Selasa, 18 Oktober 2016

Antara AKU, ESAI & KSE

Menang seleksi beasiswa bagi sesorang tentunya jadi kebahagian tak terhingga. Apalagi kalau beasiswanya itu gede, bonafit dan ada pelatihannya gitu buat beswannya. Nah, kebetulan setelah melalui proses seleksi yang ketat dari berates-ratus orang yang diambil hanya 52 orang, aku lolos. Beasiswa ini namanya KSE, Karya Salemba Empat.
Yang pertama kali kulakukan setelah diberitahu si Toguma (dia udah setahun duluan dari aku) kalau aku satu-satunya yang lulus dari jurusan kami, adalah MENGECEK ESAI. Yup, soalnya kita emang disuruh nulis esai untuk 4 atau 5 hal itu kalau gak salah. Here is my essay:

1. Alasan memilih jurusan teknik pertambangan
Sebenarnya saya tidak pernah berencana ingin kuliah di jurusan saya yang sekarang ini. Sejak SMP saya suka dengan dunia tulis menulis. Ketika SMA pun masih demikian. Meskipun tulisan saya belum pernah diterima penerbit. Tapi saya terus mencoba menghasilkan sebuah tulisan dan mengirimkannya ke lomba-lomba yang ada. Selain menulis, saya juga menyukai petualangan ke alam bebas seperti keluar masuk hutan. Ada kepuasan tersendiri bagi diri saya ketika berkelana ke alam terbuka.
Ketika lulus SMA, orang tua mengizinkan saya untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Orang tua saya memang selalu mendukung kami anak-anaknya untuk kuliah selama masih universitas negeri. Hal ini mengingat betapa sederhananya keluarga kami. Bahkan demi pendidikan anaknya, ayah dan ibu saya rela jika harus berhutang dulu kesana-kemari. Seringkali hutang tersebut menumpuk dan lama baru bisa dibayarkan.
Karena menyukai dunia tulis-menulis, saya pun ingin kuliah jurusan sastra di salah satu universitas favorit di Indonesia. Padahal saya dari jurusan IPA. Itu artinya saya harus ikut jalur campuran saat ujian seleksi masuk perguruan tinggi negri, yang mana soal-soal ilmu sosial juga harus dihadapi. Pilihan jurusan yang lain yang saya buat teknik geologi. Pengumuman hasil seleksi SBMPTN menyatakan saya gagal. Tak satu pun dari jurusan yang saya buat menang. Kemudian pada kesempatan UMBPTN, seorang teman menyarankan untuk memilih jurusan teknik pertambangan. “Sangat sesuai dengan kesukaanmu berada di alam terbuka,” katanya. Saran itu saya ikuti dan siapa sangka ternyata saya menang di jurusan tersebut.
Orang tua saya segera memberangkatkan saya ke Palangka Raya. Meskipun tidak ada seorang pun kerabat yang akan saya temui di sana. Di pulau yang benar-benar asing dan belum tau harus kemana. Saya berangkat sendirian, mengingat mahalnya tiket pesawat. “Pertambangan adalah jurusan yang bagus untuk mencari pekerjaan nantinya. Lulusannya bergaji besar. Nanti kalau sudah wisuda kamu bisa bekerja di perusahaan tambang batubara di Kalimantan,” kata ayah saya saat itu.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Saya mulai mencintai jurusan ini. Ketika praktek di lapangan, kuliah lapangan adalah saat-saat menyenangkan. Terjun ke alam terbuka, keluar masuk hutan. Benar-benar sejalan dengan minat saya terhadap kegiatan di luar ruangan. Selain lulusannya bergaji besar seperti yang dikatakan ayah saya, prospek kerjanya menurut saya jelas. Selama bahan galian di alam masih tersedia, selama itu pulalah lulusan teknik pertambangan dibutuhkan. Selain itu saya berpikir bahwa meskipun saya tidak bisa kuliah di sastra, bukanlah masalah besar. Malah dengan kesukaaan saya dengan sastra dan kuliah di program studi yang sekarang, itu berarti saya mengetahui dua hal sekaligus. Pertama hal yang benar-benar saya sukai, yaitu dunia menulis dan kedua studi saya tentang teknik pertambangan. Dibandingkan dengan orang lain mungkin yang kuliah di jurusan yang benar-benar disukainya, misalnya Pendidikan Matematika. Artinya dia hanya mengetahui seluk beluk ilmu Matematika saja. Sedangkan saya masih tetap bisa menekuni hobi menulis saya, di sela-sela kegiatan kuliah. Ibarat sambil menyelam minum air.

