Sabtu, 14 April 2018

Agustus, Tunggu Aku..,



Banyak hal gak bisa ditebak. Baru kemarin aku fix mau mulai kerja saat surat balasan dari PT Bukit Asam dikirimkan ke e-mailku. Ngobrol baik-baik sama ibu yang ngasih kerjaan, akhirnya fix berangkat penelitian tugas akhir ke Sumatera Selatan. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada juga yang manggil aku.

Namun, perjalanan ini tidak mudah. Aku baru dapat panggilan di awal April. Waktu penelitian kurang lebih dua bulan dan aku mesti ngejar wisuda Agustus. Akhir Juni baru bisa kembali ke kampus. Benar-benar waktu yang sangat mepet sekali pemirsa.
Dan memang perjalanan ini gak mudah.

Belum lagi aku yang sempat ketinggalan pesawat Palangka Raya-Jakarta. Terpaksa beli tiket baru dan ini sangat membuang uang yang tadinya sudah terbatas juga.  Aku masih ingat kemarin nangis-nangis sama mbak penjaga counter check in Citilink-nya. Sialnya air mataku gak benar-benar netes, makanya mungkin dia gak iba. Aku cuma meraung-raung minta dibolehin check in dan memasang muka super panik.

“Mbak, tolong. Saya tau saya salah, tapi sekali ini saja. Saya mau berangkat penelitian tugas akhir ke Palembang. Saya gak punya uang lagi buat beli tiket baru.”
“Maaf, mbak. Sudah tidak bisa lagi,” katanya tanpa rasa kasihan sedikit pun.

Aku terduduk lemas di lantai. Koper dan backpack-ku juga tergeletak persis di depan counter check in citilink. Peduli amat sama koper yang isinya hanya baju itu. Kalau bisa dijual saat ini juga malah aku akan sangat senang. Lumayan nambahin buat beli tiket pesawat baru.

Ujung-ujungnya aku beneran nangis dengan posisi melipat kaki duduk di lantai. Rambutku yang terurai, koper yang tergeletak tanpa nyawa, posisi duduk yang menyedihkan. Semua mempertegas kalau aku orang gila. Sekali liat saja orang pasti berpikiran demikian, maksudku.

Kurang lebih 20 menit aku di posisi seperti itu. Orang-orang yang ngeliatin ya, biar aja. Ingin kuberkata kasar sebenarnya sama mbak citilink tadi, tapi gak sanggup. Nanti yang ada malah jambak-jambakan kitanya, terus ada yang video-in, eh malah viral. Aku belum siap..menjadi viral!

Singkat cerita, aku beli tiket baru dengan mengorbankan uang kos yang akan kubayarkan setibanya di Palembang nanti. Apa boleh buat.

Kami tiba di Palembang jam 7 malam. Itu pun setelah delay pesawat 2 jam (Lion emang the best). Dari Palembang ke Tanjung Enim naik travel sekitar 5 jam. Alhasil nyampe subuh jam 3 di daerah penelitian. Disambut sama ibu kos yang udah jauh-jauh hari ditelpon. Besoknya adalah hari Minggu Paskah, dan aku molor sampai jam 9.

Aku dan Gilbi pisah kos. Dia tinggal dengan keluarganya. Aku tetap di kos ini. Selain karena dekat ke pasar, juga dekat ke Diklat PT BA. Pokoknya aksesnya keren. Senangnya lagi karena ada keponakan ibu kos, namanya Kak Juwita yang bisa kutanya-tanya atau ajak kalau aku mau nyari sesuatu di sini.

Satu hal tentang Tanjung Enim, gak ada tempat tujuan wisata yang bisa dikunjungi. Kalau kata Kak Juwita ini kota tempat cari duit. Apalagi karena banyak perusahaan tambang. Ya, orang-orang bekerja di siang hari, di malam hari tidur dengan cepat. Kalau mau ngabisin duit buat liburan, mereka pergi ke Palembang mungkin. Jam 8 malam aja udah gak ada lagi ojek.

