Minggu, 30 Agustus 2020

Perseteruan dengan orang yang tidak punya kecerdasan EMOSIONAL

Manusia diberikan tiga jenis kecerdasan oleh Tuhan. Kadang satu kecerdasan lebih menonjol dibandingkan yang lain. Bisa jadi hal itu berbahaya. Misalnya seseorang punya kecerdasan intelektual yang menonjol, tapi kecerdasan emosionalnya merosot. Seperti seseorang yang kukenal di kantor. Sebut aja namanya 'Bangsul'. 

Si Bangsul ini adalah orang yang menemaniku meeting dengan klien di Bogor. Menurut peraturan kantor, jelas itu klienku karena aku yang pertama kali canvassing dengan beliau dari database kantor. Tapi entah karena kurang beruntung, si Bangsul memanfaatkanku mentang-mentang aku anak baru yang masih polos. Dia menghalalkan berbagai cara supaya aku tidak ikut meeting di hari-hari berikutnya hingga si klien India ini deposit. 

Pada hari si Bapak India itu deposit, Bangsul sengaja hanya menampakkan bukti transfer 100 juta di grup WA. Padahal di hari itu, klienku tersebut deposit 350 juta. Ya, dia mengklaim 250 juta lagi adalah miliknya. 

Aku jelas protes. Hal pertama yang kulakukan adalah protes kepada tim leader. Tapi Pak Charli malah memintaku untuk tetap tenang dan mengikuti rencana beliau.

"Lagian kita tidak ada bukti, Len. Berapa pun klien kamu itu deposit, kita tidak tahu. Bangsul memang sudah merencanakan ini dari awal. Tapi percayalah, otak picik seperti itu tidak akan kemana."

Aku membunyikan lonceng tanpa semangat, mencatat nama di white board dan menulis jumlah deposit. Hanya ada tiga nama di papan yang baru mendapat deposit, aku salah satunya. 

Menurut Pak Charli, kasusku ini seandainya dibawa ke ruangannya bos bule Oscar atau Carol juga gak akan berhasil. Lagi-lagi karena bukti transfer yang tidak kumiliki. Mau minta sama klien itu? Tidak yakin bakalan dikasih. Dari awal meeting kedua dia juga pasti dicuci otaknya sama si Bangsul kampret. Bisa aja dia bilang, 'dia itu anak baru, Pak. Udah sama saya aja.'

Padahal kalau dihitung-hitung, total yang kudapat (seandainya Bangsul gak main kotor) ; 17.000.000


Iya, segitu. 


- keesokan harinya, jam makan siang -

Si Bangsul gak ngantor. Hal ini seolah menguatkan fakta kalau ia bersalah. Dia memang bersalah, karena udah menikung aku, kan? Bangke sekali dia tidak masuk. Tangan dan mulut sudah gatal ingin bereaksi. 

"Len, masa lu rela deposit lu ditikung si Bangsul?" Bang Ayub membuka percakapan. Siapa sih yang rela juga. Kubalas dengan mengangkat bahu malas.

"Coba SMS saja si Bangsul. Pertanyaan begini, 'Bangsul ternyata klienku deposit 350 juta ya?' Ini kan di papan baru kutulis 100 juta. Aku nambahin di papan aja ya, gak usah bunyikan lonceng lagi?'"

Ide ini dari Bang Febri, orang batak yang mahir ngomong pake 'lo-gue'.

Kukeluarkan HP dari saku dan mengirimkan WA persis seperti ide Bang Febri. Setelah terkirim, kami kembali mengobrol tentang lowongan pekerjaan di broker lain. Iya, udah tau dapat klien yang mau deposit susah, malah nyari kerjaan di broker lagi, broker lagi. 

Kulirik layar HP-ku yang menyala tanda ada WA masuk. Setelah dicek, ternyata dari si Bangsul. Tapi pesannya sudah dihapus tanpa sempat kubaca. 

