Gue orangnya
emang gak bisa olahraga dan seni. Gue gak bisa memainkan alat musik apapun atau
olahraga apapun. Ketika udah masuk organisasi mahasiswa pecinta alam (mapala)
di kampus, barulah gue menemukan olahraga yang cocok untuk diri ini, panjat
dinding. Gue malah sampai ikut tanding ke Banjarmasin meskipun hasilnya sangat
memalukan untuk ukuran pemula seperti gue.
Hingga akhirnya suatu hari gue diajak untuk ikut gabung dalam sebuah tim
basket campuran karena fakultas gue ngadain POMTEK (Pekan Olahraga Mahasiswa
Teknik). Setelah dibujuk-bujuk terus akhirnya gue pun mau. Meskipun gue udah
menjelaskan panjang lebar ke mereka kalau gue belum tau apa-apa tentang basket
dan megang bolanya aja belum pernah, anak ini tetap ingin gue bergabung dengan
timnya. Sebut saja namanya AGS. Sekedar info si AGS ini emang tinggi banget
badannya. Emang cocok jadi pemain basket internasional kayak NBA itu. Gue aja
kalau mau ngeliat mukanya dia mesti mendongak. Dia udah sering ikut kejuaran
basket dan sering menang.
“Seharusnya
kau gak usah kuliah di jurusan ini. Jadi atlet aja,” kata gue pas kami udah
mendaftarkan tim.
Dia nyengir
aja. Sampai saat itu gue belum kenapa-kenapa. Hingga akhirnya hari pertandingan
tiba. Basket 3 on 3. Untuk jaga-jaga tim kita menyediakan 2 orang cewek. Sebut aja
namanya Ayu. Dia ini nge-shoot
kayaknya jago deh. Gue? Kagak bisa apa-apa. Drible
gak, ngirim bola gak, shoot, apalagi
three point. Sebelum hari H
pertandingan, AGS Cuma ngajarin gue cara memasukkan bola ke dalam ring. Gaya gue
persis ayam bencong yang lagi bertelur. Gak ada lemparan yang menyentuh ring. Semua
dari belakang ring.
“Pokoknya
kamu focus aja. Liat ring di depan, baru shoot.”
AGS,
ngomong mah gampang. Melaksanakan yang susah.
Tibalah hari
bersejarah itu. Hari paling bersejarah dalam hidup gue. Gue gemetaran
menapakkan kaki di lapangan basket. Tim kita, Batubara team (gak kreatif banget)
sepakat makai baju merah di hari pertama.
“Magda,
kamu maju pertama ya. Biar nanti Ayu di babak kedua. Pokoknya jagain ceweknya kalau
kita lagi posisi offense. Tapi kalau kita dalam posisi defense, kamu lepasin
diri dari dia. Kalau ada kesempatan langsung aja shoot.”
Gue bingung
dengan istilah-istilah ilmiah yang barusan dijelaskan si AGS. Lagian, kenapa
sih dia baru ngomong itu sekarang? Apa tadi tuh, sense apa..
Babak pertama
dimulai. Gue kebingungan mencari yang mana ceweknya. Soalnya rambutnya pendek
banget sama kayak pemain cowoknya. Untunglah gue temukan. Dan mulailah
kemalangan terjadi. Gue diteriakin si AGS terus. “Ikutin terus ceweknya, jangan
sampai lepas..” Gue berusaha gak nangis. Keringat juga udah bercucuran,
tenggorokan kering. Gak sengaja gue nabrak lawan dan gue terjatuh di tengah
lapangan..
