Kamis, 22 September 2022

Kacau balau

Dua minggu sejak kepulangan dari kampung.

Kemarin gw tanda tangan pembaruan kontrak kerja. Meskipun itu kabar baik, entah kenapa gw gak ada semangat-semangatnya. Mungkin kalau itu tadi tanda tangan kontrak penulis (gw dikontrak penerbit), mungkin lain lagi ceritanya. Tapi ini, pembaruan kontrak sebagai call center. Pembaruan kontrak sebagai org yg bakal diteriakin sama nasabah. 

Besti gw yg cowok udah nikah.

Besti yg cewek udah kembali ke kampung dia.

Pengen nulis materi stand up gak ada kemampuan.

(Ngeluh aja terossss)

Kenapa setelah cuti pulkam, setelah nonton special show-nya Pandji, awak makin kehilangan semangat hidup????


hatiku kacau balau.

Minggu, 11 September 2022

Pulkam

Huft.

Cuti 10 hariku bagaikan kedipan mata aja. Aku pulang ke kampung tanggal 01 September (udah kayak siswa Hogwarts) dan kemarin tanggal 10 September udah terbang lagi ke Jakarta. 

Terakhir aku pulang kampung itu Februari 2020. Jadi dalam 2,5 tahun ini sebenarnya gak banyak yang berubah di kampung. Yeah, kampungku gak kampungan banget sekarang. Meski grab/gojek belum masuk, di Samosir udah ada Indomaret/alfamart. ATM BCA memang belum ada, tapi udah bisa ya kan tarik tunai di minimarket itu. 

Rumahku? Hm, apa ya. Waktu pulang 2020 di rumah memang bapakku udah bikin posko penginjilan gereja bethel. Yeah, mereka berubah haluan dari Katolik yang mana sedikit banyak bikin awak sedih. Sekarang bapakku udah sah jadi pendeta katanya, sehingga di rumah ada seperangkat alat musik keyboard, speaker dan infocus. Bahkan di seberang rumah lagi bangun gereja. 

Kayaknya beliau memang serius. Ya emang harus serius sih karena kan udah diambil sumpahnya.

Kalau mamaku sekarang fokus beternak babi dan mengabaikan ladangnya. Gak cuma babi kampung yang hitam, mama juga pelihara babi yang pink. Setiap pagi dan sore, berisiknya minta ampun. Merengek minta makan, minta dilepas, minta dibelai. Ini babi atau jablai sih. 

Masalahnya, aku kasian sama mamaku. Beternak babi itu lebih melelahkan daripada berladang. Beternak babi : mikirin makanannya, yang mana mamaku beli ubi dari orang. Terus untuk masak ubi ini juga butuh kayu bakar, yang mamaku juga beli dari orang. Dua kali dalam sehari babi-babi ini juga harus dimandiin, yang mana ini butuh listrik. 

Waktu kutanya apa mereka untung atau rugi kalau caranya beternak babi seperti itu, mama bilang "saotik". Duh. kalau aja gajiku 20 juta sebulan, udah kusuruh mereka pensiun aja dari segala kegiatan nyari duit dan fokus menikmati masa tua. 


Selain kedua ortu, ada dua adekku juga di kampung. Yang cowok baru kena out dari pekerjaannya setelah diperpanjang sekali kontraknya tahun lalu. Yang cewek baru lulus SMA dan katanya pengen masuk polwan. Adekku yang cowok katanya pengen kuliah. Dengan kondisi ortu udah berumur 60 tahun (mamaku) dan 56 (bapakku), pengen kali kubilang udahlah kalian gak usah nyoba polwan atau pun kuliah. Tapi aku gak mungkin egois kan. Kalau aja gajiku 20 juta sebulan 😑

Let me tell you something.

Meski aku bukan anak yang berbakti, aku pengen jadi kakak yang berguna. Salah satu caranya ya dengan mengarahkan dan menyekolahkan adeknya. Pengen banget. Tapi caranya gimana ya kalau gaji cuma UMR Tangsel. Haruskah awak jadi istri kedua sultan? Tapi sultan mana yang bego ya kan, mau nikahin awak. Paling mata si sultan mesti dicolok dulu biar gak bisa ngeliat. 

Belum lagi umurku yang udah 27. Waktu pamit pulang kemarin, bapakku udah bersabda : "Dalam alkitab ada disebutkan, beranakcuculah dan bertambah banyak. Penuhilah bumi blablablabla.."

