Sejak part time jaga stand Queen Mango, gue sering berhadapan dengan orang-orang yang gak mengerti bahasa Indonesia. Kalau mereka gak bisa bahasa Indonesia, sebenarnya masih gak masalah. Masih ada bahasa Inggris. Kayak kemarin ada om-om bapak-bapak yang katanya dari Rusia masih bisa ngerti bahasa Inggris meski logatnya susah dipahami. Dia ngomong bahasa Inggris tapi kayak terdengar bahasa Rusia yang penuh dengan huruf V dan Z. Begitu juga dengan 2 orang pria Chinese yang tempo hari mampir. Mereka masih paham bahasa internasional itu. Yang jadi masalah ketika serombongan orang Korea mampir di stand gua. Mereka gak bisa bahasa Indonesia dan bahasa inggris (dan gue gak ngerti bahasa isyarat). Pertama yang muncul adalah ahjussi yang pesan 1 Mango-Dragon.
"Mango-Dragon, hana!" katanya sambil mengangkat telunjuk kanannya dan menunjuk banner.
Kalau itu gue masih paham. Wong dalam drama korea juga sering dibilang 'hana'. Dalam hati sebenarnya gue pengen balas, 'Ne, arasheo ahjussi (baiklah, saya mengerti)'. Tapi gak jadi karena takut dia ngira gue fasih bahasa korea terus diajak ngobrol. Setelah satu cup Mango-Dragon itu jadi, dia pun bertanya harganya.
"Olmana?"
Kalau itu gue juga masih ngerti karena dalam drama korea juga sering disebutin, artinya 'berapa'.
Gue pun mengangkat jari gue kayak bilang 'suer' tapi sambil bilang twenty two. Itu harga memang yang sebenarnya bro and sist. Gue gak ada niatan mau nipu turis yang gak kenal mata uang negara lain. Dan tampaknya beliau belum paham juga yang gue maksud. Akhirnya gue nunjuk uang kertas 20 ribu dan 2 ribu yang di tangannya, "Igo, igo (ini dan ini)."
Setelah itu si ahjussi pun pergi. "Gomawo," gue sempatkan teriak bilang terima kasih. Gak lama setelah itu, si ahjussi kembali dengan seorang wanita yang mungkin istrinya. Si istri pun memesan satu lagi Mango-Dragon, "Nado, hana (aku juga, satu lagi)."
Oke, terima kasih drama korea.
Si ahjumma gue amati dan memang kayak emak-emak di drama korea sih. Lha iyalah, satu bangsa gitu. Tiba-tiba muncul satu kalimat yang sering diucapkan kala si tokoh utama adalah pelajar dalam drama. Haksaeng.
"Jeoneun haksaeng," gue memberanikan diri sok akrab sama emak-emak asal negara BTS itu sambil memegang dada. Mereka pasang ekspersi muka kagum (?) karena gue bisa mengucapkan kalimat dalam bahasa ibunya.
"Ah, jeongmal? Alba (pekerja part time)?"
"Ne," balas gue. Lama-lama nih gue nikah juga sama Suga BTS. Tapi ternyata pernikahan itu harus ditunda karena para ahjumma melanjutkan obrolan kami dengan menanyakan hal-hal lain dengan kata-kata yang tidak bisa gue pahami. Mpuss yang sok-sok an! Gue puuskan untuk bilang 'ne' (iya) terus setiap mereka ngomong. Setelah jusnya jadi, gue sodorkan dan terima uangnya. Kali ini mereka mengerti.
Oh iya..
"Ahjumma, BTS arayo?"
Gue udah pasang muka berharap mereka pasti kenal sama grup idol yang berisi pria tampan namun kadang berperilaku abnormal itu dan bikin para ARMY (fans) gemas. Namun..
"Aniyo, molla (tidak, aku tidak tau)."
Waduh, gue lupa satu hal. Usia. Seharusnya tadi gue nanya raja-raja zaman Goryeo aja atau Joseon, pasti mereka kenal. Mereka pun pergi, namun tak lama kemudian balik lagi minta sendok. Tau kan kalau orang korea bahasa inggrisnya di akhir kata selalu ditambah huruf 'e' . Jadi waktu dia minta spoon (sendok) malah jadi 'sepun'.
"Masshita (enak)?" tanya gue.
"Ne, nomu masshita (iya, enak sekali)."
Itu mah elu emang lagi haus..
Kirain udah pergi beneran, tapi balik lagi. Kali ini dengan jumlah lebih banyak. Ini rombongan liburan deh kayaknya. But wait a minute. Ngapain kalian liburan kesini? Apakah google serach memberikan kota Palangka Raya sebagai result pencarian? Gue pun habis pikir. Dan kampretnya lagi ternyata mereka punya translator (dari tadi gue sengsara). Cowok korea juga. Mirip Lee Dong Wook, ih..
"Berapa lama kerja satu hari?" tanya Lee Dong Wook eh, si translator.
"6 jam," jawab gue. "Berapa lama belajar bahasa indonesia?"
"Sekitar 1 tahun."
Wah, logatnya enak didengar. Kayak anak bayi yang baru belajar ngomong. Mas bisa minta no WA?
Yang bikin gue agak kesal adalah rombongan ini memesannya itu satu-satu. Setelah jadi satu, dibayar baru pesan lagi satu, bayar gitu seterusnya. Gue yang capek harus bolak-balik nimbang mangga, masukin ke blender, tuang ke cup. Coba langsung bilang bikin 10 cup. Meski di blender gak muat 10, tapi setidaknya 5 cup muat. Cukup dua kali ngeblender. Ini malah,..
Ah.
Kayaknya dia takut gue tipu harganya. Sori, meski godaannya besar tapi bukan tipe gue kayak gitu. Dan total ada 12 cup mereka beli dengan kondisi gue blender nya satu-satu sebanyak 12x. Kasian si blender, capek..
"Tau BTS, kan?" tanya gue ke si translator.
"Tau. Nonton drama juga ya?" tanyanya.
Uh, Mas. Senyummu mengalihkan pekerjaaanku.
"Iya. Korea Selatan negara yang keren, suatu hari saya akan ke sana" kata gue.
Dan mereka pun pergi setelah semua minumannya jadi.
"Semoga hari anda menyenangkan. Terima kasih, gomawo, saranghae" teriak gue.
Mereka pun pergi agak terburu-buru. Busnya udah nungguin kayaknya..
Ya Tuhan, kapan hamba ke Korea Selatan dalam rangka liburan plus mengunjungi suami aka Kim Nam Joon, Kim Seok Jin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Tae Hyung, Jeon Jung Kook, BTS...
Nonton konsernya juga gak apa-apa, Tuhan. 2019 mereka mungkin tour concert ke Indonesia. Dapat tiket VVIP, paling dekat dengan stage..
A M I N .
BTW, di Korsel ada gak ya buah naga?