Di PT Bukit Asam ada beberapa satuan kerja (satker). Mahasiswa magang atau tugas akhir di tempatkan di satker yang sesuai dengan judul penelitian mereka. dari awal judul penelitianku memang tentang geoteknik. Tapi aku ditempatkan di satker yang tidak sesuai. Butuh 3 hari untuk mengurus proses perpindahanku ke satker geotek. Yap, waktu berlalu cepat. Hari Senin kami diinduksi di kantor diklat PT BA. Itu seharusnya, tapi karena Bu Ningsih belum kembali dari luar kota terpaksa kami diinduksi keesokan harinya. Hari Rabu kami ke satker masing-masing. Aku dua hari di satker yang salah. Hari Kamisnya barulah aku bisa ke satker yang tepat, geoteknik.

Judulku tentu saja berganti. Apa yang direncanakan dari kampus memang gak selamanya bisa ditemukan begitu tiba di perusahaan. Intinya, mahasiswa harus menyesuaikan dengan keadaan di lapangan. Meskipun gak terlalu jauh menyimpang dari judul awal, gak apalah. Yang jadi masalah adalah aku yang gak benar-benar menguasai materinya. Mesti belajar dari nol lagi. Karena jujur, aku udah lupa kuliah semester-semester yang udah lama berlalu.

Di satker geotek ada 8 orang mahasiswa. Dari UNPAD 3 orang, dari UNSYAH, UNSRI, STTNAS Jogja, dan UPR kampusku ada aku dan seorang lagi cowok. Dia udah sebulan di sini.

Well, awalnya kukira tiap hari ke lapangannya buat ngambil data. Ternyata mereka banyakan di kantor, berhadapan dengan laptop dan software geotek. Kendalanya juga di transportasi.

Udah dua minggu berlalu, dan aku belum ada ke lapangan sama sekali. Kuharap secepatnya bisa menyelesaikan tugas akhir ini dan kembali ke kampus. Karena sebenarnya aku memang berpacu dengan waktu.

