Rabu, 25 September 2019

The Naked (Nekat) Jobseeker

Bukan tanpa pertimbangan aku memutuskan untuk pindah ke ibukota, Jakarta. Setelah hampir menganggur satu tahun, setelah berjanji tidak akan meninggalkan dinding kos yang sudah kusulap dengan wajah-wajah member BTS dan menyemprotkan filox simbol 'BTS' dan 'ARMY' di dindingnya, akhirnya hari itu datang juga. Rela tak rela, suka tak suka - kepindahan ini harus terjadi. Untuk memulai sebuah kisah yang baru, seseorang harus berani meninggalkan kisah yang lama. Dalam artian bukan benar-benar melupakan, melainkan ambil pelajaran bermakna dari pengalaman lama. 

Pertama, ibukota adalah pusat bisnis. Di sana berpuluh bahkan beratus kantor berbagai jenis perusahaan berada di sana. Hampir setiap jam ada loker yang dibuka jika kita cek di aplikasi jobseeker online, seperti Jobstreet, Jobsdb dll. Hal ini sangat berkebalikan dengan loker di kota Palangka Raya. Tiap hari mungkin ada satu loker yang tampil di web-nya. Bayangkan satu loker diperebutkan berpuluh-puluh orang di sini. 

Peluang loker di Jakarta tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang mentalnya kuat, punya prinsip dan tentu membawa dampak positif bagi perusahaan. Namun perlu diketahui jika semua orang berpikiran sepertiku, artinya persaingan dalam mendapatkan pekerjaan juga sangat ketat. Apalagi aku adalah orang yang tak punya siapa-siapa sebagai orang dalam yang bisa kuharapkan untuk membantuku diterima bekerja di sebuah perusahaan. 

Kedua, Jakarta adalah kota dimana kau bisa menemukan apa saja yang kau cari. Aku bercita-cita menjadi penulis, artinya aku semakin dekat dengan impianku karena di sana banyak sekali perusahaan yang merupakan penerbit buku berbagai genre. Salah satu incaranku adalah Penerbit Gagasmedia yang menerbitkan novel komedi sejenis pelit (personal literatur). Aku tau mungkin ini pemikiran agak dangkal. Pindah ke Jakarta supaya lebih dekat dengan penerbit, padahal sekarang para penulis karyanya gak mesti diterbitkan dan menjadi buku fisik kok. Banyak penulis yang karyanya dipublikasikan di dunia maya, online. Karena banyak yag baca, kemudian diterbitkan dan jadilah wujud buku. Tapi jangan salahkan pola pikirku ini. Beda kepala, beda pemikiran. Mungkin aku tipe orangnya kebalikannya, diterbitkan dulu baru dibaca banyak orang (bestseller). 

Ketiga, keyakinan bahwa semakin besar masalah yang kau hadapi, semakin banyak jenis orang yang kau temui, semakin kompleks tempat tinggalmu, akan melatihmu menjadi pribadi yang tangguh, kritis dan semakin kebal menjalani kenyataan hidup. Kau tau, aku berangkat ke Jakarta bermodalkan uang pinjaman untuk membeli tiket pesawat. Aku bahkan belum tau nanti tinggal dimana (biaya kos disana pasti selangiiittt). Sementara ini, kurencanakan numpang di sekre WALHI karena dari bandara aku bakalan nyampe malam jam 20.10 Sabtu, 28 September 2019 nanti. 

Modalku untuk bertahan hidup di kota metropolitan itu hanya dua buah celengan kaleng yang dulunya uang di dalamnya kutabung untuk membeli tiket konser BTS jika suatu hari di 2019 atau setelahnya mereka kembali mengadakan konser di Indonesia. Isinya? Hm, kuisi dengan uang dua ribuan, kadang sepuluh ribuan. Tak pernah dengan uang 100 ribu. Iya, I know lagi-lagi BTS. Aku benar-benar belum dewasa karena belum bisa lepas dari bayang-bayang ketujuh pria tampan itu. Tapi jangan salah, merekalah yang memotivasiku untuk tetap semangat berusaha mewujudkan impian. Ya, tujuh orang itu dari agensi tak terkenal menjadi seterkenal sekarang.  

