Selasa, 24 Januari 2017

Hal-hal Konyol Hari Ini





Terkadang untuk mencapai sebuah tujuan gak selamanya mulus atau mudah kayak membalikkan kain jemuran. Sering harus melalui sebuah perjuangan mahadahsyat yang ujung-ujungnya berakhir pada kekonyolan. Selain ngebikin lucu dan menghibur, kekonyolan ini, sadar atau gak akan ngebuat lo semakin dewasa, belajar dalam menjalani hidup. Namun kadang lo udah berusaha mati-matian buat sesuatu, tapi gak tercapai. Tadinya pengen hemat, malah rugi.
Cekidot..

Judul: Terlalu Mahal
Paguyuban KSE UPR bakalan ngadain pelatihan AKSI (entah dalam rangka apa gue lupa) bulan Februari ini selama 2 hari, tanggal 11-12. Orang-orang penting bakalan datang dari ibukota sana. katanya, menurut sumber beberapa orang beswan KSE yang udah pernah ikut pelatihan camp, dalam camp AKSI ini kami bakalan digembleng secara fisik dan rohani. Samapai disuruh latihan fisik 30 menit minimal tiap hari mulai sekarang. Apapun itu, gue pikir gak ada yang menandingi “derita” yang gue alami saat diklatsar Mapala. Gak bakalan lebih sakit dari itu deh. Yakin gue.

Karena salah satu persyaratan administrasi buat ikut camp ini adalah surat keterangan sehat dari yang berwajib, maka pergilah gue dan Dwi ke Puskesmas terdekat, di Jln.Bukit Hindu. Kenapa milih ke sana? Karena murah, hanya 15 ribu. Dibanding puskesmas lain (25 ribu) atau poliklinik kampus (20 ribu). Gue udah pernah minta surat keterangan sehat di sana, waktu mau pendakian nasional ke Kalsel. Cuma periksa tensi aja sih, cek berat dan tinggi badan. Tunggu sebentar diketik sama petugas, ke kasir, dan done. Tapi hari itu kami tidak beruntung. Puskesmas Bukit Hindu udah tutup. Padahal baru aja jam 11 pagi.

“Gimana nih, Magda? Kita ke poliklinik aja, yok,” ajak Dwi.
“Jangan, Dwi. Mahal. 20 ribu. Padahal gak dicek tensi kita. Cuma ngisi formulir doang. Besok kita balik lagi kesini.”
Jelas gue gak mau rugi. Kalau ada yang lebih murah, ngapain bayar mahal?

Gak menyerah sampai disitu, keesokan harinya kami balik lagi. Hari Jumat. Jam 9 si Dwi nge-bm kalo dia udah otw. Tapi 40 menit kemudian itu anak gak nongol-nongol. Gue malah sempat khawatir terjadi sesuatu. Soalnya rumahnya gak jauh-jauh amat dari kos gue. 45 menit kemudian setelah dia nge-bm otw, barulah dia datang. Kita pun capcus ke puskesmas Bukit Hindu. Dan taulah gue kenapa si Dwi bisa sampai menghabiskan waktu 45 menit tiba ke kos gue. Bawa motor lama beut. Kalo mau nyebrang, padahal tuh mobil masih jauh sih, masih sempat buat kita nyebrang tapi si Dwi nunggu sampai jalan raya kosong.

Jam 10 WIB.
“Bu, masih buka, kan?”
Si ibu menggeleng pasti. “Udah tutup, Dek. Orang solat Jumat nih.”
Keluar api dari hidung gue.
Karena besoknya adalah hari terakhir pengumpulan surat itu, kita pun bela-belain hari itu juga harus selesai ngurus tuh surat. Capcus ke rumah sakit Doris.
“Yakin di sini lebih murah?”
“Gak tau sih. Belum pernah juga,” kataku.