Kalau aku udah baca semua isi alkitab, pengen kubalas : 'Tapi Pak di dalam alkitab gak ada dibilang semua wanita harus menikah.' Tapi karena belum baca semua isinya, aku cuma bisa diam. 

Aku sih mau aja nikah, bapake. Asalkan nanti yang masak bukan aku, ngurus rumah bukan aku. Aku nyari duit aja. Jadi tulang punggung, bukan tulang rusuk. Rasa-rasanya pekerjaan rumah lebih rempong dari pekerjaan di kantor.

Selama di 9 hari di kampung, aku cuma sempat sehari keluar dari rumah dan solo trip with my little sister naik motor.


Ngomong-ngomong soal tulang rusuk, kemarin pas pulang ke Jakarta ada kejadian FTV. Hakshakshaks. 

So here is the story.

Jadi, tiket pesawatku sengaja kuambil yang sore (17.30) karena perjalanan dari kampung ke bandara Kualanamu total 6 jam. Dari rumah, aku diantar ke Tomok naik mobil amanguda yang kebetulan mengunjungi oppung. Aku diantar sepupuku 3 orang, adekku cewek sama oppung boru. Setelah nyeberang ke Ajibata (air mata menetes terus di dalam kapal), aku naik bus Sejahtera ke terminal amplas Medan. Rencananya dari terminal ke bandara naik Damri kayak tahun 2020 lalu.

Dan twing.. 

Loket damri gak kutemukan di amplas. Udah gitu kurogok dompet, gak ada duit cash mau beli akua.Tenggorokan kering, panasnya minta ampun sambil dorong koper. ATM BCA dimana sih. Masa di kota ini masih pembayaran dengan duit cash? Cashless-in dong! Kan udah banyak  tuh e-wallet dari berbagai mata angin.

Dan memang, pertolongan akan selalu dikirmkan ke mereka yang membutuhkan. Terdengar klakson bemo (becak motor) dari belakangku.

Bemo : Mau kemana, itok?

Aku : Nyari loket damri, tok

Bemo : Eheh, udah pindah dari 2 tahun lalu ke carefour karena renovasi di sini. Ayoklah kuantar ke lampu merah sana, lewat kok nanti damri dari situ.

Aku : Berapa ongkosnya ke sana, tok? Aku gak ada duit cash soalnya.

Bemo : Ayoklah, dekat kok.

Aku pun naik tanpa tau di tas ada uang apa enggak. Selama perjalanan, kuobrak abrik kantong tas dan saku celanaku. Akhirnya nemu 2 lembar 5rb an. Aku pun diturunin di depan kedai kelontong, langsung disambut bapak-bapak batak usia 45 an. Kami saling nanya marga dan beliau dengan sabar merhatiin jalanan kalau-kalau si damri ini udah muncul. Sementara aku gak berdaya, udah takut ketinggalan pesawat. Waktu itu udah jam 15.00. Kalau pun damrinya muncul, aku gak tau mau bayar pake apa. Kenapa di sini gak keliatan batang idung ATM?????

Damri-nya muncul jam 15.10. Bukannya gak senang, tapi mau bayar pake apa nanti? Masa aku diturunin nanti di tengah jalan. Dengan berat hati aku naik, setelah ngambil paha ayam (donat) si bapak kedai kelontong dan letakin 5 rb di mejanya. 

Begitu aku duduk, kuliat ke dalam bus. Penumpangnya cuma ada 1 laki-laki indo dan sisanya di belakang sekumpulan orang India wanita dan pria semua. Mungkin mereka tur atau apa gitu. Otakku langsung bekerja keras memproses sesuatu. 

Aha.. Aku kan punya m-banking. Kuberanikan manggil si cowok yang duduk di kursi depan.

"Bang. Banggg." Dia pun noleh.

"Ya?"

"Abang mau ku bandara juga ya?"

"Iya."

"Tadi naik bus Sejahtera juga bukan sih? Kayak mirip sama yang di bus tadi." Hakshakshaks. Nais try myself.

"Hah? Enggak kok. Aku tadi naik dari carefour."

Okay.

"Eum, gini Bang. Aku gak ada uang cash nih, Jadi mau minta tolong sama abang, aku transfer duit dari mbanking terus abang ngasih cash ke aku. Bisa gak bang pliss."

"Oh. Bisa. Butuh berapa?"

Aku pun nanya si supir damri tarif ongkosnya berapa. Kata dia 40 rb.

"Yaudah bang, 100 rb aja."

Setelah dia nyebutin nomor rekeningnya yang aku input di mbanking, muncullah nama : Khairul Martua HRP. 

