Minggu, 20 Oktober 2019

Entah Apa yang Merasuki(nya)ku


Aku gak pernah tau kalau undangan tes psikotest datang secepat ini setelah mengikuti job fair di Jakarta. Perusahaan itu bergerak dalam produksi logam dan sejenisnya. Baru tadi siang ikut job fair, sorenya dapat sms untuk besoknya ikut psikotest. Sebagai orang yang sama sekali buta arah tentang Jakarta, kutanyakan Meika, temanku yang udah duluan ke Jakarta.

Sebenarnya ada dua perusahaan yang harus kudatangi hari itu, hanya beda jam. Tapi waktunya mepet. Perusahaan advertising yang ku-apply dari indeed itu mengundang interview jam 11. Posisi yang kulamar : Manajemen Trainee (Sales and Marketing). Iya, aku tau, wajah sales itu harusnya di atas rata-rata. Tapi, ingat kata Coldplay : ‘if you never try you’ll never know.’ Lagian aku gak idealis lagi kok. Kerja apa aja deh dulu, untuk bertahan hidup dan punya pekerjaan awal sebagai pengalaman.

Kukirimkan pesan kepada beliau.

Me : Halo, selamat malam. Saya Magdalena, kemarin dapat undangan untuk wawancara posisi management trainee (sales and marketing) di **. Namun kebetulan saya belum bisa hadir pada jadwal tersebut. Apakah saya bisa diundurkan harinya jadi keesokannya?
Beliau : Ok, Jumat jam 11
Me : Terima kasih.

Malamnya segala berkas kupersiapkan. Aku tidur cepat supaya besok bisa bangun lebih awal. Jam 5 aku bangun, langsung mandi. Jam 6 lewat sedikit aku berangkat menuju halte busway. Semua berjalan lancar sesuai petunjuk Meika, mengenai busway jurusanku dan dimana aku harus turun. Ketika turun dari halte busway, aku bingung. Arah manakah Mega Glodok Kemayoran (MGK)? Apakah aku harus turun dari jembatan penyebarangan lalu ke kiri atau kanan? Seorang mas-mas yang jualan gorengan di jembatan penyebarangan busway menjadi narasumberku. Maaf mas, belum bisa beli gorenganmu.

“Naik angkot aja, Mbak. Paling 4 ribuan.”

Ahaa! Itu saran yang sangat bagus. Meika tadinya menyarankan supaya aku naik gojek dari halte aku turun menuju MGK. Tapi kalau naik gojek lumayan, 11 ribu. Kalau ada yang lebih murah kenapa enggak?

Sesuai petunjuk si Mas Gorengan, aku menyetop angkot nomor 53. Kutanya, “Bang, lewat MGK, gak?”

Sang supir tanpa ragu langsung menjawab, “Iya, lewat.”

Tadinya aku pengen duduk di depan, samping pak kusir supir, karena gak tau dimana MGK ini. Tapi niat itu kuurungkan setelah melihat paras tak ramah si supir. Aku duduk di belakang bersama penumpang lain, sambil menjalankan GPS HP-ku yang menunjukkan posisi angkot semakin mendekati MGK. Namun yang awalnya di google map itu tertera jaraknya 4 menit lagi, tiba-tiba berubah menjadi 5 menit lalu 6 menit, dan terus naik. Apakah si supir mengambil rute lain? Kulihat jam, sudah jam 8 kurang. Tesnya dimulai setengah jam lagi.

Angka jarak angkot yang kutumpangi dengan google map semakin naik terus, yang artinya kami semakin jauh dari MGK. Tapi si supir di depan menggerutu tak jelas, persis cewek lagi datang bulan. Entah apa yang terjadi di belakang sana. Ia sesekali melihat ke belakang, lalu menggerutu lagi. Nyaliku ciut untuk bertanya. Jam semakin mendekati setengah sembilan.

Angkot terjebak macet. Entah apa yang merasukiku datang mencari pekerjaan ke kota yang tiap hari macet ini. Aku frustasi, kerongkonganku kering, namun tetap tak berani menanyakan dimana tepatnya lokasi MGK kepada si supir. Soalnya ia kembali menggerutu tak jelas karena diselip motor-motor lain. Lalu tiba-tiba saja setelah bebas dari macet, supir tancap gas. Kulihat di map, kami sudah berjarak 16 menit dari sana.

BRAK!!!

Angkot yang kutumpangi menabrak pengendara motor yang memacu kendaraannya dari samping kanan. Si pengendara motor terjatuh, tetapi..

“MAKANYA LIAT LAMPU SEN MOBIL. LIAT! PAKAI MATA. UDAH DILIAT LAMPU SENNYA MAU BELOK KE KANAN, TETAP AJA MASUK DARI KANAN!”

