Senin, 27 Februari 2023

Meterai Lunas

Charles Parulian pernah berkata : semakin kaya seseorang, maka dia makin gak pengen uangnya berkurang sepeser pun. 

Kayaknya itu betul. Oh ya, Charles Parulian bukan ilmuwan atau filosofi asal Yunani. Beliau hanyalah mantan atasanku dulu di kantor lama. Kantor lamaku yang singkat tapi menyisakan kesan mendalam dalam sejarah per-karier-an awak. 

Hari ini ada nasabah kartu kredit yang komplen CUMA gara-gara di billing tagihannya ada biaya meterai lunas 10.000. Sepuluh ribu. Gak lebih, gak kurang! Padahal kulihat pembelanjaannya, 8 juta lebih. Hm, bangs*t emang. 

"Saya cek di tagihan saya ada biaya meterai lunas. Kenapa."

Datang-datang ngucapin salam kek, ini orang malah nyerocos. Aku langsung malas ladenin nasabah kayak gini. Setelah memberikan empati (tak ikhlas), kuminta nomor kartu kreditnya. Setelah kucek, yaiyalah dikenakan biaya meterai lunas. Sesuai ketentuan kalau pembayaran tagihan nominalnya lebih dari 5 juta bakalan kena biaya meterai lunas. Aku udah jelasin, tapi si nasabah ini gak terima.

"Kenapa tertagihnya di kartu tambahan? Bukan di kartu utama?"

"Jadi kendala bapak bukan kenapa dikenakan biaya meterai lunas tapi kenapa dikenakan di kartu tambahan?" Aku pun mulai emosi. Tadi pertanyaan dia bukan itu deh. Suka-suka bank-nya lah mau ditagihkan di kartu kredit yang mana. Yang penting ditagihkan ke elu!!!

"DUA-DUANYA!"

Eh si bangke.

"Tadi sudah saya sampaikan Pak, biaya meterai lunas 10 ribu rupiah ini (kutekankan nadaku di sini) dikenakan bila pembayaran tagihan kartu kredit bapak di atas 5 juta ruouah. Ini kan pembayaran bapak atas tagihan bulan Januari lalu sebesar 8 juta lima ratus ribu rupiah. Makanya dikenakan biaya meterai lunas. Perihal kartu mana yang ditagihkan itu tidak jadi masalah Pak."

"Gak mungkin. Mana supervisor kamu. Dimana ada ketentuan kayak begitu. Kenapa saya sebagai nasabah gak dapat informasinya! MANA ATASAN KAMU! SAYA MAU NGOMONG!!" 

Elah Pak, 10 ribu doang loh. Tagihan lu noh 850x lipat.

"Informasinya nanti sama saja Pak yang akan disampaikan atasan saya."

Gue coba menenangkan orang berutang yang pelitnya minta ampun ini. Bukan orang kaya, masa orang kaya ngutang pake kartu kredit ya gak sih. Wkwkwkw.

"Sama mau tutup kartu aja kalau gitu. Tutup kartu xxx saya dan xxx." (suaranya keputus).

"Suaranya terputus, Pak. Kartu yang mana yang mau ditutup?"

"Makanya kamu simak dong! Tutup semua aja!"

Lha si anj*ng. 



Senin, 20 Februari 2023

Double off, bukannya tidur di kosan malah ke perpustakaan

 Jarang-jarang CCO dapat double off, apalagi double off-nya di hari-hari queueing kayak Senin-Selasa. Sebenarnya aku ubah jadwal. Tadinya seharusnya aku pulkam karena ada acara pasahat adat ortuku sama tulang. Tapi karena gak bisa ngajuin cuti dadakan dan hanya bisa ngasih double off dari WFM, jangan salahkan aku. Salahkan.. siapa ya. Gak ada yang bisa disalahkan sih. Bapakku memang gak punya pilihan. Dia harus milih antara anak laki-laki sulungnya atau aku mungkin? Forget it!

Untuk menghibur diri, aku melarikan diri ke perpustakaan. Kebetulan perpustakaan ini udah batal 3x kukunjungi. Udah reservasi di website-nya, eh mager. Hari ini akhirnya terwujud. Perpustakaannya sih cozy. Lokasinya di Taman Ismail Marzuki. Cuma aku lebih suka di perpusnas. Aku gak lama di sana. Setelah liat-liat lokasi sekitar, aku cabut ke perpusnas.

