Minggu, 22 November 2020

Dari Uniqlo sampai Steak

Menurutku ya, ngabisin duit banyak-banyak untuk beli barang bermerek atau makanan mahal itu adalah sesuatu yang memboroskan. Tujuan kita beli baju misalnya. Kan untuk menutupi tubuh aja. Terus kenapa ada orang (kaya) yang ngabisin duit belanja jaket yang harganya bisa buat uang semesteran adekku sampai lulus kuliah? (Btw adekku masih SMA) Atau ngabisin duit beratus ribu hanya untuk makan daging? Steak-lah misalnya. Kenapa coba? 

Kenapa?!

Hari ini aku tau jawabannya.

Jadi, hari ini aku ketemu sama senior di tempat kerja lama yang ternyata dia udah resign juga dari sana. Namanya Kak Astuti, orang Batak yang tinggal di Bandung. Awalnya sih sekedar say Hi aja, tapi lama kelamaan chat-an Kak Tuti ngajak ketemuan di MOI. Awalnya dia ngajak di Atrium Senen sih, tapi kubilang di MOI aja dan dia gak keberatan. Kebetulan di MOI aku mau nyari sesuatu. Apa itu? Jeng..jeng..jeng!


Yap, Uniqlo. Bacanya gimana sih? 'Unik loh', atau 'yuniqlo', atau gimana sih. Pokoknya Uniqlo ajalah ya kan. Aku tuh tau Uniqlo ini brand pakaian asal Jepang yang kualitas oke punya. Kenapa aku tau? Karena pernah 'mencuri' celana pendek bermerk Uniqlo milik adek kosan Butet waktu masih kuliah di Kalimantan. Celananya nyamaaaaaaaaaan banget di pa**at. Sejak itu aku memutuskan suatu hari kalau ada diskon di Uniqlo aku pasti beli.

Akhirnya hari itu pun datang juga. Gak sengaja scroll time line instagram dan liat postingan Uniqlo Indonesia 'Arigatoo Indonesia...' Tidak menunggu lama kumeluncur ke berandanya dan ... ya! Emang lagi ada diskonan untuk beberapa produk. Terus liat insta story-nya 'Belanja min 500 K dapat mug gratis', di bawahnya 'Selama persediaan masih ada'. Mug-nya warna hitam, ada pegangannya gitu sama tutupnya. Kece deh badai. Entah kenapa aku malah pengen punya mug-nya aja, ketimbang beli produk pakaian Uniqlo-nya. 

Of course aku ke MOI-nya naik busway. Dua kali ganti busway. Dan karena sama sekali belum pernah ke mall itu, aku nyasar dong. Malah ke area apartemen. Kak Tuti udah nyampe duluan dan nungguin di J-CO Hall 8.

Jangankan Hall 8, Kak Tuti. Halaman depan MOI aja belum ketemu nih..

Akhirnya setelah nanya sekitar 5x sama sekuriti yang berbeda ku pun berhasil mendaratkan pantat di kursi J-CO dimana Kak Tuti sudah nangkring duluan. Dia sudah pesan frappe avocado dan bebebrapa donat tersaji di hadapannya. Duh, gak mungkin awak gak mesan ya kan. Jadilah kumemesan Thai Tea size regular seharga 28 ribu. Alamak, mending minum teh manis aja di kosan. Tapi yasudah lah, biar hemat bayar pakai Shopeepay biar dapat cashback. Ternyata dapat gratis 1 donat juga. Hm, lezaaaat. Udah dapat gratis donat dapat cashback pula. Bayangin deh, bayar 28 ribu dapat cahback koin shopee sebesar 16.800. Jadi kalau dihitung lagi, awak cuma bayar 11.200. 

Waw kan..
Itulah salah satu tips bertahan di kala masih pengangguran seperti saya.

Kita pun ngobrol lama. Tentang kantor lama, tentang kisah lucu melamar ke perusahaan ini itu. 
Kak Tuti itu di perusahaan itu udah lama banget, 9 tahun hampir katanya. Gile ya, awak aja yang hanya mampu bertahan 3 bulan (lalu cabut diam2) udah ngos-ngosan. Lebih ke situasi kantor yang bikin gak nyaman aja sebenarnya. Kalau masalah gak capai target mah aing gak apa-apa diomeli. 

