Minggu, 17 Januari 2021

to be human

Menganggur bukan berarti otak juga nganggur. Menurut guru biologiku SMA dulu, semakin sering otak digunakan, maka dia akan semakin cerdas. Sama kayak parang kali ya, lama gak dipakai bisa tumpul. 

Untungnya di masa pandemi gini ada layanan ipusnas, aplikasi perpusnas untuk baca koleksi buku mereka. Jadi gak mesti ke perpus. Meski gak semua buku sih, tapi lumayan lah. Apalagi masa psbb gini perpus juga tutup sampai tanggal 25. 

Salah satu buku yang gak sengaja muncul di beranda ipusnas adalah buku bersampul laki-laki tua yang jenggotnya puanjanggg lebat ngalahin daun pohon rambutan. Dialah bapak sosialisme dunia - Karl Marx. Aku sebenarnya udah nyari-nyari tadi malam, kenapa Karl Marx ini dibenci banyak orang di seluruh belahan dunia. 

Minat terhadap ilmu-ilmu humaniora dulu sebenarnya ada. Waktu masih kuliah juga kan, sempat aktif di organisasi pergerakan mahasiswa marhaenis, GMNI - mengikuti ajaran bung Karno tentang marhaenisme. Nah, untuk buku berjudul 'Pemikiran Karl Marx' karangan Franz Magnis Suseno itu berat untuk otak ini. Mungkin karena otakku sudah terlalu lama gak dipakai sih. 

Belum baca semua isi bukunya. Singkatnya, Karl Marx ini anti dengan sistem sosial yang ada di masyarakat. Tau kan, ada kaum penguasa yang punya modal, kaum buruh/karyawan yang tidak punya modal, dsb. Karl menginginkan adanya kesetaraan, dimana yang memegang kekuasaan penuh akan modal dan hampir semua aspek hidup dikontrol secara terpusat oleh negara. It means, gak ada yang kaya atau miskin dong. Gak ada yang nganggur juga (kayak awak ni). Semua bekerja, sama rata, sama rasa. 

Jadi kan menurut Karl (lebih suka bilang 'Karl' daripada 'Marx'), faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideologi, melainkan ekonomi. Karl pun sampai pada kesimpulan bahwa ekonomi kapitalisme akan menghasilkan kehancuran sendiri, karena keuntungan pemilik sebesar-besarnya, pengisapan manusia pekerja, pertentangan kelas paling tajam. Pekerjaan adalah kegiatan dimana manusia justru menemukani identitasnya, tetapi sistem hak milik pribadi kapitalis menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi. 

Jadi sebenarnya dimana letak salahnya ya?

Oke, harus baca lebih lanjut bukunya.

Hanya saja, sore menjelang malam, aku yang bosan berbaring di kosan memutuskan untuk masuk ke busway dan dibawa berkeliling. Playlist sepanjang perjalanan : Kenangan Manis dari Pamungkas.

Aku amati orang-orang yang baru pulang kerja - dengan wajah lelah mereka,

Kakek yang kesusahan mendorong gerobakya di pinggir jalan,

Berita yang kubaca tentang petani yang sengaja mem-pilox cabe rawit jadi cabe merah biar lebih untung,

Dua orang bapak-bapak yang melakukan aksi penipuan giveaway pakai nama artis Baim Wong,


Semua kejadian itu demi satu hal : uang. 

Kalau ideologi Marx diterapkan di sini, apakah masyarakat kita bisa merata sejahteranya?

"Maf Kak, ini perhentian terakhir," suara petugas busway menyadarkan lamunan di senja yang sudah semakin kelam. 

Semoga tidak sekelam masa depan -

---to be contined---










Kamis, 07 Januari 2021

Aku tuh gak pelit, cuma ..

 Banyak kawan-kawanku waktu kuliah dulu yang bilang aku orangnya pelit. Duh, kalau dia bilang gitu, percayalah artinya dia belum kenal diri ini 100%. 

Aku tuh gak pelit. Cuma memanfaatkan sumber daya yang ada. Pelit apanya coba. Budget buat perut lebih besar daripada buat perawatan diri. Oke, not related at all.

