Memang gak ada yang bakalan nolak sesuatu yang
gratis. Apalagi jalan-jalan gatis, ye kan. Meskipun bukan 100% jalan-jalan,
buat gue ini sih tetap liburan lah. Untuk mahasiswa yang lagi galau karena
menjadi satu-satunya orang di jurusan dan seangkatan gue yang belum berangkat penelitian Tugas Akhir, ini tuh sesuatu yang luar biasa keren. Kayak nemu
osengan, maksud gue,..oase di padang gurun. Adem.
Berawal dari baca di grup (untungnya juga gue
pernah masuk dan ikut ukm kampus) mapala, ada senior yang ngasih kabar. Ada
pelatihan konservasi karst dari walhi dari 17-23 November di Jogja. Meskipun
belum tau karst itu apaan, gue langsung chat senior itu dan bilang fix ikut.
Kuotanya hanya buat satu orang. Jadi, meskipun ada anggota lain (sekretaris)
yang pengen ikut, gak bisalah ngebantah gue yang notabene adalah pemimpin (baca
: ketua) di ukm ini (tepuk dada - bangga). Yang paling bikin semangat ikut sih, karena biayanya
ditanggung full sama panitia walhi. Hehehe. Yang bikin gue perlu mikir-mikir lagi buat
ikut : ada presentasi tentang gambaran umum dan sebaran karst di provinsi
masing-masing. Dalam hal ini berarti aku mewakili Kalimantan Tengah.
16 November 2017
![]() |
| Sebelum berangkat, foto dulu di depan sekre ^-^ |
Setelah mondar-mandir cari-cari alat (ternyata
kami bakalan masuk goa untuk mengamati karst) dan beberapa persiapan lainnya,
berangkatlah gue dan seorang lagi cowok namanya Rifai dari mapala sebelah. Sebelumnya
gue belum pernah kenal sama si Rifai. Kita pun ngobrol. Ternyata ini
penerbangan pertama dia. Transit di Surabaya 3 jam, terpaksa menunggu sambil
makan popmie di mart terdekat. Saat pembayaran, gue nyesal gak makan bekal nasi
goreng gue aja. 25 ribu cuy, popmi rasa ayam kuah. Rifai mesti ngeluarin
receh-recehan dari celah dompetnya untuk menggenapi 25 ribu itu. Fiuh, untuk
kalian yang mau makan di area airport,
pikir lagi deh dulu.
Kami tiba di Jogja jam 7 malam (delay setengah
jam dari waktu normal keberangkatan). Cuaca memang sedang tidak bagus. Gerimis
menyambut kedatangan kami di kota Gudeg ini. Langsung disambut oleh mas-mas
yang udah ditugasi menjemput kami dari bandara. Ada juga kawan dari mapala
Kompas USU. Langsung deh ngalor-ngidul.
Tiba di basecamp Walhi Jogja, udah banyak
kawan-kawan dari mapala lain. Basecamp-nya keren, bertingkat. Desainnya juga
ala-ala Jepang gitu. Berhubung udah capek seharian di perjalanan, gue putuskan
untuk tidur di lantai atas. Ketemu sama cewek dari Mapala Baturpala dan dari
Bengkulu.
17 November 2017
Terbangun paginya tau-tau ada di atas kasur
empuk (di kosan gue tidur di papan). Ternyata gue lagi di Jogja. Udah semakin banyak kawan-kawan mapala yang
berdatangan dari berbagai daerah. Kita pun sarapan di angkringan dekat lapangan
bola, gak jauh dari basecamp. Kawan-kawan dari UISU juga udah hadir di sana.
Jam 3 kami meninggalkan basecamp Jogja menuju
basecamp di Gunung Sewu. Perlu waktu 2 jam dengan kondisi jalan menikung dan menanjak
melewati Gunung Kidul. Lagi-lagi disambut dengan gerimis di basecamp sana.
Malamnya diadakan perkenalan dan persiapan
slide presentasi tentang keadaan alam wilayah masing-masing dan sebaran karst
di region daerahnya. Oke, gue belum liat perwakilan dari Kalimantan Timur dan
Kalimantan Selatan. Mau minta slide presentasi materi karst. Hahaha.
