Minggu, 28 Mei 2017

Alam Sadarku, Alam Mimpiku Semua Milikmu, Andai Kau Tahu

Kucoba merangkai kata cinta

Walaupun Ku bukanlah pujangga yang bisa

Tuliskan kata-kata yang indah

Nyatanya tak ada nyali untuk ungkapkan.....

Aku gak ingat bagaimana kami bertemu. Dia adek angkatanku. Aku 2013, dia angkatan 2014. Kami punya banyak persamaan. Sama-sama gila, nekad, slengek-an, cerewet. Kemana aku pergi, disitu ada dia. Bahkan kami sama-sama lahir bulan Mei. Hanya beda 1 tahun 1 hari. Dia 4 Mei 1996, aku 5 Mei 1995. Sungguh suatu kebetulan yang amat jarang dijumpai dalam pertemanan. Gak kayak nemuin koin di tengah jalan.

Anita Farida Marbun, itu nama cewek beruntung yang pernah ketemu denganku dalam hidupnya itu. Meski kami beda kos, toh gak terlalu jauh. Orangnya sih cantik. Kulitnya putih kemerahan kayak orang Belanda. Rambutnya lebat,bergelombang dan agak pirang kayak Belanda juga. Tingginya 165 cm. Dua kali nyoba polwan dan selalu kalah di tinggi badan. Padahal Anita udah bela-belain tiap hari ke kolam renang supaya tinggi badannya nambah. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Mungkin Tuhan pengen Anita tetap disampingku.

Satu lagi persamaan kami berdua adalah : KISAH CINTA.

Bukan! Bukan seperti kisah cinta yang kalian bayangkan. Dimana seorang cewek jadi rebutan 3 orang cowok. Atau cewek yang bosan dikejar-kejar para cowok di kampusnya saking cantiknya.Kisah kami adalah kisah cinta mengenaskan. Tapi sebenarnya lebih mengenaskan kisah cinta Anita.

Sebut aja nama cowok yang tak beruntung itu Laurent. Kok kayak nama vampir? Biar aja deh. Mereka seangkatan, sejurusan dan sekelas. Pas kutanya gimana mereka ketemu, kata Anita sih pas malam keakraban mahasiswa baru. Mungkin love at the first sight. Waktu itu mereka masih ngomong satu sama lain, Anita dan Laurent. Tapi lam-lama kawan-kawan yang lain mulai tahu kalau si Anita suka sama si Laurent. Sejak itu, keduanya gak ngobrol lagi. Entahlah, mungkin jadi malu. 

Kejadian-kejadian banyak yang terjadi. Mulai dari Laurent diajak paksa ke ultah-nya Anita pas malam-malam. Dia yang megang kue ultahnya Anita, terus si Anita tiup lilinnya. Berhubung Anita ini anak yang gampang baper, dia pun makin berharap sama si Laurent. Sementara si Laurent? Pendiam, atau sok cool kayak Edward di Twilight. Yamg pasti mereka gak pernah ngomong satu sama lain. Kata Anita sih, jangankan ngobrol. Kalau mau berpapasan aja, si Laurnt pernah ngambil jalan lain. Tujuannya buat ngehindar. Dari situ Anita sakit hati. Tapi cintanya ke Laurnt gak pernah padam. Bahkan sekalipun dia dengar gosip kalau si Laurent udah punya pacar anak FKIP.

"Kalau dia seandainya sakit, Kak, aku bahkan mau ngerawat dia sampai sembuh. Sekalipun hatiku udah sering dibuat sakit sama dia. Aku gak pernah bisa benci apalagi berpaling buat suka sama cowok lain," ini pernyataan Anita ke aku suatu hari pas kami berdua nangkring di cappucino cincau (capcin) bule dekat kampus. Kita emang sering jalan kaki sore-sore, terus nangkring minum capcin. Gue sih salut ama Anita. Bedakan dengan kisah (cinta) punyaku berikut!

