Jarang-jarang CCO dapat double off, apalagi double off-nya di hari-hari queueing kayak Senin-Selasa. Sebenarnya aku ubah jadwal. Tadinya seharusnya aku pulkam karena ada acara pasahat adat ortuku sama tulang. Tapi karena gak bisa ngajuin cuti dadakan dan hanya bisa ngasih double off dari WFM, jangan salahkan aku. Salahkan.. siapa ya. Gak ada yang bisa disalahkan sih. Bapakku memang gak punya pilihan. Dia harus milih antara anak laki-laki sulungnya atau aku mungkin? Forget it!
Untuk menghibur diri, aku melarikan diri ke perpustakaan. Kebetulan perpustakaan ini udah batal 3x kukunjungi. Udah reservasi di website-nya, eh mager. Hari ini akhirnya terwujud. Perpustakaannya sih cozy. Lokasinya di Taman Ismail Marzuki. Cuma aku lebih suka di perpusnas. Aku gak lama di sana. Setelah liat-liat lokasi sekitar, aku cabut ke perpusnas.
Dan karena ada kawan satu SMA yang ngajakin ketemuan, sekalian ajalah kuajak ketemu di perpusnas aja. Si Elsa ini sekarang kerja jadi admin di sekolah swasta di Jakbar. Satu-satunya persamaan kami : belum menikah.
Perpusnas sekarang buka sampai malam jam 9. Pas aku nyampe sih udah jam 5 sore. Karena tadi makan ketoprak dulu depan Taman Ismail Marzuki. Pas udah nyampe, aku langsung nyari novel yang udah lamaaaa banget aku antri buat baca tapi selalu gak kebagian giliran. Kayaknya novelnya cuma ada 3 atau berapa gitu. Judulnya : Jika Kucing Lenyap dari Dunia. Ceritanya tentang seorang pemuda yang didatangi malaikat pencabut nyawa atau apa gitu. Pemuda ini cuma punya 7 hari sebelum mati, tapi dia harus mengorbankan sesuatu yang paling dia sayangi (satu benda per hari) untuk dihilangkan dari muka bumi ini.
Akhirnya... aku ketemu novelnya!
Tadinya, aku mau nyari Edensor-nya Andrea Hirata karena pengen baca ulang. Tapi setengah jam kucari gak ketemu. Malah gak sengaja liat novel berjudul 90 HARI MENCARI SUAMI dan tanganku langsung membaca sinopsis di sampul belakang. Hm, tentang cewek usia 30 tahun yang belum nikah dan gak punya pacar . Langsung deh kuangkut novelnya karena kalau kutunjukin sama si Elsa dia pasti ngakak karena relate.
Setelah berhasil meminjam buku di mesin peminjaman, aku mencari kursi kosong. Tapi kendala muncul. Kartu perpus punya orang yang selama ini dipindahtangankan ke aku hilang. Dasar jompo! Padahal tadi baru ku-tap di mesin peminjaman. Aku pun nanya petugasnya.
"Kak, maaf mau tanya. Kalau kartu perpusnya ilang gimana ya?"
"Hilang dimana, Kak?"
"Tadi saya baru aja tap di mesin peminjaman buku, tapi udha gak ada lagi. Masih saya pegang tadi."
Si petugasnya ngeluarin sesuatu. "Yang ini bukan?"
Anju. Iya.
"Iya, Kak. Nemu dimana Kak?"
"Tadi ada mas-mas yang nemu terus dititip ke sini. Lain kali hati-hati ya."\
Aku pun senyum, berterima kasih lalu kembali ke mejaku.
Sambil nunggu si Elsa datang, aku pun baca novel Jika Kucing Lenyap dari Dunia. Aku baca di meja yang ada kursi 4 biji, yang mana dua kursi saling hadap-hadapan. Di sebelah kananku ada anak laki-laki (SMA mungkin) lagi ngerjain segepok soal-soal. Di depan dia, ada cewek kuliahan (mungkin) yang pake earphone dan gak sadar kalau dia ngomong suaranya kencang banget. Gak lama si cewek ini pun pergi, tinggallah gue berdua sama si cowok SMA. Tapi gak lama kemudian...
"Kak, kursi ini kosong gak?"
Gue tanpa melirik siapa yang bertanya langsung bilang, 'iya kosong.' Bukan apa-apa sih, cuma lagi fokus baca aja. Ceritanya lagi sedih. Malaikat mautnya minta si pemuda untuk menghilangkan telepon dari dunia.
Dan ternyata mereka datang berdua. Mereka pun duduk di hadapan gue. Dua orang cowok anak kuliahan (mungkin) berkulit putih. Pas liat kulitnya gue pun merasa gagal jadi cewek. Mereka membaca setelah melepas masker sehingga gue bisa mengamati wajahnya. Yang satu berkaca mata, mukanya lebih bersih. Yang satu lagi gak kaca mataan, mukanya agak jerawatan tapi mirip artis FTV. Meski gue masih membaca, tapi mata ini sesekali ngelirik pemandangan di depan.
