Minggu, 05 Desember 2021

"Ada Lagi Yang Bisa Saya Bantu?"

 Halo, halo, hai...

Today is 5th December, and I'm 26 years 7 months and 0 day. 

But still looking for something that i'm really good at (ini gramar-nya ancur gak sihh?)

Let's talk about kerjaan saat ini, which is aku baru online selama 4 hari. Tentu masih panik kalau dapat case-case susah dari nasabah yang nelpon. Meski begitu aku merasa jadi Contact Center Officer (CCO) itu hampir seperti detektif. Kita harus bisa memecahkan komplain (baca : kasus) nasabah dan memberikan solusi yang tepat. Hanya saja pemecahan masalahnya dilakukan dengan menganalisa data si nasabah di sistem. 

Ughh.. 

Itu gak mudah. Apalagi buat newbie kayak aku. 

Setiap panggilan masuk, aku deg-deg an. Iya sih, masih bisa tekan tombol hold, terus nanya senior. Tapi, itu pun kalau seniornya lagi available. Kalau enggak? Gak mungkin kan aku asal ngomong sama si nasabah. Percakapan direkam dan kalau aku salah info bisa jadi resiko finansial. Itulah kalau kerjanya di dunia perbankan.

Tadinya aku berpikir jadi CCO itu gak lebih STRES dibanding MARKETING. 

The fact is ... i'm 100% WRONG!

Jadi CCO itu dituntut super duper multitasking. Pertama, telinga menyimak keterangan / komplen nasabah. Kedua, tangan harus sambil mengetik sembari telinga mendengar. Ketiga, mata harus jeli membaca atau membuka data nasabah (yg matanya minus kayak aku kudu ati-ati). Keempat, otak harus bisa dengan cepat menganalisa apa solusi yang tepat buat si nasabah. 

Mulai dari masalah kartu kredit hilang, merasa tidak transaksi, belum terima kartu kredit perpanjangan, kartu kredit ditolak. Dan setiap calls harus buat laporan sesuai kasusnya masing-masing. Udah kayak dunia perdetektifan, belum?

Sebelumnya aku yakin banget dunia contact center itu gak ditarget. Nyatanya perusahaan tetaplah perusahaan yang ingin profit gede. Untuk itu, pasti ada target kualitas yang dibuat dan diawasi oleh Quality Assurance (QA). Kinerja seorang CCO dinilai dari kuantitas, kualitas dan produktivitas. Banyak sekali parameter-parameter yang harus dicapai supaya si CCO bisa dikatakan 'SMART'. Aku pernah baru selesai terima calls, tiba-tiba ada panggilan masuk dari QA dan yeah.. aku pun dikomentari. 

Selain resiko finansial, CCO juga harus bisa menjaga kerahasiaan data nasabah. Makanya setiap calls masuk harus melakukan verifikasi data terlebih dahulu. Kalau si penelpon gak bisa jawab 3 pertanyaan verifikasi secara benar, dia gak akan bisa lanjut ke tahap berikutnya. 

TIDAK VERIFIKASI = SP 1. 

Udah begitu, setiap performa CCO berpengaruh pada performa leader. Ada situasi dimana kalau ada kesalahan (disebut dengan 'TASK ID') dari CCO, itu bisa mengurangi gaji Team Leader (TL). Kebayang kalau TL-nya galak dan gak suka gajinya dipotong karena kesalahan CCO di bawah pimpinannya. Aku yang masih anak bawang hanya bisa tarik nafas dan berharap kesalahanku luput dari pantauan QA.

Ya, namanya juga contact center officer. Kerjaannya erat dengan P-E-L-A-Y-A-N-A-N. Harus sesuai konteks percakapan standar yang sudah dibuat perusahaan. Dituntut harus smiling voice (ramah), tidak ketus dan tetap bisa menjaga emosi meski nasabah membentak atau mengeluarkan kata-kata makian. Meski udah keluar kata-kata kebun binatang, CCO harus menanyakan : 'Ada lagi yang bisa saya bantu?'

Well, kutak tahu berapa lama aku bertahan di sini. 

Sejauh ini yang satu angkatan training sama aku udah 2 orang yang mengundurkan diri. 

Pantesan perekrutannya rutin setiap hari. Ternyata karena orang yang kerja di sini juga tiap hari ada yang keluar. 


Btw, selamat menjalani bulan terakhir di tahun 2021 ini.

   



Rabu, 03 November 2021

Am I Wrong?

Apakah ada yang pasti dalam hidup ini? Satu-satunya yg pasti mungkin ketidakpastian itu sendiri kali yah.

Well, minggu-minggu ini lumayan menguras pikiran. Di usia 26 mungkin gak banyak orang yang harus belajar dari nol lagi untuk pekerjaannya. Banyak yang udah jadi supervisor di usia 26. Tapi disinilah awak, harus belajar segala perintilan kartu kredit di salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. 

Kuliah belajar batubara. Setelah lulus dan bekerja, ilmu tentang batubara gak kepake karena pekerjaan yang menerimaku random. Perusahaan importir stainless steel, perusahaan teknologi pendidikan, perusahaan pialang, bank pensiunan, sampai yang saat ini bank lagi jadi call center kartu kredit. Jadi bisa dibilang aku pernah belajar tentang stainless steel, jenis-jenis paket bimbingan belajar, jenis-jenis saham luar negeri, produk pensiunan dan bunganya, sampai yg sekarang : jenis-jenis kartu kredit. 

Random banget, kan? Anju emang. 

Yeah, meskipun masih training, tapi jelimetnya udah kerasa dari sekarang. Masih training loh ini, baru minggu kedua. Gimana kalau udah online beneran? Handle komplen nasabah sendiri. 

Bukannya ngeluh sih. Cuma mau mengeluarkan isi hati aja. Soalnya di kelas aku harus jaga tingkah, gak bisa slengean kayak biasa karena aku paling tua sendiri di kelas. Mereka semua adalah adek-adek kelahiran '98 bahkan ada '99. 

Can you imagine that? Awak kelahiran '95 ini jelas tidak merasa nyambung kalau ngobrol sama mereka. Jadi aku mengisolasikan diri. 

Menurut gosip yang beredar, tantangan terberat training ini nanti adalah saat final test, dimana kami harus roleplay dengan QA, tentunya sebagai contact center dan QA sebagai nasabah (yang marah-marah). QA akan menilai apakah solusi yang diberikan sudah sesuai, apakah contact center sudah menyampaikan greeting sesuai standar dll. 

I don't know apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. 

Yang pasti, untuk sampai di tahap sekarang aku sudah melakukan beberapa sacrafice (baca : pengorbanan), antara lain :

1. Ninggalin kerjaan lama yg gajinya udah stabil gajinya meskipun emosi atasannya gak stabil (meledak-ledak)

2. Gak ikut tes SKD CPNS di KLHK demi ttd kontrak (harinya bentrok, jadi telat tiba di lokasi)

3. Pindah dari Jakarta ke Bsd. Which is ini kayaknya pengorbanan terbesar, mengingat karena udah gak di Jakarta lagi, aku yang tadinya janji bakalan datang nonton acara open mic offline di daerah Kebayoran Jaksel jadi mengubur mimpi itu bahkan sebelum materi solid pertama-ku kelar. Tapi bukan berarti bakalan berhenti belajar seni stand up comedy sih. 

Yeah, so far itulah pengorbanan yang kubuat. Oh iya, termasuk pengorbanan dpt kosan lebih mahal di Bsd. Kosanku dulu di UNJ masih dapat 550 rb, di sini 655 rb. 

The question is, apakah keputusan ini sudah tepat? 

Atau aku salah?


Jumat, 22 Oktober 2021

Demi PKWT Gagal Ujian SKD CPNS

 Dua hari sebelum kepindahan ke Tangerang. 

Ada sejenis perasaan gloomy yang merayap entah karena berat meninggalkan kosan serta bude dan masakannya atau berat meninggalkan Jakarta. Kuharap bukan yang terakhir. 

Meskipun sudah PKWT dan kemarin kelar MCU dan tanggal 26 nanti sudah masuk training, hati ini masih ragu. Apakah ini keputusan yang tepat meninggalkan Jakarta? I mean kepindahanku ke sini dari Kalimantan sebelumnya karena yakin di sini aku punya peluang lebih besar untuk 'mewujudkan impian'. Kenapa sebelum itu terwujud aku udah pindah dan meninggalkan Jakarta? Bahkan aku baru 2 tahun di sini. 

I know. 

Jakarta - Tangerang hanya sejauh 90 menit naik KRL. But, maybe bukan hanya karena pindahannya saja. Tapi karena di tempat baru nanti aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, orang baru dan tentu saja pekerjaan baru lagi. Kalau ada hal yang paling kukuasai saking seringnya kulakukan dalam hidup ini, mungkin itu adalah : menyesuaikan diri. Mengingat aku memang gak pernah konsisten pada satu pekerjaan dan selalu pindah ke sana kemari. 

Dan kalau dipikir-pikir lagi, aku makin kesal. Gara-gara tanda tangan kontrak di perusahaan itu, aku gagal ujian SKD CPNS tempo hari. Kenapa coba harus bentrok jadwalnya. Selesai tanda tangan kontrak, aku langsung pontang-panting mengejar kereta paling cepat, berlari dari stasiun palmerah ke gedung manggala wanabakti meski perut kosong dan kondisi hujan, sampai hampir tergelincir saat menuruni tangga. Tapi semua itu tidak ada artinya. Panitia sudah menutup loket registrasi peserta. 

Oh yeah, wajar. Ujian dimulai jam 14.00 dan aku persis sampai di gedungnya jam 14.05.

