Oke, 25 hari penuh sudah kerjaanku bersarang di kosan. Come on, aku juga bosan kale. Nyoba cari kerjaan sambil nunggu keajaiban ada panggilan dari perusahaan buat penelitian TA. Ketemu satu kerjaan.. di laundry. Itu pun aku sebenarnya diajak sama temannya temannya teman. Yah itulah, saking luasnya jangkauan pertemanan cewek macam aku.
Kami ke sana jam 9 pagi. Yang bikin aku shock adalah pemiliknya seorang Chinese. Ayolah, masa iya bosku Chinese lagi? Belum cukup yang di rumah makan kemarin? Selain Chinese dia adalah seorang lelaki belum menikah (kata Naomi, cewek yang bawa aku ke sana). Pas kami datang, dia lagi telponan. Setelah menundukkan badan sebentar, aku dan Naomi masuk ke dalam. Dihadapkan dengan berplastik-plastik pakaian orang dan berkeranjang-keranjang pakaian yang mau disetrika. Membayangkannya sudah bikin pegal duluan.
Si bos langsung masuk setelah selesai telponan. Kalau kata si Naomi sih itu ceweknya yang ditelpon. Peduli amat emang. Yang penting sekarang aku bisa memanfaatkan waktu dengan bekerja mengumpulkan rupiah.
"Ah, kamu bisa ke sini sebentar," katanya sambil menggeser sebuah kursi ke dekatnya. Aku menghentikan aktivitas menyetrikaku.
"Namanya siapa?"
"Magdalena. Panggil Lena aja, Pak."
"Jangan panggil bapak, saya belum nikah loh. Kelahiran tahun berapa?"
Busyet! Mesti kali ya, ngasih tahu itu ke dia. Meski Chinese, namanya malah jawa banget, Indra. Eh, itu nama orang jawa bukan sih?
Si Indra minta KTP-ku dan mengetikkan sesuatu di laptopnya. Gile, aku lagi diregistrasi gitu ya, sebagai pekerja baru?
"Punya android?" tanyanya lagi. Aku mengeluarkan Xiaomi redmi note 5 ku.
Dia sibuk komen HP itu. Pas dia nanya harganya saat kubeli, aku berbohong bilang kalau sudah lupa. Kesannya agak gimana gitu, kalau aku bilang 2 juta 400. Nanti dikira kaya aku, padahal kan sebenarnya itu sebagian uang hasil pinjaman dari adek.
Di Xiaomi itu, si Indra instal sebuah aplikasi namanya Menej.in. Aplikasi buat bisnis laundry. Dia jelasin ke aku cara pakainya dengan semangat menggebu-gebu. Gila, gak ngerti aku pak. Pelan dikit atuh!
Singkatnya aku mulai bekerja hari itu. Bagianku tentu saja menyetrika. Si Naomi kebagian tugas ngantar dan jemput barang orang. Aku gak percaya, usaha laundry kayak gini gak punya kendaraan khusus atau motor buat itu. Masa si bos Indra suruh si Naomi ke sana-kemari pakai motornya sendiri dan itupun bensinnya gak diisi. Garisbawahi GAK DIISI. Aroma seorang Chinese tulen mulai kecium di sini.
"Naomi kamu kesini ya, alamatnya di blablabla, terus nanti sekalian ambil punyanya si blablabla."
"Itu dimana, Kak?" tanya si Naomi.
"Masa kamu gak tau? Itu HP mu dijalankan pakai google map. Inisiatif, dong."
WHAT??????????????????
Helo, mas Indra . Yang punya usaha kan, situ. Kenapa jadi anak orang yang kurus di sini mikir? Geram aku tuh, serius. Ingin kuberkata-kata, tapi apalah daya yang baru masuk.
Si Naomi?
Nurut aja dia nya, pergi. Udah si Indra gak punya motor. Bensin si Naomi gak diisi lagi. Kurang jahat apalagi bos kayak gitu.
Jam 12 siang kami makan. Hei, kami beli nasi sendiri. Iyakali dibeliin, pake duit sendiri! Aku, Naomi dan seorang cewek yang udah punya anak (kata Naomi masih 18 tahun) makan di belakang. Anaknya lagi tidur di ayunan. Demi apapun, aku kelaparan sampai ke tulang sumsum. Keringatan juga karena gak ada kipas angin apalagi AC di toko pengusaha Chinese kam**et ini. Selesai makan, tanpa istirahat, kami lanjut ke bagian masing-masing. Si cewek yang punya anak bagiannya di mesin cuci.
