Jumat, 20 Maret 2020

Interview Online


Setelah pulang kampung untuk minta doa restu ortu, aku kembali lagi ke Jakarta. Tiga minggu di kampung membuatku sadar bahwa sarjana yang pengangguran dipandang hina di kampung kami. Hahaha. Tak tahan, aku pun memutar haluan. Meski belum tau apakah ada perusahaan mau menerima karyawan yang hanya bertahan 3 bulan di pekerjaan lamanya.

Bapak dan mamakku jelas khawatir. Ingin kukatakan, ‘Mom, Dad. Percayalah, anakmu ini akan sukses dengan caranya sendiri. Jangan khawatir, seorang laki-laki baik juga akan menemukanku’. Tapi tak pernah kukatakan.  

Sesuatu menungguku di Jakarta. Virus corona yang awalnya bermula dari Wuhan China kini sudah sampai ke Jakarta. Pemerintah mengeluarkan instruksi untuk meliburkan sekolah, kantor-kantor bekerja dari rumah dan menutup tempat umum. Itu artinya juga tidak ada perusahaan yang membutuhkan karyawan baru saat ini. Mungkin setidaknya hingga akhir Maret.

Aku pun terperangkap di kamar kosan apartemen sepupuku di Tangerang. Sepupuku itu udah pulang ke kampung dan resign dari pekerjaannya karena terkena bronchitis. Aku dimintai tolong untuk mengirimkan barang-barangnya. Uh, gaya hidup orang-orang yang tinggal di sini mewah. Kutebak gajinya juga pasti di atas 6 juta? Atau bahkan 8 juta ke atas? Sepupuku itu juga pasti bergaji gede. Secara, dia kerja di perusahaan BUMN, gitu loh. Gak heran ketika kubuka kunci kamarnya yang kuminta dari sekuriti, seabrek box sepatu bermerk menyapaku dekat pintu. Kubuka laci lemarinya, berbotol-botol parfum mahal berjejer di sana. Lengkap dengan peralatan skincare lainnya. Pasti kau mengira sepupuku itu cewek? No, dia cowok. Melihat peralatan skincare-nya, aku merasa telah gagal sebagai cewek..

Barang-barangnya buanyaakk banget yang mau kukirimkan lewat truk. Tapi truknya masih di bengkel. Truk itu dari kampung mereka, membawa muatan ke Jakarta dan kembali lagi membawa muatan dari sini. Iyalah barangnya banyak. Emang mau dia apakan gajinya itu kalau gak belanja? Aku tiba-tiba gak setuju. Di sini ada pengangguran yang tengah pontang-panting, dia malah resign. Eh tapi dia gara-gara sakit juga sih.

“Iya, Mak. Aman kok. Kamarnya selalu kukunci,” aku telponan dengan Mamakku.
“Pastikan aja biar barangnya secepatnya diambil truk. Siapa yang tau, Nak apa yang terjadi di situ. Kamu gak kenal siapa-siapa di sana.”

Hm, mamakku benar juga sih. Sebagai pengangguran aku harus berusaha untuk tidak mengeluarkan sepeser pun tiap hari. Tapi itu artinya sama dengan mati. Kalau aku mati kelaparan di kamar ini, gak bakal ada yang tau. Lagian ya, dekat apartemen ini gak ada warteg. Benar-benar gak recomended tinggal di sini kalau anda masih pengangguran. Di sinilah aku terjebak. Di kamar kosan ukuran 4x4. Di luar sana virus sedang berkembang biak. Stay home is the best choice, even your stomach asking for food.

Malamnya mati listrik. Sempat tegang, kayak di film-film pembunuhan biasanya aksi dimulai dengan mematikan listrik. Duh, mana gak ada kenal lagi sama penghuni kamar sebelah. Aku menunggu di dalam kamar dengan setia. Coba positive thinking, mungkin aja lagi ada perbaikan sehingga listriknya dipadamkan bentar. Tapi setelah satu jam, listriknya masih belum nyala. Aku membuka pintu kamar dengan bantal di tangan sebagai senjata. Loh kok di luar terang? Yang mati kamar ini aja. Kucek meterannya. Sisa pulsa : 0.