Sebenarnya aku yang gak pintar. Bisa aja minta jadwal tanda tangan kontraknya diundur ke tanggal 19 kek. Aku malah cuma minta diundur dari jam 1 siang ke jam 10 pagi di tanggal 18. Emang sih aku tiba di kantornya jam 10 pagi. Tapi si HRD kampret sibuk interview kandidat secara online, sampai akhirnya jam 11 lewat baru aku dilayani. Dia sibuk menjelaskan segala macam hal dan paling banyak menceritakan pengalaman hidupnya (yang aku pikir bodo amat). Akhirnya jam 13.03 aku baru bisa meninggalkan kantor itu lalu memesan grab ke stasiun.

Sepanjang perjalanan aku gelisah. Perut keroncongan tapi tidak bisa makan dalam kereta meski aku udah bawa bekal makan siang dalam tas. Setelan hitam putihku bahkan udah kusut karena aku duduk belingsatan.Aku berdoa mohon keajaiban sama Tuhan dalam bentuk apapun. Apa aja..

Waktu tiba-tiba berhenti, misalnya.

Atau jadwal SKD-ku tiba-tiba diundur jadi besok karena gedung ujian korslet listrik.

Atau masinis kereta ini tiba-tiba diambil ahli Venom, terus dia ngebut dengan kecepatan cahaya...

Entahlah. Pokoknya aku udah frustasi. 

Begitu sampai di stasiun Palmerah, sudah jam 14.00. Ujiannya pasti udah dimulai. Tiba-tiba aku benci kalau negara ini On time. Buru-buru aku tap kartu keluar dari stasiun dan bertanya ke petugas.

"Pak, gedung manggala wanabakti dimana ya?"

"Nanti mbak turun dari kiri ini, terus belok ke..."

"Makasi, Pak."

Belum sempat si petugas menyelesaikan keterangannya aku udah cabut duluan. Akibatnya, setelah turun dari tangga aku lari-lari tapi malah salah arah. 

"Oh gedung kementerian KLHK itu ya? Mbak nya salah arah. Gedungnya di sana," si mamang penjual bakso menunjuk belakangku.

Tamat sudah riwayat pengejaran ini.

Sia-sia aku belajar, bahas soal2 SKD... selama seminggu terakhir.

Dengan nafas terengah-engah dan kaki gemetaran, aku datangi meja berjejer milik panitia yang tadinya pasti rame banget tapi sekarang udah sepi.

"Sesi 3? Sudah masuk mbak, gak bisa lagi."

"Kalau dari sini kami mungkin bisa membantu, tapi di dalam ada petugas BKN-nya yang gak akan menoleransi. Tuh, masnya juga telat," tunjuk si panitia sama laki-laki seumuranku kayaknya yang bermuka muram tapi setelan hitam putihnya masih rapi. 

Aku gak tau harus berkomentar apa-apa.

"Minum dulu, mbak," seorang panitia emak-emak, dengan baik hati menyodorkan dua buah akua gelas di atas meja lengkap dengan sedotannya. 

"Terima kasih Bu," kataku lalu mengambil satu gelas. Aku punya air sih dalam tas, tapi gak baik menolak pemberian orang. Kulirik si peserta yang gagal ujian sepertiku.

"Dari mana Mas?"

"Bogor."

Anjir.

"Naik kereta?"

"Bukan, naik motor. Ban saya bocor di tengah jalan."

Wah, alasan telatnya masuk akal. Coba aku? Gara-gara pkwt di perusahaan lain. Jadi kenapa masih pengen ikut coba CPNS???

"Tapi sekarang sudah kerja?" aku jadi kepo.

"Sudah, ini izin sama kantor. Eh malah gagal ujian."

Aku gak tau harus bilang apa untuk menghibur kami berdua. Oh iya..

"Gak apa-apa, Mas. Tahun depan masih ada lagi kok. CPNS buka tiap tahun, kan?" akhirnya itu penghiburan terbaik dariku. Si masnya menggeleng.

"Saya dengar-dengar mulai tahun depan CPNS diadakan sekali dua tahun. Artinya tahun depan gak ada."

BUGH!! 

Serasa ada yang menghantam jidatku. Padahal aku udah memikirkan penghiburan paling baik di sini. Kenapa anda malah menghancurkannya heyyy??

Tanpa bertanya nama, aku pamit pulang duluan sama si mas-mas yang bernasib sama - gagal SKD itu.

Semoga pulang nanti bannya gak kempes lagi.  


Selasa, 19 Oktober 2021

One Month Notice ? I don't need it !

Baru 4 bulan jadi telemarketing di perusahaan ini tapi dari minggu kedua pertama kali join setiap hari pengen ngajuin resign. Kalau cuma karena ditekan target sih mungkin masih bisa ditahan-tahan. Tapi gak hanya target, atasan juga 'ganas' nya minta ampun. Gara-gara itulah aku gak ragu buat melamar posisi call center Halo BCA yang kebetulan info lokernya dikirim Kak Chat. Tak disangka langsung dapat undangan interview HRD online hanya sehari setelah apply.

Susah tapi memang begitulah kejadiannya. Aku tetap kerja dan saat tiba giliran masuk room interview aku tetap sambil kerja. Hari yang sama pulak, aku dikasih link buat psikotes online yang mana aku kerjain sambil kerja juga. Entah psikotesnya cuma formalitas karena aku yakin cuma bisa jawab 30% aja, tapi aku lanjut ke interview user (online). 

Karena yakin ini pasti tahap penentu diterima atau enggak, aku nekat minta izin sama TL yang dibalas super sewot meski hari itu aku closing.

aku : Kak, saya mau izin gak masuk besok. Adek saya yang kuliah di Serang lagi ada masalah di kampusnya. Pihak kampus minta dipanggil orangtua / wali.

Fyi, aku cuma bohong bagian 'pihak kampus memanggil orang tua/ wali'. Karena emang beneran aku punya adek yg kuliah di untirta. Tapi balasan TL :

TL : Lena, kalau kamu udah gak sanggup lagi, silahkan ngajukan resign aja.

WHATTTTTTTT??????

Aku kaget dong. Meski emang udah pengen resign dari zaman purba kala, tapi kalau gak one month notice ngajuin resign, gajiku bln ini gak akan dibayar. Rugi dong saya. Aku gak putus asa, aku chat si manager yang rada-rada itu. Dia balas :

Manager : Haduhhh... mendingan kamu fokus urus adek kamu ajah deh. Silakan bicara sama vivi yah. (Vivi itu HRD OS-nya).

BUJUGGG..!!!!!!!!! Aku baru pernah izin kali ini loh. Dasar bajing*n

Bodo maat. Besoknya aku tetap gak masuk dan fokus sama interview user. Sekitar jam 2 siang HRD-nya ngundang aku ke grup WA.. dan di sana dijelasin jadwal PKWT dan MCU.

YESSSS... AKU DITERIMA!! 

Akhirnya, aku gak bakalan ragu lagi ngajuin resign. Bodo amat mau gaji bulan ini gak dibayar. As long as udah dapat kerjaan baru, duit pasti bisalah mengalir. Besok paginya si manager ngechat aku duluan.  


Manager : Selamat pagi lena. Lena hari ini ke pt a*s yah?

Aku : betul teh. 

Manager : Pagi ini kamu masuk kan? Kok kamu nggak login di sistem knp?

Karena hari ini aku ketemu si Vivi buat ngantar surat resign bajing*n.

Aku : Enggak msuk teh. Mau ktemu bu vivi hr ini

Manager : Tapi bukan berarti all day ketemu vivi kan

                 Saya nggak paham

                 Kan ada waktunya ketemu vivi

                 Vivi juga sudah bicara sama saya

Aku :  Iya teh, saya mau ajuin resign saja per hri ini

Manager : Tapi ada ketentuan say

                 Ntar vivi jelasin ke kamu

Aku : Iya Teh, paham ada ketentuannya. Nanti saya make sure lagi dgn bu vivi. 

Dalam hati : aku tau ketentuannya, kalau gak one month notice gaji bln ini gak dibayarkan kan?? No problem, gua udah dapat kerjaan baru yang GAK ADA SISTEM TARGET-TARGETNYA. KARENA GUA BAKAL KERJA DI CALL CENTER BCA!!

Dan hari itu juga aku ke kantor balikin laptop kantor. Si Vivi gak bicara banyak. Emang dia gak nahan anak yang mau resign kok. Dia tau gimana 'gilak'nya manajemen perusahaan kliennya itu. Waktu diberikan form exit inteview, di kolom 'apakah menurut anda perusahaan ini bisa lebih baik?' kuisi : BISA, Asalkan yang mimpinnya punya hati nurani

Now, biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku cuma kehilangan 2 juta rupiah dari kerja dua minggu bulan ini. 

Anggap aja aku jadi volunteer

Suara gaib : Wait, tapi kan yang Halo BCA itu training sebulan dulu. Kalau lu gak lulus, jadi pengangguran dong???

Me : Yeah, let's taket the risk. Cause I'm a NAKED JOBSEEKER !

Suara gaib : Meski artinya lu harus pindah dari Jakarta ke Tangerang ??

Me : Oh my God. Aku lupa soal ituu.. 😖


Minggu, 10 Oktober 2021

Perdana Nonton Stand Up Comedy Oflline

 Well, aku memang nekat orangnya. 

Aku pernah ke luar kota H-1 sebelum sidang akhir skripsi demi nonton film dokumenter BTS yang baru rilis di CGV

Aku pernah naik gunung Semeru sendirian tanpa bawa tenda (berakhir numpang sama pendaki lain, lalu pulang dari Ranukumbolo)

Aku juga sering melamar pekerjaan-pekerjaan yang aku sendiri bahkan gak tau job desk-nya ngapain. Pas diundang interview mulut kayak ikan kekurangan oksigen.

Seru aja gitu. Kalau nekat, apapun bisa terjadi. Daripada jadi pengecut yang suka menunda-nunda. Wkwkwkwk. 

Kenekatanku kali ini adalah pergi nonton acara stand up comedy offline yang diselenggarakan komunitas Ketawa di daerah Kemang Jakarta Selatan. Aku dan anak-anak alumni peserta Worksop TipisTipisRispek udah janjian mau ketemu di sana.