Cowok itu sebut aja namanya Jacob. Jacob seangkatan dan sejurusanku. Aku gak pernah love at first sight sama dia. Tapi bertahap. Ada suatu proses yang kami lewati yang akhirnya ngebikin aku ada rasa sama dia. Dan itu perlahan-lahan. 

Saat melewati proses-proses itu tadi, kita dekat banget. Sering ketawa sama-sama. Punya topik-topik konyol yang gak seharusnya dibahas jadi dibahas. Namun semuanya harus berakhir sejak seseorang datang diantara kami. Gak bisa kubilang datang juga. Karena cewek ini, sebut aja namanya Bela, adalah seangkatan kami juga. Dia mulai dekat sama Jacob. Perlahan-lahan juga, aku mundur. Gak taulah. Mungkin karena kulihat Bela lebih 'layak' disebut cewek bagi Jacob. Intinya si Bela ini cantik. Jauh amat dari aku yang gak bisa dandan.
Menjauh..menjauh. 

Hingga akhirnya mereka.. JADIAN.
Satu kata itu yang bikin kepala rasanya pecah berkeping-keping kayak kacang atom. Mereka emang cocok. Goodbye, Jacob. Aku mulai memasang pertahanan andalanku. Buat ngelupain seseorang, pertama-tama kita mesti block semua pertemanan di medsos. LINE, IG, FB, BBM. Gak, BBM tetap sih. Entah kenapa yang satu itu kusisakan. Padahal aku gak mau sampai ngeliat foto dia berdua dengan si Bela. Tempel-tempel pipi gitu. Atau lebih parah lagi: PELUKAN.

Hari-hari kuhadapi begitu susah. Gimana caranya menghindar dari orang yang jelas-jelas seangkatan dan sejurusan kuliah denganmu? Kecuali kalau aku nyamar jadi tembok. Dia gak bakal liat aku, tapi tetap aja aku liat dia. Penghindaran ini ternyata sangat menyiksa amat. Gimana kisahnya dua orangnya yang tadinya kompak abis tiba-tiba gak ngomong satu sama lain lantaran .. ah entahlah! Paling susah kalau ada temanku yang temannya dia juga, ketemu. Temanku ini nyapa dia, sementara aku gak. Akward!

Iya, mereka udah jadian. Tapi gak pernah bawa si Bela ke gereja bareng. Aku tahu karena aku dan si Jacob satu gereja. Yap, dia yang tadinya kutebengi kalau ke gereja, kini aku harus duduk jauh dari tempat dia duduk. 

Suatu hari Anita cerita kalau hari Minggu kemarin dia nanyain aku. "Si X dimana?"

Aku gak gampang percaya sama orang. Tapi Anita berani pake sumpah-sumpah segala. Jacob nanyain aku dmana.. Itu rasa-rasanya kayak bilang: sebenarnya sebelum Bela, gue udah suka sama loe!

Pikiran itu kubuang jauh-jauh. Wajar aja kalau si Jacob nanya kayak gitu. Karena dia gak ngeliat aku ada di samping Anita, sementara biasanya kemana-mana kita selalu bareng. Wajar dia nanya.. aku dimana..
Dan hari Minggu tadi, kita ke gereja. 

Sialnya kita telat datang. Tempat parkir bahkan ganti. Gak di tempat biasa lagi. Di parkiran, tebak kita ketemu siapa? Yup, si Jacob. Gobloknya lagi si Anita manggil nama dia. Si Jacob noleh dan ngeliat kita.

"Bang Jacob, tunggu kami."

Si Jacob entah apa yang ada di pikirannya. Dia nunggu kami. Saat itu malah ada cowok yang nanya ke aku daimana jalan masuk ke gereja. Aku nunjuk aja ke arah jalan masuknya.. dan gak sengaja nunjuk ke tempat dimana si Jacob berdiri dan ..kita saling bertatapan. Akward, sumpah!!

