Kamis, 30 November 2017

Catatan Perjalanan dari Karst

Memang gak ada yang bakalan nolak sesuatu yang gratis. Apalagi jalan-jalan gatis, ye kan. Meskipun bukan 100% jalan-jalan, buat gue ini sih tetap liburan lah. Untuk mahasiswa yang lagi galau karena menjadi satu-satunya orang di jurusan dan seangkatan gue yang belum berangkat penelitian Tugas Akhir, ini tuh sesuatu yang luar biasa keren. Kayak nemu osengan, maksud gue,..oase di padang gurun. Adem.
Berawal dari baca di grup (untungnya juga gue pernah masuk dan ikut ukm kampus) mapala, ada senior yang ngasih kabar. Ada pelatihan konservasi karst dari walhi dari 17-23 November di Jogja. Meskipun belum tau karst itu apaan, gue langsung chat senior itu dan bilang fix ikut. Kuotanya hanya buat satu orang. Jadi, meskipun ada anggota lain (sekretaris) yang pengen ikut, gak bisalah ngebantah gue yang notabene adalah pemimpin (baca : ketua) di ukm ini (tepuk dada - bangga). Yang paling bikin semangat ikut sih, karena biayanya ditanggung full sama panitia walhi. Hehehe. Yang bikin gue perlu mikir-mikir lagi buat ikut : ada presentasi tentang gambaran umum dan sebaran karst di provinsi masing-masing. Dalam hal ini berarti aku mewakili Kalimantan Tengah.

16 November 2017

Sebelum berangkat, foto dulu di depan sekre ^-^


Setelah mondar-mandir cari-cari alat (ternyata kami bakalan masuk goa untuk mengamati karst) dan beberapa persiapan lainnya, berangkatlah gue dan seorang lagi cowok namanya Rifai dari mapala sebelah. Sebelumnya gue belum pernah kenal sama si Rifai. Kita pun ngobrol. Ternyata ini penerbangan pertama dia. Transit di Surabaya 3 jam, terpaksa menunggu sambil makan popmie di mart terdekat. Saat pembayaran, gue nyesal gak makan bekal nasi goreng gue aja. 25 ribu cuy, popmi rasa ayam kuah. Rifai mesti ngeluarin receh-recehan dari celah dompetnya untuk menggenapi 25 ribu itu. Fiuh, untuk kalian yang mau makan di area airport, pikir lagi deh dulu.
Kami tiba di Jogja jam 7 malam (delay setengah jam dari waktu normal keberangkatan). Cuaca memang sedang tidak bagus. Gerimis menyambut kedatangan kami di kota Gudeg ini. Langsung disambut oleh mas-mas yang udah ditugasi menjemput kami dari bandara. Ada juga kawan dari mapala Kompas USU. Langsung deh ngalor-ngidul. 
Tiba di basecamp Walhi Jogja, udah banyak kawan-kawan dari mapala lain. Basecamp-nya keren, bertingkat. Desainnya juga ala-ala Jepang gitu. Berhubung udah capek seharian di perjalanan, gue putuskan untuk tidur di lantai atas. Ketemu sama cewek dari Mapala Baturpala dan dari Bengkulu.

17 November 2017

Terbangun paginya tau-tau ada di atas kasur empuk (di kosan gue tidur di papan). Ternyata gue lagi di Jogja.  Udah semakin banyak kawan-kawan mapala yang berdatangan dari berbagai daerah. Kita pun sarapan di angkringan dekat lapangan bola, gak jauh dari basecamp. Kawan-kawan dari UISU juga udah hadir di sana.
Jam 3 kami meninggalkan basecamp Jogja menuju basecamp di Gunung Sewu. Perlu waktu 2 jam dengan kondisi jalan menikung dan menanjak melewati Gunung Kidul. Lagi-lagi disambut dengan gerimis di basecamp sana.
Malamnya diadakan perkenalan dan persiapan slide presentasi tentang keadaan alam wilayah masing-masing dan sebaran karst di region daerahnya. Oke, gue belum liat perwakilan dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Mau minta slide presentasi materi karst. Hahaha.
Kami tidur di kamar yang tersedia di dekat museum karst itu. Ruangannya cukup luas dan ada kamar mandi di dalam. Meskipun hanya tidur beralaskan tikar, ini bakalan menyenangkan karena gak lama lagi gue bakalan ngerasain masuk ke dalam goa. Teman sekamar gue ada 6 orang, Cambay dari Lampung, Winda dari Jakarta (asli Samosir), Anis dari Padang, CAI dan CL dari Jawa (Jawa mana gue lupa), Novi dari Kalimantan Selatan.    

