Kata
“ekspedisi” ini bagiku terlalu keren sebenarnya. Yang ada di benakku ketika
mendengar kata ekspedisi adalah kegiatan terjun ke suatu daerah yang belum
pernah didatangi manusia sebelumnya, terus bikin jalur masuk ke sana. Misalnya
kayak pembukaan trek baru ke Semeru. Di sini meskipun tujuannya bukan gunung
yang tinggi, melainkan bukit yang hanya 100 m, aku gak tau kenapa harus pakai
“ekspedisi’ segala. Seperti kataku tadi, mungkin ini pertama kalinya manusia
mendatangi bukit itu. Bukit Bulan. Apakah dari sana bulan terlihat jelas? Let’s find out!
18 Desember
2016
Ekspedisi
ini mengundang mapala-mapala dari semua mapala di kampusku. Jadinya mapala
Figure, Sylva raya, Comodo dan tentu saja mapala kami, mapala Dozer ikut ambil
bagian. Selain mapala, ekspedisi ini juga mengundang orang-orang dari dinas
kabupaten katingan, organisasi pemuda Katingan, Pramuka, KNPI, PWI, dan banyak
lagi. Aku gak ingat satu per satu. Setiap mapala diberi kuota 7 orang.
Berhubung 3 orang dari Dozer berhalangan ikut padahal udah didaftarkan, aku
ajak Bonita untuk ikut serta dalam petualangan ini.
Bonita udah
dua kali gagal ikut mendaki sama aku. Kemarin pas mau ke Semeru (terakhir aku
cuma sampai Ranu Kumbolo). Kedua pas pendakian nasional 17 Agustus ke puncak
Halau-halau, pegunungan Meratus di Banjarbaru. Waktu itu kakinya terkilir baru jatuh naik motor. Bonita senang
amat pas tau bakalan ikut mendaki. Hahaha. Selamat, Bon! Meskipun nama dia
terdaftarkan sebagai nama orang lain.
Berhubung
karena ekspedisi ini dibiayai bupati, mulai dari makan, transportasi dan
akomodasi, kami hanya perlu membawa carrier berisi baju ganti, peralatan mandi,
obat pribadi, alat masak dan perlengkapan tidur saja. Tapi Bang Safri gak yakin
kalau makanan bakalan ditanggung 100% sama panitia. Dia nyuruh aku bawa beras 1
kilo. Kuturuti. Dari Dozer ada 4 orang yang ikut dan aku satu-satunya cewek.
Untung kuajak Bonita. Bang Nofen udah berangkat kemarin, sambil ikut teknikal
meting-nya. Rumah bibinya dekat dengan rujab bupati Katingan.
Kami
berempat berangkat naik motor dari Palangka Raya ke Katingan. Estimasi waktu
kurang lebih 2 jam. Aku sama Bang Debe, Bonita sama Bang Safri. Keberangkatan
kami disertai gerimis yang perlahan berubah jadi hujan di tengah perjalanan.
Tapi gak perlu berhenti. Berangkat jam 1630, tiba di Katingan 18.20. Di
Katingan, kami nginap di rumah tantenya Bang Nofen. Bang Nofen yang dua hari
lalu kukunya lepas gara-gara kejepit ban motor tetap ikut ekspedisi ini. Wah!
Siap-siap aja, Bang!
Kami makan
malam di sana. Tahunya enak nian. Kami berlima merundingkan apa-apa aja yang
belum lengkap. Malam itu juga semua barang dipacking ulang. Terus tidur.
Mamanya Bang Nofen baik banget ngasih kasur sama bantal ke kami berdua. Aku dan
Bonita tidur di depan TV.
19 Desember 2016
Mungkin
karena tadi malam tidur jam 9, paginya aku dan Bonita terbangun pagi-pagi jam
4. Sampai jam 05.00 kami tidur-tiduran. Barulah jam 5 lewat kami mandi. Satu
per satu anggota ekspedisi (sebutan ini agak geli) yang lain mulai bangun satu
per satu. Sarapan bersama, siap-siap dan go
to rujab’house. Kurang lebih 10 menit, kita nyampe. Hari itu tepatnya 19
Desember ternyata hari nusantara. Jadi pelepasan peserta ekspedisi bukit bulan
diadakan bersamaan dengan kegiatan “Gemar makan ikan”, yang bakalan diikutin
adek-adek SD,SMP dan SMA. Serangkaian acara terlewati dan kami para peserta
ekspedisi ternyata tidak diikutkan makan ikan.
