Kamis, 21 Mei 2020

MOUSE-nya kekecilan


Dari awal apply di loker perusahaan pembiayaan itu memang asal-asalan juga sih. Asal apply maksudnya. Tanpa baca detail job desk, klik 'apply'. Entahlah, sebenarnya aku gak berniat nyari kerjaan tapi takut mati kelaparan. Betapa tidak estetiknya dua kenyataan yang betolak belakang itu. Lah uang kan datang dari hasil bekerja (kalau mau yang caranya baik-baik). Udah bekerja, digaji, bisa deh beli makan, bayar kontrakan, isi pulsa, beli sabun buat mandi. Anehnya hal ini gak terjadi padaku. Aku gak termotivasi nyari kerjaan, tapi ingin tetap hidup. Ibarat gak pengen motornya mati di tengah jalan karena kehabisan bensin, eh pas lewat pom bensin malah gak diisi. Gitulah kira-kira.

Dulu di kampus, aku aktif ikut turun ke jalanan bersama kawan-kawan dari berbagai himpunan dan komunitas sosial. Meneriakkan inspirasi-inspirasi yang mana juga merupakan teriakan dari hati kecil rakyat. Orasi di depan gedung gubernur, pakai toa, pakai almamater, teriak-teriak dalam satu barisan. Rajin diskusi untuk sebuah kajian topik tertentu. Ya meski gak serius-serius amat memberikan opini, tapi aktif mendengarkan dan menganalisis. Di media sosial juga ikut memberikan cuitan lewat postingan-postingan berjiwa sosial tinggi yang isinya menyatakan siap untuk ikut pengabdian di suatu daerah.

Kini semua berbeda. Aku gak lagi kayak gitu. Jangankan postingan di media sosial. Kebijakan-kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah entah apapun itu saat ini gak ambil pusing. Dunia di luar kampus benar-benar berbeda. Kalau dulu masih dengan semangat berapi-api menyanyikan lagu Buruh Tani, sekarang malah menyanyikan lagu Ya Sudahlah. Dulu mengibarkan bendera merah putih, kini rasanya ingin mengibarkan bendera putih. Lah gimana, menyelamatkan diri sendiri aja belum bisa, gimana bisa menyelamatkan orang lain? I know ini amat sangat bertentangan dengan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei. Tapi bukankah semua kebangkitan diawali dari keterpurukan? -Mantan mahasiswa yang kehilangan arah (2020).

Tadinya postingan ini mau bahas hal-hal lucu yang terjadi dalam 8 hari training desk collection itu. Eh, kok malah jadi melo begini? Bukan melo, ini lebih ke galau gak jelas gitu gak sih?!

Oke. Jadi, aku ngerasa Tuhan itu sengaja ngasih kisah-kisah absurd di bawah normal gitu dalam hidupku supaya suatu hari bisa kutulis jadi buku komedi. Hahahah, ini teori sotoy-ku aja. Untuk lebih jelasnya nanti kutanyakan pada beliau lewat mimpi.

Jadi kami ada berdua belas yang diajar oleh trainer yang sama. Urutannya adalah setelah lulus NHT (New Hire Training=8 hari) ini akan dilanjutkan ke OJT (On The Job Training) selama 3 hari. Setelah lulus OJT baru offering letter jadi Kemitraan. Setelah satu tahun baru jadi karyawan kontrak. Iya, emang panjang. Di hari terakhir (kemarin) diadakanlah tes final. Tes final tertulis dan praktek. Untuk yang praktek sederhana. Kami hanya perlu menelepon dan berperan sebagai desk collection di depan komputer sambil menginput hasil penelponan dengan si klien (kayaknya semua kerjaan emang butuh kemampuan multitasking). Dari hari-hari yang telah berlalu, aku sedikit banyak kenal sama kemampuan peserta NHT di kelas.

