Manusia memang susah untuk bersyukur ya.
Sekitar 4 bulan yang lalu, gue memohn-mohon dengan sangat sama Tuhan supaya diberikan pekerjaan yang gak berhubungan sama target (baca : sales). Gue bahkan janji gak akan ngeluh lagi dalam menjalani hidup. Tiap hari gue berdoa supaya doa gue dikabulkan.
Hingga akhirnya dapat kerjaan jadi call center ini.
Iya sih, gak ada target penjualan.
Tapi tetap ada target kualitas dan mutu. Perusahaan tentunya gak mau punya karyawan yang gak becus melayani komplen nasabah.
Kalau waktu jadi sales gue ditekan sama target dan atasan (team leader), bekerja sebagai call center gue dapat tekanan dari nasabah-nasabah kampret yang sering gak tau diri dan gak tau sopan. Sebut gue lebay, tapi ini murni berdasarkan yang gue alami setelah ...hm, belum genap dua bulan jadi agent call center di salah satu bank swasta terbesar di Indonesia ini.
Gue tau nasabah adalah pelanggan. Raja. Harus dilayani dengan setulus hati. Tapi, raja mana yang gak punya etika? Setau gue di buku pelajaran sejarah gak pernah tuh disebut-sebut kalau Sultan Hassanudin memaki-maki bawahannya. Atau Ken Arok mengancam akan melaporkan dayang-dayangnya yang kurang becus ke polisi.
Kebetulan gue jadi call center kartu kredit. And it's true, guys. Yang punya utang lebih galak dari yang diutangin. Kalau elu berjiwa serapuh keripik, waktu ngadepin nasabah kartu kredit yang selalu sok benar padahal salah bakalan meraung-raung.
Jiwa gue tersiksa sih. Tapi mau gimana. Hidup butuh duit. Di sini jadwalnya lebih ketat dari tempat kerja lama. Gue juga orangnya kan slengean. Pas nerima keluhan dari nasabah, kita diwajibkan kasih empati. Beuh, susah bro buat orang kayak gue ini buat berempati. Wkwkwkwk.
Gue pernah dapat kasus si CH (card holder) ini nanya soal promo dari kartu kredit jenis X. Yaudah, gue kan bukan sales, product knowledge sebatas nyari data di sistem. Lama tuh baru ketemu, sampai si CH (emak2) nanyain, 'Mbak, kok lama banget?' Akhirnya gue bacain. Tapi ujung2nya dia minta kartu kreditnya ditutup aja biar gak ditagih iuran tahunan. Itu pun setelah berdebat sama gue.
CH : Tapi kan kartunya belum saya aktifkan. Masa iuran tahunannya ditagih?!
Gue : Mohon maaf Bu, kartu kredit digunakan atau tidak, diaktifkan atau tidak kalau sudah tiba masa tertagih iurannya akan tetap tertagih.
CH : Kamu jangan asal sembarangan ngomong ya. Suami saya juga punya kartu kredit jenis Y. Selama 4 tahun gak diaktifkan gak pernah tuh tertagih iuran tahunan sekalipun. Saya cek ke cabang nanti ya, kamu jangan asal ngomong.
Gue : (tarik nafas) Silahkan Bu dikonfirmasi saja. Cabang terdekat mana saja boleh. Karena untuk saat ini prosedurnya memang seperti itu.
CH : MANA SUPERVISOR KAMU? MANAA? KAMU TANYA DULU SANA. JANGAN ASAL BUNYI DONG!!!
Gue : Baik, saya berikan nada tunggu sebentar ya Bu.
ARRRRRRGGGGGGGGGHHHHH...!!!!!
Setelah telpon gue hold, gue teriakkkk sekencang mungkin.. dalam hati.
Pernah juga gue dapat CH bapak-bapak.
Awalnya dia ngomongnya baek-baek. Tapi pas gue kasih tau progres laporan yang dia minta, dia langsung darah tinggi. Hampir aja gue tawarin sangobion. Gak enaknya jadi agent call center, kalau agent sebelumnya yang layanin dia gak beres bikin laporan untuk kasusnya si CH, yang kena adalah agent berikutnya. Dalam hal ini gue. Gue-lah yang kena maki.
Sangobion CH : KALIAN ITU KERJA GAK BECUS. MASA JADI DUA KALI KERJA BEGINI. KENAPA WAKTU SAYA TELPON PERTAMA KALI, GAK SEKALIAN DIBUATKAN LAPORAN UNTUK INVESTIGASI TRANSAKSI DI KARTU KREDIT YANG BUKAN TRANSAKSI SAYA???!! KENAPA CUMA BLOKIR KARTU SAJA??
Gue : (berharap se-Indonesia mati listrik dadakan) Baik Pak, mohon maaf atas kendalanya. Saya bantu buatkan sekarang ya, Pak.
CH : ITU TIDAK MENJAWAB PERTANYAAN SAYA! KAMU PAHAM GAK SIH. YANG SAYA TANYAKAN, KENAPA WAKTU ITU TIDAK DIBUATKAN SEKALIAN LAPORANNYA? KENAPA?? AYO JAWAB? KAMU BUKAN ROBOT KAN? BISA JAWAB KAN? PAHAM PERTANYAAN?
Gue : (berdoa dalam hati, Tuhan jika mukjizat itu memang ada, biarlah listrik padam seluruh dunia saat ini). Baik Pak, untuk kendala bapak, akan saya ajukan ke tim internal kami supaya ke depannya kami bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi.
Gak sampai disitu, si sangobion masih koar-koar. Yang gak paham sekarang siapa, coba. Udah dibilang juga dibantu buatkan laporan yang dia minta right now. Lagian menyesali masa lalu juga gak bakal bisa merubah masa sekarang. Tuh kan, jadi baper gua. Anju lah. Akhirnya gue tekan tombol hold, dan gue berbisik dengan jelas : ANJING!
Padahal, memaki = SP3.
Gue cuma bisa berdoa, semoga QA gak dengar makian gue itu.