Baju yang kupakai hari itu, mini dress cream. Rambut diikat tinggi. Pakai eyeliner dan blush on. Sumpah gak nyangka bakal ketemu dia hari ini. Ini diluar dugaanku. Pengen pulang rasanya. What he will think about my performance that day? OMG!!!

Tiba di halaman gereja kita bengong karena di sana banyak orang-orang pakai kursi plastik. Pasti di dalam udah penuh. Siapa suruh kami telat. Dan ternyata hari itu ada acara Imam 3 orang. Jadi pastor gitu. 

Ujung-ujungnya kita ikut ngambil kursi plastik juga dari aula gereja. Tapi gak duduk di dekat si Jacob. Dia di seberang kami. Sedangkan kami di sebelah kanan pintu keluar gereja. Apesnya aku duduk dan menghadap tepat ke arahnya, tepat dimana dia duduk. Ini gak bener, yaoloh... Suddenly, teringat kata si Anita yang soal dia nanyain aku kemarin. Shit.. How do I can forget him, when he was appear in front of my face..

Pada akhirnya, kisah ini bego dan konyol. Dan gak rela buat dilupakan....



Minggu, 21 Mei 2017

Aktivis Lingkungan

Kemarin tanggal 20 Mei gue ikut kegiatan pelatihan dari BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) KalTeng. Kegiatannya di TWA (Taman Wisata Alam) Tangkiling. Kegiatan ini diselenggarakan oleh BKSDA, bekerja sama dengan BPSKL Wilayah Kalimantan. Diikuti oleh kader konservasi, Komunitas Pecinta Alam, KSM/KP dan Kepanduan. Semua peserta mendapat biaya akomodasi, konsumsi dan uang saku. Setiap organisasi kuotanya 10 orang. Tapi nyatanya sampai pihak BKSDA ngehubungin kami duluan, hanya gue dan Bang Tanzi yang bisa dari Mapala "Dozer". Begitu di absenin di lapangan dan Mapala yang lain ngeliat kami hanya berdua, sementara mereka rame banget. Gue selaku ketua ngerasa..gagal! Gagal mengajak anggota gue yang lain. 


Kami naik pick up. Sebenarnya bukan pick-up sih, itu loh mobil bak terbuka yang kayak ngangkut tentara. Yang duduknya hadap-hadapan. Gue duduk paling pinggir pintu belakang. Ini posisi favorit gue. Angin sejuk banget menerpa wajah ini. Kami tiba di TKP. Karena mau naik bukit, kita pun pemanasan dulu. Setelah itu naik bukit, buat pungut sampah sekalian nanam bibit pohon. Setelah selesai, semua turun. Sekitar jam 11 siang, kami diarahkan ke pendopo dan diberi materi. Pematerinya Pak Eko dari BPSKL, di bajunya tertulis "Forest Ranger". Beliau menceritakan latar belakang pendidikan beliau, yang ternyata dari Surabaya. Sekolahnya sejenis pendidikan konservasi hutan gitu. Gue lupa apa nama sekolahnya. Hingga sekarang beliau jadi orang yang memikirkan lingkungan. Aktivitasnya juga untuk melindungi dan melestarikan alam. Mulia banget gak sih? 


Beliau menyampaikan materi packing. Tetapi awalnya, kami disuruh menuliskan impian kami di selembar kertas yang dibagikan beliau. 


"Dalam hitungan ke-10 tidak ada lagi yang menulis," katanya.Gue nulis sesuatu di kertas gue. Namun gue kemudian sadar, kalau cita-cita gue berubah-ubah sesuai apa yang tengah gue hadiri. Misalnya kayak saat itu, gue ikut pelatihan konservasi lingkungan, maka cita-cita yang tertulis : Aktivis Lingkungan. Mungkin kalau saat itu gue ikut acara seminar tentang hewan peliharaan dan disuruh nulis impian di selembar ketas, mungkin gue bakalan nulis : Pawang Anjing.


