Minggu, 25 Maret 2018

Ada Apa dengan Laundry

Oke, 25 hari penuh sudah kerjaanku bersarang di kosan. Come on, aku juga bosan kale. Nyoba cari kerjaan sambil nunggu keajaiban ada panggilan dari perusahaan buat penelitian TA. Ketemu satu kerjaan.. di laundry. Itu pun aku sebenarnya diajak sama temannya temannya teman. Yah itulah, saking luasnya jangkauan pertemanan cewek macam aku. 
Kami ke sana jam 9 pagi. Yang bikin aku shock adalah pemiliknya seorang Chinese. Ayolah, masa iya bosku Chinese lagi? Belum cukup yang di rumah makan kemarin? Selain Chinese dia adalah seorang lelaki belum menikah (kata Naomi, cewek yang bawa aku ke sana). Pas kami datang, dia lagi telponan. Setelah menundukkan badan sebentar, aku dan Naomi masuk ke dalam. Dihadapkan dengan berplastik-plastik pakaian orang dan berkeranjang-keranjang pakaian yang mau disetrika. Membayangkannya sudah bikin pegal duluan.
Si bos langsung masuk setelah selesai telponan. Kalau kata si Naomi sih itu ceweknya yang ditelpon. Peduli amat emang. Yang penting sekarang aku bisa memanfaatkan waktu dengan bekerja mengumpulkan rupiah. 
"Ah, kamu bisa ke sini sebentar," katanya sambil menggeser sebuah kursi ke dekatnya. Aku menghentikan aktivitas menyetrikaku. 
"Namanya siapa?"
"Magdalena. Panggil Lena aja, Pak."
"Jangan panggil bapak, saya belum nikah loh. Kelahiran tahun berapa?"
Busyet! Mesti kali ya, ngasih tahu itu ke dia. Meski Chinese, namanya malah jawa banget, Indra. Eh, itu nama orang jawa bukan sih?
Si Indra minta KTP-ku dan mengetikkan sesuatu di laptopnya. Gile, aku lagi diregistrasi gitu ya, sebagai pekerja baru?
"Punya android?" tanyanya lagi. Aku mengeluarkan Xiaomi redmi note 5 ku.
Dia sibuk komen HP itu. Pas dia nanya harganya saat kubeli, aku berbohong bilang kalau sudah lupa. Kesannya agak gimana gitu, kalau aku bilang 2 juta 400. Nanti dikira kaya aku, padahal kan sebenarnya itu sebagian uang hasil pinjaman dari adek.
Di Xiaomi itu, si Indra instal sebuah aplikasi namanya Menej.in. Aplikasi buat bisnis laundry. Dia jelasin ke aku cara pakainya dengan semangat menggebu-gebu. Gila, gak ngerti aku pak. Pelan dikit atuh!
Singkatnya aku mulai bekerja hari itu. Bagianku tentu saja menyetrika. Si Naomi kebagian tugas ngantar dan jemput barang orang. Aku gak percaya, usaha laundry kayak gini gak punya kendaraan khusus atau motor buat itu. Masa si bos Indra suruh si Naomi ke sana-kemari pakai motornya sendiri dan itupun bensinnya gak diisi. Garisbawahi GAK DIISI. Aroma seorang Chinese tulen mulai kecium di sini. 
"Naomi kamu kesini ya, alamatnya di blablabla, terus nanti sekalian ambil punyanya si blablabla."
"Itu dimana, Kak?" tanya si Naomi.
"Masa kamu gak tau? Itu HP mu dijalankan pakai google map. Inisiatif, dong."
WHAT??????????????????
Helo, mas Indra . Yang punya usaha kan, situ. Kenapa jadi anak orang yang kurus di sini mikir? Geram aku tuh, serius. Ingin kuberkata-kata, tapi apalah daya yang baru masuk. 
Si Naomi? 
Nurut aja dia nya, pergi. Udah si Indra gak punya motor. Bensin si Naomi gak diisi lagi. Kurang jahat apalagi bos kayak gitu.
Jam 12 siang kami makan. Hei, kami beli nasi sendiri. Iyakali dibeliin, pake duit sendiri! Aku, Naomi dan seorang cewek yang udah punya anak (kata Naomi masih 18 tahun) makan di belakang. Anaknya lagi tidur di ayunan. Demi apapun, aku kelaparan sampai ke tulang sumsum. Keringatan juga karena gak ada kipas angin apalagi AC di toko pengusaha Chinese kam**et ini. Selesai makan, tanpa istirahat, kami lanjut ke bagian masing-masing. Si cewek yang punya anak bagiannya di mesin cuci. 
Jam berlalu. Orang-orang ada yang antar baju, ada yang ngambil. Si Indra memang ramah sih, nanyain konsumennya. Dia kadang tawar-menawar dengan pelanggan soal waktu selesainya pakaian tersebut.
"Selasa, Pak ya. Soalnya mesin kita lagi susah."
Aku udah dari belakang, kok. Gak ada mesin yang susah. Tapi emang lagi banyak barang aja. Numpuk. 
Si Indra emang jengkelin ternyata. Masa iya Naomi dipaksa jemput pakaian ke jalan besar, sementara si Naomi udah bilang motornya dia gak punya STNK sama BPKB. 
"Dari jalan kecil aja," si Indra gak mau kalah.
"Gak tau, Kak."
"Aduh, kamu ini. Yaudah, kamu ikut aku biar seterusnya kamu tau."
Mereka pergi berdua.
Kadang kalau Naomi gak ngantar/jemput barang, kami menyetrika bersama. Kadang listriknya juga gak sanggup. Waduh, emang Chinese ya. Berapa volt sih ini tegangannya. Udah tau buka usaha laundry. Nyuci pake mesin listrik, nyetrika juga, masa pakai yang rendah? Pelit apa hemat...
Dan semua tiba pada suatu masa yang belum kita ketahui..
Ada 3 orang lelaki paruh baya yang datang menyapa toko. Kirain mau ngantar pakaian kotor, eh malah nanya motor Naomi.
"Mbak, ini motornya sampean?"
Terjadilah wawancara intens antara Naomi dan ketiga lelaki paruh baya tersebut. Si Indra di depan juga ikutan nimbrung. Aku masih fokus dengan setrikaan yang gak berkurang dari tadi. Makin menggunung aja. Mana panas lagi, gak ada kipas. Kayaknya besok perlu deh aku bawa kipasku dari kos. Kita lihat gimana reaksi si bos Chinese ini. 
Samar-samar kudengar percakapan mereka lari ke "motornya harus kami bawa sekarang.."