18-19 November 2017

Selama dua hari berturut-turut kami diberikan materi di dalam ruangan. Ruangannya di dalam auditorium dalam museum. Materi Kewalhian, Karstologi, Fotografi, Cave Mapping, Evolusi. Somehow gue ngerasa jadi mahasiswa yang kuliah di jurusan Antropologi. Seru. Setiap pagi kelas selalu mulai jam 9 dan berakhir jam 6. Harusnya sih, tapi satu hal tentang anak mapala. Mereka susah bangun pagi karena malamnya gak pernah tidur cepat. Ada aja yang diobrolin dalam tongkrongan. Tentunya : mengkritisi kebijakan pemerintah. Paling cepat tidur jam 2 subuh. Jadi bisa ditebak bangunnya jam berapa. Jam 3 ada coffe break. Satu hal lagi tentang anak mapala, ilmu survive-nya tinggi. Jangan pernah mau ngopi belakangan, karena yang tersisa bakalan cuma gelas sama remah roti. Pagi-pagi jam 6 ada senam bersama di depan museum. Tapi banyak yang senam sambil matanya merem. 
Orang NTT, Sumut dan Kalteng 

Taken by : Cambay


20-21 November 2017

Kami dibagi ke dalam 5 kelompok dan tiap kelompok akan menjelajahi goa yang sama. Hanya ada satu goa vertikal, di kelompok satu. Gue gabung di kelompok 3, sama kayak Winda. Nama goa yang akan kami masuki : Kledoan. Meskipun hanya goa vertikal, tetap harus menggunakan helmet dan coverall serta boot.  Gak lupa juga headlamp, berhubung keadaan di dalam goa sangat gelap.
Kami tinggal di rumah penduduk, dimana si bapak kebetulan ketua adat di dusun ini. Wah, hampir tiap detik kami disuguhi makanan sama istri si bapak. Benar-benar makmur dah. Udah gitu ramah benar, keluarga dan penduduk-penduduk disini.
Sebelum terjun ke dalam goa

Kelompok 3 di desa Girikpunggung, Gunungkidul

Gelap dan dingin, tetap kibarkan slayer..

Tim dibagi lagi ke dalam 3 divisi; bentang alam, pemetaan dan ekosob. Gue masuk divisi bentang alam. Tugasnya mengamati alam di sekitar gua, flora dan fauna di luar dan dalam goa. Simpel, kan?
Setelah selesai mengambil data, kami pun menyiapkan materi presentasi dalam kertas A0. Tadinya sih kirain pakai software. Ternyata cuma pakai excel, grafik gitu.
Sore jam 3 tanggal 21 November, kami pamit dari rumah bapak dan sebelum kembali ke museum, rombongan kita main dulu ke pantai Siung. Langsung deh jepret sana-sini. Kami tiba malam hari di museum, sekitar jam 18.30.