Para
peserta ekspedisi tampil dengan baju asal kelompok/klub/organisasinya amsing-masing.
Anak pramuka, bapak-bapak trail club
dengan baju full colour mereka. Anak-anak mapala ada yang pakai PDH. Kami
berempat cuma pake slayer. Mapala comodo yang ikut Ana sama Jul. Si Ana ini
ketua umum (ketum) mapala mereka sekarang. Mengingatkanku pada diriku yang
diamanatkan Bang Safri (ketum sekarang) untuk jadi ketum berikutnya. Kubilang
bakalan kupertimbangkan. Dari Sylva ada si Arif yang kemarin juga ikut
pendakian nasional Halau-halau. Mereka berdua sama si Jo. Dari Figure dua orang
juga, si Iwan sama juniornya si Aris. Nantinya rombongan ini bakalan satu
komplotan.
Dari rujab,
jam 10.30 peserta ekspedisi diantar naik mobil dinas (para karyawan mungkin) ke
dermaga. Bukan dermaga sih, tapi sebut aja demikian karena di sana sudah
menunggu tongkang yang akan membawa kami mengarungi sungai katingan. Dari rujab
ke dermaga sekitar 2 jam. Yang paling memiriskan adalah lamanya perjalanan
dengan tongkang menuju desa Tumbang Bulan (desa terakhir) yang katanya bakalan
8 jam. Berangkat jam 12.30 dari dermaga. Makan siang dibagikan di tongkang.
Kami memilih untuk memasang fly sheet
di atas, dekat menara pengintai tongkang. Awalnya sih adem. Tapi lama-kelamaan
panas menembus fly sheet, menyerang
orang-orang yang bertedeuh di bawahnya.
Mungkin
bagi para cowok-cowok perjalanan 8 jam ini gak akan terasa membosankan karena
ternyata dalam tongkang ini bakalan ada hiburan. Seorang penyanyi dangdut yang
katanya YULI KDI 2 datang. Bagi Bonita yang benci lagu dangdut, perjalanan 8
jam ini terasa seperti mimpi buruk di malam kliwon. Aku sih menyibukkan diri
dengan hp xiaomi yang baru tiba dua hari yang lalu dari BukaLapak. Dikirim
lewat JNE. Jepret-jepret, merekam video, main onet. Sayangnya gak bawa headshet. Sial.
“Sau-satunya
panggung di atas sungai katingan..”, suara MC dari atas panggung. Lucu juga
kalau dia bilang begitu. Sang MC yang adalah laki-laki 40-an dengan kaca mata
hitam dan setelan kemeja merah maroon mirip Choky Sihotang dalam acara Take Me
Out itu menyapa desa-desa yang dilewati tongkang kami.
“Selamat
siang penduduk desa X. Kami dai rombongan ekspedisi bukit bulan mohon doa
restunya. Pendakian ini akan dipimpin langsung oleh bapak bupati katingan.
Jangan lupa untuk datang ke Tumbang Bulan mala mini karena aka nada hiburan
dari YULI KDI 2 artis ibukota Jakarta. “
Dia
mengucapkannya dengan semangat berapi-api. Para penduduk desa yang melihat
tongkang pun melambaikan tangannya. Hal ini mengingatkanku pada sebuah scene di film Sang Pemimpi dimana si
Arai naik kapal untuk berangkat ke Jakarta buat kuliah. Ketika melewati rumah
Zakiah Nurmala gebetannya, dia teriak-teriak kencang sambil melambaikan tangan.
“Tunggu abang, Zakiah! Abang pasti
pulang!!”
Sepanjang
mata memandang, yang terlihat di kiri-kanan hanyalah hutan. Kadang tumpukan
kayu hasil tebangan (entah legal atau gak), desa, penduduknya lagi mandi,
mencuci pakaian, nelayan dengan klotok. Tak ada tiang listrik di sini.
bagaimana dengan sekolah? Sungai ini pasti satu-satunya akses mereka ke ibukota
kabupaten, Kasongan. Mungkin buat orang-orang pengunjung kayak kami, sungai ini
bukan apa-apa. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi buat mereka,
penduduk-penduduk di sekitar sungai, sungai ini adalah segalanya untuk mereka.