FYI, ini kejadiannya minggu lalu. FYI, jarak kosanku ke lokasi acaranya adalah 1.5 jam dengan transportasi umum. Di jadwal, acaranya mulai jam 7 sampai jam 10 an. Tentu jam 10 malam ke atas tidak ada lagi busway atau KRL. 

Kalau aku gak nekat, tentu aku gak bakalan pergi. Cewek, sendirian, di Jakarta, malam-malam pulang dari Kemang ke kosan di daerah Jakarta Timur naik gojek? Itu seharusnya menakutkan. Kalau mamakku tau, aku pasti dikampak. Tapi bukan 'gimana pulangnya' yang bikin aku cemas, tapi 'mau pake baju apa nanti ke sana?' 

Oh tidak. Bukan karena ada seseorang yang spesial yang akan kutemui di sana. Hanya saja ini pertama kalinya aku keluar dari sangkar (baca : kosan) setelah sekian bulan mendekam karena PPKM. Entah kenapa aku gugup, takut penampilanku gak nyambung dengan konsep dunia stand up comedy (apaan sih). Pada akhirnya cuma pake kaos hitam lengan panjang sama celana cutbray (cuma itu paling modis yang ada di lemari). 

Oh yeah. Setelah selesai kerja jam 1 lewat, aku udah siap-siap berangkat ke mall terdekat dulu buat nyari sandal. Padahal biasanya aku pede-pede aja pake swallow ke mana-mana. Tapi swallow memang kurang pas dipadukan sama cutbray. Jadinya aku beli sandal heels tali yang ada tumitnya 3 cm. Kalau aku jalan, suara klotak-klotaknya bikin ribut. 

Perlu ganti busway dua kali sampai akhirnya tiba di Blok M (hell, ini tempat masih aja bikin aku parno karena 2 tahun yang lalu HP-ku dicopet di sini). Dari Blok M aku naik gojek sampai ke lokasi. 

Sebelum masuk, wajib nunjukin tiket dan sertifikat vaksin kedua. Setelah itu baru boleh duduk di kursi yang udah disediakan. Panggungnya memang kecil, muat satu atau dua orang (ya namanya juga panggung openmic bukan panggung konser). MC-nya uhh, petchaaah.. Yang satu namanya Bang Oza, satu lagi orang India yang mengeluarkan istilah 'ketua agama', namanya Sukraj. Liat mukenya, aku langsung teringat sohibku si Butet yang suka film India. Kalau Butet di sini, pasti dia minta tanda tangan Sukraj meski gak tau Sukraj ini pekerjaannya apa. 

Dan pertunjukan openmic malam itu memang tidak ditujukan untuk mereka yang mudah tersinggung atau konservatif. Karena sejak awal sampai akhir, para pesertanya ada yang bawa materi tentang agama, politik sampai tokoh-tokoh penting pejabat di Indonesia. Aku tentu saja duduk di antara 3 peserta Workshop yang datang (2 dari mereka tampil juga malam itu) dan tidak pernah berhenti ketawa sepanjang acara. 

Acara ini tidak hanya diisi komika yang baru mencoba openmic saja, tapi banyak juga komika senior yang naik ke panggung : Ben Danio, Marcell Widianto, Bonar Manalu (asisten pribadi Pandji Pragiwaksono), Adit MKM, Ulwan Fakri (kepsek Pecahkan). Tapi dari semua itu ada satu komika orang Batak yang kalau gak salah namanya Reza Pasaribu. Katanya karena hidupnya terlalu baik2 aja, dia rela bikin masalah supaya dapat materi stand up. Dia sampe rela nyuruh bapaknya nikah lagi kalau gak salah, supaya dia punya adik tiri dan bisa ditulis jadi materi.. 

"Semakin hancur hidupnya, semakin menarik materinya," -Reza Pasaribu, headliner malam itu. 

Setelah acara selesai jam 10 lewat, kami foto-foto dulu dengan panggung sebagai backgorund. Ya, gpp lah jadi penonton aja dulu, lain kali jadi orang yang naik ke panggung.

Turun ke bawah, banyak yang belum langsung pulang. Aku langsung sok akrab sama Bang Bonar dan nanya aslinya Batak dari mana. Kata dia dari Tebing Tinggi.

"Jadi kau merantau di sini?" tanya dia samaku.

"Bukan Bang, aku masih 17 tahun. Baru lulus SMA."

Sialnya dia percaya pulak. Terpaksa kuklarifikasi. 

"Kerja Bang, jadi sales. Nawarin pinjaman pensiunan. Kalau ada loker di rumah Bang Pandji boleh lah Bang," kataku memelas. 

Dia bilang belum ada. 

"Nantilah, aku sama si Reza mau bikin komunitas stand up indo Kristen. Tapi kau katolik atau protestan ini?"

Wah, gak pernah kusangka aku akan tiba di saat dimana aku harus berpikir beberapa detik sebelum menyebutkan agamaku. 

"Katolik Bang, tapi aku bisa pindah kok. Hahahahah." (Tuhan, ini gak serius ya. Aku lahir sampe mati setia kok). 

Setelah lama ngalor-ngidul mereka mau pergi kongkow. Aku diajak sih, tapi kosanku ketat soal jam pulang malam. Ini aja aku kayaknya tidur di luar malam ini, pagar udah dikunci. 

"Baik-baik kau ya, jangan nakal." -Bang Bonar.

"Nakal kek mana dulu Bang?"

"Ya kayak kami ini."

"Aku malah terinspirasi sama itok Reza Pasaribu tadi. Semakin hancur hidupnya, semakin menarik materinya."

Bang Bonar menggaruk kepalanya. Dipanggilnya si Reza. "Za, mampus kau. Udah kau sesatkan satu anak orang malam ini!"


Pokoknya ini adalah one of the best night in my life. Akhirnya bisa nonton acara openmic langsung, bukan dari layar HP atau zoom. 

Aku pulang naik gojek dan sialnya mahal, 40 ribu. Sepanjang perjalanan pulang dari Kemang ke Rawamangun, aku komat-kamit berdoa semoga ibu kos masih bangun dan semoga si driver tidak aneh2. 



temukan bedanya 😄



---


Minggu, 18 Juli 2021

Nasabah : "Mbak kalau mau nikah cari yang setia. Kalau gak ketemu, jadi wanita karir aja."

Sebelum memantapkan diri untuk ambil pekerjaan jadi sales (lagi), aku udah ngajak si Aulia Ulat Nangka sobat nganggur yag tinggal di kalimantan buat nekat memulai perjalanan mengelilingi Indonesia dengan misi menyebarkan kebaikan. Tapi dia menolak ajakanku. Katanya kami gak akan berhasil karena tidak ada skill yang kami kuasai. Sudah kubilang, skill itu gak penting. Kita improvisasi aja. Tapi dia gak mau.
Akhirnya aku 'terperangkap' lagi jadi sales. 
Untungnya sekarang wfh. Jadi bisa sambil pake kolor, tanpa khawatir ditegor. 
Kerjaanku cuma nelpon, nawarin dana kredit pensiunan untuk para pensiunan. Orang-orang tua usia 55 tahun ke atas yang udah pensiun dari pekerjaannya. Karena ini dunia sales, jelas erat dengan target dan penolakan. 

Tidak semua nasabah ini ramah. Ada yang langsung marah-marah begitu tau aku dari bank btp* dan hendak menawarkan pinjaman. 

"Nggak, nggak. Saya tidak mau! Jangan tawari saya lagi. Itu bank luar biasa sekali bunganya, bukannya membantu kami para pensiunan malah mencekik sampai mati!"

Aku gak berdaya. Sebagai sales, aku harus membalas dengan ramah. 

"Baik, Pak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami tidak akan menawari bapak lagi."

Pengen kujawab : Namanya juga PT, perseroan terbatas. Harus dapat untung dong. Mohon maaf Pak, perusahaan ini bukan badan amal yang bergerak untuk membantu orang-orang tanpa peduli laba.

Tapi kalau itu kulakukan, rekamanku saat menelpon akan didengar TL, aku dapat SP. 

Karena yang kutelpon adalah orang-orang tua, aku sedikit banyak dapat gambaran gimana kehidupan setelah pensiun dari pekerjaan. Ada yang tetap produktif dengan beternak ayam atau bertani karena sisa gaji pensiunannya gak cukup buat bayar listrik dan beli kebutuhan sehari-hari. Ada yang bilang gak dapat bantuan dari anak, cuma dari gaji pensiunannya setiap bulan. Yang paling menyedihkan, ada satu nasabah yang tinggal sendirian dan sedang sakit keras. 

Man, kalau selama hidupnya manusia tidak pernah bahagia apalah artinya hidup.

Tapi ada juga nasabah yang justru ngajak ngobrol. Pastilah setelah pensiun hidup jadi lebih kesepian. Anak-anaknya sudah punya keluarga masing-masing dan jarang berkunjung. 

Tapi Mmereka kayaknya gak paham kalau setiap percakapan direkam dan tersimpan di sistem. TL bisa dengerin dan bisa mengancam kelangsunganku di perusahaan. Tapi kalau ku-cut omongan orang tua yang sudah sepuh, aku pasti dicap gak sopan. Yaudahlah, kudengerin aja..

Nasabah : Putri saya baru meninggal, mbak...
Aku : Turut berduka cita ya pak, semoga putri bapak diterima di sisi-Nya.
Nasabah : Dia putri saya satu-satunya, mbak. Saya sayang sekali dengan anak perempuan. Mbak Lena kalau ingin cerita-cerita dengan saya boleh telpon saya ya. Anggap saja saya bapak mbak sendiri.
Aku : ????
Nasabah :Mbak sekarang usia berapa? Sudah menikah?
Aku : (tertawa jaim) Saya usia 20 an, Pak. Belum menikah.
Nasabah : Kalau mbak menikah nanti cari calon yang setia. Yang baik. Kalau gak ketemu, jangan menikah. Lebih baik jadi wanita karir saja.