2. Alasan perlu mendapatkan beasiswa (Essay Alasan Kebutuhan Beasiswa):
Terlahir sebagai anak ketiga dari enam orang bersaudara dan kedua orang tua petani tidak membuat saya menerima kiriman bulanan dengan lancar. Awalnya mulai kuliah memang masih bisa dikatakan lancar-lancar saja. Namun kemudian kiriman bulanan dari orang tua mulai terlambat dan itu pun minus. Seringkali tidak mencukupi untuk semua kebutuhan saya, mulai dari biaya kos, makan, biaya tugas-tugas kuliah dan sebagainya. Apalagi di sini biaya hidup relatif lebih mahal dibanding di daerah asl saya, Sumatera Utara. Saat itulah muncul pemikiran untuk setidaknya bisa membantu meringankan beban orang tua. Saya kemudian berpikir untuk mencari pekerjaan. Setelah susah payah mencari karena kebanyakan mengatakan tidak membutuhkan mahasiswa, saya pun diterima bekerja di sebuah warung tenda yang selalu buka mulai jam 4 sore sampai jam 1 pagi. Hal ini jelas agak mengganggu kuliah apalagi kalau saya ada kuliah jam 7 pagi. Kadang susah untuk bangun pagi. Tapi saya “memaksa” diri saya bahwa saya mampu. Puji Tuhan saya masih bisa meraih IP 3 di semester tersebut. Namun kemudian di semester berikutnya IP saya mengalami penurun karena waktu terforsir untuk bekerja di dua tempat. Saat siang saya bekerja di sebuah swalayan kecil. Jarak yang cukup jauh antara kampus dan swalayan saya tempuh hanya dengan sebuah sepeda pinjaman. Belum lagi masalah praktikum yang harus saya hadapi.
Selain bekerja, saya juga mencoba untuk mengikuti organisasi atau kegiatan-kegiatan lain yang diadakan kampus. Semua lomba yang ada saya ikuti, meskipun seringkali kemampuan saya untuk lomba tersebut terbatas. Seminar-seminar juga. Saya menganggap lewat inilah mental saya diuji. Sampai mana batas ketahanan saya. Kuliah, bekerja, organisasi, kegiatan lain bertujuan untuk melatih diri, baik itu melatih hard skill maupun soft skill. Di samping sebenarnya mengikuti lomba-lomba seperti karya tulis ilmiah, lomba menulis cerpen, pertandingan olahraga dapat melatih diri, syukur-syukur keluar sebagai pemenang dan mendapat honor yang bisa menambah uang saku. Ini adalah salah satu jalan yang saya anggap sebagai proses menuju mandiri. Cara lain yang saya tempuh adalah mengirim cerpen karya saya ke penerbit.
Adanya beasiswa merupakan sebuah kesempatan emas bagi saya agar bisa meringankan beban orang tua bahkan kalau bisa saya tidak perlu bekerja lagi dan fokus pada kuliah. Selain itu dengan adanya beasiswa akan membuat saya termotivasi untuk meraih pendidikan setingi-tingginya tanpa mengkhawatirkan masalah biaya. Jujur, saya sering merasa takut, jika suatu waktu kuliah saya harus terpaksa berhenti karena biaya tidak ada lagi. Dengan adanya beasiswa, saya masih bisa berharap dan yakin akan cita-cita. Sebab beasiswa diberikan bukan kepada mereka yang pintar, namun kepada mereka yang berusaha dan pantas mendapatkannya. Dan saya rasa saya perlu mendapatkan beasiswa, demi kelancaran studi saya dan cita-cita yang ingin saya wujudkan.
  