Ada si Bapak Dzikri (dia udah menikah makanya kupanggil ‘bapak’ tapi seumuran denganku hahah) yang pernah jadi sales perumahan katanya. Bisa dibayangkan kan gimana lancarnya dia ngomong dan pintar bernegosiasi? Terus ada Rindi, temanku nebeng dari Kemayoran. Dari kelemahlembutan suaranya sih dia lebih cocok jadi ibu guru TK. Serius. Karakter suaranya yang gemulai itu akan berdampak pada klien ngeyel kalau ditagih untuk membayar cicilannya. Ada Kasih dan Wanda, yang kurang lebih juga bersuara lembut seperti Rindi tapi sedikit lebih memungkinkan. Ada lagi cowok namanya Sarif, punya suara tipe-tipe cs telkomsel. Ada nada-nada manja nan feminis gitu. Terus ada aku. Aku? Ehhm, cukup kusebutkan punya suara cempreng yang tidak stabil.

Well, itu aja yang kukenal baik. Sisanya gak begitu kenal karena mereka bergabung dengan kelas kami di dua hari terakhir sebelum ujian final. Pindah trainer. Tapi kayaknya mereka itu jago-jago nagih utang kayaknya. Buktinya ada satu cowok yang duduk di sebelahku pas ujian final dengan beraninya nagih jawaban, gak berbisik tapi ngomong dengan desibel suara biasa, “Neng, nomor sepuluh jawabannya A kan ya?”

Kujawab aja iya, karena kurang yakin juga. Kukira sudah berakhir, dia gak bakalan nanya-nanya lagi. Ternyata sampai akhir waktu ujian tertulis habis dia tetap mengajukan pertanyaan. Ini kami lagi ujian final tertulis atau interview sih? Kok ada tanya jawab selama setengah jam.

Setelah ujian final tertulis, berikutnya dilanjutkan dengan ujian final praktek. Seperti yang kubilang tadi, kami dihadapkan dengan komputer, trainer dan satu lagi namanya QA, orang yang bertugas menilai. QA kemungkinan besar (asumsiku lagi) singkatan dari Quality Assessment. Di dalam ruangan tertutup. Hanya bertiga. Sesuai urutan abjad ‘M’, namaku dipanggil diurutan ketiga. Kalau bisa ganti nama saat itu jadi ZULEHA akan kulakukan, karena asli, aku gugup. Saking gugupnya sampai salah masuk ruangan. Aku masuk ruangan yang sama tempat peserta berkumpul menunggu giliran, hanya beda pintu. Sontak gelak tawa memenuhi ruangan itu, menertawai aku yang grogi.

Ketika sudah berhasil menemukan ruangan yang tepat, aku dipersilahkan duduk.

“Lena sudah siap?” tanya trainer.
Belum kujawab. Kupandangi laptop di depanku. Kok pake laptop sih? Katanya komputer. Ya sama aja sih, tapi mousenya kecil. Terus pas kuklik kelihatan kecil banget di tangan. Beda sama mouse di ruangan sebelah. Kalau sampai aku gagal gara-gara mouse gimana? Alah, alesan aja lu tong! (suara entah darimana).

“Sudah siap belum?”
“Iya, sudah Bu.”

Apa yang terjadi terjadilah. Kumulai dengan pertanyaan assumptive.

“Halo Bu Ani.”
“Siapa ini?”
“Selamat Pagi Bu, Saya Lena dari ***. Benar saat ini saya terhubung dengan Bu Ani?”
“Bukan, saya Putri.”
“Bu Putri siapanya Bu Ani?
“Saya Iparnya.”
“Baik Ibu, saat ini Ibu bersama dengan Ibu Ani?”
“Enggak. Lagi keluar dia.”
“Ibu sebelumnya sudah tau kalau Ibu Ani punya cicilan HP di *** sebesar – "

Mampus, mana nih harga tagihannya. Manaaaa… mousenya kekecilan, laptopnya loading..kenapa gak pakai komputer kayak kemarin aja sih…

“Halo Bu? Bu?” trainer manggil-manggil. Mana ada sejarahnya desk collection digituin sama klien. Uh! Kenapa mousenya kecil!!!!

“Ibu sebelumnya sudah tau kalau Ibu Ani punya cicilan HP di *** sebesar – Rp. 825.000 yang sudah keterlambatan 39 hari?” bergetar suaraku.
“Gak tau tuh. Kenapa memangnya?”
“Disini saya infokan kembali ya Bu Desi,-“
“Saya Putri, Bu.”
“Mohon maaf, Bu Putri maksud saya, bahwa Ibu Ani punya cicilan untuk produk HP sebesar 852 ribu rupiah yang sudah melewati masa pembayaran 39 hari. Ibu tau tidak kenapa belum dibayarkan oleh Bu Ani?”
“Gak tau saya.”
“Ibu disini kan iparnya ibu sudah keterlambatan 39 hari. Kalau tidak dibayarkan hari ini saya khawatir BI Checkingnya akan semakin memburuk yang mana berdampak pada iparnya ibu kesulitan mengajukan cicilan di tempat lain maupun di ***. Ibu bisa bantu handle bayar cicilan ibu Ani Bu?”
“Gak ada uang saya.”

Seharusnya setelah dia bilang gitu, aku mengeluarkan jurus probing sesuai yang diajarkan trainer - gak punya uangnya karena nunggu gajian atau gimana. Tapi malah melompat.

“Kalau tabungan ibu punya tidak?”
“Gak punya.”
“Ibu ini kan cicilannya iparnya Bu Putri, ibu bisa coba diskusikan dulu tidak untuk pinjam dana ke teman atau saudara?”
“Itu kan bukan cicilan saya.”
“Begini saja Bu, saya bantu dengan hapus dendanya sebesar 125 ribu rupiah. Jadi ibu perlu bayar pokoknya saja sebesar – "

Waduh, mana nih menu yang berisi tampilan jumlah angsuran per bulan. Mouse-nya kecil!!!!

“Halo Bu Lena”

Hening.

“Ibu Putri hanya perlu bayar 700 ribu rupiah. Bisa bu?”
“Gak ada uang saya, Bu.”
“Saat ini ibu ada dana berapa?”
“Gak ada sama sekali.”
“Begini saja, Bu. Ibu bantu handle bayar cicilan Bu Ani dengan menyicil saja, sebesar – "

Suaraku bergetar. Mana lagi nih kalkulatornya di laptop. 50% dari 852 ribu berapa sih!! Mouse-nya KEKECILANNN….!!!!

“Halo Bu Lena?”
“Ibu hanya perlu menyicil sebesar 412.500 rupiah.”

Aku gak berhasil menemukan kalkulator di laptop itu. Jadinya kuhitung secara manual. Untung angkanya gak ribet.

“Tetap gak ada uang saya, Bu.”

Huft, sesuai yang diajarkan saat training, kalau udah begini direkap aja 'menolak bayar'.

“Bu, berarti ibu tidak ada kesepakatan bayar dengan kami dikarenakan tidak ada uang. Konsekuensinya sesuai yang saya sebutkan tadi ya Bu Desi.”
“Saya Bu Putri, Loh.”
“Mohon maaf, Bu Putri maksud kami.”
“Yaudah, gak apa-apa.”
“Baik, terima kasih Bu Putri, selamat pagi.”

Role play berakhir, demikian juga dengan semangatku melewati sisa hari itu.

“Lena, kok kamu gak nawarin hari ini sama besok? Langsung hapus denda sama nyicil. Kenapa?” tanya trainer.

Pengen kutersenyum dulu lalu menjawab,’mouse-nya kekecilan,’ tapi .. ah sudahlah!!!

“Kelupaan, Bu.”

Berikutnya komentar selanjutnya dari trainer dan QA. Banyaklah pokoknya. Dari komentar bisa kusimpulkan hasil NHT ini.

Di perjalanan pulang waktu nebeng sama Rindi dia curhat kalau tadi di dalam ruangan dia gugup dan semua jadi kacau balau. Kuhibur dia dengan bilang, “Tenang aja, Rin. Aku juga tadi gak lancar kok. Tapi kalau menurutku mereka gak mungkin langsung meng-cut kita di NHT ini. Masa iya training 8 hari, terus di cut di hari ke-9? Kayaknya diluluskan ke OJT dulu semua, terus di OJT selama 3 hari itulah baru dinilai dan di-cut benar-benar yang gak bisa. Aku yakin mereka kasih kesempatan dulu selama 3 hari OJT itu.”

Iya, itu teori konspirasiku lagi. Entah kenapa muncul begitu saja dalam benak ini. Setidaknya si Rindi sedikit terhibur dan jadi konsen bawa motor. Kalau gak kuhibur, bisa-bisa kami masuk RS karena dia nabrak. 
Malamnya jam 8 grup WA mulai ribut. Pasti hasilnya mau diumumkan. Aku takut. Takut gak lulus dan gak bisa menerima kekalahan malah menyalahkan MOUSENYA KEKECILAN!! 
Gambar : alam, manis, mouse, imut, margasatwa, bulu, kecil, coklat ...
tikusnya (read : mouse) kekecilan !!!

Dengan sisa semangat melewati hari itu yang kupunya, kuklik gambarnya dan …

BOOM!

MAGDALENA PUTRIANI HUTABALIAN ... FAILED!!

Nama-nama diurutkan dari nilai tertinggi ke nilai yang terendah. Namaku persis berada di bawah nama terakhir yang dinyatakan PASSED … LULUS! Jadi namaku terdaftar di urutan pertama orang-orang yang FAILED. 

Nyesek. Karena berada di persimpangan itu. Persimpangan orang passed dan failed. Persimpangan? Come on, girl. Aku bahkan bukan orang ketiga.. 

Maafkan aku Rindi, sudah memberikan teori ogeb itu. Kuharap kau gak percaya 100% tadi siang pas kusampaikan, sehingga mental tidak terlalu down





Kamis, 14 Mei 2020

Training Desk Collection


Hari training ke-4 di perusahaan pembiayaan itu (PSBB of course masih berlaku). Materinya semakin kesini tentu saja semakin serius. Trainer kami orangnya kocak, kayaknya beliau asli Betawi kalau liat dari logatnya ngomong sama rekan sesama trainer-nya. Kata trainer ada 9 hari training dan di hari kesembilan nanti akan ada ujian final dengan memakai sistem di komputer. Tiga hari terakhir ini aku akhirnya naik motor nebeng sama kawan yang ikut training juga. Ini pertama kalinya buatku dibonceng kawan kebut-kebutan dari Kemayoran Jakarta Pusat ke Pasar Minggu Jakarta Selatan. Jarak itu dia tempuh hanya 30 menit udah termasuk isi bensin di pom. Apa orang Jakarta emang semua gitu bawa kendaraannya ya? Seolah-olah satu detik aja gak boleh terbuang sia-sia di jalan. Tancap gas pol terossss! Kalau udah sampai di kosan, jantungku yang capek karena harus deg-deg an sepanjang perjalanan. Dia cewek, tapi bawa motornya laju banget!

Aku mesti bangun jam 5 kurang 15 setiap pagi, karena butuh jalan kaki 20 menit ke rumah kawanku itu. Kami berangkat dari sana. Pulangnya, kebetulan training selesai jam 1, pas jalan kaki panasnya minta ampun. Aku gak minta dia jemput dan ngantar ke kosan. Yah mau gimana, kalau dia gak nawarin ya kan. Segan awak. Anggap ajalah jalan kaki 40 menit pp itu olahraga otot. Masih untung punya kawan yang bisa ditebengi. Kalau naik KRL harus bangun jam 4, toh jalan kaki juga dari kosan ke stasiun 40 menit, jalan kaki lagi dari stasiun ke lokasi training 20 menit.

Total pp jalan kaki kalau naik KRL = 120 menit
Total pp jalan kaki kalau nebeng naik motor = 40 menit  Ã¼

Dari yang kutangkap materinya selama 4 hari ini, kami diajarkan untuk menjadi orang yang tegaan. Gimana coba, tetap harus menagih cicilan ke klien, meski si klien udah bilang dia lagi sakit di RS atau ortunya baru meninggal. Paling cuma menyampaikan empati di awal, tapi ujung-ujungnya di akhir tetap harus menagih cicilan si klien. Yah mau gimana, pekerjaan desk collection ini juga punya target. Kalau gak achieve, dikasih sanksi sama atasan. Kalau mau target tercapai dan dapat bonus, jadilah orang yang tegaan. Seperti kutipan di serial Harry Potter ‘Yang satu tak dapat bertahan sementara yag lain hidup.’ Sadis amat gak sih? Ada pengorbanan di sana. Tapi kalau dipikir-pikir sih, dari awal ngapain ngajuin kredit kalau gak yakin bisa bayar cicilannya tiap bulan ya kan? Mending beli barangnya bayar cash, selesai urusan. Gak ada utang tiap bulan.