Semua kertas dikumpul. Beliau ngeliatin sambil nyebutin isinya. Sambil nasehatin juga. Bahwa menjadi pewujud impian orang lain itu jauh lebih mulia. Beliau menampilkan foto 2 orang yang di puncak gunung. Terakhir gue tahu kalau itu Everest. Ketika beliau bertanya siapa dua orang itu, Bang Tanzi angkat tangan. "Tenzing dan Hillary," kata Bang Tanzi. Dan benar. Bang Tanzi dapat note kecil warna pink, yang langsung gue rebut begitu sampai di tangannya. Gue bilang, "Cowok gak cocok pake warna pink."Pak Eko cerita kalau sejarah yang tercatat adalah bahwa Hillary-lah orang yang pertama kali sampai di puncak Everest. Padahal nyatanya si Tenzing. Si Tenzing adalah guide, jadi sudah tentu seorang guide tiba duluan dibanding yang di pandunya. Namun, si Tenzing ini punya impian. Dia ingin mewujudkan impian orang lain. Itulah impian si Tenzing ini. Wah, gue terharu. Masih ada orang sepolos, serendah hati dan semulia itu. Kalau itu gue, gue pasti duluan aja. Gue pengen nama gue-lah yang tertulis di sejarah, sebagai orang yang pertama kali menginjakkan kaki di puncak Everest.


Kami disuruh mengambil kembali kertas impian kami, dan menyuruh kami menyimpannya dalam dompet. Sebagai jimat, siapa tahu impian kami itu terwujud. Gue, pulangnya dari pelatihan malah masukin kertas impian gue itu ke tabungan kaleng gue di kos. 

Materi selanjutnya dari bapak BKSDA. Gue lupa namanya. Tapi kayaknya beliau kenal banget sama "Dozer". 

"Yang dari Mapala "Dozer"?" tanyanya.Kami berdua tunjuk tangan. Begitu sepi tangan yang terangkat. Beliau menanyakan jurusan kami berdua. Bang Tanzi otomatis selamat, karena dia Teknik Informatika. Aku? Teknik Pertambangan. Entah ngapain ada di situ, ikut pelatihan konservasi hutan. Dua hal yang bertentangan bukan? Begitu jurusan kuliah gue sebutin, semua orang langsung ber-huhu..


"Coba mbak, jelaskan bagaimana tambang yang ramah lingkungan."

PAK? Gak ada yang begituan. Hampir aja gue pengen bilang itu. Tapi gak sih. Gue disuruh berdiri. Semua mata tertuju ke gue. Thanks, Pak. 


"Setahu saya,..."

"Perkenalan dulu, dong!"


Sheet!

Setelah nyebutin nama dan asal organisasi, gue pun jawab pertanyaan beliau apa adanya dengan kata-kata yang masih tersisa di otak ini.


"Setahu saya Pak, tidak ada tambang yang ramah lingkungan. Semuanya merusak lingkungan. Namun ada tindakan yang bisa dilakukan jika penambangan sudah selesai. Yaitu reklamasi. Tanah penutup atau over burden tadi ditimbun kembali ke tempat asalnya. Kemudian ditanami dengan tanaman. Begitu, Pak. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua perusahaan melakukan itu. Sebagian perusahaan ada yang lari, meninggalkan bekas tambangnya begitu saja begitu bahan galian di daerah tersebut habis ditambang. Selain itu, perlu diketahui juga bahwa biaya reklamasi itu sendiri mahal. Perusahaan bakal mikir dua kali untuk melakukan reklamasi."

Beliau suruh semua orang tepuk tangan. Tapi gue gak ada tuh dikasih note pink

Entah kenapa, somehow gue ngerasa ganjil ada diantara mereka. Gue anak tambang. Tapi juga pecinta alam. Dua hal yang bertolak belakang. Apakah suatu hari bisa menyatu. Wkwkwkwkw.