22 November 2013

Paginya diadakan presentasi hasil pemetaan gua setiap kelompok. Setelah semua selesai, dilanjutkan dengan penyusunan RTL (Rencana Tindak Lanjut). Sekitar jam 4 sore, kloter pertama sudah diantar ke basecamp Walhi Jogja di Kotagede. Gue yang kebagian kloter kedua terpaksa nunggu sampai bus yang ngantar mereka balik lagi, sekitar jam 9 malam. Alhasil tiba di Kotagede jam 11 malam. Bukannya pada tidur, anak-anak malah pada ke Malioboro. Naik apa? GoCar.
Di Malioboro semua pada nyobain pohon beringin yang kalau bisa dilewati bisa dapat jodoh cepat-cepat. Tapi dengan syarat matanya harus ditutup. Yang gagal sampai 4 kali, belum juga puas dan masih betah nyoba lagi dan lagi. Gue? Ada 5 kali nyoba dan gue selalu berakhir dengan lintasan ke kanan, jauh dari celah kedua pohon. Ada apa dengan sebelah kanan???
Setelah pada capek nyobain, barulah kami nangkring di warung yang udah tutup sebenarnya mengingat saat itu sudah jam 2 pagi. Gara-gara kami, si ibu terpaksa bertahan sebentar lagi. Ada yang pesan mi goreng, kopi dan gorengan. Baru sekitar jam 3.30 kami kembali ke basecamp.
Entah pada ngapain..

23 November 2017

Udah pada menyusun rencana kapan pulang. Mengingat gue punya agenda internal di kampus, gue pun mesti pulang tanggal 26. Sebelumnya gue mesti ke Serang buat jumpain adek gue yang kuliah di sana. Udah 4 tahun gak ketemu dia. Gue harus mengubur keinginan dalam-dalam saat banyak kawan yang ngajakin naik Merbabu. Tapi ya, cuaca gak bagus juga buat muncak. Relakan aja dah.

From Jogja To Serang

Gak mudah buat gue berpisah sama kawan-kawan sesama mapala yang udah seminggu menghabiskan waktu bersama. Meskipun pada awalnya sulit untuk beradaptasi, namun lebih sulit lagi rasanya ketika mengucapkan salam perpisahan. Apalagi Yuni, cewek Padang yang lumayan rese kalo ngomong, meski bukan teman sekamar tapi kita satu tim di kelompok 3. Dan Yuni nangis pas ngantar gue ke stasiun. Mau tau berapa orang yang nganterin ke stasiun? Ada 11 orang. Padahal yang pergi kan cuma gue seorang.
Ini adalah kali kedua gue naik kereta. Meskipun hanya kelas ekonomi, gue tetap bersyukur karena bakalan bisa ketemu adek. Keretanya berangkat jam 6 dari stasiun Lempuyangan menuju stasiun Senen di Jakarta. Gue satu tempat duduk sama seorang bapak yang akan berhenti di Bekasi. Untungnya beliau baik ngasih gue theatring, mengingat paket data gue habis sejak kemarin dan belum diisi.
“Mau kemana, Mbak?”
“Serang, Pak ketemu adek saya.”
“Aslinya mana?”
“Sumatera Utara Medan, Pak. Tapi saya kuliah di Kalimantan Tengah. Kemarin ada kegiatan di Jogja.”
Si bapak geleng-geleng kepala. “Hebat ya, mbak. Bawa-bawa tas segede itu.”

Lama perjalanan Lempuyangan-Senen 8 jam. Gue tiba jam 3 pagi di Pasar Senen.
Tadinya gue mau nginap di mapala apa gitu yang dekat-dekat stasiun Senen. Tapi gegara slow respon dari yang mau jemput, akhirnya gue putuskan buat ke Serang aja dulu. Tapi pulsa gue gak ada dan paket internet habis. Gimana mau searching info jalur ke Serang? Akhirnya gue putuskan buat keliling nyari counter yang masih buka (atau udah buka) jam segitu pagi. Carrier gue tinggalin tergeletak di lantai stasiun. Toh kalo pun hilang, gak ada yang terlalu berharga di dalamnya. Paling helmet pinjaman, sleeping bag pinjaman, webbing pinjaman, celana dan jaket pinjaman dan carrier itu sendiri juga bahkan pinjaman. Loh?
Gak berhasil ketemu counter pulsa. Gue malah ketemu bapak-bapak yang katanya juga nyari counter pulsa kayak gue. Kita sempat ngobrol sebentar. Terakhir beliau ngasih kantongan berisi akua dan roti ke gue. Gue tolak secara halus, mengingat beliau orang yang baru gue temui, tapi karena terus dipaksa dan gak enak, akhirnya gue terima aja.
“Mbak, hati-hati ya. Jangan nanya ke orang terus-terusan. Pokoknya sampai hari terang jangan jauh-jauh dari stasiun deh.”

