Rabu, 09 Maret 2016

ONCE UPON A TIME IN JOGJAKARTA [18 JANUARI - 26 FEBRUARI 2016]

Awalnya …
Aku juga bingung harus mulai dari mana. Soalnya cerita ini sangat-sangat panjang Oke, kita mulai dari berita bakalan diadakannya kursus pemetaan geologi. Aku tau karena di BC sama teman di BBM. Langsung aja aku gak semangat membacanya. Ah.. paling kursus autocad kalau gak minescape. Apapun itu, yang berhubungan dengan software terkait dunia tambang. Jadi aku tak peduli. Apalagi biayanya yang mahal. 800 ribu! Bayangkan aja.
Hingga beberapa hari kemudian aku tau bahwa tempat kursusnya diadakan di Jogja. Dimana? Di Jogja! Tempat yang dari dulu kupuja-puja dan sangat ingin kesana. Pikiran pun langsung berubah haluan. Otakku berpikir cepat, kepada siapa seharusnya aku meminta uang 800 ribu plus biaya transportasi. Ortu dan kak Ririn bilang gak punya uang. Tersisa satu harapan, abangku.
“Abang hanya punya uang 1 juta 500 ribu. Kalau itu cukup, yaudah kamu berangkat,” katanya pas kutelepon. Langsung kukalkulasikan dalam hati. Biaya kursus 800 ribu, tiket pesawat dan kereta api dari Surabaya-Yogyakarta kena 150 ribuan. Oke, sisa 100 ribu uang saku.
“Oke, Bang. Cukup. Kalau ongkos pulang belakangan aja dipikirkan. Soalnya kami di sana kan 10 hari. Ya sampai tanggal 28 Januari lah. Masih sempat nunggu gaji abang bulan Februari untuk ongkos ku pulang,” kataku senang luar biasa. Akhirnya, Jogja I’m coming!
Palangka Raya-Surabaya-Jogja …
Hari yang ditentukan tiba. Tiket pesawat dan kereta sudah diurus teman. Kita ada 27 orang dan hanya 3 cewek. Dari Palangka ke Surabaya. Dari Surabaya naik kereta ke Jogja. Waw, untuk pertama kalinya ngerasain naik kereta api. Serasa mau ke sekolah sihir Hogwarts. Pastinya nanti aku dimasukkan topi seleksi ke asrama Gryffindor. Kita tiba malam di stasiun Tugu Jogja. Kita tidur di stasiun, ngampar. Itu karena kita gak mau ngeluarin duit untuk nginap di penginapan atau hotel. Apalagi aku yang udah gak punya uang ini.
Untuk pertama kalinya juga aku makan gudeg disini, makanan khas Jogja. Enak sih, tapi lumayan mahal. 20 ribu. Keesokan harinya, hari Minggu. Kami memang hari itu akan dijemput Georesearch Indonesia tempat kami akan kursus 10 hari tapi sekitar siang jam 2. Makanya kami menitipkan barang di stasiun (membayar 50 ribu) dan kemudian kita ke Malioboro. Cihuy..! Aku gak percaya akhirnya menginjakkan kaki di Jogja. Ini serasa mimpi. Ah, Malioboro.
Kami pun foto-foto dengan latar belakang nama jalan itu. Pake tongsis tentunya. Sarapan di pinggir jalan, melihat-lihat kerajinan yang dijual, makanan dan masih banyak yang lainnya. Kita ke museum Vredeburg dan pasar beringharjo, soalnya itu aja yang sempat. Gak terasa udah mau jam 2 siang. Kita ngambil barang ke tempat penitipan tadi dan naik Trans Jogja ke bandara karena emang ditunggu di sana. naik TransJogja murah loh, Rp.7500.

Camp Georesearch di dusun Plosodoyong …
Rombongan dari Georesearch Indonesia, tempat kami akan kursus pemetaan geologi. Seorang laki-laki postur tubuh sedang dan rambut yang sudah memutih seluruhnya, menyambut kami dengan ramah. Beliau diikuti dua orang laki-laki yang mukanya jelas banget orang jawa. Semua saling bersalaman. Pak Pri, demikian beliau memperkenalkan diri. Aku salut dengan beliau, meskipun sudah begitu lanjut usianya tetap bekerja. Dua asistennya yang ternyata masih mahasiswa di STTNAS Jogja, kak Asik dan kak Taufik.
Acara penyambutan di camp dusun Plosodoyong desa Ngalang kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul, tempat kami akan kursus berjalan hangat. Beberapa mahasiswa dari STTNAS dan ITS-AKPRIND juga hadir dalam penyambutan itu. Juga siswa dari SMKN 4 Bojonegoro Jawa Timur. Setelah itu para cewek diantar ke camp yang terpisah sedangkan para cowok akan tidur di teras sebuah ruangan yang selanjutnya akan disebut kelas. Kelas ini sangat sederhana karena terbuat dari anyaman bamboo dan kayu sebagai tiangnya. Ada beberapa kursi lipat seperti yang biasa di kampus, sebuah kipas, lemari tempat menyimpan dokumen dan rak-rak berisi berbagai macam batuan. Di luar kelas, ruangan ini dikelilingi tanaman dalam pot yang begitu terawatt. Terakhir aku tau bahwa yang merawatnya adalah Pak Pri sendiri.
“Kalau disini menu makannya NTT-nasi tahu tempe. Tidur juga ngampar, mandi di sungai. Beginilah kehidupan orang lapangan. Kalian harus terbiasa dengan itu,” kata Pak Pri. “Tapi di atas sudah ada kamar mandi dekat camp cewek.”
Kami makan di tempat Pak RT setiap hari. Dan tentu saja ada yang piket mencuci piring. Di camp cewek selain aku, Ega dan Gilbi ada satu siswi dari SMK Bojonegoro. Namanya Dista. Badannya bongsor.