Aku tidak bisa membawa semua barang-barangku setelah 6 tahun hidup di pulau, err kota ini. Banyak yang kutinggalkan termasuk novel-novelku sekardus besar, peralatan masak dan makan, sepatu-sepatu, gitar, bantal dan sekardus besar baju. Inilah resiko kuliah jauh di luar pulau. Dalam kasusku ini aku dua kali luar pulau, karena Sumatera dan Kalimantan dipisahkan oleh pulau Jawa. Satu-satunya yang mungkin bisa kubawa untuk kutenteng di dalam pesawat bersamaku (mengingat pesawat garuda hanya gratis 20 kg bagasi) hanyalah rice cooker kecil merk miyako yang sudah setia menemaniku kurang lebih 5 tahun ini. Mungkin di dalam kardusnya nanti bisa kuselipkan satu piring, cangkir dan sendok. Di Jakarta nanti bisalah beli beras, terus rebus telur. Menu makan sampai dapat pekerjaan. 

Menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru. Rasanya seolah jadi mahasiswa baru lagi. Kuharap bisa secepatnya menemukan pekerjaan dan punya penghasilan sendiri. Sekeras apakah kota metropolitan itu?

Tunggu kisahnya di tulisan selanjutnya ...

The Naked Jobseeker













Jumat, 20 September 2019

Sehari bersama TK Jaya Abadi



Selain bukan kakak yang baik, aku juga bukan anak yang berbakti. Masa kalau ortu telpon lama baru diangkat. Pernah juga gak diangkat sama sekali. Bukannya apa-apa, tapi aku malu kalau entar ditanya udah dapat kerja atau belum. Emak apalagi, beliau bersikukuh supaya aku kerja apa aja dulu gitu. Gak usah gengsi mentang-mentang udah sarjana, nunggu perusahaan besar.
Hingga hari ini ada kenalan yang ngasih tau info loker dari WA. Jadi kasir di toko bangunan. Oke, ini layak dicoba. Gak ada susahnya men-scan barcode harga barang dan mengembalikan uang pelanggan. Kusiapkan berkas lamarannya dan bermodalkan google map aku menuju toko bangunan itu.
Setibanya di lokasi, aku gak langsung menemui si pemilik toko. Toko Jaya Abadi. Kuamati dari seberang jalan toko bangunan itu. Rasa ragu muncul. Kunyalakan motor dan melaju tanpa arah. Kata-kata emak muncul lagi di benakku. Jangan gengsi. Baiklah, let’s do this! Kubalikkan arah motor.
Aku disambut lelaki sipit berkulit putih berusia 40-an, jangan bilang dia chinese karena aku tak pernah berhasil bekerja dengan mereka. Maksudku sebagai majikan. Selain pelit mereka juga …pelit!
“Mau cari apa?” tanyanya.
Aku turun dari motor dan mendekat.
“Ini, Pak saya dapat info dari kawan. Katanya di toko ini sedang cari kasir ya?”
“Iya benar. Dapat infonya dari siapa?”
“Dari..”
Astaga, aku lupa nama yang disebutkan kenalanku itu.
“Dari ibu.”
Kening beliau mengerut.
“Dari Shama mungkin, ya. Sebentar. Shamaaaaa..”
Seorang cewek lebih tua dariku muncul. Ah iya, itu nama yang disebut kenalanku itu. Aku langsung menyalami cewek yang dipanggil Shama ini. Sebagai sesama orang Batak kami langsung tanya marga, bukan nama.

Aku masuk ke dalam toko dan dihadapkan dengan si bos ini. Memang benar, pemilik toko ini chinese. Itu istrinya sedang berdiri di depan komputer. Putih, tinggi, langsing, wajah tak bersahabat. China sekali.
Bos tanya-tanya soal diriku dan soal gaji yang kuinginkan. Setelah meminta fotokopi ktp dan nomor HP-ku, beliau nanya apa mau langsung masuk hari itu, yang kuiyakan saja. Kak Shama mengajakku berkeliling di dalam toko. Karena ini toko bangunan jelas yang dijual paku, seng, semen, cat, lem, sekop, pipa dan masih banyak lagi.
Pekerjaan pertama yang kulakukan adalah mengepel lantai. Lagi-lagi kukuatkan diriku, gengsi tidak akan memberiku makan. Tapi yang menarik adalah tongkat pel yang kugunakan sudah jelek sekali. Apa kubilang, mereka ini orang pelit. Di toko ini jangankan AC, kipas pun tak ada.
Tiba-tiba istri si bos ngomong.
“Kamu kalau ndak serius gak usah kerja di sini. Nanti saya malah udah capek ngajarin, eh malah berhenti.”
Jutek sekali wanita itu. Hm, tapi dia orang china yang medok.
Kubalas, “Iya, Bu.”
Apanya yang iya sih? Aku emang gak serius mau kerja di sini, gitu?