Mereka tak bisa hidup tanpanya. Pertanyaanku tentang sekolah terjawab sudah,
saat sebuah klotok (perahu bermesin) melewati tongkang kami. Di dalamnya ada
anak-anak berseragam putih-merah dan putih-biru.
Desa
Tumbang Bulan
Seharian
berada dalam tongkang. Bang Debe tetap dengan headshet-nya yang gak mau
kupinjam barang semenit pun. Bang Safri nyengir terus sambil memamerkan fotonya
dengan YULI KDI 2 yang pipi mereka bersentuhan. Aku khawatir giginya kering
nanti gara-gara nyengir terus. Bang Nofen, Jul, Jo, Iwan sibuk dengan bir
bintang. Entah darimana mereka dapat. Mungkin ngemis dari panitia. Aris
termenung sendiri menatap cokelatnya air sungai. Bonita sama Ana tidur terus di
dalam hammock. Arif fokus ngeliatin si YULI KDI 2 sedang berjoget.
Jam 19.30
harusnya kami sudah sampai di Tumbang Bulan karena katanya lama perjalanan 7
jam. Tapi sampai jarum jam menunjukkan pukul 8 pun kami belum berlabuh. Hujan
turun deras. Listrik dimatikan. Kami akhirnya mendarat, eh berlabuh. Saat itu
jam 20.30. Kulihat spanduk penyambutan, “Selamat
datang bapak bupati dan rombongan ekspedisi bukit bulan di desa Tumbang Bulan.”
Turun dari
tongkang adalah masalah karena ternyata gak ada pintu khusus buat keluar kayak
kapal biasanya. Kita mesti lompat lewat kursi yang dibuat disebelah kiri
tongkang. Hujan masih setia dengan rintiknya. Kami disambut oleh berpuluh-puluh
orang muda-mudi berkaos sama, warna merah. Tulisan di punggungnya ‘Karang
Taruna”. Mereka menyalami kami erat-erat. Para peserta ekspedisi diarahkan ke
tempat makan malam. Kurasa ini adalah warung makan biasa.
Desa ini
bagaimanapun aku yakin cukup besar. Penerangannya menggunakan tenaga surya.
Rumah-rumah terbuat dari kayu. Setiap rumah terhubung satu sama lain lewat
titian kayu. Setelah makan malam, kami diarahkan ke speedboat. Itu juga tidak
mudah karena harus melewati orang-orang yang telah memadati titian kayu, yang
adalah jalan lintas. Mereka dengan serius menghadap ke panggung, dimana
orang-orang persiapan pentas. Malam itu kami tidur di seberang, di resort desa
Tumbang Bulan. Beberapa saat kemudian terdengar suara YULI KDI 2 menyapa lewat mic.
20 Desember 2016
Paginya
ketika terbangun, kulihat Bonita udah basah rambutnya. Gile, mandi
dingin-dingin gini. Keramas pulak. Kulihat Ana juga udah bongkar-bongkar
carrier-nya. Pasti mandi juga. Akhirnya aku ikutan mandi juga, meskipun gak
keramas. Khawatir nanti gak bisa mandi lagi, di bukit. Para cowok-cowok gak tau
pada mandi atau kagak.
Kami
disebrangkan lagi pagi itu ke desa Tumbang Bulan. Hanya butuh 1 menit.
Diarahkan makan ke tempat tadi malam. Prasmanan. Selesai makan, para peserta diberi pengarahan
terkait perjalanan hari itu. Setiap orang juga mendapat jatah bahan makanan
mentah, terdiri dari: 2 sarden, 1 kg beras, 2 bungkus mi instan, dan 2 bungkus
kopi saschet. Selanjutnya peserta diarahkan
naik klotok. Satu klotok mampu menampung 18 orang. Rombongan mapala kami
terecah dua klotok. Untungnya kami berlima tetap satu klotok. Carrier
diletakkan di bagian belakang. Karena satu baris ada dua kursi, aku dan Bonita
duduk berdampingan. Klotok melaju cepat, lebih cepat dari tongkang kemarin.