Tanpa ada
yang membantu, gue bangkit sendiri. Babak pertama berakhir dengan skor tim kami
lebih unggul. Pas istirahat, gue liat si AGS memberikan pengarahan ke si Ayu
yang mau main di babak kedua. Berani bertaruh dia pasti bilang gini, “Pokoknya
jangan ikutin kebegoan si Magda tadi.” Babak kedua mulai setelah istirahat 1
menit doing. Baru tau gue kalau per babak hanya ada 10 menit. Gue amatin
permainan si Ayu. Menurut gue malah permainan gue lebih baik disbanding dia. Gimana
ya, dia itu kayak takut gitu kena bola. Jadi dia menghindar terus kalo bola
dekat sama dia. Gue aja berusaha ngerebut bola dari tangan lawan.
Akhirnya kami
menang hari itu. Pertandingan berlanjut terus, ke penyisihan perempat final dan
akhirnya tak diduga kami masuk ke final. Benar-benar luar biasa!
“Pokoknya
mesti juara 1 dua-duanya,” kata si AGS. Dia memang ikut tim campuran sama tim
sejenis. Maksud gue tim cowok. Segitu optimisnya dia sampai gue mulai ngerasa
ada rasa sama dia. Tapi gue kalem aja.
Besok harinya
di hari final. Kita sepakat pakai baju abu-abu. Kedua tim ini, campuran dan
sejenis ini sama-sama memperebutkan juara 1 dan 2. Yang pertama tanding adalah
tim campuran. Seperti biasa gue juga yang main di babak 1. Gue udah menduga
bagaimana nanti capeknya si AGS. Gue sempat prihatin sama dia.
Di final
ini, ceweknya lebih tinggi dari gue, dan lebih cantik dari gue. Tapi gue
berusaha melakukan yang terbaik. Entah karena ini perebutran juara 1 dan 2
sensitivitas terjadi di sini. Kalau gak salah gue dengar si cewek ngomong gini,
“Ceweknya gak bisa main juga.” Hampir aja gue nangis guling-guling di lapangan
itu. Dengan waktu yang sangat sengit, AGS berjuang mati-matian membawa tim
batubara ke posisi satu. Dan dia berhasil!!! Kami juara 1. YESS…! HAMpir aja
gue lari meluk dia. Lagi-lagi gue menyadarkan diri sendiri.
Gue tatap
punggungnya yang banjir oleh keringat. Sempat muncul pikiran buat menghampiri
dia baru ngusap mukanya pakai handuk kecil milik gue. Atau haruskah gue kasih
air minum gue?
Pertandingan
belum berakhir, setidaknya untuk AGS. Dia mesti berjuang sekali lagi merebut
posisi juara 1 katanya di tim putra. Gue doain deh yang terbaik buatmu. Ketertinggalan
poin pun terjadi. Lawan udah 5 skornya, sedangkan mereka masih nol. Gue rasa
fokusnya AGS berkurang plus kecapean karena dari 10 kali dia nge shoot, gak ada
satupun yang masuk. Padahal tingginya dia sama ring itu beda tipis. Gue jadi
prihatin sama dia. Untunglah akhirnya di menit-menit terakhir, posisi skor
sama. Malangnya seorang pentolan shooter
tim AGS cedera kakinya dan terpaksa di gantikan. Karena poin sama dan waktu
sudah habis, wasit menambah waktu 1 menit. Gue liat si AGS berjuang mati-matian
seorang diri di sana. Gue terus teriak-teriak bilang ‘bisa’ kalau dia mau
lemparan bebas (atau apa itu sebutannya).
“BISAAA..”
teriak gue pas dia siap di posisi melempar. Gue menahan nafas, dan berbisik,
kalau lemparannya ini masuk, berarti dia juga suka sama gue. Dan.. trap! Bola melewati
ring denga mulus. Gue tersenyum nahjong kegirangan sendiri. Wasit meniup
peluitnya dan pertandingan berakhir dengan kemenangan di tim AGS. Cuma beda 1
poin, bayangin aja. Gue bisa merasakan betapa capeknya si AGS hari ini, membuat
dua timnya sekaligus masuk di posisi juara 1. Saluut dah gue sama dia, dan..
cinta!
Hari itu,
gue yakin kalau gue beneran jatuh cinta sama dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar