Selasa, 30 Oktober 2018

Quarter-Life Crisis

Betapa menyenangkannya ketika impian masa kecil seseorang menjadi kenyataan. Aku paham sebuah kalimat (yang aku lupa siapa yang mengutipnya) 'Ketika kita bersikeras menginginkan sesuatu, saat itu juga seluruh alam semesta tengah berseteru untuk membantu mewujudkannya.' 

Konspirasi alam semesta.

Aku ingat banyak impian kecil yang kurangkai, beberapa diantaranya malah terkesan fiksi sekali. Seiring berjalannya waktu, impian-impian ini perlahan menjadi lebih realistis, meski masih tetap ada rasa pesimis melanda. Jumlahnya juga berkurang, layaknya kerucut yang semakin ke ujung makin mengecil. Semakin lama hidup di bumi, tak dapat dipungkiri bahwa kau akan semakin paham 'what the truly meaning of life is'. Oh yeah, hukum rimba juga berlaku. Siapa yang sanggup bertahan, dialah yag akan hidup. 

Aku masih di sini dengan puing-puing pemikiran ingin segera mengakhiri status mahasiswa, beralih menjadi status pengangguran (baca : sarjana). Rasanya menjadi dua kali lebih berat saat kau tau kawan seangkatanmu sudah banyak yang lulus lebih dulu dan sekarang tidak ketemu di kampus lagi. Cobaan terberatnya adalah menahan semangat yang tak bisa dikatakan full lagi ini, agar tidak menguap. Sebab jika itu terjadi dapat dipastikan semester depan aku harus bayar uang kuliah lagi. Yang artinya aku membohongi ibuku dua kali. 

Waktuku sebagian besar tersita dengan menjaga depot orang di sebuah mall. Gajinya memang tak banyak, tapi aku bisa menghasilkan rupiah dari menit yang dilalui tiap hari. Karena tidak 24 jam juga aku berhadapan dengan skripsi ini. Aku hanya perlu pintar-pintar membagi waktu. 

Kawan-kawan seangkatanku banyak yang sudah mendapatkan pekerjaan. Ada yang bekerja sesuai jurusan, ada yang masih part time (tidak sesuai jurusan). Yang sedang mencari juga ada, mencoba peruntungan menjadi pegawai pemerintah. Ada juga kawanku yang mati-matian tidak ingin mencoba CPNS, namun karena dipaksa oleh orang tuanya, dia mendaftar juga. Ada juga yang melarikan diri dengan prinsip 'asal ada aja dulu', sehingga dia bekerja di bank. 

Mendengar berita kawan-kawanku membuatku was-was dengan masa yang akan datang. Selanjutnya aku yang akan pontang-panting mencari pekerjaan. Iya, aku tau aku bahkan belum lulus. Saat ini usiaku 23 tahun. Lulus nanti usiaku 24. Apakah aku akan berhasil mendapatkan pekerjaan begitu lulus nanti? Setahun, dua tahun, tiga tahun tak akan terasa berlalu begitu saja saat kau memonitor web perusahaan, mencari info lowongan kerja dan menanti balasan e-mail

Kakakku sudah menikah saat usianya 26 tahun. Meski bukan bekerja di BUMN, dia berhasil membiayai kuliahku hingga saat ini. Yang membuatku gusar adalah perkataannya. Setelah dia menikah, akulah yag akan mengambil alih menyekolahkan adik di bawahku. 

Come on, 

Aku bahkan belum kelar dengan laporan skripsi ini. 
Kenapa semua masih terasa gelap..
Apakah semua orang mengalaminya ketika usia mereka 23-an? 

Apakah aku sudah memasuki Quarter-Life Crisis???

Minggu, 16 September 2018

Jangan tanyakan 'BTS Arayo?' pada semua orang Korea

Sejak part time jaga stand Queen Mango, gue sering berhadapan dengan orang-orang yang gak mengerti bahasa Indonesia. Kalau mereka gak bisa bahasa Indonesia, sebenarnya masih gak masalah. Masih ada bahasa Inggris. Kayak kemarin ada om-om bapak-bapak yang katanya dari Rusia masih bisa ngerti bahasa Inggris meski logatnya susah dipahami. Dia ngomong bahasa Inggris tapi kayak terdengar bahasa Rusia yang penuh dengan huruf V dan Z. Begitu juga dengan 2 orang pria Chinese yang tempo hari mampir. Mereka masih paham bahasa internasional itu. Yang jadi masalah ketika serombongan orang Korea mampir di stand gua. Mereka gak bisa bahasa Indonesia dan bahasa inggris (dan gue gak ngerti bahasa isyarat). Pertama yang muncul adalah ahjussi yang pesan 1 Mango-Dragon

"Mango-Dragon, hana!" katanya sambil mengangkat telunjuk kanannya dan menunjuk banner
Kalau itu gue masih paham. Wong dalam drama korea juga sering dibilang 'hana'. Dalam hati sebenarnya gue pengen balas, 'Ne, arasheo ahjussi (baiklah, saya mengerti)'. Tapi gak jadi karena takut dia ngira gue fasih bahasa korea terus diajak ngobrol. Setelah satu cup Mango-Dragon itu jadi, dia pun bertanya harganya. 

"Olmana?"
Kalau itu gue juga masih ngerti karena dalam drama korea juga sering disebutin, artinya 'berapa'. 
Gue pun mengangkat jari gue kayak bilang 'suer' tapi sambil bilang twenty two. Itu harga memang yang sebenarnya bro and sist. Gue gak ada niatan mau nipu turis yang gak kenal mata uang negara lain. Dan tampaknya beliau belum paham juga yang gue maksud. Akhirnya gue nunjuk uang kertas 20 ribu dan 2 ribu yang di tangannya, "Igo, igo (ini dan ini)."

Setelah itu si ahjussi pun pergi. "Gomawo," gue sempatkan teriak bilang terima kasih. Gak lama setelah itu, si ahjussi kembali dengan seorang wanita yang mungkin istrinya. Si istri pun memesan satu lagi Mango-Dragon, "Nado, hana (aku juga, satu lagi)."

Oke, terima kasih drama korea.
Si ahjumma gue amati dan memang kayak emak-emak di drama korea sih. Lha iyalah, satu bangsa gitu. Tiba-tiba muncul satu kalimat yang sering diucapkan kala si tokoh utama adalah pelajar dalam drama. Haksaeng

"Jeoneun haksaeng," gue memberanikan diri sok akrab sama emak-emak asal negara BTS itu sambil memegang dada. Mereka pasang ekspersi muka kagum (?) karena gue bisa mengucapkan kalimat dalam bahasa ibunya. 

"Ah, jeongmal? Alba (pekerja part time)?"
"Ne," balas gue. Lama-lama nih gue nikah juga sama Suga BTS. Tapi ternyata pernikahan itu harus ditunda karena para ahjumma melanjutkan obrolan kami dengan menanyakan hal-hal lain dengan kata-kata yang tidak bisa gue pahami. Mpuss yang sok-sok an! Gue puuskan untuk bilang 'ne' (iya) terus setiap mereka ngomong. Setelah jusnya jadi, gue sodorkan dan terima uangnya. Kali ini mereka mengerti. 

Oh iya..

"Ahjumma, BTS arayo?"
Gue udah pasang muka berharap mereka pasti kenal sama grup idol yang berisi pria tampan namun kadang berperilaku abnormal itu dan bikin para ARMY (fans) gemas. Namun..
"Aniyo, molla (tidak, aku tidak tau)."