Saat mengepel teras, ada laki-laki berkulit putih (kuyakin chinese juga) di toko sebelah senyum-senyum genit ke arahku. Buru-buru aku masuk ke toko.

Setelah selesai mengepel aku dibawa Kak Shama ke lantai dua, dimana gudang stok penyimpanan barang berada. Busyet, naik turun tangga emang bikin sehat sih. Tapi kalau tangganya seram gini..
“Jadi di sini banyak jenis-jenis sambungan pipa, Len. Kalau TS yang tebal, ada yang DV itu lebih tipis. TS juga ada yang 90° ada yang 45°. Blablabla ..”
Aku diajarin sistem kerja di komputer kasir. Input dulu barang yang dibeli serta jumlahnya, lalu kita ambil barangnya, baru terima uangnya. Rempong juga, kirain tinggal scan barcode harganya, terima uangnya. Ini mesti ngambil barangnya juga? Kalau misalnya yang dibeli sambungan pipa TS tadi, artinya aku harus naik tangga dulu ke atas. Fiuh..
Ada banyak jenis-jenis paku dan bagaimana menimbangnya. Jenis-jenis semen, cat, kertas pasir. Selesai bekerja dari sini kayaknya aku bisa ngambil proyek dari dinas pekerjaan umum deh.
“Kamu belajar cekatan ya, di sini,” kata istri bos.
Dalam hatiku, saya belum makan bu tadi dari rumah. Jangan khawatir, biasanya saya hiperaktif kok.
“Iya, Bu.”
Ketika ada yang beli, bos meminta aku yang input di komputer kasir belanjaan orang itu. Tapi karena masih baru, belum paham, aku lamban. Istri si bos datang dan mendorongku ke samping tak sabaran.

Kalau sedang tak ada pelanggan, aku dan Kak Shama ngobrol bahasa ibu kami (batak). Kak Shama sudah menikah dan suaminya kerja di tambang. Mereka LDR meski sudah menikah.
Masuk dua orang, satu cowok dan satu cewek yang kukira mau beli sesuatu. Ternyata keduanya langsung menghadap bos, diinterogasi.
“Mereka kenapa, Kak?”
“Kemarin kerja di sini, terus dikreditkan motor atas nama toko. Padahal belum lunas dan resign kerja. Sayang banget kan, motornya,”

“Lena, kalau lagi gak ada pelanggan coba kamu pelajari ini jenis-jenis TS dan DV,” suara bos menginterupsi percakapan kami.

Semakin siang semakin ramai pembeli. Kukira hanya warteg aja yang ramai tiap hari. Tapi masa iya tiap hari ada yang bikin rumah?
Sekelompok mahasiswa datang. Ini pasti jurusan teknik sipil, karena kalau mereka jurusan perikanan pasti gak datang ke toko bangunan.
“Anu, siapa, kamu coba naik ke atas cari TY 2 inch x 0,5,” istri si bos menyuruhku. Aku naik ke atas sendirian dan kebingungan yang mana TY. Apakah bentuknya persegi? Kuputuskan turun membawa sambungan pipa yang mirip ketapel.
“Bukan yang begini ukurannya. Coba liat itu ada tulisannya di cabangnya itu,” komentar istri si bos.
Aku naik lagi ke atas dan lama baru turun. Kali ini salah bentuk lagi.
“Coba kamu liat, bentuknya beda. Yang ini agak melengkung TY-nya, sedangkan yang ini cabangnya lurus.”
Aku naik lagi ke atas. Belum jam makan siang dan aku sudah 10 kali bolak-balik naik tangga mengambil barang dari gudang. Dimana ada pekerjaan kasir seperti ini?
“Kak Shama,” kataku saat di gudang.
“Ya?”
“Berapa lama sebelumnya orang yang bekerja disini resign paling cepat? Maksudku yang paling cepat keluar, karena gak tahan kerja di sini. Sebulan? Seminggu?”
Kak Shama terlihat berpikir. “Ehm, kayaknya 3 bulan sih. Kenapa, Dek?”
“Aku mau bikin rekor.”
“Maksudnya?”
“Ini hari pertama dan terakhirku bekerja di sini,” kataku mantap.

Kak Shama melongo.
.
.