Masih muda banget. Bukan tipe gue. Akhirnya gue pun meletakkan kepala di meja dengan malas karena mulai ngantuk dan si Elsa (entah kejabak macet) masih di jalan. Beberapa menit kemudian, kedua cowok ini malah ngobrol. Dan mereka ngobrolin apa coba? Bola mata! I mean mereka kan masih bisa ngebahas yang lain. Buku yang sedang dibaca mungkin.
Setelah bola mata, mereka ngebahas soal chattingan-nya sama seseorang. Entahlah cewek atau cowok partner chattingannya yang pasti udah kerja, karena dia nyebut-nyebutin CEO gitu. Telinga gue mungkin masih mengarah ke novel Jika Kucing Lenyap dari Dunia, tapi telinga sudah 101% fokus nyimak obrolan mereka.
Cowok kc mata : Iya, gak jelas jir. Masa kemarin dia kerja jam 8. Terus hari ini jam 9.
Cowok FTV : Ya bisa aja. Mungkin dia udah tinggi jabatannya. CEO kali!
Cowok kc mata : Terus, tau gak. Masa ya dia itu ngebalesnya cepat banget. Padahal gue sengaja balesnya lama, nunggu setengah jam an dulu. Hahahah.
Cowok FTV : Iya tuh. Eh, aku sebenarnya lebih suka diskusi sih daripada baca buku. Bikin ngantuk tau gak jir.
Cowok kc mata : Gw kayaknya bakal sering ke sini deh.
Cowok FTV : Eh loe mau ke rooftop gak?
Cowok kc mata : Emang ada?!
Cowok FTV : Ada jir.
Entah kenapa jiwa ngeliat mereka berdua, jiwa fujoshi gue meluap-luap. Maka dengan pura-pura bales chat, gue angkat HP gue dan arahkan ke mereka pengen jepret foto. Eh si cowok FTV malah sadar. Pas fotonya udah kejepret, gue pun panik karena dengan jelas dia ngeliat kamera yang artinya dia sepenuhnya sadar kalau gue fotoin dia diam-diam.
Sebelum sempat di-sleding dan dituntut ke komnas HAM, gue pun kabur dengan estetik. Pura-pura nelpon sambil beresin barang-barang, "Oh, udah nyampe? Oke, oke. Aku otw ke sana."
Saat itulah gue sadar, novel 90 HARI MENCARI SUAMI ada di depan kami bersama. Gue cuma bisa berharap mereka gak liat judul novel yang gue pinjam, karena kalau mereka liat entah apa yang akan mereka pikirkan tentang gue.
Bodoamat. Cabut.
Untungnya si Elsa nyampe di halte balaikota 15 menit kemudian. Kita pun nyari tempat nongkrong di daerah situ. Dari semua tempat, entah kenapa kita masuk ke Circle K. Setelah letakin novel di meja, gue sama Elsa pesan minum. Pas balik ke meja, di samping meja kita udah ada om-om. Entah karena tadi dia dengar percakapan gue sama si Elsa, dia langsung nyapa.
"Boru apa, Dek?"
Mata gue langsung mengarah ke novel 90 HARI MENCARI SUAMI dan membalikkan judulnya. Semoga aja dia belum baca. Atau jangan-jangan dia lagi cari istri, terus pas liat judul novel yang gue pinjam...?
Imajinasi macam apa ini. Bisa aja dia udah nikah. Udah punya anak. Atau malah udah cerai dan pengen nikah lagi?!
Si Om marga apa tadi ya. Lupa. Tapi adek bapaknya katanya nikah sama marga Nainggolan. Terus dia nanya soal Joshua yang asalnya dari Jambi juga katanya sama kayak aku lahir di Jambi.
"Joshua yang mana, Tok?"
"Yang Sambo. Sambo."
"Oh. Hahah, saya gak ngikutin. Oh dia dari Jambi juga ya."
Si Elsa malah berbisik, 'ngapain lu sapa orang asing sih?'
Orang dia duluan yang nyapa. Masa kita cuekin. Giman sih Elsa. That's why you jomnlo. Wkwkwkwk. Elsa be like : mirror please!
Si Elsa selera humornya mirip sama gue kayaknya. Dia bahkan nonton stand up comedy. Jadi pembahasan kita nyambung. Gak melulu soal pasangan hidup yang gak nongol-nongol.
Elsa : Kalau lu pengen ngejar apa di tahun ini? Kan usia 28 ntar Mei?
Aku : Hmm... melepasa keperawanan mungkin?
Elsa : Bitch!!! You can do it right now. That man, you see him? I can call him for you.
Aku : Bitch! NOT anyone cowok juga keles. I punya type juga lah (dalem ati : yang kayak Suga BTS juga gpp).
Ngobrol sama si Elsa memang seru. I got my energy back.