Dan karena ada kawan satu SMA yang ngajakin ketemuan, sekalian ajalah kuajak ketemu di perpusnas aja. Si Elsa ini sekarang kerja jadi admin di sekolah swasta di Jakbar. Satu-satunya persamaan kami : belum menikah.

Perpusnas sekarang buka sampai malam jam 9. Pas aku nyampe sih udah jam 5 sore. Karena tadi makan ketoprak dulu depan Taman Ismail Marzuki. Pas udah nyampe, aku langsung nyari novel yang udah lamaaaa banget aku antri buat baca tapi selalu gak kebagian giliran. Kayaknya novelnya cuma ada 3 atau berapa gitu. Judulnya : Jika Kucing Lenyap dari Dunia. Ceritanya tentang seorang pemuda yang didatangi malaikat pencabut nyawa atau apa gitu. Pemuda ini cuma punya 7 hari sebelum mati, tapi dia harus mengorbankan sesuatu yang paling dia sayangi (satu benda per hari) untuk dihilangkan dari muka bumi ini. 

Akhirnya... aku ketemu novelnya!

Tadinya, aku mau nyari Edensor-nya Andrea Hirata karena pengen baca ulang. Tapi setengah jam kucari gak ketemu. Malah gak sengaja liat novel berjudul 90 HARI MENCARI SUAMI dan tanganku langsung membaca sinopsis di sampul belakang. Hm, tentang cewek usia 30 tahun yang belum nikah dan gak punya pacar . Langsung deh kuangkut novelnya karena kalau kutunjukin sama si Elsa dia pasti ngakak karena relate.

Setelah berhasil meminjam buku di mesin peminjaman, aku mencari kursi kosong. Tapi kendala muncul. Kartu perpus punya orang yang selama ini dipindahtangankan ke aku hilang. Dasar jompo! Padahal tadi baru ku-tap di mesin peminjaman. Aku pun nanya petugasnya.

"Kak, maaf mau tanya. Kalau kartu perpusnya ilang gimana ya?"

"Hilang dimana, Kak?"

"Tadi saya baru aja tap di mesin peminjaman buku, tapi udha gak ada lagi. Masih saya pegang tadi."

Si petugasnya ngeluarin sesuatu. "Yang ini bukan?"

Anju. Iya. 

"Iya, Kak. Nemu dimana Kak?"

"Tadi ada mas-mas yang nemu terus dititip ke sini. Lain kali hati-hati ya."\

Aku pun senyum, berterima kasih lalu kembali ke mejaku.

Sambil nunggu si Elsa datang, aku pun baca novel Jika Kucing Lenyap dari Dunia. Aku baca di meja yang ada kursi 4 biji, yang mana dua kursi saling hadap-hadapan. Di sebelah kananku ada anak laki-laki (SMA mungkin) lagi ngerjain segepok soal-soal. Di depan dia, ada cewek kuliahan (mungkin) yang pake earphone dan gak sadar kalau dia ngomong suaranya kencang banget. Gak lama si cewek ini pun pergi, tinggallah gue berdua sama si cowok SMA. Tapi gak lama kemudian...

"Kak, kursi ini kosong gak?"

Gue tanpa melirik siapa yang bertanya langsung bilang, 'iya kosong.' Bukan apa-apa sih, cuma lagi fokus baca aja. Ceritanya lagi sedih. Malaikat mautnya minta si pemuda untuk menghilangkan telepon dari dunia. 

Dan ternyata mereka datang berdua. Mereka pun duduk di hadapan gue. Dua orang cowok anak kuliahan (mungkin) berkulit putih. Pas liat kulitnya gue pun merasa gagal jadi cewek. Mereka membaca setelah melepas masker sehingga gue bisa mengamati wajahnya. Yang satu berkaca mata, mukanya lebih bersih. Yang satu lagi gak kaca mataan, mukanya agak jerawatan tapi mirip artis FTV. Meski gue masih membaca, tapi mata ini sesekali ngelirik pemandangan di depan. 

Masih muda banget. Bukan tipe gue. Akhirnya gue pun meletakkan kepala di meja dengan malas karena mulai ngantuk dan si Elsa (entah kejabak macet) masih di jalan. Beberapa menit kemudian, kedua cowok ini malah ngobrol. Dan mereka ngobrolin apa coba? Bola mata! I mean mereka kan masih bisa ngebahas yang lain. Buku yang sedang dibaca mungkin. 

