Aku
gak pernah tau kalau undangan tes psikotest datang secepat ini setelah
mengikuti job fair di Jakarta. Perusahaan itu bergerak dalam produksi logam dan
sejenisnya. Baru tadi siang ikut job fair, sorenya dapat sms untuk besoknya
ikut psikotest. Sebagai orang yang sama sekali buta arah tentang Jakarta,
kutanyakan Meika, temanku yang udah duluan ke Jakarta.
Sebenarnya
ada dua perusahaan yang harus kudatangi hari itu, hanya beda jam. Tapi waktunya
mepet. Perusahaan advertising yang
ku-apply dari indeed itu mengundang
interview jam 11. Posisi yang kulamar : Manajemen Trainee (Sales and
Marketing). Iya, aku tau, wajah sales itu harusnya di atas rata-rata. Tapi,
ingat kata Coldplay : ‘if you never try
you’ll never know.’ Lagian aku gak idealis lagi kok. Kerja apa aja deh
dulu, untuk bertahan hidup dan punya pekerjaan awal sebagai pengalaman.
Kukirimkan
pesan kepada beliau.
Me : Halo, selamat
malam. Saya Magdalena, kemarin dapat undangan untuk wawancara posisi management trainee (sales and marketing) di **. Namun kebetulan saya belum bisa hadir
pada jadwal tersebut. Apakah saya bisa diundurkan harinya jadi keesokannya?
Beliau : Ok, Jumat jam
11
Me : Terima kasih.
Malamnya
segala berkas kupersiapkan. Aku tidur cepat supaya besok bisa bangun lebih
awal. Jam 5 aku bangun, langsung mandi. Jam 6 lewat sedikit aku berangkat
menuju halte busway. Semua berjalan lancar sesuai petunjuk Meika, mengenai
busway jurusanku dan dimana aku harus turun. Ketika turun dari halte busway,
aku bingung. Arah manakah Mega Glodok Kemayoran (MGK)? Apakah aku harus turun
dari jembatan penyebarangan lalu ke kiri atau kanan? Seorang mas-mas yang
jualan gorengan di jembatan penyebarangan busway menjadi narasumberku. Maaf
mas, belum bisa beli gorenganmu.
“Naik
angkot aja, Mbak. Paling 4 ribuan.”
Sesuai
petunjuk si Mas Gorengan, aku menyetop angkot nomor 53. Kutanya, “Bang, lewat
MGK, gak?”
Sang
supir tanpa ragu langsung menjawab, “Iya, lewat.”
Tadinya
aku pengen duduk di depan, samping pak kusir supir, karena gak tau
dimana MGK ini. Tapi niat itu kuurungkan setelah melihat paras tak ramah si
supir. Aku duduk di belakang bersama penumpang lain, sambil menjalankan GPS
HP-ku yang menunjukkan posisi angkot semakin mendekati MGK. Namun yang awalnya
di google map itu tertera jaraknya 4 menit lagi, tiba-tiba berubah menjadi 5
menit lalu 6 menit, dan terus naik. Apakah si supir mengambil rute lain?
Kulihat jam, sudah jam 8 kurang. Tesnya dimulai setengah jam lagi.
Angka
jarak angkot yang kutumpangi dengan google map semakin naik terus, yang artinya
kami semakin jauh dari MGK. Tapi si supir di depan menggerutu tak jelas, persis
cewek lagi datang bulan. Entah apa yang terjadi di belakang sana. Ia sesekali
melihat ke belakang, lalu menggerutu lagi. Nyaliku ciut untuk bertanya. Jam
semakin mendekati setengah sembilan.
Angkot
terjebak macet. Entah apa yang merasukiku datang mencari pekerjaan ke kota yang
tiap hari macet ini. Aku frustasi, kerongkonganku kering, namun tetap tak
berani menanyakan dimana tepatnya lokasi MGK kepada si supir. Soalnya ia
kembali menggerutu tak jelas karena diselip motor-motor lain. Lalu tiba-tiba
saja setelah bebas dari macet, supir tancap gas. Kulihat di map, kami sudah
berjarak 16 menit dari sana.
BRAK!!!
Angkot
yang kutumpangi menabrak pengendara motor yang memacu kendaraannya dari samping
kanan. Si pengendara motor terjatuh, tetapi..
“MAKANYA
LIAT LAMPU SEN MOBIL. LIAT! PAKAI MATA. UDAH DILIAT LAMPU SENNYA MAU BELOK KE
KANAN, TETAP AJA MASUK DARI KANAN!”
What?
Dia orang batak! Si supir maksudku. Hadeuh. Kenapa gak kepikiran. Dari sononya
orang Batak memang emosinya lebih meledak-ledak dari suku lain. Ditambah kena
macet di kota berpenduduk urat tegang ini membuatnya semakin komplikasi.