Well, setidaknya beliau memberikan nasehat. Kalau pun TL dengar rekaman percakapanku dengan nasabah itu, dia gak bisa komen aneh-aneh. 

Entahlah berapa lama aku bisa bertahan di sini. 
Karena WFH, para TL dan SPV luar biasa cerewet di WA grup. 23 detik aja lu statusnya gak online di sistem, udah langsung diteriakin nama lu di grup...

Lena, 23 detik ngapain????

Pengen kubalas : tarik nafas biar gak mati..

Sudah dikejar-kejar target, dikejar-kejar atasan juga. 






















Selasa, 15 Juni 2021

Semua Gara-gara Duit

Akhirnya setelah menganggur selama kurang lebih 7 bulan, aku tanda tangan kontrak kerja lagi. Yuhuiiii...!

Baru masuk hari kedua. Perusahaan (kurang) beruntung itu adalah bank btp*. 

Ini tujuan sensornya buat apa ya? Padahal kalau pun gak disensor pasti udah ketebak itu bank apa lengkapnya. Cuma nebak huruf terakhir 😆

Tapi yang paling penting adalah proses menuju tanda tangan kontrak kerja kali ini cukup dramatis mengalahkan drama korea manapun, bahkan Descendant of The Sun sekali pun (padahal aku gak pernah nonton itu drama sampai ending). 

Di 'kick' dari Ruangguru (baca : gak lolos masa OJT) karena belum capai target penjualan, aku bertekad lamar pekerjaan yang tidak ada target-target an termasuk jadi kasir di kafe. Selain di kafe yang kemarin, undangan wawancara juga datang dari kafe yang beralamat di dekat mall Artha Gading Jakarta Utara ini. Aku berangkat ke sana mengenakan rok hitam selulutut dan atasan kemeja. Biasanya sih pakai celana, tapi kali ini lagi pengen pake rok. 

Tiba di sana, yang datang interview ada 8 orang. Aku tiba paling awal tapi pada akhirnya pulang paling akhir. Yap, karena diterima. Hanya saja gajinya sangat jauh dari yang dibayangkan, 1 juta 700 ribu. Padahal masuk setipa hari dan jam kerjanya 10 jam. 

Gils.

Aku kemarin ketawa-ketawa dalam hati waktu si adek yang ketemu di wawancara jadi waitres di tempat sebelumnya menuliskan gaji yang diinginkan di angka 2 juta. Sekarang aku dapat tawaran dengan nominal lebih kecil dari itu? Wah..wah. Hidup memang gak ketebak gengs. Makanya jangan pernah memandang sebelah sesuatu. Bisa aja kalian ngalamin lebih ekstrim.

"Saya hanya bisa berikan di angka segitu. Tapi jangan khawatir, kamu bisa tinggal gratis di mess di sini dan dapat beras gratis. Tinggal beli lauk aja. Gimana?" tawar si mbak HRD. 

Dari tebakanku sih kayaknya kami seumuran. Entah kenapa aku yakin sekali kami seumuran. Tapi karena ini interview pekerjaan, kupanggil dengan embel-embel 'Bu'. Gak mungkin dong dengan embel-embel 'Friend'.

"Ada bpjs tidak, Bu?"

Duh, apa yang kuharapkan. 

"Untuk saat ini belum ada."

Akhirnya aku ikhlas menerima tawaran itu. Meski gak dapat bpjs, itung2 gak ada target2 an yang bakalan menghantui setiap hari. Hanya duduk berdiri manis dan menerima pembayaran pelanggan. Kalau ketemu bule, minta nomor WA nya.

Wawancara berikutnya dengan chef-nya. Aku gak ngerti kenapa si chef ikutan mewawancarai juga. Padahal kan, aku gak bakalan ikut belanja kebutuhan dapur ya. Laki-laki yang mewawancaraiku itu ternyata kepala chef-nya dan masih muda. Kuat dugaanku dia belum menikah. Jangan-jangan usianya lebih muda dari aku. Wih, kalau berhasil menggaet kepala chef ini seumur hidup aku gak bakalan menyentuh dapur 😏. Serahin ke dia dah urusan masak dan mengurus anak-anak. Aku? Ongkang-ongkang kaki nulis skenario film. 

Mimpimu, nduk...

Kayaknya mereka excited sekali menerimaku, karena si kepala chef langsung menanyaiku, "Bisa langsung mulai training hari ini?"

Pengen langsung kujawab iya, tapi aku sadar hari itu pakai rok. Pasti tidak bakalan nyaman bekerja dengan rok yang sepannya di depan ini. 

"Kalau hari ini sepertinya tidak bisa."

"Loh kenapa?" -Chef 

Kulirikkan mata ke si rok hitam. "Hari ini saya pakai rok."

Si kepala chef memberikan pandangan 'penting banget gitu kasih tau ke gua? Gua juga bisa liat pake mata sendiri, lu pake rok!' dan aku memilih mengabaikannya. Tapi dia setuju aku training mulai besok. 

Sebenarnya dan sejujurnya aku meminta masuk mulai besok karena ingin memastikan hatiku kembali. Apakah aku benar sudah mantap akan mengambil kesempatan yang ditawarkan atau masih ragu. Daripada setelah seminggu masuk tiba-tiba cabut kan gak enak.

Masih ada satu perusahaan yang menunggu jawaban. Iya sih posisi telemarketing yang ada targetnya. Dari perusahaan outsourcing. Gajinya memang umr, dapat bpjs kesehatan dan tenaga kerjaan. 

Tapi, lagi.. ada targetnya. 

Dalam perjalanan pulang ke kosan, aku melamun. Aku pernah bilang, 'Tuhan beri aku pekerjaan apa saja yang kecil gajinya pun gak apa-apa asalkan jangan ada target2 nya yang bikin otak pusing'. Ternyata setelah doa dikabulkan pun manusia masih merasakan kegalauan ya. .

Turun di halte dekat kos, aku melarikan diri ke Mcd. Pesan sesuatu yang promo lalu naik ke lantai 2. Ini tempat yang pas untuk merenung sambil memandangi jalan raya. 

Gak peduli seberapa kerasa aku mikir, aku gak tau mau pilih yang mana. Yang satu menawarkan uang lumayan dengan resiko stres mikirin target, satu lagi nawarin gaji kecil tapi bebas dari stres mikirin target. 

"Dek, ingat. Kau udah sekian umurnya. Udah kau pikirin masa depanmu? Udah ada tabunganmu? Cewek kalau mau nikah harus ada loh emasnya atau bajunya yang layak," kakakku menyampaikan pemikirannya.

Kenapa jadi disuruh siap-siap buat nikah?!

Setelah itu dia menekankan semua pekerjaan memang ada tekanannya masing-masing. Kalau aku melarikan diri dari tekanan itu, bukan berarti seumur hidup aku bebas dari yang namanya tekanan. Intinya dia secara gak langsung meminta aku buat GAK NGAMBIL pekerjaan jadi kasir di kafe itu.

Huft,,, padahal aku udah mengkhayal punya suami yang jago masak.

Sorenya pulang dari Mcd, aku dapat email undangan tanda tangan kontrak kerja dari perusahaan outsourcing itu. Dengan hati-hati, malamnya kukirimkan WA permintaan maaf ke HRD kafe serta ucapan terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan padaku. 

Berakhir cuma di read dong. Iyalah, dia pasti kecewa dan kesal. Gara-gara menerimaku, dia pasti sudah menolak kandidat lain. 

I'm so sorry kepala chef. Eh, bu HRD maksudnya..Semoga anda tidak akan pernah lagi menemui kandidat macam awak ini..


Tiap lihat topi chef ini, langsung keingat film Ratatouille


 

Jumat, 04 Juni 2021

HRD : 'Kamu ini kan sarjana, kenapa melamar posisi waitress?'

Menyadari betapa gak enaknya bekerja di bawah tekanan target (marketing), aku berjanji GAK AKAN MAU APPLY PEKERJAAN UNTUK POSISI MARKETING LAGI ! Gak peduli entah produknya celana dalam, asuransi atau pinjaman dana. Dari OJT sebagai sales di Ruangguru, aku belajar bahwa gak peduli seberapa banyak bonus yang dijanjikan jika capai target, tapi kalau tiap hari lu dikejar-kejar bom waktu yang seolah siap meledak saat waktu habis .. sudahlah. I don't want it. 

Aku bisa kok tahan makan pake kecap sama kerupuk tujuh hari berturut-turut. So, get off, MARKETING AND ALL YOUR SHITS !

Berbekal prinsip itu, aku nekat melamar pekerjaan yang mensyaratkan lulusan SMA yaitu : waitress. Dan tak kusangka undangan interview-nya datang hanya selang 2 jam setelah kuklik 'apply' dari Indeed. Aku tersenyum miring. Kau lihat itu kan, kau lihat gak, Marketing? Gak hanya kau yang menerimaku. Ada posisi waitress juga yang dengan senang hati mau menampung aku. Weeeeee...(peletin lidah)

Posisi waitress ini untuk sebuah kafe di daerah Jaksel, Kemang. Begitu tau daerah itu adalah daerah untuk kalangan elit dan artis, khayalanku langsung terbentuk..

Jadi waitress, nyambut pelanggan, ketemu bule, tukeran nomor, jadian, menikah, dibawa ke Eropaa and Happily ever after !!!

Alamakkkk. Interview aja belum loh. Parah ini otakku. Kebanyakan makan kecap sepertinya. 

Dengan uang saku dari ruangguru (yang tak seberapa) kemarin, aku beli flat shoes baru dong, sama beberapa blouse diskonan di mall dekat kosan. Menurut gosip yang kudengar, alas kaki yang cantik akan membawamu ke tempat yang indah. Yeah, harap aja itu benar. 