Anj**g banget ya. 

Setelah jam makan siang berakhir, Pak Charli dipanggil Oscar ke ruangannya. Mereka hanya mengobrol sebentar. Begitu keluar dari ruangan Oscar, Pak Charli mengajakku ke ruangan meeting.

"Jadinya sisa yang 250 itu dianggap redeposit," katanya begitu pintu dibelakangku tertutup.

"Apa?"

"Jadi redeposit."

Hatiku mencelos. Persen untuk redeposit sangat kecil, hanya 0.5%. Dibandingkan kalau 350 juta itu terhitung sebagai deposit awal dikalikan 4%.. Duh! Bangke banget si Bangsul. Pengen cakar-cakar mukanya sampai hancur gak berbentuk.

Sisa hari itu kulewati dengan hati tidak tenang. Alih-alih menelepon, kurangkai kata-kata yang tepat untuk membalas perbuatan si Bangsul yang tidak punya kecerdasan emosional itu. Kayaknya waktu sekolah dia selalu cabut saat pelajaran PKn dan Agama. 

'Jadi begini ya, caramu nyari uang? Memperdaya anak baru yang masih belum tau banyak. Kau kira aku bakalan diam, hah? Kau gak pantas dibiarkan. Sampai ketemu besok di kantor. Oh iya, aku lupa. Kau kan pengecut, mungkin aja besok gak masuk.'

Pesan itu kukirimkan hari Minggu pagi. Aku lupa besok itu libur 17 Agustus. Bodo amatlah, yang penting terkirim. Tentu cuma di-read tanpa balasan. Kan sudah kubilang dia itu pengecut. 

Gak puas sampai disitu, kukirim juga pesan ke si bos Oscar. Tadinya mau minta translator kantor yang bantuin, berhubung WA-ku gak di-read, jadilah kumanfaatkan google translate : 

Good afternoon, Sir. Sorry for bothering your weekend. I am Magdalena. I still remember clearly how I phoned the client, he did seem interested and asked to meet him soon. If that day I never called him, maybe there will be no next meeting or even a deposit. Of course I am not saying 100% is my effort the client deposits today, because there is a support team in it.

I know you talked to Mr. Charles the other day about this, but I still don't think it's fair. I am a new kid at the office, but I feel that this is not quite right. I don't demand 100%. If you wish, maybe we can discuss it in the office on Tuesday with full personnel.

Thank you.

Terlihat kontras isi dua pesan yang kukirim ke Bangsul dan Oscar. Ke si Bangsul jelas pesan berisi sindirian bahwa dia itu pengecut. Ke si Oscar lebih ke curhat atas perlakuan kurang adil yang diterima. Kurang dari 20 menit, si Oscar udah balas : 

Hello Magdalena, of course we can always talk, keep the spirit on Tuesday and Wednesday and next Monday I guarantee You that we will figure it out, I always pay my people for the work they did, good that You are texting me, I will figure out some bonus for You that you will like it. Have a good weekend and keep the spirit

Kubalas : Ok, thank you Sir. Have a good weekend👌

Semoga si Oscar gak omdo = omong doang !

Sekitar jam 2 sore, ada telepon masuk dari Pak Charli. Wih, gak enak nih perasaanku. Jangan-jangan ...

"Len, saya kan udah bilang urusan dengan Bangsul udah kelar. Saya juga udah bilang kan, nanti akan bantu kamu. Saya ada klien yang mau deposit 50 juta, nanti saya kasih ke kamu biar HP-nya bisa buat kamu.'

Ada perasaan menggelegak yang membuncah di dada ini begitu beliau ngomong demikian.