Aku pun mematikan setrika dan ikut gabung ke depan. Si Naomi udah gelisah gak tenang.
"Ada apa, Pak? Ini kenapa motor adek saya mau dibawa? Anda dari PT mana tadi? Bisa lihat KTP atau kartu anggotanya?" otak jeniusku langsung mengeluarkan gertakan sedemikian rupa. Yang ternyata mempan karena salah satu dari mereka mulai gugup. Satunya lagi ngeluarin SIM dari dompetnya.
"Lha, ini kan SIM? Saya tadi tanya kartu anggota sampean," kataku.
"Gak ada kalau kartu anggota. Kalau mbak-nya mau lihat kantornya atau ikut dengan kami sekarang bisa," celutuk salah satu dari mereka.
Ah, dasar kunyuk. 
Gimana ceritanya si Naomi dibawa sendirian sama mereka? Kita gak tau mereka dari mana. Jangan-jangan sindikat penjual organ tubuh manusia lagi.
"Yasudah, kami berdua ikut ke kantor anda."
Si Indra diam. Aku gak peduli, aku gak perlu pamit sama bos yang asem kayak gini. Aku masuk ke dalam, mengambil tas dan helmku. 
Di tengah jalan, bapak yang bonceng aku berhenti buat isi bensin. Setelah selesai, aku bilang supaya kami menunggu mereka yang di belakang.
"Udah duluan tadi, Mbak."
Masa sih? Kok aku gak lihat? Jangan-jangan itu taktik mereka aja sengaja pisahain aku dari Naomi, terus di tengah jalan...
Mau gak mau kami lanjut menuju kantor yang dimaksud. Di tengah jalan aku mulai panik men-chat kawan-kawanku. Isinya : 'tolongin aku, aku lagi kesusahan, dibawa orang gak kukenal ke jalan X.'
Yang pertama balas : 'trus gimana? gak ada motor disini. agak sembunyi aja dulu kau. sejaman lagi kujemput. biar gelap.'
Apa katanya? Sejaman? Mungkin aku udah ..
Balasan yang lain : 'dimana, di jln apa? Tunggu aja dulu disitu. Tunggu aku datang.'
Gini nih baru gentleman. Dengan balasan kayak gitu aku agak lega. Segera kukirimkan alamat yang disebutkan si bapak tadi.
Kami tiba di depan sebuah gedung bertingkat dua. Di sana tertulis : PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE TBK . Naomi juga udah tiba duluan.
"Kita ngobrol di atas aja, Mbak ya?" kata si bapak yang bonceng aku.
"Oh iya, silahkan."
"Kukira tadi kita sengaja di pisah pas di jalan. Kayak kriminal di film-film gitu," kataku.
"Kak, gimana dong itu motor kubeli dari hasil aku nabung. Harganya emang 1,5 juta kemarin."
Kami di bawa ke lantai atas.
Mana ada motor yang benar dengan harga segitu, Naomi. 
Setelah duduk, percakapan pun dimulai. 
"Jadi, bisa minta tolong bapak jelaskan kembali duduk perkaranya?" tanyaku. Disana memang banyak orang. Kayak kantor biasa.
Ternyata begini.
Ada cewek namanya Sri dari Sragen sana, yang mengkredit motor (yang dipakai si Naomi sekarang). Pembayarannya belum kelar, tetapi si Sri ini kayaknya lari ke Kalimantan. Di sini, motor itu dijual oleh temannya si Sri, Ogi ke Naomi. Naomi beli motor tersebut tanpa ada STNK, BPKB, Buku Hitam dll. Pajaknya juga mati. Alasan si Ogi ke Naomi adalah karena si Sri ini mau kembali ke Jawa. Jadi jual motor buat beli tiket.
Kredit yang dimulai tahun 2011 itu. Si bapak nunjukin di komputernya data bukti pembayaran dan sisa pembayaran yang harus dilakukan oleh si Sri ini. Termasuk dendanya, ada 71 juta. Gile..
"Kalau begitu, saya rasa harus ada campur tangan pihak yang berwajib dong, Pak. Ini kan, adik saya tertipu berarti," balasku.
"Mbak, jika dilapor ke polisi karena anda merasa ditipu, anda juga akan ditahan sama mereka. Karena anda membeli motor ini dari penadah dan itu artinya anda mendukung kegiatan tersebut. Mau ikut diprose juga sama polisi?"
Aku gak tau bakalan serumit itu. Kata Naomi, dia bakalan datang ke kos si Ogi dan bicara baik-baik. Setelah kemudian dia kembali ragu, karena gak ada bukti pembelian atau apapun saat transaksi itu tempo hari. Bisa saja si Ogi mengelak, dia gak pernah jual motor apapun ke Naomi. 
"Relakan aja, Dek," kataku akhirnya. "Anggap aja uang 1,5 juta itu kau pakai buat rental motor selama ini, 4 bulan kan?" 
"Tapi, Kak.."
"Lagian, Mbak secara logisnya aja mana ada 'motor baik-baik' harganya hanya 1,5 juta? Seharusnya sampean langsung curiga," kata si bapak. 
Ada benarnya juga.
Yang tadi kuchat dan suruh nunggu akhirnya datang. Dia sama temannya yang kuliah di Ilmu Hukum. Sempat berdebat soal hukum dengan salah satu dari 3 bapak tadi, akhirnya mereka malah ngobrol santai. Ternyata si bapak (atau mas? itu alumni fakultas hukum dari kampus yang sama. Ah, kok malah reunian?
Mirisnya, Naomi pulang dengan diantar sama si bapak tadi yang membawanya ke sana. Aku diantar lebih dulu, dengan seorang terpaksa tinggal dulu di sana.
Tiba di kos ku, si bos Chinese malah nelpon dan suruh supaya kami gak panik. Dia juga minta kami datang ke toko saat itu juga.
"Kak, ini aja kami lagi nunggu angkot buat pulang. Mereka gak mau antar kami," kata Naomi bohong. Telponnya pun dimatiin.
"Gara-gara dia nih, yang bawa motorku ke jalan besar tadi. Jadinya ketahuan kan sama si PT Adita sia**n," Naomi merengut. 
Aku?
Aku gak kerja lagi di sana. Motor Naomi aja udah diambil. Ini pertama kalinya aku kerja cuma bertahan sehari. Ya lagi pula, rasanya nyetrika bukan bagianku. Mending ke sawah deh, kalau aku. Daripada disuguhin segudang kain buat di setrika... 