Waduh, gue lupa satu hal. Usia. Seharusnya tadi gue nanya raja-raja zaman Goryeo aja atau Joseon, pasti mereka kenal. Mereka pun pergi, namun tak lama kemudian balik lagi minta sendok. Tau kan kalau orang korea bahasa inggrisnya di akhir kata selalu ditambah huruf 'e' . Jadi waktu dia minta spoon (sendok) malah jadi 'sepun'. 

"Masshita (enak)?" tanya gue. 
"Ne, nomu masshita (iya, enak sekali)."

Itu mah elu emang lagi haus..

Kirain udah pergi beneran, tapi balik lagi. Kali ini dengan jumlah lebih banyak. Ini rombongan liburan deh kayaknya. But wait a minute. Ngapain kalian liburan kesini? Apakah google serach memberikan kota Palangka Raya sebagai result pencarian? Gue pun habis pikir. Dan kampretnya lagi ternyata mereka punya translator (dari tadi gue sengsara). Cowok korea juga. Mirip Lee Dong Wook, ih..

"Berapa lama kerja satu hari?" tanya Lee Dong Wook eh, si translator. 
"6 jam," jawab gue. "Berapa lama belajar bahasa indonesia?"
"Sekitar 1 tahun."

Wah, logatnya enak didengar. Kayak anak bayi yang baru belajar ngomong. Mas bisa minta no WA?

Yang bikin gue agak kesal adalah rombongan ini memesannya itu satu-satu. Setelah jadi satu, dibayar baru pesan lagi satu, bayar gitu seterusnya. Gue yang capek harus bolak-balik nimbang mangga, masukin ke blender, tuang ke cup. Coba langsung bilang bikin 10 cup. Meski di blender gak muat 10, tapi setidaknya 5 cup muat. Cukup dua kali ngeblender. Ini malah,..

Ah. 
Kayaknya dia takut gue tipu harganya. Sori, meski godaannya besar tapi bukan tipe gue kayak gitu. Dan total ada 12 cup mereka beli dengan kondisi gue blender nya satu-satu sebanyak 12x. Kasian si blender, capek..

"Tau BTS, kan?" tanya gue ke si translator.
"Tau. Nonton drama juga ya?" tanyanya.
Uh, Mas. Senyummu mengalihkan pekerjaaanku.
"Iya. Korea Selatan negara yang keren, suatu hari saya akan ke sana" kata gue.

Dan mereka pun pergi setelah semua minumannya jadi. 

"Semoga hari anda menyenangkan. Terima kasih, gomawo, saranghae" teriak gue. 

Mereka pun pergi agak terburu-buru. Busnya udah nungguin kayaknya..

Ya Tuhan, kapan hamba ke Korea Selatan dalam rangka liburan plus mengunjungi suami aka Kim Nam Joon, Kim Seok Jin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Tae Hyung, Jeon Jung Kook, BTS...  


Nonton konsernya juga gak apa-apa, Tuhan. 2019 mereka mungkin tour concert ke Indonesia. Dapat tiket VVIP, paling dekat dengan stage..

A M I N .

BTW, di Korsel ada gak ya buah naga?




Kamis, 14 Juni 2018

Song to Hear When You are Homesick



Spring Day - BTS 

Hangeul : 

Bogo sipda ireohge
Malhanikka deo bogo sipda
Neohui sajineul
Bogo isseodo bogo sipda
Neomu yasokhan sigan
Naneun uriga mipda
Ijen eolgul han beon boneun geosdo
Himdeureojin uriga

[Verse 2: RM]
Yeogin ontong gyeoul ppuniya
Palworedo gyeouri wa
Maeumeun siganeul dallyeogane
Hollo nameun seolgugyeolcha
Ni son japgo jigu
Bandaepyeonkkaji ga
Gyeoureul kkeutnaegopa
Geuriumdeuri
Eolmana nuncheoreom naeryeoya
Geu bomnari olkka
Friend

[Verse 3: Jimin & V]
Heogongeul tteodoneun
Jageun meonjicheoreom
Jageun meonjicheoreom
Nallineun nuni naramyeon
Jogeum deo ppalli nege
Daheul su isseul tende


[Pre-Chorus 1: Jungkook & V]
Nunkkocci tteoreojyeoyo
Tto jogeumssik meoreojyeoyo
Bogo sipda (bogo sipda)
Bogo sipda (bogo sipda)
Eolmana gidaryeoya
Tto myeot bameul deo saewoya
Neol boge doelkka
 (neol boge doelkka)
Mannage doelkka (mannage doelkka)

[Chorus: Jungkook/Jin/J-Hope]
Chuun gyeoul kkeuteul jina
Dasi bomnari ol ttaekkaji
Kkot piul ttaekkaji
Geugose jom deo meomulleojwo
Meomulleojwo

[Verse 4: Suga & Jimin]
Niga byeonhan geonji
(niga byeonhan geonji)
Animyeon naega byeonhan geonji
(animyeon naega byeonhan geonji)
I sungan heureuneun siganjocha miwo
Uriga byeonhan geoji mwo
Moduga geureon geoji mwo

[Verse 5: Suga & Jimin]
Geurae mipda niga
Neon tteonassjiman
Dan harudo neoreul
Ijeun jeogi eopseossji nan
Soljikhi bogo sipeunde
Iman neoreul jiulge
Geuge neol wonmanghagibodan
Deol apeunikka

[Verse 6: Jin & Jimin]
Sirin neol bureonae bonda
Yeongicheoreom hayan yeongicheoreom
Malloneun jiunda haedo
Sasil nan ajik neol bonaeji moshaneunde


[Pre-Chorus 1: Jungkook & V]
Nunkkocci tteoreojyeoyo
Tto jogeumssik meoreojyeoyo
Bogo sipda (bogo sipda)
Bogo sipda (bogo sipda)
Eolmana gidaryeoya
Tto myeot bameul deo saewoya
Neol boge doelkka
 (neol boge doelkka)
Mannage doelkka (mannage doelkka)

[Bridge: V & Jungkook]
You know it all
You’re my best friend
Achimeun dasi ol geoya
Eotteon eodumdo eotteon gyejeoldo
Yeongwonhal sun eopseunikka


[Pre-Chorus 2: Jimin & Jungkook & V]
Beojkkocci pinabwayo
I gyeouldo kkeuti nayo
Bogo sipda(bogo sipda)
Bogo sipda(bogo sipda)
Jogeumman gidarimyeon
Myeochil bamman deo saeumyeon
Mannareo galge
 (mannareo galge)
Derireo galge (derireo galge)

[Chorus: Jungkook/Jin/J-Hope & Jin]
Chuun gyeoul kkeuteul jina
Dasi bomnari ol ttaekkaji
Kkot piul ttaekkaji
Geugose jom deo
Meomulleojwo
Meomulleojwo



English :

I miss you

When I say that

I miss you more
Even though I’m looking at your photo
I still miss you
Time is so cruel
I hate how things go between us
Now seeing each other for once is
So hard between us
It’s all winter here
Even in August, it’s all winter here
Time is gone by mind
Like a snowpiercer, I was left alone
I wanna hold your hand
And go to the other side of the earth
Wanna put an end this winter
How much do I have to long for you like snow piles up on the ground
Until the spring days come?
Friend

Like a tiny dust that floats in the air
Like a tiny dust
If the flying snow is me
I could've reached you
A little faster

Snowflakes are falling
And you are getting farther away
I miss you (I miss you)
I miss you (I miss you)
How much more do I have to wait?
How many more days do I have to stay up all nights?
Until I can see you? (until I can see you?)
Until I can meet you? (until I can meet you?)