Foto Magdalenapotter Nainggolan.


Foto Magdalenapotter Nainggolan.

Foto Magdalenapotter Nainggolan.

Foto Magdalenapotter Nainggolan.

Foto Magdalenapotter Nainggolan.

Foto Magdalenapotter Nainggolan.

Foto Magdalenapotter Nainggolan.

Foto Magdalenapotter Nainggolan.




Selasa, 16 Mei 2017

Lahir, Sekolah, Bekerja,.. Mati

Akhir-akhir ini gue lebih sering merenung. Ternyata umur manusia singkat. Ternyata kita cuma numpang di bumi. Ternyata setelah lulus kuliah gue mesti bisa punya kerjaan. Ternyata hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membenci. Ternyata.., mencintai diam-diam itu sakit! Dan akhirnya banyak banget ternyata-ternyata lainnya yang muncul dari hasil gue merenung. Jangan kira merenung itu gak ada manfaatnya. Dengan merenung, lo bisa merasa lebih dekat dengan impian lo. Apalagi karena merenung itu gratis, alias gak bayar kayak mau pup di WC umum. 

Ya, dan begitulah. Kesibukan gue akhir-akhir ini setelah pulang dari kerja praktik adalah ngerjain laporan. Ngejar buat seminar sebelum UAS semester ini. Gue sih gak yakin bisa sempat. Soalnya UAS udah dimajuin dari tahun sebelumnya. Beside, gue sama Jea gak terlalu sreg ngerjain laporan ini. Entahlah, mungkin karena mineral. Bukan kayak teman-teman yang lain, batubara. Kami gak ada gitu excited-nya buat menggawinya. Udah kerja praktik gak ada sebulan di lapangan, gak ada ngambil data sekunder, eh pas udah pulang malah males ngerjain laporan. Mana pengennya bisa sempat seminar. Kadang manusia memang punya hasrat yang lebih besar daripada usaha. 

Teman-teman yang ngeliat gue sama Jea udah di Palangka pada bingung. Kok bisa gitu, gue udah balek. Secepat itu. Gue, daripada jujur ngaku bilang kalo kami udah selesai kerja praktik hanya 3 minggu, lebih milih buat bilang, "Kami pulang pergi jadinya sekarang. Deket kok, cuma 2 jam naik motor. Soalnya Jea ada mata kuliah. Aku juga."

Ada yang percaya. Tapi, akhirnya bocor juga kalo kami kerja praktik-nya hanya sebentar. Ada aja oknum-oknum gak bertanggung jawab yang gak bisa jaga rahasia. Dibeberkannya kalau kami kp-nya hanya 3 hari. Banyangin! Fitnah banget gak sih?!!

Di sela-sela laporan, gue juga masih bingung nyusun acara kunjungan ke panti asuhan tanggal 20 entar. Dalam rangka 20 tahun Mapala "Dozer jadi ya, salah satu kegiatannya kami kunjungan ke sana. Sekedar berbagilah. Silaturahmi. Rencananya kita pengen adakan game juga, sambil mencoba untuk mengenal mereka, dekat dengan mereka. 

Selain itu ada GmnI dan kegiatan di paguyuban KSE. Kalau GmnI, gue udah coba buat gak terlalu aktif lagi di sana. Tapi tetep aja gak enak. Mereka baru merekrut anggota baru. Yang terakhir, paguyuban, you know-lah. Ini tuh pemberi beasiswa. Sempat gak aktif di sana, gue bakalan di beri peringatan. Jauh-jauh aja dah, jangan sampai di-cut. Harapannya gue bisa tetap nerima dana beasiswa dari sini sampai lulus kelak. Program kerja terbaru sih, mau bikin desa binaan gitu. Ngajar anak-anak SD di sana. Dan gak bisa bacot, gue ditunjuk jadi koordinator mata pelajaran bahasa inggris. Ini gara-gara si Mario. Dia baru sekali denger gue bacot pake english dan mungkin dia terpesona dengan kefasihan gue yang gak banyak itu. Pas rapat kemarin, dia langsung sebutin nama gue. Asem!