Jam berlalu. Orang-orang ada yang antar baju, ada yang ngambil. Si Indra memang ramah sih, nanyain konsumennya. Dia kadang tawar-menawar dengan pelanggan soal waktu selesainya pakaian tersebut.
"Selasa, Pak ya. Soalnya mesin kita lagi susah."
Aku udah dari belakang, kok. Gak ada mesin yang susah. Tapi emang lagi banyak barang aja. Numpuk.
Si Indra emang jengkelin ternyata. Masa iya Naomi dipaksa jemput pakaian ke jalan besar, sementara si Naomi udah bilang motornya dia gak punya STNK sama BPKB.
"Dari jalan kecil aja," si Indra gak mau kalah.
"Gak tau, Kak."
"Aduh, kamu ini. Yaudah, kamu ikut aku biar seterusnya kamu tau."
Mereka pergi berdua.
Kadang kalau Naomi gak ngantar/jemput barang, kami menyetrika bersama. Kadang listriknya juga gak sanggup. Waduh, emang Chinese ya. Berapa volt sih ini tegangannya. Udah tau buka usaha laundry. Nyuci pake mesin listrik, nyetrika juga, masa pakai yang rendah? Pelit apa hemat...
Dan semua tiba pada suatu masa yang belum kita ketahui..
Ada 3 orang lelaki paruh baya yang datang menyapa toko. Kirain mau ngantar pakaian kotor, eh malah nanya motor Naomi.
"Mbak, ini motornya sampean?"
Terjadilah wawancara intens antara Naomi dan ketiga lelaki paruh baya tersebut. Si Indra di depan juga ikutan nimbrung. Aku masih fokus dengan setrikaan yang gak berkurang dari tadi. Makin menggunung aja. Mana panas lagi, gak ada kipas. Kayaknya besok perlu deh aku bawa kipasku dari kos. Kita lihat gimana reaksi si bos Chinese ini.
Samar-samar kudengar percakapan mereka lari ke "motornya harus kami bawa sekarang.."
Aku pun mematikan setrika dan ikut gabung ke depan. Si Naomi udah gelisah gak tenang.
"Ada apa, Pak? Ini kenapa motor adek saya mau dibawa? Anda dari PT mana tadi? Bisa lihat KTP atau kartu anggotanya?" otak jeniusku langsung mengeluarkan gertakan sedemikian rupa. Yang ternyata mempan karena salah satu dari mereka mulai gugup. Satunya lagi ngeluarin SIM dari dompetnya.
"Lha, ini kan SIM? Saya tadi tanya kartu anggota sampean," kataku.
"Gak ada kalau kartu anggota. Kalau mbak-nya mau lihat kantornya atau ikut dengan kami sekarang bisa," celutuk salah satu dari mereka.
Ah, dasar kunyuk.
Gimana ceritanya si Naomi dibawa sendirian sama mereka? Kita gak tau mereka dari mana. Jangan-jangan sindikat penjual organ tubuh manusia lagi.
"Yasudah, kami berdua ikut ke kantor anda."
Si Indra diam. Aku gak peduli, aku gak perlu pamit sama bos yang asem kayak gini. Aku masuk ke dalam, mengambil tas dan helmku.
Di tengah jalan, bapak yang bonceng aku berhenti buat isi bensin. Setelah selesai, aku bilang supaya kami menunggu mereka yang di belakang.
"Udah duluan tadi, Mbak."
Masa sih? Kok aku gak lihat? Jangan-jangan itu taktik mereka aja sengaja pisahain aku dari Naomi, terus di tengah jalan...
Mau gak mau kami lanjut menuju kantor yang dimaksud. Di tengah jalan aku mulai panik men-chat kawan-kawanku. Isinya : 'tolongin aku, aku lagi kesusahan, dibawa orang gak kukenal ke jalan X.'
Yang pertama balas : 'trus gimana? gak ada motor disini. agak sembunyi aja dulu kau. sejaman lagi kujemput. biar gelap.'
Apa katanya? Sejaman? Mungkin aku udah ..
Balasan yang lain : 'dimana, di jln apa? Tunggu aja dulu disitu. Tunggu aku datang.'