Until this cold winter ends
And the spring comes again
And until the flowers bloom again
Please stay there a little longer
Please stay there

Is it you who changed?
(Is it you who changed?)
Or is it me?
(Or is it me?)
I hate even this moment that is passing by
I guess we are changed
Just like everyone you know

Yeah, I hate you
You left me
But I never stopped thinking about you
Not even a day
Honestly, I miss you
But now I’ll erase you
Because it hurts less than to blame you

I try to ease your pain
Like smoke, like white smoke
I say that I’m gonna erase you
But I can’t really let you go yet

Snowflakes are falling
And you are getting farther away
I miss you (I miss you)
I miss you (I miss you)
How much more do I have to wait?
How many more days do I have to stay up all nights?
Until I can see you? (until I can see you?)
Until I can meet you? (until I can meet you?)

You know it all
You’re my best friend
The sun will rise again
No darkness, no season
Can last forever

Seems like cherry blossoms are blooming
The winter is gone
I miss you (I miss you)
I miss you (I miss you)
If I wait a little longer
If I stay up all nights for a couple of more days
’ll go to meet you (I'll go there to meet you)
I’ll come to get you (I'll come to get you)

Until this cold winter ends
And the spring comes again
And until the flowers bloom again
Please stay there a little longer
Please stay there



Minggu, 10 Juni 2018

Surveyor Dadakan

Minggu yang lalu dengan sangat tiba-tiba dan dadakan tanpa ada peringatan sebelumnya, aku diajak seorang teman ikut kegiatan survey pilkada di desa-desa. Sabtu itu udah malam jam 8 kurang saat pintu kosku diketuk. Aku yang lagi ngedit bab 3 proposal skripsi pun berhenti sejenak. 

"Kak, buka dulu pintunya."

Itu pasti si Sinta. Dari ketukan yang gak sabaran.

"Kalau gak penting, gak usah, Sin. Besok aja," aku melanjutkan mengetik. 
"Justru ini penting banget, Kak."

Dasar soto ayam. Aku memutar kunci pintu. Begitu di buka dia langsung nyerocos.
"Kakak mau ikut survey di Lamandau?"

Aku udah pernah dengar teman seangkatanku ikut kegiatan begituan. Tapi fee-nya gak tau dapat berapa. Kerjaannya wawancara warga desa buat diisi dalam kuesioner. Tapi fee-nya gak langsung cair saat itu juga. Sekitar 1-2 bulan ke depan baru ditransfer ke rekening. Yang penting sih banyakin dapat kuesioner aja, biar bayaran makin banyak. 

"Gajinya berapa?"
"Hitungannya per kuesioner. Per kuesionernya 15 ribu. Makan, penginapan sama jajan juga dikasih kok."

Terlihat tidak terlalu buruk. 
Tapi proposalku? Aku mau konsul hari Senin. Sudah janji sama ortu bakalan ngejar wisuda Agustus ini. 

"Berapa hari, Sin?"
"Kamis udah balik."

Njirrr!

Aku juga butuh uang sih, mau beli printer. Yaudah ikut aja. Kamis juga udah balik kok. Entar Kamis langsung konsul. (batin)

"Oke, I'm in."

Kata Sinta kami berangkat malam itu juga jam 10 malam. Tapi seorang ibu yang nelpon aku bilang kami berangkat jam 11-an. Karena hanya 4 hari aku cuma packing kemeja 2 pasang, 2 kaos, 2 jins dan celana trening. Sabun sama handuk. Yang paling penting : antimo ! 

Ternyata yang ikut semuanya mahasiswa dan semuanya orang batak. Emang pinter ya, cari uang. Aku gabung sama tim yang kesemuanya cowok. Leader kami (TL) Pak Rusdi. Tapi sama dua orang di dalam tim kami nama beliau diganti menjadi Rustam. Malah dikasih marga lagi, Rustam Simanungkalit. Oh iya, yang ngadain survey ini dari lembaga CSRM (kalau gak salah) Jakarta. Aku gak paham betul memang sistemnya kayak gimana. Ada yang bilang, entar hasil survey kami bakalan dijual ke KPU dan dipakai sebagai hasil untuk Quick Count.

Katanya berangkat jam 11 malam, mana ada. Kami baru bergerak menuju Lamandau saat subuh jam dua. Aku terpisah dari Sinta, dia di tim Bu Yuli, yang sebelumnya nelpon aku. Setelah perbekalan bahan bakar, air minum dan snack beres, kita pun go. Beriringan, udah macam konvoi aja. 

Pak Rusdi, aku, Ferdi dan Bang Eko satu tim. TL kami Pak Rusdi selalu jadi korban 'bullying' cowok berdua itu. Meski kadang aku ikut juga, ikut tertawa. Lagian TL kami kok damai banget jadi orang. Si Ferdi suka ngomong kasar, kadang nyuruh-nyuruh ke luar dari mobil juga buat nanya arah jalan menuju desa. Udah dibilangin biar lebih lembut juga gak mempan. Secara Pak Rusdi hanya belum menikah saja, usianya udah 52. Dihormati, bukan dihargai saja. Menurut cerita beliau sih, gara-gara patah hati. Cewek yang mengkhianatinya itu sampai sekarang belum punya anak katanya. 

"Makanya, Be. Dicatat dong yang udah kami selesai isi kuesionernya berapa per orang. Nanti kan, malah gak tau si X berapa, si Y berapa," si Ferdi ngegas. Meski kadang dia gak salah juga. Babe, yah suka-suka merekalah panggil Pak Rusdi siapa. Tapi si Babe emang kadang loading. Masa iya beliau belum tau tim kami kebagian daerah mana padahal kami udah di tengah perjalanan. Tim lain udah nyebar. 

Rule number 1 : Jangan pernah memberikan kertas kuesioner kepada orang yang diwawancarai.
Rule number 2 : Jangan pernah membacakan pertanyaan di dalam kurung.

"Permisi, Bu. Saya mahasiswa dari kampus Palangka Raya. Saya sedang ada penelitian skripsi untuk gelar sarjana. Kebetulan jurusan saya Ilmu Pemerintahan, jadi saya meneliti tentang seberapa dekat rakyat mengenal calon bupati Lamandau 2018. Jadi saya ingin tanya-tanya beberapa hal. Kira-kira ibu bersedia, tidak ya?"

Itu adalah pertanyaan yang sama kuucapkan setiap mengetuk pintu dan bertemu warga. Demi apa, aku bahkan mengganti jurusanku dan menyebut-nyebut soal skripsi tentang politik? Kami memang gak boleh bilang ke warga kalau kami dari tim survey Jakarta buat ngitung perolehan Quick Count. Bisa-bisa digiring nanti ke kantor kepala desa. Dari kantor kepala desa digiring ke kantor polisi. Beberapa warga ada juga yang langsung menolak, karena sedang sibuk atau takut aku dari mata-mata salah satu paslon. Ada juga yang dari awal bilang, "Wah, Mbak saya gak tau apa-apa soal itu. Tanya suami saya aja di sebelah."