Agustus, tunggu aku..,

Selasa, 03 April 2018

PAKET SUPER HEMAT in KFC & ALFAMART


Beberapa hari yang lalu, aku diajak lebih tepatnya dipaksa seorang kawan buat makan di KFC yang katanya lagi diskon 50% buat ayam 5 ekor. Bukan deh, tapi 5 potong, eh kok gak cocok. Lima apa sih sebutannya? 5 bagian? Pokoknya itulah, dapat dada 2, sayap 1 sama paha 2. Si Gluck ini kerjaannya emang makan aja yang dipikirin. Skripsi jarang dikonsulkan sama dosen. Gak heran kenapa perutnya makin buncit (peace bro). 
"Itu 50% dari berapa dulu?" tanyaku. Eh siapa tau aja kan diskonnya 50% dari 200 ribu. Sama aja bohong.
"Belum sama nasi dan minum?" aku menaikkan suaraku 2 oktaf setelah dia menjelaskan.
"Tenang aja. Aku tau solusinya," si Gluck tersenyum penuh kemenangan.
Malamnya dia beneran datang ke kosku, ngajakin ke KFC itu. Kalian pasti gak bakalan percaya dengan apa yang dibawanya. Nasi dalam Tupperware dan air mineral dalam botol minum ukuran 1,5 liter. Cowok darimana ini, Tuhan tanyaku dalam hati. Biasanya cowok itu kalau belanja aja gak pernah tawar harga sama si penjual. Lha ini malah bawa nasi ke KFC? Kagak malu entar diliatin orang-orang?
"Kau serius?" aku menunjuk kotak nasinya. Dia mengangguk.
"Ayolah, Da. Besok-besok kau udah berangkat ke lapangan. Gak apa-apalah ngelakuin hal gila kayak gini malam ini."
Oke, karena aku 2 hari lagi berangkat ke Palembang selama dua bulan kurang lebih, baiknya malam ini kuturuti aja permintaan si Gluck. Kami pun tiba di KFC yang emang lagi antrian panjang. Kata si Gluck ini hari terakhir diskon itu berlaku. Waw, pantesan aja. Tanpa banyak omong, kudorong s Gluck ikut bergabung di barisan antrian pemesanan, sementara aku mendaratkan bokong di kursi tak jauh dari tempat dia mengantri. Sempat kesal, kubilang bahwa ini idenya.
Menunggu 15 menit, pesanan kami belum juga datang. Tiba-tiba muncul Putri, teman seangkatan kami yang baru melangsungkan pertunangannya beberapa hari yang lalu. Dia cantik sih, modis pula. Apapun yang dikenakannya kenapa cocok semua? Padahal dia cuma pake hot pants sama blouse. Rambutnya digerai. Wajahnya dipoles make up tipis.
Kami bersalaman. Tunangannya Putri pergi ke barisan antrian. Kami sempat ngobrol sekitar 7 menit, membahas soal skripsi tentu saja. Biasalah, mahasiswa tingkat akhir. Setelah tak ada yang diobrolkan lagi, Putri pergi ke tunangannya.
"Da, ambil meja paling sudut yuk," ajak si Gluck. Taulah kan, kenapa kami harus ngelakuin itu. Yap, supaya bisa buka nasi yang dibawa si Gluck dari rumah. Kami membawa pesanan, lebih tepatnya 5 potong daging ayam KFC itu beserta sebuah piring. Kami melewati Putri yang sepertinya gak melihat kami udah pindah meja.
"Tadi aku ditanyain sama mbaknya. Ada lagi mas, tambahannya? Kubilang aja gak ada. Dia keheranan. Minumnya, nasinya?" si Gluck menirukan suara heran si mbak KFC.
"Lagian emang anehlah. Masa beli ayamnya aja," balasku. Dan sepertinya kami salah ambil tempat, karena tepat di sebelah kami ada sepasang anak manusia yang lagi makan juga. Gak seperti meja kami yang hanya berisi ayam dan sambal (yang banyak beut), meja mereka lengkap dengan pepsi dan nasi. Itu belum seberapa. Meja kami yang posisinya paling dekat dengan tempat mencuci tangan, membuat Putri harus melihat kami lagi (dengan keheranan) karena pindah meja.
"Lha, kok pindah?"tanyanya sambil melap tangannya.
"Ah, itu, biar dekat dengan tempat cuci tangan," jawabku refleks. Alasan macam apa itu. Meskipun dengan keheranan, si Putri pun berlalu. Si Gluck kembali mengeluarkan nasinya. Aku memutuskan untuk makan ayamnya aja karena emang gak lapar-lapar amat.
Oke, kayaknya sepasang manusia di dekat meja kami mereka orang batak karena sesekali melirik ke aku dan Gluck saat kami cekakak-cekikikan gara-gara kejadian barusan. Tapi gak ada yang peduli. Kami berdua masih ketawa.
"Mending tadi bilang mau nge-charge HP, Da," si Gluck menunjuk tempat colokan listrik di sampingnya. "Si Putri mungkin gak curiga."
"Chargernya gak bawa juga," kataku sambil memasukkan ayam ke mulut. "Eh, tau gak. Ini tuh bukan paket hemat lagi namanya, tapi PAKET SUPER HEMAT."
Kami kembali cekikikan sambil memegang perut. Si Gluck menaruh kotak nasinya dalam tas dan tangannya mengambil segenggam demi segenggam nasi dari bawah meja ke atas piringnya. Sekilas kayak kami lagi nyelundupin barang terlarang sejenis narkotika.
"Gak usah malu, Da. Kita gak mencuri, kok," katanya lebih kepada diri sendiri.
Serah lu, dah Gluck. Gue mah cuma makan ayam doang,.
Keesokan harinya aku ikutan menerapkan paket super hemat ini. Aku dan Pebri nongkrong di depan gerai alfamart sambil makan pop mie yang air panasnya dibawa dari kos dalam botol minum. Orang-orang pada ngeliatin, tapi kami tetap makan dengan lahap. Aku bahkan membawa ikan kering dan kerupuk udang dalam tas. 
Malu? 
Buat apa. 
Seperti kata si Gluck, ini gak mencuri kok! Malah menarik aja. Sesuatu yang belum pernah loe lakuin, sesekali wajib dicoba. 
TRY Everything !!!

Tau sejarah KFC, gak?!


Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...