Mungkin banyak yang gak tau kan, misalnya kalau punya kartu member di alfamart belanja bisa dapat poin. Sewaktu-waktu poin ini bisa dituker dengan produk gratisan. Siapa yang gak suka gratisan. Atau misalnya kalau ngasi penilaian di mcdonalds.fast-insight.com anda bisa dapat kentang atau es krim gratisss. Cara-cara survival seperti ini wajib para jobseeker ketahui. Meski aku baru pernah berhasil tukar sekali sih. Untuk kedua kalinya mbak mcd-nya mulai beralesan, 'maaf kak, harus disertasi pembelian' atau 'maaf kak, harus sesuai store pembelian sebelumnya. Padahal menurut ketentuan yang kubaca... emang begitu wkwkwk. 

Tapi kenapa pas yang pertama aku bisa? Gak disertasi pembelian padahal ! Apa dia khilaf waktu itu?

So, aku yang begitu disebut orang pelit? Are you suerr? #bacadenganlogatmedok

Nah, pemanfaatan promo-promo di sekitar ada lagi nih. Kali ini aku dapat voucher belanja di gramedia setelah menukarkan poin telkomsel 400 poin. Koreksi : itu kakakku yang kumintai tukarkan poin telkomselnya. Sayang banget soalnya kalau angus di akhir tahun. Ngumpulin poin telkomsel susah loh, beli pulsa 50 ribu aja paling dapat 7 poin.

Dalam perjalanan menuju gramedia matraman, di dalam busway muncul bocah sekitar umur 10 tahun yang tiba-tiba duduk di kursi depanku nanya, 'kak, ada uang 2 ribu?'

Aku sempat khawatir ini metode kejahatan terbaru (maafkan ke-sudzon-an ini). Tau kan, yang sempat beredar di medsos tentang anak kecil yang bilang kesasar ke seorang mbak-mbak cakep. Mbak cakep itu tanpa curiga mengantarkan si anak kecil ke alamatnya. Dan yang terjadi adalah si mbak cakep di bekap sama komplotan penjahat. Anak kecil yang pura-pura kesasar tadi adalah 'kaki-tangannya'.

'Buat apa dek?'

Pertanyaan gak penting emang. Tapi si adik itu jawab, 'buat beli minum.'

Percakapan pun berlanjut. Dia tinggal dengan kakaknya. Pas kutanya kerja kakaknya, dia cuma bilang bantuin orang. Ortunya udah gak ada. Aku sempat bilang, pas tau kan dia butuh 2 ribu buat beli minum : 'adik kan mau ke rumah, makan dan minum di rumah aja nanti.'

Di dompet ku ada uang lima ribuan 5 lembar. Pas turun di halte tujuan, aku ambil selembar terus bilang, 'Ini dek, buat beli es. Maaf ya, cuma bisa ngasih 5 ribu. Tetap semangat, oke?'

Setelah bus melaju, aku merenung. Apa aku memang pelit? Kenapa gak ngasih semua aja uang yang di dompet?! Ini soal kemanusiaan loh yang kita bicarakan.

Nyampe di pintu masuk gramed malah dicegat sama mas-mas dari yayasan konservasi alam. Aku udah tau, mereka tuh nyari donasi. Sempat nolak halus dan bilang makasih, tapi masnya keukeh. Yaudahlah, aku dengarin aja. Dia contoh marketing yang baik seandainya punya produk jualan. 

'Tapi maaf nih mas, saya belum bisa berdonasi. Saya juga masih cari kerjaan ini. Mas tau gak, ini saya ke toko buku mau tukar voucher gratisan cari buku cara menulis CV dan lamaran pekerjaan dalam bahasa inggris? Mungkin ada yang bisa saya bantu selain donasi, mas?'

Dia pun kasih tunjuk instagram yayasan konservasi itu buat ku-follow.

Masuk ke dalam gramed berlantai tiga, ku langsung ke rak 'promo'. Ngambil buku berjudul 'Career First' dan nyari-nyari buku tentang CV. Tapi gak nemu udah bolak-balik lantai 1 ke lantai 3. Syarat pemakaian voucher-nya minimum belanja 50 ribu. Akhirnya kuambil aja asal komik yang tipis amat, tapi harganya 25 ribu. 

Menuju kasir. Kutunjukkan sms penukaran voucher yang dikirim kakakku sama mbak-nya.