What? Dia orang batak! Si supir maksudku. Hadeuh. Kenapa gak kepikiran. Dari sononya orang Batak memang emosinya lebih meledak-ledak dari suku lain. Ditambah kena macet di kota berpenduduk urat tegang ini membuatnya semakin komplikasi.

Orang-orang mulai berkerumun membantu mas-mas yang jatuh dari motornya itu. Mereka meneriaki si supir angkot. Ajaibnya sambil memaki balik, supir angkot kami malah melajukan angkotnya kencang tanpa ada niatan untuk minta maaf. Kulihat penumpang angkot, ekspresi mereka tegang. Kulihat map di HP, posisi kami sekarang dari MGK berjarak 30 menit. Ujian psikotest pasti sudah dimulai..

Akhirnya kuberanikan bertanya. “Bang, MGK-nya masih jauh ya?”

Kukira emosinya akan meledak lagi, tetapi ia menjawab dengan suara lembut. “Waduh, udah kelewatan. Atau kakak mau ikut nanti mutar balik lagi?”

“Yaudah deh, Bang. Berapa menit kira-kira?”
“30 menit-an lah.”

Mampus! Kalau ujiannya dimulai on time (tepat 08.30) itu artinya ujiannya udah dimulai sekarang. Tapi kalau ngaret 30 menit, aku masih sempat tiba di sana jam 9-an.

Semua penumpang sudah turun. Tinggal aku yang tersisa. Bukannya tancap gas mengantarkanku ke MGK, si supir malah memperlambat laju angkotnya, berteriak mencari penumpang sambil tangannya menghitung uang. Busyet, sampai Sponge Bob pindah rumah pun aku gak bakalan nyampe di MGK.

“Bang, aku turun di sini aja.”

Kubuka aplikasi gojek dan menyesal tiada ampun karena tidak menuruti perkataan Meika untuk langsung naik gojek dari halte tempatku turun tadi. Entah sekarang aku ada di bagian mana Jakarta ini. Kuketikkan tujuanku dan…24 k! Anj*** banget. Bukannya menghemat, kini malah merugi.
“Pak, saya sedang buru-buru. Bisa bawa motornya lebih cepat aja?”

“Biasanya lewat mana, Neng?”

Blah stadium akhir!!!
“Saya gak tau, Pak. Saya gak biasa lewat sini. Saya -”
“Memang biasa lewat mana?”
“Gak pernah, Pak (saya biasanya tiduran di kosan sambil apply loker online). Bapak kan, bisa liat di GPS gojeknya aja. Kan ditunjukin arahnya tuh.”

Seandainya di aplikasi gojek bisa memilih supir yang sudah paham arah dalam keadaan terdesak seperti sekarang. Tidak bertanya ke penumpang, ‘biasanya lewat mana, Neng?’ Sepertinya si bapak ini baru bergabung menjadi driver gojek. Dia tidak memakai jaket gojek, motornya juga tidak ada modifikasi yang bisa bikin HP menggantung di atas motor seperti driver gojek lain, sehingga bisa sambil nyetir dan liat HP. Hadeuh, aku benar-benar ..

Tanpa tau arah, si bapak gojek meluncur aja begitu. Kukira dia udah tau mau lewat mana. Tetapi tepat di lampu merah, ia bertanya ke driver sesama gojek.

“Mas, MGK ke arah mana ya?”
“Wah, mas udah kebablasan. Ini udah jauh dari MGK. Nanti dari sini aja ..bla bla.”

Entah apa yang merasukiku tidak menuruti perkataan si Meika dari awal. Di sinilah aku terperangkap dengan driver gojek yang buta arah, sama sepertiku. Kami beberapa kali berhenti bertanya ke pada orang, dimana gerangan si MGK ini berada. Kulihat jam di HP, 9.01. Seandainya ngaret 30 menit pun, ujian sudah dimulai sekarang. Padahal tadi malam aku mimpi punya bayi dan menyusuinya. Kukira artinya bakalan baik, seperti misalnya mendapat pekerjaan? Nyatanya aku mendapat driver gojek newbie yang buta arah.

Samar-samar kulihat gedung bertuliskan M-G-K. Kusipitkan mata, lalu terlihatlah ‘Mega Kemayoran’. Lho? G-nya mana? Tapi huruf di atasnya M-G-K, kenapa di bawahnya cuma ‘Mega Kemayoran’?
“Pak, Pak..Pak. stop! Kayaknya itu MGK-nya.”
“Benar itu ya?”
“Kayaknya sih. Coba kesitu aja, Pak. Mutar arah.”

Si driver gojek bertanya kepada satpam, dan si satpam mengangguk. Kulihat jam di HP, 09.26. Hebat, calon karyawan perusahaan mana yang datang 1 jam lewat dari undangan yang dikirimkan. Bahkan ini masih tes awal, sudah menunjukkan etika tidak bagus.

