Senin, 26 Agustus 2019

ANGIN DUDUK?


Sebagai cewek tomboy yang cuek dan tidak peduli pada beberapa hal, aku pun demikian. Apalagi sejak wisuda, pola hidupku benar-benar berubah drastis. Aku tak pernah tidur sebelum jam dua belas malam, dan tidak pernah bangun pagi sebelum jam sepuluh. Dalam satu hari hanya ada satu kali makan dan satu kali mandi. Sambil nongkrong di depan laptop, entah itu cari-cari info loker atau nonton film yang baru di upload ke layarkaca21. Setiap hari rutinitasku berjalan seperti itu. Ya di samping sebenarnya karena belum punya pekerjaan, sehingga untuk menghemat pengeluaran aku makan hanya sekali sehari. Juga tidak banyak bergerak supaya tidak cepat lapar. 
      
Hingga suatu pagi yang cerah, perutku nyeri luar biasa. Sempat terlintas sesuatu yang di buruk di pikiranku dan harus menuliskan surat wasiat. Namun ternyata aku tidak punya apa-apa untuk diwasiatkan. Adik-adikku paling akan mendapatkan laptop dan Redmi Note 5A-ku. Karena adikku ada 3 orang, maka salah satunya harus rela tidak mendapatkan apa-apa dari kakaknya yang tidak berbakti pada nusa dan bangsa ini.

Sakitnya semakin perih tak tertahankan, seolah-olah ada yang meremas begitu erat organ perutmu dari dalam. Kuteringat dengan penyakit ibuku saat aku masih kelas 2 SD. Beliau saat itu teriak kesakitan di bagian tengah perutnya. Posisinya persis seperti yang kualami, ada jeda sekitar dua menit baru kambuh lagi. Tanpa ke dokter atau bidan, berbekal tukar informasi dengan emak-emak di kampung kami kurasa, beliau menyimpulkan sendiri penyakitnya itu : angin duduk (angina). Angin duduknya itu kambuh paling tidak sekali sebulan.

Kuraih HP dan menelpon Butet. Memang siapa lagi yang kupunya. Mungkin saat seperti ini alangkah bermanfaatnya punya pacar. 
       
“Tet, kayaknya aku kena angin duduk.”

Terjadi jeda karena dari seberang belum mengatakan apa-apa. Lalu terdengar suaranya, "Ok, jangan kemana-mana aku kesitu sekarang."

Saat itu juga Butet meluncur ke kosku. Tanpa tedeng aling-aling. Ah, dia memang sobat yang paling bisa diharapkan. Kadang aku suka berandai-andai. Karena saking baiknya dia aku yakin kalau suatu saat kami berdua terdampar di  hutan dan berhadapan dengan singa, dia akan dengan gagah beraninya menyerahkan nyawanya dan menyuruhku lari menyelamatkan diri.

Kami ke puskesmas. Dalam hati aku bersyukur punya BPJS yang selalu kubayarkan setelah jatuh tempo setiap bulan. Dalam keadaan pengangguran begini, asuransi itu sangat berharga.

“Keluhannya apa, Dek?” tanya resepsionis.
“Uhm, perut saya sakit luar biasa si bagian tengah, Bu. Seperti diremas-remas. Sakitnya setengan menit lalu berjeda sekitar dua sampai tiga menit.”

“Kamu makannya gak teratur ya, suka makan pedas juga?”

Mungkin penyakit ini sudah terlalu umum diidap masyarakat sehingga bahkan di meja resepsionis saja sudah bisa menebak. 
FYI, aku memang penggila makanan pedas. Tak afdol rasanya jika makan mie instan tanpa sepuluh biji cabai rawit yang dipotong-potong kecil. Setelah matang, mie itu dibubuhi saos cabe lagi. Nah, itu baru mantap!

Aku dan Butet menuggu di luar ruangan poliklinik umum. Butet sedang membaca sesuatu di HP-nya dengan serius, yang kemudian ditunjukkannya padaku. Artikel yang berisi penjelas angin duduk atau angina itu adalah penyempitan pembuluh darah jantung (koroner). Penyebab penyakit jantung koroner adalah pembentukan plak atau tumpukan lemak di pembuluh darah koroner (aterosklerosis). Pembuluh darah koroner yang sudah menyempit tersebut dapat makin menyempit saat penderita melakukan aktivitas. Penyakit itu terjadi pada laki-laki yang berusia 45 tahun ke atas atau perempuan berusia 55 ke atas (sumber : https://www.alodokter.com/angin-duduk). 

Setelah selesai membaca artikel itu, aku dan Butet berpandangan.

“Makanya aku agak kaget waktu kakak bilang angin duduk. Wah, gak lama lagi nih usianya, sempat kerpikiran begitu” kata Butet.
Kuangkat tangan mau menjitak kepalanya, tapi disaat yang sama nyeri di perutku kambuh lagi begitu menggigitnya, sampai aku harus meremas kuat tangan si Butet mirip ibu hamil mau melahirkan. Aku melorot dari bangku panjang tempat kami menunggu.