Dari KRL (Commuter Line) Hingga Grab

Harus gue akui kalau perjalanan sendirian gue ini ngebikin gue harus belajar alat transportasi di Jabodetabek. KRL salah satunya. Seumur hidup ini kali pertama gue naiknya. Kayak kereta sih, cuma posisi bangkunya aja yang beda. Tiketnya juga semacam kartu elektrik yang bisa diisi gitu saldonya. Dan ya tentu saja paling murah. Pesan gue sih buat kalian yang belum paham daerah yang dikunjungi ya rajin-rajin aja nanya sama orang lokal. Biar gak cengo kayak gue.
Begitu gue udah duduk di KRL (bersih amat lantainya, adem juga), barulah ada pesan balasan dari kawan mapala yang gue mintol jemput. Gue bilang aja lagi otw Serang, ntar aja mampir ke sekre mereka kalau sempat balik hari itu juga dari tempat adek gue. Soalnya tiket pesawat gue besok, Minggu malam.
KRL adalah transportasi yang sering gue liat di drama-drama korea. Ada sih bangkunya tapi terbatas, jadinya banyakan yang berdiri dibanding yang duduk. Makanya banyak gantungan tangan di dalam KL. Sayangnya gue yang pendek ini tangannya gak nyampe meraih gantungan tangan itu. Gue harus cukup puas dengan megang tiang besi di dekat orang duduk. Ah, tak apalah.
KRL-nya berhenti di setiap stasiun kecil. Pintu otomatis terbuka dan ada pemberitahuan setiap mau berhenti di stasiun berikutnya. Wah, ini tuh transportasi dambaan banget. Udah murah, bersih, cepat dan gak macet. Coba aja semua transportasi diganti dengan KRL.
Sesuai dengan petunjuk dari salah seorang teman, gue turun di stasiun Cawang. Dari Cawang belum tau mau naik apa ke terminal Kampung Rambutan.
“Mbak? Gojek?”
“Ke terminal Kampung Rambutan berapa, Pak?”
“85 ribu aja.”

Busyet. Mahal amat. Gue langsung nelpon Winda, disuruh naik Grab. Aplikasinya malah belum ada diinstal di HP gue. Untung tadi udah sempat isi pulsa dari ATM terus beli paket internet harian 1 GB yang 12 ribu. Setelah terinstal, gue pun buka aplikasi Grab ini. Diminta ngisi titik keberangkatan dan tujuan. Biayanya langsung tertera. Gue tarik nafas lega, 22 ribu tarif ke terminalnya. Ternyata si pengendara Grab yang akan membawa gue duduk di kursi sebelah kanan.

Ongkos Bus yang Mencurigakan

Seturunnya di terminal, si biker Grab malah gak punya kembalian duit 50 ribu gue. Pas mau nukar uang pecahan ke pedagang kaki lima dekat situ, gue malah dipaksa beli dagangannya. Permen jahe 3 bungkus 5 ribu. Yowes lah, asalkan kau bahagia, Pak.
“Kemana, Mbak?”tanya seorang bapak.
“Serang, Pakupatan.”
“Ayo..ayo naik.”

Gue malah ngikutin si bapak. “Pak, ntar dulu. Ongkosnya berapaan?”
“28 ribu.”
Oke.