Jumat, 16 Maret 2018

BALADA ANDALIMAN...

Ada seorang cewek adik angkatanku (2014) yang kuliah di teknik juga. Namanya Dame (English read : deim). Meski satu fakultas kami beda jurusan. Dia jurusan Arsitektur. Jurusan yang paling tidak mungkin buat orang yang gak bisa menghayal kayak aku. Eh, mengkhayal sih bisa. Tapi yang kotor-kotor. Wakakak. Enggaklah. Mengkhayalnya aku sejenis : dinikahi idol setampan personil BTS atau jadi selingkuhan juga gak apa-apa. Jurusan yang dikehidupan selanjutnya juga mungkin gak akan kupilih.
Oke, back to Dame.
Dame ini adalah tipe cewek introvert menurutku. Temannya juga bisa dihitung cuma 5 kali ya. Ke kampus juga dia sering jalan kaki sendiri. Apa separah itu pemalunya dan pendiamnya dia? Sampe gak punya sobat yang bisa ditebengi kalau mau berangkat atau pulang kampus? Perawakannya juga kecil langsing kutilang. Aku bahkan lebih pendek dari dia. 
Tempo hari dia dapat kiriman dari ortunya di Sumatera, kiriman berupa Andaliman. Buat yang belum tau, ini tuh bumbu dapur senjata pamungkas masakan orang Batak. Masakan apa aja kalau ditambah andaliman pasti lezat. Asal bukan kolak aja. Kenapa? Karena andaliman ini memberikan sengatan getir di lidah. Perpaduan pedas dan ketir. Entahlah, ketir? getir?
Kondisi finansial Dame menurut salah satu teman kosnya juga gak terlalu baik. Uang bulanannya gak nentu berapa. Dia juga sering minjam duit. Jadi andaliman titipan itulah yang dikirim ortunya dari sumatera buat di jual disini. Wait, disini emang orang dayak tau bumbu itu? Pohonnya aja gak ada, gimana orang kenal. 
Sudah 2 hari setelah bumbu dapur itu tiba di kosnya. Kulihat kondisinya yang mulai layu dan berubah menjadi menghitam. Warna normal andaliman hijau. 
"Kak, ayo dulu temani aku menjual ini," katanya malam itu saat gerimis turun. 
"Emang mau jual kemana? Malam-malam gini juga, gerimis lagi," jawabku sambil tetap main HP. Main HP aja terus. Skripsi gak usah dipusingin.
"Makanya, Dek," lanjutku "Kalau kau emang belum tau pemasarannya kemana kenapa minta ortu mu kirim barang itu. Jadi gini kan, pusing sendiri."
"Bukan aku yang minta, mereka yang kirim."
Tapi malam itu hujan semakin deras. Kami gak jadi pergi.
Andaliman bukanlah bumbu dapur yang awet. Dan perlakuan terhadapnya juga susah. Gak boleh kena air, gak boleh dibungkus tertutup, gak boleh dipegang-pegang. Kalau enggak, dia bakalan menghitam. Oke, saat ini aja udah makin gak menentu lagi kondisinya. Sekarang andaliman itu dalam posisi dihampar di lantai. Kami akan pergi pagi ini memulai pencarian pembelinya. 
Tempat pertama yang kami datangi adalah warung makan orang Batak Karo. Menu andalannya babi panggang karo. Semenjak di Palangka Raya, baru sekali aku makan itu. Enaknya hm, minta lagi. Si pemilik bilang kalau beliau udah punya agen pemasoknya untuk bumbu dapurnya, termasuk andaliman. Kami pamit.
Tempat kedua yang kami datangi adalah milik orang china. Kayaknya sih orang China. 
"Saya tak pakai bumbu ini. Saya jarang masak daging babi. Yang sering itu mi aja. Gak mungkin kan, mi dikasih andaliman."
Si bapak china memberikan rekomendasi warung makan yang harus kami datangi untuk ditawarkan. Aku mengingat-ingat nama warung makan yang disebutkannya dan rute menuju ke sana.
"Memangnya jual berapa sekilo?"
"30 ribu, pak," jawabku asal. 
Beliau melotot gak percaya. 
"Kenapa, Pak? Kemurahan atau kemahalan?"tanyaku lagi.
"Kemurahan toh. Karena gak ada di sini, orang harus minta kirim pake peswat. Ongkosnya aja sudah berapa. Jangan mau kamu jual segitu. 150 ribu disini sekilo."
Sesuai petunjuk si bapak tadi kami pun pergi ke tempat berikutnya. Tapi di tengah jalan, pas di lampu merah, motor yang kami pakai mati. Dari caranya tersendat sih kutebak habis bensin. Benar aja.
"Kakak ada bawa uang?"
Aku gak menjawab. Bukan uang masalahnya. Tapi yang jual bensin. Aku pelengak-pelengok ke sana-kemari. Masa gak ada yang jual bensin eceran?
Aku meninggalkan si Dame di pinggir jalan, dengan helm di kepala aku berjalan ke depan mencari bensin. Cukup jauh berjalan baru ketemu. Untuk menyakinkan si ibu, kutinggalkan uang 100 ribu di sana. Dengan menenteng corong besar dan botol berisi pertamax aku kembali ke tempat motortr berada. Namun, masalah lagi. Jok motornya gak bisa dibuka. Kuncinya gak bisa diputa sama sekali, kekiri atau kekanan. 