Kini sepanjang mata memandang yang tampak pepohonan dan tanaman sejenis pandan
raksasa. Aku gak tahu namanya. Ini jadi PR kayaknya.
Bang Safri
dan Bang Debe dibelakang kami menenangkan diri dengan headshet mereka. Bang
Nofen ngerokok. Aku dan Bonita sibuk jepret-jepret dan bikin video perjalanan.
Tiba-tiba perjalanan harus berhenti. Klotok di depan kami berhenti juga. Jalur
sudah tertutupi tanaman pandan raksasa. Harus membuka jalur baru, kata supir
klotok di depan klotok kami. Jadinya klotok itu menembus paksa rimbunan tanaman
pandan raksasa.
“Gaasss..,”
teriak keneknya. Udah kayak angkot aja ya, ada supir ama kenek segala. Unungnya
mereka berhasil. Klotok kami juga ikutan dari belakang. Perjalanan pun lancar
kembali. Kami tiba di basecamp WWF (Teluk Beruang) jam 11. Makan siang di sini.
Camp ini pastinya salah satu camp pelestarian taman nasioanal Sebangau.
“Kalian gak
ada ninggalin barang di sini?” tanya Bang Nofen. Aku dan Bonita menggeleng, gak
tau mau ninggalin apa.
“Tinggalin
aja bahan makanan tadi. Sama baju apala yang udah kotor,” kata Bang Nofen.
Kita berdua
pun ngambil carrier dari klotok dan melaksanakan perintah Bang Nofen. Makan
siang selesai, perjalanan dilanjutkan kembali. 20 menit kemudian kami tiba di
gambut berlumpur. Estimasi waktu naik klotok dari Desa Tumbang Bulan ke gambut
berlumpur ini sekitar 2,5 jam.
The
Power of Smile
Awalnya
kukira ini pasti bercanda. Kami diturunkan di sini? di gambut berlumpur yang
dalamnya sanggup menelan seluruh tinggi badanku?
“Gak turun,
Dek? Dari sini semua dilanjutkan dengan melangkah,” kata seorang bapak dari klub
trail.
Astaga!
Berarti beneran main lumpur nih. Satu per satu orang mulai mencelupkan dirinya
ke dalam air. HP-ku dan kamera Bonita sudah kami amankan dalam plastik di tas
sandang kecil. Begitu menjejakkan kaki ke lumpur, aku langsung tenggelam
sepantat. Ya Olloh. Apalagi gambut berlumpur ini lumayan jauh sampai ke depan
sana. Kalau melangkahkan kaki selambat ini gegara tertahan lumpur kapan sampai
puncak bukitnya?
Ana sama
Jul udah duluan tiba di daratan bebas lumpur. Bang Safri , Bang Debe juga anak
mapala yang lain. Tinggal kami bertiga, sama Bang Nofen paling belakang.
Iyalah, kakinya kan sakit.
“Jul, minta
tolong ambilkan foto kami,” teriakku sama Jul yang lagi jepret-jepret sama Ana
berlatar belakang gambut berlumpur nan luar biasa ini. Aku dan Bonita pasang
muka nyengir ke kamera. Ketika akhirnya berhasil melewati gambut berlumpur, aku
dan Bonita duduk di tanah. Meneguk air orang. Kami sendiri gak ada bawa air
minum di tas kami. Kesalahan manajemen perjalanan yang fatal.
Ketika
orang-orang yang berhasil melewati gambut sudah melanjutkan perjalanan menuju
bukit yang udah keliatan dari tadi waktu di klotok, kami dengan setia menunggu
Bang Nofen yang masih berjuang di gambut lumpur.
Bukti
Kejahatan Manusia
Meskipun
puncak bukit tujuan kami udah kelihatan, ternyata dia gak sedekat itu. setelah
perjuangan menghadapi gambut lumpur, kini kami dihadapkan dengan perjuangan
lain. Kami harus berjalan di antara pohon-pohon yang tumbang, bekas kebakaran
hutan tahun 2015 lalu. Aku menyebutnya bukti kejahatan manusia.
Ini sungguh
menyakitkan karena banyak ranting-ranting tajam yang cukup menyusahkan.
