Sebagai cewek tomboy yang cuek dan tidak
peduli pada beberapa hal, aku pun demikian. Apalagi sejak wisuda, pola hidupku
benar-benar berubah drastis. Aku tak pernah tidur sebelum jam dua belas malam,
dan tidak pernah bangun pagi sebelum jam sepuluh. Dalam satu hari hanya ada
satu kali makan dan satu kali mandi. Sambil nongkrong di depan laptop, entah
itu cari-cari info loker atau nonton film yang baru di upload ke layarkaca21.
Setiap hari rutinitasku berjalan seperti itu. Ya di samping sebenarnya karena
belum punya pekerjaan, sehingga untuk menghemat pengeluaran aku makan hanya
sekali sehari. Juga tidak banyak bergerak supaya tidak cepat lapar.
Hingga suatu pagi yang cerah, perutku nyeri
luar biasa. Sempat terlintas sesuatu yang di buruk di pikiranku dan harus
menuliskan surat wasiat. Namun ternyata aku tidak punya apa-apa untuk
diwasiatkan. Adik-adikku paling akan mendapatkan laptop dan Redmi Note 5A-ku. Karena
adikku ada 3 orang, maka salah satunya harus rela tidak mendapatkan apa-apa
dari kakaknya yang tidak berbakti pada nusa dan bangsa ini.
Sakitnya semakin perih tak tertahankan,
seolah-olah ada yang meremas begitu erat organ perutmu dari dalam. Kuteringat dengan
penyakit ibuku saat aku masih kelas 2 SD. Beliau saat itu teriak kesakitan di
bagian tengah perutnya. Posisinya persis seperti yang kualami, ada jeda sekitar dua
menit baru kambuh lagi. Tanpa ke dokter atau bidan, berbekal tukar informasi dengan emak-emak di kampung kami kurasa, beliau menyimpulkan sendiri penyakitnya itu : angin duduk
(angina). Angin duduknya itu kambuh paling tidak sekali sebulan.
Kuraih HP dan menelpon Butet. Memang siapa lagi yang kupunya. Mungkin saat seperti ini alangkah bermanfaatnya punya pacar.
“Tet, kayaknya aku kena angin duduk.”
Terjadi jeda karena dari seberang belum mengatakan apa-apa. Lalu terdengar suaranya, "Ok, jangan kemana-mana aku kesitu sekarang."
Terjadi jeda karena dari seberang belum mengatakan apa-apa. Lalu terdengar suaranya, "Ok, jangan kemana-mana aku kesitu sekarang."
Saat itu juga Butet meluncur ke kosku. Tanpa tedeng
aling-aling. Ah, dia memang sobat yang paling bisa diharapkan. Kadang aku suka berandai-andai. Karena saking baiknya dia aku yakin kalau suatu saat kami berdua terdampar di hutan dan berhadapan dengan singa, dia akan dengan gagah beraninya
menyerahkan nyawanya dan menyuruhku lari menyelamatkan diri.
Kami ke puskesmas. Dalam hati aku bersyukur
punya BPJS yang selalu kubayarkan setelah jatuh tempo setiap bulan. Dalam keadaan
pengangguran begini, asuransi itu sangat berharga.
“Keluhannya apa, Dek?” tanya resepsionis.
“Uhm, perut saya sakit luar biasa si bagian tengah, Bu. Seperti diremas-remas. Sakitnya setengan menit lalu berjeda sekitar dua sampai tiga menit.”
“Kamu makannya gak teratur ya, suka makan
pedas juga?”
Mungkin penyakit ini sudah terlalu umum diidap masyarakat sehingga bahkan di meja resepsionis saja sudah bisa menebak.
Mungkin penyakit ini sudah terlalu umum diidap masyarakat sehingga bahkan di meja resepsionis saja sudah bisa menebak.
FYI, aku memang penggila makanan pedas. Tak afdol
rasanya jika makan mie instan tanpa sepuluh biji cabai rawit yang dipotong-potong
kecil. Setelah matang, mie itu dibubuhi saos cabe lagi. Nah, itu baru
mantap!
Aku dan Butet menuggu di luar ruangan
poliklinik umum. Butet sedang membaca sesuatu di HP-nya dengan serius, yang
kemudian ditunjukkannya padaku. Artikel yang berisi penjelas angin duduk atau
angina itu
adalah penyempitan pembuluh darah jantung (koroner). Penyebab penyakit jantung
koroner adalah pembentukan plak atau tumpukan lemak di pembuluh darah koroner (aterosklerosis). Pembuluh darah koroner yang sudah menyempit tersebut dapat
makin menyempit saat penderita melakukan aktivitas. Penyakit itu terjadi
pada laki-laki yang berusia 45 tahun ke atas atau perempuan berusia 55 ke atas
(sumber : https://www.alodokter.com/angin-duduk).
Setelah selesai membaca artikel itu, aku dan Butet berpandangan.
Setelah selesai membaca artikel itu, aku dan Butet berpandangan.
“Makanya
aku agak kaget waktu kakak bilang angin duduk. Wah, gak lama lagi nih usianya,
sempat kerpikiran begitu” kata Butet.
Kuangkat
tangan mau menjitak kepalanya, tapi disaat yang sama nyeri di perutku kambuh
lagi begitu menggigitnya, sampai aku harus meremas kuat tangan si Butet mirip
ibu hamil mau melahirkan. Aku melorot dari bangku panjang tempat kami menunggu.
“Aduh,
mana sih dokternya kok belum manggil,” kudengar dia bergumam seolah makin mempertegas peran calon ayah yang menanti kelahiran anak pertamanya.
Namaku
akhirnya dipanggil. Aku masuk ke ruangan itu dan dihadapkan dengan dokter muda
yang adalah cewek cantik bertubuh mungil dengan kacamata segi empatnya. Sambil membaca
catatan di kertas yang kuyakin adalah berkasku, beliau terlihat tenang. Ketika
ditanya apa keluhanku, kusebutkan lagi persis sepertidi resepsionis tadi.
“Kamu
ini kan, masih muda. Tapi udah gak sehat pola hidupnya, ya. Pasti makannya gak
teratur, kan?”
Kubalas
dengan anggukan dan senyuman terpaksa.
“Makanan
pedas juga dikurangi ya, kasihan lambungmu sudah terluka gara-gara gak teratur
diisi, terus harus menerima makanan pedas lagi. Ibarat luka yang disiram dengan air
garam, perih. Mulai sekarang harus hidup sehat ya, dijaga pola hidupnya. Makan tiga
kali sehari, sarapan jangan dilewatkan entah itu satu roti saja, asalkan jangan
kosong. Olahraga teratur, makanan instan dan pedas dikurangi, kalau bisa
dihilangkan.”
Si
dokter menuliskan resep obat yang akan kuminta dari laboratorium puskesmas. Setelahnya
aku dan Butet antri lagi di depan lab.
Ah,
setidaknya bukan angin duduk.
Penyakit itu sangat mematikan kayaknya.
Tapi, kata si dokter aku harus makan tiga kali sehari?
Tolong, aku belum mendapat pekerjaan untuk bisa makan teratur...
Jadi tolong, perut mari kita bersahabat,
.
.
Penyakit itu sangat mematikan kayaknya.
Tapi, kata si dokter aku harus makan tiga kali sehari?
Tolong, aku belum mendapat pekerjaan untuk bisa makan teratur...
Jadi tolong, perut mari kita bersahabat,
.
.
.
![]() |
| ilustrasi galau -harus makan tiga kali sehari |