Orang-orang
mulai berkerumun membantu mas-mas yang jatuh dari motornya itu. Mereka meneriaki
si supir angkot. Ajaibnya sambil memaki balik, supir angkot kami malah
melajukan angkotnya kencang tanpa ada niatan untuk minta maaf. Kulihat
penumpang angkot, ekspresi mereka tegang. Kulihat map di HP, posisi kami
sekarang dari MGK berjarak 30 menit. Ujian psikotest pasti sudah dimulai..
Akhirnya
kuberanikan bertanya. “Bang, MGK-nya masih jauh ya?”
Kukira
emosinya akan meledak lagi, tetapi ia menjawab dengan suara lembut. “Waduh,
udah kelewatan. Atau kakak mau ikut nanti mutar balik lagi?”
“Yaudah
deh, Bang. Berapa menit kira-kira?”
“30
menit-an lah.”
Mampus!
Kalau ujiannya dimulai on time (tepat
08.30) itu artinya ujiannya udah dimulai sekarang. Tapi kalau ngaret 30 menit,
aku masih sempat tiba di sana jam 9-an.
Semua
penumpang sudah turun. Tinggal aku yang tersisa. Bukannya tancap gas
mengantarkanku ke MGK, si supir malah memperlambat laju angkotnya, berteriak
mencari penumpang sambil tangannya menghitung uang. Busyet, sampai Sponge Bob
pindah rumah pun aku gak bakalan nyampe di MGK.
“Bang,
aku turun di sini aja.”
Kubuka
aplikasi gojek dan menyesal tiada ampun karena tidak menuruti perkataan Meika
untuk langsung naik gojek dari halte tempatku turun tadi. Entah sekarang aku
ada di bagian mana Jakarta ini. Kuketikkan tujuanku dan…24 k! Anj*** banget.
Bukannya menghemat, kini malah merugi.
“Pak,
saya sedang buru-buru. Bisa bawa motornya lebih cepat aja?”
“Biasanya
lewat mana, Neng?”
Blah
stadium akhir!!!
“Saya
gak tau, Pak. Saya gak biasa lewat sini. Saya -”
“Memang
biasa lewat mana?”
“Gak
pernah, Pak (saya biasanya tiduran di kosan sambil apply loker online). Bapak kan, bisa liat di GPS gojeknya
aja. Kan ditunjukin arahnya tuh.”
Seandainya
di aplikasi gojek bisa memilih supir yang sudah paham arah dalam keadaan
terdesak seperti sekarang. Tidak bertanya ke penumpang, ‘biasanya lewat mana,
Neng?’ Sepertinya si bapak ini baru bergabung menjadi driver gojek. Dia tidak
memakai jaket gojek, motornya juga tidak ada modifikasi yang bisa bikin HP
menggantung di atas motor seperti driver gojek lain, sehingga bisa sambil
nyetir dan liat HP. Hadeuh, aku benar-benar ..
Tanpa
tau arah, si bapak gojek meluncur aja begitu. Kukira dia udah tau mau lewat
mana. Tetapi tepat di lampu merah, ia bertanya ke driver sesama gojek.
“Mas,
MGK ke arah mana ya?”
“Wah,
mas udah kebablasan. Ini udah jauh dari MGK. Nanti dari sini aja ..bla bla.”
Entah
apa yang merasukiku tidak menuruti perkataan si Meika dari awal. Di sinilah aku
terperangkap dengan driver gojek yang buta arah, sama sepertiku. Kami beberapa
kali berhenti bertanya ke pada orang, dimana gerangan si MGK ini berada.
Kulihat jam di HP, 9.01. Seandainya ngaret 30 menit pun, ujian sudah dimulai
sekarang. Padahal tadi malam aku mimpi punya bayi dan menyusuinya. Kukira
artinya bakalan baik, seperti misalnya mendapat pekerjaan? Nyatanya aku
mendapat driver gojek newbie yang buta arah.
Samar-samar
kulihat gedung bertuliskan M-G-K. Kusipitkan mata, lalu terlihatlah ‘Mega
Kemayoran’. Lho? G-nya mana? Tapi huruf di atasnya M-G-K, kenapa di bawahnya
cuma ‘Mega Kemayoran’?
“Pak,
Pak..Pak. stop! Kayaknya itu MGK-nya.”
“Benar
itu ya?”
“Kayaknya
sih. Coba kesitu aja, Pak. Mutar arah.”
Si
driver gojek bertanya kepada satpam, dan si satpam mengangguk. Kulihat jam di
HP, 09.26. Hebat, calon karyawan perusahaan mana yang datang 1 jam lewat dari
undangan yang dikirimkan. Bahkan ini masih tes awal, sudah menunjukkan etika
tidak bagus.