3. Essay Jangka Panjang (Visi) Setelah Lulus Kuliah      

Setiap orang tentu saja ingin bisa cepat lulus kuliah, mencari pekerjaan lalu berpenghasilan sendiri. Untuk S1 waktunya adalah 4 tahun. Orang tua saya juga sering menyebutkan hal ini, supaya saya cepat-cepat lulus, kemudian mencari pekerjaan.  Dalam hati saya mengamini juga semoga saya bisa lulus hanya dengan waktu 4 tahun. Namun setelah itu saya tidak berencana untuk langsung mencari pekerjaan. Saat ini banyak sarjana yang menganggur di Indonesia. Itu berarti tidak gampang mencari pekerjaan saat ini. Supaya mudah mendapatkan pekerjaan, dibutuhkan pendidikan yang lebih dari sarjana-sarjana tadi. Caranya dengan kuliah S2 lagi kalau bisa di luar negeri.
Saya sudah sering mendengar tentang orang Indonesia yang kuliah ke luar negri. Ada yang dengan biaya sendiri, ada juga dengan beasiswa. Saya sendiri sangat ingin memiliki kesempatan merasakan pendidikan di luar negri yang pastinya sangat berbeda sistem dan fasilitasnya dengan negara kita di Indonesia.
Meskipun saya menyukai kegiatan di lapangan terbuka dan kuliah di jurusan teknik pertambangan yang kerap disebut sebagai perusak alam, saya juga mencintai lingkungan dan tidak ingin lingkungan itu rusak. Lingkungan adalah tempat dimana kita tinggal sekarang dan masa yang akan datang. Kegiatan pertambangan memang benar merusak alam. Namun itu semua tergantung metode yang digunakan, sebab ada tambang permukaan dan tambang bawah tanah. Saat ini di Indonesia, industri-industri pertambangan demi mengejar keuntungan yang berlipat, beroperasi dengan tidak sesuai kenyataan di lapangan lagi. Artinya yang seharusnya ditambang dengan metode tambang bawah tanah malah “dipaksa” ditambang dengan metode tambang permukaan. Alasannya adalah karena itu lebih murah.  Hal inilah yang mengakibatkan kegiatan pertambangan itu disebut sangat merusak alam. Sebenarnya ada alternatif lain supaya lingkungan tidak rusak, yaitu dengan tambang bawah tanah. 
Rencananya setelah saya lulus S1 saya akan mengejar beasiswa ke luar negri. Saya akan belajar tambang bawah tanah di sana. Setelah lulus S2, saya ingin bekerja di sana dua atau tiga tahun. Setelah itu barulah saya kembali ke tanah air untuk menerapkan ilmu dan pengalaman yang telah saya dapatkan selama di sana. Sebab, sejauh-jauhnya kita mengembara ke negeri orang, tetaplah harus kembali ke negeri sendiri, untuk membangun negeri sendiri tempat kita dilahirkan, negeri yang airnya telah membesarkan kita. Saya ingin membuktikan bahwa pertambangan tidak selalu merusak lingkungan. Saya ingin mengubah pola pikir tersebut bahwa ada metode tambang yang tidak merusak lingkungan, yaitu dengan tambang bawah tanah.
  