Ada lagi Mr.Xi, masih ingat, kan. Orang Chinese dari tempat kerja praktik gue kemarin. Dia nge-sms gue kemarin malam. Dan bahasa sms-nya itu kayak anak balita. Ada aja kata-kata yang salah. Entah salah ketik atau dia emang susah bahasa indo-nya. Kayak gini nih:


Mr Xi : halo magdalena lagi apa. kapalnya dimana?

Untung gue gak bales, 'kapal yang mana, Mister? Kapalnya Van Der Wijk kan udah tenggelam?'

Untung gue cerdas dan tanggap. Pasti dia mau nanya 'kabarnya gimana?'

Gue bales: Halo Mister. Ini saya lagi ngerjakan tugas kuliah. Kabar saya baik. Mister sendiri apa kabar?

Pesan moral nomor sekian, kalau orang nanya kabar lo, tanya balek kabar dia. Ini adalah etika kabar-kabari.

Mr Xi bales: iya kbr saya baki juka. nanti kalau saya ada waktu ke palangka kita ketemu y

WHAT???????????????????

Biar gak ribet gue bales: iya Mister.

Mr Xi : Ini nomor palu ya?

Palu siapa Mister??????

Gue bales: Gak, ini udah lama. Ada dua no hp saya.

Mr Xi: ohh


Balik lagi ke judul hari ini. Jadi, kemarin gue sama Bonita nongkrong di angkringan goreng pisang pinggir jalan Yos Sudarso. Kita berdua habis pulang dari Korem, jogging. Di korem banyak orang. Semua dengan tujuan yang sama, olahraga. Kita ke angkringan dengan kondisi keringatan. Masih pakai sepatu dan celana pendek. 

Sambil makan goreng pisang Bonita cerita soal tiba-tiba dia punya niat buat S2 ke luar negeri. Of course by scholarship. Terus gue bilang kalo beberapa jenis beasiswa meminta pengalaman kerja minimal 2 tahun setelah lulus S1. Dia bilang mau nyari yang gak ada syarat kayak gitu. Terus dia cerita soal Tasya Kamila yang dapet beasiswa LPDP. Dia bilang biar gue tonton di youtube. 

Bon, gue juga pengen, keles. S2 ke luar negeri dengan beasiswa? Gak nolak mah. Gue mau sekalian jalan-jalan di Eropa sono. Ngerasain salju, coi. Pake boot, syal, topi rajut, sarung tangan dan jaket tebal. Ah,, salju.

Pulang dari angkringan, kami cus ke Naughty. Gue mau nyari Headband. Akhir-akhir ini gue jatuh cinta sama cowok ini, Kim Tae Hyung alias V BTS. Orang paling lucu, paling imut sekaligus paling aneh di boyband itu. Para army nyebut dia 'Si Alien.'



Tiba di Naughty langsung disambut sama mbak-mbaknya. Tapi gue pengen bilang, oh tidak usah. Saya bisa cari sendiri. Bonita nyaranin biar gue nanya aja sama mbak-nya biar kita bisa cepat pulang. Dia udah pengen mandi katanya. Gerah. Gue bilang gak usah. Eh dia malah nanya sendiri..

"Mbak, ada had been?""

WHAT?

Untung mbak-nya gak jawab, "Gak ada, Mbak. Adanya has been ."

wkwkwkwk.








