Yassh!
Akhirnya aku punya meja kerja. Hahaha, meja kerja loh. Kalian tau kan, artinya
apa. Artinya sekarang aku udah dapat kerjaan. Betapa hebatnya pengaruh
seperangkat meja kerja itu hingga di pagi hari aku semangat bangun pagi dan berangkat
dari kosan, tiba setengah jam sebelum jam kantor mulai. Padahal aku masih dalam
proses OJT, sehingga sebenarnya belum benar-benar bekerja. Cuma melihat-lihat
bagaimana karyawan lain bekerja, jika disuruh fotokopi ini – lakukan.
OJT
itu bisa dibilang masa ospek (bedanya disini gak ada acara nyanyi rame-rame atau kirim surat cinta ke senior) –
pengenalan lingkungan dan sistem kerja perusahaan. Dari awal saat interview, kepala departemen (kadept)
sudah mengingatkanku bahwa posisi yang akan aku bergabung di dalamnya sangat
penuh dengan tekanan, menekan pikiran tentu saja.
“Kita
adalah tulang punggung perusahaan ini. Bisa kamu bayangkan betapa tidak enaknya
itu? Tanggung jawab terbesar terletak di tangan kita, tangan saya. Kepala cabang
hanya bisa menargetkan sekian ton untuk bulan ini, orang-orang yang
pontang-panting memenuhi omset tadi adalah orang-orang di sales marketing –
kita. Jika target terpenuhi akan ada reward,
jika tidak terpenuhi ada punishment.”
Benar.
Aku bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan stockiest dan distributor stainless steel. Butuh 5,5 tahun bagiku untuk lulus kuliah
mempelajari batubara dan segala isinya, tapi ujung-ujungnya aku jualan stainless steel – bukan batubara! Padahal aku pernah bertekad apapun yang terjadi aku gak akan mau bekerja jadi sales atau marketing. But here I'm..
Sudah
dua minggu aku menjalani OJT (normalnya 3 bulan) ini dan menyaksikan bagaimana
orang-orang bekerja di departemen ini. Semuanya sibuk dan ‘lupa waktu’. Ketika
jam makan siang tiba, departemen sales marketing memang tidak boleh makan di
luar. Beli makananmu dari luar dan makan di meja kerja. Beberapa ada yang
sambil menyuapkan nasi ke mulutnya sambil tetap bekerja di depan komputernya. Saat
jam pulang tiba, mereka masih betah di kantor. Datang lebih awal, pulang lebih
lama. Semua demi omset.
Aku
ngeri sendiri membayangkan bagaimana nasibku jika sudah tiba waktunya diberikan
target dan daftar customer. Bisa-bisa saat jongkok di toilet pun aku harus
telponan untuk meyakinkan pelanggan supaya mau membeli stainless
steel.
Padahal
saat wawancara ada pertanyaan : menurutmu kamu suka pekerjaan yang ada
target-target-an? Kujawab : ‘Justru itu, Bu karena ada target saya akan semakin
bersemangat bekerja supaya bisa mencapainya. Apalagi kalau ada komisi dan
bonusnya dan saya sedang ingin membeli sesuatu. Pasti saya akan semakin termotivasi.’
Bleh!
Tak lama lagi kebohonganku terbongkar. Hahaha. Namanya juga wawancara, meski
diri ini buruk tak mungkin aku jujur, bukan? Jika demikian sampai dunia ganti bahan
bakar menjadi air pun aku gak bakalan dapat kerja.
Sudah
dua minggu juga otakku dijejali dengan purchasing
order (PO), sales quotation (SQ),
sales order (SO), delivery order (DO), forum persetujuan
transaksi, ACC validasi dan segala istilah-istilah dalam dunia penjualan (baca
: marketing). Bisa kan, kau bayangkan
seorang yang tak pernah berhubungan sama sekali dengan kertas-kertas
administrasi penjualan itu kini harus belajar dari dasar. Namun demikian,
begitu jam pulang kantor tiba aku langsung mengemas tas dan pulang. Padahal kadept
dan jajarannya masih pada betah di depan komputer atau teleponan dengan
pelanggannya. Aku satu-satunya yang tidak mengejar omset. Atau aku satu-satunya
yang merdeka dari tanggung jawab tulang punggung perusahaan.
Bu
Sari adalah kadept yang mood-an
orangnya. Beliau sendiri mengakui. Aku diam-diam menjulukinya Dolores Umbridge
II, meski beliau tak punya tongkat sihir seperti di film Harry Potter. Dua hari pertama jika mau pulang
duluan, aku akan izin pamit kepada beliau. Tapi hari ketiga dan berikutnya
kuputuskan untuk menunjukkan sifat asli saja. Hahaha. Bukannya begitu, tak ada
artinya otakmu dipaksa berpikir jika sudah mumet. Kembalilah esok hari, ketika
pikiran sudah fresh. Dengan demikian informasi yang diterima pun bisa diproses
dengan lancar.
Tak
kusangka aku bekerja di kantor sekarang. Di mejaku ada seperangkat meja kerja,
komputer, telepon dan berkas-berkas penjualan. Hampir setiap menit ada telepon
masuk. Yeah, bahkan sekarang aku ada kemajuan karena bisa meneruskan panggilan
dengan nomor extension. Aku juga sudah bisa mengirim fax lho. Hahaha.
‘Selamat pagi Sut*****,
dengan Magdalena ada yang bisa dibantu?
‘…..’
‘Darimana, Pak/Bu?’
‘Ditunggu.’
Sesekali
cerewetan Dolores Umbridge.. uhm maksudku Bu Sari kepada jajarannya memenuhi ruangan kerja.