 4. Essay Pilihan Pengembangan Diri
Pengembangan diri merupakan sesuatu yang sangat penting selain materi-materi yang diterima dari dosen di kelas. Banyak hal yang bisa diperoleh diluar kuliah, misalnya masuk keorganisasian, ikut seminar-seminar atau kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya membangun. Mengikuti organisasi menurut saya sangat penting karena bisa melatih diri dalam berinteraksi, bekerja sama, mengeluarkan ide, melatih kreativitas, masuk dalam kepanitiaan, menambah banyak kenalan.
Di kampus saya ikut organisasi Mapala (mahasiswa pecinta alam). Selama mengikuti organisasi ini banyak hal yang saya peroleh. Seperti namanya, organisasi ini berhubungan dengan kegiatan-kegiatan di alam terbuka, seperti panjat tebing, susur sungai, pendakian, survival di hutan, navigasi darat dan sebagainya. Mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu yang tentunya nanti sangat bermanfaat melatih diri saya yang nantinya akan berhadapan dengan pekerjaan di lapangan terbuka. Tentunya saya tidak terkejut lagi dengan kondisi di lapangan, sebab lewat mapala semua itu sudah diperkenalkan lebih dulu.
Panjat dinding yang sering diperlombakan antar mapala juga saya ikuti sebagai salah satu wujud pengembangan diri. Dalam organisasi mapala, kita juga belajar bagaimana mencintai lingkungan, dengan menanam pohon saat hari bumi atau lingkungan hidup, mengadakan aksi penggalangan dana di lampu merah untuk korban banjir, peringatan kemerdekaan dengan pengibaran bendera merah putih di tebing, kegiatan camping sambil memancing di hutan. Di saat akan ada event, pembagian tugas dan divisi-divisi. Di sini saya belajar bekerja sama, bertanggung jawab dan disiplin waktu.
Organisasi luar kampus seperti GmnI juga saya ikuti. Didalamnya saya diajak mengenal nasionalisme berbangsa dan bertanah air. Organisasi ini mengajarkan bagaimana mencintai rakyat, menghargai jasa para pahlawan. Saat ada bencana kebakaran, kami mengadakan aksi penggalangan dana di jalan raya. Saat hari pahlawan mengadakan ziarah ke makam pahlawan dan refleksi, menyebarkan brosur-brosur berisi ajakan dan pekikan semangat hari pahlawan, menempelnya di kampus-kampus. Saat terjadi kabut asap, saya juga pernah ikut ke sebuah desa terpencil untuk membagi-bagikan masker dan tabung oksigen yang merupakan bantuan yang kami dapatkan dari teman-teman GmnI di Jawa.
Di sela-sela kegiatan kuliah saya juga menyibukkan diri dengan menulis. Hasilnya cukup memuaskan. Cerpen saya penah masuk dalam 15 besar terfavorit dan mendapatkan honor yang lumayan.
 5. Essay Alasan Apply Beasiswa KSE
  Pertama kali mengetahui beasiswa KSE adalah saat saya membaca pengumuman penerimaannya tahun 2013 di rektorat. Saat itu saya masih semester 2 dan belum memenuhi syarat untuk bisa mengikuti seleksi penerimaannya. Kemudian saat semester 4 saya berniat mengikuti seleksi beasiswa KSE tetapi tidak bisa karena dari pihak fakultas tidak memberikan surat rekomendasi beasiswa. Alasannya karena saya sudah mengikuti seleksi beasiswa yang lain, saat itu beasiswa supersemar. Padahal pengumuman diterima atau tidak beasiswa supersemar tersebut saya belum tahu. Akhirnya di semester 6 ini barulah saya bisa mengikuti seleksinya. 
Saya membuka website-nya dan mulai mendaftar serta melengkapi persyaratan-persyaratan berkas lainnya. Mengapa saya memilih beasiswa KSE daripada beasiswa-beasiswa lain, seperti Supersemar, Djarum, PPA atau BBM? Berikut alasan saya.

1. Beasiswa KSE memberikan bantuan sebesar 600.000
Dibanding beasiswa lain seperti supersemar, PPA atau BBM, beasiswa KSE memberikan jumlah yang lebih banyak. Angka ini bukanlah angka yang sedikit. Apalagi diberikan setiap bulan. Uang kiriman saya saja per bulan 600 ribu dan tidak cukup untuk biaya makan dan kebutuhan perkuliahan saya. Belum lagi jika ada tugas untuk fotokopi atau print dan sebagainya.  Dengan mendaftar beasiswa ini, saya harap dapat membantu kebutuhan saya.

2. Tidak memperhitungkan IPK
Beberapa beasiswa menyertakan syarat IPK minimal untuk dapat diurus. Sedangkan beasiswa KSE tidak mempermasalahkan IPK, namun harus ada laporan nilai setiap semester. Tanpa adanya syarat IPK minimal, tentu saja akan lebih mempermudah untuk mahasiswa yang kemampuan finansialnya lemah, yang juga nilai-nilainya biasa-biasa saja (tidak menonjol).

3. Melatih softskill
Beasiswa KSE memiliki program pengembangan diri bagi para penerimanya. Menurut yang saya baca bahwa beasiswa ini memiliki program seperti: professional skill training, leadership program, social entrepreneurship training, career coaching, dan lain-lain. Jadi para penerima beasiswa tidak hanya dibekali dengan bantuan finansial, tetapi juga dibekali dengan kemampuan softskill. Kemampuan-kemapuan softkill yang tersembunyi dalam diri seseorang bisa dikembangkan lebih jauh lagi..