'SIM 1 atau SIM 2, mbak?'

'Apanya kak?' -aku bingung dong.

'Nomor yang dipakai waktu tukar poin telkomsel?'

Tweng!

'Eum, itu saya pakai nomor kakak saya, mbak.'

'Wah gak bisa kak, ini kan kakak belum dapat kode voucher-nya. Untuk bisa kami verifikasi nomornya harus disini. Mungkin besok kakak bisa kembali lagi dengan nomor kakaknya?'

Kakak saya di sumut, mbak. 

Kelar sudah.

Malam itu aku pulang dengan tangan kosong. Sama sekali merasa hampa. Apa karena aku cuma ngasih 5 ribu ke adik itu? Atau karena gak mau donasi sama mas-nya?

Atau.. aku ini memang pelit??




Selasa, 05 Januari 2021

Piknik 'tipis-tipis' part 2

Sampai di stasiun Serang udah jam 9 malam. Betapa senangnya kalau adikku itu bisa menjemput, mengantar ke tempat penginapan. Nyatanya aku mesti mesan gojek lagi yang itu pun sempat bikin kesal. Dia nyuruh-nyuruh aku jalan ke arah alfamart. Mana kutau arah mana alfamart?! Udah gitu pake pesan suara yang bikin mesti didekatkan ke telinga biar bisa terdengar. Kubalas : pak, saya persis depan pintu masuk stasiun. Kenapa gak bapak aja yang ke sini? 

Tunggu aja lu nanti, kalau bisa gue geprek lu, dalam hatiku. 
Untungnya dia gak jadi kugeprek, mesti masih bikin kesal nanya-nanya. 
"Yang depan atau belakang, kak?"
Kakak, kakak! Sejak kapan emak gue ngelahirin lu?
"Gak tau. Belum pernah ke sana. Ikutin titik aja sih, mas!"

Sepanjang perjalanan gak terjadi lagi percakapan. Somehow itu bikin deg-degan juga, karena sekarang motor memasuki daerah lengang yang gelap. Kok penginapannya ke arah sini sih? Gimana kalau si mas gojeknya kesal, terus ngebuang aku ke jurang? Oh my..

Untungnya (lagi) itu gak terjad. Dengan selamat sentosa aku bisa tiba di penginapan. Penginapan yang awalnya pastilah kos-kosan. Karena covid banyak yang pindah. Itu asumsiku sih. 

"Boleh saya foto KTP-nya, Kak?"

Panggilan 'kakak' ini sedikit banyak sok akrab dan bikin kesal. Kenapa aku lebih senang dipanggil 'mbak' aja meski kedengaran lebih tua. 

"Sama uang jaminan 50 ribu?"
"APA?"
Eh, gak capslock juga sih. "Buat apa ya?"
"Itu nanti akan saya kembalikan saat kakak check out, hanya sebagai jaminan barang di dalam saja."

Seumur hidup, kayaknya perdana deh aku nginap-nginap begituan. Aku kan pelit ya, orangnya. Uang penginapan itu mending kubeli makanan atau kukasih ke adikku kalau aja dia ngerti. Huft!
Malam itu malah gak bisa tidur nyenyak. Kuputuskan untuk nelpon si adik. 

Besok check out-nya jam 12 siang. Datang aja kenapa sih?" -naik juga nada suara satu tingkat. Astaga ternyata aku lapar, seharian belum makan makanya bawanya emosian. 
"Iya, besok deh," dengan cueknya dia menjawab. Gak tau dia apa yang kulalui hanya untuk ketemu dia. Bersyukurlah saat masih ada yang mau menjenguk anda. 

Kubuka bekal yang gak sempat disentuh itu. Thank you God very kamsa, gak basi. Yesss! Kalau basi sih, bakalan tetap dimakan juga. Paling sakit perut. Daripada kelaparan. Penginapan ini jauh dari orang jualan. Lagian aku curiga malam jam segini masih ada yang buka. Sejak covid menyerang kan, semua tempat tutup lebih cepat dari biasanya.

Tadinya aku milih kamar itu di aplikasi karena emang itu yang paling murah, 120 ribu. Tanpa ngecek kamarnya gimana. Pas udah masuk ke dalam ternyata ada dua bed terpisah. Coba aja bawa teman (kalau bawa pacar mending single bed gede wkwkwk), biaya nginap bisa bagi dua per orang jadi : 60 ribu. Astatang. Hemat banget!