"Berarti kakak dapat pesangon 3 tahun gaji lah ya," kataku.
Dia ngakak.
"Lena, Lena. Kalau kayak gitu, gak bakalan ada karyawan yang mau resign. Maksudnya resign-nya nunggu umur 70-an lah, biar dapat pesangon 3 tahun gaji. Eh, enggak. Lebih. Kalau kerja 9 tahun dapat pesangon 3 tahun gaji, kerja 40 tahun dapat 12 tahun gaji."

Kami ngakak berjamaah.

"Terus kakak mau nyari kerja dimana apa mau pindah ke Bandung?"
"Iya, aku lagi nunggu interview sih yang buat penempatan di Bandung."

Selesai dari JCO, kami cus ke Uniqlo. Tentu setelah nanya sekuriti di lantai berapakah Uniqlo ini bertahta. 

Tiba di sana, uhm. Rame pake abis. Rame abis. Orang Indonesia memang kalau masalah diskonan pasti cepat. 
Dan mungkin aku satu-satunya orang di sana yang belanja 500 K hanya supaya dapat mug. Emang freak abis sih. 

Tapi nih penampakan mug nya, 


Keren, kan? Itulah yang terjadi. Awak yang biasanya kolor aja beli yang 10 ribu dapat tiga, tiba-tiba ngabisin duit beli baju sebanyak : Rp. 656.000 hanya supaya dapat MUG ! Padahal kalau aja otak awak berpikir rasional, kenapa gak beli mug-nya aja, gak usah harus belanja 500K dulu gitu, Zaenab! Tapi Mali, Mug-nya emang gak dijual. Cuma sebagai gift gratis aja dengan belanja minimal 500 K!

Di sana bahkan yang paling murah itu di harga 99.000 ribu, cuk. Wajar sih pengangguran macam awak terkejut terheran-heran dengan harga barangnya. Ber-merk, bagus gitu, wajar mahal. Yang biasal pake kolor 10 ribu 3 memang gak akan paham. 

Aku udah semangat ngantri di kasir. Tapi ternyata ...

"Mug-nya untuk persediaan hari ini sudah habis, Mbak. Kalau mau silahkan datang besok pagi jam 11.00 supaya kebagian," kata si cewek kasir.

Oh my... Perjuangan dapatin si Mug kupret itu gak mudah ternyata. Besok awak mesti datang lagi ke mall ini cuma buat nukarin struk belanjaan. 

"Yaudah, Lena. Kalau gak mau dapat mug-nya gak usah datang lagi besok. Gitu aja kok dipikirin," Kak Tuti mencoba mempengaruhi.

GAK!! 
AKU BAKALAN DATANG BESOK. BAHKAN KALAU PERLU JAM 9 UDAH DI SINI !!! DUITKU,, BAYI-BAYIKU YANG BERHARGA SUDAH BERKORBAN LEBIH DARI 500 K . MUG, LIAT AJA BESOK, KAU PASTI JATUH KE TANGANKU. HAHAHAH #ketawasetan
Itu struk belanjaannya yg besoknya ditukar dengan Mug



Selesai dari Uniqlo, kami ngacir ke Guardian. Di sini awak beli deodoran doang loh. Kayak sepele ya, padahal di indomaret dekat kosan kan bisa. Tapi udahlah, mumpung di sini sekalian. 

Lanjut ke Gramedia, Kak Tuti nyari2 sesuatu, aku numpang bikin insta story.

Lanjut ke Sport Station, Kak Tuti beli kaos, aku numpang selfie. Kami selfie. 

"Aku pengen makan daging lah, " Kak Tuti.
"Daging apa, Kak?"
"Babi."
"Emang ada di sini?"
"Enggak sih, paling .. steak aja yok?"

Steak? Apa itu? Demi kolor spongebob, steak adalah sesuatu yang tidak lumrah di telinga ini. Dan karena gak mungkin nolak juga, kami pun akhirnya mendarat di Steak 21. Kirain bioskop doang yang ada '21'-nya. 

Pas buka menu, unchhh... tersentil ginjalku! Gak ada yang harga 50 ribu, cuk. 87 ribu lah paling murah. Sirloin Premium 150 gr. Supaya gak tersedak, minumnya kupilih iced lemon tea - 24 ribu. Belum sama pajak itu loh ya, 10%. Belum makan aja udah stress duluan awak nih. 

