Menyadari betapa gak enaknya bekerja di bawah
tekanan target (marketing), aku berjanji GAK AKAN MAU APPLY PEKERJAAN UNTUK
POSISI MARKETING LAGI ! Gak peduli entah produknya celana dalam, asuransi atau
pinjaman dana. Dari OJT sebagai sales di Ruangguru, aku belajar bahwa gak
peduli seberapa banyak bonus yang dijanjikan jika capai target, tapi kalau tiap
hari lu dikejar-kejar bom waktu yang seolah siap meledak saat waktu habis ..
sudahlah. I don't want it.
Aku bisa kok tahan makan pake kecap sama kerupuk tujuh
hari berturut-turut. So, get off, MARKETING AND ALL YOUR SHITS !
Berbekal prinsip itu, aku nekat melamar pekerjaan
yang mensyaratkan lulusan SMA yaitu : waitress. Dan tak kusangka undangan
interview-nya datang hanya selang 2 jam setelah kuklik 'apply' dari Indeed. Aku
tersenyum miring. Kau lihat itu kan, kau lihat gak, Marketing? Gak hanya kau
yang menerimaku. Ada posisi waitress juga yang dengan senang hati mau menampung
aku. Weeeeee...(peletin lidah)
Posisi waitress ini untuk sebuah kafe di daerah Jaksel,
Kemang. Begitu tau daerah itu adalah daerah untuk kalangan elit dan artis,
khayalanku langsung terbentuk..
Jadi waitress, nyambut pelanggan, ketemu bule,
tukeran nomor, jadian, menikah, dibawa ke Eropaa and Happily ever after !!!
Alamakkkk. Interview aja belum loh. Parah ini
otakku. Kebanyakan makan kecap sepertinya.
Dengan uang saku dari ruangguru (yang tak
seberapa) kemarin, aku beli flat shoes baru dong, sama beberapa blouse diskonan
di mall dekat kosan. Menurut gosip yang kudengar, alas kaki yang cantik akan
membawamu ke tempat yang indah. Yeah, harap aja itu benar.
Rute busway ke daerah Kemang ini ternyata
melewati Blok M, yang mana itu adalah tempat horror dalam sejarah pertama
kalinya aku menginjakkan kaki di Jakarta. Oh yeah, aku kehilangan HP di Blok M.
Saat itu bahkan belum 24 jam setelah mendarat di Jakarta. Jadi wajar kalau ada
sedikit trauma saat busway koridor 1 menurunkan penumpang di halte tujuan
akhir, Blok M.
Gak ingin berlama-lama di Blok M, aku langsung
nyambung lagi naik busway koridor 6N. Sesuai info yang kudapat, aku turun di
pemberhentian terdekat dari lokasi interview.
Kantornya masuk beberapa meter ke dalam gang.
Peserta interview hari itu ada 4 orang termasuk aku. Dua diantaranya melamar
staff operasional dan satu lagi cewek yang cantik, putih dan kayaknya masih
muda banget (di syarat lokernya usia yang diminta 25-28) jadi sainganku untuk
posisi waitress. Waktu dia lepas masker sebentar, aku langsung tau, nih cewek
dari mukanya pasti orang Dayak. Cantik, putih, sipit.
Kami diminta mengisi form biodata terlebih
dahulu. Si cewek yang melamar waitress tiba-tiba nanya kisaran gaji.
"Kayaknya di bawah UMR, tapi sekitar di atas
2 jutaan lah," kujawab gitu karena malamnya aku udah searching berapa gaji
waitress.
Saat pengerjaan soal tes IQ, dua orang yang
melamar staf operasional selesai lebih dulu dan langsung meninggalkan ruangan.
Tak lama kemudian waktu pengerjaan habis. Kertas kami berdua juga terpaksa
disita. Tes berikutnya adalah tes hafalan. Diberikan selembar kertas berisi
kategori dan jenis-jenisnya. Contohnya :
Kategori KESENIAN
Jenis : Arca, Gamelan,Quintet
Nah selama 5 menit diberi waktu untuk
menghafalkan kategori dan jenisnya. Tes ini tidak sulit sama sekali. Kali ini
aku selesai lebih dulu dan langsung meninggalkan ruangan.
Setelah tes hafalan, kami dipersilahkan menunggu
untuk interview.
"Kak,," sebuah suara dari samping. Aku
menoleh, si cewek saingan.
"Ya?"
"Tadi kakak selesainya cepat ya. Gimana
caranya, Kak?"
"Oh itu, aku hafalin huruf awalnya aja. Jadi
misalnya untuk kategori KESENIAN aku hafal huruf pertama dari setiap jenisnya.
Jadi KESENIAN : AGQ. Gitu."
"Oh, kakak udah pernah tes kayak gini?"
"Udah."
"Pantesan. Aku baru ini."
Sebagai saingan, aku ketawa dalam hati. Tapi
sebagai umat manusia yang berjiwa sosial, aku menghiburnya. "Gak apa-apa.
Lagian kamu kayaknya masih muda banget."
Dia nyengir. "Coba tebak, Kak usiaku
berapa?"
"Hm, 21 atau 22 mungkin?"
"Aku 21 Kak."
Hiks. Aku iri. Pengen rasanya tukaran umur sama
cewek di depanku ini.
"Tuh kan, muda banget. Eh tapi kebetulan,
kamu bukan orang dayak, kan?"
Mukanya kaget. "Kakak tau darimana?"
"Gak usah kaget gitu. Aku dulu kuliah di
Kalimantan."