Paginya adikku itu beneran datang. Dia enak, masih kuliah aja dibeliin motor sama bapak. Kurang apalagi hidupnya. Awak aja pas kuliah part time sana-sini. 

"Kirain kau gak akan muncul," kataku sambil naik ke motornya yang gede. Iya, boros sekali hidup mahasiswa abadi satu itu.
"Rencana emang gitu."
"Kau jadi kan, nemanin aku ke Gunung Pinang itu? Ayolah, No. Kau belum pernah bertualang sama kakakmu ini."

Dia mau.
Itu suatu keajaiban dunia. 
Kami makan dulu di warteg dekat gerbang masuk Gunung Pinang yang bukan gunung itu. Sebenarnya bukit, karena tingginya masih di bawah 1.000 mdpl yaitu 300 mdpl. Selama makan, si kunyuk itu sibuk main HP, nelpon temannya lah. Dan yang paling bikin aku kaget waktu dia beli rokok di warung sebelah. 

"Kau merokok? Astaga dek. Kalau udah punya penghasilan sendiri sih gak apa-apa."
Pantesan aja makannya pesan tempe, biar bisa beli rokok toh. Kutuang setengah nasiku ke piringnya. Kubagi dua ayam di piringku. 

"Ini buat selingan aja, Kak. Aku biasanya gak merokok. Jarang bisa dibilang."

Teori darimana pulak itu. Ada perokok yang jarang merokok. Hanya buat selingan. Aku menahan diri buat gak nanya kabar skripsinya saat makan. Nanti ajalah pas udah di bukit. 

Makan di warteg itu bisa dibilang murah. Aku hanya perlu bayar 19 ribu sama ngisi botol minumku yang ukuran 1 liter. 

Gak ingin menyia-nyiakan momen, aku nyuruh dia ngambil fotoku di gerbang masuk Gunung Pinang-nya. Begitu nyampe di pembelian tiket masuk, adikku malah nanya petugasnya, "Pak Asep gak masuk Pak?"

Trik apa lagi ini.
"Pak Asep yang mana?" -petugas.

Wkwkwkwk. Sebenarnya adikku ini gak kenal si Pak Asep. Cuma mungkin dia punya teman yang punya kenalan bernama Pak Asep yang kerja di wisata Gunung Pinang. 

"Pak Asep, yang orangnya enak diajak ngobrol,"- adikku pasti ngasala ini mah.
"Oh yang botak?"-petugas.
"Ah iya itu. Gak masuk ya?"
"Hari ini gak masuk."

Setelah itu terjadi hening. 

"Yaudah, lewat aja." -petugas.

Begitu dipersilahkan lewat, aku gak bisa nahan ketawa lagi. 

"Parah lu, Dek. Bayar tiket 30 ribu aja pelit amat. Biar bisa beli rokok, gitu?"
"Ya enggak, Kak. Di sini harus pintar-pintar punya kenalan."
"Manfaatin kenalin, yang gak dikenal tepatnya," kukoreksi kata-katanya. "Udah ah, aku mau jalan aja, Trek-nya gampang gini. Sekalian olahraga."
Tapi motor tetap melaju. "Jangan, Kak. Nanti ditawarin tumpangan sama orang lain. Dikasihani, dikira-"
"Ya biar aja, tinggal tolak dengan halus toh," bocah itu gengsinya makin selangit semenjak merantau kuliah.

Akhirnya nyampe puncak naik motor. Buat anak pecinta alam sepertiku, ini penghinaan sih. Wkwkwkw. Mana ada sejarahnya nyampe puncak gunung (bukit) naik motor?!

Aksi adikku gak sampai di situ. Untuk berfoto di beberapa spot foto yang disediakan juga dikenakan tarif. Dia langsung sok-sok minjam korek sama penjaga spot foto. Mereka pun ngobrol lumayan lama. Setelah beberapa saat adikku balik.
"Sana, Kak. Mau foto gak? Tenang, gak usah bayar."
"Ei, kau kira ini bukan sumber penghasilan mereka? Kasian loh. Bayar aja ah, kasih 10 ribu kek," kubantah dia.
"Yaudah sini, paling nanti masuk kantongku," dia ketawa setan.