Ternyata lagi nongkrong di warkop gitu, rame banget. Aku langsung pamit. Rule number 3, jangan mewawancarai di tempat orang yang berkumpul rame.

Perjuangan tim mencapai desa tidak mudah. Berbekal tanya penduduk dan GPS HP-ku. Itupun kalau sinyal masih terjangkau. Sering tiba-tiba GPS-nya bilang, 'Sinyal GPS hilang.' Seketika kami ber-yaahh kecewa ria. 

Ada warga yang sangat-sangat baik mempersilahkan masuk ke rumahnya. Yang gak ingat usianya berapa, langsung ke kemar ngambil setumpuk berkas-berkas akta kelahiran. Gini nih yang bikin gak enak. Ngerepotin. Aku sempat shock waktu pamit dimintai menuliskan nama sama jurusan dan kampus di selembar kertas. Setelah menimbang gak ada buruknya, aku menurut saja.

"Siapa tau nanti mbak-nya kerja di desa ini, jurusan ilmu pemerintahan kan tadi?"

Aku terpaksa mengangguk lemah.

Tolong, skripsi gue bisa-bisa mengutuk gue karena selingkuh dengan ilmu pemerintahan. ..

Satu lagi yang penting adalah jangan mewawancarai seorang PNS. Kenapa? Sebab mereka pegawai pemerintah. Mereka tidak akan menjawab hal-hal seperti, siapa yang menurut anda akan memenangkan pilkada ini? Mungkin aku malah diseret ke alun-alun desa. Tapi aku malah sempat mengetuk pintu rumah seorang PNS. Keluar anaknya.

"Pak, ada tamu."
Aku terperanjat saat yang keluar adalah bapak kaos kutang dan celana PNS. Ituloh, yang warna kuning keemasan. Atau kuning kecokelatan kah itu? Pokoknya itu deh. Aku menutupi tujuan awalku dengan menanyakan hal lain.

"Ini, Pak. Saya mau tanya, ini RT berapa ya?"
"RT 02, Mbak."
"Sampai ke ujung sana?"
"Masih RT 02, Mbak."
"Oh, begitu. Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak. Terima kasih."

Jantung rasanya berdetak dua kali lebih cepat saat aku pergi dari sana. Hampir aja..

Ada juga warga yang dengan baik hati menceritakan salah seorang paslon di desanya itu. Bagaimana cara paslon tersebut mendekati rakyat.

"Iya, Mbak. Jadi Pak Rasyid ini adalah pamannya beliau. Kemarin ada bagi-bagi beras. Semua warga dapat."

Aku mencatat info tersebut dalam kuesioner. Berikutnya kukira masih seputar kisah si paslon, ternyata ibu paruh baya tersebut malah curhat tentang keluarganya. Yang mana suaminya menikah lagi. Akhirnya si ibu ini tinggal sendiri. Ank-anaknya sudah menikah dan tinggal di perantauan. Aku tak punya pilihan selain mendengarkan kisah si ibu. Sambil mengangguk dan mengeluarkan seruan ikut terharu.

"Mudah-mudahan si mbak-nya dapat suami yang baik-baik aja. Tidak seperti saya," kata si ibu tersebut ketika aku pamit untuk pergi.
"Amin, Bu," jawabku.

Dari usia warga yang kuwawancarai, tidak sedikit yang masih sangat muda namun sudah menikah. Ada yang 21 tahun, 23 tahun udah punya 3 anak. Ah, mungkin sosialisasi bahaya nikah muda tidak sampai terselenggara ke sini.
Kadang aku iseng menanyakan hal yang tidak ada dalam kuesioner.
"Apa yang ibu inginkan dari bupati baru nantinya?"
"Ya mbak, maunya jalanan diperbaiki. Listrik juga bisa masuk ke desa kami. Kemudian mahasiswa yang udah lulus juga bisa diberikan pekerjaanlah supaya tidak banyak yang menganggur."

Aku kadang tertegun mendengar begitu banyak hal yang mereka harapkan dari seorang pemimpin baru yang akan lahir. Janji-janji paslon saat kampanye juga tidak jauh dari harapan warga tadi. Namun kenyataan pahit kadang harus diterima. Kebanyakan orang lupa dengan janjinya saat ia sudah berada di posisi yang lebih tinggi. 

Bang Soe Hok Gie, rasa-rasanya aku paham perasaanmu saat itu...
--------

Kami menginap di penginapan di kota Lamandau. Satu hal baru kutemukan soal kabupaten ini yaitu ternyata Nanga Bulik itu ada di sini. Di gereja aku sering dengar pengumuman soal pertemuan para pastor di Nanga Bulik. Tadinya kukira Nanga Bulik adalah daerah di Ambon, ternyata di Kalimantan Tengah!

Tentu saja aku sama Sinta ketemu. Kami nginap di kamar yang sama. Tapi besoknya dia dan timnya pergi ke kabupaten seberang Lamandau, sedangkan tim kami dan beberapa lainnya tetap survey di desa yang ada di Lamandau.

Pagi-pagi TL tim kami udah ngirim pesan selamat pagi dalam bahasa inggris. Kubalas aja juga dalam bahasa inggris. Si Babe tuh ya (terikut-ikut nih) gak tau serius atau enggak, katanya bisa menebak kepribadian dari raut wajah. Penasaran, aku pun nanya.
"Terus, kalau saya gimana, Be?"

Si Babe mengerutkan kening lalu menatap wajahku dengan serius.
"Kalau kamu ya, Len. Kamu itu orangnya periang, mudah bergaul sama siapa saja. Suka petualangan juga. Kadang karena kamu terlalu gampang bergabung dengan orang-orang yang kamu baru temui, mereka punya rasa suka sama kamu. Tapi ya kamu itu gak tau saja."

Aku diam karena gak tau mau bilang apa. Dia benar soal petualangan itu. Tapi yang setelahnya itu, masa benar juga??

Kami enggak jadi pulang hari Kamis karena target sudah tercapai saat hari Selasa. Ya, Rabu pagi jam 7 aku sudah kembali lagi di kosku. Namun, karena masih lelah akan perjalanan panjang, aku rebahan sejenak. Gak taunya malah kebablasan tidur sampai sore. Come on, tidur di dalam mobil itu menyakitkan sekali. Kaki gak bisa dilurusin. Tubuh ikut terguncang kalau pas ada jalanan rusak. Kepala ikut neleng ke kiri kalau pas jalanannya belok ke kiri. Jalanan yang gak rata, naik turun seharusnya bikin aku muntah. Eh malah enggak sama sekali.

Yasudahlah, besok aja konsul proposalnya...

Hasil gambar untuk soe hok gie keberanian

Jumat, 08 Juni 2018

Aku Masih Pengen Temenan Aja,.

Kita gak pernah tahu kapan atau dimana akan jatuh cinta. Sama halnya seperti pertemuan dan perpisahan, jatuh cinta juga tidak bisa kita rencanakan. Udah sok melodrama aja nih, gue. 

Jadi kemarin gue ketemu sama seorang cowok yang lagi penelitian tugas akhir juga di PT Bukit Asam Tanjung Enim. Dia dari kampus UBB. Nama cowok beruntung itu? Hm, kita rahasiakan saja. Siapa tahu dia ketemu sama tulisan gembel ini. Biar gue juga gak dua kali menahan malu. Sebut saja namanya DS. Anak sulung dari 3 bersaudara. Asli dari Medan. Sejauh yang gue dengar dari temannya, dia punya trouble in relation gitu sama bapaknya. Tapi kalau sama ibunya dia dekat banget. Terakhir gue minta softcopy laporan skripsi dia dan di bagian Halaman Persembahan gue baca kalau DS hanya mengucapkan terima kasih kepada ibu saja. Pas gue tanya mana buat bapak, dia jawab salah ketik. 