Berjalan dari batang pohon tumbang satu ke batang pohon tumbang lain. Harus
menjaga keseimbangan, di atas batang pohon yang kadang tergantung tinggi dari
tanah. Rombongan kami terpecah karena saling mendahului satu sama lain. Bang
Safri dan Bang Debe di depan. Bang Nofen di belakang. Ana dan yang lainnya
paling depan lagi. Aku dan Bonita melangkah hati-hati. Tapi ternyata terlalu
hati-hati-lah yang membuat pohon yang kuinjak patah. Aku jatuh dengan posisi
pipi kanan mendarat lebih dulu ke batang pohon besar. Lebam.
“L, kau gak
apa-apa?” tanya Bonita 5 langkah di depanku.
“Apa-apa
sih. Tapi ayolah. Ini bukan masalah besar,” aku mencoba berjiwa besar. Padahal
sebenarnya perih.
Seiring
berjalannya waktu, dan seiring terlalu seringnya aku dan Bonita berhenti, kami
gak menyangka bakalan bisa ngejar Bang Safri dan Bang Debe. Ya iyalah, wong
mereka berhenti juga. Kami mengemis air minum sama mereka berdua. Dikasih
coklat yang udah meleleh juga. Bonita nolak mentah-mentah. Aku makan dengan
lahap.
“Kenapa itu
pelipismu?”
Telolet!
“Ah, aku
gak apa-apa, Bang. Khawatir amat sih!”
“Yakin gak
apa-apa? Biar dikasih obat nih.”
‘Iya,
biarin aja. Paling sembuh sendiri.”
Perjalanan
dilanjutkan kembali. Mereka duluan, tentu saja. Saat itu udah jam 3 lewat.
“Sempat
nih, Bang ke puncak sebelum gelap?” tanyaku.
“Mudahan
aja sih. Eh, kompornya kasih ke kami aja. Biar bisa langsung masak nanti kalau
kami udah nyampe.”
Usul itu
kutolak. Males bongkar carrier lagi. Setelah 10 menit mereka berlalu, barulah
aku dan Bonita menyusul. Kami saling melewati dengan peserta-peserta lainnya.
Ya gitu. Kalau kita berhenti, bakalan dilewatin sama yang lain. Kalau yang lain
berhenti dan kita lanjut, orang itu bakalan kita lalui. Sampai bapak dari klub trail melihat pelipisku yang bengkak dan
bilang biar diobatin aja. Ternyata beliau emang dari dinas kesehatan. Tas yang
dibawanya berisi alat-alat medis semua malah.
Setelah
melewati pepohonan yang tumbang, kini daerah yang kami lalui berubah jadi pasir
berarir. Meski berair tapi gak dalam kok. Jadi kupilih untuk lewat dari air
saja. Hari semakin sore. Makin lama langkah kaki kami semakin tak bersemangat.
Bukit yang dari tempat tadi kami diturunkan klotok kayaknya masih saja jauh.
Hampir seharian berjalan mendekati kaki bukit namun tak kunjung sampai. Aku
liat Bonita mulai sempoyongan. Jangan sampai anak ini pingsan sekarang!
Kami tiba
di tempat orang lagi menggerombol. Ternyata ada yang pingsan. Mahasiswi. Aku
sempat mendengar-dengar mereka menyebut tandu. Cewek itu pasti gak sanggup lagi
berjalan.
“Bon?”
“Hm?”
“Jangan
sampai pingsan ya.”
Dia
nyengir.
Perjalanan
kami akhirnya ditemani gelap. Di barat matahari telah terbenam. Warna jingga
menghiasi langit. Sambil duduk, kulihat Bonita menjepret pemandangan itu. Ada
juga aku sebagai objeknya.
Pondok
Tiba di
kaki bukit. Banyak orang-orang yang mendirikan tenda di sini. Ternyata mereka
berdua juga masih di sini. Kukira udah di puncak. Bang Safri menyambut kami
berdua dengan botol akua berisi air sewarna minuman cocacola. Berhubung sangat
haus, itu tak jadi masalah. Malam itu
kami memang gak ke puncak. Sudah diputuskan bakalan muncak besok pagi jam 4. Bang
Safri dan Bang Debe masang flysheet,
aku dan Bonita masak nasi. Makan malam dengan nasi, ikan asin, dan sayur
wortel+kentang+sarden. Bang Nofen, bagaimanakah nasibmu.