Huft!

Kekhawatiran yang berlebihan. Kubuka aplikasi DANA buat beli pulsa listrik. Tapi ditolak. Padahal nomor meterannya udah benar. Kucek sebelas kali pun, memang itu nomornya. Ku-WA sepupuku itu, eh ceklis satu. Gak punya pilihan lain, kuketok kamar sebelah.
Terdengar jawaban dalam bahasa asing. Dia lagi nelpon atau gimana? Kuketok lagi. Muncul laki-laki berkumis.

“Maaf ganggu, Pak. Ini biasa ngisi listriknya darimana ya, Pak?”
Don’t speak bahasa,” katanya langsung.
“Hah? No bahasa, oh, oke. I’m sorry. Enjoy your meal.”

Entahlah aku gak yakin dia lagi makan. Pintunya langsung ditutup secepatnya.
Terpaksa turun ke bawah nanyain sekuriti.

“Harus ngisi di tower C, mbaknya. Nanti kasih tau nomor unitnya aja.”
Aku pun berjalan kaki ke tower C. Kampretos sekali, pulsa paling kecil 50.000. Udah pengangguran, gak punya uang. Eh, malah harus ngisi pulsa listrik kosan orang.

*******
Aku sering asal apply kalau liat loker di web site. Udah jelas-jelas persyaratannya bilang membutuhkan cowok, aku tetap klik ‘lamar sekarang’. Udah jelas-jelas diminta berpengalaman kerja minimal 2 tahun, aku tetap apply. Lagian, aku yakin si recruiter gak mungkin memproses calon kandidat yang gak sesuai persyaratan kan. Jadi aku klik apply itu semata-mata karena .. bosan, mungkin?
“Dengan Magdalena?”
“Iya, saya sendiri.”

Aku udah sempat ngira ini telpon pasti dari BPJS, soalnya tagihanku udah nunggak 3 bulan.
“Saya dari PT. Fontex, ibu pernah apply di perusahaan kami dari jobsdb?”
Loading. Kayaknya pernah..
“Darimana tadi, Bu?”
“PT. Fontex.”

Kok kayak merk celana dalam ya..
Katanya beliau mau undang interview, tapi online. Demi kebaikan bersama, mencegah penyebaran virus corona. Wah, perdana nih aku,interview online. Setelah telepon diputus, buru-buru kucek riwayat lamaran kerjaku di jobsdb. Ternyata memang ada, tapi itu salah satu korban ‘asal apply’-ku. Jelas-jelas di sana syarat calon kandidat :
·      English fluency is a must
·      At least 2 -3 years of working experience in the same field
·      Domicile in South Jakarta
Dari persyaratan itu tak satu pun aku memenuhi. Bahasa inggris? Aku hanya bisa bilang, ‘I’m fine thank you. And you?’ Pengalaman kerja? Aku kabur dari pekerjaan sebelumnya setelah bertahan 3 bulan. Domisili? Uhm, saat ini aku menumpang tinggal dengan kawan yang kerja di perusahaan yang sama dulu, di daerah Jakarta Pusat.

Duh, jangan sampai deh interview online-nya dalam bahasa inggris.

Mrs. Chaterine membuatkan grup wa bernama ‘interviewees on 18 March’ untuk menyampaikan teknis interview online kepada semua calon kandidat. Yap, all conversation in English, man. Kuliat foto profil kandidat-kandidat lain, hm. Jelas, STRONG CANDIDATES.  Aku kebagian jadwal interview jam 14.30 pm.