Rute busway ke daerah Kemang ini ternyata melewati Blok M, yang mana itu adalah tempat horror dalam sejarah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Jakarta. Oh yeah, aku kehilangan HP di Blok M. Saat itu bahkan belum 24 jam setelah mendarat di Jakarta. Jadi wajar kalau ada sedikit trauma saat busway koridor 1 menurunkan penumpang di halte tujuan akhir, Blok M. 

Gak ingin berlama-lama di Blok M, aku langsung nyambung lagi naik busway koridor 6N. Sesuai info yang kudapat, aku turun di pemberhentian terdekat dari lokasi interview. 

Kantornya masuk beberapa meter ke dalam gang. Peserta interview hari itu ada 4 orang termasuk aku. Dua diantaranya melamar staff operasional dan satu lagi cewek yang cantik, putih dan kayaknya masih muda banget (di syarat lokernya usia yang diminta 25-28) jadi sainganku untuk posisi waitress. Waktu dia lepas masker sebentar, aku langsung tau, nih cewek dari mukanya pasti orang Dayak. Cantik, putih, sipit. 

Kami diminta mengisi form biodata terlebih dahulu. Si cewek yang melamar waitress tiba-tiba nanya kisaran gaji. 

"Kayaknya di bawah UMR, tapi sekitar di atas 2 jutaan lah," kujawab gitu karena malamnya aku udah searching berapa gaji waitress. 

Saat pengerjaan soal tes IQ, dua orang yang melamar staf operasional selesai lebih dulu dan langsung meninggalkan ruangan. Tak lama kemudian waktu pengerjaan habis. Kertas kami berdua juga terpaksa disita. Tes berikutnya adalah tes hafalan. Diberikan selembar kertas berisi kategori dan jenis-jenisnya. Contohnya :

Kategori KESENIAN

Jenis : Arca, Gamelan,Quintet

Nah selama 5 menit diberi waktu untuk menghafalkan kategori dan jenisnya. Tes ini tidak sulit sama sekali. Kali ini aku selesai lebih dulu dan langsung meninggalkan ruangan. 

Setelah tes hafalan, kami dipersilahkan menunggu untuk interview. 

"Kak,," sebuah suara dari samping. Aku menoleh, si cewek saingan.

"Ya?"

"Tadi kakak selesainya cepat ya. Gimana caranya, Kak?"

"Oh itu, aku hafalin huruf awalnya aja. Jadi misalnya untuk kategori KESENIAN aku hafal huruf pertama dari setiap jenisnya. Jadi KESENIAN : AGQ. Gitu."

"Oh, kakak udah pernah tes kayak gini?"

"Udah."

"Pantesan. Aku baru ini."

Sebagai saingan, aku ketawa dalam hati. Tapi sebagai umat manusia yang berjiwa sosial, aku menghiburnya. "Gak apa-apa. Lagian kamu kayaknya masih muda banget."

Dia nyengir. "Coba tebak, Kak usiaku berapa?"

"Hm, 21 atau 22 mungkin?"

"Aku 21 Kak."

Hiks. Aku iri. Pengen rasanya tukaran umur sama cewek di depanku ini. 

"Tuh kan, muda banget. Eh tapi kebetulan, kamu bukan orang dayak, kan?"

Mukanya kaget. "Kakak tau darimana?"

"Gak usah kaget gitu. Aku dulu kuliah di Kalimantan."

Setelah berjam-jam kami nunggu, akhirnya dia dipanggil lebih dulu untuk interview. Padahal kalau sesuai jadwal tiba di lokasi mah, aku duluan yang nyampe. Huft. Udah lapar pulakk.

Selama menunggu si Klara, aku main HP. Tiba-tiba ada WA masuk yang berisi pesan dari perusahaan outsourcing yang pernah kutitipi berkas CV-ku. Tebak posisi apa yang dikasih. Yup, T E L E M A R K E T I N G. 

Kenapa anda balik lagi, wahai MARKETING???!!!! Aku sudah mengsusirmu jauh-jauh kan. Tapi kubalas saja iya, seandainya hasil interview hari ini belum berpihak ke aku. Tapi dalam hati, aku berjanji akan memilih posisi waitress yang tidak terikat dengan target apapun dibanding telemarketing meski gajinya UMR sekalipun. 

Aku pasti bisa bahagia makan gaji kecil. 

Lebih dari satu jam si cewek yang bernama Klara itu interview di lantai 2. Aku heran, mereka bicarain apa aja sampai selama itu. Setelah si Klara selesai, aku belum juga dipanggil. 

"Kak, kalau 2 juta itu dikit gak sih? Tadi aku nulis 2 juta untuk gaji."

Wah, nih bocah kelewat polos. Bukan apa-apa, tapi nih kalau di Jakarta 2 juta itu buat bayar kosan sama makan aja udah pas-pasan banget. Oh iya, dia kan emang belum ada pengalaman kerja. Wajar dia sepolos itu. 

"Dikit sih itu."

"Apa karena itu aku di-interview duluan ya, Kak? Karena minta gajinya kecil."

Aku cuma senyum. Sampai jam 4 sore, barulah aku dapat giliran. Si Klara bukannya pulang, tapi diminta nunggu untuk interview dengan user. Dari situ, aku mulai ngerasa agak gimana. 

Kalau si Klara lanjut interview user itu artinya dari HRD di interview sebelumnya gak ada masalah. Hasil tesnya juga gak masalah. Tapi kenapa mukanya tadi gelisah setelah keluar ruangan tes. 

Kuketok pintu ruangan HRD. Setelah dipersilahkan duduk, sesi pun dimulai dengan menjawab pertanyaan kenapa aku mengosongkan bagian 'alasan resign' di kolom pengalaman kerja formulir biodata. 

"Kenapa hanya 3 bulan?"

Beliau mengacu ke pengalamanku sebagai inside sales di perusahaan stainless steel. Sebenarnya itu karena kau gak kuat lagi dengan job desk dan atasan yang cerewet, jadi aku kabur. Sama sekali gak keluar baik-baik. Tapi aku gak mungkin jujur. Makanya kujawab :

"Waktu itu saya hanya menyelesaikan OJT saja, Bu. Saat itu kakek saya, kakek yang membesarkan saya meninggal dunia dan saya gak bisa mengajukan cuti. Jadi saya memilih untuk resign."

For your information, aku GAK PERNAH dibesarkan kakek atau pun nenek. 

"Kalau boleh tau nih, kamu kan lulusan S1 kenapa melamar waitress? Itu bahkan posisi di bawah staff."

KARENA SAYA GAK MAU LAGI BERHUBUNGAN DENGAN MARKETING YG ADA TARGETNYA. SAYA APPLY DI PERUSAHAAN INI DAN ANDA MENGUNDANG SAYA UNTUK INTERVIEW

"Saya sendiri merasa tidak ada masalah ya Bu, kalau ibu mengacu tentang sarjana yang melamar pekerjaan yang bisa dikerjakan lulusan SMA. Sekarang cari pekerjaan tidak mudah. Oleh karena itu saya melihat kemampuan dan pengalaman saya yang sekiranya cocok untuk melamar posisi apa. Kebetulan waitress ini punya kesamaan dengan pekerjaan sebelumnya, yaitu customer focus. Tentu saja saya masih perlu banyak belajar untuk semakin lebih baik lagi."

Interview berlanjut, beliau bertanya aku menjawab. Tapi bisa kurasakan si HRD gak tertarik lagi samaku. Kalau si Klara tadi satu jam lebih interview-nya, aku cuma 10 menit di dalam ruangan itu. 

God..

Jam 5 sore aku pulang dengan jiwa hampa. Di jalan juga macet parah. Busway hampir gak bergerak. 

Ku-WA si Klara menanyakan hasil interview dengan user. 

Dia diterima!

Aku lesu. Double lesu karena belum makan. Si HRD tadi memang meminta untuk menunggu kabar maksimal 2 hari kemudian. Kalau tidak ada kabar, artinya aku gak diterima. Gak usah 2 hari juga aku udah tau hasilnya. Pengalaman 9 bulan di marketing plus part time jaga stand waktu kuliah ternyata tidak meloloskanku untuk posisi waitress. Aku bahkan menuliskan gaji yang kuinginkan dibawah UMR : 2.900.000 

 Tunggu, ini kan posisi waitress. Pasti harus cakep dong ya. 

Apa karena aku pakai kaca mata? Aku kan gak jelek-jelek amat. Hakshaks. Tapi memang si Klara lebih cakep. Mungkin karena itu dia diterima. 

Tiba-tiba aku teringat tawaran telemarketing dari perusahaan outsourcing tadi. 

Pada akhirnya aku gak bisa jauh-jauh dari MARKETING., 

ARRRGGGGGGG....!!!

 

hmm..

 

 

 

 

 


Minggu, 30 Mei 2021

Penghiburan untuk jiwa-jiwa yang lemah

 So, we come to end of the month..

Maksudnya, kita sudah sampai di penghujung bulan Mei. 

How is life treating you ?

Bagaimana kehidupan memperlakukanmu?

Is it good? Is it bad?

For me, it's bad. Let me tell you..


Setelah kurang lebih lima minggu ini mengikuti proses OJT STAR Ruangguru, akhirnya saya DI-ELIMINASI ! Pemberitahuannya kudapatkan hari ini dari e-mail. Padahal sangat ingin lulus OJT ini biar bisa ttd kontrak. Selain karena gajinya UMR Bekasi, kesejahteraan karyawan Ruangguru sepertinya juga sangat terjamin dari fasilitas lainnya. 

Tapi lagi-lagi kita hanya bisa berusaha. Yang menentukan jalan hidup adalah Dia. Aku memang udah pesimis dari awal bisa lolos OJT ini. Selain karena ada target jualannya, yaitu 5 juta rupiah, peserta juga dinilai dari roleplay presentasi dan webinar (online). Untuk aku yang udah lama gak ngomong di depan khalayak umum, aku berhasil gugup sampai bersendawa di depan mentor (unchh). 

Yahh.. 