Rumah sakit swasta terbesar di Palangka Raya. Seharusnya kami tahu itu, yang otomatis lebih mahal dari puskesmas atau poliklinik. Banyak orang di sana. Setelah nanya bagian informasi, kami menuju MCU di lantai 2. Si ibu berjilbab memberikan formulir untuk kami isi. Kemudian cek tensi.
“Bawa ke loket 5 ya dek, di bawah. Terus nanti ke kasir, baru bawa ke sini lagi,” katanya.
Kami pun turun ke loket 5. Loket 5 memberikan kertas berisi biaya yang harus kami bayarkan. Mataku membelalak. Tak percaya.
“50 ibu DWIIII…????”
Untuk meyakinkan, aku menuju kasir.
“Bu, ini memang 50 ribu biayanya? Padahal kan, yang dicek cuma tensi aja. Kecuali kayak bagian dalam juga dicek, saya rasa bisa lebih mahal.”
Beberapa orang petugas di kasir itu serentak memandang gue kesal.
“Ya memang segitu. Ini nanti suratnya dari dokter lho,” jawabnya ketus. Tanpa melihat wajahku. Aku dan Dwi berpandangan. Aku menggeleng. Dwi pasrah.

“Di puskesmas juga suratnya dari dokter kok, Bu. Cuma tandatangannya aja yang dari dokter. Yang meriksa bukan dokter juga. Dan yang diperiksa  juga toh cuma tensi. Sama aja. Tapi kenapa lebih mahal bayarnya di sini?”
“Kalau gak mau, yasudah. Sini kertasnya.”

 “Ini, Bu. Maaf ya bu. Tapi 50 ribu itu jumlah yang besar untuk anak kos kayak saya.”
Tanpa ba-bi-bu lagi kubalikkan kertas kuning berisi tagihan itu. aku gak butuh lagi. 50 ribu? Makan 5 kali boh!
Pilihan terakhir adalah poliklinik. Itu pun kalau masih buka. Saat itu jam 11 lewat. Dan untungnya masih buka. Benar seperti yang udah gue bilang, cuma ngisi formulir dan ditanya, ini sehat aja kan? Lha mana gue tau.
“Iya Bu. Sehat aja. Biayanya berapa ya?”
“25 ribu, dek.”
Gile, naik aja. Entah sejak kapan bah. Jauh ke sana-kemari, ujung-ujungnya kita balik ke tempat paling deket, poliklinik kampus dan bayar 10 lebih mahal dari tujuan awal.
Gue hanya bisa elus dada.

Judul: Transferin ke atm gue dong, 27 ribu!
Kali ini gue berhadapan sama atm. Gegara keukeuh mau nonton Resident Evil: Final Chapter. Kenapa gue pengen banget nonton ini, karena ada Lee Joon Gi hyungnim yang main disini. Ya, gue tau. Dia cuma cameo, 10 menit aja. Berantem sama Milla Jovovich. Di 21 tiketnya hari biasa 35 ribu. Filmnya tayang tanggal 25 Januari ini. Uang yang gue punya di atm tinggal 127 ribu. Atm BNI. Karena BNI bisa saldo sisa 0 rupiah, gue pun minta tolong Toguma transferin 23 ribu ke atm gue.


“ATM-ku dipinjam adek tingkat,” katanya.
“Yaudah kita ambil ke tempat dia. Posisimu dimana sekarang?”
“Kos Hunter.”
“Oke, otw.”
Gue pinjam motor tetangga kos. Capcus ke kos Hunter. Langsung ke kos adek tingkat itu. tiba di sana..
“ATM kakak belum jadi kupinjam. Masih di kos kalian.”
Kita pun ke kosnya si Toguma. Tiba di sana..

Dia nyari-nyari atm BNI-nya yang tadi pagi ditaroh di atas meja katanya. Setelah nanya anggota kos yang lain, ternyata seseorang bernama Yunika salah ambil ATM BNI. Dia bawa ATM si Toguma. Dan gue kesal..! Si Toguma minta gue nungguin si Yunika pulang. Gue ragu. Entah dia pulangnya kapan. Lagian yang punya motor bilang biar gue gakl lama-lama dengan motornya. Akhirnya gue pulang dengan tangan kosong. Tiba di kos, gue telponin anak-anak penerima KSE siapa yang bisa transfer 23 ribu ke atm gue.

Beberapa orang mengaku gak punya saldo sama sekali. Satu orang mengaku hanya punya 5 ribu saldo di atm. Otak gue pun teringat kalo di atm bank BNI jalan Diponegoro ada mesin setor tunai pecahan 20 ribu. Di dompet gue ada selembar 20 ribu. Gue pun minta tolong ke Fera nemanin gue ke sana.