Hari itu terpaksa aku balik dulu ke kosan tempat numpang di Jakarta pusat. Malamnya latihan menjawab pertanyaan interview dalam bahasa inggris. Pertanyaan-pertanyaan seperti :
Ø Why do you want to join our company ? (Cause I need money for survive, Ma’m)
Ø What are your strengths ? (I can swallow panadol without water)
Ø What are your weaknesses ? (My weakness is my too obsess for money)
Ø How do you overcome your weaknesses ? (By looking for a job)
Ø What type of people do you like much ? (I like people who like to buy me food every day)

Jam 2 siang aku sudah standby dengan batik sebagai atasan. Bawahan? Hanya celana pendek. Toh Cuma setengah badan yang bakalan keliatan.
“Hellow, good afternoon Magdalena.”
Ternyata beliau wanita yang tidak bisa disebut muda lagi.
“Good afternoon, Mrs Chaterine.”
“How I call you, Magda or Lena?”
“Lena, please, Mrs.”

Kukira percakapan selanjutnya English juga. Ternyata..
“Bisa diperkenalkan dirinya lebih dulu?”
What? Latihan interview in English gue sia-sia dong. Ah, kalau tau gitu..
Tiba-tiba di layar video itu muncul satu wajah lain, wajah cowok. Masa iya dua kandidat sekaligus interview?
“Lena, kenalin ini Pak Yudi direktur Fontex.”
“Halo Pak Yudi, nice to meet you.”

Makin bikin gugup anak orang nih.

“Pernah kerja di mana, Lena?” tanya Mr. Yudi.
Kujelaskan pernah kerja 3 bulan di marketing perusahaan ini gini gitu.
“Wah, jauh juga ya ke bidang kami dari stainless steel,” kata Pak Yudi blak-blakan.
“Hehehe, iya,Pak.”
“Berarti seandainya kamu diterima ini akan jadi pengalaman kerja kedua kamu?
“Benar sekali, Pak.”

Pertanyaan-pertanyaan lainnya diajukan Mrs Chaterine. Si Pak Yudi ini kenapa gak pergi aja sih kalau gak mau nanya lagi.
“Ada yang mau ditanyakan mungkin, Lena?”
“Ah iya, jadi Bu saya searching di internet tentang perusahaan ini. Saya temukan dua sumber yang menyebutkan tahun berdirinya berbeda. Yang satu tahin 2014, satu lagi 2019. Yang benar yang mana ya, Bu?”
“Dua-duanya benar,” Mrs Chaterine tertawa.

Diman lucunya pertanyaan saya, Bu?
Beliau pun menjelaskan.

“Berarti kantor pusatnya di Jakarta Selatan ya, Bu?”
“Iya, daerah *****.” Daerah Bintaro.”
“Pernah dengar saya, Bu tapi belum pernah ke sana.”
“Seandainya kamu diterima, nanti pindah ke Jakarta Selatan?”
“Iya, Bu. “ Kebetulan saya juga di sini masih numpang, jadi benalu buat teman saya.

Interview berakhir hanya dalam waktu 15 menit. Aku tahu, mereka udah enggak excited lagi ke aku pas udah kuceritakan pengalaman 3 bulan kerja itu. Mau dibawa kemana perusahaan kami sama orang seperti anda?

Untuk mengobati kegundahan hati karena telah berhasil menggagalkan kesempatan kerja, kutelpon Butet. Kini kami sama-sama pengangguran. Dia masih di Kalimantan dan tetap gak mau kuajak ke Jakarta.
Butet : ‘Sekarang aku mau kerja apa aja.’
Aku : Apa aja? Yakin apa aja?’
Butet : ‘Kecuali pel**** ya.’
Aku : ‘Hahaha. Berarti kalau jadi ger**nya mau ya?’
Butet : Maulah. Lumayan, jadi owner-nya langsung. Gak perlu capek pulak.
Aku : ‘Heh, tapi dosanya lebih gede.’
Butet : ‘Ah, itu urusan di akhirat nantilah. Hahahah
Aku : Eh, Tet. Emang karyawan si ger** itu capek kenapa?’
Butet : ‘Gak tau, jangan pura-pura polos, nji**

Begitulah percakapan absurd kami di telepon.
Ah, sejenak aku lupa interview online yang barusan terjadi. Eh, lupa apanya? Ini mah jadi ingat lagi! Ancurrr.. Dasar ogeb!!!