"Tingkat kematangannya?" tanya si masnya.
Demi menghindari kenyataan belum pernah makan steak, kujawab : "Mateng aja, Mas."
"Well done," timpal Kak Tuti. 

Ya itu deh, pokoknya. Duh cara makannya gimana tuh nanti. Pasti ada garpu sama pisau kan, ya?!

Untung ada Kak Tuti.

Ternyata makan steak itu gak ada nasinya ya, baru tau hamba. Nasi diganti sama jagung ini : 





Sama ada bonus kentang gorengnya.

Oh iya, biar dapat cashback lagi bayar pakai shopeepay lagi. Lumayan cashback 10 ribu.

Selesai makan, kami pun pulang. 

Jumat, 20 November 2020

Ide Konyol yang Terlintas Sepintas

 Katanya ide itu datang kayak hantu. Gak diundang, datang. Eh itu mah jelangkung ya?!

Pokoknya gitu deh. Jadi sebelum keburu lupa, aku mau torehkan di sini aja. Numpang ya, blog nya siapapun ini. Ehem.


Ceritanya tentang siswa kelas 12 SMA dengan segala problematika mereka dalam berusaha untuk lulus Ujian Nasional dan masuk perguruan tinggi negeri. Gak semua juga sih. Cerita akan berfokus pada dua kubu cewek yang merupakan fans fanatik boyband asal Korea Selatan, A.R.M.Y (fandom BTS) vs EXO-L (fandom EXO). Bukannya berkutat dengan buku kumpulan soal-soal, mereka malah sering perang dingin menjagokan idolanya. 

Butet (sebut aja dulu demikian), adalah siswi kelas XII IPS 3 yang kebetulan cinta mati sama BTS. Apapaun dia lakukan supaya bisa terhubung dengan BTS, mulai dari memalak anak-anak cupu di sekolah, main serong sama pelanggan toko souvenir ibunya atau restaurant BPK bapaknya. Butet ini anaknya slengean (kok kayak gue sih ujung-ujungnya. Duh) dengan rambut yang selalu berantakan. Hobinya naik sampan di Danau Toba. Ya selain mengikuti BTS di dunia maya. Oh iya, tadinya Butet itu anak IPA, tapi pindah ke IPS setelah semester berjalan 3 bulan. Menurutnya ilmu pasti tidak cocok untuknya. Ia lebih suka menemukan yang belum pasti. Pulang sekolah Butet naik sampan dan memunguti sampah yang berseliweran di danau. Ya, itu dia lakukan kalau pulang sekolah gak ada yang ngajak tawuran. Cita-cita Butet lulus SMA : keliling dunia dengan uang tabungan hasil malak-memalak.

Lisbet, teman sepenanggungan Butet. Mereka adalah ketua dan wakil dalam kubu fandom BTS. Saling melengkapi. Kalau Butet slengean, maka Lisbet sangat penuh perhatian dan terorganisir dalam melakukan sesuatu. Cita-cita Lisbet : bikin agensi entertainment. Cita-cita Lisbet bersama Butet : nonton konser BTS. 

Benjamin, dia adalah sahabat sehidup semati Butet. Mereka kenal sejak SD. Ibarat Butet sepatu kanan, maka Ben adalah sepatu kirinya. Ben tinggal berdua dengan neneknya yang berjualan sayur di pasar. Ben punya anjing peliharaan yang diberi nama dengan salah satu member BTS (yang bikin kesal setengah mati si Butet) - Suga. Ben juga sangat menyukai menggambar dan anak-anak. Cita-citanya : Masih bingung antara mau jadi dokter hewan atau dokter spesialis anak. Iya, hobinya memang gak nyambung dengan cita-citanya . Ben anak IPA, tapi satu-satunya yang dia pintar adalah menggambar organ tubuh. 