DS punya kemiripan fisik, suara dan cara berbicara dengan seseorang yang pernah gue sukai (sebenarnya hingga kini) waktu gue semester 6. Sebut saja YS. Tapi sekarang dia udah pacaran sama teman seangkatan kita. Cantik cuy! DS dan YS punya tinggi badan sama, meski warna (?) suara mereka berbeda, tapi the way they talk itu mirip. Kayak ada songong-songong-nya gitu. If you know what I mean..

Saat itu gue sempat berpikir kalau Tuhan mengirimkan DS sebagai pengganti YS yang kini sudah jadi milik orang lain. Come on, mereka mirip loh. Tuhan mengirimkan seseorang yang mirip dengan orang yang pernah loe suka. Apa lagi yang kurang???

Awalnya gue emang ditempatkan di satuan kerja (satker) yang sama dengan DS. Tapi itu adalah kesalahan, karena judul penelitian gue sebenarnya di satker lain, geoteknik. Akhirnya gue pindah setelah dua hari satu satker sama dia. Dari yang gue liat, dia orangnya care, punya pendirian dan suka pertahanin pendapatnya. Tapi tetap dengan alasan logis. DS juga dari yang gue liat sangat mengayomi (?). Kayak kebapakan gitu. Cocok buat ngedidik anak-anak gue kelak. Eh?!!

"Udah, di satker ini aja kenapa sih?" kata DS nahan gue biar gak pindah satker.
"Tapi referensi selama ini yang kubaca ya tentang geoteknik, bukan peledakan," kataku.
"Lagian nih ya, TA itu sekali seumur mahasiswa gak apa-apalah cari yang sulit." Ada nada sombong dalam kalimat gue. Yang mana akan menjatuhkan gue sendiri nantinya. Gue pun pindah satker. Dia udah dua minggu lebih dulu tiba di PTBA. Yang mana juga artinya bakalan lebih duluan selesai dan pulang ke kampus halaman. 

Lantaran beda satker, kita gak pernah ketemu lagi. Seminggu kemudian, datang dua cowok dari kampus ITM mau magang di PTBA. Mereka ngekos di tempat gue. Dan kabar baik lainnya adalah salah satu dari mereka adalah appara (teman dekat) si DS. Sampai disitu gue yakin Tuhan telah membuka jalan untuk gue menemukan tambatan hati yang selama ini gue rindukan. DS sering bahkan hampir tiap hari datang ke kosan kami. Gue juga gak segan-segan main ke kamar mereka. Sambil cemilin makanan, sambil main HP, ngobrol ngalor-ngidul. Malam-malam juga kadang makan bareng di angkringan. Segalanya terasa menyenangkan.

Hari berikutnya dia pernah datang ke satker geoteknik buat minta data. Dua hari dia di sana. Dia kemudian minta nomor WA gue. OMG! Chatingan mulai berjalan. Pernah nanyain gue lagi dimana, padahal jelas-jelas saat itu masih jam kantor dan gue ada di satker gue lah. Masa iya, di kamar mandi kosan. Bahasa chatingan kita sih gak ada kaku-kakunya. Udah kayak temen sekelas aja. Bahkan terkesan sadis dan penuh dengan bahasa non baku yang kasar. Don't worry, itu semua buat becandaan aja. 

Kalau si DS gak main ke kosan kami, gue bakalan tanya appara-nya, si AL. 
"Mana si DS? Gak kesini ya?"
"Kenapa emang, Dek?" tanya AL. Si AL tuh ya, sebenarnya kelahiran '95 sama kayak gue. Tapi sok minta dihormati dan minta dipanggil 'abang'. 
"Gak apa-apa aja. Biar ada aja yang dilihat," jawab gue swag.

Gue juga pernah nanya-nanya ke DS soal data. Tapi dengan konyolnya di akhir gue bilang kalau itu gue lagi modus aja. Bayangin aja, dimana ada orang ngemodus tapi bilang-bilang?

Pernah suatu malam kami berempat nongkrong di jalan. DS tiba-tiba minta gue cerita tentang kehidupan di Kalimantan itu kayak gimana, kampus gue gimana. Ya gue cerita apa adanya. Terus, dia malah nanya pacar gue orang dayak apa orang batak.

"Gak ada," jawab gue cepat.
"Masa?"
"Iya, aku nunggu kau," jawab gue amblas.
DS bales, "Ngapain lah kau tunggu-tunggu aku. Gak ada yang bisa dibanggakan dari diri ini."

Rendah hati banget ya.

Yang paling bikin gue senang dan berharap DS adalah jodoh dari Tuhan karena dia seiman sama gue. Kita sama-sama Katolik, sama kayak dia. Emang mereka banyak persamaannya Ya Tuhan. Dua bekicot yang dari ITM juga katolik. Gue pernah baru nyadar si DS berada dalam gereja itu saat maju buat nerima ekaristi ke depan. Gue refleks tepuk bahunya dia. Minggu berikutnya gue minta nebeng sama dia. Iyalah, modus. Tapi ternyata pagi itu dia telat bangun. WA gue baru dibalas jam 8. Untung gue udah naik ojek ke gerejanya. Dia minta maaf dan nyesal banget ketiduran. Saat gue masih chat ama dia, dengan gentleman dia nasehatin gue buat fokus aja dulu sama ibadah.

Suatu hari gue pernah nanyain tentang topik penelitiannya dia yang ada hubungannya dengan penelitian gue. Saat itu gue bukan modus. Tapi lagi butuh pencerahan beneran. Gue chat dia dan dibalas, "Ini bukan modus, kan?"

Gue be like : Yakali gue modus gak kenal waktu!

Dia malah datang langsung ke kos gue. Malam besoknya, ketika ibu kos gak ada di rumah dan rumah dititipkan ke gue, kami berempat masak sup daging babi. Enak tenan! Kokinya? Gue jelas.

"Ternyata dia bisa juga masak ya, aku udah khawatir tadi ini semua gak bisa dimakan," kata DS disela makan bersama kami.
"Enak aja, kau kira gimana aku di Kalimantan bertahan hidup kalau gak bisa masak?" balas gue.


Namun, saat-saat kelam pun mulai tiba. DS udah jarang main ke kos kami. Dia udah mulai fokus sama laporannya. Mengingat waktu dia di perusahaan juga mulai habis. Gue jadi gak pernah lagi ngeliat dia. Ada satu momen kampret waktu AL ngasih tau gue kalau si DS pulang malam itu juga ke Bangka. Gue otomatis shock. Iya bukan siapa-siapa dia sih, tapi tetep aja gue gak bisa terima kenyataan. Gue masih ingin kenal dia lebih dekat. Malam itu juga, gue ikut ke kosan DS. Di tengah perjalanan menuju ke sana, gue udah ngerangkai kalimat perpisahan yang bakalan gue ucapin. Anehnya, gue malah jadi kreatif nyusun kalimat-kalimat dari tontonan yang pernah gue liat.

WTF!!!

Ternyata yang mau balik malam itu bukan DS, tapi temannya dua orang. Gue acak-acak rambut si AL kampret penyebar kebohongan itu. Jauh-jauh dari ITM malah menebar kebencian (apa seeh!).

