Malam minggu adalah waktunya buat keluar. Kencan, bagi mereka yang punya pacar. Gak punya pacar? Gak apa-apa. Ajak sobat juga boleh. Nongkrong di warung tenda pinggir jalan atau di kafe baru buka dekat kosan. Malam minggu ini gue ngajak dua teman gue, Tina dan Apri ke toko buku Gramedia.
Hanya mengenakan kaos hitam BTS yang baru nyampe dari Shopee kemarin, jins biru, dan sendal wiro sableng (baca : sandal swallow jepit), kita pun go. Jalan kaki, tentu saja. Lumayan jauh sebenarnya dari kosan. Dari kos, gerimis mulai turun. Pasti doa para jomblo nih. Semakin dekat dengan Gramedia, hujan makin deras. Kita pun berlari. Akibatnya fatal, karena sendal si Apri putus. Kami lumayan basah begitu nyampe di depan Gramedia. Gara-gara sendal si Apri putus, kita pun ke swalayan di samping Gramedia terlebih dahulu. Kurang estetik aja seandainya su Apri dibiarin nyeker di sepanjang rak buku. Nanti malah di geret satpam. Meski di swalayan itu hanya ada sendal wiro sableng, si Apri senangnya kebangetan.
Masuk ke dalam Gramedia (di luar hujan deras), gak banyak orang yang berkunjung. Mungkin malam minggu mereka lebih milih ke tongkrongan daripada beli apalagi baca buku. Aku mulai menelusuri judul buku satu per satu. Sebenarnya aku ke sini gara-gara beasiswa KSE udah cair. Bulanan dari kakak juga udah datang. Aku gak pengen beli novel, kok. Buku motivasi atau apalah sejenis itu. Yang cocok buat ngisi waktu senggang yang gak banyak sebenarnya. Akhirnya pilihanku jatuh ke : "Sila ke-6, KREATIF SAMPAI MATI!". Harga bukunya lumayan sih, 68 ribu.
Itu judul buku yang kuputuskan beli. Sila ke-6 broh, siapa tau bisa kuamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mengingat diri ini samsek gak ada kreatif-kreatifnya (kecuali makan mi instan pakai nasi bisa disebut kreatif). Tina sama Apri gak beli apa-apa. Kami pun langsung ke kasir.
"Harga bukunya 68 ribu," kata si mbak kasir.
"Bayar pakai ATM bisa, mbak?"
"Maaf, tidak bisa. Uang tunai ya, mbak."
Aku nepok jidat. Sisa uang di dompet 15 ribu. Ah, lupa ke ATM sih. Untungnya Tina punya uang yang bisa dipinjam.
"Oke, kita kemana lagi nih?" tanyaku karena gak mungkin kami langsung pulang ke kosan padahal masih jam 8 lewat. Sesekali pengen pulang malam ah, pengen dicap 'anak nakal'. Udah sering dicap 'anak rumahan', soalnya.
"Ke kafe aja yok, Kak."
"Bisa. Kafe mana?"
"Dekat pasar mini. Ada orang batak anak akuntansi yang kukenal kerja disitu," kata si Apri.
"Asyik, bisa dapat diskonan nih."
Behubung hujan udah reda dan atm gak jauh dari Gramedia, kami mampir ke sana. Begitu di depan atm, hujan malah turun deras lagi. Antrian panjang di depan box atm. Acara dorong-dorongan masuk ke box atm. Sial. Gagal terus. Kayaknya jaringan BRI-nya lagi gangguan. Aku pun gak bisa ngambil duit, meski udah dicoba 5 kali, sampai orang yang antri di luar curiga kami bertiga sedang berkonspirasi membobol atm. Elah, benerin keran air kosan rusak aja gak bisa. Boro-boro bobol atm. Begitu kami keluar, orang yang antri langsung masuk. Spontan kubilang, "atm-nya gak bisa."
Maksudku sih ngasih tau ke cowok itu. Tapi dia malah pasang muka bodo amat gitu. Kami bertiga berteduh di kanopi atm. Hujan merembes juga sih ke baju. Tapi mau kemana lagi. Gak lama, cowok bodo amat itu keluar. Sekarang dia pasang muka dissapointed. Kan udah dibilangin tadi, batinku.
"Gak bisa ya, Bang?" tanya si Apri sksd.
"Iya, gak bisa."
"Kan, nga hudok nakkin dang boi (kan tadi udah kubilang gak bisa)," kataku ngomong bahasa Batak sama si Tina. Si cowok langsung terperangah gitu.
"Orang Batak juga-nya? Bah, horas ma," cowok itu nyalamin Apri. Si Apri nyebutin marganya, cowok itu juga.
"Nainggolan," katanya.
WHAT..????? Kok sama. Dia pun nyalamin kami semua. Hal yang sering terjadi, nyerocos pakai bahasa ibu, padahal ada orang di sekitar yang ngerti karena satu suku. Kita sempat tukar-tukeran informasi. Kuliah jurusan apa, kos dimana, asal kampung, sampai nama ternaknya siapa (eh enggak deh).