Jumat, 07 Oktober 2016

Apakah Aku Benar-Benar Telah Salah Jurusan?

Setiap orang pasti ingin hidupnya sukses, bahagia, damai, sejahtera dan sentosa. Tidak ada orang yang ingin hidup dalam penyesalan, kemelaratan atau kemiskinan. Salah satu upaya meraih kebahagiaan dan menghindari kemiskinan adalah lewat pendidikan. Saya bukan mengatakan bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan. Sebab banyak orang sukses di luar sana tanpa pernah tuntas mengecam pendidikan, atau bahkan sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah. Jika pendidikan adalah salah satu cara mengubah jalan hidup, lantas apakah sudah pasti orang yang bersekolah akan sukses? Jawabannya tidak juga. Sebab banyak orang yang bersekolah, kuliah namun tidak sesuai passion-nya. Artinya dia kuliah di jurusan yang bukan minatnya. Misalnya seorang anak yang sangat berminat dengan IT dipaksa kuliah di FKIP atau seorang anak yang gemar bereksperimen di laboratorium kimia dipaksa kuliah di Hukum.

Pemaksaan jurusan kuliah seperti itu adalah tindakan yang berakibat fatal bagi masa depan si anak. Sejatinya setelah kuliah, kita akan mencari pekerjaan. Apa jadinya jika kita bekerja pada bidang yang bukan minat kita? Tentunya ketersiksaan batin yang ada. Artinya tidak bahagia. Sebab kebahagiaan terjadi ketika kita bisa melakukan sesuatu tanpa terasa tertekan atau terpaksa. Bayangkan jika anak yang gemar bereksperimen di laboratorium tadi pada akhirnya bekerja jadi pengacara. Ya, syukur-syukur kalau dia lulus dari kuliahnya. Bagaimana jika dia berhenti dan tidak menyelesaikan kuliahnya.

Kelihatan atau tidak di sekitar kampus pasti saja ada mahasiswa yang salah jurusan. Ya kalau di kampus saya, orang itu adalah saya sendiri. Saya dilahirkan dari keluarga sederhana. Kedua orang tua petani dengan jumlah anak 6 orang. Jadi dapat dibayangkan sesederhana apa keluarga kami. Sewaktu SD dan SMP saya tergolong siswa yang cerdas. Selalu masuk juara kelas. Bahkan di kelas 3 SMP berhasil menyabet juara 1 umum kelas IX di sekolah saya. Saat itu saya bercita-cita jadi dokter. 

Setiap tahun, SMP kami selalu mengirimkan siswa-siswa terbaiknya untuk mengikuti seleksi penerimaan siswa baru di sebuah SMA Plus di Matauli Pandan Sibolga. Seleksinya begitu ketat, mulai dari akademik, psikotes, kesehatan dan olahraga. Biaya keberangkatan untuk ikut seleksi itu akhirnya didapat oleh orang tua saya dengan berhutang kepada kerabat. Saya pun berangkat ke Sibolga. FYI, kakak saya yang paling sulung pernah ikut seleksi ini dan gagal di tahap akademik. Keajaiban terjadi kepada saya. Saya berhasil mengikuti semua seleksi dan dinyatakan sebagai siswa baru. Tinggal daftar ulang dan membayar biaya sebesar 5 juta untuk seragam sekolah, buku-buku dan SPP selesai. Namun bagi keluarga kami 5 juta bukanlah jumlah yang kecil. Orang tua saya tidak berhasil mencarikan pinjaman uang lagi. Tak tega, saya pun berkata akan melepaskan sekolah bagus itu. Biarkan saya sekolah di sekolah biasa saja. Yang tidak mensyaratkan biaya 5 juta untuk daftar ulangnya.