Luis, Anak baru yang pindah ke sekolah mereka. Luis ini anaknya nackal-nackal ngangenin. Lidahnya setajam silet kalau menghina. Tapi dia baik kok, dia hanya kurang belaian eh, kasih sayang. Dia anak orang kaya, tinggal dengan bapak yang selalu sibuk dengan bisnis. Luis punya pengalaman kecil kurang baik dengan ayahnya (yang juga penyebab ibunya meninggal waktu dia masih SD). Bapaknya punya hotel besar yang terkenal di pinggiran danau Toba (Butet pernah coba manjat pagar hotel dari atas sampannya di danau, tapi ketahuan sama si Luis). Pada akhirnya bapak si Luis ini bakalan jadi tokoh antagonis karena dampak bisnisnya ke Danau Toba. Cita -cita Luis : jadi pianis terkenal. 


(Tokoh-tokoh lain akan segera meluncur, dengan cita-cita dan problema anak SMA-nya. Aku juga mau masukin karakter beberapa guru SMA-ku dulu yang kalau diingat-ingat sekarang bikin ngakak). 

Latar belakang tempat : 

Untuk mempermudah dalam penggambaran visualisasi, aku mau coba backgorund tempatnya di pinggiran Danau Toba. Wkwkwkwk. Tapi serius, ini tokohnya gak ada yang kayak aku kok. Beneran. Meski ada BTS-BTS-nya atau Dananu Toba, sama sekali bukan tentang kisah SMA-ku.

Aku cuma mau mengembalikan memori ke bangku SMA aja. Maksudnya mengenang masa-masa SMA dulu melalui tulisan ini nantinya. Dan perjuangannya. Awak dulu mah, mana pernah mikirin masa depan. Tapi kalau di cerita ini nanti para tokohnya punya mimpi masing-masing, dan mereka punya kisah jatuh bangun dalam mewudujkannya. 


Judul???


Hm, itu yang paling sulit. Dulu SMA-ku dijuluki 'Sijambur'. Tapi letaknya di pedesaan kok.

Nah, untuk cerita ini nanti kira - kira kalau judulnya "Sijambur City" keren gak ya?!!


Kamis, 12 November 2020

I Lost My Obsession For Money

To be honest, gue orang yang fair play. Selama alasannya sudah jelas dan masuk akal, gue akan menerima itu dengan tenang. Gak akan menuntut lagi. Yang begitu kan, fair play ya?!

Hari ini adalah batas maksimal komisi telemarketing ditransfer. Dan gue udah bilang sama bos Charli kalau mau cabut begitu terima komisi. Tapi berhubung kemarin ada insiden pembobolan di kantor yang mengakibatkan beberapa laptop hilang (termasuk laptop Oskar dan Carol), sepertinya akan ada penundaan. Tapi ternyata dugaanku salah. Jam 10 an lebih dikit, iseng-iseng ngecek m-banking .. triiing! Udah ada aja dana yang masuk. Eh, tapi kok gak sesuai sama yang diajukan? Kurang banyak ini.. Kurang 2 jutaan. Mana besok mau cabut lagi.. Oi, Oskar, what do you mean?!

Segera gue melapor ke Pak Charli yang barusan aja masuk habis training anak baru. 

"Pak, saya komisinya kurang."

"Kurang banyak? Makanya cari deposit lebih gede lagi!"

"ihh. Bukan, bos. Ini tuh gak sesuai kenyataan..eh gak sesuai yang kita ajuin kemarin di kertas."

"Masa sih?!"

Gue dan bos Charli pun sepakat akan menanyakan hal itu lewat Ola, si translator. Untung gue langsung cegat dia sebelum keburu pergi ke kantor polisi. Gak lama kemudian setelah si Ola melapor, Pak Charli dipanggil masuk ke ruangan Oskar. Gue deg-deg an. Berharap besar si Oskar emang salah transfer. Lumayan atuh 2 jeti, bisa beli teh poci (maksa amat rima-nya).

Kirain si bos Charli bakalan lama di dalam. Sekilas mereka duduk berdua di dalam tuh kayak rentenir sama kontraktor. Si bos Charli tentu yang jadi kontraktornya.

'Bray, lu coba deh. Yang bulan Agustus lu nerima berapa? Komisi redep yang 670 juta ternyata udah dibayar sama itu. Gak mungkin kan dua digit kemarin cuma bonus komisi FD lu yang 100 juta?"

"Gak lah, Pak. Saya udah itung sama si Natan kemarin per bulannya. Redep Agustus sekian. Redep September sekian. Gitu. Yang baru ditransfer itu komisi redep bulan September. Agustus belum nerima saya."