Kuambil uang dari dompet, yang menyebabkan dompetku langsung kosong. Aku kesal sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Jika bisa mengulang waktu ke satu setengah jam yang lalu, aku akan langsung naik gojek begitu turun dari halte busway, persis melakukan sesuai saran Meika. Kuserahkan uang itu, tanpa mengucapkan terima kasih kepada si driver gojek. Biar saja. Daripada aku kasih dia bintang 0 di aplikasi? Mending aku gak bilang terima kasih, tapi tidak dendam padanya.
Aku berhasil menemukan blok A berkat petunjuk si satpam. Tapi ini terlihat seperti ruko yang menjual peralatan bangunan?

“Permisi, Mbak. Saya dapat undangan tes psikotes hari ini, tapi waktunya sebenarnya sudah agak lewat dari yang di undangan.”

Si mbak-nya memencet telepon dan berbicara dengan seseorang. Aku memasang muka harap-harap cemas, berharap mereka melihat kegigihanku (jika mereka tau apa yang baru saja kualami untuk bisa sampai ke lokasi), terharu dan memberikan aku kesempatan kedua. Mungkin tes sendirian?

“Begini, mbak. Tes-nya sudah mulai dari sejam yang lalu. Jadi mbak-nya gak bisa ikut lagi. Mungkin nanti mbak-nya bisa di-reschedule sama HRD kami. Tunggu aja nanti, kapan pastinya belum tau.”

Re-schedule adalah kata ganti dari ‘anda tidak memenuhi kualifikasi yang perusahaan kami cari. Pulang aja sana!’ Mana ada yang seperti itu, perusahaan memberikan kesempatan kedua untuk kandidat yang telat datang ujian psikotest.

Entah apa yang merasukiku. Ku-WA perusahaan advertising yang sempat kuminta undur jadi keesokan harinya itu.
Me : Mohon maaf sekali, tetapi kalau saya tetap datang hari ini apa tidak apa-apa?
Belau : Ga pa2.

Begitu dibalasnya tidak apa-apa, aku langsung ke atm dan memesan gojek. Semoga kali ini driver-nya tidak bertanya, ‘biasanya lewat mana, Neng?’

Aku sempat gak percaya udah sampai pas gojeknya berhenti. Jangan-jangan nih driver mau nanya arah lagi sama orang lain. Tapi..

“Udah sampai, Mbak.”

APAAAA? SEDEKAT INI 17 RIBU?! Eh sudahlah, yang penting dia gak mutar-mutar Jakarta sambil nanya sesama driver gojek arah yang harus dituju.

Aku sempat kebingungan nyari kantornya. Untungnya tepat saat itu ada yang keluar dari salah satu pintu, cewek tipe-tipe jobseeker. Iya, jadi kalau jobseeker itu bisa kebaca dari pancaran matanya. Matanya itu kayak memelas, ‘beri hamba uang pekerjaan apa saja, hamba berjanji akan bekerja keras..’  Tapi, cewek tadi cakep amat busyet. Saingan gue berat nih kayaknya. 

Aku masuk dan bertanya kepada resepsionisnya (emang hotel? Pokoknya yang jaga di meja depan gitu) yang memberi form untuk diisi. Kulihat di ruangan itu ada juga cowok mirip anime yang juga sama mengisi form sepertiku. Hm, saingan nih. Tapi dia lebih menjanjikan dari segi fisik dan penampilan untuk posisi ini. Meski berkaca mata, dia tinggi, putih, rambutnya rapi dan style-nya keren. Lha aku? Apa perlu harus kujelaskan lagi bagaimana penampilan cewek yang baru kebut-kebutan mengejar jam ujian psikotest bersama driver newbie gojek sambil bertanya alamat kesana kemari terus gue malah mau bayar full meski terpaksa telat nyampe di lokasi dan berakhir tidak bisa ikut ujian??

Setelah selesai mengisi form, kami berdua dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Si cowok anime diminta memperkenalkan diri terlebih dahulu. Begitu dia bersuara, image anime-nya yang kubangun dalam pikiranku langsung hancur karena logatnya yang medok. Untung aku berhasil menahan diri untuk tidak cekikikan. Kuhapus bayangan Luffy One Piece yang tiba-tiba medok terus bilang, ‘Aku ora butuh GPS. Karo kowe, aku wis yakin kudu ning ngendi’.

Hasil interview hari itu katanya menunggu tiga hari kemudian, tidak terhitung hari Sabtu dan Minggu. Aku sih tidak berharap banyak. Cukup tau diri saja. Kulihat si cowok anime pergi ke motornya. Entah apa yang merasukiku, melihat pandangan sayunya, aku ingin melindunginya. Dunia Jakarta ini terlalu jahat untuk cowok selembut dia.





Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...