Banyak hal gak bisa
ditebak. Baru kemarin aku fix mau mulai kerja saat surat balasan dari PT Bukit
Asam dikirimkan ke e-mailku. Ngobrol baik-baik sama ibu yang ngasih kerjaan,
akhirnya fix berangkat penelitian tugas akhir ke Sumatera Selatan. Setelah
sekian lama menunggu, akhirnya ada juga yang manggil aku.
Namun, perjalanan
ini tidak mudah. Aku baru dapat panggilan di awal April. Waktu penelitian
kurang lebih dua bulan dan aku mesti ngejar wisuda Agustus. Akhir Juni baru
bisa kembali ke kampus. Benar-benar waktu yang sangat mepet sekali pemirsa.
Dan memang
perjalanan ini gak mudah.
Belum lagi aku yang
sempat ketinggalan pesawat Palangka Raya-Jakarta. Terpaksa beli tiket baru dan
ini sangat membuang uang yang tadinya sudah terbatas juga. Aku masih ingat kemarin nangis-nangis sama
mbak penjaga counter check in
Citilink-nya. Sialnya air mataku gak benar-benar netes, makanya mungkin dia gak
iba. Aku cuma meraung-raung minta dibolehin check in dan memasang muka super panik.
“Mbak, tolong. Saya
tau saya salah, tapi sekali ini saja. Saya mau berangkat penelitian tugas akhir
ke Palembang. Saya gak punya uang lagi buat beli tiket baru.”
“Maaf, mbak. Sudah tidak
bisa lagi,” katanya tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Aku terduduk lemas
di lantai. Koper dan backpack-ku juga
tergeletak persis di depan counter check in citilink. Peduli amat sama koper
yang isinya hanya baju itu. Kalau bisa dijual saat ini juga malah aku akan
sangat senang. Lumayan nambahin buat beli tiket pesawat baru.
Ujung-ujungnya aku
beneran nangis dengan posisi melipat kaki duduk di lantai. Rambutku yang
terurai, koper yang tergeletak tanpa nyawa, posisi duduk yang menyedihkan. Semua
mempertegas kalau aku orang gila. Sekali liat saja orang pasti berpikiran
demikian, maksudku.
Kurang lebih 20 menit
aku di posisi seperti itu. Orang-orang yang ngeliatin ya, biar aja. Ingin kuberkata
kasar sebenarnya sama mbak citilink tadi, tapi gak sanggup. Nanti yang ada malah
jambak-jambakan kitanya, terus ada yang video-in, eh malah viral. Aku belum
siap..menjadi viral!
Singkat cerita, aku
beli tiket baru dengan mengorbankan uang kos yang akan kubayarkan setibanya di
Palembang nanti. Apa boleh buat.
Kami tiba di
Palembang jam 7 malam. Itu pun setelah delay pesawat 2 jam (Lion emang the best). Dari Palembang ke
Tanjung Enim naik travel sekitar 5 jam. Alhasil nyampe subuh jam 3 di daerah
penelitian. Disambut sama ibu kos yang udah jauh-jauh hari ditelpon. Besoknya adalah
hari Minggu Paskah, dan aku molor sampai jam 9.
Aku dan Gilbi pisah
kos. Dia tinggal dengan keluarganya. Aku tetap di kos ini. Selain karena dekat
ke pasar, juga dekat ke Diklat PT BA. Pokoknya aksesnya keren. Senangnya lagi
karena ada keponakan ibu kos, namanya Kak Juwita yang bisa kutanya-tanya atau
ajak kalau aku mau nyari sesuatu di sini.
Satu hal tentang
Tanjung Enim, gak ada tempat tujuan wisata yang bisa dikunjungi. Kalau kata Kak
Juwita ini kota tempat cari duit. Apalagi karena banyak perusahaan tambang. Ya, orang-orang bekerja di siang hari, di
malam hari tidur dengan cepat. Kalau mau ngabisin duit buat liburan, mereka
pergi ke Palembang mungkin. Jam 8 malam aja udah gak ada lagi ojek.
Di PT Bukit Asam
ada beberapa satuan kerja (satker). Mahasiswa magang atau tugas akhir di
tempatkan di satker yang sesuai dengan judul penelitian mereka. dari awal judul
penelitianku memang tentang geoteknik. Tapi aku ditempatkan di satker yang
tidak sesuai. Butuh 3 hari untuk mengurus proses perpindahanku ke satker
geotek. Yap, waktu berlalu cepat. Hari Senin kami diinduksi di kantor diklat PT
BA. Itu seharusnya, tapi karena Bu Ningsih belum kembali dari luar kota
terpaksa kami diinduksi keesokan harinya. Hari Rabu kami ke satker
masing-masing. Aku dua hari di satker yang salah. Hari Kamisnya barulah aku
bisa ke satker yang tepat, geoteknik.
Judulku tentu saja
berganti. Apa yang direncanakan dari kampus memang gak selamanya bisa ditemukan
begitu tiba di perusahaan. Intinya, mahasiswa harus menyesuaikan dengan keadaan
di lapangan. Meskipun gak terlalu jauh menyimpang dari judul awal, gak apalah. Yang
jadi masalah adalah aku yang gak benar-benar menguasai materinya. Mesti belajar
dari nol lagi. Karena jujur, aku udah lupa kuliah semester-semester yang udah
lama berlalu.
Di satker geotek
ada 8 orang mahasiswa. Dari UNPAD 3 orang, dari UNSYAH, UNSRI, STTNAS Jogja,
dan UPR kampusku ada aku dan seorang lagi cowok. Dia udah sebulan di sini.
Well, awalnya
kukira tiap hari ke lapangannya buat ngambil data. Ternyata mereka banyakan di
kantor, berhadapan dengan laptop dan software geotek. Kendalanya juga di
transportasi.
Udah dua minggu
berlalu, dan aku belum ada ke lapangan sama sekali. Kuharap secepatnya bisa
menyelesaikan tugas akhir ini dan kembali ke kampus. Karena sebenarnya aku memang
berpacu dengan waktu.
Agustus, tunggu
aku..,
