Menang seleksi beasiswa bagi sesorang tentunya jadi
kebahagian tak terhingga. Apalagi kalau beasiswanya itu gede, bonafit dan ada
pelatihannya gitu buat beswannya. Nah, kebetulan setelah melalui proses seleksi
yang ketat dari berates-ratus orang yang diambil hanya 52 orang, aku lolos.
Beasiswa ini namanya KSE, Karya Salemba Empat.
Yang pertama kali kulakukan setelah diberitahu si
Toguma (dia udah setahun duluan dari aku) kalau aku satu-satunya yang lulus
dari jurusan kami, adalah MENGECEK ESAI. Yup, soalnya kita emang disuruh nulis
esai untuk 4 atau 5 hal itu kalau gak salah. Here is my essay:
1. Alasan
memilih jurusan teknik pertambangan
Sebenarnya saya tidak pernah berencana ingin kuliah di
jurusan saya yang sekarang ini. Sejak SMP saya suka dengan dunia tulis menulis.
Ketika SMA pun masih demikian. Meskipun tulisan saya belum pernah diterima
penerbit. Tapi saya terus mencoba menghasilkan sebuah tulisan dan
mengirimkannya ke lomba-lomba yang ada. Selain menulis, saya juga menyukai
petualangan ke alam bebas seperti keluar masuk hutan. Ada kepuasan tersendiri
bagi diri saya ketika berkelana ke alam terbuka.
Ketika lulus SMA, orang tua mengizinkan saya untuk
ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Orang tua saya memang selalu
mendukung kami anak-anaknya untuk kuliah selama masih universitas negeri. Hal
ini mengingat betapa sederhananya keluarga kami. Bahkan demi pendidikan
anaknya, ayah dan ibu saya rela jika harus berhutang dulu kesana-kemari. Seringkali
hutang tersebut menumpuk dan lama baru bisa dibayarkan.
Karena menyukai dunia tulis-menulis, saya pun ingin
kuliah jurusan sastra di salah satu universitas favorit di Indonesia. Padahal
saya dari jurusan IPA. Itu artinya saya harus ikut jalur campuran saat ujian
seleksi masuk perguruan tinggi negri, yang mana soal-soal ilmu sosial juga
harus dihadapi. Pilihan jurusan yang lain yang saya buat teknik geologi. Pengumuman
hasil seleksi SBMPTN menyatakan saya gagal. Tak satu pun dari jurusan yang saya
buat menang. Kemudian pada kesempatan UMBPTN, seorang teman menyarankan untuk
memilih jurusan teknik pertambangan. “Sangat sesuai dengan kesukaanmu berada di
alam terbuka,” katanya. Saran itu saya ikuti dan siapa sangka ternyata saya
menang di jurusan tersebut.
Orang tua saya segera memberangkatkan saya ke Palangka
Raya. Meskipun tidak ada seorang pun kerabat yang akan saya temui di sana. Di
pulau yang benar-benar asing dan belum tau harus kemana. Saya berangkat
sendirian, mengingat mahalnya tiket pesawat. “Pertambangan adalah jurusan yang
bagus untuk mencari pekerjaan nantinya. Lulusannya bergaji besar. Nanti kalau
sudah wisuda kamu bisa bekerja di perusahaan tambang batubara di Kalimantan,”
kata ayah saya saat itu.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Saya mulai mencintai
jurusan ini. Ketika praktek di lapangan, kuliah lapangan adalah saat-saat
menyenangkan. Terjun ke alam terbuka, keluar masuk hutan. Benar-benar sejalan
dengan minat saya terhadap kegiatan di luar ruangan. Selain lulusannya bergaji
besar seperti yang dikatakan ayah saya, prospek kerjanya menurut saya jelas. Selama
bahan galian di alam masih tersedia, selama itu pulalah lulusan teknik pertambangan
dibutuhkan. Selain itu saya berpikir bahwa meskipun saya tidak bisa kuliah di
sastra, bukanlah masalah besar. Malah dengan kesukaaan saya dengan sastra dan
kuliah di program studi yang sekarang, itu berarti saya mengetahui dua hal sekaligus.
Pertama hal yang benar-benar saya sukai, yaitu dunia menulis dan kedua studi
saya tentang teknik pertambangan. Dibandingkan dengan orang lain mungkin yang
kuliah di jurusan yang benar-benar disukainya, misalnya Pendidikan Matematika.