Tanpa
mandi, hanya mengganti pakaian saja. Usap dengan tisu basah. Bang Nofen udah
sampai. Makannya dikit dan mual-mual. Dia dan Bang Debe tidur di gantungan
hammock. Sisanya kami bertiga tidur dalam flysheet. Rasa panas menyerang. Begitu
pun nyamuk-nyamuk yang kelaparan. Sampai jam 2 aku gak bisa tidur. Kami semua
gak bisa tidur. Tak terhitung berapa liter sudah autan semprot dituang ke
badan.
21 Desember 2016
Jam 3.30
pagi. Gerimis turun. Tapi kami berempat udah menaiki jalanan menanjak lumayan
terjal menuju puncak bukit. Kali aja bisa liat sunrise. Bang Nofen katanya nanti nyusul. Banyak juga yang
mendirikan tenda di puncak ini. Jam 5 seharusnya matahari udah mulai kelihatan.
Tapi sampai jam 6 gak kelihatan. Gagal total sunrise-an nya.
Pemandangannya
juga biasa aja sih. Cuma pohon dan bekas hutan yang ditebang. Rombongan anak-anak
mapala ini mengambil tempat berfoto di tebing batu dekat situ. Jauh-jauh dan
susah payah dari kemarin buat ke sini, masa gak ada foto-foto. Iya, kan! Bentangin
bendera, bentangin slayer, bentangin muka, semua deh. Bahkan ada rekaman video
selamat hari natal dari puncak Bukit Bulan. Setelah beberapa kali take, akhirnya dapat juga yang lumayan
bagus. Semua suaranya pada sumbang. Hihihi!
Puas berfoto,
time to packing and go home. Ekspedisi
ini begini saja. Tak ada yang ditonjolkan. Entah penanaman pohon atau
penjinakan satwa liar atau apalah.
“L, tau apa
yang kupikirkan?” tanya Bonita pas kami sarapan.
“Gambut
berlumpur kemarin?”tebakku.
“Yaps.”
Camp WWF-Tumbang Bulan
Mungkin tak
usah kuceritakan lagi penderitaan kami melewati batang pepohonan dan gambut
berlumpur, kalian pasti udah bisa membayangkannya. Kami berangkat jam 9.30 dari
tenda. Perjalanan ini masih kayak kemarin saling mendahului, dan akhirnya aku
dan Bonita kembali paling belakangan.
Kebahagiaan
terbesar yang kurasakan selama ekspedisi ini adalah, kami akhirnya berada di
dalam klotok. Gambut berlumpur, bye!
Bang Safri dan Bang Debe serta mapala yang lainnya udah naik klotok yang duluan.
Bang Nofen tetap belum keliatan. Klotok adem banget. Angin bertiup kencang. Kantuk
tak tertahankan lagi. Bonita lebih lelap tidurnya. Aku menjepretnya dengan
hp-ku. Kurekam juga perjalanan dengan klotok ini dalam video. Nantinya biar
bisa diupload di instagram.
Di camp
WWF, aku mandi. Bonita gak mau. Katanya nanti aja di resort Tumbang Bulan. Setelah
mandi, mengambil barang yang kemarin kami tinggalkan di sana, packing, go to Tumbang
Bulan with klotok again. Gak kayak perjalanan kemarin, kali ini ada orang utan
yang kami lewati. Mereka melompat dari pohon ke pohon. Sejenak aku kepikiran. Ini
rumah mereka. Dalam setiap mata mereka ada jiwa yang hidup. Apa yang akan
terjadi kalau hutan dibakar. Kasian makhluk ini.
Kami tiba
di Tumbang Bulan jam 6 sore. Makan malam prasmanan di tempat biasa, lalu
diantar ke resort. Malamnya tidur sangat-sangat nyenyak.
22 Desember 2016
Selamat hari ibu.
Maaf emak,
gak bisa nelpon. Belum ada sinyal nih.
Setelah mandi,
packing dan sarapan pagi, jam 09.36 tongkang
membawa kami kembali ke Katingan, mengarungi sungai selama 7 jam kurang lebih. Kukira
YULI KDI 2 masih akan menghibur dalam perjalanan ini. Ternyata dia udah pulang.