Kembali ke kehidupan awal : jobseeker. Nyari loker lagi, nongkrong di perpusnas lagi atau di Mcd dekat kosan (belinya cuma iced coffee float 9 ribu, nongkrongnya dari pagi - malam). Semoga ada ujung dari pencarian ini. 

Untuk menghibur diriku yang semaput, Kak Chat datang mengunjungiku. Kami pergi nyobain naik LRT dan hampir aja aku gak bisa masuk karena Tap Cash BNI-ku ditolak. Gila gak tuh, gak cuma Ruangguru yang menolak diri ini, bahkan mesin tap LRT jugaaaa....

Kami berdua sempat kebingungan, apalagi karena gak ada petugasnya di sana. Gak kayak stasiun, dimana-mana ada petugas yang bisa kita tanyain. Di sini malah sepi. Mana kami berdua belum pernah naik LRT. Jadi posisinya, Kak Chat itu udah berhasil masuk, sementara aku masih di luar. 

Dalam kegelisahan, mataku menangkap tulisan 'Tekan tombol ini untuk memanggil petugas'. Aku tekan beberapa kali, sampai munculah penyelamat kami. Wah, ini namanya petugas panggilan. Hikhikhik. Solusi terakhir dari si mas petugas adalah beli tiket LRT pakai aplikasi LinkAja. 

Harus update aplikasinya dulu di playstore..

Harus isi saldo LinkAja dulu dari m-banking..

Duh, niat hati ingin menghibur jiwa yang lemah, malah begini kejadiannya ya !

Akhirnya aku berhasil masuk. Baru tau kalau tiket masuknya tuh 5 ribu, sedikit lebih mahal dari tiket busway. Mungkin karena LRT ini masih tergolong baru. 

Naik LRT ternyata kayak naik KRL aja. Yang istimewa adalah pemandangan yang didapatkan. Kebetulan aku dan Kak Chat naik LRT itu udah sore jam 5 an lewat. Pemandangan matahari yang mirip kuning telor di atas gedung-gedung Jakarta menyambut penglihatan kami. Sepanjang mata memandang hanya bangunan yang tampak. Pengen rasanya sesekali muncul danau atau gunung sibayak gitu. 

Tiba di stasiun akhir, Pegangsaan Dua, kami dibawa lagi balik ke stasiun Velodrome. Udah gitu doang kerjaannya. Durasi waktu dari ujung ke ujung stasiun ini hanya sekitar 14 menit. 
Setelah itu, aku dan Kak Chat jajan di pinggir stadion Velodrome. Kami beli telur gulung, terus dibawa masuk ke area stadion. Duduk lesehan di lantai sambil makan dan menikmati pemandangan orang-orang naik sepatu roda dan ... merenungi nasib!

Petualangan kembali dilanjutkan. Kami nyobain semua alat2 olahraga di taman sekitaran Velodrome. Mulai dari jungkat-jungkit, treadmil besi, dll (aku gak tau namanya ;))

Jenis-jenis ekspresi selama jadi bagian dari OJT STAR Ruangguru : 

Diterima sebagai trainee STAR Ruangguru


Mulai OJT dan dapat teman baru sesama OJT



Ter - ELIMINASI di week ketiga



Penghiburan untuk jiwa-jiwa yang tersesat karena tidak ingat usia..

Minggu, 23 Mei 2021

Velodrome vs Mafia

Gak jauh dari kosan, ada stadion olahraga yang sepertinya gede, namanya Velodrome. Aku bilang sepertinya karena emang belum pernah masuk ke dalam stadionnya. Tapi mengitari luarannya sih sering. Kadang malam-malam kalau lagi suntuk di kamar kosan yang sempit, kadang juga pagi-pagi di hari Minggu. 

Suatu sore aku pengen buang suntuk ke sana. Gimana gak suntuk coba. OJT ini mensyaratkan target tercapai sebagai salah satu syarat kelulusan. Ini sudah dua minggu pertama, pencapaianku masih nol besar. Tersisa dua minggu lagi, sebelum pengumuman final. Ingin mengeluh tapi takut dicela. Tapi kenapa aku selalu berhubungan dengan pekerjaan dengan job desk penjualan dan ada targetnya? 

Sambil merenungi hidup, aku berjalan santai di pinggir jalan menuju Velodrome. Penampilanku gak kayak orang mau lari sore. Cuma mengenakan legging hitam dan kaos polos, terus sepatu kets. Pikiranku terus bekerja waktu kudengar ada yang manggil, 'mbak..mbak'.

Ternyata dari dalam sebuah mobil yang parkir di dekat situ. Dengan polosnya kudekati mobil itu. 

"Ya?"

"Kalau mau ke velodrome lewat mana ya, mbak?"

Laki-laki sekitar 30-an mungkin. Kayaknya sih orang kaya. Menurutku siapapun yang menyempatkan diri untuk berolahraga sore-sore adalah orang kaya. Kenapa? Karena dari pagi - siang menjelang sore dia sibuk di kantor. Nyari duit. Aku? Aku pengecualian!

"Udah dekat kok. Nanti lurus kira-kira 100 meter, terus belok kiri," aku menjelaskan. Tapi dalam hati merasa ada yang janggal juga. Persis di depan kami ada halte busway dengan tulisan 'Velodrome'. Selain itu di zaman teknologi canggih sekarang, orang mana yang gak tau membuka google maps?

"Mbak-nya mau ke mana? Ke Velodrome juga?" tanya si om.

"Iya."

"Oh, gak mau bareng aja?"

Ckckckc. Demi apa, ini Jakarta. Modus kejahatan dapat terjadi dimana saja. Aku langsung waspada.

"Oh enggak usah, makasih. Saya emang lagi jalan sore santai aja."

"Oh gitu, oke makasih ya, mbak." 

Setelah si om pergi, aku melanjutkan perjalanan menuju Velodrome. 

Di Velodrome, banyak orang yang lagi olahrga. Ada yang jogging, main sepatu roda, duduk-duduk. Aku termasuk orang yang melakukan hal terakhir. Kalau dari kosan tadi niat untuk keliling 5 putaran stadion velodrome sangat berapi-api. Tiba di lokasi semangatku redup. 

Aku tiduran di salah satu bangku semen. Gak buruk juga datang malam-malam ke sini. Bisa melihat langit. Udaranya juga segarr, karena banyak pohon. Sangat jauh beda dengan daerah kosan yang gersang dan berisik suara kendaraan. 

Sambil memandangi langit, aku merenung. Anak siapa yang bisa 'kupaksa' supaya mau beli jualanku, demi lolos OJT ini. Lolos OJT= ttd kontrak kerja. Nyawa aman. Gak punya kerjaan di Jakarta sama dengan cari mati bung. 

Huft, pahitnya hidup. 

Apa seharusnya tadi aku masuk aja ke dalam mobil si om? Gak peduli meski sebenarnya dia memang penculik atau orang mesum. Asalkan dia mau bertanggung jawab atas hidupku, kayak ngasih makan, ngasih uang jajan, ngasih uang beli paket internet. Ohohoho, gak apa-apa seandainya aku jadi tahanannya di suatu tempat. Apartemen mewah atau malah istana dimana dia tinggal. 

Tuh kan, pikiran ini jadi kesana-kemari gara-gara kebanyakan baca cerita di wattpad tentang mafia. 

Btw kalau mafia itu nyata, culik aku pleaseeee.. 

Sesekali mataku mengitari area velodrome, mencari-cari keberadaan si om tadi. Kalau aja aku melihat dia di sini, aku akan menyerahkan diri..

Apasih yg kupikirkann.. 

Dasar geblek. 

 

savage mafia 




Jumat, 07 Mei 2021

'Kakak adalah solusi dari semua permasalahan belajar kalian"


First of all, terima kasih Tuhan Yesus yang sudah mengizinkan aku bertambah usia setahun lagi tepat 05 Mei yang lalu. 

26. 
Apa yang harusnya sudah dimiliki oleh seseorang yang berusia 26 tahun? Rumah? Mobil? Karir yang cemerlang? Pacar? Sayangnya aku hanya punya khayalan. Jadi kalau ditanya apakah usia 26 masih dalam rentang usia krisis usia seperempat abad, jawabannya jelas masih. 

Krisis seperempat abad merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun. Wikipedia

Setelah hampir 6 tahun kuliah di Kalimantan dan berangkat ke Jakarta, rasa-rasanya tiba di Jakarta aku harus memulai semua dari awal lagi. Ibarat anak kecil yang memulai langkah pertamanya, berdiri dengan kaki gemeteran sambil menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjungkal ke depan atau ke belakang. Itulah yang kurasakan. Bedanya, kalau anak kecil yang belajar berdiri tadi punya orang tua yang setia disisinya, aku di sini sendirian. Jakarta jelas bukan tempat untuk mereka berhati lemah dan tak punya semangat juang. 

Ini bukan keluhan, tapi apa ya. Curhatan, mungkin..

Oke, daripada cerita yang sedih-sedih, mending cerita hal-hal yang bikin dua minggu terakhir ini aku harus mantengin laptop seharian. 

Jadi setelah 3 kali 'menolak' kesempatan bekerja di Ruangguru, akhirnya kali ini aku memutuskan untuk mengambilnya. Program STAR, yang mempersiapkan seseorang untuk menjadi education consultant (lagi-lagi ini hanya sebutan keren aja karena ujung-ujungnya kita jualan produk ruangguru ke anak-anak sekolahan). Sudah memasuki minggu kedua, dan setiap akhir minggu selalu ada ujian. Yap, masih ada tahap seleksi hingga penentuan yang berhak lulus ke OJT 4 minggu nanti. 

Kemarin pas ditanya kenapa mau bergabung di RG, banyak yang jawabannya 'ingin membantu pendidikan di Indonesia supaya lebih baik'. Heloww.. Bukan apa-apa, jawaban itu mulia sekali, aku  mengakuinya. Hanya terdengar terlalu polos dan .. jujur. Kenapa mereka gak jawab sederhana kayak aku, 'ingin meningkatkan skill di bidang sales'. Simpel, tidak neko-neko dan egois!