Artinya dia hanya mengetahui seluk beluk ilmu Matematika saja. Sedangkan saya
masih tetap bisa menekuni hobi menulis saya, di sela-sela kegiatan kuliah. Ibarat
sambil menyelam minum air.
2. Alasan
perlu mendapatkan beasiswa (Essay
Alasan Kebutuhan Beasiswa):
Terlahir sebagai anak ketiga dari enam orang
bersaudara dan kedua orang tua petani tidak membuat saya menerima kiriman
bulanan dengan lancar. Awalnya mulai kuliah memang masih bisa dikatakan
lancar-lancar saja. Namun kemudian kiriman bulanan dari orang tua mulai terlambat
dan itu pun minus. Seringkali tidak mencukupi untuk semua kebutuhan saya, mulai
dari biaya kos, makan, biaya tugas-tugas kuliah dan sebagainya. Apalagi di sini
biaya hidup relatif lebih mahal dibanding di daerah asl saya, Sumatera Utara. Saat
itulah muncul pemikiran untuk setidaknya bisa membantu meringankan beban orang
tua. Saya kemudian berpikir untuk mencari pekerjaan. Setelah susah payah
mencari karena kebanyakan mengatakan tidak membutuhkan mahasiswa, saya pun
diterima bekerja di sebuah warung tenda yang selalu buka mulai jam 4 sore
sampai jam 1 pagi. Hal ini jelas agak mengganggu kuliah apalagi kalau saya ada
kuliah jam 7 pagi. Kadang susah untuk bangun pagi. Tapi saya “memaksa” diri
saya bahwa saya mampu. Puji Tuhan saya masih bisa meraih IP 3 di semester
tersebut. Namun kemudian di semester berikutnya IP saya mengalami penurun
karena waktu terforsir untuk bekerja di dua tempat. Saat siang saya bekerja di
sebuah swalayan kecil. Jarak yang cukup jauh antara kampus dan swalayan saya
tempuh hanya dengan sebuah sepeda pinjaman. Belum lagi masalah praktikum yang
harus saya hadapi.
Selain bekerja, saya juga mencoba untuk mengikuti
organisasi atau kegiatan-kegiatan lain yang diadakan kampus. Semua lomba yang
ada saya ikuti, meskipun seringkali kemampuan saya untuk lomba tersebut
terbatas. Seminar-seminar juga. Saya menganggap lewat inilah mental saya diuji.
Sampai mana batas ketahanan saya. Kuliah, bekerja, organisasi, kegiatan lain
bertujuan untuk melatih diri, baik itu melatih hard skill maupun soft skill.
Di samping sebenarnya mengikuti lomba-lomba seperti karya tulis ilmiah, lomba
menulis cerpen, pertandingan olahraga dapat melatih diri, syukur-syukur keluar
sebagai pemenang dan mendapat honor yang bisa menambah uang saku. Ini adalah
salah satu jalan yang saya anggap sebagai proses menuju mandiri. Cara lain yang
saya tempuh adalah mengirim cerpen karya saya ke penerbit.
Adanya beasiswa merupakan sebuah kesempatan emas bagi
saya agar bisa meringankan beban orang tua bahkan kalau bisa saya tidak perlu
bekerja lagi dan fokus pada kuliah. Selain itu dengan adanya beasiswa akan
membuat saya termotivasi untuk meraih pendidikan setingi-tingginya tanpa
mengkhawatirkan masalah biaya. Jujur, saya sering merasa takut, jika suatu
waktu kuliah saya harus terpaksa berhenti karena biaya tidak ada lagi. Dengan
adanya beasiswa, saya masih bisa berharap dan yakin akan cita-cita. Sebab beasiswa
diberikan bukan kepada mereka yang pintar, namun kepada mereka yang berusaha
dan pantas mendapatkannya. Dan saya rasa saya perlu mendapatkan beasiswa, demi
kelancaran studi saya dan cita-cita yang ingin saya wujudkan.
3. Essay Jangka Panjang
(Visi) Setelah Lulus Kuliah
Setiap orang tentu saja ingin bisa cepat lulus kuliah,
mencari pekerjaan lalu berpenghasilan sendiri. Untuk S1 waktunya adalah 4
tahun. Orang tua saya juga sering menyebutkan hal ini, supaya saya cepat-cepat
lulus, kemudian mencari pekerjaan. Dalam
hati saya mengamini juga semoga saya bisa lulus hanya dengan waktu 4 tahun.