Jam makan siang sudah tiba. Tapi suami-istri itu tidak bergerak dari depan komputernya. Ternyata ini rahasianya orang China cepat kaya : Lewatkan jam makan siangmu!
“Lena gak makan?” tanya bos.
Dalam hati, enggak, saya pengen cepat kaya kayak elu.
“Enggak, Pak. Biasanya makan sore.”
Perutku demo di dalam. Menuntut keadilan sosial bagi seluruh cacing dalam perut.
Kak Shama juga gak makan siang. Setiap melihatku dia tersenyum tertahan, teringat perkataanku soal rekor tadi mungkin. Dia kira aku bercanda? Lihat saja nanti sore. Aku sedang menyusun rangkaian kata-kata yang tepat untuk kuucapkan persis di muka si bos nanti.
Seorang ibu datang membeli seng dengan ukuran 30 m. And you know what? Kasir jugalah yang bertugas memotong seng itu.
Kak Shama mengambil meteran dan mengukur, sementara aku menahan ujung meterannya. Setelah dipotong, aku disuruh menggulung seng itu. Good job, tanganku berhasil tergores sisinya yang tajam dan berdarah.
“Berdarah tangannya?” tanya si ibu yang membeli seng menunjuk tanganku.
Si bos dan Kak Shama ikutan menoleh ke telapak tanganku.
“Pake itu hansaplast,” kata si bos kampret. Harusnya ini kerjaan elu atau karyawan elu yang cowok. Cuma bilang ‘pake hansaplast’, tapi gak ada dikasih.

Kira-kira begini rangkaian kalimatku nanti sore, Pak sepertinya saya kurang cocok dengan pekerjaan ini. Hari pertama telapak tangan tergores seng, untuk menghindari hari berikutnya kaki saya keinjak paku, kayaknya ini hari pertama dan terakhir saya saja.
Jam 4 sore semua mulai beres-beres. Aku persis anak itik yang mengekor induknya kemanapun pergi. Aku gak tau apa yang harus kulakukan, jadi aku ikut kemana Kak Shama pergi.
Akhirnya setengah 5. Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Aku sudah menyandang tasku.
“Pak, Ibu sebelumnya terima kasih sudah mau menerima saya hari ini bekerja. Tetapi saya mohon maaf, sepertinya saya kurang cocok dengan pekerjaan ini. Jadi sebelum ibu capek ngajarin saya (kutekankan di bagian ini), alangkah baiknya saya berhenti saja hari ini juga. Sekali lagi terima kasih dan saya minta maaf,” kataku mantap.
Si bos sempat diam, bengong di tempat. Mungkin takjub dengan ‘rekor tercepat’ berhenti bekerja yang kutorehkan dalam sejarah per-karyawan-an Toko Jaya Abadi-nya. Istrinya duduk memunggungi kami. Kuharap dia tidak sedang meneteskan air mata. Kusalam si bos, tapi istrinya belum merubah posisinya. Tanganku menggantung di udara. Apakah dia beneran nangis karena aku keluar hari itu juga? Dia menyesal sudah jutek, eh mungkinkah?

Tapi ternyata, tiba-tiba dia melemparkan selembar uang 50-ribuan di atas meja.
“Apa ini, Bu?”
Jelas-jelas itu uang kertas. Gimana sih aku.
“Buat uang bensin,” katanya lagi-lagi jutek. Bahkan sampai akhir wanita itu bersikap tak bersahabat. Apakah kita musuh di kehidupan sebelumnya?
“Maaf ya, Pak,” kataku lagi.
“Iya, gak apa-apa Lena. Mending begitu kalau gak cocok jangan dipaksakan.”

Kuambil uang itu dari meja, kumasukkan ke saku celana. Masa iya gak kuambil setelah aku naik-turun tangga 30 kali hari itu. Setelah telapak tanganku teriris seng. Setelah maag-ku kambuh karena gak makan siang. Kusalam istri bos yang jutek itu untuk pertama dan terakhir kalinya.
Damai Yesus Kristus besertamu, kataku dalam hati.

Kutatap toko Jaya Abadi untuk terakhir kalinya. Semoga sikap jutek istri bos tidak abadi seperti nama tokonya. 

Ajaibnya, malam hari aku menelpon ibuku dan menangis tersedu-sedu melaporkan kejadian anti mainstream itu. Dimana ada orang bekerja cuma satu hari, langsung resign?
Mendengarku menangis tertahan, bapakku sempat panik mengira aku diperkosa orang. Elah pak, orang yang perkosa juga pilih-pilih kale.