Kami diberi tugas untuk membuat rekaman role play sebagai desk collection dan menagih klien. Setelah menulis skenarionya di buku, kuajak Wuri teman kosan untuk role play, dia sebagai klien. Selesai merekam, kudengarkan satu kali hasilnya lalu malamnya kukirim ke grup WA sesuai instruksi trainer. Aku sama sekali tidak sadar ada kesalahan besar dalam rekaman role play itu. Tadi siang pas training-lah baru ketahuan. Saat rekamannya diputar di tengah sesi training.

“Ibu sebelumnya sudah punya aplikasi My Indihome di HP-nya?”

Satu ruangan tergelak.
Ini gue training jadi desk collection di perusahaan pembiayaan atau call center di Indihome sih?
Wkwkwk. Gak fokus. Butuh akua.
Tapi ya gak jauh sih bedanya, ‘My Indihome’ dengan ‘My Hom* Cr***t’. Logonya pun sama-sama dasarnya merah dan ada bentuk rumahnya di simbolnya ituloh.


Oknum Desk Collection Bank Mega Berteriak di Telepon - Media Konsumen
desk collection-nya lagi baper


Rabu, 06 Mei 2020

#TidakDirumahaja VS Usia Seperempat Abad


          #DIRUMAHAJA
Adalah pesan yang diteriakkan dari seluruh lapisan masyarakat saat ini demi mencegah penyebaran Covid-19. Gak semua lapisan masyarakat deh. Hanya dari pihak pemerintah, pegawai pemerintah, tenaga kesehatan, selebritis, selebgram, selebtwit, youtuber. Untuk orang yang penghasilannya serabutan tergantung penjualan sehari-hari, pesan itu hanya angin lalu. Ada masyarakat yang bilang gini, “Kami lebih takut mati karena gak makan, daripada karena corona.” Mari kita bedah kalimat itu. Sebenarnya maksudnya lebih ke ‘mending mati karena berusaha, daripada mati tanpa berjuang.’ Semangat pejuang kemerdekaan jelas masih diwarisi mereka dari para leluhur yang membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan.

Tadinya sebagai pengangguran yang tidak punya uang lagi untuk bertahan hidup di Jakara, aku juga dengan manis mematuhi pesan sakral #dirumahaja tersebut. Lagian mana ada perusahaan yang membuka perekrutan karyawan di masa krisis begini. Dimana-mana banyak perusahaan yang merumahkan karyawan, PHK, ada yang terancam gak dapat THR. Pokoknya maxam-macam. Aku juga gak lagi mengirimkan lamaran pekerjaan online. Kayak... sia-sia aja gitu! Terkurung di rumah selama kurang lebih dua bulan dan tidak melakukan apa-apa selain bernafas, makan dan toilet. 

Jiwa adventure ini meronta-ronta, ingin sekali keluar rumah. Sudah bosan, tak kuat lagi menahan hasrat di dada.

Gak ada angin, gak ada salju. Tiba-tiba datang undangan training dari salah satu perusahaan pembiayaan di JakSel. Masih training sih, tapi kalaupun gak lolos training-nya ada uang saku pengganti. Lumayan. Kalau pun lolos training dan offering letter, gajinya memang gak banyak. Tapi dimana lagi bisa nyari uang di masa seperti ini? Meskipun sedikit, daripada gak ada sama sekali. Di rumah tidur tiap hari aku gak dapat sepeser pun. Kini aku paham perasaan masyarakat yang bilang ‘lebih takut mati karena gak makan, dibanding sama corona.

