong. Ingin kusentil lemak di perutnya (mau nyentil jidat gak nyampe), apalagi karena di hari pertama dia pura-pura nyamar jadi peserta training di ruang tunggu. Aku polos sekali menjawab pertanyaannya tentang pengalaman kerja di perusahaan pialang.
Ughhh!!
Semoga semua bisa lolos untuk tahap selanjutnya, yaitu tahap OJT. Semua lolos OJT dan bersama-sama kita akan tanda tangan kontrak.
Amin.