“Aduh, mana sih dokternya kok belum manggil,” kudengar dia bergumam seolah makin mempertegas peran calon ayah yang menanti kelahiran anak pertamanya.

Namaku akhirnya dipanggil. Aku masuk ke ruangan itu dan dihadapkan dengan dokter muda yang adalah cewek cantik bertubuh mungil dengan kacamata segi empatnya. Sambil membaca catatan di kertas yang kuyakin adalah berkasku, beliau terlihat tenang. Ketika ditanya apa keluhanku, kusebutkan lagi persis sepertidi resepsionis tadi.

“Kamu ini kan, masih muda. Tapi udah gak sehat pola hidupnya, ya. Pasti makannya gak teratur, kan?”
Kubalas dengan anggukan dan senyuman terpaksa.

“Makanan pedas juga dikurangi ya, kasihan lambungmu sudah terluka gara-gara gak teratur diisi, terus harus menerima makanan pedas lagi. Ibarat luka yang disiram dengan air garam, perih. Mulai sekarang harus hidup sehat ya, dijaga pola hidupnya. Makan tiga kali sehari, sarapan jangan dilewatkan entah itu satu roti saja, asalkan jangan kosong. Olahraga teratur, makanan instan dan pedas dikurangi, kalau bisa dihilangkan.”

Si dokter menuliskan resep obat yang akan kuminta dari laboratorium puskesmas. Setelahnya aku dan Butet antri lagi di depan lab.

Ah, setidaknya bukan angin duduk.
Penyakit itu sangat mematikan kayaknya.

Tapi, kata si dokter aku harus makan tiga kali sehari? 

Tolong, aku belum mendapat pekerjaan untuk bisa makan teratur...

Jadi tolong, perut mari kita bersahabat,

.
.

.
ilustrasi galau -harus makan tiga kali sehari 













Jumat, 16 Agustus 2019

Kegalauan Seorang Jobseeker yang Salah Jurusan


Cewek itu setidaknya punya salah satu diantara ini.

Kalau gak cantik, pintar masak. Ya enggak mesti pintar-pintar amat kayak koki profesional juga. Tapi bisa masak beberapa menu untuk makan siang dan malam sudah lebih dari cukup. Kalau dia cantik, pasti dapat kerja mudah. Kalau dia pintar masak, pasti jadi istri dan ibu idaman. Keluarga bahagia.

Dalam dunia per-jobseeker-an, keahlian memasak memang belum dipertanyakan, kecuali anda apply ke restoran. Namun tampang sangat berperan, apalagi kalau kerjaannya berhubungan sama melayani pelanggan seperti kerja di bank. Aku udah paham bahwa tinggi badan minimal yang diminta tidak terpenuhi. Tapi ya, tetap datang untuk wawancara awal ke kantornya. Mungkin karena bank BRI udah punya kredibilitas, jumlah pelamar memadati gedung yang terletak di samping alfamart itu. Sudah kuduga akan sebanyak itu. Agak lega rasanya mendapati beberapa diantara mereka juga ada yang tingginya di bawahku. 

Kebanyakan mengenakan setelan formal. Ada satu cewek yang tingginya setara denganku, mengenakan rok hitam pendek di atas lutut. Oke, dia cantik. Mungkin seksi akan membuatnya semakin dipertimbangkan. Tapi ini dunia perbankan, bukan pemotretan majalah pria dewasa.

Setelah kuamati lagi ternyata ada juga beberapa teman sekampusku yang ikut. Salah satunya adik tingkatku yang tinggi kami kalau gak salah, dia masih lebih pendek 1 cm di bawahku. Tapi dia punya kelebihan lain. Dia cantik.

Sebelum masuk ke ruang interview, peserta diukur dulu tinggi dan berat badannya lalu dituliskan angkanya di sampul map berkas lamaran. Astaga, tinggiku bahkan tidak menyentuh angka 155. Apakah masih diperbolehkan pulang?

Di ruang interview aku dan seorang peserta cowok dihadapkan pada interviewer cowok bertubuh jangkung dan gempal. Tadinya aku ingin melepas kacamata untuk menghilangkan, bukan, menutupi satu kelemahan yang kupunya. Namun kuputuskan untuk tetap memakainya karena takut tersandung akibat gak bisa lihat jalan. Pertanyaannya standar dan selalu seperti di video-video yang kutonton di youtube. Namun rasa gugup lah yang membuatku yakin tidak akan bisa lanjut ke tahap seleksi berikutnya. Oh ya, dan tentu saja tinggi badanku yang tidak seberapa itu. 

Dua minggu kemudian, aku melihat postingan hasil rekrutmennya di instagram. Hasilnya mengejutkan karena justru yang terpilih adalah....

jeng..jeng..jeng...

Si cewek seksi dan adik tingkatku yang kubilang 1 cm lebih pendek dariku itu. 