Gak lama kemudian, si DS juga giliran mau balik. Dia udah acc laporannya sama pembimbing lapangan. Gue tau lewat status dia di WA. Terus gue komen dan bilang supaya dia jangan balik dulu. Jalan-jalan dulu kek, kemana gitu. Pagarayu, eh Pagaralam.. Berhubung juga besoknya adalah hari ultah gue. Demi apa otak gue yang tumpul ini mengharapkan mereka tau dan siapin surprise buat gue. Hanya karena gue sama DS udah berteman di LINE. Tiap ada yang ultah kan, biasanya LINE selalu kirim pemberitahuan gitu.

Ternyata nol GEDE!
Si DS tetap pulang tepat dengan hari ultah gue. Saat itu jam 2 siang dia dengan kopernya berangkat naik bus perusahaan ke Palembang. Gue masih ingat dia ngacak kepala gue pelan. Gak tau apa gue dalam hati jejeritan senang gak karuan. Setelah peluk-pelukan dengan apparanya si AL (gue juga pengen), dia pergi. Dia benar-benar pergi..

Di status WA gue bikin "Safe Trip DS".

Malamnya, gue chat dia nanya udah nyampe apa belum di Palembang. Beberapa menit kemudian dibalas kalo dia udah nyampe. Dengan sok perhatian, gue bilang istirahat aja. Dia balas : Ok, btw selamat ulang tahun ya. Gue balas : Sori, udah telat.

Padahal dalam kamar lompat-lompat di atas kasur.


Gue juga mulai berkutat dengan laporan gue. Satu-satunya syarat yang bisa membebaskan gue dari perusahaan ini adalah acc laporan dan tanda tangan dari pembimbing. Meski tak mudah, semuanya berhasil gue lewati. Saat akhirnya gue dalam perjalanan kembali ke kampus, gue bikin status di WA.

Soundtrack perjalanan ini : Remember Me-Coco

Gak nyampe 2 menit ada yang komen. OMG, si DS!!!

DS : Kau masih di PTBA?
Gw : Menurutmu aja arti status aku gimana?
DS : Kirain masih di sana.
Gw : Biar kutebak. Pasti ada datamu yang kurang terus mintol ke aku mintakan ke Pak Herman (pembimbing gue di satker geoteknik)
DS : Kok tau?
Gw : Udah ketebak.
DS : Yodah deh, hati-hati ya.

Dibilang 'hati-hati ya' itu maknanya berarti banget loh buat gue. Kayak bilang, kalau kamu kenapa-kenapa aku gak bisa hidup. Wkwkwkwkwk. Meski sebenarnya itu gak ada. Pemikiran gue aja yang kejauhan.

Hari-hari berikutnya DS nge-chat lagi buat nanya peta. Kebetulan gue punya ya gue kirim aja via e-mail. Bisa terbilang sering chatingan. Ada-ada aja hal yang dibahas. Hingga akhirnya gue bilang ke dia buat nelpon gue. Tapi tau gak dia balas apa?

Nanti-nanti ya kalo aku gak lupa! 


HARUSNYA dari situ gue bisa tarik kesimpulan kalau si DS gak punya rasa tertarik sama gue. Tapi si AL malah meyakinkan gue untuk memastikan dugaan gue tersebut. Maka gue pun tanyakan hal berikut:

DS, menurutmu aku orangnya gimana?

Gue jelas khawatir nunggu balesannya.

DS : Baik, sederhana. Ya apa adanya. Kenapa kau nanya gitu.
Gw: Mau introspeksi diri aja
DS : Iyalah, kau baik kok. Kenapa emang, ada yang jelek-jelekin kau?
Gw : Kalo ada emang mau kau apakan?
DS : Gak diapa-apakan sih.
Gw : Tapi emg gak keliatan ya?
DS : Apanya?
Gw. Hm, susah bilangnya.
DS : Bilang aja. Kan udah sama-sama gede.
Gw : Justru itu. Malu (demi apapun bilang ini geli banget)
DS : Gpp lah. Bilang aja. Daripada disimpan-simpan dalam hati, nyesek loh.

Emang nyesek..


Gw : Kayaknya sih keliatan aja. Kau aja yang pura-pura gak liat.
DS : Maksudnya?
Gw: Asdfghjkl
DS: Belajar abjad? ABCD?
Gw: Masa aku mesti bilang..
DS : Haruslah. Biar aku ngerti maksud arah pembicaraan kita ini.

OMG!
Kita? Pembicaraan kita???

Gw: Pura-pura tidur ah.
DS: Gak nyambung udah nih, tidurlah. Udah malam ini.
Gw: Gak bisa. Nyesek.
DS : Kalau maksudmu utk pacaran, maaf ya aku belum ada kepikiran kesitu. Aku masih pengen temenan aja.


JLEB!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Gue bisa lihat pesan itu tanpa membuka (read). Gue sengaja gak buka itu pesan hingga keesokan harinya.
Sialnya malam itu gue gak bisa tidur sampe jam 3 pagi. Gelisah. Gue ditolak, bahkan sebelum menyatakan..

Ini bahkan lebih nyesek dibanding cinta terpendam!

HEBATNYA, keesokan pagi jam 6 gue bisa terbangun dan langsung sakit perut pas ingat kejadian tadi malam. Sekedar memastikan bahwa itu bukan mimpi, gue buka lagi WA gue dan..

 JLEB KUADRAT PANGKAT TIGA!!!

It's REAL ..

BERPIKIR bahwa gue gak boleh terlihat rapuh, gue pun balas pesan itu,

Gw: Enggak kok, Aku juga gak kepikiran kesitu. Cuma masih sekedar suka aja. (06.06)

Satu setengah jam kemudian dia balas,

DS: Baguslah, menurutku lebih bagusan berteman jadi lebih bebas. Tapi aku boleh nanya samamu? (07.35)

Pesan itu sengaja lama gak gue read.

Gw: Nanya apa (10.51)
DS: Apa yang kau suka dari aku? Apa yang kau liat dari aku? (10.59)
Gw: Bisa kan gak kujawab ini. Entar yang ada kau malah ke-GR-an (15.15)
DS: Oh yaudah terserahmu. Aku cuma penegn tau aja (16.02)
Gw: (Read)



Jadi pengen nyanyi Kodaline, All I Want...


Take my body
Take my body
All I want is
All I need is
To find somebody
I'll find somebody








Sabtu, 26 Mei 2018

What I Looking For?

Aku baru kembali dari menunaikan tugas suci makhluk bernama mahasiswa di akhir semesternya (if you know what i mean). Demi apa, aku jauh-jauh dari Sumatera Utara buat kuliah ke Kalimantan toh pada akhirnya penelitian skripsi di Tanjung Enim Sumatera Selatan. Dan sekarang berpacu dengan tenggat waktu yang sangat.. ketat (emang rok)! 

Seandainya dari awal aku kuliah di jurusan yang menarik minat (ku), mungkin semua gak akan selambat ini. Semua jadi dua kali lebih berat ketika aku harus lulus dengan cepat dan dibilang sama emak buat cepat dapat kerjaan. Sekarang giliranku untuk membiayai sekolah adik yang di bawahku. Ya, resiko keluarga besar tuh gini. Yang sulung biayain saudara di bawahnya, entar lanjut lagi, lanjut lagi sampai ke yang paling bungsu. Wait, Mom gimana caranya aku dapat kerjaan kalau kuliah aja udah terlunta-lunta?