6 Meme Kocak Saat Wawancara Pekerjaan Ini Bikin Geleng Kepala ...

Minggu, 08 Maret 2020

Once Upon A Time with Oliver

Kisah ini bukan fiktif. 
Jika ada kesamaan nama itu hanyalah ketidaksengajaan. 

Setiap insan berhak jatuh cinta dan dicintai. Orang tidak bisa memilih kapan dan pada siapa jatuh hati. Makanya kadang ada yang bertugas sebagai pengejar dan yang dikejar (udah macam polisi sama kriminal aja). Saat dua orang saling menyukai pada waktu yang sama itu adalah sebuah keajaiban (Playfull Kiss, 2010).
Orang kurang beruntung kujatuh cintai itu sebut saja Oliver. Well, ini mungkin sebenarnya masih sebatas rasa kagum. Cowok jangkung, berwajah tampan, suara dan cara jalannya menurut aku sekseh dan kuyakin 99,99% banyak cewek di jurusan kami yang naksir dia. Oliver punya pesona dan wibawa. Suaranya renyah, enak didengar apalagi kalau mendongeng kali ya sebelum tidur. Seperti kebanyakan cowok keren, Oliver juga punya ciri khas yaitu slayer yang selalu dibawa ke kampus. Kadang diikat di lengan, kadang di leher. Kalau di leher, kadang dia terlihat seperti om-om genit.
Aku memang  cukup dekat untuk ngomongin hal-hal gak penting sama Oliver. Kadang ngebahas cara terbentuknya hujan, kadang tentang wujud reinkarnasi di masa yang akan datang.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0286034.wmfSuatu hari terdengar kabar (burung) kalau dia tengah berkencan dengan seorang adik angkatan dari jurusan kami. Aku penasaran dengan reaksinya segera membawa topik kencan itu ke tengah geng yang sedang berkumpul. Saat itu dosen belum masuk.
“Kalian tau, gak? Sekarang si Oliver pelahap daun muda, loh. Adik tingkat, cui,” acara memanasi dimulai. “Baru aja jadiannya, minta traktiran yok.”
Sontak semua mata mengarah ke Oliver. Dengan gelagapan si Oliver ngebantah. Anak-anak udah heboh minta ditraktir. Beberapa cewek kulihat hilang semangat. Lagi asyik-asyiknya cengar-cengir, aku mendapat serangan fisik tak terduga. Terjadilah adegan tangkap-mengelak dengan aku sebagai mangsa. Saat gagal menghindar, Oliver berhasil mengalungkan slayernya ke leherku dari belakang. Gila, aroma ini! Aku malah gak ada niatan untuk berontak. Kumenikmati sepenuhnya penyiksaan ini. Haks haks haks.
“Eh, apaan sih. Gak bisa nafas, tauk,” kataku dengan nada dibuat-buat manja.
“Makanya jangan menyebarkan berita hoax. Liat tuh semua jadi minta traktiran. Masa anak Mapala menyebarkan hoax,” Oliver yang jangkung terpaksa membungkukkan badannya ngomong dari samping wajahku. Gile, suaranya aja bisa bikin kecanduan. Apalagi persis ke telingaku. Andai saja dosen tak datang saat itu aku masih betah berlama-lama dengan pose (romantis) itu.  
“Eh, jangan bawa-bawa UKM aku ya,” bisikku lumayan kencang.
Saat di kampus aku memang bergabung dengan UKM Pecinta Alam, Mapala. Gak heran kepribadianku makin maskulin. Terjang sana, terjang sini. Dari angkatanku, hanya aku yang masuk UKM ini. Ya sebenarnya kawan-kawan seangkatanku gak banyak yang suka gabung UKM di kampus. Mungkin mereka fokus mengejar nilai akademik.