Kami tidur di kamar yang tersedia di dekat
museum karst itu. Ruangannya cukup luas dan ada kamar mandi di dalam. Meskipun
hanya tidur beralaskan tikar, ini bakalan menyenangkan karena gak lama lagi gue
bakalan ngerasain masuk ke dalam goa. Teman sekamar gue ada 6 orang, Cambay
dari Lampung, Winda dari Jakarta (asli Samosir), Anis dari Padang, CAI dan CL
dari Jawa (Jawa mana gue lupa), Novi dari Kalimantan Selatan.
18-19 November 2017
Selama dua hari berturut-turut kami diberikan
materi di dalam ruangan. Ruangannya di dalam auditorium dalam museum. Materi Kewalhian,
Karstologi, Fotografi, Cave Mapping,
Evolusi. Somehow gue ngerasa jadi mahasiswa yang kuliah di jurusan Antropologi. Seru. Setiap pagi kelas selalu mulai jam 9 dan berakhir jam 6. Harusnya sih, tapi satu hal tentang anak mapala. Mereka susah bangun pagi karena malamnya gak pernah tidur cepat. Ada aja yang diobrolin dalam tongkrongan. Tentunya : mengkritisi kebijakan pemerintah. Paling cepat tidur jam 2 subuh. Jadi bisa ditebak bangunnya jam berapa. Jam 3 ada coffe
break. Satu hal lagi tentang anak mapala, ilmu survive-nya tinggi. Jangan pernah mau ngopi belakangan, karena yang tersisa bakalan cuma gelas sama remah roti. Pagi-pagi jam 6 ada senam bersama di depan museum. Tapi banyak yang senam sambil matanya merem.
![]() |
| Orang NTT, Sumut dan Kalteng |
![]() |
| Taken by : Cambay |
20-21 November 2017
Kami dibagi ke dalam 5 kelompok dan tiap
kelompok akan menjelajahi goa yang sama. Hanya ada satu goa vertikal, di
kelompok satu. Gue gabung di kelompok 3, sama kayak Winda. Nama goa yang akan
kami masuki : Kledoan. Meskipun hanya goa vertikal, tetap harus menggunakan
helmet dan coverall serta boot.
Gak lupa juga headlamp,
berhubung keadaan di dalam goa sangat gelap.
Kami tinggal di rumah penduduk, dimana si bapak
kebetulan ketua adat di dusun ini. Wah, hampir tiap detik kami disuguhi makanan
sama istri si bapak. Benar-benar makmur dah. Udah gitu ramah benar, keluarga
dan penduduk-penduduk disini.
| Sebelum terjun ke dalam goa |
| Kelompok 3 di desa Girikpunggung, Gunungkidul |
| Gelap dan dingin, tetap kibarkan slayer.. |
Tim dibagi lagi ke dalam 3 divisi; bentang
alam, pemetaan dan ekosob. Gue masuk divisi bentang alam. Tugasnya mengamati
alam di sekitar gua, flora dan fauna di luar dan dalam goa. Simpel, kan?
Setelah selesai mengambil data, kami pun
menyiapkan materi presentasi dalam kertas A0. Tadinya sih kirain pakai software.
Ternyata cuma pakai excel, grafik gitu.
Sore jam 3 tanggal 21 November, kami pamit dari
rumah bapak dan sebelum kembali ke museum, rombongan kita main dulu ke pantai
Siung. Langsung deh jepret sana-sini. Kami tiba malam hari di museum, sekitar
jam 18.30.
22 November 2013
Paginya diadakan presentasi hasil pemetaan gua
setiap kelompok. Setelah semua selesai, dilanjutkan dengan penyusunan RTL
(Rencana Tindak Lanjut). Sekitar jam 4 sore, kloter pertama sudah diantar ke
basecamp Walhi Jogja di Kotagede. Gue yang kebagian kloter kedua terpaksa nunggu
sampai bus yang ngantar mereka balik lagi, sekitar jam 9 malam. Alhasil tiba di
Kotagede jam 11 malam. Bukannya pada tidur, anak-anak malah pada ke Malioboro.