Masalahnya adalah setelah kucari di google map, jarak kosan dengan kantornya bagai langit dan bumi – jauh. Gak bakalan cukup satu jam, kalau naik busway atau KRL. Belum lagi jarak stasiun terdekat kos lumayan jauh (gojek online ditutup sementara). Setengah jam-an kalau jalan kaki. Busway atau KRL baru beroperasi jam 6, sementara hari Senin diminta jam 7 udah di lokasi. Masalah berikutnya, Jakarta Selatan red zone Corona. Udah jauh dari tempat tinggal, harus jantungan setiap saat di bus atau KRL, atau mendapat sledingan dari teman sekamar yang nyuruh buru-buru mandi begitu sampai di kosan.

Baiklah, 05 Mei 2020, di usia baru seperempat abad di hari ini kuawali dengan pemberontakan. Aku keluar dari sangkar, mengejar kehidupan. Kuhirup dalam-dalam udara luar. Rasanya udara Jakarta tak pernah sesegar ini. Bangun jam setengah 5, tanpa mengisi perut, tanpa make-up, jam 5 tepat aku lari-lari ke stasiun kemayoran. Untung lagi bulan puasa, jadi jalanan udah ramai (habis pada sahur mungkin). Kalau jalanan sepi, aku ragu berani jalan kaki sendirian.

“Pak, Pak..hosh..hosh..itu....hosh..kereta tujuan Bogor?” tanyaku ngos-ngosan ke petugas stasiun. Pas aku nyampe ada kereta yang baru tiba. Perasaan tadi ngecek di aplikasi KRL tujuan Bogor jam 05.21 deh berangkatnya. Saat itu (berkat lari-lari) aku berhasil tiba di stasiun jam 05.16. 

“Oh bukan, itu tujuan Bekasi,” jelas si petugas.
Ah. Thanks God!
“Ini saya gak dicek, Pak suhunya?”
Si petugas pegang thermometer di tangannya tapi berlagak kayak gak mau cek suhu badanku.
“Gak usah, langsung aja, Bu.”        

Saya belum nikah, Pak! Ah udahlah. Mungkin dia kasian liat aku keringatan plus ngos-ngosan. Mungkin kalau dicek suhunya pasti tinggi angkanya, bukan karena demam tapi gara-gara barusan lari sprint. Di dalam kereta kumanfaatkan untuk make-over dikit-dikit muka yang udah ancur ini. Di dalam kereta sudah dibuat batas antar tempat duduk penumpang supaya gak berdekatan. Perjalanan dengan KRL 1 jam ini akan dilanjutkan dengan 20 menit jalan kaki dari stasiun terdekat ke plaza tempat kantornya berada. Kucek HP-ku karena tadi kayaknya ada SMS masuk. Siapa tau panggilan kerja di tempat lain. Ternyata :

Yth. Sdri.Magdalena P H,
Selamat Ulang Tahun, Smg
Panjang Umur, mudah rezekinya,
Tetap sehat dan bahagia
By_Unit Donor Darah PKY

Aku tertegun cukup lama memandangi SMS itu. Terharu, tak menyangka. Ucapan selamat ulang tahun pertama yang kudapat hari itu datang dari orang yang hanya sekali pernah kujumpai. Aku bahkan gak ingat tahun berapa pernah donor darah kesana. Pakai embel-embel ‘Yth’ segala pulak lagi. Aku kan jadi sempat ngira beneran panggilan pekerjaan.

*****
“Kalian harus bisa mengajak klien membayarkan tagihannya. Itulah tugas kalian sebagai desk call, ujung tombak perusahaan ini.”
Iya, aku ikut training di sebuah perusahaan pembiayaan untuk posisi super penting : Desk Call. Tugasnya nelpon klien biar mau bayar kredit bulanannya. Sama seperti pekerjaan 3 bulan di perusahaan sebelumnya, lagi-lagi aku harus berhubungan dengan customer tanpa tatap muka. Tugasnya simpel. Mengingatkan tagihan bulanan pelanggan, menagih ke pelanggan dan menggertak tentu saja kalau dia ngeyel gak mau bayar. Kami melakukan role play dengan trainer sebagai klien yang kredit barang. 