Aku menangis karena merasa aku gagal menahan penderitaan. Aku dan sifat pembangkangku yang sangat dominan. Gak sanggup diperlakukan orang dengan gak adil. Daripada diperlakukan demikian, mending aku keluar. Padahal selama ini aku menganggur di kosan. Susah mendapat pekerjaan. Tapi .. hati nuraniku berontak dengan perlakuan chinese itu.
Bapak dan ibuku menasehati. Jangan menyalahkan diri sendiri, tetap sabar menunggu kesempatan lain serta jangan lupa berdoa.

Maafkan anakmu ini, Mak, Pak.
Sepertinya gaji pertamaku masih lama lagi bisa kukirimkan …

Hasil gambar untuk DV pipa
DV Elbow 6"

Hasil gambar untuk ty pipa
Tee D LT 4 x inch T Y TY 90 derajat
Hasil gambar untuk TY pipa Y
Sambungan Pipa PVC Rucika Tee Y 45 D 5" x 4" 


Minggu, 08 September 2019

Cara Survive Ala Pengangguran


Begitu disahkan sebagai pengangguran (baca : meninggalkan aula wisuda), beberapa dari orang pasti banyak yang bingung. Beberapa ada sih yang udah memikirkan dengan jelas apa yang akan dia lakukan. Mungkin S2 baru menikah, atau punya anak dulu baru menikah., eh? Tapi kebanyakan pasti banyak yang bingung. Ada yang bingung mau kerja dimana, bingung nikah sama siapa, bingung kalau presiden ganti harga sewa kosan berubah atau enggak, bingung nanti masih minta uang kiriman atau enggak. Buat kalian yang bingung, S E L A M A T !! You are not alone. I'm here, by your side

Hidup sebagai penganguran, oke biar lebih berkelas kita sebut aja jobseeker toh maknanya sama. Hidup sebagai jobseeker di bulan-bulan awal setelah wisuda masih biasa aja, gak ada bedanya dengan hidup semasa skripsian. Masih nafas, ke WC, ke warteg, (kalau tiba-tiba niat) ngerjain revisi. Tapi berhubung udah jadi jobseeker part yang terakhir itu diganti dengan pantengin info loker. 

Memasuki bulan-bulan ketiga dan keempat, mungkin udah ada aja interview yang anda lalui meski belum berhasil. But life must gone eh go on, kesabaran adalah kuncinya, berdoa jangan lupa. 

Belum punya penghasilan tetapi perut pecicilan. Hadeuh. Semasa kuliah, aku memang dikirimi uang bulanan oleh kakakku. Sesudah berstatus jobseeker beliau mengirimiku setengah dari angka biasanya. Guest berapa. Tak lebih tak kurang : 500 ribu untuk semua keperluan termasuk uang kos, makan, beli obat sakit kepala, beli softex, parkir, bayar gojek, dan bayarin preman yang malakin awak. Terus terang, ini bukan dongeng melainkan true story. Meski sebenarnya, akulah yang menyarankan pereduksian uang bulanan itu. Setelah kupikirkan lagi, aku menyesal. 

       Berikut rincian uang yang harus kukeluarkan untuk bertahan hidup setiap bulan :



Uang kos                                                                                   =  375.000
Uang makan (beli dari warteg) @20 ribu sehari x 30 hari       =  600.000
Uang wifi (satu per satu member keluar, tagihan bengkak)     =    65.000
Token listrik                                                                              =    34.000
Odol, sabun, detergen, dll                                                         =  100.000
 
 =1.174.000


Itu aja belum termasuk misalnya kalau ibu kos ulang tahun dan minta kado, atau anak-anak ngajak reuni tiba-tiba padahal baru 3 bulan wisuda. Dengan uang 500.000-1.174.000=  -674.000 (minus)

Tenang, jangan panik wahai, diriku! Ayo kita liat kesempatan lain. Kata pepatah jangan terlalu lama menyesali satu pintu yang tertutup, hingga kau tidak melihat pintu lainnya yang terbuka. Untung saya pernah bergabung dengan UKM pecinta alam saat masih di kampus, sudah diajari cara bertahan hidup (di hutan).

Buka mata dan telinga. Perhatikan sekitar. Well, Ibu kos adalah wanita yang sangat baik menurut anak-anak di kosan kami. Untuk membuktikan teori itu mari kita coba menunggak uang kos sementara, kira-kira …sampai mendapatkan pekerjaan!