Selama 3 hari pertama minggu kedua kemarin, peserta yang domisili Jakarta dapat kesempatan training offline di HQ Ruangguru yang beralamat di daerah Tebet. Harusnya. Tapi karena ada karyawan yang positif covid, kami pun dialihkan ke Brain Academy di daerah Kemanggisan. Selain jadi lebih jauh dari kosan, awak pun kecewa karena udah sempat excited pengen liat kantor pusat ruangguru itu. Intinya covid-19 adalah musuh segala bangsa!

Training offline jelas jauh lebih seru daripada mantengin laptop sambil terkantuk-kantuk. Bisa ketemu langsung sama peserta lain, yang sialnya masih muda-muda kayaknya baru pada wisuda. Berasa jadi wali murid diantara peserta training. 

Kami diberitau sebagai agen lapangan (udah kayak mata-mata aja) = Fiel Education Consultan / FEC, cara mendapatkan data/kontak siswa adalah dengan school visit. Tapi lagi-lagi karena si covid berkuasa, school visit digantikan dengan webinar. Secara acak, kami ditunjuk untuk melakukan roleplay sebagai FEC yang melakukan school visit ke sekolah. 

Apesnya aku dapat tugas untuk bagian introduction. Ini adalah bagian sangat krusial karena akan menentukan apakah siswa akan tertarik untuk mendengar bagian intinya. Kalau tidak berhasil menarik perhatian mereka di awal, maka dapat dipastikan siswa tidak akan excited lagi mendengarkan apapaun bagian berikutnya. 

"Halo, selamat pagi adek-adek. Apa kabar?" sapaku dengan tenggorokan bergetar. Udah lama gak speech di depan khalayak umum. Pesera training menyahut dengan peran anak SMP. 

"Wah, kalian gak semangat nih. Gini aja, untuk membangkitkan semangat kalian, nanti kalau kakak bilang semangat pagi, kalian jawab 'pagi, pagi, pagi'. Bisa ya?"

Selanjutnya sesuai protokol FEC, aku harus konfirmasi kelas dan nama sekolah mereka, lalu dilanjutkan dengan perkenalan si FEC sendiri. Di sini aku pura-pura bilang kalau aku terkenal.

"Ah, masa kalian gak ada yang kenal dengan kakak. Kakak ini terkenal loh." -Lidah ini keseleo menyebutkannya.

"Kakak youtuber?" 
"Kakak selebgram?"

"Baiklah, kalau kalian belum kenal, kakak kenalan dulu ya. Perkenalkan nama kakak Magdalena. Adek-adek bisa panggil Kak Lena aja. Nah, kakak ini siapa sih, gitu ya. Kak Lena ini adalah konsultan pendidikan dari ruangguru. Artinya kakak adalah solusi dari semua permasalahan belajar kalian..."

Entah ide darimana aku punya keberanian menyebutkan hal kayak gitu. Padahal di skrip FEC mah gak ada. Tapi tepuk tangan bergema di ruangan training. Aku bingung itu tepuk tangan dari siswa SMP atau tepuk tangan sebagai peserta training. 

Setelah bagian introduction selesai, dilanjutkan bagian berikutnya oleh peserta training yang lain. Dengan nafas ngos-ngosan karena tadi ngomongnya teriak-teriak supaya terdengar lebih enerjik, aku balik ke kursiku. Jantung juga belum bisa stabil. OMG, ini hanya roleplay. Gimana kalau school visit sungguhan. Nakalnya anak-anak SMP sekarang apalagi di Jakarta nih ya pasti macam-macam. 

Yang gak kusangka adalah, selama sisa training hari itu sampai pulang, aku terus diledekin trainer cowok kam***t yang menyampaikan materi selanjutnya setelah roleplay. 'Kakak adalah solusi dari semua permasalahan belajar kalian.' Bahkan sampai besoknya hari ketiga juga masih diledekin dong. Ingin kusentil lemak di perutnya (mau nyentil jidat gak nyampe), apalagi karena di hari pertama dia pura-pura nyamar jadi peserta training di ruang tunggu. Aku polos sekali menjawab pertanyaannya tentang pengalaman kerja di perusahaan pialang.

Ughhh!!




Semoga semua bisa lolos untuk tahap selanjutnya, yaitu tahap OJT. Semua lolos OJT dan bersama-sama kita akan tanda tangan kontrak. 
Amin.

 


Kamis, 08 April 2021

Percakapan Ilusi

Tahuuuu..!!!!! Tahuuuu!!!! 
Tahu susuuu!!! Tahu Bandungggg!!!

Teriakan yang nyaris tiap hari terdengar di kompleks kosku di daerah Rawamangun. Gak cuma tukang tahu. Tukang jagung manis, sepeda anak keliling (apa dah tuh namanya yang ada musik anak-anaknya), tukang sol sepatu yang bunyinya : 'sol sepatu' dengan 'u' pendek sekali seolah-olah dia gak berharap banyak yang dengar. Pie toh, berkebalikan sama tukang tahuuuu.

Kalau di kampungku di Samosir gak banyak pedagang yang lewat. Karena letaknya di pegunungan, jauh dan dingin. Eh meski dingin, sekarang penjual es krim juga udah lewat dari sana. Bahkan tukang bakso juga (udah maju ternyata kampungku itu wkwkwk). 

Ada juga penjual ikan basah, tukang botot, pick-up serba 10 ribu yang pakai toa (jualan perkakas dapur). Mamaku kadang suka nyamperin kalau pick-up itu berhenti di depan rumah tetangga kami satu-satunya. Padahal mamaku belum punya uang, karena kopinya belum dijual ke tauke. Waktu itu aku di kampung. Tanpa rasa bersalah mamaku lari-lari ke dalam rumah dengan menenteng tudung saji di tangannya. 

Kreeekk
"Ni, ada uangmu 10 ribu?" dibukanya kamar demi mendapati aku yang lagi main HP. Kulihat mamaku dan tudung saji di tangannya. Aku ketawa dalam hati dan membuka tas, mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. 
"Gak mau beli yang lain, Mak?"
"Ini aja dulu. Terusnya dia itu lewat."

Hahahah. 

Kalau ingat itu lagi sekarang, jadi rindu rumah. 

Seru kayaknya punya seseorang yang ingin dilindungi, dirawat, diberi uang, dikasih uang jajan, dibayarin uang sekolah/uang kuliahnya. 'Nih, buat uang sakumu seminggu. Hemat-hemat ya, nanti kakak gak bakal ngasih lagi.' Atau ngomel-ngomel karena ternyata si adek ini boros banget, 'YAKKK!! Kau kira nyari duit gampang, hah?'

Aku dulu dikuliahkan kakak. Sekarang dia udah nikah dan udah punya anak. 
Sekarang aku punya dua orang adek yang masih dalam usia pendidikan. 
Adekku si nomor 5 (bungsu cowok) kerja di Batam dan pengen kuliah. 
Adekku si nomor 6 (bungsu cewek) sekarang kelas 2 SMA. 

Hey, Magdalena, BANGUNNN! 

Kau siapa?

Gak penting aku siapa.
Kalau elu pengen membiayai hidup adik lu, lu MESTI DAPAT PENGHASILAN DULU. Jangan ditolak perusahaan tiap minggu. Usaha maksimal dong. Dan cobalah untuk ikhlas saat melamar pekerjaan, jangan setengah-setengah! 

Oke, oke.
Got it. 
Tapi gue pengen dapat duit dari menulis, gimana dong?

HEH, anak kampung. Sadar diri. Lu yakin tulisan lu bakal bagus dan ada yang mau nerbitkan? Lagian kalau lu udah dapat kerja, lu masih bisa nulis di malam hari.

Tapi.. aku orang yang gak bisa fokus pada beberapa hal. Kalau otakku sudah dipakai seharian buat kerja, susah buat mengerjakan hal lain di malam hari. Palingan juga aku tidur.
Lagian nih ye, aku udah kasih 7 halaman pertama untuk dibaca ke dua orang berbeda. Satu kakakku, satu lagi temanku. Kakakku bilang dia ketawa-ketawa pas baca. Temanku bilang lucu, menghibur. Dia bilang gak sabar pengen dengar lanjutannya. 

Makanya Coldplay pernah bilang, 'Nobody said it was easy.' Ingat gak lu?

Iya, ingat. 

Yaudah kalau ingat. Mau jadi apa lu, ada di tangan lu. Jangan malas-malasan ah! 
Katanya lu udah gak sabar menantikan turning point dalam hidup lu. 

Iya, itu benar. 
Entah kenapa aku berharap turning point itu adalah saat bukuku bisa mendapatkan hak terbit dan mulai menghasilkan royalti. Aku pengen nulis buku, menciptakan karakter yang unik, terus ceritanya diadaptasi ke film. Hal-hal kayak gitu loh. 

Nih bocah benar-benar ngimpi di siang bolong. Siram pake air nih.

Boleh, asal jangan air keras ya. Muka udah begini juga.

Capek ah ngomong sama pemimpi kayak lu. Yang penting udah gua ingetin lu ya. 

Eh, jangan pergi dulu. Aku kesepian tau, di kota ini. Waktu aku dm adekku yang kuliah di Banten soal gak mau cari kerja lagi dan pengen fokus nulis, dia bilang aku egois. Terus dia bandingin aku sama kakakku yang udah kuliahin 2 adek - aku dan dia. 
Emang aku salah kalau pengen merealisasikan impian? Mumpung masih muda dan belum ada yang ngajak nikah.

Ada emang cowok yang mau ngajk lu nikah?

Ada dong. Banyak malah. Tadi malam aja aku mimpi diajak kencan di Mcd sama seseorang. Kayaknya seseorang itu lagi rindu berat sama aku. 

Begini ya, ketiak panci. Apa yang dibilang adek lu kayaknya benar. Lu egois. Gimana dengan nasib dua adek lu yang ingin kuliah itu? 

AKU GAK EGOIS! Aku cuma membuat pengorbanan.