Senin, 08 Mei 2017

The Pathetic Me

Entah sejak kapan, yang pastinya belum lama-lama amat, gue menyadari kalo ulang tahun gak mesti dirayakan. Kebetulan 5 Mei kemarin ultah gue dan kita di hutan. Yap, lagi KP. Selama ini gue ngeliat (teman satu geng), kalo ada yang ultah hari itu pasti sok-sok jahat sama yang ultah atau pura-pura gak ingat kalo ada yang ultah. Eh, malamnya ngasih surprise, bawa kue ultah gede amir plus lilin plus balon. Kalo gak lupa dan niat kotor-kotoran malam itu: telur + tepung. Kejadian ini berulang terus setiap member di geng itu ada yang ultah. 

Jujur aja, gue malah muak!
Itu tuh secara lisan malah kayak mau bilang gini: "Ultah lu udah gue surprise-in nih. Giliran ultah gue nanti jangan lupa ya!"
Semacam balas budi, semacam bayar utang, semacam..Ahh! Pokoknya gak banget.

Ya kalo kita ultah, cukup berdoa. Bilang makasih sama Tuhan karena udah nambah umur 1 tahun. Bilang makasih sama Emak, karena udah dilahirin ke dunia ini. Gitu aja sih. Simpel, jujur dan ability (apaaan sih)

Tapi, nyatanya, di hari ultah gue kemarin, gue malah sedih juga dan ngarep ada yang surprise-in gue. Tapi kita di hutan. Gak mungkin ada yang rela bela-belain datangin ke tempat gue KP sambil nenteng-nenteng kue ultah. Bisa-bisa telur sama tepungnya pecah di jalan duluan.
Intinya, gue muak juga sama diri gue sendiri!

Ada yang lebih pathetic dari ini?

Tapi, 

YOU DON'T KNOW ABOUT ME, BUT I'M 22. EVERYTHING WILL BE ALRIGHT....



GO..GO..GOO.. TAYLOR SWIFT.

Senin, 01 Mei 2017

Once Upon A Time at PT Investasi Mandiri



Akhirnya setelah ditolak sepuluh kali, pontang panting kesana-kemari nyari perusahaan tambang tempat kerja praktik (2 SKS), akhirnya kami diterima di pengolahan zircon. Jaraknya sih bisa ditempuh 2 jam naik motor dari Palangka Raya. Tapi kita berdua sepakat bolos kuliah, demi..masa depan yang agak cerah! Singkatnya ya, kami sebenarnya gak rela bolos kuliah. Ada beberapa matkul yang direkos, dan gak bisa titip absen sama teman. Kenapa? Karena absennya dipanggilin. Dosen kayak beginian pasti gak punya kerjaan di rumah, makanya sengaja lama-lamain di kelas.
Gak terasa udah 5 hari kami di pabrik. Ya, sebut aja gitu. Kan tempat pengolahan. Kami enak sih, mess ada. Malah langsung kantor si bos. Ada AC, kulkas, mesin cuci dan dikasih makan 3x sehari. Perutku yang biasanya hanya dikasih makan 1x sehari otomatis berontak. Pabrik pengolahannya gak luas kok. Paling cuma sekian hektar. Oke, ini karena aku gak tau satu hektar itu sekayak gimana. Pokoknya gak luas deh. Karena pabrik persis di depan mess, aku sama Jea tinggal melangkah 10 langkah aja.
Mulai kerja di pabrik jam 7. Ada kurang lebih 20 karyawan disini, termasuk 2 orang ibu tukang masak. Iya, ini pabrik baru jalan Februari 2016 kemarin. Sebelumnya, bahan baku mereka tambang sendiri, sekarang malah beli dari rakyat. Jadi kayak macam Tauke gitu. Sebagai anak magang, seharusnya kami berdua ikut bantu-bantu, entah masak di dapur atau apa. Tapi kami malah sering bangun setengah 7 pagi. Mandi berlama-lama, dan akhirnya ke lapangannya jam 8. Anak magang macam apa!
Disini karakter orang bermacam-macam. Aku gak tau semua orang. Ada orang China, Mr.Xi yang gak bisa bahasa Inggris dan ngomongnya (maaf) cadel. Kalau kita minta dia jelasin sesuatu tentang Zircon, aku harus ekstra keras berusaha memahami apa yang dia bilang. Jea malah sok ngerti dan nganggukin kepala terus kayak ayam ngantuk. Ada Kak Fahrizal, supervisor. Ini orang entah mataku yang salah liat, mukanya itu kok kayak mau ketawa terus. Ekspresinya dia kayak orang yang ngerasa lucu setiap saat. Jadi, kayak mau ketawa terus. Ini orangnya baik aja, tapi manggil orang suka teriak-teriak. Mungkin udah saatnya pabrik ini punya HT. Ibu kantin baik juga. Kerjaannya nyuruh makan terus, 24 jam, 3x sehari. Masakannya juga enak-enak terus.