Lokasinya sejuk, adem, dan bikin ngantuk. Kami di sana hampir 3 jam.

"Skripsimu?"
"Doakan ajalah, Januari awal seminar hasil. Tapi jangan kasih tau mama dulu."
"Lha? Kenapa, itu kan kabar bagus. Dengar ya dek, kau kuliah baik-baik, dapat IPK bagus, itu semua buatmu. Bukan buat kakak, atau bapak atau mama. Masa depanmu yang sedang kau perjuangkan."

Hening.

"Merokok itu, janganlah. Si adek yang di Batam yang udah kerja aja gak merokok loh dia itu. Kalau kau udah punya penghasilan sendiri, yowes. Uang yang kau bakar itu kan, hasil keringatmu udah. Gak apa-apa."

Aku ngomong panjang kali tinggi pun kayaknya cuma akan keluar telinga kiri. Yaudahlah, semoga dia paham. 

Dia mengantarku ke stasiun. Kami berpisah di sana. Kusodorkan uang bensin ke tangannya. 

"Ditunggu ya, undangan wisudanya," kuteriak sambil melambaikan tangan sampai dia mengilang di belokan jalan. 

Aneh juga pulang di malam perpisahan tahun. Tanggal 31. Beberapa jam lagi akan masuk tahun 2021. Aku gak bisa karena si bandel itu udah punya rencana sama gengnya. Susah juga punya adek cowok yang gak bisa diatur. 

Sayang sekali harus menunggu 1 jam lebih di stasiun Serang. Trip keberangkatan ke Rangkasbitung jam 5 sore. Datang lebih awal ke stasiun, plus loket tiket belum buka. Mana banyak yang antri pulak. Solusinya adalah beli tiket secara online di aplikasi KAI Access. Begitu loket dibuka, gak lama kemudian tiket habis. Untung aja..

Kalau dihitung-hitung, untuk perjalanan sehari semalam Jakarta - Serang itu aku menghabiskan uang sekitar 250 ribu? 

1. busway pergi : 3.500
2. st Manggarai-st Rangkasbitung pergi : 7.000
3. st Rangkasbitung - st krenceng pergi : 3.000
4. Angkot ke pantai anyer : 25.000
5. Tiket masuk anyer : 15.000
6. Angkot pulang dari anyer : 20.000
7. st krenceng - st Serang pulang : 3.000
8. Penginapan : 121.500
9. makan warteg : 19.000
10. beli jeruk : 10.000
11. st Serang-st Rangkasbitung pulang : 3.000
12. st Rangkasbitung - st Manggarai pulang : 7.000
13. Gojek st manggarai ke kosan (busway gak ada lagi, batas jam 8) : 16.000

TOTAL : Rp. 253.000

Begitu turun dari gojek, kulihatlah dengan jelas busway berhenti di halte dekat kosan. Saat itu udah jam 9 malam. Kuingin menjerit kencang. 16 ribuku yang berharga!! Lagian, ini transjakarta gak konsisten apa gimana. Katanya busway cuma sampai jam 8 malam, ini masih ada jam 9 ?!

"Makaasih ya, Pak. Selamat taun baru, Pak," kataku tulus.
"Iya, mbak. Selamat tahun baru," jawab si bapak canggung.

Malam itu malam tahun baru, tapi aku cuma makan indomi yang kubeli dari warung terdekat yang untung masih buka. Setelah itu ngorok sampai besoknya. 


------












Jumat, 01 Januari 2021

Piknik 'Tipis-tipis' ke Serang, Banten

Rencana perjalanan ini melintas saat membaca postingan seorang kawan di instagram tentang kunjungannya ke goa di daerah Parung Panjang. Dia menyebutnya sebagai 'piknik tipis-tipis'. Maka malamnya penelusuran pun kulakukan. Aku juga butuh piknik tipis-tipis dari hiruk pikuk sebagai pengangguran di kota ini. 

Terlintas begitu saja. Kenapa gak sekalian mengunjungi adek di Banten ya kan? Mamaku pasti senang bukan main kalau tau aku menemui adikku itu. Mamaku selalu khawatir dengan anak laki-laki yang kuliah atau merantau jauh dari rumah. Katanya mereka tidak bisa dipercaya. Padahal adikku itu masih semester 10 (aku aja menghabiskan 11 semester di kampus) dan sedang skripsian. 