DC : Halo Bu Rani
T   : Iya
DC : Selamat pagi, saya Lena dr PT X. Saya menelpon Ibu terkait dengan pembayaran laptop ibu yang sudah terlambat pembayaran 5 hari sebesar 500 ribu rupiah. Kalau boleh tau ada kendala apa ya, Bu?
T : Saya gak punya uang, Mbak. Habis di-PHK karena corona. 

Nah, kami diajarin supaya tidak berhenti disitu saja setelah mendengar musibah si klien. Ada teknik untuk menggali keterangan lebih lanjut, baru diberikan solusi kepada si klien dan motivasi untuk membayar.

DC : Ibu saat ini punya tabungan, Bu?
T : Gak ada, Mbak. Udah habis buat keperluan sehari-hari, wong saya kena PHK gak punya gaji lagi.
DC : Baik. Saat ini ibunya punya penghasilan dari usaha lain?
T : Gak ada toh, Mbak. Saya cuma karyawan biasa di perusahaan itu. Gara-gara corona jadi begini. 
DC : Baik. Ibu kalau kesulitan dana biasanya minjam dengan siapa Ibu?
T : Biasanya dengan kakak saya. Tapi saya gak tau dia ada uang atau enggak.
DC : Ibu Rani, Ibu bisa diskusikan dengan kakaknya hari ini dan menyelesaikan pembayarannya hari ini Bu?
T : Gak tau, Mbak. Dia kan belum tentu punya uang.
DC : Kalau saya tunggu sampai besok bagaimana Ibu? Karena kalau ibu tidak bayar sampai besok saya khawatir ibu akan dikenakan denda sebesar 50 ribu rupiah dan itu akan memberatkan pembayaran Ibu.
T : Saya gak janji, Mbak.

(bersambung ---)

 Pas lagi serius ngikutin penjelasan trainer, HP-ku bergetar. Dad is calling. Pasti mau bilang selamat ulang tahun. Di grup keluarga juga udah ribut sodara-sodaraku yang lain ngucapin. Tanpa mengangkat telpon itu (anak durhaka emang), kukirim pesan ke WA keluarga. Adekku yang dikampung pasti baca dan ngasih tau bapake, kalau aku lagi ada interview kerjaan – nanti kuhubungi kalau udah di rumah.  

Kayaknya kalau diterima bekerja sebagai DC di perusahaan ini aku harus belajar jadi orang tega deh. Itu aja si ibu di kasus role play itu udah kena musibah di-PHK masih aja ditagihin. Iya sih, dari awal ngajukan kredit dia kan udah terikat kesepakatan. Harus tanggung jawablah. 

                                                                 *****

Usia 25 tahun, tapi pemikiran 15 tahun. Selesai training, aku buta arah mau pulang kemana dan naik apa. Biasanya kan tinggal pesan gojek online, ngetik lokasi penjemputan dan tujuan, kelar. Tapi gara-gara PSBB, go-ride dan grab motor ditiadakan. Naik go-car atau grab car? Gak mau lah aku, mahal!!! Bermodalkan GPS HP, kutelusuri jalanan daerah Pasar Minggu di bawah panasnya matahari minta ampun. Emak, hari ini anakmu ultah. Tapi bahkan jalan pun tak berpihak padaku. Aku bahkan gak berhasil menemukan stasiun tempatku turun. Tadi aku emang naik angkot dari stasiun ke lokasi training, kukasih 5 ribu ke supirnya. Tapi kali ini aku gak mau ngeluarin duit lagi. Toh gak buru-buru juga pulangnya. 

Kusetop sebuah angkot biru yang langsung berhenti dadakan.
“Lewat stasiun gak, Pak?”
“Stasiun apa?”
“Tanjung Barat,” kubilang.
Dia mengernyit bingung. “Di belakang sono tinggal jalan kaki aja, dari bawah terowongan.”

Setelah itu dia gas pol angkotnya, menyisakan abu yang tak sengaja ikut kuhirup. Huft.

