Jumat, 11 Agustus 2017

Ketika Waktu Bisa Dimundurkan

Tiga hari ini gue capek pura-pura galak sama mahasiswa baru. Yaps, gue ..gak sengaja masuk kepanitiaan Orientasi Mahasiswa Baru (OMBA). Tapi kalo di fakultas teknik sih sebutannya PROTEKSI. Jangan tanya gue kepanjangannya, karena gue sendiri belum pernah ikut PROTEKSI. Tahun angkatan kami, 2013 ada masalah yang cukup rumit, sehingga tak satu pun seangkatan gue yang ikut PROTEKSI. Kebijakan dari pimpinan fakultas sendiri yaitu mengeluarkan sertifikat PROTEKSI untuk semua angkatan 2013. What a lucky human we are

Gue sebenarnya gak tega marah-marah sama anak-anak yang baru meninggalkan bangku SMA-nya itu. Oke, gak semua mereka angkatan 2017. Ada yang angkatan 2014, 2015 dan 2016. Tetep aja susah pura-pura marah dan bentak-bentak anak orang. Sempat sebulan kayak gini, gue rasa rambut jadi uban setengah. Para kakak Senior Pendamping (SP), kami, memang disuruh menekan mental mereka. Ngebikin mereka down, cari-cari kesalahan mereka. Apesnya waktu ada peserta OMBA yang kenal gue, terus dia malah berani sama gue. Manja gitu. Ada juga yang malah nanya gue berani-berani soal jam pulang mereka. Gile, muka gue gak jutek apa ya? Masa bocah-bocah ini... arghh!!!

Gue: "Dek, disuruh bawa roti. Bukan biskuit."
Maba: "Kan sama-sama bisa dimakan, Kak?"

Gue: "Dek, orang kaya kamu ya, malah bawa roti Boy."
Maba: "Itu sisa kemarin dari bandara, Kak. Sayang kalo dibuang."

Dalam ati gue hanya bisa berdoa, kelak dia jadi panitia OMBA terus digituin sama peserta. 

Ngeliat maba-maba itu, gue jadi teringat pertama kali gue ke kota ini. Gue gak diantar sama ortu. Dan gak ada keluarga dekat di sini. Adanya keluarga jauh, yang mana adalah adeknya bapak dari bibinya nenek dari pamannya ibunya. Ah, itulah pokonya. Saking keluarga jauhnya. Gue yang masih polos banget, belum tau apa-apa tentang dunia perkuliahan (dan belum tau kalo gue salah jurusan). Nyari kos-kosan, nyari teman kos dan ketemu dengan seorang cewek bernama Purnawati. Yang berhasil ngebikin gue pengen pulang ke Sumatera gara-gara kejadian dia kesurupan lantaran marah sama gue (panjang ceritanya).

Kini,..
Gue dihadapkan pada sebuah tahap, yang mana adalah syarat gue ninggalkan kampus. Bisa aja gue ninggalkan kampus ini tanpa melalui tahap itu, tapi caranya sangat bertolak belakang dengan kata-kata Bang Soe Hok Gie dalam puisinya. 

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.”


Jadi, gue harus berani menghadapi tahap itu. Ah, kalo aja waktu bisa dimundurkan. Gue mau kuliah di jurusan Sastra Inggris. Oh gak, gue mau kuliah di jurusan Arkeologi. Sejarah juga keren sih. Apalagi Antropologi...

Nah..nah..
Bahkan hingga hari ini, hingga di masa seharusnya gue udah diwisuda (eh, judul aja belum ada), gue belum tau apa bakat gue. Bidang yang benar-benar gue sukai. Miris memang. 


Hasil gambar untuk SOE HOK gie hidup itu soal keberanian


FYI, skor TOEFL gue udah keluar. You know what? Listening Comprehension section-nya paling tinggi nilainya. At least my ears are working. SKOR-nya rendah sih, hanya 430. Untuk orang yang gak pernah les Bahasa Inggris dan baru pertama kali ikut tes TOEFL.

Now, what next?











Selasa, 01 Agustus 2017

My Room 😃

Lihat Tweet @magdalenaadvent: https://twitter.com/magdalenaadvent/status/892197370934435842?s=09

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...