Gue udah masuk ke dalam bus yang dimaksud. Busnya ber-AC dan bersih. Beberapa lama kemudian busnya belum juga berangkat. Gue mulai kesal. Udah jam 9 lewat. Gue ngeliat ke bangku belakang, ada bapak 50-an.
“Mau kemana, Pak?”
“Baleraja.”
Kita ngobrol cukup lama. Lebih tepatnya gue yang lebih banyak nanya-nanya dan beliau menjelaskan panjang lebar. Gue emang masih buta soal transport di Jakarta. Lima menit kemudian busnya berangkat. Tibala saat penagihan ongkos. Gue kasih lembaran 20 dan 10 ribu.

“40 ribu, mbak.”
WHAT…???
“Yang bener, Mas? Masa segitu, tadi bapak yang bawa saya kesini bilang 28. Gak mau saya bayar segitu. Ini kayak penipuan ah. Turun aja saya.”

Gue beneran turun, begitu juga si bapak 50-an. Di luar gue minta bagasi gue dikeluarkan. Ini tuh gak logis banget. Lagi ribut dengan si kenek, datang seorang lagi yang ngaku-ngaku bosnya di agen itu. Dia minta gue tenang dan jelasin yang terjadi.

“Siapa yang bilang 40? 35 kok. Udah mbak, naik aja lagi.”
ANJIR!
Gue janji dalem ati gak bakalan mau lagi berurusan sama yang namanya bus di jakarta. CUKUP SUDAH !!!

UNTIRTA DAN MAPALAUT

Udah sore pas gue nyampe di Serang. Adek gue jemput dari terminal. Sebelum adek gue datang, banyak pedagang kaki lima yang nawarin buah sama kenek yang nanyain mau kemana. Sampe pusing beneran. Oh, belum makan seharian gue ternyata. Dari tadi malam malah.
Tiba di kosan adek gue, yang pertama gue cek adalah dapur. Bener aja, banyak piring kotor. Terasnya aja kotor amat. Sepatu berserakan asal di depan pintu. Keliatan kalau ini rumah dihuni sama cowok. Diminta beliin nasi bungkus buat gue, malah disuruh masak. Adek gue banyak berubah. Sekarang dia jauh lebih tinggi dari gue, mukanya juga gak mulus lagi.
Mereka ngekos berempat disini. Ada dua kamar. Kamarnya sih gak lah berantakan amat. Karena gak enak gak ngasih apa-apa, gue pun ngeluarin bakpia yang kemarin gue beli di Jogja. Sisa satu lagi bukan anak-anak kosan gue.
Malamnya, berhubung itu malam minggu, penghuni kosan itu pergi semua main futsal di kampus. Gue mutusin buat ikut sekalian mau liat kampus UNTIRTA. Kalau ada mapalanya ya sekalian aja datengin.
Foto by : My Brother 

Kampusnya sih bagus. Jauh lebih bagus dari kampus gue. Tapi lebih luas kampus gue. Di sini kesannya kayak gedungnya itu terbatas dengan gedung yang lain. Gue sempatin foto di depan tulisan ‘Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.’ Selanjutnya gue ke sekret mapalaut. Init uh mapala universitas. Gue hanya ketemu sama Bang Kiprit yang mana udah lulus. Katanya anak-anak yang lain lagi melayat ke rumah salah satu anggota mapalaut. Di sini gue juga sempat-sempatin nanya ke Bang Kiprit jalur pulang ke Pasar Senen. Disaranin naik kereta aja, turun di Rangkasbitung. Dari sana naik KRL. Oke fix, itu kayaknya jauh lebih murah dibanding bus. Kenapa kemarin gue gak tau ya kan.

Perpisahan Termanis

Gue sama adek gue selisih 2 tahun. Sejak gue kuliah di Kalimantan udah 4 tahun gak ngeliat dia. Tapi dia malah ngelarang gue datang ke kosannya. Waktu itu gue masih di bus mau ke Serang. Jelaslah gue sedih. Kayak orang bego, gue netesin air mata di bus dengan posisi HP masih nempel di telinga. Absurdnya ada pedagang yang nawarin klengkeng. Gak liat apa orang lagi susah..
Sejak kapan dia tambah tinggi?