Naik apa? GoCar.
Di Malioboro semua pada nyobain pohon beringin
yang kalau bisa dilewati bisa dapat jodoh cepat-cepat. Tapi dengan syarat
matanya harus ditutup. Yang gagal sampai 4 kali, belum juga puas dan masih
betah nyoba lagi dan lagi. Gue? Ada 5 kali nyoba dan gue selalu berakhir dengan
lintasan ke kanan, jauh dari celah kedua pohon. Ada apa dengan sebelah kanan???
Setelah pada capek nyobain, barulah kami
nangkring di warung yang udah tutup sebenarnya mengingat saat itu sudah jam 2
pagi. Gara-gara kami, si ibu terpaksa bertahan sebentar lagi. Ada yang pesan mi
goreng, kopi dan gorengan. Baru sekitar jam 3.30 kami kembali ke basecamp.
![]() |
| Entah pada ngapain.. |
23 November 2017
Udah pada menyusun rencana kapan pulang.
Mengingat gue punya agenda internal di kampus, gue pun mesti pulang tanggal 26.
Sebelumnya gue mesti ke Serang buat jumpain adek gue yang kuliah di sana. Udah
4 tahun gak ketemu dia. Gue harus mengubur keinginan dalam-dalam saat banyak
kawan yang ngajakin naik Merbabu. Tapi ya, cuaca gak bagus juga buat muncak.
Relakan aja dah.
From Jogja To Serang
Gak mudah buat gue berpisah sama kawan-kawan
sesama mapala yang udah seminggu menghabiskan waktu bersama. Meskipun pada
awalnya sulit untuk beradaptasi, namun lebih sulit lagi rasanya ketika
mengucapkan salam perpisahan. Apalagi Yuni, cewek Padang yang lumayan rese kalo
ngomong, meski bukan teman sekamar tapi kita satu tim di kelompok 3. Dan Yuni
nangis pas ngantar gue ke stasiun. Mau tau berapa orang yang nganterin ke
stasiun? Ada 11 orang. Padahal yang pergi kan cuma gue seorang.
Ini adalah kali kedua gue naik kereta. Meskipun
hanya kelas ekonomi, gue tetap bersyukur karena bakalan bisa ketemu adek. Keretanya
berangkat jam 6 dari stasiun Lempuyangan menuju stasiun Senen di Jakarta. Gue
satu tempat duduk sama seorang bapak yang akan berhenti di Bekasi. Untungnya
beliau baik ngasih gue theatring, mengingat paket data gue habis sejak kemarin
dan belum diisi.
“Mau kemana, Mbak?”
“Serang, Pak ketemu
adek saya.”
“Aslinya mana?”
“Sumatera Utara
Medan, Pak. Tapi saya kuliah di Kalimantan Tengah. Kemarin ada kegiatan di
Jogja.”
Si bapak geleng-geleng
kepala. “Hebat ya, mbak. Bawa-bawa tas segede itu.”
Lama perjalanan
Lempuyangan-Senen 8 jam. Gue tiba jam 3 pagi di Pasar Senen.
Tadinya gue mau nginap di mapala apa gitu yang
dekat-dekat stasiun Senen. Tapi gegara slow
respon dari yang mau jemput, akhirnya gue putuskan buat ke Serang aja dulu.
Tapi pulsa gue gak ada dan paket internet habis. Gimana mau searching info jalur ke Serang? Akhirnya
gue putuskan buat keliling nyari counter yang masih buka (atau udah buka) jam
segitu pagi. Carrier gue tinggalin tergeletak di lantai stasiun. Toh kalo pun
hilang, gak ada yang terlalu berharga di dalamnya. Paling helmet pinjaman, sleeping bag pinjaman, webbing pinjaman, celana dan jaket
pinjaman dan carrier itu sendiri juga
bahkan pinjaman. Loh?