Setelah bola mata, mereka ngebahas soal chattingan-nya sama seseorang. Entahlah cewek atau cowok partner chattingannya yang pasti udah kerja, karena dia nyebut-nyebutin CEO gitu. Telinga gue mungkin masih mengarah ke novel Jika Kucing Lenyap dari Dunia, tapi telinga sudah 101% fokus nyimak obrolan mereka

Cowok kc mata : Iya, gak jelas jir. Masa kemarin dia kerja jam 8. Terus hari ini jam 9.

Cowok FTV : Ya bisa aja. Mungkin dia udah tinggi jabatannya. CEO kali!

Cowok kc mata : Terus, tau gak. Masa ya dia itu ngebalesnya cepat banget. Padahal gue sengaja balesnya lama, nunggu setengah jam an dulu. Hahahah.

Cowok FTV : Iya tuh. Eh, aku sebenarnya lebih suka diskusi sih daripada baca buku. Bikin ngantuk tau gak jir.

Cowok kc mata : Gw kayaknya bakal sering ke sini deh.

Cowok FTV : Eh loe mau ke rooftop gak?

Cowok kc mata : Emang ada?!

Cowok FTV : Ada jir.

Entah kenapa jiwa ngeliat mereka berdua, jiwa fujoshi gue meluap-luap. Maka dengan pura-pura bales chat, gue angkat HP gue dan arahkan ke mereka pengen jepret foto. Eh si cowok FTV malah sadar. Pas fotonya udah kejepret, gue pun panik karena dengan jelas dia ngeliat kamera yang artinya dia sepenuhnya sadar kalau gue fotoin dia diam-diam.

Sebelum sempat di-sleding dan dituntut ke komnas HAM, gue pun kabur dengan estetik. Pura-pura nelpon sambil beresin barang-barang, "Oh, udah nyampe? Oke, oke. Aku otw ke sana."

Saat itulah gue sadar, novel 90 HARI MENCARI SUAMI ada di depan kami bersama. Gue cuma bisa berharap mereka gak liat judul novel yang gue pinjam, karena kalau mereka liat entah apa yang akan mereka pikirkan tentang gue.

Bodoamat. Cabut.

Untungnya si Elsa nyampe di halte balaikota 15 menit kemudian. Kita pun nyari tempat nongkrong di daerah situ. Dari semua tempat, entah kenapa kita masuk ke Circle K. Setelah letakin novel di meja, gue sama Elsa pesan minum. Pas balik ke meja, di samping meja kita udah ada om-om. Entah karena tadi dia dengar percakapan gue sama si Elsa, dia langsung nyapa.

"Boru apa, Dek?"

Mata gue langsung mengarah ke novel 90 HARI MENCARI SUAMI dan membalikkan judulnya. Semoga aja dia belum baca. Atau jangan-jangan dia lagi cari istri, terus pas liat judul novel yang gue pinjam...?

Imajinasi macam apa ini. Bisa aja dia udah nikah. Udah punya anak. Atau malah udah cerai dan pengen nikah lagi?!

Si Om marga apa tadi ya. Lupa. Tapi adek bapaknya katanya nikah sama marga Nainggolan. Terus dia nanya soal Joshua yang asalnya dari Jambi juga katanya sama kayak aku lahir di Jambi. 

"Joshua yang mana, Tok?"

"Yang Sambo. Sambo."

"Oh. Hahah, saya gak ngikutin. Oh dia dari Jambi juga ya."

 Si Elsa malah berbisik, 'ngapain lu sapa orang asing sih?'

Orang dia duluan yang nyapa. Masa kita cuekin. Giman sih Elsa. That's why you jomnlo. Wkwkwkwk. Elsa be like : mirror please!

Si Elsa selera humornya mirip sama gue kayaknya. Dia bahkan nonton stand up comedy. Jadi pembahasan kita nyambung. Gak melulu soal pasangan hidup yang gak nongol-nongol. 

Elsa : Kalau lu pengen ngejar apa di tahun ini? Kan usia 28 ntar Mei?

Aku : Hmm... melepasa keperawanan mungkin?

Elsa : Bitch!!! You can do it right now. That man, you see him? I can call him for you.