Oke, yang selanjutnya uang makan. Ini adalah biaya paling bengkak, mengalahkan bengkaknya pipi Park Jimin BTS saat masih bayi. Karena sudah divonis dokter menderita penyakit maag, aku harus tetap makan jika masih ingin mengunjungi The Wizarding World of Harry Potter di Orlando, Florida (one day). Meski tidak bisa makan 3x sehari, buatlah menjadi 2x sehari. Karena punya rice cooker, mari menanak nasi dan membeli lauknya di warteg seharga 6 ribu tambah sayur sekitar 10 ribu.

Selanjutnya uang wifi. Yang satu ini juga tidak bisa dihindarkan, inilah yang menghubungkanku dengan dunia sihir sosial mencari pekerjaan, menanyakan kabar adik-kakak (ibuku belum punya android), minta (baca : maksa) info loker sama kawan dan yang terakhir ini yang paling penting karena kalau enggak aku pasti udah lama stres, mantengin BTS. Mulusnya muka mereka seolah-olah turut memotivasiku bahwa masa depan yang sedang dirancang Tuhan juga semulus itu.

Nah, untuk uang wifi manfaatkan saja salah satu e-commerce yang terkenal itu, Shopee. Di aplikasinya ada fitur beberapa game yang bisa dimainkan untuk menghasilkan koin shopee. Game-nya ada macam-macam, mulai dari goyang shopee, kuis shopee, tangkap shopee. Nantinya koin ini bisa digunakan untuk membayar tagihan wifi via shopee juga. Semakin rajin main game-nya, semakin banyak koin yang didapat. Aku pernah sampai mengumpulkan koin 120.000 yang setara dengan uang 120.000 ribu.   


 Hasil gambar untuk goyang shopeeHasil gambar untuk goyang shopeeHasil gambar untuk goyang shopee
Ngenes! Tinggal satu soal lagi padahal

Selanjutnya token listrik. Bersyukurlah teknologi semakin maju sehingga bermunculan aplikasi-aplikasi terobosan terbaru juga untuk membayar tagihan. Begitu banyaknya, sehingga terjadi persaingan antar mereka. Tiap brand untuk menarik minat konsumen memakai trik marketing masing-masing. Salah satunya ada yang memberikan cashback sampai 100%. Ini jugalah yang membuatku jadi tergila-gila sama yang namanya cashback. Awalnya memang coba-coba, namun lama-kelamaan jadi ketergantungan sama cashback. Tidak mau bayar tagihan wifi atau beli token listrik dari aplikasi DANA kalau gak ada cashback.

Hasil gambar untuk DANA cashback token listrik Hasil gambar untuk DANA cashback token listrik
 
Misalnya mau beli token listrik 100 ribu, terus entar dapat voucher 50% yang bisa dipakai untuk transaksi berikutnya. Namun lagi-lagi trik marketing, ada tulisan kecil berbunyi 'syarat dan ketentuan berlaku' persis di bawah tulisan besar "DAPAT VOUCHER 50%". Salah satu ketentuannya misalnya, 'voucher maksimal adalah 25 ribu'. Seharusnya jika bulan depan beli token listrik 100 ribu lagi dan pakai voucher 50% yang didapat bulan lalu, seharusnya dapat potongan 50 ribu sehingga sisa harga yang perlu dibayarkan hanya 50 ribu lagi. Ini malah bayar 75 ribu...

Semakin maju teknologi, semakin banyak aplikasi bayar tagihan, semakin pintar trik marketingnya dan semakin saya bergantung pada cashback.

Nah, yang terakhir. Peralatan sabun dll. Saat masih berstatus sebagai jobseeker, berlatihlah mandi hanya sekali sehari. Kalau bisa tidak mandi sama sekali lebih bagus, karena mengurangi tumpukan kain kotor dan penggunaan sabun. Hemat rinso dan uang. Buat cewek-cewek yang doyan make-up saat keluar rumah, harus rela menggunakan masker untuk menutupi kekurangannya. Inilah kenapa aku penampilannya tomboy. Karena aku punya prinsip, maskulin itu lebih hemat dibanding feminin. 

Last but not least, ikutan semua instagram alfamart atau indomaret. Karena ada promo JSM (Jumat, Sabtu, Minggu) yang berguna sekali untuk menghemat pengeluaran dari harga awal. Kan lumayan tuh, beli indomie goreng 5 Cuma 10.500 (harga normal 12.500). Eits, tapi jangan kebablasan juga gara-gara promo.