Namun setelah itu saya tidak berencana untuk langsung mencari pekerjaan. Saat
ini banyak sarjana yang menganggur di Indonesia. Itu berarti tidak gampang
mencari pekerjaan saat ini. Supaya mudah mendapatkan pekerjaan, dibutuhkan
pendidikan yang lebih dari sarjana-sarjana tadi. Caranya dengan kuliah S2 lagi
kalau bisa di luar negeri.
Saya sudah sering mendengar tentang orang Indonesia
yang kuliah ke luar negri. Ada yang dengan biaya sendiri, ada juga dengan
beasiswa. Saya sendiri sangat ingin memiliki kesempatan merasakan pendidikan di
luar negri yang pastinya sangat berbeda sistem dan fasilitasnya dengan negara
kita di Indonesia.
Meskipun saya menyukai kegiatan di lapangan terbuka
dan kuliah di jurusan teknik pertambangan yang kerap disebut sebagai perusak
alam, saya juga mencintai lingkungan dan tidak ingin lingkungan itu rusak.
Lingkungan adalah tempat dimana kita tinggal sekarang dan masa yang akan
datang. Kegiatan pertambangan memang benar merusak alam. Namun itu semua
tergantung metode yang digunakan, sebab ada tambang permukaan dan tambang bawah
tanah. Saat ini di Indonesia, industri-industri pertambangan demi mengejar
keuntungan yang berlipat, beroperasi dengan tidak sesuai kenyataan di lapangan
lagi. Artinya yang seharusnya ditambang dengan metode tambang bawah tanah malah
“dipaksa” ditambang dengan metode tambang permukaan. Alasannya adalah karena
itu lebih murah. Hal inilah yang
mengakibatkan kegiatan pertambangan itu disebut sangat merusak alam. Sebenarnya
ada alternatif lain supaya lingkungan tidak rusak, yaitu dengan tambang bawah
tanah.
Rencananya setelah saya lulus S1 saya akan mengejar
beasiswa ke luar negri. Saya akan belajar tambang bawah tanah di sana. Setelah lulus S2, saya ingin
bekerja di sana dua atau tiga tahun. Setelah itu barulah saya kembali ke tanah
air untuk menerapkan ilmu dan pengalaman yang telah saya dapatkan selama di
sana. Sebab, sejauh-jauhnya kita mengembara ke negeri orang, tetaplah harus kembali ke negeri sendiri, untuk membangun negeri
sendiri tempat kita dilahirkan, negeri yang airnya telah membesarkan kita. Saya ingin membuktikan bahwa pertambangan tidak selalu
merusak lingkungan. Saya ingin mengubah pola pikir tersebut bahwa ada metode
tambang yang tidak merusak lingkungan, yaitu dengan tambang bawah tanah.
4. Essay Pilihan
Pengembangan Diri
Pengembangan diri merupakan
sesuatu yang sangat penting selain materi-materi yang diterima dari dosen di
kelas. Banyak hal yang bisa diperoleh diluar kuliah, misalnya masuk
keorganisasian, ikut seminar-seminar atau kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya
membangun. Mengikuti organisasi menurut saya sangat penting karena bisa melatih
diri dalam berinteraksi, bekerja sama, mengeluarkan ide, melatih kreativitas,
masuk dalam kepanitiaan, menambah banyak kenalan.
Di kampus saya ikut
organisasi Mapala (mahasiswa pecinta alam). Selama mengikuti organisasi ini
banyak hal yang saya peroleh. Seperti namanya, organisasi ini berhubungan
dengan kegiatan-kegiatan di alam terbuka, seperti panjat tebing, susur sungai,
pendakian, survival di hutan, navigasi darat dan sebagainya. Mengikuti
kegiatan-kegiatan seperti itu yang tentunya nanti sangat bermanfaat melatih
diri saya yang nantinya akan berhadapan dengan pekerjaan di lapangan terbuka.
Tentunya saya tidak terkejut lagi dengan kondisi di lapangan, sebab lewat
mapala semua itu sudah diperkenalkan lebih dulu.