Gak berhasil ketemu counter pulsa. Gue malah
ketemu bapak-bapak yang katanya juga nyari counter pulsa kayak gue. Kita sempat
ngobrol sebentar. Terakhir beliau ngasih kantongan berisi akua dan roti ke gue.
Gue tolak secara halus, mengingat beliau orang yang baru gue temui, tapi karena
terus dipaksa dan gak enak, akhirnya gue terima aja.
“Mbak, hati-hati ya. Jangan nanya ke orang
terus-terusan. Pokoknya sampai hari terang jangan jauh-jauh dari stasiun deh.”
Dari KRL (Commuter
Line) Hingga Grab
Harus gue akui kalau perjalanan sendirian gue
ini ngebikin gue harus belajar alat transportasi di Jabodetabek. KRL salah
satunya. Seumur hidup ini kali pertama gue naiknya. Kayak kereta sih, cuma
posisi bangkunya aja yang beda. Tiketnya juga semacam kartu elektrik yang bisa
diisi gitu saldonya. Dan ya tentu saja paling murah. Pesan gue sih buat kalian
yang belum paham daerah yang dikunjungi ya rajin-rajin aja nanya sama orang
lokal. Biar gak cengo kayak gue.
Begitu gue udah duduk di KRL (bersih amat
lantainya, adem juga), barulah ada pesan balasan dari kawan mapala yang gue
mintol jemput. Gue bilang aja lagi otw Serang, ntar aja mampir ke sekre mereka
kalau sempat balik hari itu juga dari tempat adek gue. Soalnya tiket pesawat
gue besok, Minggu malam.
KRL adalah transportasi yang sering gue liat di
drama-drama korea. Ada sih bangkunya tapi terbatas, jadinya banyakan yang
berdiri dibanding yang duduk. Makanya banyak gantungan tangan di dalam KL.
Sayangnya gue yang pendek ini tangannya gak nyampe meraih gantungan tangan itu.
Gue harus cukup puas dengan megang tiang besi di dekat orang duduk. Ah, tak
apalah.
KRL-nya berhenti di setiap stasiun kecil. Pintu
otomatis terbuka dan ada pemberitahuan setiap mau berhenti di stasiun
berikutnya. Wah, ini tuh transportasi dambaan banget. Udah murah, bersih, cepat
dan gak macet. Coba aja semua transportasi diganti dengan KRL.
Sesuai dengan petunjuk dari salah seorang
teman, gue turun di stasiun Cawang. Dari Cawang belum tau mau naik apa ke
terminal Kampung Rambutan.
“Mbak? Gojek?”
“Ke terminal Kampung
Rambutan berapa, Pak?”
“85 ribu aja.”
Busyet. Mahal amat.
Gue langsung nelpon Winda, disuruh naik Grab. Aplikasinya malah belum ada
diinstal di HP gue. Untung tadi udah sempat isi pulsa dari ATM terus beli paket
internet harian 1 GB yang 12 ribu. Setelah terinstal, gue pun buka aplikasi
Grab ini. Diminta ngisi titik keberangkatan dan tujuan. Biayanya langsung
tertera. Gue tarik nafas lega, 22 ribu tarif ke terminalnya. Ternyata si
pengendara Grab yang akan membawa gue duduk di kursi sebelah kanan.
Ongkos Bus yang Mencurigakan
Seturunnya di
terminal, si biker Grab malah gak punya kembalian duit 50 ribu gue. Pas mau
nukar uang pecahan ke pedagang kaki lima dekat situ, gue malah dipaksa beli
dagangannya. Permen jahe 3 bungkus 5 ribu. Yowes lah, asalkan kau bahagia, Pak.
“Kemana, Mbak?”tanya
seorang bapak.
“Serang, Pakupatan.”
“Ayo..ayo naik.”
Gue malah ngikutin si
bapak. “Pak, ntar dulu. Ongkosnya berapaan?”
“28 ribu.”
Oke.
Gue udah masuk ke
dalam bus yang dimaksud. Busnya ber-AC dan bersih. Beberapa lama kemudian
busnya belum juga berangkat. Gue mulai kesal. Udah jam 9 lewat. Gue ngeliat ke
bangku belakang, ada bapak 50-an.