Kejadian-Kejadian Tak Terduga
Kaca mata Jea jatuh ke saluran pengolahan. Udah gitu, dia bukannya ngasih tau ke Kak Rizal, malah bilang mau ngerelakan aja. Tak tega, aku turun tangan. Melaporkan kejadian ini ke sang supervisor.
“Kak, kacamata Jea jatuh ke Grade A.”
Laporan itu cukup ilmiah. Wkwkwk, Grade A. Yaitu zircon dengan konsentrat paling tinggi. Kak Rizal nyuruh orang buat nyelam di bak penampungan Grade A. Tapi gak ketemu. Jea pun bilang ke orang itu biar naik aja. Kaca matanya dilupain aja. Eh, sorenya malah dapat kacamatanya. Kacanya tergores gitu.
Mr Xi minta no HP Jea. Eh, yang minta no HP-ku malah ibu kantin. Aku bukannya cemburu. Bodo amat, mah gue. Ibu kantin minta no HP-ku biar nanti kalau udah selesai kerja praktik dari sana, beliau bisa nelpon aku nanyain kabar. Mr Xi?
“Je, gimana dia minta no HP mu?”
“Bukan dia yang minta, tapi no HP-nya dia disuruh kusimpan di HP-ku.”


Makin seru nih! Aku pun ngeledekin Jea sejak itu. Apalagi kebetulan menurut kabar yang beredar Mr Xi belum menikah. “Kamu jadi ibu kantin ke-3 di sini aja, Je.”  

Besoknya Mr Xi minta no HP ku juga.

Kami ke lapangan cuma 3 jam aja. Paling lama 4 jam-an. Nanya-nanya, ngambil foto atau video, dan tentunya selfie. Tiap hari memang ke lapangannya, tapi ya itu. Paling lama cuma 4 jam. 20 jam lagi kami habiskan dengan nonton, nonton dan nonton. Gak punya kuota data, sehingga gak bisa selancaran di medsos. Jea punya, tapi kalo diminta buat theatring, dikasih sih. Tapi gak enak juga minta tiap hari. Kegalauan terbesarku adalah kalo udah dapat theatring dan semua pesan bermasukan dari BBM, LINE, IG, dan WA. Sumpah, berisik amat dengan nada yang berbeda-beda. Pas di cek, ada pesan dari kawan kalo ada tugas yang bakalan dikumpul dua hari lagi atau besok. Kami langsung pontang-panting nyari jasa orang yang bisa ngerjakan tugas itu buat kami. Ahh..! Resiko kalo lo kuliah sambil kerja praktik. 

Tapi, sumpah deh.
Tinggal di pabrik ini yang mana gerbangnya dikunci terus dan hanya dibuka ketika ada orang/bos/tamu yang datang atau pergi. Selebinya tertutup rapat. Rasa-rasanya tuh kayak lo terisolasi dari planet bumi. Soalnya lagi ada perang saudara di planet bumi. Rasanya tuh disini sepi, bosan, karena yang lo lakuin tiap hari (paling banyak) adalah nonton dan tidur.



Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...