Selasa, 15 Juni 2021

Semua Gara-gara Duit

Akhirnya setelah menganggur selama kurang lebih 7 bulan, aku tanda tangan kontrak kerja lagi. Yuhuiiii...!

Baru masuk hari kedua. Perusahaan (kurang) beruntung itu adalah bank btp*. 

Ini tujuan sensornya buat apa ya? Padahal kalau pun gak disensor pasti udah ketebak itu bank apa lengkapnya. Cuma nebak huruf terakhir 😆

Tapi yang paling penting adalah proses menuju tanda tangan kontrak kerja kali ini cukup dramatis mengalahkan drama korea manapun, bahkan Descendant of The Sun sekali pun (padahal aku gak pernah nonton itu drama sampai ending). 

Di 'kick' dari Ruangguru (baca : gak lolos masa OJT) karena belum capai target penjualan, aku bertekad lamar pekerjaan yang tidak ada target-target an termasuk jadi kasir di kafe. Selain di kafe yang kemarin, undangan wawancara juga datang dari kafe yang beralamat di dekat mall Artha Gading Jakarta Utara ini. Aku berangkat ke sana mengenakan rok hitam selulutut dan atasan kemeja. Biasanya sih pakai celana, tapi kali ini lagi pengen pake rok. 

Tiba di sana, yang datang interview ada 8 orang. Aku tiba paling awal tapi pada akhirnya pulang paling akhir. Yap, karena diterima. Hanya saja gajinya sangat jauh dari yang dibayangkan, 1 juta 700 ribu. Padahal masuk setipa hari dan jam kerjanya 10 jam. 

Gils.

Aku kemarin ketawa-ketawa dalam hati waktu si adek yang ketemu di wawancara jadi waitres di tempat sebelumnya menuliskan gaji yang diinginkan di angka 2 juta. Sekarang aku dapat tawaran dengan nominal lebih kecil dari itu? Wah..wah. Hidup memang gak ketebak gengs. Makanya jangan pernah memandang sebelah sesuatu. Bisa aja kalian ngalamin lebih ekstrim.

"Saya hanya bisa berikan di angka segitu. Tapi jangan khawatir, kamu bisa tinggal gratis di mess di sini dan dapat beras gratis. Tinggal beli lauk aja. Gimana?" tawar si mbak HRD. 

Dari tebakanku sih kayaknya kami seumuran. Entah kenapa aku yakin sekali kami seumuran. Tapi karena ini interview pekerjaan, kupanggil dengan embel-embel 'Bu'. Gak mungkin dong dengan embel-embel 'Friend'.

"Ada bpjs tidak, Bu?"

Duh, apa yang kuharapkan. 

"Untuk saat ini belum ada."

Akhirnya aku ikhlas menerima tawaran itu. Meski gak dapat bpjs, itung2 gak ada target2 an yang bakalan menghantui setiap hari. Hanya duduk berdiri manis dan menerima pembayaran pelanggan. Kalau ketemu bule, minta nomor WA nya.

Wawancara berikutnya dengan chef-nya. Aku gak ngerti kenapa si chef ikutan mewawancarai juga. Padahal kan, aku gak bakalan ikut belanja kebutuhan dapur ya. Laki-laki yang mewawancaraiku itu ternyata kepala chef-nya dan masih muda. Kuat dugaanku dia belum menikah. Jangan-jangan usianya lebih muda dari aku. Wih, kalau berhasil menggaet kepala chef ini seumur hidup aku gak bakalan menyentuh dapur 😏. Serahin ke dia dah urusan masak dan mengurus anak-anak. Aku? Ongkang-ongkang kaki nulis skenario film. 

Mimpimu, nduk...

Kayaknya mereka excited sekali menerimaku, karena si kepala chef langsung menanyaiku, "Bisa langsung mulai training hari ini?"

Pengen langsung kujawab iya, tapi aku sadar hari itu pakai rok. Pasti tidak bakalan nyaman bekerja dengan rok yang sepannya di depan ini. 

"Kalau hari ini sepertinya tidak bisa."

"Loh kenapa?" -Chef 

Kulirikkan mata ke si rok hitam. "Hari ini saya pakai rok."

Si kepala chef memberikan pandangan 'penting banget gitu kasih tau ke gua? Gua juga bisa liat pake mata sendiri, lu pake rok!' dan aku memilih mengabaikannya. Tapi dia setuju aku training mulai besok. 

Sebenarnya dan sejujurnya aku meminta masuk mulai besok karena ingin memastikan hatiku kembali. Apakah aku benar sudah mantap akan mengambil kesempatan yang ditawarkan atau masih ragu. Daripada setelah seminggu masuk tiba-tiba cabut kan gak enak.

Masih ada satu perusahaan yang menunggu jawaban. Iya sih posisi telemarketing yang ada targetnya. Dari perusahaan outsourcing. Gajinya memang umr, dapat bpjs kesehatan dan tenaga kerjaan. 

Tapi, lagi.. ada targetnya. 

Dalam perjalanan pulang ke kosan, aku melamun. Aku pernah bilang, 'Tuhan beri aku pekerjaan apa saja yang kecil gajinya pun gak apa-apa asalkan jangan ada target2 nya yang bikin otak pusing'. Ternyata setelah doa dikabulkan pun manusia masih merasakan kegalauan ya. .

Turun di halte dekat kos, aku melarikan diri ke Mcd. Pesan sesuatu yang promo lalu naik ke lantai 2. Ini tempat yang pas untuk merenung sambil memandangi jalan raya. 

Gak peduli seberapa kerasa aku mikir, aku gak tau mau pilih yang mana. Yang satu menawarkan uang lumayan dengan resiko stres mikirin target, satu lagi nawarin gaji kecil tapi bebas dari stres mikirin target. 

"Dek, ingat. Kau udah sekian umurnya. Udah kau pikirin masa depanmu? Udah ada tabunganmu? Cewek kalau mau nikah harus ada loh emasnya atau bajunya yang layak," kakakku menyampaikan pemikirannya.

Kenapa jadi disuruh siap-siap buat nikah?!

Setelah itu dia menekankan semua pekerjaan memang ada tekanannya masing-masing. Kalau aku melarikan diri dari tekanan itu, bukan berarti seumur hidup aku bebas dari yang namanya tekanan. Intinya dia secara gak langsung meminta aku buat GAK NGAMBIL pekerjaan jadi kasir di kafe itu.

Huft,,, padahal aku udah mengkhayal punya suami yang jago masak.

Sorenya pulang dari Mcd, aku dapat email undangan tanda tangan kontrak kerja dari perusahaan outsourcing itu. Dengan hati-hati, malamnya kukirimkan WA permintaan maaf ke HRD kafe serta ucapan terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan padaku. 

Berakhir cuma di read dong. Iyalah, dia pasti kecewa dan kesal. Gara-gara menerimaku, dia pasti sudah menolak kandidat lain. 

I'm so sorry kepala chef. Eh, bu HRD maksudnya..Semoga anda tidak akan pernah lagi menemui kandidat macam awak ini..


Tiap lihat topi chef ini, langsung keingat film Ratatouille


 

Jumat, 04 Juni 2021

HRD : 'Kamu ini kan sarjana, kenapa melamar posisi waitress?'

Menyadari betapa gak enaknya bekerja di bawah tekanan target (marketing), aku berjanji GAK AKAN MAU APPLY PEKERJAAN UNTUK POSISI MARKETING LAGI ! Gak peduli entah produknya celana dalam, asuransi atau pinjaman dana. Dari OJT sebagai sales di Ruangguru, aku belajar bahwa gak peduli seberapa banyak bonus yang dijanjikan jika capai target, tapi kalau tiap hari lu dikejar-kejar bom waktu yang seolah siap meledak saat waktu habis .. sudahlah. I don't want it. 

Aku bisa kok tahan makan pake kecap sama kerupuk tujuh hari berturut-turut. So, get off, MARKETING AND ALL YOUR SHITS !

Berbekal prinsip itu, aku nekat melamar pekerjaan yang mensyaratkan lulusan SMA yaitu : waitress. Dan tak kusangka undangan interview-nya datang hanya selang 2 jam setelah kuklik 'apply' dari Indeed. Aku tersenyum miring. Kau lihat itu kan, kau lihat gak, Marketing? Gak hanya kau yang menerimaku. Ada posisi waitress juga yang dengan senang hati mau menampung aku. Weeeeee...(peletin lidah)

Posisi waitress ini untuk sebuah kafe di daerah Jaksel, Kemang. Begitu tau daerah itu adalah daerah untuk kalangan elit dan artis, khayalanku langsung terbentuk..

Jadi waitress, nyambut pelanggan, ketemu bule, tukeran nomor, jadian, menikah, dibawa ke Eropaa and Happily ever after !!!

Alamakkkk. Interview aja belum loh. Parah ini otakku. Kebanyakan makan kecap sepertinya. 

Dengan uang saku dari ruangguru (yang tak seberapa) kemarin, aku beli flat shoes baru dong, sama beberapa blouse diskonan di mall dekat kosan. Menurut gosip yang kudengar, alas kaki yang cantik akan membawamu ke tempat yang indah. Yeah, harap aja itu benar. 

Rute busway ke daerah Kemang ini ternyata melewati Blok M, yang mana itu adalah tempat horror dalam sejarah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Jakarta. Oh yeah, aku kehilangan HP di Blok M. Saat itu bahkan belum 24 jam setelah mendarat di Jakarta. Jadi wajar kalau ada sedikit trauma saat busway koridor 1 menurunkan penumpang di halte tujuan akhir, Blok M. 

Gak ingin berlama-lama di Blok M, aku langsung nyambung lagi naik busway koridor 6N. Sesuai info yang kudapat, aku turun di pemberhentian terdekat dari lokasi interview. 

Kantornya masuk beberapa meter ke dalam gang. Peserta interview hari itu ada 4 orang termasuk aku. Dua diantaranya melamar staff operasional dan satu lagi cewek yang cantik, putih dan kayaknya masih muda banget (di syarat lokernya usia yang diminta 25-28) jadi sainganku untuk posisi waitress. Waktu dia lepas masker sebentar, aku langsung tau, nih cewek dari mukanya pasti orang Dayak. Cantik, putih, sipit. 

Kami diminta mengisi form biodata terlebih dahulu. Si cewek yang melamar waitress tiba-tiba nanya kisaran gaji. 

"Kayaknya di bawah UMR, tapi sekitar di atas 2 jutaan lah," kujawab gitu karena malamnya aku udah searching berapa gaji waitress. 

Saat pengerjaan soal tes IQ, dua orang yang melamar staf operasional selesai lebih dulu dan langsung meninggalkan ruangan. Tak lama kemudian waktu pengerjaan habis. Kertas kami berdua juga terpaksa disita. Tes berikutnya adalah tes hafalan. Diberikan selembar kertas berisi kategori dan jenis-jenisnya. Contohnya :

Kategori KESENIAN

Jenis : Arca, Gamelan,Quintet

Nah selama 5 menit diberi waktu untuk menghafalkan kategori dan jenisnya. Tes ini tidak sulit sama sekali. Kali ini aku selesai lebih dulu dan langsung meninggalkan ruangan. 

Setelah tes hafalan, kami dipersilahkan menunggu untuk interview. 

"Kak,," sebuah suara dari samping. Aku menoleh, si cewek saingan.

"Ya?"

"Tadi kakak selesainya cepat ya. Gimana caranya, Kak?"

"Oh itu, aku hafalin huruf awalnya aja. Jadi misalnya untuk kategori KESENIAN aku hafal huruf pertama dari setiap jenisnya. Jadi KESENIAN : AGQ. Gitu."

"Oh, kakak udah pernah tes kayak gini?"

"Udah."

"Pantesan. Aku baru ini."

Sebagai saingan, aku ketawa dalam hati. Tapi sebagai umat manusia yang berjiwa sosial, aku menghiburnya. "Gak apa-apa. Lagian kamu kayaknya masih muda banget."

Dia nyengir. "Coba tebak, Kak usiaku berapa?"

"Hm, 21 atau 22 mungkin?"

"Aku 21 Kak."

Hiks. Aku iri. Pengen rasanya tukaran umur sama cewek di depanku ini. 

"Tuh kan, muda banget. Eh tapi kebetulan, kamu bukan orang dayak, kan?"

Mukanya kaget. "Kakak tau darimana?"

"Gak usah kaget gitu. Aku dulu kuliah di Kalimantan."

Setelah berjam-jam kami nunggu, akhirnya dia dipanggil lebih dulu untuk interview. Padahal kalau sesuai jadwal tiba di lokasi mah, aku duluan yang nyampe. Huft. Udah lapar pulakk.

Selama menunggu si Klara, aku main HP. Tiba-tiba ada WA masuk yang berisi pesan dari perusahaan outsourcing yang pernah kutitipi berkas CV-ku. Tebak posisi apa yang dikasih. Yup, T E L E M A R K E T I N G. 

Kenapa anda balik lagi, wahai MARKETING???!!!! Aku sudah mengsusirmu jauh-jauh kan. Tapi kubalas saja iya, seandainya hasil interview hari ini belum berpihak ke aku. Tapi dalam hati, aku berjanji akan memilih posisi waitress yang tidak terikat dengan target apapun dibanding telemarketing meski gajinya UMR sekalipun. 

Aku pasti bisa bahagia makan gaji kecil. 

Lebih dari satu jam si cewek yang bernama Klara itu interview di lantai 2. Aku heran, mereka bicarain apa aja sampai selama itu. Setelah si Klara selesai, aku belum juga dipanggil. 

"Kak, kalau 2 juta itu dikit gak sih? Tadi aku nulis 2 juta untuk gaji."

Wah, nih bocah kelewat polos. Bukan apa-apa, tapi nih kalau di Jakarta 2 juta itu buat bayar kosan sama makan aja udah pas-pasan banget. Oh iya, dia kan emang belum ada pengalaman kerja. Wajar dia sepolos itu. 

"Dikit sih itu."

"Apa karena itu aku di-interview duluan ya, Kak? Karena minta gajinya kecil."

Aku cuma senyum. Sampai jam 4 sore, barulah aku dapat giliran. Si Klara bukannya pulang, tapi diminta nunggu untuk interview dengan user. Dari situ, aku mulai ngerasa agak gimana. 

Kalau si Klara lanjut interview user itu artinya dari HRD di interview sebelumnya gak ada masalah. Hasil tesnya juga gak masalah. Tapi kenapa mukanya tadi gelisah setelah keluar ruangan tes. 

Kuketok pintu ruangan HRD. Setelah dipersilahkan duduk, sesi pun dimulai dengan menjawab pertanyaan kenapa aku mengosongkan bagian 'alasan resign' di kolom pengalaman kerja formulir biodata. 

"Kenapa hanya 3 bulan?"

Beliau mengacu ke pengalamanku sebagai inside sales di perusahaan stainless steel. Sebenarnya itu karena kau gak kuat lagi dengan job desk dan atasan yang cerewet, jadi aku kabur. Sama sekali gak keluar baik-baik. Tapi aku gak mungkin jujur. Makanya kujawab :

"Waktu itu saya hanya menyelesaikan OJT saja, Bu. Saat itu kakek saya, kakek yang membesarkan saya meninggal dunia dan saya gak bisa mengajukan cuti. Jadi saya memilih untuk resign."

For your information, aku GAK PERNAH dibesarkan kakek atau pun nenek. 

"Kalau boleh tau nih, kamu kan lulusan S1 kenapa melamar waitress? Itu bahkan posisi di bawah staff."

KARENA SAYA GAK MAU LAGI BERHUBUNGAN DENGAN MARKETING YG ADA TARGETNYA. SAYA APPLY DI PERUSAHAAN INI DAN ANDA MENGUNDANG SAYA UNTUK INTERVIEW

"Saya sendiri merasa tidak ada masalah ya Bu, kalau ibu mengacu tentang sarjana yang melamar pekerjaan yang bisa dikerjakan lulusan SMA. Sekarang cari pekerjaan tidak mudah. Oleh karena itu saya melihat kemampuan dan pengalaman saya yang sekiranya cocok untuk melamar posisi apa. Kebetulan waitress ini punya kesamaan dengan pekerjaan sebelumnya, yaitu customer focus. Tentu saja saya masih perlu banyak belajar untuk semakin lebih baik lagi."

Interview berlanjut, beliau bertanya aku menjawab. Tapi bisa kurasakan si HRD gak tertarik lagi samaku. Kalau si Klara tadi satu jam lebih interview-nya, aku cuma 10 menit di dalam ruangan itu. 

God..

Jam 5 sore aku pulang dengan jiwa hampa. Di jalan juga macet parah. Busway hampir gak bergerak. 

Ku-WA si Klara menanyakan hasil interview dengan user. 

Dia diterima!

Aku lesu. Double lesu karena belum makan. Si HRD tadi memang meminta untuk menunggu kabar maksimal 2 hari kemudian. Kalau tidak ada kabar, artinya aku gak diterima. Gak usah 2 hari juga aku udah tau hasilnya. Pengalaman 9 bulan di marketing plus part time jaga stand waktu kuliah ternyata tidak meloloskanku untuk posisi waitress. Aku bahkan menuliskan gaji yang kuinginkan dibawah UMR : 2.900.000 

 Tunggu, ini kan posisi waitress. Pasti harus cakep dong ya. 

Apa karena aku pakai kaca mata? Aku kan gak jelek-jelek amat. Hakshaks. Tapi memang si Klara lebih cakep. Mungkin karena itu dia diterima. 

Tiba-tiba aku teringat tawaran telemarketing dari perusahaan outsourcing tadi. 

Pada akhirnya aku gak bisa jauh-jauh dari MARKETING., 

ARRRGGGGGGG....!!!

 

hmm..

 

 

 

 

 


Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...