Setelah berjam-jam kami nunggu, akhirnya dia
dipanggil lebih dulu untuk interview. Padahal kalau sesuai jadwal tiba di
lokasi mah, aku duluan yang nyampe. Huft. Udah lapar pulakk.
Selama menunggu si Klara, aku main HP. Tiba-tiba
ada WA masuk yang berisi pesan dari perusahaan outsourcing yang
pernah kutitipi berkas CV-ku. Tebak posisi apa yang dikasih. Yup, T E L E M A R
K E T I N G.
Kenapa anda balik lagi, wahai MARKETING???!!!!
Aku sudah mengsusirmu jauh-jauh kan. Tapi kubalas saja iya, seandainya hasil
interview hari ini belum berpihak ke aku. Tapi dalam hati, aku berjanji akan
memilih posisi waitress yang tidak terikat dengan target apapun dibanding
telemarketing meski gajinya UMR sekalipun.
Aku pasti bisa bahagia makan gaji kecil.
Lebih dari satu jam si cewek yang bernama Klara
itu interview di lantai 2. Aku heran, mereka bicarain apa aja sampai selama
itu. Setelah si Klara selesai, aku belum juga dipanggil.
"Kak, kalau 2 juta itu dikit gak sih? Tadi
aku nulis 2 juta untuk gaji."
Wah, nih bocah kelewat polos. Bukan apa-apa, tapi
nih kalau di Jakarta 2 juta itu buat bayar kosan sama makan aja udah pas-pasan banget.
Oh iya, dia kan emang belum ada pengalaman kerja. Wajar dia sepolos itu.
"Dikit sih itu."
"Apa karena itu aku di-interview duluan ya,
Kak? Karena minta gajinya kecil."
Aku cuma senyum. Sampai jam 4 sore, barulah aku
dapat giliran. Si Klara bukannya pulang, tapi diminta nunggu untuk interview
dengan user. Dari situ, aku mulai ngerasa agak gimana.
Kalau si Klara lanjut interview user itu artinya
dari HRD di interview sebelumnya gak ada masalah. Hasil tesnya juga gak
masalah. Tapi kenapa mukanya tadi gelisah setelah keluar ruangan tes.
Kuketok pintu ruangan HRD. Setelah dipersilahkan
duduk, sesi pun dimulai dengan menjawab pertanyaan kenapa aku mengosongkan
bagian 'alasan resign' di kolom pengalaman kerja formulir biodata.
"Kenapa hanya 3 bulan?"
Beliau mengacu ke pengalamanku sebagai inside
sales di perusahaan stainless steel. Sebenarnya itu karena kau gak kuat lagi
dengan job desk dan atasan yang cerewet, jadi aku kabur. Sama sekali gak keluar
baik-baik. Tapi aku gak mungkin jujur. Makanya kujawab :
"Waktu itu saya hanya menyelesaikan OJT
saja, Bu. Saat itu kakek saya, kakek yang membesarkan saya meninggal dunia dan
saya gak bisa mengajukan cuti. Jadi saya memilih untuk resign."
For your information, aku GAK PERNAH dibesarkan
kakek atau pun nenek.
"Kalau boleh tau nih, kamu kan lulusan S1 kenapa melamar waitress? Itu bahkan posisi di bawah staff."
KARENA SAYA GAK MAU LAGI BERHUBUNGAN DENGAN MARKETING YG ADA TARGETNYA. SAYA APPLY DI PERUSAHAAN INI DAN ANDA MENGUNDANG SAYA UNTUK INTERVIEW
"Saya sendiri merasa tidak ada masalah ya Bu, kalau ibu mengacu tentang sarjana yang melamar pekerjaan yang bisa dikerjakan lulusan SMA. Sekarang cari pekerjaan tidak mudah. Oleh karena itu saya melihat kemampuan dan pengalaman saya yang sekiranya cocok untuk melamar posisi apa. Kebetulan waitress ini punya kesamaan dengan pekerjaan sebelumnya, yaitu customer focus. Tentu saja saya masih perlu banyak belajar untuk semakin lebih baik lagi."
Interview berlanjut, beliau bertanya aku
menjawab. Tapi bisa kurasakan si HRD gak tertarik lagi samaku. Kalau si Klara
tadi satu jam lebih interview-nya, aku cuma 10 menit di dalam ruangan
itu.
God..
Jam 5 sore aku pulang dengan jiwa hampa. Di jalan
juga macet parah. Busway hampir gak bergerak.
Ku-WA si Klara menanyakan hasil interview dengan user.
Dia diterima!
Aku lesu. Double lesu karena belum makan. Si HRD
tadi memang meminta untuk menunggu kabar maksimal 2 hari kemudian. Kalau tidak
ada kabar, artinya aku gak diterima. Gak usah 2 hari juga aku udah tau
hasilnya. Pengalaman 9 bulan di marketing plus part time jaga stand waktu
kuliah ternyata tidak meloloskanku untuk posisi waitress. Aku bahkan menuliskan
gaji yang kuinginkan dibawah UMR : 2.900.000
Tunggu, ini kan posisi waitress. Pasti harus cakep dong ya.
Apa karena aku pakai kaca mata? Aku kan gak jelek-jelek amat. Hakshaks. Tapi memang si Klara lebih cakep. Mungkin karena itu dia diterima.
Tiba-tiba aku teringat tawaran telemarketing dari
perusahaan outsourcing tadi.
Pada akhirnya aku gak bisa jauh-jauh dari
MARKETING.,
ARRRGGGGGGG....!!!
 |
| hmm.. |