Aku frustasi. Hari ini entah kenapa aku kasihan dengan anak itu, bersedia untuk membantunya mencari orang yang mau membeli andalimannya, dengan perut kosongku, dengan motor yang habis bensin dan aku yang harus berjalan jauh membelinya. Tapi pas udah dapat jok motor malah gak bisa dibuka.
Seorang laki-laki datang membantu kami. Tapi hasilnya tetap sama.
"Me, coba telpon yang punya motor ini. Siapa tau emang ada triknya buat membuka joknya."
Si Dame memencet nomor dan berbicara dengan orang di seberang.
"Kawat, ya ada. Ditarik? Oh iya, bisa."
Ah..
Kezel gua. Ternyata cuma narik kawat kecil dekat lubang kunci jok itu.
################
Kami gak berhasil menemukan warung makan yang dimaksud si bapak china. Setelah motornya diisi bensin dan kembali menyala kami malah pulang. Kelaparan.
Tambah satu hari lagi. Tambah pula menyedihkan keadaan si andaliman. Sekarang malah aromanya mulai beda. Agak lembab-lembab tak sedap.
Dari pagi jam 7 sampai jam 1 aku di kampus nontonin orang seminar hasil tugas akhir. Yeah, sampai saat waktuku tiba biarlah aku jadi penonton. Sorenya jam 3 ada pelantikan organisasi mahasiswa. Ini pelantikan massal. FYI, hari ini aku bakalan pensiun dari jabatanku sebagai ketua mapala. 
Pelantikan selesai jam 5 sore. Lama banget kan, karena emang ada 7 organisasi yang dilantik. Dan seharian itu aku gak makan nasi sama sekali. Cuma snack seminar orang. Oke, aku kelaparan. Kapan sih aku gak kelaparan. 
Baru aja nyampe di kos, Bonita bilang mau datang ke kos. Begitu dia datang, si Dame juga datang. Oh no, jangan bilang dia mau ngajak nyari lagi. 
DAN BENAR AJA!!!
Ingin kubilang, Dame, udahlah dek. Di sini tuh mungkin emang gak pake gituan buat masakannya. Lain kali kalau memang ortumu mau kirim lagi, pastiin dulu kau udah tau pemasarannya. Udahlah, menyerah aja..
Tapi kayaknya meskipun si Dame cewek introvert dia punya semangat yang tak mudah lentur. Kami malam itu mengelilingi kota Palangka Raya dan mendatangi semua angkringan, lesehan atau rumah makan yang ada tulisan "RW" atau "B2" di spanduknya. Beberapa ada yang bilang gak kenal andaliman, ada yang minta no HP karena mau nanya mama dulu kebetulan ibunya keluar, atau udah punya pasokan. 
Dame malah search di google dengan kata kunci "tempat jual daging babi di palangka raya."
Entahlah karena Tuhan emang salut sama kami atau memang udah rezeki. Di sebuah rumah makan kecil di sudut jalan, andaliman 2,5 kilo itu dibelinya semua dengan harga 130 ribu. Padahal sebenarnya kami udah mau pulang karena wanita paruh biaya di situ minta no HP saja, nanti ditanyakan ke ibunya. Dame udah meninggalkan no HP nya.
"Gimana, kak? Pulang kah kita?"
"Terserahlah," jawabku. Padahal aku udah pengen banget pulang. Plis, satu hari ini aku duduk tegak terus di kursi. Kuingin tidur...
Kami masih berdiri di depan warung makan itu saat sebuah mobil datang. Keluarlah wanita usia 50 an berpostur bongsor. Ah, paling pelanggan. Pikirku dalam hati. Tapi..
"Eh, dek. Coba tanya lagi ke dalam. Jangan-jangan itu ibunya," kataku.
Dame langsung masuk lagi ke dalam. Dan benar saja iti orang yang kami tunggu-tunggu.
"Berapa dek harga semunya?"
"150 ribu, Bu."
"Kurang dikit ya, 130."
Mengingat warnanya yang udah menghitam dan aromanya yang gak sebagus waktu baru dipetik lagi, kami pun sepakat.
"Langganan kah, Bu?" tanyaku pada beliau.
"Iya bisa. Nomor HP-nya nanti minta ya. Oh sudah tadi."
"Kalau di sini dek, asal jangan malu aja. Sopan bertanya. Pasti dapat jalan hidup kok," kata beliau.
Kami berdua pamit pulang.
Taulah kan, siapa yang paling senang. Si Dame kampret. 
"Kak, mau makan apa kau?" tanyanya.
"Gak usah," jawabku.
"Ayolah, Kak. Gak enak aku samamu. Dari kemarin kau susah kubuat."
Yaudahlah ya kan. Bukan aku yang galk ikhlas nolong, tapi dia yang paksa buat nerima.
Hahah. 
Semangat cewek introvert satu itu boleh juga,.
Bisa jadi panutan buat aku yang lagi nyari perusahaan skripsi.
SKRIPSI?
Iya, ..
S
K
R
I
P
S
I....!!!




