Sebelum memantapkan diri untuk ambil pekerjaan jadi sales (lagi), aku udah ngajak si Aulia Ulat Nangka sobat nganggur yag tinggal di kalimantan buat nekat memulai perjalanan mengelilingi Indonesia dengan misi menyebarkan kebaikan. Tapi dia menolak ajakanku. Katanya kami gak akan berhasil karena tidak ada skill yang kami kuasai. Sudah kubilang, skill itu gak penting. Kita improvisasi aja. Tapi dia gak mau.
Akhirnya aku 'terperangkap' lagi jadi sales.
Untungnya sekarang wfh. Jadi bisa sambil pake kolor, tanpa khawatir ditegor.
Kerjaanku cuma nelpon, nawarin dana kredit pensiunan untuk para pensiunan. Orang-orang tua usia 55 tahun ke atas yang udah pensiun dari pekerjaannya. Karena ini dunia sales, jelas erat dengan target dan penolakan.
Tidak semua nasabah ini ramah. Ada yang langsung marah-marah begitu tau aku dari bank btp* dan hendak menawarkan pinjaman.
"Nggak, nggak. Saya tidak mau! Jangan tawari saya lagi. Itu bank luar biasa sekali bunganya, bukannya membantu kami para pensiunan malah mencekik sampai mati!"
Aku gak berdaya. Sebagai sales, aku harus membalas dengan ramah.
"Baik, Pak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami tidak akan menawari bapak lagi."
Pengen kujawab : Namanya juga PT, perseroan terbatas. Harus dapat untung dong. Mohon maaf Pak, perusahaan ini bukan badan amal yang bergerak untuk membantu orang-orang tanpa peduli laba.
Tapi kalau itu kulakukan, rekamanku saat menelpon akan didengar TL, aku dapat SP.
Karena yang kutelpon adalah orang-orang tua, aku sedikit banyak dapat gambaran gimana kehidupan setelah pensiun dari pekerjaan. Ada yang tetap produktif dengan beternak ayam atau bertani karena sisa gaji pensiunannya gak cukup buat bayar listrik dan beli kebutuhan sehari-hari. Ada yang bilang gak dapat bantuan dari anak, cuma dari gaji pensiunannya setiap bulan. Yang paling menyedihkan, ada satu nasabah yang tinggal sendirian dan sedang sakit keras.
Man, kalau selama hidupnya manusia tidak pernah bahagia apalah artinya hidup.
Tapi ada juga nasabah yang justru ngajak ngobrol. Pastilah setelah pensiun hidup jadi lebih kesepian. Anak-anaknya sudah punya keluarga masing-masing dan jarang berkunjung.
Tapi Mmereka kayaknya gak paham kalau setiap percakapan direkam dan tersimpan di sistem. TL bisa dengerin dan bisa mengancam kelangsunganku di perusahaan. Tapi kalau ku-cut omongan orang tua yang sudah sepuh, aku pasti dicap gak sopan. Yaudahlah, kudengerin aja..
Nasabah : Putri saya baru meninggal, mbak...
Aku : Turut berduka cita ya pak, semoga putri bapak diterima di sisi-Nya.
Nasabah : Dia putri saya satu-satunya, mbak. Saya sayang sekali dengan anak perempuan. Mbak Lena kalau ingin cerita-cerita dengan saya boleh telpon saya ya. Anggap saja saya bapak mbak sendiri.
Aku : ????
Nasabah :Mbak sekarang usia berapa? Sudah menikah?
Aku : (tertawa jaim) Saya usia 20 an, Pak. Belum menikah.
Nasabah : Kalau mbak menikah nanti cari calon yang setia. Yang baik. Kalau gak ketemu, jangan menikah. Lebih baik jadi wanita karir saja.
Well, setidaknya beliau memberikan nasehat. Kalau pun TL dengar rekaman percakapanku dengan nasabah itu, dia gak bisa komen aneh-aneh.
Entahlah berapa lama aku bisa bertahan di sini.
Karena WFH, para TL dan SPV luar biasa cerewet di WA grup. 23 detik aja lu statusnya gak online di sistem, udah langsung diteriakin nama lu di grup...
Lena, 23 detik ngapain????
Pengen kubalas : tarik nafas biar gak mati..
Sudah dikejar-kejar target, dikejar-kejar atasan juga.