Saat ingin memulai tulisan ini, butuh bagiku untuk tarik nafas sejenak. Lebih dari sejenak sebenarnya. Penat dengan pekerjaan kantoran itu, aku melarikan diri ke perpusatakaan yang untungnya buka sampai malam sekarang. Banyaklah yang bisa kulakukan. Mau curhat di sini atau cari loker di internet.
Aku lagi-lagi suka lupa sedang berada di Jakarta. Kota dimana orang-orangnya supersibuk, jalanan yang macet, dan persaingan untuk bertahan hidup yang ketat. Untuk menuju ke perpus ini saja dari kantor aku harus rela macet-macetan sekitar setengah jam baru bisa sampai. Dalam perjalanan, bisa kusaksikan bus yang penuh sesak penumpang yang bergelantungan di dalamnya, gojek/grab yang ngebut berusaha bisa mengantar penumpangnya sampai tujuan dengan cepat (bukan dengan selamat), para pekerja proyek bangunan yang sedang istirahat sambil bersandar di pinggir jalan. Tapi yang paling membuatku merasa mual adalah klakson yang dibunyikan serentak oleh hampir semua pengendara di jalan yang macet. Sepertinya dokter THT harus diperbanyak di kota ini.
Pikiranku melayang ke 6 tahun silam.
Dimana aku baru saja berganti status menjadi mahasiswa baru. Takut-takut terbang dengan pesawat, yang akan membawaku ke Kalimantan. 6 tahun yang lama untuk kuliah. 6 tahun yang ..sia-sia! Lihatlah, aku di sini sekarang. Di kota metropolitan yang tak pernah masuk dalam bucket list kota yang ingin kujelajahi. Tapi aku benar-benar di sini. Sebentar, kucoba untuk berkedip dulu..
Ah, aku benar-benar di sana!
Usiaku 25 bulan Mei tahun ini. Belum tampak tanda-tanda 'berhasil hidup' barang satu pun. Mahasiswa jurusan teknik pertambangan yang kuliah di Kalimantan, yang terlunta-lunta kuliah 6 tahun, berakhir dengan pekerjaan sebagai marketing di Jakarta. Yang kujual bahkan bukan batubara - stainless steel. Aku lelah menitikkan air mata. Jangan tanya lagi bagaimana perasaanku.
Kata orang hidup itu pilihan. Aku sepertinya tidak bisa memilih. Aku tidak memilih, tetapi dipaksa. Ya, aku terpaksa. Terpaksa ke Jakarta. Terpaksa cari kerja 'apa saja'. Terpaksa berjualan stainless steel. Kalau dipikir-pikir lagi dari awal aku memang sudah 'terpaksa'. Terpaksa kuliah di jurusan teknik pertambangan. Terpaksa terbang ke Kalimantan. Terpaksa harus lulus 6 tahun.
Aku memang belum menyerah pada impianku untuk menjadi penulis. Kuusahakan untuk menghasilkan tulisan minimal satu dalam seminggu. Ya, tidak akan bisa tiap hari berhubung pekerjaaan kantoran yang super multitasking itu sudah menyita dan menguras emosiku begitu aku sampai di kosan.
Meski tidak ada kebahagiaan dalam menjalani pekerjaan ini, aku harus pura-pura betah. Bukannya ingin mengejar THR, tapi karena belum ada panggilan untuk pekerjaan lain. Tidak mungkin aku mengajukan pengunduran diri tanpa punya pekerjaan baru. Pengangguran di kota ini = 'mati'. Sebab semua serba uang yang dibutuhkan setiap hari, bahkan jam.