"Pak, saya diperlakukan tidak adil. Saya ditipu, Pak -"

"Kamu bukan ditipu, diperdaya iya. Hati-hati dengan ucapan, salah-salah kamu malah bisa dituntut balik kare-"

"Gak peduli saya, Pak. Itu kantor memang gak jelas. Tidak jelas batas tugas telemarketingnya sampai dimana, tugas retention sampai dimana. Kejadiannya malah begini, kan? Ada retention yang melarang telemarketingnya ikut meeting dengan kliennya sendiri. Saya tau, itu kebodohan saya. Makanya saya makin marah."

"Kamu percaya sama saya. Oscar kan udah bilang sisanya jadi redeposit, bukan deposit awal. Kamu tau gak, WA kamu ke Bangsul itu dia ngadu ke Oscar. Oscar nge-WA saya. Hari Selasa deh kamu liat ya. Kan saya udah bilang, percaya sama plan yang saya rencanakan tap-"

"Maaf, Pak. Saya udah gak bisa percaya sama siapa lagi di kantor. Gak ada yang bisa dipercaya lagi orang-orang di sana. Mohon maaf kalau bapak tersinggung. Mungkin Selasa saya masuk hanya mau kasih surat resign. Udah gitu aja."

"Len, jangan mengambil keputusan di saat emosi kamu gak stabil. Yang ada nanti malah penyesalan, Len. Kamu ikuti aja arahan saya dulu, tetap masuk seperti biasa sampai gaji dan komisi dibayar."

Tut.

Kuputus sepihak. Apa-apaan Pak Charli itu. 



------------------



Kamis, 20 Agustus 2020

Malam Minggu Penuh Petualangan


Malam minggu kali ini lebih malam minggu daripada biasanya. Bukan karena ada yang ngapelin. Tapi karena beberapa kejadian random yang aku alami bersama si kampret Meika. Iya, dia cewek. Pertemanan kami sudah dimulai semenjak SMP. Kurang lebih sudah 10 tahun aku mengenalnya. Dia udah tau busuk-busuknya aku, demikian sebaliknya.

Petualangan kami dimulai ke PGC. Ada teman semasa kuliah yang minta tolong dibelikan sampel kaos cowok untuk dikirimkan ke Kalimantan. Katanya dia mau buka toko baju eceran gitu. Nah, sesuai namanya PGC – Pusat Grosir Cililitan kesanalah aku dan Meika berangkat. Tapi ternyata nama itu tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

“Namanya aja itu mah, Mbak. Di sini eceran semua. Saya sudah 12 tahun jualan di sini tapi gak ada tuh grosir pakaian atau grosiran apapun,” kata seorang bapak penjual kaos cowok.

Iya, tadinya aku mau beli kaos sampelnya dari penjual grosiran aja supaya lebih murah. Eh, malah begitu kejadiannya. Tapi kita berdua gak menyerah. Langsung menuju lantai 3 buat mencari lebih teliti lagi.

“Gak di sini mah, Mbak. Kalau grosiran kaos paling di pasar Jatinegara,” begitu kata penjual kaos anak-anak.

“Pasarnya buka sampai jam berapa biasa, Bu?”

“Jam 4 sore.”

Demi saat itu sudah jam 14.33, aku dan Meika bergegas turun mengejar pasar Jatinegera masih buka. Tapi kami malah dicegat mbak-mbak berjilbab dari belakang dan diberi tiket beli barang gratis katanya. Tepatnya dipaksa.

“Kita lagi buru-buru, Mbak,” jawab Meika. Aku mengiyakan di belakang. Muncul cowok ganteng temannya si mbak itu. “Gak apa-apa, gak lama kok Kak. Sebelah sini gerainya kita.”

Gak apa-apa gimana, udah dibilang lagi buru-buru ngejar pasar Jatinegara tutup. Entah karena kasian nolak atau kami berdua yang terlalu ogeb, jadilah kami berdua dibawa ke tokonya dan didudukkan di atas kursi plastik rendah mirip kursi anak TK. Mulailah ditanya-tanya sama si mbak jilbab ini tentang nama dan tempat kerja. Sempat-sempatnya dia nanya ada lowongan gak di tempatku. Setelah itu dia nunjukin barang-barang yang masuk kategori kebutuhan tersier dalam kamus hidupku. Barang-barang seperti : sliming suit, i-care buat mata minus, alat catok wajah, happy call, head band pengurang lemak, dll. Dia pun nanya kira-kira mana barang yang paling pengen didapat.