"HRP singkatan dari apa Bang?" Aduh, dasar mulut

"Harahap."

"Abang orang batak?"

Yakali namanya ada Martua-nya tapi orang Sunda. Ckckckck. Efek kebanyakan diterpa matahari tadi nih.

 "Makasi banyak loh bang. Kalau abang gak ada, entah aku bayar ongkos pake apa."

"Iya, sama2 Kak." Jir berasa tua dipanggil 'kak'.

"Mau kemana, Bang?" Tanyaku setelah nyolok charger tapi gak ngisi. Mana sisa 40%. Tiket awak kan di HP.

"Jakarta."

"Yang jam 17.30?"

"Iya, Lion."

"Eh, sama kita Bang." Maafkan kehebohanku ini

Singkatnya kami gak ada kenalan, dia sih yang gak tau namaku. Namanya aku udah tau tadi dari mbanking. Tapi kami bisa jadi barengan. Mulai dari check in mandiri. Aku yang baru liat mesin check in bandara takjub dan ngajak dia buat nyobain. Setelah memasukkan kode booking pesawat, dan ku enter. Teeeett! Gak bisa dan diminta check in ke counter. Sementara si Martua udah keluar kertas check in-nya dari mesin itu.

Aku udah mulai keringat dingin. Masalah apa lagi nih. Gak cukup masalah uang cash aja? Tiket pesawat juga harus ada dramanya? Kami pun ke counter. Yang bikin aku nambah deg deg an karena mbak petugas-nya cukup lama liatin layar di komputer-nya. Ada apaan sih, kayaknya aku gak ada salah pilih negara tujuan yang lagi konflik atau beli tiket untuk tahun 2027 deh..

"Ada apa ya Mbak?"

Gak dijawab. Cie kacang. Mungkin gak denger kali ye. Yang penting tiket aku gak ada masalah. Mungkin harus check in di counter karena aku nambah asuransi perjalanan sama milih kursi yang mana kedua fasilitas itu nambah biayanya dari harga tiket asli. Si Martua akhirnya check in lagi di konter dan berakhir kopernya harus masuk bagasi, sementara koperku yang emang lebih kecil bisa melenggang ke kabin.

Setelah beres check in, aku pun ke atm dan ngambil duit cash sebanyak mungkin yang ternyata diikutin si Martua. Terus aku beli 1 bolu meranti (bukan pelit tapi udah bokek) buat orang kantor. Tadinya mau pake kartu kredit tapi katanya nambah biaya 4%. What?? Kenapa gw yang kerja di bank itu dan jadi call center kartu kredit justru gak tau? Katanya itu ketetapan dari bank-nya. Bayar cash ajalah.]

"Di sini gak ada starbucks ya?" Sok kaya, padahal udah sekarat. "Buat numpang nge-charger sih Bang."

"Kayaknya gak ada," kata dia. Akhirnya kami nemu tempat charger di bandara, di depan indomaret point. Dia keliatan kayak mau beli sesuatu.

"Mau nitip sesuatu?"

"Gpp Bang, nanti aku beli sendiri. Abang beli duluan aja."

Setelah dia balik dengan segelas kopi, aku pun nitip barang sama dia karena mau ke toilet. Secepat itu aku percaya sama orang memang. Pas aku balik, untungnya si Martua masih ada.

"Kirain kemana," kata Si Martua. 

"Gak mungkin pulang ke rumah juga kan aku Bang, setidaknya bawa koperlah. Hahahah." Jokes macam apa ini.

Entah karena jokes itu, dia mulai nanya-nanya. Kerjaan aku dimana, asal darimana. Bahkan dia cerita soal pengalaman kerjanya lamar kerja tapi gak bawa surat lamaran atau pun berkas apapun. Dan berakhir dia diterima kerja di sana dan udah 10 tahun kerja di situ.

"Wah, hebat. Betah ya Bang. Kalau 10 tahun berarti udah jadi manager lah ya di sana sekarang," aku yang berakhir 3 bulan, 2 bulan di perusahaan cuma bisa menganga dengar cerita dia.

"Hahah. Enggak Kok. Tetap jadi kuli."

"Udah jadi manajer tetap rendah hati ya. Hahaha."

Aku jadi langsung teringat pesan bapak soal 'beranakcuculah'. Kalau diliat-liat, si Martua ini memang gak cakep. Tapi dia gentle man. Waktu aku kesusahan nenteng plastik sama nyeret koperku, dia dengan sigap nawarin diri buat bawain plastik tentenganku. Hm, semoga aja nanti dia minta No HP-ku.