“Oh iya, jangan lupa bawa atm BNI-mu juga.”
Tiba di atm, gue masukin selembar 20 ribu itu. dan ternyata dia ditolak si mesin. Gue gak tau apa yang salah. Jelas-jelas di layar dibilang kalo itu mesin nerima pecahan 20 ribu, 50 ribu dan 100 ribu. Tapi kenapa transaksi gagal? Gue cek, itu uang gak lusuh-lusuh amat, gak berlipat atau sobek. Semua syarat terpenuhi. Tapi kok ditolak sih?

Oke, sementara kita tinggalkan mesin setor tunai. Karena orang-orang lain juga mau pake mesin setor tunai, gue sama Fera minggir ke samping. Mau transfer 5 ribu dari atm dia ke gue.
“Nomor rekening kakak berapa?” tanya si Fera.
Yaoloh! Gue lupa bawa buku rekening. Mana gue hapal-hapal itu nomor rekening.
“Bentar, Fer. Kucari dulu dari internet,” gue keluar dari box atm. Dia ikutan.
“Maksudnya?”
“Iya, kan di akun kita ada. beasiswa.or.id.”
Untungnya gue ingat username dan paswordnya, jadi bisa login. Segera gue klik profile dan disana bisa gue liat nomor rekening BNI gue.

Kita pun masuk lagi ke box atm. Untungnya transfer 5 ribu ke atm gue dari atm Fera berhasil. Sekarang saldo gue 132 ribu. Saldo si Fera 200 rupiah poin 845. Wkwkwk, ngeri!
Sekarang butuh 20 ribu lagi biar gue bisa narik 150 ribu. Biar gue bisa nonton Resident Evil: Final Chapter. Biar gue bisa liat Lee Joon Gi!


Bekali-kali uang selembar 20 ribu itu kami masukkan, hasilnya tetap mengecewakan. “TRANSAKSI DITOLAK”. Tapi kita gak langsung pulang. Karena gue emang bukan tipe orang yang gampang menyerah. Orang-orang yang datang ke atm itu gue tanyain satu-satu. Apakah ada yang punya uang 20 ribuan. Ya yang mestinya agak baru dikit. Gak lusuh kayak yang sedang gue pegang. Tapi ternyata gak ada yang punya. Terakhir gue beranikan diri menghampiri seorang bapak-bapak yang lagi nyetor di mesin setor tunai.

“Maaf, Pak. Bisa minta tolong?”
“Ya?”
“Ehm, bapak bisa transferkan ke atm saya 20 ribu, nanti saya kasih ke bapak tunai 20 ribu. Soalnya ini mesinnya gak bisa dari tadi saya setor 20 ribu.”
Beliau sejenak menatap gue. Mungkin meyakinkan dirinya kalo gue bukan tukang hipnotis atau penipu. Setelah yakin, beliau berkata, “Tunggu sebentar ya.”
Si bapak menyelesaikan setor tunainya. Lalu pindah ke mesin atm tarik tunai. Gue pun mendekat.
“20 ribu ya?” tanyanya.
“Iya, Pak.”
“Buat apa, dek?”
“Ah.. itu, pak. Maklum anak kos di akhir bulan. Di atm saya sisa saldonya hanya 32 ribu. Buat makan, pak. Biar bisa saya ambil 50 ribu saya kan harus masukin uang 20 ribu lagi minimal.”
“Oh.”
Si bapak pun dengan baik hati mentransfer 20 ribu itu. Gue menyodorkan selembar 20 ribuan yang dari tadi gagal disetor-tunaikan itu.
“Makasih banyak loh, bapak.”
“Iya, sama-sama.”

Finally, I’m coming Lee Joon Gi hyungnim…!!
Kahggli kakalshggsf


   


 

Jumat, 20 Januari 2017

Ngekos? Siapa Takut!!

            
        Ngekos itu atinya penderitaan. Kita dituntut mandiri. Mulai dari cuci kain sendiri, masak makanan sendiri, bangun pagi sendiri, ke kamar mandi sendiri, sampai buka baju pun harus bisa sendiri. Kalo lo belum bisa ngelakuin yang terakhir itu, gue saranin lo ketemu dulu sama Doraemon. Pinjem mesin waktunya, terus balik ke masa waktu lo masih bayi. Bukan apa-apa sih, gue cuma pengen lo mastiin kalo waktu bayi, lo emang diurus sama ortu. Bukan sama makhluk hutan. Tarzan dong. Wkwkwk.