Rabu, 04 September 2019

The Passion In My Blood Is A Curse Or Bless?


Saat SD aku sangat suka membaca buku. Saat itu aku kelas 3 SD. Pulang sekolah semua anak-anak petani di desa kami wajib hukumnya membantu orang tua di ladang. Bila sore tiba, aku mendapat tugas memasak. Sambil menunggui nasi yang ditanak dengan perapian, aku menyempatkan diri membaca lagi. Kadang buku cerita yang kupinjam dari lemari buku di sekolah. Kadang membaca alkitab. Kadang membaca guntingan Koran bekas bungkus ikan asin. Ibu sering memarahiku karena membaca sambil memasak. Beliau langsung cerewet, katanya itulah mengapa nasi yang kumasak sering gosong. Kata ibu mustahil mengerjakan dua hal sekaligus dan keduanya berhasil. Yang ibu tidak tau di lain hari aku mencuri-curi lagi waktu untuk membaca sambil memasak. 

Kebiasaan membaca sejak SD ini terbawa hingga SMP, SMA bahkan kuliah. Saat SMP dan SMA aku sering tercatat sebagai siswa yang paling rajin meminjam buku dari perpustakaan. Prestasi itu dihargai dengan memberikan hadiah buku tulis. Terjadi hampir setiap semester.
Bahan bacaanku sudah semakin luas, karena tak seperti SD di kampung kami, SMP dan SMA-ku sudah punya perpustakaan khusus. Mulai dari novel terjemahan, ensiklopedia, buku self motivation, kumpulan cerpen, buku-buku pelajaran semua ada. Hingga suatu hari terpikirkan satu hal. Penulis/pengarang sebuah buku adalah orang jenius. Ia bisa menghasilkan lembaran demi lembaran tulisan yang dihasilkan dari imajinasinya (novel). Selain penulis, orang-orang yang kuanggap jenius : rapper, komedian, penulis lirik lagu. Saat kuliah, aku pun mulai belajar menghasilkan sebuah tulisan. Meski tidak rutin, aku berlatih menulis di blog pengalaman sehari-hari yang kurasa ‘ajaib’. Yeah, ini memang bisa disebut diary online. Di suatu kesempatan aku pernah mengikuti lomba menulis cerpen yang diadakan oleh ANDI Publisher. Tema cerpennya yaitu Kisah Gokil saat SMA. Ini bukan tema yang sulit, karena kurasa pengalamanku ngekos saat SMA memang gokil berkat seorang nenek tangguh pemilik kos kami. Kabar yang kudengar beliau sudah berpulang ke pangkuan-Nya. RIP grandma,.

Tidak disangka cerpen itu berhasil masuk dalam 15 besar. Saat itu aku mendapat uang hadiah sebesar 660 ribu untuk cerpen yang kubuat hanya 3 halaman itu. Tak terkatakan senangnya hati, apalagi karena itu adalah karya pertama yang kubuat dan langsung mendapat apresiasi. Sejak itu cita-cita untuk menjadi penulis semakin kuat. 

Begitu lulus kuliah, ternyata semua hal tak seindah rancanganku. Aku anak ketiga, dengan tiga adik yang masih sekolah. Kakak dan abangku sudah menikah. Selama kuliah aku dibiayai oleh kakakku yang kini sudah punya anak. Aku harus mengambil alih tugas beratnya, membiayai kebutuhan adik-adikku. Kedua orang tuaku hanya petani kecil dengan usia yang tidak muda lagi. Tapi mencari pekerjaan tidak mudah. Empat bulan sudah aku menganggur. Adikku yang pertama semester 7 di Banten. Yang kedua, baru lulus SMK dan atas usul suami kakakku ia diminta ke Batam melamar di perusahaan kakakku bekerja. Adikku yang bungsu, cewek kelas 1 SMA di sekolah swasta (katolik). Beruntungnya dia, begitu mendaftar sekolah adikku yang di Batam diterima bekerja.

Aku awalnya tidak ingin menerima uang bulanan lagi dari kakakku. Tapi ternyata belum bisa, karena pekerjaanku belum dapat sehingga kuminta ia mengirimiku setengah saja dari angka yang biasa. Bulan ketiga setelah aku wisuda, kakakku bilang bahwa mulai saat itu uangku akan dikirim oleh adikku. Aku tak tega sebenarnya. Dalam hal ini seharusnya aku yang membiayai adik-adikku, kenapa malah terbalik? Selain anak durhaka ternyata aku juga kakak yang tidak bisa diandalkan. 