Tiba-tiba si Oskar datang nyela, "to my room."

Duh, si Ola malah ke kantor polisi pulak. 

"So, begini Mister. I count the redep comission each month, August, September. I have receive the September. But August not yet. I and mr Charli think maybe will be transfered on the next month."

Bodo amatlah ya, berantakan.

"If you have the problem, you should come to me on that month. No need to wait untill next month. Ok? Now I will check it on my historic transfer," kira-kira gitulah dia ngomong.

Kami berdua meninggalkan ruangan si Oskar. Kembali beradu argumen dengan bos Charli, apakah dua digit yang gue terima pada Agustus itu sudah termasuk komisi redep bulan Agustus atau belum. 

"Kita hitung ulang ya," Pak Charli.

"Bonus deposit 100 jt, sekian. Bonus one shoot, sekian. Bonus tiga akun, sekian. Tuh kan belum dua digit, bray. Berarti benar, emang udah sama komisi redep itu."

Tiba-tiba gue tersadar, bener eh. Kaming dah, malu-maluin. Tiba-tiba satu tim gue ngakak so hard sambil nge-bully gue. "Eh Lena, udah salah ngitung malah nuntut ke ruangan si Oskar."

Gelak tawa belum reda waktu si Oskar suruh gue lagi ke ruangannya. Lama-lama berasa simpanannya gue, keluar-masuk ruangannya dia. Wkwkwkwk. 

"I've check it, and already transferred."

"Yes, Mr Oskar. It's done. Thank u."

Masih ngakak so hard di meja tim Ferrari dengan gue sebagai objeknya. Akhirnya gue mengeluarkan pembelaan. Ini pasti sangat sangat mempan sekali. 

"Yee, maklum lah. Gede banget soalnya komisinya. Emang kayak lu pada? Deposit cuma di bawah 20 juta, hahahaha."

Tuh kan,, 


GAK MEMPAN!

Mereka masih mem-bully gue. Yaudah lah, gak apa-apa. Besok juga gua bakalan cabut dari sini. 

-------------------------------


Gak pernah membayangkan hari ini akan datang.

Hari dimana gue akan cabut dari kantor yang baru 5 bulan gue didalamnya (kalau itu kandungan, paru-paru aja belum terbentuk sempurna kali ya) melenggang dengan swag meninggalkan ruangan Oskar seolah bermakna 'Hei, gue keluar dari kantor ini dengan terhormat ya, pernah deposit - malah jadi Best Telemarketing on August - komisinya 2 digit, dapat HP Samsung A71 pulak' ke orang-orang lain di kantor itu. Buat si Bangsul yang udah pernah memperdaya gue? Hm, biar Tuhan yang menentukan. Lagian sehari sesudah kejadian dia perdaya gue, iphone 11-nya jatuh di lift. Kabarnya sih gak bisa dipake lagi. Itu iphone atau jelly, kok langsung bengek gitu..

Perdana, malamnya gue nulis surat pengunduran diri. Heran, kok air mata gue gak netes ya? Atau rasa sesak di dada kek dikit. Ini malah gak ada. Gue malah dengan excited mempersiapkan apa yang akan gue bilang ke Oskar besok seandainya dia nanyain kenapa gue out. Untung ada google translate. 

Oskar : Why?

Gue : I lost my obsession of money.

Oskar : Are you kidding me? Yesterday you come to my room and asked for your comissions - yang gak masuk padahal udah lu ajuin? *Anggap aja ini si Oskar udah pinter speak in bahasa. 

Gue : It's a ..a..

Duh. Jangan sampai mati kamus dong. Ayo, Lena. Lu harus resign dengan SWAG. Tydack boleh lemah!!!

Padahal kan, si Oskar lagi kesusahan. Kantor habis dibobol. Laptop dia, laptop Carol, laptop HRD sama laptop si Ola dicuri. Gak cuma itu, bahkan ber-box tisu yang udah di-stock juga lenyap. Gak ketinggalan kopi, gula, obat dari laci, beberapa CPU dan LCD juga diambil. Uang dalam box yang dibuat depan meja HRD juga lenyap. Padahal itu kotak amal. Itu belum seberapa mengejutkan dengan mengetahui pencurinya. 