Jumat, 09 Maret 2018

Hasil Mengkhianati Usaha???

Kata orang hasil gak mengkhianati usaha.
Kalau menurutku sih, gak semua hasil gak mengkhianati usaha. It means ada hasil yang mengkhianati usaha.  Apakah karena ada pihak ketiga? Hahah, udah kayak cinta segitiga aja. 
Berhubung karena kabar skripsiku yang masih belum jelas (tempatnya), aku berpikir keras gimana caranya memanfaatkan waktu ini sehingga aku bisa tetap bikin ortu bangga. Emak pernah sih ngomong soal anak gadis orang di kampung kami yang berangkat ke luar negeri buat beasiswa sekolah di sana. Hm, kalo emak ngomong begini itu artinya, 'anakku kapan?' Sebagai anak, aku cuma bisa bilang, 'Ya, mungkin rezeki itu dikasih cuma buat dia, Mak.' Tapi dengar Emak ngadu kayak gitu ke aku, rasanya tuh gemas. Kenapa beliau gak ngomong langsung kan, ya. Nak, Mama mau kamu ke luar negeri juga, sekolah karena beasiswa. 
Kadang aku jadi anak kurang asem juga (atau emang dari dulu kurang asem?). Ibu udah ngode begitu, aku malah berlaku seolah-olah belum pernah dengar. Plis deh, saingan buat dapet beasiswa ke luar negeri itu seabrek. Bukan, sejagad raya. Otak cemen macem aku kalah saing. Mana salah jurusan juga. 
Oke, let's see the other way. Karena katanya banyak jalan menuju Roma. 
Aku tau sebuah program pertukaran pemuda yang diadakan setiap tahun oleh kemenpora. Pemuda/pemudi tersebut mewakili provinsinya. Jadi salah satu syarat mutlak adalah punya KTP yang domisili provinsi yang akan diwakilinya. Tahun lalu aku gak bisa ikut, karena KTP-ku sendiri domisili Sumatera Utara. Kenapa juga aku mesti kuliah di Kalimantan Tengah?
Nama program itu PPAN. Pertukaran Pemuda Antar Negara. Ada beberapa negara, Korea Selatan (target), Jepang (target), India, Kanada, China, Singapura, Malaysia. Kenapa aku menargetkan Korea Selatan? Hm, simpel sih. Mau ketemu Kim Tae Hyung BTS. Wkwkwkwk. Maklum, konser WINGS BTS bulan April lalu aing gak pergi. Tiketnya seharga tiga kali lipat uang semesterku. Kalau kami gak bertemu saat BTS ke Indonesia, biar aku yang nyusul mereka ke Seoul. Siapin backpack plus passport
Terlepas dari negara mana pun yang jadi target, ada tahap penting yang harus dilewati dulu. Jangan asal main mengkhayal selfie bareng Park Bo Gum dulu. Atau naik ke Namsan Tower. SELEKSI. Ada seleksi di sini. Salah satu tahap seleksi adalah seleksi berkas (administrasi). Oke, aku yang belajar dari tahun sebelumnya segera mengganti perpindahan KTP-ku dari Sumatera Utara ke Kalimantan Tengah. Karena sudah E-KTP, aku gak perlu perekaman lagi. Untung bapak dengan senang hati ngurus SKPWNI dari kelurahan di seberang sono. Meski proses perpindahan KTP ini gak berjalan mulus, semulus pantat Patrick.
Ada aja yang terjadi. Saat itu juga aku lagi kerja shift pagi. Padahal kan, ya dinas kependudukan sipil bukanya ya pagi. Sampai siang sih, dijeda sama jam istirahat. Susah minta tukeran shift sama sesama karyawan. Belum lagi aku yang gak punya motor. Minjam sana-sini. Kantor dukcapil yang pindah ke ujung dunia. Masuk ke pelosok yang jauh dari fotokopian atau angkring gorengan. Yap, pemkot memindahkan beberapa kantor dinas ke areal luas ini. Di tengah padang rumput. 