Pagi-pagi jam 7 adek nganterin ke stasiun Serang. Tapi itu pun mesti mutar-mutar dulu di jalan raya. Dia aja belum kenal betul daerah sini. Bermodalkan nanya sama orang berhasil juga nemuin stasiunnya. Pas udah pesan tiketnya (bayar 3.500), ternyata tersisa 20 menit lagi sebelum berangkat. Kita duduk di luar nungguin. Emosi kemarin kembali muncul ke permukaan. Gue terisak kembali, mengingat dia nolak gue buat datangin dia. Kalau aja dia tau, apa yang udah gue lewatin demi bisa ada di sini sekarang.  Sambil terisak, gue meluk adek gue.
“Jangan pernah bilang itu lagi ya.”
Kayak adegan drama aja lagi. Orang-orang pada ngeliatin. Mereka pasti mikirnya kami bukan saudaraan.
Ah..gue bakalan rindu lagi sama adek gue yang satu ini.

Pasar Senen

Sama sekali buta soal transportasi di Jakarta, gue putuskan buat ke Pasar Senen lagi. Search di internet katanya di sana ada baju seribuan selembar. Bukannya mau ngeborong juga, tapi kemarin gue gak sempat ke sana gara-gara langsung ke Serang ke tempat adek. Di kereta menuju Rangkasbitung gue ketemu lagi sama seorang bapak yang juga mau ke stasiun Pasar Senen. Gue sama si bapak turun di Rangkasbitung. Dari sana, kami naik KRL dan diturunkan di stasiun Duri. Setengah jam kemudian datang KRL yang membawa kami ke stasiun Senen. Sumpah ramai banget penumpangnya, gue sampai berdiri disuruh sama mas-mas kenek KRL-nya. ‘Utamakan anak-anak dan orang tua ya, mbak,’ kata dia. Ingin kuberkata, ‘Mas, saya, masih remaja.’
Ternyata lagi, KRL itu gak berhenti di Senen. Paling dekat berhenti di satu stasiun sebelumnya. Kami pun turun di Kemayoran, dari sana naik Grab yang biayanya 13 ribu. Hujan lagi dan lagi. Grab yang membawa kami gak ada ramah-ramahnya. Turun di stasiun Senen, si bapak ngajak makan mi ayam di pinggir jalan. Berhubung hujan juga sih. Seporsi mi ayamnya penuh amat, tapi gue paksa habiskan. Si bapak malah ngebayarin makanan gue. Jadi enak nih..
“Berarti sampai di sini ya, saya lanjut ke Semarang dulu,” kata si bapak terkesan dramastis. Gue pun menyalami beliau. Setelah selesai makan, carrier gue titip ke tukang mi ayamnya, gue capcus ke pasar Senen.
Ada beberapa lantai, tapi gue langsung ke lantai dua yang menjual pakaian bekas. Sejauh apapun gue berkeliling mana ada yang harganya selembar seribuan. Ah, itu mungkin tahun berapa ye kan. Semua nawarin daganganya. Di sini tuh panas, pengap dan berisik. Buat anda yang gak terbiasa berpanas ria, disarankan gak usah mampir ke sini.
Sebenarnya tergolong murah. Ada topi bekas yang dijual 5 ribu satu. Tapi pas gue nawar biar dapt 2 lima ribu, si bapak malah bilang itu harga gorengan. Akhirnya gue hanya beli tas sandang, baju obral 10 ribu dan frame kaca mata di lantai dasar. Pas sadar udah gak punya duit lagi, gue pun langsung meninggalkan pasar itu.
Ngejar Pesawat
Sudah jam 3 kurang saat itu. Rencananya gue bakal naik KRL dari Senen ke Duri. Terus dari Duri naik KRL lagi ke Poris, stasiun paling dekat dengan bandara Soekarno Hatta. Tapi si KRL gak nongol-nongol hingga sejam berlalu. Kesal gue. Nanya si petugas, katanya gara-gara di Jatinegara belum penuh, KRL-nya akan datang jam 5. Busyet, gimana yang mau ngejar pesawat. Dengan jengkel, gue memanggul carrier dan meninggalkan orang-orang yang juga sedang menunggu KRL. Gak berapa lama gue diteriakin sama petugas stasiun gegara salah jalan keluar.
Menurut yang gue baca kemarin, jalur terdekat Damri ke bandara adalah dari Senen naik Transjakarta ke stsiun Gambir. Dari Gambir naik Damri 40 ribu. Gue buka dompet gue, tersisa 100 ribu lagi sampai bulan depan tanggal 7 kakak gue transfer bulanan. Tapi daripada tiket pesawat seharga 800 ribu hilang, mending gue kehilangan 40 ribu. Di transjakarta gue udah makin panic karena busnya gak juga berangkat.
“Pak, kita berangkatnya nunggu full ya? Ngejar pesawat nih pak, saya.”
Si bapak mulai nagih ongkos. Untungnya setelah urusan ongkos selesai, busnya melaju. Tangan gue udah mulai gemetaran. Ini tuh gara-gara si KRL yang PHP. Dari seharusnya datang jam 3 malah jadi jam 5. Sia-sia gue tadi nungguin satu jam. Akhhh..
Turun di stasiun Gambir, gue langsung nanya Damrinya ngambil dimana. Seorang bapak nunjukin loketnya. Gue pun merelakan 40 ribu itu. Setelah masuk ke dalam bus Damri, gue melihat jam di dashboard mobil, 16.10.
“Bapak, kita belum berangkat kah? Mau kejar pesawat ini. Jam 18.45.”
“Mudah-mudahan sempat ya, Mbak.”
“Berapa lama pak ke sananya?”
“Kalau tidak macet 1,5 jam.”