Kuambil
uang dari dompet, yang menyebabkan dompetku langsung kosong. Aku kesal
sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Jika bisa mengulang waktu ke satu setengah
jam yang lalu, aku akan langsung naik gojek begitu turun dari halte busway,
persis melakukan sesuai saran Meika. Kuserahkan uang itu, tanpa mengucapkan
terima kasih kepada si driver gojek. Biar saja. Daripada aku kasih dia bintang
0 di aplikasi? Mending aku gak bilang terima kasih, tapi tidak dendam padanya.
Aku
berhasil menemukan blok A berkat petunjuk si satpam. Tapi ini terlihat seperti
ruko yang menjual peralatan bangunan?
“Permisi,
Mbak. Saya dapat undangan tes psikotes hari ini, tapi waktunya sebenarnya sudah
agak lewat dari yang di undangan.”
Si
mbak-nya memencet telepon dan berbicara dengan seseorang. Aku memasang muka
harap-harap cemas, berharap mereka melihat kegigihanku (jika mereka tau apa
yang baru saja kualami untuk bisa sampai ke lokasi), terharu dan memberikan aku
kesempatan kedua. Mungkin tes sendirian?
“Begini,
mbak. Tes-nya sudah mulai dari sejam yang lalu. Jadi mbak-nya gak bisa ikut
lagi. Mungkin nanti mbak-nya bisa di-reschedule sama HRD kami. Tunggu aja
nanti, kapan pastinya belum tau.”
Re-schedule
adalah kata ganti dari ‘anda tidak
memenuhi kualifikasi yang perusahaan kami cari. Pulang aja sana!’ Mana ada
yang seperti itu, perusahaan memberikan kesempatan kedua untuk kandidat yang
telat datang ujian psikotest.
Entah
apa yang merasukiku. Ku-WA perusahaan advertising
yang sempat kuminta undur jadi keesokan harinya itu.
Me : Mohon maaf sekali,
tetapi kalau saya tetap datang hari ini apa tidak apa-apa?
Belau : Ga pa2.
Begitu
dibalasnya tidak apa-apa, aku langsung ke atm dan memesan gojek. Semoga kali
ini driver-nya tidak bertanya, ‘biasanya lewat mana, Neng?’
Aku
sempat gak percaya udah sampai pas gojeknya berhenti. Jangan-jangan nih driver
mau nanya arah lagi sama orang lain. Tapi..
“Udah
sampai, Mbak.”
APAAAA?
SEDEKAT INI 17 RIBU?! Eh sudahlah, yang penting dia gak mutar-mutar Jakarta sambil nanya sesama driver gojek arah yang harus dituju.
Aku
sempat kebingungan nyari kantornya. Untungnya tepat saat itu ada yang keluar
dari salah satu pintu, cewek tipe-tipe jobseeker.
Iya, jadi kalau jobseeker itu bisa kebaca dari pancaran matanya. Matanya itu
kayak memelas, ‘beri hamba uang
pekerjaan apa saja, hamba berjanji akan bekerja keras..’ Tapi, cewek tadi cakep amat busyet. Saingan gue berat nih kayaknya.
Aku masuk dan bertanya kepada resepsionisnya
(emang hotel? Pokoknya yang jaga di meja depan gitu) yang memberi form untuk diisi. Kulihat
di ruangan itu ada juga cowok mirip anime yang juga sama mengisi form sepertiku.
Hm, saingan nih. Tapi dia lebih menjanjikan dari segi fisik dan penampilan
untuk posisi ini. Meski berkaca mata, dia tinggi, putih, rambutnya rapi dan style-nya keren. Lha aku? Apa perlu
harus kujelaskan lagi bagaimana penampilan cewek yang baru kebut-kebutan
mengejar jam ujian psikotest bersama driver
newbie gojek sambil bertanya alamat kesana kemari terus gue malah mau bayar
full meski terpaksa telat nyampe di lokasi dan berakhir tidak bisa ikut ujian??
Setelah selesai mengisi form, kami
berdua dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Si cowok anime diminta
memperkenalkan diri terlebih dahulu. Begitu dia bersuara, image anime-nya yang kubangun dalam pikiranku langsung hancur
karena logatnya yang medok. Untung aku berhasil menahan diri untuk tidak
cekikikan. Kuhapus bayangan Luffy One Piece yang tiba-tiba medok terus bilang,
‘Aku ora butuh GPS. Karo kowe, aku wis
yakin kudu ning ngendi’.
Hasil
interview hari itu katanya menunggu tiga hari kemudian, tidak terhitung hari
Sabtu dan Minggu. Aku sih tidak berharap banyak. Cukup tau diri saja. Kulihat
si cowok anime pergi ke motornya. Entah apa yang merasukiku, melihat pandangan
sayunya, aku ingin melindunginya. Dunia Jakarta ini terlalu jahat untuk
cowok selembut dia.