Pertengahan tahun, universitas mengadakan perlombaan beberapa cabang olahraga. Ada lomba panjat dinding, basket, sepak bola, bulu tangkis, voli, sepak takraw, silat, catur, renang. Sebagai mahasiswa yang antusias aku sudah memutuskan untuk mengikuti lomba panjat dinding. Bukan karena sudah jago, tapi sebatas bisa memasang harness di badan berkat bergabung dengan Mapala. Tapi sebuah tawaran muncul..
“Aku gak tau harus cari siapa lagi. Satu-satunya yang bisa kuharapkan itu ya, kau, Lena, ” seorang Oliver menemuiku setelah kuliah usai untuk meminta bantuan.
“Tapi kenapa aku?” tanyaku dengan penuh harap plus was-was.
“Karena kau anak Mapala.”
TETTT! Bunyi bel merah dalam otakku. Hadeuh, cowok keren ternyata bisa sengklek juga ya otaknya.
“Anak Mapala itu naik gunung, Mas Oliver. Bukan main basket!”
“Justru itu, karena sering naik gunung staminanya lebih oke,” tantangnya lagi.
“Tapi aku belum pernah naik gunung.” Itu memang kenyataan. “Di provinsi ini bahkan hanya ada bukit.” Oliver kehabisan alasan.
“Dan juga, aku pendek loh – tinggiku hanya 153 cm sekedar mengingatkan,” lanjutku lagi.
“Justru itu, lebih lincah untuk mengecoh lawan.”
Aku senyum setan. Kalau dia keukeuh gini, aku akan mengajukan syarat. Hei, biar adil dong. Masa iya aku mau dipermalukan di depan panitia dan penonton saat pertandingan nanti?
“Ada syaratnya.”
“Apa?”
 “Aku nebeng ke gereja samamu tiap hari Minggu sampai lulus wisuda.”
“Itu aja syaratnya? Kirain tadi bikin 1001 candi dalam semalam. Hahahah. Oke, deal,” Oliver menaikturunkan alisnya. Ternyata cowok keren bisa berlaku macam om genit juga.
Hooray!! Empat kali dalam sebulan, empat puluh delapan kali dalam setahun aku bakalan duduk dibonceng Oliver dengan motornya. Lalu di gereja kami akan duduk berdampingan, persis pasangan kekasih. Terus waktu berdiri,aku akan tenggelam dengan jangkungnya dia dan cewek-cewek lain bakalan –
“Oi, Lena. Latihan entar sore jam 4 ya,” lamunanku pun terbuyarkan karena teriakannya. Dia sudah menghilang di balik dinding.
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0286034.wmf
Ternyata permainan basket itu tidak susah. Ya, tapi bukan berarti gampang juga. Namun sebagai newbie yang pertama kali memegang bola basket seumur hidup, kurasa aku cukup pintar dalam men-shoot bola ke ring. Oliver memintaku untuk men-shoot lagi dari segala arah dengan jarak dekat dan semuanya masuk !
“Wah, jangan-jangan kau salah masuk UKM nih,” kelakarnya. Aku sok tidak tersanjung. Tetap fokus melempar bola. Oliver mengajarkan teknik lainnya dalam basket. Cara mendribel, mengoper, offense, defense, lay-up, bagaimana menghindari lawan yang ingin merebut bola. Sore itu aku, tepatnya kami, mengeluarkan banyak keringat. Oliver memberiku semangat dengan mengatakan dia yakin pada kemampuanku.
Mengikuti turnamen basket campuran 3 on 3 bermodalkan hanya tiga kali latihan seumur hidup dalam dunia perbasketan dan berhadapan langsung dengan para pro (cewek tim lawan sangar abis), mungkin cara mempermalukan diri terbaru di abad ini. Nama tim kami simpel, Batubara Team. Di sinilah aku dengan kostum putih bernomor punggung 4, gemetaran karena banyak banget yang nonton. Saking gemetarnya, kurasa aku bisa ambruk setiap saat di lapangan ini.