Setelah banyak berkorban, dikeluarkan dari kartu keluarga sendiri (berasa gak dianggap anak lagi), dan jadi punya Kartu Keluarga sendiri yang ada aku seorang di dalamnya, jadi kepala keluarga di usia 22 tahun, bolak-balik ke dukcapil,. akhirnya dapet KTP sementara. Nyaris aja kuberteriak di dalam ruangan itu. Karena akhirnya impian ke Korea Selatan kini akan segera menjadi nyata. Kim Tae Hyung, noona datang...
Eits, wait.
Dasar otak k-pop! Mikirnya Koreanya aja. Jalan masih panjang. Belum persiapan, belum seleksi. Ini aku baru megang salah satu persyaratan seleksi saja, berkas. Dan masih ada bejibun seleksi lainnya. Seleksi pengetahuan umum dan daerah, kemamuan budaya Kalimantan Tengah, wawancara, bahasa inggris. Apakah aku bisa membawakan tarian KalTeng? Seberapa banyak yang kutahu tentang daerah ini, provinsi ini selama kurang lebih 5 tahun aku di sini?
Berlandaskan kekurangan, aku pun mulai menyusun rencana. Aku akan latihan dan minta diajari tarian Dayak oleh temanku yang asli penduduk KalTeng. Mencari orang yang bersedia juga gak mudah. Teman seangkatanku banyak yang sudah di lapangan, penelitian skripsi. Iya, aku seharusnya ngalami hal yang sama. Ini malah keluyuran ikut seleksi PPAN. Tepatnya, persiapan seleksi PPAN. 
Ke perpustakaan, kucari buku tentang budaya dayak. Gak banyak sih. Ada satu buku yang kutemukan dengan sampul yang sudah menguning dan isinya yang lebih menguning. Ini buku kayaknya usianya udah tua. Penulisnya mungkin tetua adat atau sejenisnya. Buku itu kupinjam dan kubaca tiap hari. Ya meskipun hanya 2% yang nempel di otak. Udah kayak mau UTS aja, tiba-tiba rajin baca buku. 
Bahasa inggris? Aku rajin nonton channel-nya mas Andhika Wira @skinnyfabs  di Youtube. Well, meskipun gak membantu banyak, karena logat british-nya susah nian. Kadang juga nonton film inggris tanpa subtitle. Hebat, kan. Sepanjang film, akhirnya aku menebak-nebak. Yang mana sebenarnya tokoh utama.. 
Berlandaskan persiapan yang gak minim itu (tapi super minim), tibalah hari pengumuman jumlah kuota per provinsi untuk PPAN. Oh yeah, berubah-ubah setiap tahun. Bisa aja tahun ini KalTeng dapat kuota 5 delegasi, sementara Sulawesi Utara hanya 2. Yang nentuin semua itu kemenpora. Bisa aja KalTeng gak dapat kuota tahun ini.
Aku udah mantengin (or pantengin?) ig-nya alumni PPAN KalTeng. FB-nya udah difollow juga. Kemarin pas mereka siaran di radio juga tak dengerin dari awal hingga akhir. Bahkan ngajuin beberapa pertanyaan.,
And well, pada hari tanggal bersejarah yang jadi penentu bertemu tidaknya aku dengan BTS di Korea Selatan. Pengumuman jumlah kuota dari kemenpora. Tentu ya, berharap kuotanya banyak, gitu kan. Tujuh kah atau delapan. 
Pagi-pagi 8 Maret 2018. Aku belum sadar sepenuhnya di pembaringan yang langsung raih HP dan buka instagram. Di bagian paling atas timeline, nangkringlah postingan ini....

You want to know my feel?
You want to know my feel?
Ok,


I am lemas tak bertenaga..


Semua sisa-sisa, eh sia-sia....


No more dream.. I mean, no more Korea Selatan


No more BTS,..

No more Kim Tae Hyung...








I am not kwenchana....


Entar deh, sebenarnya itu belum bisa dikategorikan sebagai hasil, kan? HASIL itu adalah di akhir cerita. Ini kan, aku aja belum sempat ikut seleksi. Belum bisa dikatakan hasil mengkhianati usahaku...


KAN????

Minggu, 04 Maret 2018

Pontang-Panting, Jungkir Balik ...