“Mau kemana, Pak?”
“Baleraja.”
Kita ngobrol cukup
lama. Lebih tepatnya gue yang lebih banyak nanya-nanya dan beliau menjelaskan panjang
lebar. Gue emang masih buta soal transport di Jakarta. Lima menit kemudian
busnya berangkat. Tibala saat penagihan ongkos. Gue kasih lembaran 20 dan 10
ribu.
“40 ribu, mbak.”
WHAT…???
“Yang bener, Mas?
Masa segitu, tadi bapak yang bawa saya kesini bilang 28. Gak mau saya bayar
segitu. Ini kayak penipuan ah. Turun aja saya.”
Gue beneran turun,
begitu juga si bapak 50-an. Di luar gue minta bagasi gue dikeluarkan. Ini tuh
gak logis banget. Lagi ribut dengan si kenek, datang seorang lagi yang ngaku-ngaku
bosnya di agen itu. Dia minta gue tenang dan jelasin yang terjadi.
“Siapa yang bilang
40? 35 kok. Udah mbak, naik aja lagi.”
ANJIR!
Gue janji dalem ati gak bakalan mau lagi
berurusan sama yang namanya bus di jakarta. CUKUP SUDAH !!!
UNTIRTA DAN MAPALAUT
Udah sore pas gue nyampe di Serang. Adek gue
jemput dari terminal. Sebelum adek gue datang, banyak pedagang kaki lima yang
nawarin buah sama kenek yang nanyain mau kemana. Sampe pusing beneran. Oh,
belum makan seharian gue ternyata. Dari tadi malam malah.
Tiba di kosan adek gue, yang pertama gue cek
adalah dapur. Bener aja, banyak piring kotor. Terasnya aja kotor amat. Sepatu
berserakan asal di depan pintu. Keliatan kalau ini rumah dihuni sama cowok.
Diminta beliin nasi bungkus buat gue, malah disuruh masak. Adek gue banyak
berubah. Sekarang dia jauh lebih tinggi dari gue, mukanya juga gak mulus lagi.
Mereka ngekos berempat disini. Ada dua kamar.
Kamarnya sih gak lah berantakan amat. Karena gak enak gak ngasih apa-apa, gue
pun ngeluarin bakpia yang kemarin gue beli di Jogja. Sisa satu lagi bukan
anak-anak kosan gue.
Malamnya, berhubung itu malam minggu, penghuni
kosan itu pergi semua main futsal di kampus. Gue mutusin buat ikut sekalian mau
liat kampus UNTIRTA. Kalau ada mapalanya ya sekalian aja datengin.
![]() |
| Foto by : My Brother |
Kampusnya sih bagus. Jauh lebih bagus dari
kampus gue. Tapi lebih luas kampus gue. Di sini kesannya kayak gedungnya itu
terbatas dengan gedung yang lain. Gue sempatin foto di depan tulisan ‘Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.’ Selanjutnya
gue ke sekret mapalaut. Init uh mapala universitas. Gue hanya ketemu sama Bang
Kiprit yang mana udah lulus. Katanya anak-anak yang lain lagi melayat ke rumah
salah satu anggota mapalaut. Di sini gue juga sempat-sempatin nanya ke Bang
Kiprit jalur pulang ke Pasar Senen. Disaranin naik kereta aja, turun di
Rangkasbitung. Dari sana naik KRL. Oke fix, itu kayaknya jauh lebih murah
dibanding bus. Kenapa kemarin gue gak tau ya kan.
Perpisahan Termanis
Gue sama adek gue selisih 2 tahun. Sejak gue
kuliah di Kalimantan udah 4 tahun gak ngeliat dia. Tapi dia malah ngelarang gue
datang ke kosannya. Waktu itu gue masih di bus mau ke Serang. Jelaslah gue
sedih. Kayak orang bego, gue netesin air mata di bus dengan posisi HP masih
nempel di telinga. Absurdnya ada pedagang yang nawarin klengkeng. Gak liat apa
orang lagi susah..