Nama kafenya unik, The Bottles. Aku sempat membayangkan di sini semua pelanggan harus minum langsung dari botolnya. Entah itu botol bir, botol wine, botol jack daniel, atau botol Jack the Ripper. Kalau ada yang melanggar disuruh tari botol. Tari botol? Hm, botol ditaroh ke atas kepala, lalu berjogetlah ala ular sanca. Oh iya, usahakan botol di atas kepala tidak jatuh karena ada hadiah satu botol baygon yang menanti anda.
Sama kayak kafe pada umumnya, disini juga remang-remang. Hanya ada 3 kelompok pengunjung. Pertama, cowok dengan laptop di depannya. Mungkin skripsi. Tapi ngerjain skripsi di tempat ribut kayak gini kayaknya gak pas deh. Kedua, gerombolan bapak-bapak. Begitu kami bertiga datang, mereka lekat-lekat ngeliatin kami terus. Ketiga, sepasang anak manusia di pojokan. Kami disambut sama pelayan cowok. Apa sih namanya, waitres? Dia kasih buku menu dan membawa kertas dan pulpen di tangannya.
"Samakan aja ya kita bertiga," kataku. Tapi setelah melihat harga minumannya gak mahal-mahal amat (sombong - awal bulan), akhirnya aku pesan iced cappucino, sementara mereka berdua lemon tea hangat. Cowok itu nyatat pesanan kami. Aku masih membolak-balik buku menu hanya buat liat-liat harga. Si cowok masih nunggu dengan sabar.
"Hupaleleng-leleng jo bah (aku lama-lama in ah), keisenganku muncul. Yang artinya : Aku lama-lamain aja ah. Si cowok waitres nanya, "Makannya, mbak?"
"Oh, gak usah. Minumnya aja, Mas," gue pun mengembalikan buku menu. Dia berlalu.
"Kak, dia itu tadi orang batak juga, loh. Anak akuntansi yang kubilang tadi."
Busyet dah. Dan terjadi lagi.. Berarti dia ngerti dong yang gu bilang tadi???
"Kenapa bau bilang sekarang sih, kau. Astaga, mampus deh aku!"
Minuman kami datang. Sambil main HP (gue minta password wifi-nya ke mbak waitres), kita makan goreng pisang yang tadi dibeli dari pinggir jalan. Murah, meriah dan nikmat.
Si cowok skripsi masih serius dengan laptopnya. Rombongan bapak-bapak pun pergi, diganti dengan serombongan remaja-remaja..bukan, kayaknya mereka udah pada dewasa deh. Semuanya dalam baju hitam. Gue spontan liat kaos gue, hitam juga. Mereka diladeni si mbak waitres. Gue jadi kecarian si cowok waitres tadi.
Pulang dari kafe The Bottles, bukannya langsung ke kos. Kami ke bundaran depan rujab gubernur KalTeng buat nobar bola, Juventus vs Real Madrid. FYI, gue gak hobi nonton bola. Tapi demi apa coba, malam itu, bukan udah pagi. Pagi itu jam 1 an, kami jalan kaki cukup lumayan jauh ke depan rujab buat nobar. Yang mana perjuangan untuk sampai di sana gak mudah, karena giliran sendal gue yang putus. Mana ada lagi toko yang buka sepagi ini. Ada sih, tapi toko makanan, kayak angkringan jamu, nasi gireng, roti bakar. Gue pun jalan dengan kondisi kaki diseret-seret. Udah gitu, sepanjang perjalanan yang masih ramai banget karena itu malam minggu dan karena ada kegiatan nobar yang diadakan di depan rujab, banyak cowok-cowok ganas yang menyuiti kami. Bahkan ada motor yang berhenti, nanyain kami mau kemana. Otomatis kami bertiga lari tunggang langgang. Gue? Lari terjungkang-jungking.
Akhirnya kita nemuin angkringan yang jual sandal jepit di pagi hari yang luar biasa tak terduga itu. Harganya 10 ribu dan sama persis kayak sanadal Apri dari samping Gramedia tadi. Salut! Kita akhirnya tiba di depan rujab. Udah banyak banget orangnya. Layarnya sih gede. Tapi gak enak juga duduk persis di depan layar. Ada banyak polisi yang mengawal acara nobar itu.
Herannya adalah, demi apa coba. Gue ikut-ikutan nobar bola malam minggu itu di depan rumah jabatan gubernur? Gue yang gak tau Lionel Messi itu di grup mana atau apakah Ronaldo sudah punya istri. Gue gak tau. Yang gue tahu, saat bola hampir masuk ke gawang gue teriak. Saat yang wasit kasih kartu kunig, artinya pelanggaran.
Tapi, Juventus kalah malam itu. Nyesal gue dukungmya. Apri sama Tina dukung Real Madrid.
Kita pun kembali pulang dengan jalan kaki, posisi mata tinggal satu garis tipis karena udah ngantuk berat. Udah jam 5 pagi waktu gue tiba di kos. Gue pun tidur setelah cuci muka dan gosok gigi.
Besoknya pas bangun udah jam 11.30. GILA!!!