Sekolah di SMA biasa di kecamatan. Semangat saya tidak surut. Di kelas 1 dan 2 saya tetap bisa juara kelas. Namun di kelas 3 saya bahkan tidak masuk 10 besar. Saya kecewa dan ketakutan. Apa yang akan terjadi dengan cita-cita saya? Akhirnya saya melupakan keinginan untuk jadi dokter. Tanpa ikut bimbingan belajar sebagaimana persiapan siswa-siswa lain menjelang SBMPTN, saya ikut tes. Ikut tes tanpa tau apa sebenarnya minat saya. Oke, selama di kampung saya senang berada di alam. Maksud saya, kami punya ladang di dekat hutan. Saya senang berada berlama-lama di sana. Saya juga orangnya tidak tegaan melihat hewan disembelih. Bahkan saya selalu menangis terus ketika ayam atau hewan peliharaan lain disembelih. Ibu saya akan menertawai saya. "Binatang diciptakan Tuhan ya untuk dimanfaatkan manusia. Salah satunya untuk dimakan," kata beliau. Saat itu saya ingin jadi vegetarian saja. Namun sampai saat ini gak terjadi.

Selain hal di atas tadi, kegemaran saya yang lain adalah menulis. Ya taulah tulisan anak ingusan. Saya juga punya buku harian. Saya menuliskan kegiatan sehari-hari dan perasaan saya di sana. Karena sering meletakkannya sembarangan, teman satu kos sering membacanya diam-diam. Kampret memang. 

Jadi atas dasar kegemaran tak penting di atas, apakah ada satu pun bidang ilmu yang cocok dengan saya? Mungkin saja ada. Seperti misalnya, sastra atau dokter hewan atau mungkin juga geologi atau antropologi. FYI, saya sangat ingin kuliah di Jawa karena saya tahu pendidikan di sana lebih "giat". 

Namun, saat pemilihan jurusan saya mendengarkan saran teman untuk membuat pilihan di teknik pertambangan. Sialnya lagi ketika pengumuman saya dinyatakan lulus di jurusan itu, ayah saya dengan begitu semangatnya yang luar biasa mengurus keperluan dan termasuk tiket saya untuk segera terbang daftar ulang di sebuah kampus di kalimantan. Sungguh sebuah pulau paling jauh yang akan pertama kali dijelajahi oleh saya dalam keluarga ini. Dengan berurai air mata, saya berangkat. 

Semester demi semester berlalu. Ketidaknyamanan menghampiri. Saya sempat ikut lagi SBMPTN 2014 (saya sudah semster 3) bahkan 2015 (saya sudah semester 5) namun hasilnya nihil. Mungkin karena saya benar-benar tidak tahu bidang apa yang sesuai dengan minat dan keinginan saya. Semester 7 ini saya jadi ketakutan kalau-kalau tidak bisa lulus 4 tahun. Karena sudah tersusun dalam pemikiran orang tua jika anaknya gak bisa lulus 4 tahun kuliah, berarti anak itu bodoh. Sangat bodoh. Gak ada tawar-menawar. Tertekan dan tertindas. Bahkan jika ada kegiatan seminar dan kuliah umum seperti kemarin. Pembicaranya orang penting. Yang satu ketua PERHAPI (Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia) dan seorang lagi menteri DEN (Dewan Energi Nasional). Seminar ini dikenai biaya 80 ribu/mahasiswa. Mahal, tetapi bukannya mendengarkan. Saya tidak tertarik. Mereka berbicara tentang sebuah industri dan bagaimana caranya mengatur agar tetap berjalan, industri itu. Industri yang merusak alam namun tidak bisa diberhentikan karena kebutuhan peradaban dan pendukung pembangunan nasional. 

Saat ini sudah di semester 7. Gak ada jalan pulang bagi saya. Ingin berhenti kuliah? Gak mungkin. Saya berasal dari keluarga sederhana. Tak bisa terbayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya ayah dan ibu (terutama ibu) saya jika tahu saya berhenti kuliah. Setelah semester-semester ini saya semakin tertarik dengan alam dan petualangannya. Mungkin gak ya nanti lulus dari teknik pertambangan aku bekerja jadi MC sebuah acara televisi kayak MY TRIP MY ADVENTURE. Wkwkwk. Orang putus asa macam apa ini..

Oke, meskipun tersiksa dengan jurusan ini, tapi saya punya rencana. Nantinya bakal ngejar beasiswa S2 di luar negeri. Jurusannya? Sastra.

hahahahahahahahahahahahahahahahahahah.


Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...