Setelah melakukan browsing tempat wisata di Banten, muncul sekian tempat. Tapi yang paling menarik minatku adalah pantai. Aku butuh angin pantai yang segar, ditemani suara debur ombak yang membuat mengantuk. Pantai Anyer dan Gunung Pinang, dua itulah tujuanku. 

Sebelum memutuskan untuk berkelana ke Banten sendirian, aku udah nanya banyak orang, menanyakan apakah mereka mau bergabung dengan trip super dadakan ini. Tapi aa yang bilang mau berlibur dengan keluarga ke Pulau Seribu. Ada yang bilang dilarang mamanya karena akhir tahun takut lautnya minta korban. 

Huft. Aku pun memantapkan hati untuk pergi sendirian. Oh iya, ini hanya perjalanan sehari. Adikku itu pasti gak akan mau mencarikan tempat tinggal barang semalam untuk kakaknya. Betapa adik yang durhaka. Makanya hanya semalam, itulah isi dompet yang sanggup membayar penginapan. Setelah mengunjungi kedua tempat itu, ketemu adik, baru pulang ke kos. 

"Memangnya Lena udah bawa dokumen bebas covid?" -pakde kosan.

Fyi, salah satu alasanku memilih piknik tipis-tipis ini adalah karena pasangan suami istri itu selalau bertanya, 'Lena gak kemana-mana?' Padahal tiap hari jelas aku ke perpustakaan, numpang wifi.

"Sekarang pakai begituan, pakde? Saya gak punya."

"Coba jalan aja, kalau memang diminta langsung tes di tempat boleh kayaknya," -pakde

Duh, bikin perut gak enak aja nih. Udah cakep-cakep plus semangat membara, tau-taunya pakde mematahkan semangatku itu bahkan sebelum melangkah satu langkah pun. 

"Pulang kapan, Lena?" -bude

"Kalau langsung disuruh pulang sama petugasnya Lena pasti langsung pulang, bude."

Penampilan awak pun bukan seperti mau ketemu adik atau penampilan orang ke pantai. Gimana enggak, aku pakai kaos yang dilapisi kemeja flanel, celana outdoor berbahan tipis dan sendal gunung. 

Perjalanan itu tentu saja dengan transportasi umum. Dari kosan aku naik busway ke stasiun terdekat. Sepanjang perjalanan orang memberi pandangan .. entahlah. Susah dibaca. Tapi yang pasti mereka heran di malam menjelang tahun baru ada cewek berpenampilan mau naik gunung sepertiku. Di masa covid pulak. Emang ada gunung yang buka?! Somehow, berpenampilan seperti itu membuat kepercayaan diriku bertambah. Seolah ingin bilang, 'hei, lihat aku. Aku cewek mandiri yang nekad tapi bisa bertanggung jawab.'

Ternyata tidak ada pemeriksaan dokumen bebas covid untuk kereta api lokal atau KRL. Lega. Aku mengabarkan di grup wa keluarga tentang kunjungan ke Banten itu. Tapi adikku yang sengklek malah menolak habis-habisan. Dia gak mau dikunjungi. Aku jadi ikut curiga kayak mama. Siapa tau dia diam-diam udah punya anak? 

Perjalanan sempat diwarnai dengan kepanikan dalam kereta saat tiba-tiba ada penumpang yang pingsan. Para penumpang yang tadinya duduk didekat si penumpang pingsan langsung pindah gerbong. 

"Jangan panik, kami mohon untuk tetap tenang," begitu imbauan petugas kereta. 

Bukannya covid, tapi si penumpang itu ternyata kesurupan. Dia mulai menendang-nendang petugas, memberontak. Di stasiun berikutnya, penumpang itu pun diangkut turun. Meski bukan covid, petugas kereta langsung melakukan sterilisasi dengan penyemprotan desinfektan. 

"Mau menyeberang, mbak?" tanya seorang ibu di depanku. 

"Nyeberang?"

"Iya, nyeberang. Sampean mau ke pelabuhan Merak kan?"

"Oh, bukan Bu. Saya turun di Krenceng. Memangnya dari Merak bisa nyeberang kemana bu?"