Emak adalah tipe ibu yang khawatiran. Khawatirnya itu ya, malah agak sedikit memaksa kehendak. Kayak pertanyaan, "Nak, sempat kan lulus tahun ini?" Sekilas kalian pasti mengira emak gua sedang mengkhawatirkan waktu yang semakin mepet. Tapi kalau ditelaah lagi itu maksudnya adalah : Nak, kamu harus sempat lulus tahun ini. Apapun ceritatanya!!!
Dengan sok swag, kujawab pertanyaan itu : "Mama mau janji atau bukti?" 

Gak ada balasan.

Sewaktu masih di lapangan ngambil data, aku sudah merancang bagaimana setiap hari aku akan berkutat dengan skripsi ini di kos. Nyatanya sesampainya di kosan, semangat itu lenyap, menguap seperti air panas yang dididihkan. Apalagi karena kampus udah sepi. Teman-teman seangkatanku udah banyak yang lulus, bahkan beberapa udah bekerja di perusahaan tambang. 

Ah..
Entahlah, apa yang kuinginkan dan kutemukan gak sejalan. Semakin kesini aku semakin tak berdaya. Orang-orang yang berhasil menemukan dan bisa menjalankan passion-nya pastilah sangat beruntung. Hari-hari mereka tak akan membosankan. Seperti menemukan belahan jiwa, yang sepakat untuk sehidup semati.

Seandainya tak berbakat dengan akademik, setidaknya ada hal yang anda kuasai. Entah itu musik atau menulis. Sayangnya aku tak memiliki keduanya. Bagaimana aku akan menghabiskan waktu? Sejuta pertanyaan yang tak berhasil ditemukan jawabannya mampir tiap hari dalam benak ini. Mengapa aku memikirkan itu? Apakah aku sudah dewasa? Jika sudah, kenapa aku tak bisa memikirkan sebuah solusi?

Sempat terpikirkan olehku untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain saja. Kalau aku tidak bisa melakukan apa yang menyenangkan bagi diriku (passion), aku akan membaktikan diri buat orang lain saja. Sejenis pengabdian di desa terpencil. Menjadi relawan sosial di medan perang, mungkin. 

Yeah, mulia bukan?
Disaat aku tidak bisa (yakin) menyelamatkan diri sendiri, aku malah membantu orang lain. Jika semua orang memiliki pemikiran yang sama, bukankah dunia akan penuh damai, jauh dari terorisme, kesenjangan sosial dan polemik lainnya. 








Sabtu, 14 April 2018

Agustus, Tunggu Aku..,



Banyak hal gak bisa ditebak. Baru kemarin aku fix mau mulai kerja saat surat balasan dari PT Bukit Asam dikirimkan ke e-mailku. Ngobrol baik-baik sama ibu yang ngasih kerjaan, akhirnya fix berangkat penelitian tugas akhir ke Sumatera Selatan. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada juga yang manggil aku.

Namun, perjalanan ini tidak mudah. Aku baru dapat panggilan di awal April. Waktu penelitian kurang lebih dua bulan dan aku mesti ngejar wisuda Agustus. Akhir Juni baru bisa kembali ke kampus. Benar-benar waktu yang sangat mepet sekali pemirsa.
Dan memang perjalanan ini gak mudah.

Belum lagi aku yang sempat ketinggalan pesawat Palangka Raya-Jakarta. Terpaksa beli tiket baru dan ini sangat membuang uang yang tadinya sudah terbatas juga.  Aku masih ingat kemarin nangis-nangis sama mbak penjaga counter check in Citilink-nya. Sialnya air mataku gak benar-benar netes, makanya mungkin dia gak iba. Aku cuma meraung-raung minta dibolehin check in dan memasang muka super panik.

“Mbak, tolong. Saya tau saya salah, tapi sekali ini saja. Saya mau berangkat penelitian tugas akhir ke Palembang. Saya gak punya uang lagi buat beli tiket baru.”
“Maaf, mbak. Sudah tidak bisa lagi,” katanya tanpa rasa kasihan sedikit pun.

Aku terduduk lemas di lantai. Koper dan backpack-ku juga tergeletak persis di depan counter check in citilink. Peduli amat sama koper yang isinya hanya baju itu. Kalau bisa dijual saat ini juga malah aku akan sangat senang. Lumayan nambahin buat beli tiket pesawat baru.

Ujung-ujungnya aku beneran nangis dengan posisi melipat kaki duduk di lantai. Rambutku yang terurai, koper yang tergeletak tanpa nyawa, posisi duduk yang menyedihkan. Semua mempertegas kalau aku orang gila. Sekali liat saja orang pasti berpikiran demikian, maksudku.

Kurang lebih 20 menit aku di posisi seperti itu. Orang-orang yang ngeliatin ya, biar aja. Ingin kuberkata kasar sebenarnya sama mbak citilink tadi, tapi gak sanggup. Nanti yang ada malah jambak-jambakan kitanya, terus ada yang video-in, eh malah viral. Aku belum siap..menjadi viral!

Singkat cerita, aku beli tiket baru dengan mengorbankan uang kos yang akan kubayarkan setibanya di Palembang nanti. Apa boleh buat.

Kami tiba di Palembang jam 7 malam. Itu pun setelah delay pesawat 2 jam (Lion emang the best). Dari Palembang ke Tanjung Enim naik travel sekitar 5 jam. Alhasil nyampe subuh jam 3 di daerah penelitian. Disambut sama ibu kos yang udah jauh-jauh hari ditelpon. Besoknya adalah hari Minggu Paskah, dan aku molor sampai jam 9.

Aku dan Gilbi pisah kos. Dia tinggal dengan keluarganya. Aku tetap di kos ini. Selain karena dekat ke pasar, juga dekat ke Diklat PT BA. Pokoknya aksesnya keren. Senangnya lagi karena ada keponakan ibu kos, namanya Kak Juwita yang bisa kutanya-tanya atau ajak kalau aku mau nyari sesuatu di sini.

Satu hal tentang Tanjung Enim, gak ada tempat tujuan wisata yang bisa dikunjungi. Kalau kata Kak Juwita ini kota tempat cari duit. Apalagi karena banyak perusahaan tambang. Ya, orang-orang bekerja di siang hari, di malam hari tidur dengan cepat. Kalau mau ngabisin duit buat liburan, mereka pergi ke Palembang mungkin. Jam 8 malam aja udah gak ada lagi ojek.

Di PT Bukit Asam ada beberapa satuan kerja (satker). Mahasiswa magang atau tugas akhir di tempatkan di satker yang sesuai dengan judul penelitian mereka. dari awal judul penelitianku memang tentang geoteknik. Tapi aku ditempatkan di satker yang tidak sesuai. Butuh 3 hari untuk mengurus proses perpindahanku ke satker geotek. Yap, waktu berlalu cepat. Hari Senin kami diinduksi di kantor diklat PT BA. Itu seharusnya, tapi karena Bu Ningsih belum kembali dari luar kota terpaksa kami diinduksi keesokan harinya. Hari Rabu kami ke satker masing-masing. Aku dua hari di satker yang salah. Hari Kamisnya barulah aku bisa ke satker yang tepat, geoteknik.

