Selasa, 05 November 2019

On The Job Training (OJT)



Yassh! Akhirnya aku punya meja kerja. Hahaha, meja kerja loh. Kalian tau kan, artinya apa. Artinya sekarang aku udah dapat kerjaan. Betapa hebatnya pengaruh seperangkat meja kerja itu hingga di pagi hari aku semangat bangun pagi dan berangkat dari kosan, tiba setengah jam sebelum jam kantor mulai. Padahal aku masih dalam proses OJT, sehingga sebenarnya belum benar-benar bekerja. Cuma melihat-lihat bagaimana karyawan lain bekerja, jika disuruh fotokopi ini – lakukan.

OJT itu bisa dibilang masa ospek (bedanya disini gak ada acara nyanyi rame-rame atau kirim surat cinta ke senior) – pengenalan lingkungan dan sistem kerja perusahaan. Dari awal saat interview, kepala departemen (kadept) sudah mengingatkanku bahwa posisi yang akan aku bergabung di dalamnya sangat penuh dengan tekanan, menekan pikiran tentu saja.

“Kita adalah tulang punggung perusahaan ini. Bisa kamu bayangkan betapa tidak enaknya itu? Tanggung jawab terbesar terletak di tangan kita, tangan saya. Kepala cabang hanya bisa menargetkan sekian ton untuk bulan ini, orang-orang yang pontang-panting memenuhi omset tadi adalah orang-orang di sales marketing – kita. Jika target terpenuhi akan ada reward, jika tidak terpenuhi ada punishment.”

Benar. Aku bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan stockiest dan distributor stainless steel. Butuh 5,5 tahun bagiku untuk lulus kuliah mempelajari batubara dan segala isinya, tapi ujung-ujungnya aku jualan stainless steel – bukan batubara! Padahal aku pernah bertekad apapun yang terjadi aku gak akan mau bekerja jadi sales atau marketing. But here I'm..

Sudah dua minggu aku menjalani OJT (normalnya 3 bulan) ini dan menyaksikan bagaimana orang-orang bekerja di departemen ini. Semuanya sibuk dan ‘lupa waktu’. Ketika jam makan siang tiba, departemen sales marketing memang tidak boleh makan di luar. Beli makananmu dari luar dan makan di meja kerja. Beberapa ada yang sambil menyuapkan nasi ke mulutnya sambil tetap bekerja di depan komputernya. Saat jam pulang tiba, mereka masih betah di kantor. Datang lebih awal, pulang lebih lama. Semua demi omset.

Aku ngeri sendiri membayangkan bagaimana nasibku jika sudah tiba waktunya diberikan target dan daftar customer. Bisa-bisa saat jongkok di toilet pun aku harus telponan untuk meyakinkan pelanggan supaya mau membeli stainless steel.

Padahal saat wawancara ada pertanyaan : menurutmu kamu suka pekerjaan yang ada target-target-an? Kujawab : ‘Justru itu, Bu karena ada target saya akan semakin bersemangat bekerja supaya bisa mencapainya. Apalagi kalau ada komisi dan bonusnya dan saya sedang ingin membeli sesuatu. Pasti saya akan semakin termotivasi.’

Bleh! Tak lama lagi kebohonganku terbongkar. Hahaha. Namanya juga wawancara, meski diri ini buruk tak mungkin aku jujur, bukan? Jika demikian sampai dunia ganti bahan bakar menjadi air pun aku gak bakalan dapat kerja.

Sudah dua minggu juga otakku dijejali dengan purchasing order (PO), sales quotation (SQ), sales order (SO), delivery order (DO), forum persetujuan transaksi, ACC validasi dan segala istilah-istilah dalam dunia penjualan (baca : marketing). Bisa kan, kau bayangkan seorang yang tak pernah berhubungan sama sekali dengan kertas-kertas administrasi penjualan itu kini harus belajar dari dasar. Namun demikian, begitu jam pulang kantor tiba aku langsung mengemas tas dan pulang. Padahal kadept dan jajarannya masih pada betah di depan komputer atau teleponan dengan pelanggannya. Aku satu-satunya yang tidak mengejar omset. Atau aku satu-satunya yang merdeka dari tanggung jawab tulang punggung perusahaan.

Bu Sari adalah kadept yang mood-an orangnya. Beliau sendiri mengakui. Aku diam-diam menjulukinya Dolores Umbridge II, meski beliau tak punya tongkat sihir seperti di film Harry Potter. Dua hari pertama jika mau pulang duluan, aku akan izin pamit kepada beliau. Tapi hari ketiga dan berikutnya kuputuskan untuk menunjukkan sifat asli saja. Hahaha. Bukannya begitu, tak ada artinya otakmu dipaksa berpikir jika sudah mumet. Kembalilah esok hari, ketika pikiran sudah fresh. Dengan demikian informasi yang diterima pun bisa diproses dengan lancar.

Tak kusangka aku bekerja di kantor sekarang. Di mejaku ada seperangkat meja kerja, komputer, telepon dan berkas-berkas penjualan. Hampir setiap menit ada telepon masuk. Yeah, bahkan sekarang aku ada kemajuan karena bisa meneruskan panggilan dengan nomor extension. Aku juga sudah bisa mengirim fax lho. Hahaha.

‘Selamat pagi Sut*****, dengan Magdalena ada yang bisa dibantu?
‘…..’
‘Darimana, Pak/Bu?’
‘Ditunggu.’

Sesekali cerewetan Dolores Umbridge.. uhm maksudku Bu Sari kepada jajarannya memenuhi ruangan kerja.




Hasil gambar untuk penjualan marketing

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...