“Ya kalau sesuai kebutuhan saat ini sih paling yang buat mata minus itu,” kuilang. Sementara Meika nunjuk wajan happy call. Padahal dia belum emak-emak perasaan. Kemudian aku diminta pilih sekumpulan amplop yang katanya berisi berbagai hadiah. Asal ambil, ampolp itu disuruh kubuka. Tampaklah kupon hadiah bertuliskan ‘potongan 900 ribu’.

“Kak Lena mau ngambil produk apa?” tanya si mbak jilbab.

What? Ini salah satu jenis trik marketing baru kali ya. Pura-pura aja dibilang kita dapat kupon potongan harga, biar merasa kehilangan kalau kuponnya gak dipakai. Biar kita tergiur beli produknya. Heh, emang muka kita keliatan amat ya ndesonya yang bisa ditipu gitu? Eh, kita orang lagi buru-buru mau ke pasar Jatinegara loh!

“Mbak, kupon hadiahnya buat mbak-nya aja. Saya gak tertarik ya, terima kasih.”

Jadi begini rasanya menolak orang. Tiap hari di kantor gue nelpon database nawarin investasi saham dan 89% menolak dengan bilang ‘gak tertarik’.

Sesuai petunjuk petugas busway, aku dan Meika berhasil turun di halte stasiun Jatinegara. Kebetulan dekat situ ada bangunan mirip pasar senen jaya. Ke sanalah kami bergegas. Dasar duo kupret gak baca tulisan di gedungnya itu pasar jatinegara atau bukan. Setibanya di dalam kami disambut dengan oleh penjual batu akik. Sepanjang mata memandang hanya ada bapak-bapak dan batu akik. Berasa berada di sarang penyamun.

“Nyari apa, mbak?” tanya seorang bapak berkumis. Tuh kan, disapa duluan. Mpuss deh!

“Di sini gak ada yang jualan kaos grosiran, Pak?”

“Itu mah gak ada di sini atuh. Di pasar jatinegara.”

“Loh, ini bukannya pasar jatinegara ya, Pak?”

“Bukan.”

Jadilah aku dan Meika keluar dari sana dengan diiringi tatapan beberapa lelaki yang tidak tau buaya darat atau bukan. Mata mereka itu loh, kayak gak pernah liat makhluk bernama cewek. Aku juga apa-apan sih pake dres segala. Gak kepikiran rencana beli kaos bakala segitu ribetnya.

Sesuai petunjuk satpam, kami naik angkot dan turun dekat halte busway pasar jatinegara. Kali ini barulah benar. Setelah keliling-keliling di dalam, kami menemukan penjual wanita yang kebetulan memang grosir kaos. Tapi pas kutanya dia ngambil barang darimana eh gak mau kasih tau.

“Mana mungkin dia mau kasih tau, Get. Nanti kau malah gak jadi beli ke dia,” komentar Meika begitu kami selesai beli kaosnya. Dia sendiri jadi ikutan belanja – beli seprai yang satu set sama sarung bantalnya.

Kami memutuskan buat gak langsung pulang, tapi nge-WA beberapa teman masa SMA yang kerja di Jakarta juga untuk ketemuan di kota tua. Apesnya begitu sampai di sana ternyata alun-alun (apapun itu namanya) kota tua belum dibuka karena corona. Padahal kawan awak udah otw, eh tempat kongkow malah belum dibuka. Jadinya kami berdua cus ke dalam stasiun dan memutuskan KFC sebagai tongkrongan. Sejam kemudian datang si Desri sama si Gokki. Desri jadi teller di BCA, Gokki jadi audit di Indomaret. Sesuai jurusan kuliah? Enggak tuh.