Iya, dan mereka korbannya kan?

DIAM. Mereka bukan korbannya. Huhuhuhuh. Kalau kau tau, aku juga pengen 5 tahunku gak sia-sia. Salah siapa aku begini?

Salah siapa emang?

Gak tau. Gak usah tanya. 

Cie, baper.

Pergi sana. Aku mending kesepian daripada punya teman curhat nyebelin kayak kau. Kau siapa sih btw?

Hahahah. Aku personamu yang lain?

Hah? Maksudmu aku punya kepribadian ganda?

Kalau itu kau harus mencari tau sendiri. 
Fine, karena kau sudah mengusirku aku akan pergi sekarang. Bye. Eh, ingat, jangan berusaha setengah-setengah. Lakukan maksimal. Oke? Baiklah, aku akan benar-benar pergi sekarang.

EHHH TUNGGUU!! JANGAN PERGI DULUUU.. OII..BALIK SINII...!!!


who are you?






Kamis, 11 Maret 2021

Speck of dust within the galaxy

Desakan untuk meninggalkan Jakarta dan terbang ke Batam lagi-lagi datang dari mamaku. Kakakku juga. Wajar karena kondisiku yang masih nganggur di sini, gak ada pemasukan padahal harus bayar kosan tiap bulan. Sejujurnya tabungan sudah menipis. Di Batam aku bisa tinggal gratis di rumah kakak. Di sana juga ada adekku, yang kerja di perusahaan tempat kakakku kerja dulu. Setidaknya aku masih bisa ngemis uang jajan sama adek sendiri. 
Sungguh bukan contoh kakak yang baik. 

Tapi dari awal, tujuanku datang ke Jakarta bukan 100% nyari kerja. Nyari kerja bisa dimana pun. Aku datang ke kota ini dengan harapan pikiranku yang kolot bisa lebih terbuka tentang banyak hal. Itu aja. Mengingat track record tempat tinggalku selama ini jauh tersentuh dari modernisasi, teknologi. Maksudku, pikiran seseorang adalah sesuatu yang sangat berharga. Kau bisa menjadi apapun atau siapapun itu dipengaruhi oleh tempat tinggal, apa yang kau lihat setiap hari dan rasakan. 

Aku tau gak bakalan mudah bertahan hidup sendirian di Jakarta. Tanpa sanak keluarga, kerabat yang bisa dimintai tolong entah itu untuk numpang tinggal atau pinjaman uang. Berharap, justru saat keadaan semakin berat, ketahananku terhadap masalah juga terasah. 

Mungkin bukan saatnya menyesali masa lalu, salah ngambil jurusan, seharusnya aku begini-begitu. Susah memang berdamai dengan masa lalu. Bahkan udah sambil nyanyi 'masa lalu biarlah masa lalu', tetap aja susah. Tapi ada proses pendewasaan diri. Ada pesan moral dari setiap kejadian dalam hidup. Kita tidak bisa terhenti pada satu titik, bukan? (akward sekali tulisan memotivasi diri ini 👀)

Kenapa tiba-tiba jadi positive thinking begini? 

Bisa dibilang penyebabnya karena habis baca webtoon Sweet Home 140 episode dalam 40 hari terakhir ini. Tokoh utamanya Cha Hyeonsu, frustasi setelah kehilangan ortu dan adik dalam sebuah kecelakaan. Hyeonsu membuat pengingat di kalender untuk bunuh diri di tanggal 25 Oktober. Ternyata sebelum hari itu tiba, sesuatu terjadi. Menyerang seluruh kota, termasuk apartemen tempat tinggal si Hyeonsu. Orang-orang berubah menjadi monster. Dalam keadaan itulah Hyeonsu malah gak jadi bunuh diri tapi berusaha bertahan hidup dan menyelamatkan orang lain.

Karakter development-nya luar biasa.. Penulisnya keren dah, jadi pengen nikahin.


Btw, kemarin aku ke perpus. Saat pulang keluar dari gedung perpus, mataku menemukan selembar uang 50 an tak berdaya. Tanpa liat kiri-kanan, kupungut dengan tangan kiri, lalu berjalan tergesa-gesa ke halte terdekat. Begitu sampai kosan, semua uang itu habis kujajankan. 

Thanks God, bisa makan mi goyeng akhirnya. Dasar mulut pengangguran! Udah nganggur, pengen makan enak teross..

Fyi, buat yang belum tau, di Shopee ada layanan baru : Shopeefood. Order makanan dari Shopeefood diskon 50%. plus gratis ongkir. Aku yang beli mi goreng seafood harga 40 ribu aja cuma jadi 15 ribu (5 ribu lagi potong pakai koin shopee). 

Kurang hemat apa lagi tuh. Jangan lupa mie gorengnya dibagi dua, buat makan malam dan sarapan besok pagi. Uhm..itu bisa sih kalau gak basi.

Ternyata ada manfatnya juga selama ini aku jalan dengan kepala tunduk kayak lagi nyari uang jatuh. Bukan kayak lagi sih, emang lagi nyari uang jatuh setiap saat akunya. Tuhan memang mengirimkan uang itu ke orang yang tepat, orang yang lagi pengen makan mi goreng seafood. 


Btw, ayo, loker tolak aku lagi.

Aku udah kebal kok. 

#absurditubagus
#absurdituunik



speck of dust within the galay 













Sabtu, 20 Februari 2021

Mission (VERY) Impossible

Teruntuk anda dimanapun yang sedang berjuang mewujudkan mimpinya (atau mimpi orang lain),

atau yang masih luntang-lantung mencari pekerjaan untuk menyambung hidup,

atau yang sedang berada di persimpangan jalan, bingung mau memperjuangkan impian atau mengikuti rutinitas (yang biasanya membunuh kreativitas),

I just wanna say, KEEP YOUR HEAD UP !

(Sok-sok an menyemangati orang lain, sendirinya sudah mau menyerah 😄 )

Well, well. 

Setiap orang punya cara masing-masing untuk bertahan hidup, bukan. Tapi kali ini otakku sepertinya sudah mulai bergeser dari porosnya. 

Dua kali berturut-turut gagal dalam seleksi tahap panjang lowongan pekerjaan mungkin bisa jadi penyebabnya. Setelah itu aku gak mau cari-cari info loker lagi. Hingga datang lagi panggilan interview untuk posisi telemarketing dari ... entah itu perusahaan apa. Biasa, korban asal apply lagi.

Kalau bisa, gak pengen nyari kerja lagi. Gak pengen kerja sama orang, yang rutinitas 8-5 di kantor. OMG, sangat-sangat gak pengen lagi yang begituan. Cukup 9 bulan pengalaman pahit itu. Mengekangku sampai ke sumsum tulang belakang. 

I know my self so well.

Tipe orang yang gak bisa diatur. Tipe orang yang kalau mau ngerjain sesuatu itu pas niat aja (tapi hasilnya maksimal lho). Mengikuti rutinitas yang sangaaaaaaat teratur setiap hari = NERAKA. Semua wawancara pekerjaan yang kujawab dengan kebohongan, sok-sok menggambarkan diri sebagai orang yang ... hm, perfecto. Ku muak!

Freelance, 

mungkin itu yang kubutuhkan. Jam bekerja sesuka hati. Gak apa-apa gak ada pemasukan stabil setiap bulan. Yang penting, jangan curi waktuku. Jir, kenapa jadi emosional amat..

The question is, how you gonna survive without money in this fuc**ng metropolitan city? 

Bayar kosan.

Makan.

Odol, sabun mandi.

Lalu, sebuah ide gila muncul. Aku harus cari 'investor.'

Rencananya aku gak akan mau cari kerja lagi, tapi fokus pada draft yang sedang kukerjakan (mau muntah ngetiknya, macam udah bagus aja draftnya). Setelah draftnya kelar, tawarkan ke penerbit. Sambil menunggu kabar dari penerbit, belajar nulis skenario dan bikin skenario draft tadi. Tawarin ke production house. 

Gila. memang. Aku menggantungkan hidupku pada sesuatu yang sama sekali belum pasti. 

Aku memilih jalan ini, karena memang mau mewujudkan mimpi itu. I know me so well. Kalau sedang mengerjakan sesuatu, aku gak akan bisa ngerjain hal lain. Kalau udah kerja kantoran, aku gak akan bisa menyelesaikan draft itu. Orang dengan otak sepertiku tidak diciptakan untuk bisa multitasking, mungkin.

Yang kumaksud investor tadi adalah orang yang mau menafkahi-ku sampai draft itu mendapatkan angin segar. I know, it's getting crazier now. 

Tak akan ada orang yang mau berinvestasi untuk sesuatu yang belum nyata. 

Yang kejelasannya hanya 30%

Yang tingkat keberhasilanya 30%

Yang tingkat kegagalannya 80% 

But, hey! Come on.

Apa arti hidup tanpa sedikit resiko?!

Where's the fun without a bit of risk?” – Fred dan George Weasley


Mungkin belum tentu berhasil.
Tapi setelah melaluinya, kau bukan orang yang sama lagi - Magdalena P.H 2021

Tapi ternyata sebelum menawarkan kesempatan investasi itu kakakku sudah mematahkan segalanya. Kukirimkan pesan sebelum memasuki ruangan interview : 

'Kak, aku udah pusing ditolak berkali-kali dalam pekerjaan. Lagian, aku gak yakin kalaupun ada yang menerima, bakalan 'awet' kerja di sana. Untuk itu, aku ada penawaran untukmu.'

Send.

Ternyata langsung dibalas :

'Ok, Dek. Asalkan bukan sesuatu yang berhungan dengan uang ya. Kakak juga nganggur ini, udah jadi IRT'

JLEB TO THE MAX !

Iya sih lu nganggur, Kak.

Tapi suami lu kerja.


Di usia seperempat abad ini, aku paham sesuatu yang baru lagi. Pernikahan itu menghasilkan jarak antara kakak dengan adik . 





Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...