Kalau bukan karena aku udah terlanjur ngomong ke emak soal ini adalah terakhir kali beliau membayar uang kuliahku, aku gak akan segusar saat ini. 
Ya, buatku ini lumayan cukup dan sangat berat, guys. Cewek batak yang lahir di Jambi, besar di Samosir dan kuliah ke Kalimantan kuliah di jurusan yang setiap cewek bakalan berpikir 101 kali untuk mengambilnya. Aku terjebak di sini, mencari perusahaan tempat penelitian skripsi. Yang mana semua masih gelap. 
Tapi, Taurus adalah orang yang tidak suka ingkar janji. Begitu aku telah berjanji kepada ibu bahwa itu adalah uang kuliah terakhir yang akan dibayarnya, aku akan menepati janji itu. Bahkan jika aku harus jatuh bangun untuk membuatnya menjadi nyata akan kulakukan.
Tadi malam aku tau bahwa ada teman seangkatanku yang akan berangkat penelitian di PT Bukit Asam Sumatera Selatan. Tanpa pikir panjang malam itu juga aku chat di lewat WA dan bilang aku mau nitip proposal. Kenapa gak kirim via e-mail? Karena gak yakin e-mail kita bakalan dibaca apalagi dibalas. Mengingat banyak anak jurusan Teknik Pertambangan yang pontang-panting nyari tempat Kerja Praktik dan skripsi, bisa saja e-mail ku itu akan tenggelam nantinya paling bawah. End of the game. 
Sekarang saatnya berpacu dengan waktu. Besok hari aku harus ke kampus mengurus surat pengantar yang harus di ttd ketua jurusan dan transkrip nilai. Biasanya saat mengurus administrasi seperti itu, paling cepat selesai 2 hari. Jika aku ingin hari Minggu temanku itu membawa serta proposalku, aku harus sedikit mendesak pihak jurusan dan fakultas hari itu. Aku bangun jam 6 dan mandi segera. Ke kampus dengan berjalan kaki, gak apa-apalah sambil hirup udara segar. Tiba di jurusan yang udah buka (tumben), kujumpai Pak Gris yang mengurus adm jurusan kami. Kujelaskan dengan nada memohon tentunya soal keperluan dadakanku itu. Beliau bersedia mengetikkannya saat itu juga tapi meminta aku sendiri yang mencari Pak Yulian, Kajur kami untuk tanda tangan.
"Hari ini bapak itu ada kuliah jam 9 di pascasarjana."
Pak Gris menjelaskan gedung kuliah yang dimaksud, plus ruangannya. 
"Oke, Pak. Saya ke sana dulu."
Dari jurusan aku ke TU fakultas dulu untuk mengurus transkrip nilai. Tapi pintunya belum terbuka. Karena gak digembok, kudorong pintunya lalu kuketuk pelan.
"Tok..tok..tok.."
Bu Noprisia mendongak setelah menengok arlojinya. "Walah, Dek masih belum dibuka loh layanannya."
Aku tetap masuk sambil menenteng berkas berisi KHS di tanganku. 
"Mohon maaf, Ibu sebelumnya. Ini saya lagi dalam keperluan dadakan. Mohon sekali bantuannya untuk pembuatan transkrip nilai saya. Untuk saya titipkan besok ke teman saya yang berangkat ke Palembang."
"Kok kasih berkasnya baru sekarang?"
"Iya Bu, maaf. Saya baru tau tadi malam bahwa dia berangkat besok."
"Ibu gak janji bisa selesai hari ini, tapi akan dicoba. Soalnya kita ada rapat hari ini," Bu Noprisia menerima berkas di tanganku. Meski kemungkinan selesainya 50-50 aku senang gak karuan. Sembari membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih dengan sumringah, aku pergi jalan kaki menuju gedung pascasarjana. Pak Yulian, semoga beliau di sana.. 
Meski hari Sabtu ada juga yang masuk kuliah. Aku sms beliau terlebih dahulu.
Selamat pagi, Pak. Ini saya Magdalena. Mohon maaf pak sebelumnya saya dalam keadaan terdesak waktu dan butuh tanda tangan bapak untuk surat pengantar skripsi yang akan saya titipkan besok proposal saya pada teman yang berangkat ke PT Bukit Asam. Tadi kata Pak Gris di jurusan bahwa bapak ada kuliah jam 9 ini di pascasarjana. Saya sedang di gedung itu, Pak.
Aku mondar-mandir sambil mengetikkan pesan tersebut. Melewati beberapa ruangan yang lagi kuliah dalam hati aku bertanya-tanya berapa ya biaya kuliah per semester pascasarjana?
Setengah jam, satu jam berlalu. Belum ada balasan. Aku sudah berada di depan ruangan yang dijelaskan Pak Gris dan berhasil menemukan nama Yulian Taruna pada sebuah daftar angkatan I Doktoral Program Pascasarjana Jurusan Ilmu Lingkungan yang tertempel di dinding. Di ruangan tersebut lagi ada perkuliahan. Dari jendela yang ditutupi gorden, kucoba mencari-cari apakah ada beliau di sana. 