Ingat, Lena. Dia Oliver. Cowok paling jangkung di fakultas ini. Memasukkan bola ke ring bukan masalah besar baginya. Serahkan semua padanya, kau hanya perlu mondar-mandir, kata suara dalam kepalaku.
Pertandingan dimulai. Seperti yang sudah diharapkan dari newbie, aku gelapan gak tau harus kemana. Persis rusa masuk kampung.
“Ikuti terus yang ceweknya,” bisik Oliver saat kami berpapasan.
Suatu kali dia juga berteriak, “Offense, offense..”
Aku cengo karena lupa offense itu apa. Saat latihan semuanya terasa tenang dan mudah. Saat pertandingan, offense pun aku lupa artinya apa.. Terlalu sibuk mondar-mandir gak jelas, aku tersenggol tubuh besar tim lawan. Ambruk ke lantai dengan posisi pantat mendarat duluan. Wasit meniup peluit.
“Gak apa-apa?” Oliver mengulurkan tangan.
“Ver, aku keluar aja ya, aku enggak ngerti. Udah lupa semua yang latihan kemarin,” bisikku memelas.
“Sst, gak bisa. Nanti tim kita didiskualifikasi.”
“Kuali apa?”
Oliver gak menjawab lagi pertanyaanku karena permainan kembali dilanjutkan.
Tim kami mencetak skor berturut-turut 5 kali, barulah tim lawan menyusul. Hatiku tenang, meskipun beberapa kali kembali terjatuh mengenaskan di tengah pertandingan. Aku bahkan belum pernah tersentuh/menyentuh bola.
Saat istirahat, Oliver membagi strategi. Meskipun aku cuma mengangguk-angguk supaya dikira paham, padahal enggak sama sekali. Di babak pertama tadi, tim kami unggul 3 skor. Satu lagi three-point dari lawan sebelum peluit dibunyikan, maka hasil babak pertama akan berbeda.
Aku mengamati cewek tim lain yang sempat gak kukenali tadi diantara timnya karena rambutnya cepak abis. Dia benar-benar gesit dan beberapa kali mencetak poin.
Babak kedua dimulai. Lututku rasanya nyeri. Kukuatkan hati dan mental demi boncengan di motor Oliver setiap hari minggu. Mentalku agak down, samar-samar kudengar penonton melemparkan kata-kata tidak mengenakkan. Yakinlah, itu pasti ditujukan untukku. 
Siapa sih cewek itu. Dia ngerti basket gak sih? Pendek juga. Coba bobo siang aja di rumah, gak usah ikut pertandingan beginian, biar cepat tinggi.  Mungkin begitu maksudnya.
Sekonyong-konyong tanpa kuduga, aku mendapat operan bola dari Oliver. Posisiku memang dekat dengan ring. Aku dikuasai rasa panik. Memegang bola rasa memegang bayi baru lahir. Takut jatoh.
“LANGSUNG SHOOT AJA!” teriak Oliver dari sisi kiri lapangan.
Dengan segala tekanan batin yang kurasakan, kulempar bola itu ke ring, dan…
MASUK !
Terdengar sorakan gembira penonton. Boleh juga tuh cewek, selain tidur siang kayaknya mulai sekarang dia harus rajin minum hilo, deh. Mungkin begitu maksudnya.
Peluit tanda babak kedua berakhir dibunyikan. Tim lawan menang 5 point. Kuamati Oliver yang sedang mengelap keringatnya. Dia kecewa gak ya kalau kami kalah? Saat tatapan kami bertemu, dia tersenyum.
“Wah, aku gak nyangka kau bisa cetak poin,” kata Oliver. “Kalau mau latihan tiap hari kau bisa jadi pemain professional,” lanjutnya. “Oh iya, kita gak mesti menang ya. Tapi berjuang sampai akhir. Sam, jangan kasih kendor,” kedua cowok itu tos.
Gak nyangka katanya. Aku juga gak nyangka, gak nyangka bakalan merasa semalu ini dihadapan umum.