Nah, yang gue sebutin tadi belum seberapa sama yang gue alami. Bayangin aja, gue yang masih kelas 1 SMA mesti hidup di dua alam. Bukan! Gue bukan amfibi. Aduh, gimana ya ngomongnya?! Intinya gue mesti sekolah sambil nyari uang. Nyari uang yang gue maksud di sini santai aja kok. Caranya: Jualan Pulsa. Bisnis ini gue jalanin bukan karena keadaan yang memaksa. Tetapi karena uang kiriman dari ortu gak mencukupi buat kebutuhan (ini mah emang KEADAAN!). Awalnya gue bilang bisnis ini santai, ternyata tidak selamanya. Teman-teman di kos dan sekolah mulai bertingkah. Mereka mulai ngebon dan lama baru bayar. Apalagi di sekolah. Tiap jam istirahat gue gak pernah ke kantin. Jam istirahat buat gue adalah saatnya nagih utang ke tiap-tiap kelas (ini awalnya mereka manggil gue rentenir). Gue datang lengkap dengan catatan utang mereka. Agak sadis memang. Tapi apa? Mereka banyak alasannya. “Aduh, sorry ya. Aku lupa minta uang sama papaku. Dia buru-buru ke Paris tadi pagi: Wah, besok aja ya. Tadi uangku ketinggalan di saku baju pramuka. Dan yang paling gak masuk otak (apalagi masuk akal): Sori ya, tadi pagi hujan, terus kami ada ulangan Matematika. Kok dia malah curhat sih? Kalau udah begini pengen rasanya nelan itu manusia semuanya. Dengan muka frustasi gue pun ke toilet. Pipis  

Di kos kami ada 9 helai manusia. Kenapa helai? Karena kami mirip dedaunan yang gugur pada saat tertentu. Empat betina, lima jantan. Kami adalah ciptaan Tuhan yang menikmati hidup dengan apa adanya dan ada apanya. Kami pun sering mengalami kanker (bukan penyakit). Sampai-sampai uang kos nunggak beberapa bulan. Sebenarnya udah dikasih dari kampung, tapi namanya anak kos. Kepake! Awalan ‘ke’ disitu artinya=gak sengaja! Kalau udah gini, Grand’Ma Herti, wanita pemilik kos yang sudah berusia 90 tahun akan datang ke kos kami lengkap dengan sapu terbangnya. Ini sapu beliau pake untuk ngelempar kami kalo kami lari. Gue udah sering dilempar, tapi gak pernah kena. Begitu tiba di depan pintu (kami selalu menutup pintu), beliau mengetuk.

“Buka pintunyaaaa..!!!”
Serentak semua kegiatan yang kami bersembilan lakukan akan terhenti. Kegiatan mencomoti dinding kayu rumah untuk dijadikan kayu bakar (minyak kompor habis) berhenti. Kegiatan mencoreti dinding dengan spidol berhenti, kegiatan manjat pohon kelapa di samping rumah juga berhenti. Karena pintu tak kunjung dibuka, Grand’Ma Herti pun melakukan penggebrakan. Engsel pintu terlepas. Sungguh beliau seorang wonder woman.

“Ya, Nek. Ada apa?” tanyaku buru-buru menghampiri beliau sambil berusaha menghabiskan sisa kelapa muda di mulutku.
Beliau melemparkan pandangan kesal. “Ada apa, ada apa. Mana uang kos kalian? Sampai sekarang belum ada yang bayar. Udah bulan berapa ini???”

“Minggu depan pasti lunas semua kok, Nek,”  kata Kiki cewek paling kecil di antara kami. Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar.

“NEK, TADI KAK MAGDA MANJAT KELAPA DI SAMPIN RUMAHHH..!”

Gue kenal betul itu suara. Bocah upil yang bandelnya melebihi tuyul, yang tadi minta kelapa sama gue tapi kagak gue kasih. Asem. Sebelum Grand’Ma Herti sempat menghunuskan sapunya, gue langsung lari sambil teriak, “Tadi kelapanya jatuh sendiri, Nek waktu aku goyang-goyangin.”

Di lain hari, ketika kami semua di sekolah (pintu kos gak pernah dikunci, cuma ditutup dari luar aja), gue tercengang banget karena rice cooker gue raib. Kita ber-9 pun berpencar buat nyari. Akhirnya ketemu. Gue liat dia terkulai lemas tak berdaya di kolong rumah kosong di samping kos. Firasat gue berkata ini adalah balas dendamnya Grand’Ma Herti. Apalagi karena menurutnya rice cooker adalah penyebab mahalnya tagihan bulanan listrik kami dan sudah dilarang keras gue pakai.