Seperti halnya orang-orang yang sudah lama tidak bertemu, kami juga demikian. Setiap orang menceritakan kisahnya sambil sesekali kami terbahak kalau ada hal lucu. Mengenang masa SMA dulu, kabar kawan-kawan yang lain udah dimana. Sampai nanya loker di tempat masing-masing.

“Coba aja walk in interview, Magda. Lengkapi berkas persyaratannya, terus datang ke HO-nya yang di Ancol,” si Gokki menawarkan.

“Ada posisi apa aja yang nerima semua jurusan?” kutanya.

“MT ada tuh. Tapi kayaknya ada persyaratan tinggi badan.”

Kampret, si Gokki langsung mengernyitkan keningnya melihat tinggiku yang mungkin gak berubah sejak SMA.

“Iya, iya. Tau kok aku pendek.”

Mereka bertiga ngakak so hard.

Jam 9 kami diusir. Iya, KFC-nya udah tutup. Karena belum pengen pulang, kami pun mencari tempat baru. Di dekat museum-museum bank di kota tua ternyata ramai banget. Alun-alun kota tua yang biasa seperti pindah ke sana. Banyak penjual makanan, pengamen, seniman jalanan. Aku malah kepincut beli boneka BT21 Shooky yang lagi diskon jadi 35 ribu. Astaga, aku masih juga belum dewasa. Beli sesuatu karena ingin, bukan karena kebutuhan.

Belum sampai 30 menit duduk di lesehan yang disediakan pedagang kaki lima di sana, sudah ada sekitar 15 pengamen yang menghampiri. Si Gokki sampai pegal mengangkat tangannya – menolak secara halus. Sekitar jam 11 lewat 20 mnit barulah kami berpisah. Sialnya di tengah jalan hujan turun dengan derasnya. Gojek yang membawaku pulang hanya punya satu jas hujan katanya. Terpaksa kami berteduh di bawah flyover. Sekitar jam 2 subuh baru berhasil sampai di kosan.



Tiga lawan satu


 

Rabu, 12 Agustus 2020

Om senang, om bayar

 

Demi tidak dipotong allowance-nya bulan ini, satu-satunya cara adalah dengan menelpon klien sampai muntah. Koreksi : calon klien. Masalahnya database yang disediakan kantor belum di-filter. Tak heran kalau banyak yang mengaku masih pengangguran, mahasiswa, kuli bangunan. Bahkan pernah ada yang berkata, ‘Maaf, Mbak. Saya lagi ribet. Istri tua dan istri muda saya sedang bertengkar. Menurut mbak saya harus bela yang mana?’

Bodo amat pak! Lu kate gua penasihat kisah romansa.

Sekali lagi, satu-satunya cara bertahan hidup di perusahaan pialang berjangka adalah : telepon terus nomor yang ada di databasemu. Gak ada lain. Itulah prinsip yang kutanamkan sendiri dalam benakku dalam minggu-minggu awal bergabung di sini. Karena kita gak tau orang seperti apa yang akan mengangkatnya. Apakah dia orang kaya, pengangguran, bussinisman atau anak presiden. Maklum, anak baru. Masih on fire lah. 

Kalau saat masih briefing tim dan mendengarkan ocehan Charli, rasa-rasanya mendapatkan deposit 25 juta sangat mudah. Mendengar tips and trick ala beliau, mendengar jokes-nya yang kadang kotor (maklum, tim kami dominan cowok). Tapi begitu keluar dari ruangan briefing dan berada di meja sendiri, otak langsung mumet. Kalau saja hanya dengan ikut briefing tim bisa deposit.

Tiba-tiba aja gitu kan, ada klien yang nelpon. “Ini Lena dari perusahaan pialang berjangka yang kemarin nelpon saya ya? Saya hari ini mau deposit, Mbak – 200 juta. Sini nomor rekeningnya!”