Babak final sangat menegangkan karena skor tiap tim kejar-mengejar. Oliver memang beberapa kali berhasil three-point, namun tim lawan juga demikian.  Saat waktu habis, juri memberikan perpanjangan waktu 5 menit. Tim lawan melakukan pelanggaran, sehingga Oliver mendapat kesempatan untuk melakukan tendangan bebas, eh shoot bebas ke ring lawan. Penonton tegang, kedua tim tegang, Oliver juga pasti tegang karena nasib tim kami dipertaruhkan pada lemparannya. Lalu kulihat dia dengan santai mengambil posisi di batas garis yang ditentukan. Aku komat-kamit berdoa.
Tuhan, kalau bolanya masuk berarti kami jodoh,
Eh bukan. Tuhan, semoga bolanya masuk. Amin.
Peluit dibunyikan. Oliver mengangkat bola dan tap! Dengan mulus melewati ring. Saat itu juga waktu tambahan 5 menit habis. Kami menang dengan skor akhir 33-30!
Description: C:\Program Files\Microsoft Office\MEDIA\CAGCAT10\j0286034.wmf
Sesuai perjanjian, aku nebeng dengan Oliver tiap hari Minggu ke gereja. Dapat kurasakan tatapan iri cewek-cewek saat kami berjalan berdampingan dan duduk bersebelahan di dalam gereja. Ingin kuberkata, pengen kayak aku? Makanya ikut pertandingan basket! Tapi sepertinya itu gak mungkin, takut dituduh sombong dan dijebloskan ke ruang pengakuan dosa.
Berhubung ke gerejanya bareng Oliver, aku pun berusaha tampil feminin. Biasanya gak pakai dress, sekarang bela-belain. Biasanya pakai sendal, sekarang pakai wedges. Ya biar enggak keliatan pendek-pendek amat. Karena memakai dress cara duduk pun kaki harus rapat. Untuk orang yang duduknya biasanya mengangkang hal ini sangat mengekang. Betapa ajaib, rasa suka bisa membuat orang jadi mau melakukan apa yang tidak disukainya sebelumnya.
Semenjak pertandingan basket, ada yang berubah dari sosok Oliver. Di kampus dia lebih penyendiri dan gak banyak bicara. Kalau hari Minggu dia juga gak berkata sepatah kata pun setelah mengantarku pulang. Tapi statusnya di BBM kayak lagi kasmaran. Tak ingin salah tingkah, aku pun menanyakan apa yang terjadi. Saat itu kami baru keluar dari gereja.
“Kau lagi ada masalah, ya?”
Yang ditanya malah nyengir.
“Kayaknya gak ada sih,” kataku setelah melihatnya masih bisa nyengir.
“Ada, masalah hati. Aku lagi suka sama cewek. Tapi bingung mau nembak atau enggak.”
Oke. Jangan GR, wahai diriku. Aku dibandingkan laki-laki ini hanyalah kepingan keripik. Apa yang bisa dilihat dari tubuh kecil nan dekil ini?
“Emang kenapa bingung? Kan tinggal nembak aja.”
“Aku ragu dia juga punya rasa yang sama denganku. Orangnya rada tomboi, tapi sekarang agak mendingan. Hiperaktif-
Aku senyum nahjong.
“-dan dia adik tingkat.”
SLEG!
Wedgesku lepas. Bersamaan dengan kalimat terakhir Oliver. Hak-nya terpisah dari bagian atasnya. Tak berdaya, persis ikan asin lepas dari kepalanya. Saat itu motor Oliver berjarak beberapa langkah lagi dari TKP. Oliver yang menjadi saksi mata insiden itu tiba-tiba ngakak so hard. Aish, sangat memalukan!
“Untung udah di area parkiran. Hahahah..”
Dia tertawa puas sementara aku terpaksa berjalan timpang karena hanya sebelah kaki yang memakai wedges.
Seandainya kau tau, wedges ini mewakili perasaanku, Mas..



PS : Selamat Hari Perempuan Sedunia. Tetap berkarya dan for me jangan mudah baper..


Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...