Aku : Bitch! NOT anyone cowok juga keles. I punya type juga lah (dalem ati : yang kayak Suga BTS juga gpp).

Ngobrol sama si Elsa memang seru. I got my energy back.





Jumat, 17 Februari 2023

#BaladaCCOemosi

Hari ini pertama kalinya beneran dendam, kesal, marah, muak sama pekerjaan ini. Koreksi : orang-orang yang menjalankan perusahaan ini. Aku gak ada masalah dengan sistem kerjanya yang shifting. Aku bahkan berkorban beberapa kali. Tempo hari abangku yang udah 10 tahun gak pulang kampung (pas pulang malah bawa anak sama istri), akhirnya pulang. Tadinya aku pengen ketemu meski bentar doang sama mereka di bandara, tapi jam shifting ini tidak berpihak. Bahkan nanti tanggal 20 Februari ada acara pesta adat orang tuaku yang pasahat adat sama tulangku, dimana seluruh anggota keluarga berkumpul, kelima saudaraku, termasuk adik laki-laki yang udah 7 tahun gak pulang akhirnya pulang, tapi sekali lagi aku gak bisa hadir di sana.

Bukan karena begitu banyak uang yang kuhasilkan dari pekerjaan ini (gaji kompensasiku aja kurang 1 juta dari yang seharusnya kuterima sesuai UU Cipta kerja). Tapi aku masih bisa menahannya. Bahkan saat seluruh anggota keluarga berkumpul, aku ditinggal di sini sendirian. Hidup macam apa ini.

Setiap detik ada perubahan di kantor. Selalu ada aturan baru. Perubahan di kantor ini bahkan lebih cepat dari kecepatan mutan flash kurasa. Apa karena mereka perusahaan perbankan? Gak tau lah. Kalau CCO gak bisa menyerap perubahan ini dengan cepat, akan dikenakan ketidaksesuaian sama QA bang**t. Pekerjaan apa itu si QA bajing*n ini dengerin calls dan nyari kesalahan si CCO. Dampaknya si CCO bisa kena pengurangan gaji karena di flat (uang shifting-nya hilang), kena surat peringatan (sp) atau mungkin bisa sampai pemecatan, dikembalikan ke vendor.

Aku paham fungsi utama si QA adalah menjamin kualitas call center perusahaan, supaya informasi yang disampaikan ke nasabah tidak keliru dan sesuai ketentuan. Kalau call center salah memberikan informasi ke nasabah nanti bisa berpotensi nasabah komplain dan menjelekkan nama baik perusahaan dengan menyebarluasakannya di media sosial. 

TAPI..,

QA kepar*t ini sering ngasih ketidaksesuaian yang bahkan acuannya aja gak ada. Dasar dia menurunkan itu sebagai ketidaksesuaian apa, sering gak jelas. Kita divonis bersalah, tapi gak jelas pasal atau undang-undang yang kita langgar itu yang mana. Kayak yang kuterima hari ini. Bangs*t sih. Udah gitu, tadi aku nanya ke TL ku. Di perusahaan ini masih ada demokrasi gak sih, apakah CCO bisa diberikan kesempatan buat ngasih saran, kritikan atau komentar yang membangun demi kelancaran dan kemajuan bersama, tapi kata TL ku gak akan bisa kalau yang mimpin masih yang sekarang. Aku gak tau persis dia merujuk ke siapa, tapi yeah.. 

TL-ku juga bilang kalau di perusahaan ini, misalkan ada yang speak-up, bakalan ditekan dan dipersulit hidupnya sebagai call center di perusahaan ini. Dia memang gak akan di PHK, tapi karena sering dicari-cari kesalahannya dan dipersulit, akhirnya si CCO bakalan resign dengan sendirinya. Yang ngomong itu adalah TL-ku, team leader ku sendiri. Yang mana dia udah 6 tahun lebih mengabdi sama perusahaan. Artinya memang sudah pernah terjadi yang kayak gitu. 

Kotor sekali permainannya.


Aku sadar satu hal : menerima makian nasabah (meski bukan aku yang salah) lebih mudah daripada menerima vonis bersalah yang tidak ada penjelasannya. Anda dijatuhi hukuman, meski gak tau pasal yang dilanggar yang mana. 


#baladaCCOemosi

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...