![]() |
| Sejak kapan dia tambah tinggi? |
Pagi-pagi jam 7 adek nganterin ke stasiun
Serang. Tapi itu pun mesti mutar-mutar dulu di jalan raya. Dia aja belum kenal
betul daerah sini. Bermodalkan nanya sama orang berhasil juga nemuin
stasiunnya. Pas udah pesan tiketnya (bayar 3.500), ternyata tersisa 20 menit
lagi sebelum berangkat. Kita duduk di luar nungguin. Emosi kemarin kembali
muncul ke permukaan. Gue terisak kembali, mengingat dia nolak gue buat datangin
dia. Kalau aja dia tau, apa yang udah gue lewatin demi bisa ada di sini
sekarang. Sambil terisak, gue meluk adek
gue.
“Jangan pernah bilang itu lagi ya.”
Kayak adegan drama aja lagi. Orang-orang pada
ngeliatin. Mereka pasti mikirnya kami bukan saudaraan.
Ah..gue bakalan rindu lagi sama adek gue yang
satu ini.
Pasar Senen
Sama sekali buta soal transportasi di Jakarta,
gue putuskan buat ke Pasar Senen lagi. Search
di internet katanya di sana ada baju seribuan selembar. Bukannya mau ngeborong
juga, tapi kemarin gue gak sempat ke sana gara-gara langsung ke Serang ke
tempat adek. Di kereta menuju Rangkasbitung gue ketemu lagi sama seorang bapak
yang juga mau ke stasiun Pasar Senen. Gue sama si bapak turun di Rangkasbitung.
Dari sana, kami naik KRL dan diturunkan di stasiun Duri. Setengah jam kemudian
datang KRL yang membawa kami ke stasiun Senen. Sumpah ramai banget
penumpangnya, gue sampai berdiri disuruh sama mas-mas kenek KRL-nya. ‘Utamakan
anak-anak dan orang tua ya, mbak,’ kata dia. Ingin kuberkata, ‘Mas, saya, masih
remaja.’
Ternyata lagi, KRL itu gak berhenti di Senen. Paling
dekat berhenti di satu stasiun sebelumnya. Kami pun turun di Kemayoran, dari
sana naik Grab yang biayanya 13 ribu. Hujan lagi dan lagi. Grab yang membawa
kami gak ada ramah-ramahnya. Turun di stasiun Senen, si bapak ngajak makan mi
ayam di pinggir jalan. Berhubung hujan juga sih. Seporsi mi ayamnya penuh amat,
tapi gue paksa habiskan. Si bapak malah ngebayarin makanan gue. Jadi enak nih..
“Berarti sampai di sini ya, saya lanjut ke
Semarang dulu,” kata si bapak terkesan dramastis. Gue pun menyalami beliau. Setelah
selesai makan, carrier gue titip ke tukang mi ayamnya, gue capcus ke pasar
Senen.
Ada beberapa lantai, tapi gue langsung ke
lantai dua yang menjual pakaian bekas. Sejauh apapun gue berkeliling mana ada
yang harganya selembar seribuan. Ah, itu mungkin tahun berapa ye kan. Semua nawarin
daganganya. Di sini tuh panas, pengap dan berisik. Buat anda yang gak terbiasa
berpanas ria, disarankan gak usah mampir ke sini.
Sebenarnya tergolong murah. Ada topi bekas yang
dijual 5 ribu satu. Tapi pas gue nawar biar dapt 2 lima ribu, si bapak malah
bilang itu harga gorengan. Akhirnya gue hanya beli tas sandang, baju obral 10
ribu dan frame kaca mata di lantai dasar. Pas sadar udah gak punya duit lagi,
gue pun langsung meninggalkan pasar itu.
Ngejar Pesawat
Sudah jam 3 kurang saat itu. Rencananya gue
bakal naik KRL dari Senen ke Duri. Terus dari Duri naik KRL lagi ke Poris,
stasiun paling dekat dengan bandara Soekarno Hatta. Tapi si KRL gak
nongol-nongol hingga sejam berlalu. Kesal gue. Nanya si petugas, katanya
gara-gara di Jatinegara belum penuh, KRL-nya akan datang jam 5. Busyet, gimana
yang mau ngejar pesawat. Dengan jengkel, gue memanggul carrier dan meninggalkan
orang-orang yang juga sedang menunggu KRL. Gak berapa lama gue diteriakin sama
petugas stasiun gegara salah jalan keluar.