Gak kehabisan cara, aku pun berinisiatif ke parkiran saja mencari mobil beliau. Jika ada, berarti bapaknya juga ada. Kutelpon temanku dan menanyakan nomor pelat mobil kajur kami itu. Tapi gak ada yang tau. Hanya jenis mobil dan warnanya. Oke, sesuai pengamatanku mobil itu gak ada di sana. Itu artinya beliau gak datang ke sana. SMS-ku belum juga dibalas. Apakah beliau ke luar kota? Jika saja bukan karena PT BA menegaskan syarat pengajuan proposal TA harus disertai surat pengantar ASLI yang ditandatangani kajur, ingin rasanya Pak Gris saja yang kuminta menandatangani surat itu. Tapi, apakah Pak Gris mau menanggung resiko dipecat? Pastinya tidak. Atau haruskah ku scan saja tandatangan beliau?
Aku sudah kelaparan tingkat akut karena belum sempat sarapan dan tak punya energi buat berjalan kaki lagi ke jurusan. Kutelpon seorang adik yang kamarnya di samping kosku. Dia datang dan bilang supaya aku bawa saja motornya ke kampus setelah mengantar dia pulang terlebih dahulu.
Tiba di jurusan kulihat ada dua mobil putih. Ada 3 orang teman seangkatanku di sana. Mungkin mencari dosen juga. 
"Ini mobil siapa?"tanyaku.
"Pak Romi, Pak Fahrul."
Teng!
Setelah menjelaskan petualanagnku pagi itu, untungnya salah satu dari mereka ada juga yang mau ketemu pak Yulian untuk minta tanda tangan. Untungnya juga dia tau rumah si bapak. Kami pun capcus dengan motornya. Tapi begitu tiba di rumahnya kami malah gak berani masuk. Atau karena gak tau cara masuk. Pagar rumahnya ditutup.
Aku berniat menelpon beliau saja. Ternyata SMS-ku yang tadi sudah dibalas.. setengah jam yang lalu. OH NO...!!!
Datang ke gereja Efrata Bukit Hindu sekarang. Saya tunggu di sana. Saya lagi rapat di sana.
Langsung kubalas dan kami pun cabut. Tak sulit menemukan gereja yang dimaksud karena masih sekitar rumah beliau juga. Ku SMS lagi si bapak, bahwa kami sudah di depan gereja. Tak lama beliau pun keluar.
Aku menyodorkan selembar kertas itu. Setelah ditandatangani, beliau bertanya, "Hanya satu?"
"Iya, Pak."
Setelah semua beres kami kembali ke jurusan. Di atas motor dalam jalan pulang ke kampus aku menyadari betapa tanda tangan itu sangat penting. Tandatangan untuk mendapatkannya kadang mesti pontang-panting, jungkir balik. Dan memalsukannya kurasa bukanlah hal yang bijak.  
Aku langsung ke TU fakultas karena sudah jam 11.30. Takutnya sudah tutup mengingat hari itu Sabtu. 
"Belum selesai, Dek," kata Bu Noprisia begitu aku masuk. "Lihat itu, Bu Betty juga lagi sibuk sekali," beliau menunjuk Bu Betty.
Ah, wanita itu.  Dia kepala sub bagian akademik dan kemahasiswaan. Aku pernah kesal setengah mati padanya. Pernah saat semester 4 beliau tidak mau mengganti nilai di KHS kami meski sudah kukatakan bahwa itu sudah mendapat konfirmasi dari dosen mata kuliah yang bersangkutan. Dosen itu ternyata salah hitung. Yang tadinya nilaiku B, malah diberi E. Apalagi itu mata kuliah yang ada praktikumnya. 3 SKS. Saat itu Bu Betty dengan nada meledak-ledak menyuruh kami datang kembali dengan dosen yang bersangkutan. Barulah nilai kami diganti. 
Kupandang Bu Betty dari belakang. Ia memang sibuk dengan berkas-berkas. Tapi aku juga harus mendapatkan transkrip nilaiku hari ini. Kuhampiri beliau.
"Bu, sebelumnya mohon maaf sekali. Memang berkas saya baru masuk pagi tadi untuk pembuatan transkrip nilai. Tapi bu, mohon bantuannya sekali ini saja karena keperluan dadakan untuk saya titipkan besok proposal TA saya kepada teman saya yang berangkat ke Palembang."
"Kenapa baru hari ini diurus? Gak dari hari kemarin?"
"Iya, Ibu maaf. Saya baru tau tadi malam kalau teman saya itu berangkatnya besok."
"Apa tadi, transkrip?"
"Iya, Bu."
Beliau melihat arlojinya. "Jam 12 kamu ke sini lagi."
THANKS GOD..
"Baik Ibu, terima kasih sekali."
Jam 12 lewat 4 menit aku kembali lagi ke sana dan memang sudah jadi transkripnya.
Sorenya proposal yang sudah kujilid, surat pengantar TA yang mati-matian kudapatkan tandatangannya dan transkrip nilai yang juga penuh dengan usaha membujuk orang TU fakultas, kumasukkan dalam amplop besar dan kuantar ke rumah si Martoni. 
Satu hal,
padahal meski aku mengirimkan proposal itu ke sana belum pasti aku diterima. Atau mungkin diterima setelah menunggu 3 bulan. Yang mana itu artinya aku gak sempat wisuda Agustus tahun ini. Yang mana emak mesti bayar lagi uang kuliahku. Yang mana aku gagal menepati janji..

Tapi,....




Namanya juga USAHA.



Semua patut untuk dicoba.

Bahkan Thomas Alva Edison berhasil di percobaan ke 10083 kali dalam usahanya menemukan lampu pijar. 

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...