Yang namanya anak kos, kelaparan itu udah biasa. Gue paling gak bisa menahan lapar. Makanya suatu sore gua ajak 2 teman kos (bisa dibilang mereka pengikut gue) ngambil mangga di ladang oang (baca: maling). Kami pun beraksi. Lemparan gue dua kali tepat sasaran. Ketika gue mau lanjut dengan lemparan ketiga, sebuah teriakan berisi makian menyapa kami dari kejauhan. Gak! Gak terlalu jauh. Ya, beliau adalah pemilik ladang. Melihat parang di tangannya, sontak gue teriak. “LARIIII…!!!”

Dengan susah payah akhirnya kami sampai juga di kos. Tapi gue yakin bapak tadi pasti ngejar dan tak lama lagi pasti sampai sini. Segera sebuah ide mucul di otak gue.

“Ayoo, cepat ganti baju kalian. Baju apa aja. Pokonya ganti baju sekarang! Biar kita gak dikenali.”

Mereka berdua menurut. Dan dugaan gue gak meleset. Beberapa saat setelah kami bertiga ganti baju, si bapak pemilik ladang lewat dari kos kami. Kami gak sengaja berkontak mata. Spontan beliau berhenti dan memandangi kami bertiga penuh selidik. Beliau ngos-ngosan. Parang masih di tangannya. Gue merinding.

“KALIAN YANG TADI NGAMBIL MANGGA SAYA, KAN?”

Gue dengan trik yang pernah gue baca, kalau dituduh reaksi kita harus tenang dan gak boleh gugup. Dengan begitu diharapkan tidak akan ketahuan.

“Maaf, Pak. Mangga yang mana ya? Kami dari tadi pagi di rumah aja. Gak kemana-mana. Iya, kan?” kata gue sama pengikut gue berdua.keduanya mengangguk mulus.

“ALAH! JANGAN BOHONG KAMU. SAYA TADI LIHAT WARNA BAJUNYA. MERAH, BIRU HITAM..!!!

Kami bertiga sontak langsung memeriksa warna baju masing-masing dan ternyata.. merah, biru, hitam! Busyet. Gak ada guna ganti baju. Padahal kan, tadi tujuannya buat ngilangin jejak. Eh ini malah..! tadi gue emang pakai baju hitam, terus gue ganti baju biru. Teman gue yang satunya tadinya pakai baju biru, terus dia ganti merah. Yang satunya lagi tadinya pakai baju merah terus diganti baju hitam.

Dengan sisa keberanian yang ada, gue kembali teriak.
“LARIII…!!!”

Gue berharap sih si bapak gak melemparkan parangnya ke kita, just like Grand’Ma Herti dengan sapu terbangnya. 

Senin, 16 Januari 2017

Hal-hal yang Menjadi Kekhawatiran Ketika Usia Sudah Kepala 2

Setahun yang lalu usia gue udah 21 tahun. Tahun berapakah gue lahir? Hahah. Gak usah dijawab. Itu hanya pertanyaan dongo yang tidak membutuhkan jawaban. Tapi kalau lo emang mau jawab sih terserah juga.  
Seiring bertambahnya usia seseorang, sebenarnya kekhawatirannya juga semakin besar. Misalnya ketika usianya sudah 25 tahun tapi belum pernah pacaran, gue mau nikah sama siapa dong? Atau usia udah 30 tahun tapi belum juga kelar kuliahnya. Atau udah 40 tahun tapi belum punya anak. Ini sih gue saranin ke dokter kandungan aja buat ngecek yang mandul siapa. Namun pada intinya usia seseorang berbanding lurus dengan tingkat kekhawatirannya. Kenapa sebenarnya? Karena tanggung jawab juga semakin besar.
Masih ingat waktu lo masih bayi atau balita, anak-anak? Apa yang lo lakuin. Makan, tidur, nangis. Mau minta makan aja dengan cara nangis, orang tua bakalan langsung perhatiin lo. Sekarang udah gede, coba minta uang buat beli motor dengan cara nangis. Lo udah nangis 4 hari 4 malam belum tentu dikasih. Sekarang, kalau liat anak-anak gue malah pengen punya mesin waktu yang bisa bikin gue kembali ke masa lalu. Gue pengen jadi anak-anak aja selamanya. Yang gak akan pernah dewasa. Karena ternyata jadi orang dewasa itu “mengerikan”.
Usia gue sekarang 21 tahun dan gue semester 7. Bahkan kemarin UAS udah selesai, artinya sekarang gue masuk semester 8. Kapankah gue magang? Kapan wisuda? Kapan keja? Kapan punya pacar? Kapan bahagiaakan ortu? Terasa sekali pertanyaan itu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Apalagi sekarang gue terpilih sebagai ketua umum mapala Dozer yang baru. Menyusun program kerja, melaksanakannya, dll. Semua ini akan menyita waktu yang tak sedikit. Artinya kuliah gue bakalan sedikit lebih lama dibanding teman-teman yang lain. Karena seiring dengan kedudukan tinggi, tanggung jawab yang lebih besa juga menanti.
Akankah gue sanggup?