Pencurinya adalah leader yang baru join 1 bulan lebih dikit di kantor. Dia diajak oleh Oskar sendiri. Entahlah bagaimana keduanya ketemu. Gosip anak-anak sih di cafe gitu. Yakali Oskar main di cafe, club malam dia mah!

Tanpa ditanya pun, bisa kita simpulkan bagaimana kondisi hati Oskar saat ini. Dikhianati oleh orangnya sendiri. Orang yang dibesarkannya dengan tangan sendiri, ehm maksudku orang yang direkrutnya sendiri. Belum lagi kalau dia tau salah satu telemarketing terbaiknya akan resign. Ehem. #betulin kerah baju.

"Lu tega emang Kak Len?" -Winni. Tuh bocah ngikut gue buat cabut juga. 

"Kenapa gak tega?"

"Enggak aja. Dia sendirian gitu, Mr Carol gak balik-balik. Mukanya gue liat kusuuuuuut banget."

Hem, si Winni ngakunya kesemsem sama Carol. Tapi Oskar juga kayaknya. 

"Heh, gini ya. Waktu kejadian si Bangsul memperdaya gue, Pak Charli nanyain dia. Kata si Bangsul lu tau gak apa. Gue cuma menjalankan perintah. Ban**at banget gak. Perintah siapa lagi kalau bukan si bos bule berdua itu."

Winni diam. Laju motornya gak cepat-cepat amat, tapi kenapa rasanya kayak kantor jadi lebih dekat dari biasanya.

-------------------------------------------

Kami ngelantai di toilet cewek, setelah balikin kartu akses sama HRD. Nunggu jam makan siang, baru masuk ke dalam. Pamitan sama semua orang. 

Gue udah merangkai lagi kalimat alasan yang bakal gue bilang ke Oskar.

Oskar : Why?

Gue : I just think that money is addictive. And all addictive thing is dangerous. I'm a weak creature. When someone addictive for money, they will do everything to get it. Include hurt their friend or more than that. And I don't wanna be like that, Sir. 

Gue menghafal-hafalkan kalimat itu dalam benak supaya nanti bisa gue lontarkan dengan SWAG di depan muka Oskar. Meski gue tau, Pak Charli tadi pagi pasti udah ngasih tau perihal gue cabut karena mau ngikut kakak ke Batam. Tapi gue gak akan menyebutkan itu, karena terdengar lemah. WEAK!

Jam makan siang, orang-orang pada turun makan. Tinggal beberapa tim Ferrari yang bawa bekal dan makan di dalam. Salah satunya Mbak Dwi, si pemenang kontes motor.

"Yaah, gak ada Winni lagi dong yang nanti ngupasin buah kalau makan siang."

Winni cuma bisa ketawa. Gue nimpal, "Jadi Mbak, si Winni di kantor ini fungsinya cuma buat ngupasin buah pas makan siang ya. Hahaahaha."

"Sama bawain laptop Pak Charli kalau meeting di ruangan sebelah," timpal Bella - sepupu Winnie.

"Nanti tugas itu diwariskan ke si anak baru kayaknya."

Satu jam gak kerasa anju. Jam makan siang udah habis. Saatnya pamitan ke ruangan Oskar. 

"Lu yang ngomong duluan," gue ke Winni.

"Lu aja." - Winni

Kamfret. 

Gue perlahan mengetuk pintu kaca itu. Gile. mukanya kusut amat. Itu muka atau kain dari jemuran.

"Mister Oskar, we want to say goodbye."

"What happen to you?" -Oskar

I just think that money is addictive. And ..

"Nothing. I want to take my time."- Gue.

What the heck are you doing Lena. Lu barusan terdengar sangaaaaaaaaat LEMAH!

Gue gak tega.


Beneran.






Sabtu, 07 November 2020

On The Way (OTW)

Salah satu impian gue adalah jadi penulis. 

Jadi bisa dibilang blog ini adalah salah satu bentuk latihan untuk meragkai kata demi kata untuk membentuk kalimat. Tepatnya sih latihan buat bacot dalam bentuk tulisan. Meski tiap hari ketakutan akan masa depan menghantui, kumencoba tegar. Cari kerja di Jakarta, apalagi pekerjaan yang enak hampir sama dengan menyalakan sumbu lilin yang basah. Harus di coba bakar agak lama dulu biar sumbunya kering, baru setelah kering dia akan menyala. See? Dia menyala kan, meski butuh waktu. 