 

Sampai Sponge Bob pindah rumah pun kayaknya gak bakalan kejadian. Sponge bob kan, udah betah tinggal di rumah nenasnya.

 

Dan untuk bulan baru, kontes baru juga sudah dimulai lagi. Yang mendapatkan deposit pertama senilai 250 juta akan mendapatkan Samsung A71 dari bos bule.

 

“It doesn’t matter 1 account or more. The first get deposit 250 jt, come to my room and take your prize!”

Oh jadi bisa akumulasi. Misalnya hari ini ada yang klien yang deposit 50 juta, besoknya 25 juta, besoknya 100 juta. Begitu terus sampai tercapai 250 juta.

Demi apa. Aku ngiler dong. Dibanding kontes motor aku lebih suka dapatin HP itu. Naik motor di Jakarta itu gak akan berhasil buatku. Di sini pengendaranya sadis-sadis. Ditambah juga screen HP Xiaomi-ku sudah mulai berulah. Ini kesempatan yang bagus untuk ganti HP.  Maka tujuan hidupku pun berubah. Setiap hari doaku adalah DEPOSIT (selain pengen nonton konser BTS di posisi paling dekat stage). Dari jam 09.00-17.45 semangat mengobrak-abrik database.

 

“Kalau boleh tau domisili daerah Jakarta, bukan Bu?”

“Loh, bukannya situ sudah punya data saya, kenapa nanya lagi?”

“Mohon maaf, Bu. Kita hanya punya data nama dan no Hp Ibu, yang lain tidak ada.”

“Situ dapat nomor saya darimana?”

“Data random saja, Bu yang sudah disediakan tim terkait kami.”

Percayalah, di setiap tempat kerja baru otak lu bakalan dicuci sama perusahaan yang baru dimasuki. Gini contohnya, jadi jago nge-bulshit. Padahal yakin 100% paling perusahaan membeli data itu dari bank atau apalah.

“Yaudah, gak usah telepon saya lagi.”

“Loh, kenapa Ibu? Yang saya mau sampaikan kan bukan informasikan merugikan untuk ibu atau data anda saya salah gunakan. Kenapa tidak didengarkan saja dulu informasinya.”

“Saya ini bukan pengangguran.”

JLEB.

“Oh, anda bukan pengangguran. Baik, saya minta maaf sekali karena sudah berani mengganggu waktu anda yang sangat berharga. Selamat siang.”

 

Kubanting pelan HP nokia senter itu. Untung dia sudah kebal, jadi gak langsung pecah. Aku memutuskan cuci muka ke toilet.

 

“Jadi nanti bapak buka akun, Pak. Kebetulan di kita ada dua, akun demo dan akun real. Akun demonya ini gratis, bap – “

“Saya mesti ketemu you ini. kalau dijelaskan begini saya gak bisa paham.”

BAM! Jantungku langsung terpacu lebih cepat dari sebelumnya. Aku gak salah dengar, kan? Barusan ada calon klien yang mengajak meeting? Menurut Charli ada 3 tipe klien. Pertama, small – klien yang gak mau dengerin kita ngomong. Kedua, medium – klien yang mau dengerin ngomong, tapi gak punya uang untuk memulai. Ketiga, hot – klien yang interest, mau ngajak meeting hingga benar-benar deposit.

“Oh, boleh Pak untuk meeting. Bapak kirimkan saja alamat lengkapnya nanti saya yang datang ke tempat bapak.”

“Oke, nanti saya wa.”

Setelah memutuskan telepon, aku penasaran dengan wajah orang itu. buru-buru ku-save nomornya buat ngecek profil WA-nya. Tampaklah sepasang orang tua yang sedang menggendong anak kecil masing-masing. Si bapak sudah mulai beruban dan mirip dengan Amitabh Bacan, sementara wanita di sebelahnya masih cantik dan muda sekali.