Kos pink sepi. Meli sama Sinta ikut kursus bahasa inggris di kampung inggris. Entah itu daerah mana. Mereka sebulan katanya disana. Setelah kursus katanya bakalan naik gunung Semeru. Ahh..! Iri gue. Warga kos pink yang lain ada yang pulang kampung, ada juga yang liburan di tempat keluarga mereka. Lha gue? Gue saat ini terpaku menatap langit dengan kondisi wifi kos kami bakalan dimatikan. Karena semua member pada pulang untuk sebulan ke depan gak ada yang bisa diharapkan membayar wifi. Jadi daripada gue kena beban uang yang banyak, mending ini wifi dimatikan aja.




Selasa, 10 Januari 2017

Pertemanan Dijadikan Alasan Buat Kecurangan Ujian?


Sekarang lagi musim-musim ujian akhir semester. Kalian mungkin biasa menyebutnya dengan U.A.S. Kalau aku sih nyebutnya final exam. Kadang gak enak juga UAS di tingkat universitas. Apalagi PTN. Tapi aku juga gak tau pasti sih, apa emang semua PTN jadwal UAS-nya setelah tahun baru? Sekitar tanggal 4-an. Gak enak tahu! Tanggal 20 Desember minggu tenang sambil menyambut natal dan tahun baru. Tanggal 4 nya malah ujian. Padahal udah PW liburnya. Enakan anak sekolahan juga. UAS-nya sebelum natal. Jadi pas natal sampai tahun baru lewat mereka bener-bener free.
Oke, bagaimanapun sekarang gue udah kuliah. Harus terima kenyataan (pahit).
Yang namanya kecurangan saat ujian itu bukan rahasia lagi, tapi udah jadi rahasia umum. Banyak sekali jenis-jenis kecurangan yang terjadi. Mulai dari nulis rumus di paha (biasanya cewek yang pakai rok), bawa HP ke ruang ujian, lirik punya tetangga, atau bawa buku paket (ini emang gak waras). Tapi yang terbaru adalah yang terjadi hari ini. Dimana temen gue sendiri, temen dalam geng kami, yang ngajakin gue buat ngelakuin kecurangan tipe terbaru ini. Apakah itu? Check percakapan kami yang panjang berikut.

Dia: Eh, besok lo ada ujian gak?
Gue: Gak ada. Kenapa emg? Mau nyuruh aku jadi joki? GAK MAU!!! (Sambil teriak-teriak histeris. Wong ujian mata kuliah sendiri aja gak bisa jawab, apalagi punya org)
Dia: Ih, blm jg selesai ngomong. Makanya didenger dlu.
Gue: Yaudah. Apa?
Dia: Bsok ada ujian kagak lo?
Gue: Ehm, ada..ada! Baru inget. Mekanika Teknik. 3 SKS.
Dia: Yaelah, tadi ktanya kgak ada. Sekarang..Eh, bohong lo kampret. Nih di tangan gue ada jadwal UAS-ya. MekTek mah hari Jumat. Bukan besok.
Gue: Oh gitu, aku lupa (alasan).
Dia: Berarti besok bisa bantuin gue, kan?
Gue: Ngapain?
Dia: Besok gue ada ujian PKn sama Batubara, 3 SKS masing-masing. Nanti pas ujian PKn gue bakalan ambil lembar jawaban dua, satu buat gue kasih ke lo. Nanti pas ujian Batubara, lo isi jawaban gue di lembar itu. Entar gue fotoin soalnya. Paling teori aja sih. Dari internet semua ada kok. Nah, 10 menit sebelum ujian berakhir lo kasih ke gue lembar jawaban yang udah lo isi dari internet tadi. Gimana?
Gue: /[]:”#@*&)($%!
Dia: WOI…
Gue: Ini demi apa?
Dia: Demi nilai lah. Lo ngelakuin ini demi pertemanan.
Gue: Plis, jangan bawa-bawa pertemanan. Ini tuh curang banget, tau!
Dia: Ayolah. Kalo si X tadi mau bantuin gue, gue gak bakalan ngajak lo. Tapi dia orangnya emang lurus banget. Nyontek aja kagak pernah. Gak kayak lo. Lo kan, sering aja ngopek!
JLEBB!
Gue emang selama UAS semester 7 ini bawa HP terus di saku. Tapi gak banyak yang gue dapat dari slide-slide para dosen di sana. Tapi kok dia..