Memasuki bulan kelima setelah diwisuda. bBukannya aku tidak mencoba melamar di beberapa lowongan yang tersedia. namun percayalah, mencari pekerjaan juga sama susahnya dengan mencari jodoh. Perlu beberapa kali patah hati hingga menemukan yang disediakan Tuhan. Sebuah lowongan pekerjaan menjadi wartawan di media cetak daerah kota ini. Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Ini salah satu hal yang kusukai, yang bisa membawaku ke impian lainnya. Berhubung aku tau ada seorang seniorku dulu di organisasi kampus yang bekerja di sana, aku pun mengkontaknya dari WA. Ia langsung menelponku. Katanya beliau bisa saja merekomendasikanku ke pimpinannya, dengan syarat aku harus bertahan dengan segala tekanan bekerja sebagai wartawan. Ia tak ingin aku hanya bertahan sebulan dua bulan, lalu menghilang. Meski dalam hati agak ragu, kuyakinkan seniorku itu bahwa aku akan berjuang. Ia pun meminta menulis surat lamaran yang ditujukan kepada pemimpin redaksinya.

Keesokan pagi aku belum menulis surat lamarannya. Yang kulakukan adalah mencari tau suka duka profesi wartawan di google. Muncul beberapa artikel, termasuk tentang gaji, redupnya media cetak dan lain-lain. Bahwa gaji seorang wartawan sangat rendah. Mereka dibayar per berita yang dihasilkan dengan kisaran 10-25 rb/berita. Padahal tekanan untuk menghasilkan satu berita saja mulai dari bertemu narasumber sampai mengolahnya menjadi paragraf informatif bukan perkara simpel. Tapi ya tentu, enaknya adalah punya banyak kenalan. Pengetahuan semakin luas karena otak dituntut untuk menguasai segala aspek dalakedidupan. 

Tiba-tiba aku tersadar. Ada tiga orang adik yang harus kubiayai pendidikannya. Adikku yang sudah bekerja di Batam masih berharap bisa kuliah. Kalau adikku yang SMA lulus dan minta kuliah juga bagaimana? Apa aku sebagai kakak harus bilang, maaf dek, kakak gak sanggup untuk menguliahkan kalian. Kakak hanya wartawan dengan gaji tak seberapa.
Tapi ini sesuatu yang kusukai. Apa orang menyebutnya, ah iya passion. Gairah. Sesuatu yang membuatku bersemangat untuk menekuninya. Aku tau ada perbedaan besar dalam menulis tulisan di blog dengan berita untuk dimuat di koran. Namun keduanya mempunyai basic yang sama, mengolah kata-kata.
Apakah aku harus mundur dari sesuatu yang kusukai? Lupakan saja menjadi wartawan. Mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih mencukupi untuk mengkuliahkan dua orang adik. Yah, itu tidak mudah mengingat aku saja sudah menganggur 4 bulan. Niat ingin mencari kerja di Jakarta pun terpaksa kuurungkan lagi, mengingat di sana pun persaingan mencari pekerjaan ketat, biaya hidup mahal.
Aku dilema…,


Hasil gambar untuk lirik pocket of dreams
Pocket of Dreams - Bagus Bhaskara ft Yustine Saptarini

Pocket Of Dreams
Bagus Bhaskara
I'm just a simple guy,
came from a simple town
with a pocket of dreams
and a little proud
not knowing how i can bare
with the tough of the city
I'm blindfolded by the idol of my self
the passion in my blood is a curse or bless hmm?
I'm just a little girl,
came from a little town
with a pocket of fears,
and a few of tears
not knowing how i can bare
with the tough of the city
I don't wanna be an usual girl
just give up on the things
that I love the most hmm.
we both fear of city light
we hope time will make it right
but if we struggle and the bad time comes
we still have each other
so don't be afraid any further
curu curu rururu
I'm just a simple guy
and I'm just a simple girl
with the pocket of dreams maybe too extreme
not knowing how i can bare
with the tough of the city
we both don't know what to expect or.
how hard could it be than our life before hmm.
we both fear of city light
we hope time will make it right
but if we struggle and the bad time comes
we still have each other
so don't be afraid any further
so don't be afraid any further
so don't be afraid any further

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...