Gak terasa ngobrolnya panjang, dan jam udah menunjukkan jam 5 sore. Itu waktu buat boarding. Tapi kok gak ada pengumuman dari microphone-nya. Pas kami naik dan melewati pemeriksaan, masuk ke gate 8, di layar tampil >> JT 209 JAKARTA : PANGGILAN KEDUA.

ANJIRRR.... Hampir gue beli tiket lagi. Buru-buru kami masuk dan saat melewati tangga, si Martua dengan gentle man meraih koperku dan nyerahin plastik buat kubawa. Nih orang udah nikah belum ya? Kalau dari penampilan sih belum kayaknya, sepatu kets, jaket denim.

Setelah di pesawat, dia naikin koperku ke kabin. Ternayata tempat duduk kami beda satu baris. Padahal kursi di tengah samping dia kosong. Kursi di tengah samping aku kosong. Tapi apalah daya. Aku harus jaga image, meskipun bapak udah suruh beranakcuculah. Akhirnya sepanjang di dalam pesawat kami gak ada ngobrol.

Begitu mendarat, dia jugalah yang ngambil koperku dan nyeret duluan, sementara awak terperangkap di barisan orang2 yang antri ngambil barang dari kabin. Inilah memang gak enaknya duduk dekat jendela. Kukira si Martua udah pergi duluan, ternyata dia nungguin. Aku pun lari kecil dan berakhir tersandung hampir terjatuh.

"Nah.. nah. Udah kembali belum tuh nyawanya."

Aku malu. Tapi bukan malu karena hampir terjerembab, tapi karena tersipu. Udah kayak orang pacaran jir. Waktu nurunin tangga menuju shuttle bus, ada ibu2 yang jalannya lambat mungkin karena udah tua. Si Ibu noleh kebelakang dan mungkin ngerasa nge hambat jalan orang di belakangnya apalagi si Martua bawa koperku. "Maaf ya," kata si Ibu. Si Martua balas, "Iya gak apa-apa Bu. Pelan-pelan aja."

What a sweet of him. Pokoknya NO HP GW BANG. HARUS LU MINTA! KALAU ENGGAK, AKU YANG NAWARIN. 

Kami pun menuju tempat pengambilan bagasi. Karena belt-nya belum jalan, awak pun milih duduk di kursi yang ada disana. "Bentar ya," kata si Martua terus pergi ke arah belt yang udah mulai berputar bawain koper-koper.

Pake izin segala. Kan gw jadi merasa jadi orang berharga buat dia. Pokonya fix, lu harus minta NO HP GW BANG!!!

Gak lama, dia pun muncul dengan kopernya di satu tangan dan satu tangan lagi main HP. Gak lama terdengar voice note dari WA : 'Hati-hati ya sayanggg' dengan nada manjahh.

JEDARRRRRR!!!! Langit gak mendung, tapi ada gledek di sini. Di dada ini.

WHATTTT?????? GIMANA DENGAN BERANAK CUCU INI BANG????????!!!!!! Cause, hell no. I don't want to be a pelakor!

Perjalanan menuju loket bus DAMRI rasanya jauh banget dan berat. Apalagi karena sekarang aku sendiri yang bawain koper sama plastik teng tenganku. Setelah dapat tiket masing-masing, kami nunggu di tempat yang udah ditentuin. Aku berdiri dengan lesu bahkan gak excited waktu si Martua akhirnya memang minta No Hp ku sesuai yang diharapkan.

"Len, itu kayaknya bus tujuan aku. Nih, kasih no HP kamu siapa tau kita ketemu lagi," katanya nyodorin HP-nya. Aku cuma bisa ngetik nomorku dengan tak bersemangat. Pengen banget bilang, 'buat apa Bang nomor aku? Kan lu udah punya cewek.' Apaan coba rasa baper gak pada tempatnya ini. 

Aku nyampe di kosan jam 10.20. Sama sekali gak semangat, lelah, laper dan ngantuk. Begitu kucek HP, memang ada WA dari no baru - si Martua. Isinya cuma : 'Ini nomorku ya Len. Makasi udah jadi teman selama penerbangan.

Teman penerbangan

Teman penerbangan

Teman penerbangan

Dua kata itu bergaung-gaung di kepalaku kayak gema. 

Lagian, apa yang gw harapkan dari orang yang kayaknya udah lebih tua dari gw dan jabatan pekerjaanya udah mantap. Gak mungkinlah dia available! Pasti udah sold out.

Bapake.. kayaknya beranakcucu-mu bakalan ditunda lebih lama.


 




Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...