Tuhan sayang banget sama gue, gue yakin itu 1000%. Setelah setahun di Jakarta dan melewati berbagai hal tak terduga dan masih bisa bertahan di kota yang kejamnya ngalahin ibu tiri ini. 

Setiap ingat impian itu, gue selalu berpikir ungkapan 'Tuhan Tau Tapi Menunggu' lah yang selalu membuat gue bertahan meski gak punya satu pun sanak keluarga di kota ini. Istilah lainnya : On The Way (OTW). 

Hm, daripada bahas yang melo-melo, mending bahas soal bos di kantor aja. 

Aku udah pernah bilang kan, soal bos bule di kantor yang dua orang itu. Satu bos Carol yang mirip aktor yang main di 365 Days, satu lagi bos Oscar yang mirip Adam Levine di klip Memories. Jelas siapa yang hot dan diidolakan di kantor. Sayangnya si bos Carol udah menikah dan punya anak yang kata mba Dwi imutnya minta ampun. Dari segi kematangan emosi juga bos Carol menang. Mungkin karena emang Oscar lebih muda 5 tahun. Dia seumuran gue dan udah jadi direktur aja. Lha gue? Masih pontang-panting tanpa kompas. 

Oh iya, ini gak dosa kan, gosipin atasan di postingan ini?! 

Bodo amatlah ya. Kalau semisal dia baca juga, emang dia mau apa. Toh yang kutulis di sini bukan hoax. Absulotely facts

Sudah bulan baru aja. November Rain, kalau Pak Charli bilang. Dia sudah menyusun strategi terbaru lagi supaya bulan ini tim Ferrari bisa dapat closing-an lebih banyak dari tim lain. Tapi aku sudah memutuskan : begitu terima komisi (paling lambat tanggal 10), aku akan cabut. Jadilah menunggu sampai tanggal 10 itu aku ogah-ogahan nelpon. Kadang pura-pura ngomong sambil nempelin HP di telinga. Padahal aslinya aku ngomong sendirian. Mana gak ada yang curiga lagi. Jangan-jangan bakatku jadi actress ya!

"Kak Len..." ini Winnie. Dia juga pengen cabut, tapi gak jelas. Bisa-bisanya dia galau. Mungkin dia berat nanti gak bisa liat Mr. Carol lagi. 

"Apaan?"

"Lu udah fix mau cabut kak, habis nerima komisi?"

"Menurut lu aja? Gue masih betah gitu, ketemu si Bangsul yang udah memperdaya gue di kantor ini? Plis Win, cukup dua bulan gue nahan-nahan sesak nafas tiap liat muka dia. Itu aja kemampuan gue."

"Tapi lu belum dapat kerjaan baru, kan?"

Memang belum. Gimana mau dapat, nyari aja belum, Yakali kerjaannya datang menyodorkan diri ke depan mata awak. Tapi memang gak ada niat nyari kerja baru juga sih. Begini lah efek salah dari dasar. Coba dulu SMA gue belajar yang benar, mikirin jurusan kuliah yang sesuai bakat. Mungkin saat ini gak perlu ketemu si Bangsul di perusahaan broker.

"Kayaknya belum mau nyari kerja baru dulu, Win. Lu juga lulusin kuliah dulu aja kenapa. Malah kerja.."

"Ladies, why you are not calling?" 

Entah sejak kapan si Oscar udah di belakang kami berdua. Menjulang kayak pohon kelapa, aku dan Winni yang jadi pasirnya. 

Kami berdua buru-buru sok sibuk. "Selamat pagi. Dengan bapak Katimin..Perkenalkan Pak, saya Lena.." Acting-ku berjalan mulus. Si Oscar kembali masuk ke ruangannya. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Banyak telemarketing lain yang gak serius nelpon. Beberapa ada yang ngobrol juga dengan teman di sebelahnya. Jadi kenapa hanya kami yang ditindas???

Apa dia punya dendam sama awak? Perasaan ngobrol aja gak pernah. Terakhir cuma masalah kontes Samsung A71. Itu pun gak ada masalah.