Gini nih baru gentleman. Dengan balasan kayak gitu aku agak lega. Segera kukirimkan alamat yang disebutkan si bapak tadi.
Kami tiba di depan sebuah gedung bertingkat dua. Di sana tertulis : PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE TBK . Naomi juga udah tiba duluan.
"Kita ngobrol di atas aja, Mbak ya?" kata si bapak yang bonceng aku.
"Oh iya, silahkan."
"Kukira tadi kita sengaja di pisah pas di jalan. Kayak kriminal di film-film gitu," kataku.
"Kak, gimana dong itu motor kubeli dari hasil aku nabung. Harganya emang 1,5 juta kemarin."
Kami di bawa ke lantai atas.
Mana ada motor yang benar dengan harga segitu, Naomi.
Setelah duduk, percakapan pun dimulai.
"Jadi, bisa minta tolong bapak jelaskan kembali duduk perkaranya?" tanyaku. Disana memang banyak orang. Kayak kantor biasa.
Ternyata begini.
Ada cewek namanya Sri dari Sragen sana, yang mengkredit motor (yang dipakai si Naomi sekarang). Pembayarannya belum kelar, tetapi si Sri ini kayaknya lari ke Kalimantan. Di sini, motor itu dijual oleh temannya si Sri, Ogi ke Naomi. Naomi beli motor tersebut tanpa ada STNK, BPKB, Buku Hitam dll. Pajaknya juga mati. Alasan si Ogi ke Naomi adalah karena si Sri ini mau kembali ke Jawa. Jadi jual motor buat beli tiket.
Kredit yang dimulai tahun 2011 itu. Si bapak nunjukin di komputernya data bukti pembayaran dan sisa pembayaran yang harus dilakukan oleh si Sri ini. Termasuk dendanya, ada 71 juta. Gile..
"Kalau begitu, saya rasa harus ada campur tangan pihak yang berwajib dong, Pak. Ini kan, adik saya tertipu berarti," balasku.
"Mbak, jika dilapor ke polisi karena anda merasa ditipu, anda juga akan ditahan sama mereka. Karena anda membeli motor ini dari penadah dan itu artinya anda mendukung kegiatan tersebut. Mau ikut diprose juga sama polisi?"
Aku gak tau bakalan serumit itu. Kata Naomi, dia bakalan datang ke kos si Ogi dan bicara baik-baik. Setelah kemudian dia kembali ragu, karena gak ada bukti pembelian atau apapun saat transaksi itu tempo hari. Bisa saja si Ogi mengelak, dia gak pernah jual motor apapun ke Naomi.
"Relakan aja, Dek," kataku akhirnya. "Anggap aja uang 1,5 juta itu kau pakai buat rental motor selama ini, 4 bulan kan?"
"Tapi, Kak.."
"Lagian, Mbak secara logisnya aja mana ada 'motor baik-baik' harganya hanya 1,5 juta? Seharusnya sampean langsung curiga," kata si bapak.
Ada benarnya juga.
Yang tadi kuchat dan suruh nunggu akhirnya datang. Dia sama temannya yang kuliah di Ilmu Hukum. Sempat berdebat soal hukum dengan salah satu dari 3 bapak tadi, akhirnya mereka malah ngobrol santai. Ternyata si bapak (atau mas? itu alumni fakultas hukum dari kampus yang sama. Ah, kok malah reunian?
Mirisnya, Naomi pulang dengan diantar sama si bapak tadi yang membawanya ke sana. Aku diantar lebih dulu, dengan seorang terpaksa tinggal dulu di sana.
Tiba di kos ku, si bos Chinese malah nelpon dan suruh supaya kami gak panik. Dia juga minta kami datang ke toko saat itu juga.
"Kak, ini aja kami lagi nunggu angkot buat pulang. Mereka gak mau antar kami," kata Naomi bohong. Telponnya pun dimatiin.
"Gara-gara dia nih, yang bawa motorku ke jalan besar tadi. Jadinya ketahuan kan sama si PT Adita sia**n," Naomi merengut.
Aku?
Aku gak kerja lagi di sana. Motor Naomi aja udah diambil. Ini pertama kalinya aku kerja cuma bertahan sehari. Ya lagi pula, rasanya nyetrika bukan bagianku. Mending ke sawah deh, kalau aku. Daripada disuguhin segudang kain buat di setrika...