Anjirrrr. Lha terus kalau macet??? Dua jam? Oh no!!! Itu udah take off pesawatnya mah!
Dalam hati gue terus berdoa. Tuhan, siapa yang bakalan ngasih pinjamkan duit buat beli tiket pesawat lagi? Apalagi ini akhir bulan. Tuhan, aku berjanji akan memberikan apa saja kepada orang-orang yang datang meminjam apapun kepadaku. Akan kuberikan..
Gue makin gak tenang. Meski di bus ini ada wifi-nya gue gak terpengaruh. HP gue malah lowbat. Untung ada colokan di bus ini. Selanjutnya gue mengusap-usap telapak tangan untuk menenangkan diri. Cowok di sebelah gue sibuk nonton apa di HP-nya.

Jam 16.58 kami belum juga sampai. Astaga. Ini apaan. Ingin rasanya gue pesan Grabike aja dan turun dari dalam bus. Biar lebih cepat.
Entahlah, mungkin karena Tuhan masih sayang sama gue. Bus tiba di terminal 1 A jam 17.15. Ah, lega deh. Ingin rasanya menciumi semua orang di dalam bus itu, termasuk si kenek.
Setelah check in, gue ke toilet, mampir ke alfamart dan beli air. Asli, dari Senen gue nahan haus demi ngejar pesawat. Gak sia-sia.

Tiba di Palangka Raya jam 8.30 malam. Hujan lagi. Para penumpang lewat dengan payung yang disediakan petugas. Setelah ngambil bagasi, gue pun nunggu Anita sama Ana yang jemput gue. Tapi kondisi hujan begini, mereka pasti masih di kos. Tiba-tiba…

“Darrr..!!!”

Gue salah. Mereka udah basah-basahan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memang dasar.. Dan ya, kita nunggu agak reda hingga gerimis yang tersisa. Barulah kita terobos, go home.
Bersama Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Mbak Yaya


Museum Karst 

Cave Girl..

Twilight 

Cie, sama-sama anak Samosir. Satu kuliah di KalTeng satu di Jakarta

Pantai Siung, Gunungkidul

Bengkulu, Kalimantan Tengah, Padang, Padang ^_^

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...