"Bakauheni."

Wah, baru tau. Kapan-kapan coba ah nyeberang tanpa tujuan.

Perjalanan panjang kurang lebih 4 jam Jakarta - Serang. Kupikir lebih baik ke pantai lebih dulu baru ketemu adik. Dari stasiun aku harus naik angkot lagi ke pantainya kurang lebih 1 jam. Informasi yang kudapat dari internet gak sesuai. Termasuk ongkosnya. Saat menyodorkan uang 15 ribu, si supir menatap gak terima. 

"25, mbak."

Pantai anyer ternyata punya banyak pantai-pantai kecil. Aku memilih ke pantai karangbolong. Penasaran aja sama karang besar yang bolong di tengahnya. Fyi, supaya gak kayak aku yang maos ditanyai 'sendirian aja mbak', bawalah teman.. ini penting. Ada kali aku ditanyai begitu 5 kali sama penduduk setempat. Apakah tidak boleh cewek sendirian ke pantai karang bolong? Herman saya!

Semua itu terjawab waktu udah masuk ke dalam. Di sana banyak couple. Kalau gak couple ya rombongan. Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit...

Aku malah gak sepenuhnya menikmati embusan angin pantai atau deburan suara ombak yang bikin ngantuk. Malah sibuk ngambil video dan foto dengan HP samsung A71 yang baru di-unboxing itu. Ya, setelah kupikir-pikir gak ada yang mau beli dipakai ajalah. Toh HP itu hadiah dari kantor. Kejernihan kameranya yang bikin aku betah ngambil video. Benar-benar kayak kamera DSLR. 

Sesuai jadwal yang sudah kucatat, aku hanya bisa sampai jam setengah 5 di sana. Kereta api lokal yang akan membawaku ke Serang berangkat jam 6. Itu adalah kereta terakhir. Sesuai rencana juga, aku akan mencari penginapan murah di Serang (kalau si adik nakal mau mendatangiku bagus). Sama sekali tidak ada rencana menginap di Krenceng. 

Masalah muncul saat di dalam kereta aku sambil mencari penginapan murah di aplikasi Red doorz. Karena memindahkan kartu paket internet ke Samsung, aplikasi m-banking di Redmi tidak bisa dibuka.  Aku gak bisa membayar bookingan penginapan. Batas pembayarannya hanya 30 menit dengan posisi aku gak bisa berlari ke supermaket terdekat untuk membayarkannya. Satu-satunya jalan adalah mengembalikan kartu paket internet ke HP Redmi supaya m-banking bisa digunakan. Tapi... masalahnya adalah aku gak punya pencongkel untuk membuka lubang penyimpangan kartu sim di HP. 

Huft. Masalah ini kelihatan remeh sekali. Hanya gara-gara besi kecil pencongkel kartu sim. Ingin rasanya kutanyai satu-satu penumpang dalam kereta itu apakah ada yang bawa peniti atau jarum. 

Kugeledah tas kecil tempat menaroh uang dan HP. Keajaiban datang. Ada satu klip kertas nyempil di saku kecilnya. Hahahaha. Bahagia tak terkira. Sesimpel itu ternyata kebahagiaan ya..

Thank you very kamsa, klip.

Penginapan beres. Saatnya menelpon adik kampret. 

"Aku lagi di Rangkasbitung, kak. Gak bisa ketemu malam ini."

Kutarik nafas dalam-dalam supaya gak mencercanya. 

"Yaudah, usahakan besok aja. Ini alamat penginapanku. Besok sore aku udah pulang. Kalau kau mau besok temanin aku ke Gunung Pinang ya. 

"Gak janji."

ARGHHH !!

Sore itu udara pantai sangaaaat sejuk. Meski bisa aja nunggu angkot, kupilih untuk jalan kaki tipis-tipis. Herannya di tengah jalan ada bapak-bapak yang langsung tau aku dari Jakarta. Padahal seingatku penampilan ini sangat ndeso sekalee. Kenapa bisa langsung nebak dari Jakarta ya?!

Akhirnya ketemu 'air' setelah berpuluh km dari Jakarta



Gaya kaku di depan karang yang bolong

Ini buatan orang lain, kucoba buat satu disebelahnya malah gagal










Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...