 

“Coi, menurutmu bapak ini orang India, bukan?” kutanya si Firman di sebelahku. Eh, ternyata dia masih nelpon.

“Sen, ini orang India kan, ya?” aku berbalik mau nunjukin ke Sendi di belakangku. Eh dia lagi nelpon juga.

Kuputuskan untuk chat si bapak menanyakan alamatnya untuk meeting. Bagus kalau aku yang pergi menemuinya. Sekali-kali keluar kantor seru kali ya. Beliau tidak lama membalas chat-ku. Segera kucek perusahaan dan alamat yang dimaksud di google. BAM! Kamlesh Kalwani, beliau direkturnya! Entah kenapa jantungku langsung excited dan mulai senam di dalam sana. Kubuang ajakan sesat pikiranku untuk menghitung besar komisi yang kudapat seandainya beliau deposit. Masih teralalu dini!

 

“Bagus, Len. Bagus! Kapan meetingnya? Kasih tau Rosadi aja.”

Hanya itu yang keluar dari Pak Charli.

Sebagai anak baru, tentu aku gak berangkat sendirian untuk bertemu klien itu di Bogor. Iya, di Bogor. Tadinya sih, pengen pake rok ya kan. Tapi mengingat bakalan naik transportasi umum, niat itu kubatalkan.

“Bang, kirain tadi mau naik mobil si bos Oscar.”

Rosadi, tim support yang berangkat denganku kayaknya kurang senang apa gimana. Mukanya kayak gak enak. Kurang tidur mungkin? Pertanyaanku pun terabaikan.

 

Kami tiba di alamat yang dikirimkan Pak Kalwani via WA. Disambut sama bapak-bapak yang kalau di film India selalu jadi polisi.

“Mau ketemu Pak Raja?”

 

Loh? Bukannya namanya Kamlesh Kalwani?

“Bukan, Pak. Mau ketemu Pak Kalwani,” jawabku. Si Rosadi cuma main HP.

“Iya, Pak Kalwani itu Pak Raja.”

 

Kami dibawa ke ruangan beliau. ruangannya sih sederhana. Tak lama kemudian seorang lelaki India muncul. Beliau pasti Pak Raja alias Pak Raja.

Karena masih dalam PSBB jabat tangan digantikan dengan salam khas Buddha. Ituloh yang kedua telapak tangan dirapatkan didepan dada.

 

“Jadi pabriknya di sini, Pak?” tanyaku menyimpang. Kami kan mau meeting soal investasi saham, bukan mau negosiasi harga marmer dua kubik truk.

“Ya, pabriknya di sini. Saya sudah 3 generasi di sini.”

“Wah, sudah lama berarti, Pak. Kirimnya paling jauh kemana Pak pernah?”

“Sulawesi.”

 

Selanjutnya adalah percakapan serius antara Rosadi dan Pak Kalwani. Aku duduk manis setelah mengambil foto keduanya sedang mengobrol dan meng-uploadnya di grup. Biar dilihat si Oscar sebagai bukti. Soalnya untuk meeting di luar kantong kan, memang dikasih uang transport. Dia langsung komen dong, ‘deposit 1 M’.

1 M.. Lu pikir semudah itu, Fergustav?!

“Kalau saya deposit 250 juta Mas Adi, kira-kira itu sudah bisa untuk beberapa saham ya?”

 

Wihhh? 250 juta?? Yang benar Pak Kalwani??!

Rosadi kembali menjelaskan, aku lanjut ngupil. Tidak sampai satu jam meeting, kami sudah balik ke kantor. Pak Kalwani minta meeting lanjutan yang nanti akan ada anaknya.

“Nanti meeting kedua aku wajib ikut lagi kan, bang?”

Rosadi dan aku berjalan keluar gerbang pabrik Pak Kalwani. Sebelum menjawab dihembuskannya asap rokok, “Nanti aku aja yang datang meeting kedua. Lu enggak usah ikut.”

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...