Seperti hari ini, sorenya (ini belum pernah terjadi sebelumnya) 5 menit sebelum jam pulang, dia mengumumkan yang belum dapat 20 KYC tidak boleh pulang. KYC itu data klien yang sudah lengkap : alamat, pekerjaan, pengalaman investasi, nomor WA. 

"We will stay till night."

Kupandangi kertasku, baru berisi 13 KYC. Kulirik kertas Winni : 17 KYC. 

Pala lu lah Oscar!!

Tepat jam 5 sore, satu per satu pulang. Yeah, mereka sudah dicek sama si Oscar. Tinggal kami ber.. ber berapa ya, oh iya. Ber 5 : aku, Winni, Pak Charli (sebagai leader yang bertanggung jawab), Oscar dan pacarnya. FYI pacarnya lokal punya, dengan kulit eksotis kayak kulitku. Rambutnya panjang amat. Kalau kapal kekurangan tali buat tambatan di dermaga bisa tuh pake rambut dia. 

Bukannya menyesal, kami berdua malah cekikikan senang. Rasa-rasanya seperti sedang dihukum di sekolah karena ribut di kelas dan disuruh menuliskan permintaan maaf. 

--------------

Briefing tim adalah saatnya Pak Charli mencak-mencak kalau ada yang bikin dia kesal. Meskipun itu sangat jarang terjadi karena beliau lebih sering bikin kami ngakak dengan pernyataan konyolnya. Kalau pun mencak-mencak, pasti di akhir ada aja sesuatu yang bikin kami ngakak. Ini adalah salah satu hal yang akan kurindukan jika sudah cabut dari kantor ini kelak.

"Saya jangan dijadikan tumbal ya. Saya gak mau tuh pulang di atas jam 5 karena ada anak buah saya yang belum lengkap KYC-nya. Si bos kan, emang gitu. Suka tiba-tiba ngecek. Makanya tiap hari tanpa menerka-nerka dia bakalan ngecek atau enggak sorenya, lu fokus aja dapatin 20 KYC tiap hari. Jangan kayak Lena sama Winni."

Hening. 

Semua pada dengerin dengan serius.

"Dri, Lu Ndri udah 3 bulan gak deposit. Bulan ini kalau lu gak deposit-deposit juga, besok lu pake baju adat ke kantor."

Satu ruangan ngakak terjungkcal...

"Lena juga jadi ikut-ikutan tuh -"

Kena lagi!

"Saya kan gak nuntut harus seratus juta, lima puluh juta. Nama lu ada di papan aja, udah. Itu saya udah bangga, kalau nama anak buahnya bejejer di papan. Kalau semua udah deposit di tim Ferrari, kita bisa party!

Yeah, bos Charli emang leader yang beda dari yang lain. Selalu ada bonus di tim ini. Akun demo yang paling banyak profitnya aja dapat hadiah. Yang absennya 0 juga dapat reward. Apalagi yang paling banyak deposit. 

---------------------

Bos Carol udah seminggu gak masuk. Kata Pak Charli sih dia lagi di Bali - liburan. Jadilah si Oscar gak betah di ruangannya. Dia bolak-balik keluar masuk ruangannya yang berarti kami tidak punya celah untuk ngobrol barang sedikit pun. 

Selain emosi yang meledak-ledak, bos Oscar ini juga suka dadakan. Aku udah pernah bilang kan. Nah kali ini dia mengurangi jam istirahat kami. Biasanya di hari Jumat, karena ada sholat Jumat jam 11.30 udah break. Tapi begitu jam 11.25 dia muncul dan mengeluarkan pengumuman dadakan. Ola si transalator udah stand by di sampingnya.

"Sudah tiga hari ini semua saham-saham teknlogi naik. Tapi di papan hanya ada 1 nama yang baru deposit. Kenapa? Where the deposit? Lena?"

Anju!

KENAPA GUE LAGI YANG KENA, plis. 

Bulan lalu gue masih jualan ya, Oscar. Meski gak gede, tapi ada nama gue di papan. Ada kurang lebih 3/4 dari jumlah total telemarketing di ruangan ini yang gak deposit bulan lalu. Dan lu nanya ke gue, where the deposit?

R U OK??!!

Lu semakin memantapkan langkah gue buat cabut...

"On the way, Sir," kujawab singkat. 

Siang itu kami disuruh nelpon lagi sampai jam 12.00. 











Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...