Menurut yang gue baca kemarin, jalur terdekat
Damri ke bandara adalah dari Senen naik Transjakarta ke stsiun Gambir. Dari Gambir
naik Damri 40 ribu. Gue buka dompet gue, tersisa 100 ribu lagi sampai bulan
depan tanggal 7 kakak gue transfer bulanan. Tapi daripada tiket pesawat seharga
800 ribu hilang, mending gue kehilangan 40 ribu. Di transjakarta gue udah makin
panic karena busnya gak juga berangkat.
“Pak, kita berangkatnya nunggu full ya? Ngejar pesawat
nih pak, saya.”
Si bapak mulai nagih ongkos. Untungnya setelah
urusan ongkos selesai, busnya melaju. Tangan gue udah mulai gemetaran. Ini tuh
gara-gara si KRL yang PHP. Dari seharusnya datang jam 3 malah jadi jam 5. Sia-sia
gue tadi nungguin satu jam. Akhhh..
Turun di stasiun Gambir, gue langsung nanya
Damrinya ngambil dimana. Seorang bapak nunjukin loketnya. Gue pun merelakan 40
ribu itu. Setelah masuk ke dalam bus Damri, gue melihat jam di dashboard mobil,
16.10.
“Bapak, kita belum
berangkat kah? Mau kejar pesawat ini. Jam 18.45.”
“Mudah-mudahan sempat
ya, Mbak.”
“Berapa lama pak ke
sananya?”
“Kalau tidak macet
1,5 jam.”
Anjirrrr. Lha terus
kalau macet??? Dua jam? Oh no!!! Itu udah take
off pesawatnya mah!
Dalam hati gue terus
berdoa. Tuhan, siapa yang bakalan ngasih
pinjamkan duit buat beli tiket pesawat lagi? Apalagi ini akhir bulan. Tuhan,
aku berjanji akan memberikan apa saja kepada orang-orang yang datang meminjam
apapun kepadaku. Akan kuberikan..
Gue makin gak tenang.
Meski di bus ini ada wifi-nya gue gak terpengaruh. HP gue malah lowbat. Untung ada
colokan di bus ini. Selanjutnya gue mengusap-usap telapak tangan untuk
menenangkan diri. Cowok di sebelah gue sibuk nonton apa di HP-nya.
Jam 16.58 kami belum
juga sampai. Astaga. Ini apaan. Ingin rasanya gue pesan Grabike aja dan turun
dari dalam bus. Biar lebih cepat.
Entahlah, mungkin
karena Tuhan masih sayang sama gue. Bus tiba di terminal 1 A jam 17.15. Ah,
lega deh. Ingin rasanya menciumi semua orang di dalam bus itu, termasuk si
kenek.
Setelah check in, gue ke toilet, mampir ke
alfamart dan beli air. Asli, dari Senen gue nahan haus demi ngejar pesawat. Gak
sia-sia.
Tiba di Palangka Raya
jam 8.30 malam. Hujan lagi. Para penumpang lewat dengan payung yang disediakan
petugas. Setelah ngambil bagasi, gue pun nunggu Anita sama Ana yang jemput gue.
Tapi kondisi hujan begini, mereka pasti masih di kos. Tiba-tiba…
“Darrr..!!!”
Gue salah. Mereka udah
basah-basahan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang dasar.. Dan ya, kita
nunggu agak reda hingga gerimis yang tersisa. Barulah kita terobos, go home.
![]() |
| Bersama Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Mbak Yaya |
![]() |
| Museum Karst |
![]() |
| Cave Girl.. |
| Twilight |
| Cie, sama-sama anak Samosir. Satu kuliah di KalTeng satu di Jakarta |
| Pantai Siung, Gunungkidul |