Gantinya, hadir 2 orang cewek yang katanya artis lokal dalam perjalanan pulang
ini. Aku gak peduli. Aku hanya ingin tidur. Sayangnya bekas tergelincir di
pohon kemarin kini meninggalkan warna hitam cukup lebar di pelipis kanan. Memalukan.
Kayak korban KDRT aja bah!
Gak terasa
nyampe juga. Tongkang mendarat jam 18.05. Gerimis lagi. Mobil dinas udah siap
menunggu peserta ekspedisi. Di mobil yang sama, aku, Bonita, Jul, Ana, Bang
Debe, Bang Safri dan Bang Nofen. 7 orang tambah supir. Mobil melaju dalam
gerimis membawa kami ke rujab, dimana motor-motor kami diparkir.
Rujab sepi.
Mungkin peserta yang lain udah pulang duluan dengan motornya. Hanya beberapa
motor yang tersisa di sana. Terjadi perbedaan pendapat antara pulang malam itu
juga atau pulang besok pagi. Aku sih milih pulang besok pagi. Tapi berhubung
karena Bang Debe orang yang kutebengi bersikeras harus pulang malam itu juga ke
Palangka Raya, jadinya aku ngikut aja keputusannya. Diputuskan kami pulang
malam itu juga. Berdoa aja semoga aku gak ngantuk dan terjungkal ke belakang.
Berat! Sangat
berat. Mataku gak bisa diajak kerja sama. Rombongan kami sempat makan di warteg
pinggir jalan. Tapi itu gak membantu apa-apa. Rasa ngantuk dan lelah hanya
dapat diobati dengan tidur. Berulang kali helmku terantuk ke helm orang Bang
Debe. Otomatis dia langsung teriak-teriak menyadarkan aku.
Tiba-tiba…
Motor berasa
goyang..
Firasatku udah
gak enak..
Kami berhenti
di pinggir jalan. Rombongan motor yang lain udah duluan. Aku turun. Bang Debe
memeriksa ban motor. Dan hal yang gak diharapkan pun terjadi.
“Kempes,”katanya.
What the…!
“Terus
gimana?”aku kalut.
Dia gak
jawab. Ngeluarin HP, coba nelpon mereka yang udah di depan. Gak aktif. Bengkel mana
ada yang masih buka jam 12 malam. Dia mendorong motornya. Dengan langkahnya
yang cepat dan panjang, aku yang terkantuk-kantuk tertinggal jauh di belakang
dengan langkah pendek yang pelan-pelan. Dia berhenti tanpa kulihat, karena
emang aku jalan dengan kepala tertunduk. Berakhir dengan aku menabrak motornya.
Sial.
“Kok
berhenti, Bang?”
Dia menunjuk
ke seberang jalan. Aku melongok ke seberang. Masjid.
“Kayaknya
nginap di sana aja. Besok pagi pasti udah ada bengkel yang buka.”
Tanpa ba-bi-bu,
aku nyebrang duluan menuju masjid. Udah ngantuk berat. Tadi juga udah kubilang
jangan pulang mala mini ke Palangka Raya. Gak ada yang mau dengerin sih. Gini kan,
jadinya. Toh tetap besok nyampe Palangka nya.
Kami tidur
di keramik yang dingin. Matras tak membantu. Jaket juga. Kaki dan tangan kupenuhi
dengan autan. Mata tertutupi slayer. Kami gak ngobrol apa-apa lagi.
Time to sleep.
(Adegan ini
mirip drama korea. Wkwkwkwk)
23 Desember 2016
Besoknya Bang
Debe bangun duluan. Pas kulihat, dia cuma bilang, “Tunggu di sini dulu kamu ya.
Cari bengkel dulu.”
Dia pun
pergi.
Aku bangun
dan menggulung matras. Mencari keran untuk cuci muka. Ketika kembali lagi ke
depan masjid, ada bapak-bapak yang nanya.
“Mau
kemana, Mbak?”
“Ah, mau ke
Palangka, Pak. Tadi malam dari Kasongan motornya kempes. Baru aja teman saya
pergi nyari bengkel.”
Si bapak
pun pergi.
Untungnya,
lama kemudian si Bang Debe datang. Kita pun balik ke Palangka.
Hari yang
lelah.