Panjat dinding yang sering
diperlombakan antar mapala juga saya ikuti sebagai salah satu wujud
pengembangan diri. Dalam organisasi mapala, kita juga belajar bagaimana
mencintai lingkungan, dengan menanam pohon saat hari bumi atau lingkungan
hidup, mengadakan aksi penggalangan dana di lampu merah untuk korban banjir,
peringatan kemerdekaan dengan pengibaran bendera merah putih di tebing,
kegiatan camping sambil memancing di hutan. Di saat akan ada event, pembagian tugas dan
divisi-divisi. Di sini saya belajar bekerja sama, bertanggung jawab dan disiplin
waktu.
Organisasi luar kampus
seperti GmnI juga saya ikuti. Didalamnya saya diajak mengenal nasionalisme
berbangsa dan bertanah air. Organisasi ini mengajarkan bagaimana mencintai
rakyat, menghargai jasa para pahlawan. Saat ada bencana kebakaran, kami
mengadakan aksi penggalangan dana di jalan raya. Saat hari pahlawan mengadakan
ziarah ke makam pahlawan dan refleksi, menyebarkan brosur-brosur berisi ajakan
dan pekikan semangat hari pahlawan, menempelnya di kampus-kampus. Saat terjadi
kabut asap, saya juga pernah ikut ke sebuah desa terpencil untuk
membagi-bagikan masker dan tabung oksigen yang merupakan bantuan yang kami
dapatkan dari teman-teman GmnI di Jawa.
Di sela-sela kegiatan kuliah
saya juga menyibukkan diri dengan menulis. Hasilnya cukup memuaskan. Cerpen
saya penah masuk dalam 15 besar terfavorit dan mendapatkan honor yang lumayan.
5. Essay Alasan Apply
Beasiswa KSE
Pertama kali mengetahui beasiswa KSE
adalah saat saya membaca pengumuman penerimaannya tahun 2013 di rektorat. Saat
itu saya masih semester 2 dan belum memenuhi syarat untuk bisa mengikuti
seleksi penerimaannya. Kemudian saat semester 4 saya berniat mengikuti seleksi
beasiswa KSE tetapi tidak bisa karena dari pihak fakultas tidak memberikan
surat rekomendasi beasiswa. Alasannya karena saya sudah mengikuti seleksi
beasiswa yang lain, saat itu beasiswa supersemar. Padahal pengumuman diterima
atau tidak beasiswa supersemar tersebut saya belum tahu. Akhirnya di semester 6
ini barulah saya bisa mengikuti seleksinya.
Saya membuka website-nya dan mulai mendaftar serta
melengkapi persyaratan-persyaratan berkas lainnya. Mengapa saya memilih
beasiswa KSE daripada beasiswa-beasiswa lain, seperti Supersemar, Djarum, PPA
atau BBM? Berikut alasan saya.
1. Beasiswa KSE
memberikan bantuan sebesar 600.000
Dibanding beasiswa
lain seperti supersemar, PPA atau BBM, beasiswa KSE memberikan jumlah yang
lebih banyak. Angka ini bukanlah angka yang sedikit. Apalagi diberikan setiap
bulan. Uang kiriman saya saja per bulan 600 ribu dan tidak cukup untuk biaya
makan dan kebutuhan perkuliahan saya. Belum lagi jika ada tugas untuk fotokopi
atau print dan sebagainya. Dengan
mendaftar beasiswa ini, saya harap dapat membantu kebutuhan saya.
2. Tidak
memperhitungkan IPK
Beberapa beasiswa
menyertakan syarat IPK minimal untuk dapat diurus. Sedangkan beasiswa KSE tidak
mempermasalahkan IPK, namun harus ada laporan nilai setiap semester. Tanpa
adanya syarat IPK minimal, tentu saja akan lebih mempermudah untuk mahasiswa
yang kemampuan finansialnya lemah, yang juga nilai-nilainya biasa-biasa saja
(tidak menonjol).
3. Melatih softskill
Beasiswa KSE memiliki
program pengembangan diri bagi para penerimanya. Menurut yang saya baca bahwa
beasiswa ini memiliki program seperti: professional
skill training, leadership program,
social entrepreneurship training, career coaching, dan lain-lain. Jadi para
penerima beasiswa tidak hanya dibekali dengan bantuan finansial, tetapi juga
dibekali dengan kemampuan softskill.
Kemampuan-kemapuan softkill yang
tersembunyi dalam diri seseorang bisa dikembangkan lebih jauh lagi..