Ya, ternyata untuk posisi frontliner tinggi tidak begitu dipermasalahkan? Asal cantik aja, hiring !

Jika diberikan kesempatan dilahirkan kembali nanti, aku ingin terlahir sebagai cewek jangkung nan seksi yang tatapannya bikin kejer perekrut. Lihat saja nanti.!! Hahahah.

Bisa mengeluh gak sih? Bisa lah ya kan, ini postingan awak juga!

..Ketika gue gak mau kerja sesuai jurusan gue, tapi pas lamar di bidang lain tampang dan fisik juga tidak memungkinkan.

..Ketika gue mendapat kabar bahwa gue diterima di PT Top Food Indonesia yang mau buka cabang di kota ini, sehingga gue menolak panggilan test dari Ruangguru.

..Ketika kabut asap melanda kota ini, sehingga PT Top Food Indonesia menunda jadwal opening-nya di kota ini hingga minggu kedua September 2019 padahal gue sudah menolak Ruangguru dengan PD-nya.

..Ketika ada alumni organisasi gue yang bikin stasiun tv lokal dan ngajak bergabung, tapi dia minta gue ikut pelatihan di stasiun tv lokal tetangga dulu, namun stasiun tv lokal tetangga itu belum memberi gue kabar untuk ikut seleksi awal, sementara dua teman gue yang lainnya udah ikut wawancara dan tes (kata Anita lagi-lagi karena tampang gue tidak menjanjikan untuk posisi reporter)

..Ketika gue diminta seorang teman untuk drop CV ke organisasi NGO yang mana senior gue ada di dalamnya, tapi kata direktur NGO itu berkas gue disimpan dulu nanti kalau ada pelatihan organisasi gue ikut baru bisa diterima sebagai staff dan itu pun kontrak

..Ketika gue menghemat pengeluaran menjadi makan sekali sehari paginya teh manis doang, tapi kemudian berakhir ke rumah sakit (untung ada bpjs yang selalu telat gue bayar iurannya tiap bulan)

..Ketika gue harus makan rutin 3x sehari nasihat dari dokter dan dikasih obat, tapi ternyata sikon keuangan gue sangat tidak memungkinkan bahkan untuk makan 2x sehari saja

..Ketika kakak gue menawarkan untuk cari kerja di Batam, tapi uang buat beli tiket gue gak punya.

..Ketika seharusnya gue biayain adik gue kuliah, eh malah gue yang minta uang sama dia (dia lulus SMK langsung cari kerja ke Batam)

..Ketika gue dapat telpon dari tante yang waktu SMA merawat gue di rumahnya tapi gak bisa gue angkat (malu, masih nganggur)

..Ketika emak minta gue pulang aja dulu ke kampung akhir tahun 2019 ini, tapi lagi-lagi gue gak punya uang buat beli tiket.

..Ketika gue pengen nulis kisah hidup, buat dijadikan novel tapi selalu berakhir tidak selesai karena pikiran gue gak bisa fokus (gue mesti secepatnya punya kerjaan untuk menyambung hidup)

..Ketika gue diajakin nongkrong sama teman seangkatan yang udah kerja, yang mana dia bawa ceweknya. (Gile sih tuh orang, mau nostalgia apa pamer kemesraan?)

..Ketika sobat gue mau sidang akhir skripsi tapi gue gak bisa ngasih apa-apa ke dia (lagi-lagi gegara gue gak punya duit)

ilustrasi galau - harus kerja dimana sesuai kemampuan?









Senin, 12 Agustus 2019

Indomaret, 08-08-2019

Hi, namaku Catpussy. Aku kucing betina yang suka tidur di bawah motor yang parkir di depan Indomaret dekat rumah majikanku. 



Pagi ini aku tidur di bawah motor beat yang besar sehingga aku terlindungi dari panas matahari tetapi lantai di bawah punggungku hangat. Aku baru berbaring 15 menit dan mulai masuk ke alam mimpi. Tiba-tiba ada yang mengangkat tubuhku. Mimpiku terpotong. 





Aish! Aku kesal. Hampir saja paha ayam goreng besar itu berhasil kucuri dari penggorengan. 





Kubuka mata dan kulihat siapa yang mengangkatku. Ternyata dia wanita berjilbab. Dengan 

lembut diletakkanya aku di atas rumput tak jauh dari area parkir. Ketika dia kembali lagi ke 

motornya, gadis itu tampak kebingungan karena kunci motornya tidak masuk. Lalu 

ditepuknya jidatnya dan pergi meninggalkan motor itu dan menghampiri motor lain yang 

persis seperti motor sebelumnya. 


Ternyata gadis berjilbab itu salah motor. Kulihat dua gadis lain pelanggan Indomaret yang 


terkikik. Setelah si gadis berjilbab pergi, keduanya ngakak kuat-kuat. Keduanya mengamati 

dari awal bagaimana si cewek berjilbab tadi memasukkan kunci ke motornya. 


Ah, ganggu tidur siang sajah!








ilustrasi kesal

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...