Kamis, 05 November 2015

BERAWAL DARI BASKET



Gue orangnya emang gak bisa olahraga dan seni. Gue gak bisa memainkan alat musik apapun atau olahraga apapun. Ketika udah masuk organisasi mahasiswa pecinta alam (mapala) di kampus, barulah gue menemukan olahraga yang cocok untuk diri ini, panjat dinding. Gue malah sampai ikut tanding ke Banjarmasin meskipun hasilnya sangat memalukan untuk ukuran pemula seperti gue.  Hingga akhirnya suatu hari gue diajak untuk ikut gabung dalam sebuah tim basket campuran karena fakultas gue ngadain POMTEK (Pekan Olahraga Mahasiswa Teknik). Setelah dibujuk-bujuk terus akhirnya gue pun mau. Meskipun gue udah menjelaskan panjang lebar ke mereka kalau gue belum tau apa-apa tentang basket dan megang bolanya aja belum pernah, anak ini tetap ingin gue bergabung dengan timnya. Sebut saja namanya AGS. Sekedar info si AGS ini emang tinggi banget badannya. Emang cocok jadi pemain basket internasional kayak NBA itu. Gue aja kalau mau ngeliat mukanya dia mesti mendongak. Dia udah sering ikut kejuaran basket dan sering menang.
“Seharusnya kau gak usah kuliah di jurusan ini. Jadi atlet aja,” kata gue pas kami udah mendaftarkan tim.
Dia nyengir aja. Sampai saat itu gue belum kenapa-kenapa. Hingga akhirnya hari pertandingan tiba. Basket 3 on 3. Untuk jaga-jaga tim kita menyediakan 2 orang cewek. Sebut aja namanya Ayu. Dia ini nge-shoot kayaknya jago deh. Gue? Kagak bisa apa-apa. Drible gak, ngirim bola gak, shoot, apalagi three point. Sebelum hari H pertandingan, AGS Cuma ngajarin gue cara memasukkan bola ke dalam ring. Gaya gue persis ayam bencong yang lagi bertelur. Gak ada lemparan yang menyentuh ring. Semua dari belakang ring.
“Pokoknya kamu focus aja. Liat ring di depan, baru shoot.”
AGS, ngomong mah gampang. Melaksanakan yang susah.
Tibalah hari bersejarah itu. Hari paling bersejarah dalam hidup gue. Gue gemetaran menapakkan kaki di lapangan basket. Tim kita, Batubara team (gak kreatif banget) sepakat makai baju merah di hari pertama.
“Magda, kamu maju pertama ya. Biar nanti Ayu di babak kedua. Pokoknya jagain ceweknya kalau kita lagi posisi offense. Tapi kalau kita dalam posisi defense, kamu lepasin diri dari dia. Kalau ada kesempatan langsung aja shoot.”
Gue bingung dengan istilah-istilah ilmiah yang barusan dijelaskan si AGS. Lagian, kenapa sih dia baru ngomong itu sekarang? Apa tadi tuh, sense apa..
Babak pertama dimulai. Gue kebingungan mencari yang mana ceweknya. Soalnya rambutnya pendek banget sama kayak pemain cowoknya. Untunglah gue temukan. Dan mulailah kemalangan terjadi. Gue diteriakin si AGS terus. “Ikutin terus ceweknya, jangan sampai lepas..” Gue berusaha gak nangis. Keringat juga udah bercucuran, tenggorokan kering. Gak sengaja gue nabrak lawan dan gue terjatuh di tengah lapangan..
Tanpa ada yang membantu, gue bangkit sendiri. Babak pertama berakhir dengan skor tim kami lebih unggul. Pas istirahat, gue liat si AGS memberikan pengarahan ke si Ayu yang mau main di babak kedua. Berani bertaruh dia pasti bilang gini, “Pokoknya jangan ikutin kebegoan si Magda tadi.” Babak kedua mulai setelah istirahat 1 menit doing. Baru tau gue kalau per babak hanya ada 10 menit. Gue amatin permainan si Ayu. Menurut gue malah permainan gue lebih baik disbanding dia. Gimana ya, dia itu kayak takut gitu kena bola. Jadi dia menghindar terus kalo bola dekat sama dia. Gue aja berusaha ngerebut bola dari tangan lawan.
Akhirnya kami menang hari itu. Pertandingan berlanjut terus, ke penyisihan perempat final dan akhirnya tak diduga kami masuk ke final. Benar-benar luar biasa!
“Pokoknya mesti juara 1 dua-duanya,” kata si AGS. Dia memang ikut tim campuran sama tim sejenis. Maksud gue tim cowok. Segitu optimisnya dia sampai gue mulai ngerasa ada rasa sama dia. Tapi gue kalem aja.
Besok harinya di hari final. Kita sepakat pakai baju abu-abu. Kedua tim ini, campuran dan sejenis ini sama-sama memperebutkan juara 1 dan 2. Yang pertama tanding adalah tim campuran. Seperti biasa gue juga yang main di babak 1. Gue udah menduga bagaimana nanti capeknya si AGS. Gue sempat prihatin sama dia.
Di final ini, ceweknya lebih tinggi dari gue, dan lebih cantik dari gue. Tapi gue berusaha melakukan yang terbaik. Entah karena ini perebutran juara 1 dan 2 sensitivitas terjadi di sini. Kalau gak salah gue dengar si cewek ngomong gini, “Ceweknya gak bisa main juga.” Hampir aja gue nangis guling-guling di lapangan itu. Dengan waktu yang sangat sengit, AGS berjuang mati-matian membawa tim batubara ke posisi satu. Dan dia berhasil!!! Kami juara 1. YESS…! HAMpir aja gue lari meluk dia. Lagi-lagi gue menyadarkan diri sendiri.
Gue tatap punggungnya yang banjir oleh keringat. Sempat muncul pikiran buat menghampiri dia baru ngusap mukanya pakai handuk kecil milik gue. Atau haruskah gue kasih air minum gue?
Pertandingan belum berakhir, setidaknya untuk AGS. Dia mesti berjuang sekali lagi merebut posisi juara 1 katanya di tim putra. Gue doain deh yang terbaik buatmu. Ketertinggalan poin pun terjadi. Lawan udah 5 skornya, sedangkan mereka masih nol. Gue rasa fokusnya AGS berkurang plus kecapean karena dari 10 kali dia nge shoot, gak ada satupun yang masuk. Padahal tingginya dia sama ring itu beda tipis. Gue jadi prihatin sama dia. Untunglah akhirnya di menit-menit terakhir, posisi skor sama. Malangnya seorang pentolan shooter tim AGS cedera kakinya dan terpaksa di gantikan. Karena poin sama dan waktu sudah habis, wasit menambah waktu 1 menit. Gue liat si AGS berjuang mati-matian seorang diri di sana. Gue terus teriak-teriak bilang ‘bisa’ kalau dia mau lemparan bebas (atau apa itu sebutannya).
“BISAAA..” teriak gue pas dia siap di posisi melempar. Gue menahan nafas, dan berbisik, kalau lemparannya ini masuk, berarti dia juga suka sama gue. Dan.. trap! Bola melewati ring denga mulus. Gue tersenyum nahjong kegirangan sendiri. Wasit meniup peluitnya dan pertandingan berakhir dengan kemenangan di tim AGS. Cuma beda 1 poin, bayangin aja. Gue bisa merasakan betapa capeknya si AGS hari ini, membuat dua timnya sekaligus masuk di posisi juara 1. Saluut dah gue sama dia, dan.. cinta!
Hari itu, gue yakin kalau gue beneran jatuh cinta sama dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...