Aku memandang jauh ke terowongan yang dimaksud. GPS di HP juga nunjukin arah stasiunnya ke sana sih. Tapi itu kan jalur jalan tol, masak pejalan kaki bisa lewat situ? Bagaimana pun aku gak mau mati di hari ulang tahunku. Kutanya lagi penduduk yang lagi nangkring di warteg.

“Kalau mau ke stasiun nanti tinggal lurus aja mbaknya, terus ambil ke kanan.”

Gila apa ya orang-orang. Itu terowongan jalan toll loh. Sebegonya aku, aku masih paham kalau jalan tol itu jalan bebas hambatan. Gak ada hambatan seperti lampu merah apalagi pejalan kaki, kan?!

Yaudahlah, daripada makin kelaparan dan berujung pingsan di bawah terik matahari yang semakin menggosongkan kulit yang sudah gosong dari lahir ini, aku pun bergerak sesuai arah GPS dan saran orang-orang itu. Ternyata..

Ternyata di samping jalan di bawah terowongan tol itu memang ada jalan lain yang tadi gak keliatan olehku karena belokan. Hahahaha. Setelah makin melangkah maju, jalan yang dimaksud ‘ambil kanan’ itu pun terpampang jelas. Dan memang itulah jalan yang tadi dilewati angkot yang membawaku ke plaza. Hampir aja aku dengan polosnya ngantar nyawa ke jalan tol. Beritanya pun pasti gak keren kalau masuk koran.


‘Seorang pencari kerja asal Samosir nekad menyeberang di jalan tol karena tidak mau rugi 5 ribu naik angkot menuju stasiun’


Berhasil menemukan stasiun (setelah gosong dan kelaparan tentunya), aku menidurkan diri di dalam kereta. Belum berniat membalas chat dari kawan-kawan yang bilang selamat ulang tahun. Nanti ajalah, sekalian tak balas. Tunggu banyak. Tapi baru tidur sepuluh menit, aku malah kebangun karena perut kembali ribut keroncongan. Padahal kereta masih di stasiun Sudirman, masih jauh. Seorang ibu dengan putri kecilnya baru turun melewati pintu. Tak sengaja mataku menangkap seorang bocah laki-laki yang tidur sendirian di bangku depanku. Busyet, ini anaknya kok ditinggal????

“Dek, dek.. dek..”
Si bocah laki-laki terbangun sambil mengucek matanya.
“Ibunya mana? Tadi sudah turun loh,” aku khawatir dia ketiduran dan gak sadar ibunya udah turun. Sebaliknya ibunya gak sadar anaknya masih ketinggalan di dalam kereta dan melenggang begitu saja.
Tapi si bocah dengan santainya malah menunjuk perempuan paruh baya yang duduk di sudut ujung kereta. Asem, aku salah sangka. Lagian kok dia duduk terpisah jauh banget dari mamaknya. Gak takut diculik apa?
Sibocah segera berlari ke tempat ibunya berada. Entah apa yang dia adukan ke ibunya, si ibu menatap aku tajam. Mungkin mengira aku tante-tante genit pencuri anak laki-laki di bawah umur. 

First birthday's message


My Little Brother 

My parner in  crime, my soulmate

Nainggolan Family WA's Group 

Yeah...

This girl, my soulmate in crime too.. Gume, kuterharuuuuu!! Dia minta no rek aku, mau ngasih uang jajan katanya. Yang udah kerja emang beda ya! 

One of lonely girl - Monkey Liar's roommate

She is a jurnalist now. Can't believe it, cause it's actually my dreammm..

Tempat SMP, SMA dan sekosan dulu waktu kuliah

Dia sekarang kerja di Hunan-China, pas ditanya di sana gimana Corona malah aman katanya


Tiup lilin online dari pulau seberang 
Well, 25 berpihaklah padaku. Quarter life crisis?!
God, aku gak minta banyak-banyak kok. Hm, cukup : sempatkan aku membahagiakan orang yang kucintai, pertemukan aku dengan impianku (You know me so well), pertemukan aku dengan seseorang berkepribadian seperti Suga BTS, dan kalau Kau berkenan, terbangkan aku ke Machu Picchu. Yuhuuuu!!

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...