Judulku tentu saja berganti. Apa yang direncanakan dari kampus memang gak selamanya bisa ditemukan begitu tiba di perusahaan. Intinya, mahasiswa harus menyesuaikan dengan keadaan di lapangan. Meskipun gak terlalu jauh menyimpang dari judul awal, gak apalah. Yang jadi masalah adalah aku yang gak benar-benar menguasai materinya. Mesti belajar dari nol lagi. Karena jujur, aku udah lupa kuliah semester-semester yang udah lama berlalu.

Di satker geotek ada 8 orang mahasiswa. Dari UNPAD 3 orang, dari UNSYAH, UNSRI, STTNAS Jogja, dan UPR kampusku ada aku dan seorang lagi cowok. Dia udah sebulan di sini.

Well, awalnya kukira tiap hari ke lapangannya buat ngambil data. Ternyata mereka banyakan di kantor, berhadapan dengan laptop dan software geotek. Kendalanya juga di transportasi.

Udah dua minggu berlalu, dan aku belum ada ke lapangan sama sekali. Kuharap secepatnya bisa menyelesaikan tugas akhir ini dan kembali ke kampus. Karena sebenarnya aku memang berpacu dengan waktu.

Agustus, tunggu aku..,

Selasa, 03 April 2018

PAKET SUPER HEMAT in KFC & ALFAMART


Beberapa hari yang lalu, aku diajak lebih tepatnya dipaksa seorang kawan buat makan di KFC yang katanya lagi diskon 50% buat ayam 5 ekor. Bukan deh, tapi 5 potong, eh kok gak cocok. Lima apa sih sebutannya? 5 bagian? Pokoknya itulah, dapat dada 2, sayap 1 sama paha 2. Si Gluck ini kerjaannya emang makan aja yang dipikirin. Skripsi jarang dikonsulkan sama dosen. Gak heran kenapa perutnya makin buncit (peace bro). 
"Itu 50% dari berapa dulu?" tanyaku. Eh siapa tau aja kan diskonnya 50% dari 200 ribu. Sama aja bohong.
"Belum sama nasi dan minum?" aku menaikkan suaraku 2 oktaf setelah dia menjelaskan.
"Tenang aja. Aku tau solusinya," si Gluck tersenyum penuh kemenangan.
Malamnya dia beneran datang ke kosku, ngajakin ke KFC itu. Kalian pasti gak bakalan percaya dengan apa yang dibawanya. Nasi dalam Tupperware dan air mineral dalam botol minum ukuran 1,5 liter. Cowok darimana ini, Tuhan tanyaku dalam hati. Biasanya cowok itu kalau belanja aja gak pernah tawar harga sama si penjual. Lha ini malah bawa nasi ke KFC? Kagak malu entar diliatin orang-orang?
"Kau serius?" aku menunjuk kotak nasinya. Dia mengangguk.
"Ayolah, Da. Besok-besok kau udah berangkat ke lapangan. Gak apa-apalah ngelakuin hal gila kayak gini malam ini."
Oke, karena aku 2 hari lagi berangkat ke Palembang selama dua bulan kurang lebih, baiknya malam ini kuturuti aja permintaan si Gluck. Kami pun tiba di KFC yang emang lagi antrian panjang. Kata si Gluck ini hari terakhir diskon itu berlaku. Waw, pantesan aja. Tanpa banyak omong, kudorong s Gluck ikut bergabung di barisan antrian pemesanan, sementara aku mendaratkan bokong di kursi tak jauh dari tempat dia mengantri. Sempat kesal, kubilang bahwa ini idenya.
Menunggu 15 menit, pesanan kami belum juga datang. Tiba-tiba muncul Putri, teman seangkatan kami yang baru melangsungkan pertunangannya beberapa hari yang lalu. Dia cantik sih, modis pula. Apapun yang dikenakannya kenapa cocok semua? Padahal dia cuma pake hot pants sama blouse. Rambutnya digerai. Wajahnya dipoles make up tipis.
Kami bersalaman. Tunangannya Putri pergi ke barisan antrian. Kami sempat ngobrol sekitar 7 menit, membahas soal skripsi tentu saja. Biasalah, mahasiswa tingkat akhir. Setelah tak ada yang diobrolkan lagi, Putri pergi ke tunangannya.
"Da, ambil meja paling sudut yuk," ajak si Gluck. Taulah kan, kenapa kami harus ngelakuin itu. Yap, supaya bisa buka nasi yang dibawa si Gluck dari rumah. Kami membawa pesanan, lebih tepatnya 5 potong daging ayam KFC itu beserta sebuah piring. Kami melewati Putri yang sepertinya gak melihat kami udah pindah meja.
"Tadi aku ditanyain sama mbaknya. Ada lagi mas, tambahannya? Kubilang aja gak ada. Dia keheranan. Minumnya, nasinya?" si Gluck menirukan suara heran si mbak KFC.
"Lagian emang anehlah. Masa beli ayamnya aja," balasku. Dan sepertinya kami salah ambil tempat, karena tepat di sebelah kami ada sepasang anak manusia yang lagi makan juga. Gak seperti meja kami yang hanya berisi ayam dan sambal (yang banyak beut), meja mereka lengkap dengan pepsi dan nasi. Itu belum seberapa. Meja kami yang posisinya paling dekat dengan tempat mencuci tangan, membuat Putri harus melihat kami lagi (dengan keheranan) karena pindah meja.
"Lha, kok pindah?"tanyanya sambil melap tangannya.
"Ah, itu, biar dekat dengan tempat cuci tangan," jawabku refleks. Alasan macam apa itu. Meskipun dengan keheranan, si Putri pun berlalu. Si Gluck kembali mengeluarkan nasinya. Aku memutuskan untuk makan ayamnya aja karena emang gak lapar-lapar amat.
Oke, kayaknya sepasang manusia di dekat meja kami mereka orang batak karena sesekali melirik ke aku dan Gluck saat kami cekakak-cekikikan gara-gara kejadian barusan. Tapi gak ada yang peduli. Kami berdua masih ketawa.
"Mending tadi bilang mau nge-charge HP, Da," si Gluck menunjuk tempat colokan listrik di sampingnya. "Si Putri mungkin gak curiga."
"Chargernya gak bawa juga," kataku sambil memasukkan ayam ke mulut. "Eh, tau gak. Ini tuh bukan paket hemat lagi namanya, tapi PAKET SUPER HEMAT."
Kami kembali cekikikan sambil memegang perut. Si Gluck menaruh kotak nasinya dalam tas dan tangannya mengambil segenggam demi segenggam nasi dari bawah meja ke atas piringnya. Sekilas kayak kami lagi nyelundupin barang terlarang sejenis narkotika.
"Gak usah malu, Da. Kita gak mencuri, kok," katanya lebih kepada diri sendiri.
Serah lu, dah Gluck. Gue mah cuma makan ayam doang,.
Keesokan harinya aku ikutan menerapkan paket super hemat ini. Aku dan Pebri nongkrong di depan gerai alfamart sambil makan pop mie yang air panasnya dibawa dari kos dalam botol minum. Orang-orang pada ngeliatin, tapi kami tetap makan dengan lahap. Aku bahkan membawa ikan kering dan kerupuk udang dalam tas. 
Malu? 
Buat apa. 
Seperti kata si Gluck, ini gak mencuri kok! Malah menarik aja. Sesuatu yang belum pernah loe lakuin, sesekali wajib dicoba. 
TRY Everything !!!

Tau sejarah KFC, gak?!


Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...