Gue: Maksudnya lo mau bilang kalo gue orang gak bener? Gue kasih tau ya. Iya, gue emang ngopek pas ujian. Nyontek punya orang juga iya. Gue emang orang gak bener. Tapi gue masih nyoba buat jadi orang bener. Tapi cara lo yang ini emang gak ada manusiawinya lagi. 21 tahun umur gue, semester 7 sekarang di kampus. Ini ..salah ..banget!

Dia: Plis.. Tolongin.
Gue: Sori.

*Tuut..tuutt..*

Gue cuma ngomong apa adanya. Gue cuma gak terima kalau pertemanan dijadikan alasan buat kecurangan luar biasa kayak itu. Selama ini gue juga mungkin hidup dengan cara gak lurus, tapi gak separah itu. Gue mencontek itu masih dalam ruang yang sama. Masih dalam ruang ujian. Tapi dia? Minta temannya yang ngerjain ujiannya di luar ruang ujian. Kalo udah selesai baru gue kasih ke dia.
Kau sebut dirimu mahasiswa?!
Sori, kebawa perasaan. Akhirnya gue pergi sepedaan sore menyusuri jalan raya yang ramai dengan headshet terpasang di telinga. Lagu-lagu yang mengalir? Big Bang! Wkwkwk
Pulang dari sepedaan, gue malah ngirim sesuatu ke dia lewat LINE. Mianhae.




Sabtu, 07 Januari 2017

5 Alasan Kenapa Gue Masih Jomblo di 2017


Tahun baru baru aja berlalu. Beberapa orang menghabiskannya bersama keluarga. Yang lainnya bersama sahabat atau teman-teman satu komplotan. Ada juga yang ngenes, ngelewatin detik-detik peralihan 2016 ke 2017 sendirian, sambil terus berdoa dalam hati tahun depan udah punya pacar. Bahkan dia bikin “punya pacar” adalah resolusi hidupnya di 2017.
Untungnya meskipun aku jomblo, aku gak lewatin pergantian tahun sendirian. Sama teman. Ya, meskipun dalam hati juga berharap kejombloan ini segera berakhir. Katanya Tuhan menciptakan makhluk hidup berpasang-pasangan. Apakah hal yang sama berlaku buat awak? Aku makhluk hidup juga, kan.
Tapi liat aja deh. Sejak 2015, aku udah buat target-target yang harus kucapai dalam setahun itu. mungkin bisa dibilang resolusi hidup juga. Sebagian emang terwujud, sebagiannya lagi masih harus sabar menunggu. Meskipun pengen banget punya pacar, tapi target itu gak ada diantara target-target yang udah kubuat. Kenapa? Ya karena hal-hal yang merupakan target itu adalah hal-hal yang susah dicapai. Kalo punya pacar, mah gampang. Wkwkwk. Bacot! Kalok emang gampang kenape elu masih jomblo sampai 2017? Ayooo?!
Oke, untuk pertanyaan itu, aku punya jawabannya. Check this out!
1. Terlalu sibuk
Bangun pagi jam 6 kalau ada mata kuliah pagi jam 7. Kuliah di kampus seharian sampai jam 3. Itu kalau ada dosen atau gak ada tetap di kampus. Soalnya kalau emang gak masuk biasanya aku main ke kos kawan atau ke sekre mapala. Kadang nyosor juga ke mall. Cuci otak, eh mata. Malamnya buka laptop, nonton drama korea sampai jam yang tidak dapat ditentukan. Pokoke sampai mata redup. Setelah itu tidur. Oh, sebelum tidur masih main HP. Baru tepar. Besoknya kalau gak ada kuliah, bangun jam 10. Kadang ikut kegiatan aksi teman-teman GMNI, malamnya kadang rapat atau diskusi.
Nah lho, sibuk. Kapan bisa punya pacar?
2. Kurang terurus
Aku punya kakak yang kulitnya putih. Dari semua saudaraku, kayaknya emang cuma aku yang paling gelap kulitnya. Rambut juga kasar kayak ijuk. Paling kuat makan. Tidur sangat lelap. Tak heran berat badan di atas 50 kilo. Lemak di pantat, lengan, paha dan perut.
Pakaian? Di lemariku memang ada rok. Tapi gaun gak ada. Lemari didominasi oleh kaos oblong dan celana pendek. Jins juga udah yang rusak-rusak. Kemeja juga semuaan kemeja cowok. Ampun deh.
Mulai dari muka, rambut sampai penampilan. Semuanya buruk. Aku emang gak bisa tampil stylish. Make up? Oh no, I don’t understand it. Rambut? Sama sekali acak-acakan. Kesana-kemari. Bukannya gak pernah di-smoothing. Tapi gegara udah setahun yang lalu sekalinya udah kembali berantakan. Udah gitu muka yang kusam dan gelap ini mempersulit segalanya. Apalagi karena aku masuk MAPALA, jadi sering naik gunung. Tahu, kan? Jadinya muka gosong, tergores sana-sini di tangan dan kaki. Bahkan saat ini di wajahku ada bekas lebam jatuh di batang pohon kemarin. Sekilas mirip kayak korban KDRT.
Gimana mau bisa tampil feminine? Boro-boro feminine, mau tampil kayak manusia aja belom bisa kayaknya nih.
3. Terlalu tinggi type-nya
Sebenarnya sih gak tinggi-tinggi amat. Dia gak usah terlalu ganteng. Cukup badannya tinggi dan kurus. Dan yang paling penting dia harus seniman. Maksudku, dia harus pecinta seni. Entah dia jago main gitar atau jago nge-dance atau jago ngegambar. Mungkin kalau dibayang-bayangkan dia mesti kayak Adipati Dolken atau Sung Ha Jung. Kenapa mesti seniman? Karena aku gak bisa berseni. Kenapa harus jangkung? Karena aku pendek, coi. Kan, harus saling melengkapi.
Sebenarnya ada cowok yang pernah nembak. Padahal dia jago main gitar loh. Suaranya juga bagus kayak vokalis-vokalis boy band Indonesia gitu. Tapi cuma beda 3 cm sama aku kayaknya (aku 150 cm). Udah gitu aku bohongin dia kalo aku udah punya pacar di Medan, LDR-an. Sumpah, pas bilang itu geli amat.
4. Ditikung kawan
Gak kebayang berapa kali udah gue pernah naksir sama anak orang. Bukan ditikung sih. Tapi karena dia emang cantik. Siapa yang bakal ngelirik ikan asin kalau ada daging sapi? Kira-kira kayak gitulah. Padahal aku sama si cowok misalnya udah lumayan deket (dalam arti teman), sering terjadi hal-hal konyol yang bikin kami ngakak bersama, misalnya wedges-ku yang dalam perjalanan ke tempat parkir motor di halaman gereja tiba-tiba patah. Atau saat misalnya kita ngebahas sesuatu yang menjadi ketertarikan sama. Tapi semua harus berakhir karena si cewek cantik tadi, yang emang teman sekelas juga, mulai dekat sama cowok yang gue suka. Akhirnya secara perlahan sebagai cewek sejati, gue mundur. Sejauh mungkin. Bahkan gak bakalan cakapan lagi sama dia, si cowok tadi.
Cara move on yang sadis memang!
5. Baper-an orangnya
Yang satu ini paling gak bisa dimaafkan deh. Dikit-dikit baper. Dikit-dikit baper. Kalau ada cowok baik dikit aja sama awak, pasti udah langsung pikirannya ke hal-hal asmara. Dia pasti suka sama aku. Masa dia liatin aku dari tadi? Padahal kan, orang antri di atm lihatnya ya  ke depan. Masa ke belakang?



Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...