Rules …
Malamnya, kami belum langsung materi. Baru membahas seputar aturan-aturan selama di camp Plosodoyong, jadwal dan rincian kemana habisnya biaya kursus yang 800 ribu itu. Keren kan, gak seperti kebanyakan tempat kursus. Georesearch Indonesia ini sangat transparan. Dengan 800 ribu itu kami mendapat makan selama 10 hari, penginapan, boot, T-shirt, satu set alat tulis, clipboard, pita ukur (meteran), pensil warna, kaos kaki, topi cowboy, transport lokal ke lapangan (naik pick up putih yang diberi nama Babo), tour geologi ke museum kars Wonogiri dan museum Gunungapi Merapi (di hari ke-10). Itu juga udah termasuk biaya kesehatan kalau ada yang sakit dan pemakaian alat-alat seperti GPS, palu geologi, kompas dan pembuatan sertifikat. Malam itu semua peralatan pun dibagikan. Kami semua sangat senang, persis anak SD. Beberapa teman yang ukuran kakinya besar tidak tersedia ukuran boot-nya. Sedangkan T-shirt belum bisa dibagikan karena dalam proses pembuatan katanya.
 Setelah perincian biaya, masuk ke jadwal dan peraturan selama 10 hari Geocamp 1 ini. Ternyata ada Geocamp 2. Kalau Geocamp 1 belajar mengenal peta geologi, bisa membacanya dan membuatnya, maka di Geocamp 2 belajar tentang eksplorasi. Disinilah terdapat hubungan yang erat antara geologi dan pertambangan. Dapat kusimpulkan bahwa untuk kami yang teknik pertambangan ini seharusnya langsung ikut Geocamp 2 saja, tapi ternyata tidak bisa kata Pak Pri. Harus Geocamp 1 dulu. Ya meskipun materi di Geocamp 1 lebih ke geologi, seperti mengenal batuan, stratigrafi dan paleontology, membuat peta dan penampang. Sedangkan jadwal kami yaitu tiap jam 6 pagi olahraga, jam 7 sarapan, jam 8-10 kelas pagi (ada break), kelas siang sampai jam 12. Kemudian makan siang jam setengah 1, lanjut jam 2 kelas sore sampai jam 5, lalu istirahat/mandi. Jam setengah 7 makan malam dan lanjut kelas malam mulai jam 8-10 malam tidur. Kelas bisa digantikan dengan ke lapangan.  Efektif belajar kurang lebih 9 jam.
Tata tertib yang lainnya standar.
·         Wajib mengikuti semua program Geo-camp
·         Wajib mengenakan seragam selama mengikuti kegiatan kelas dan praktikum lapangan (untung kita bawa PDH)
·         Menjaga tata tertib dan kesopanan sesuai adat istiadat di daerah Plosodoyong
·         Mengenakan pakaian sopan ketika makan bersama
·         Dilarang buang air di sungai Ngalang (sekitar dusun)
·         Tidak diizinkan keluar camp setelah jam 22.00
·         Tidak merokok di dalam ruangan
·         Menjaga kebersihan
·         Dilarang menyalakan HP saat kegiatan kelas atau praktikum lapangan
·         Wajib melaksanakan piket (kurvei=mencuci piring setelah makan. Ini dibagi per kelompok. Jadi tiap kelompok bekerja untuk satu hari)
Mr Prihardjo Sannyoto & kesepuluh Asistennya …
Pak Pri, demikian beliau menyebutkan dirinya, adalah laki-laki tua yang sangat tangguh. Beliau seorang senior geologist yang lulus D3 dari sebuah sekolah tinggi di Bandung lalu langsung S3 ke universitas di Australia dengan beasiswa. Tentunya jurusan Geologi.
“Pak Pri tidak pernah ingin kuliah di jurusan Geologi. Dari dulu Pak Pri ingin jadi dokter. Tapi uang orang tua tidak mencukupi. Pak Pri kuliah di jurusan geologi karena teman Pak Pri ada yang bilang kalau jurusan ini enak. Jalan-jalan terus kerjaannya. Padahal kan maksudnya jalan-jalan masuk hutan keluar hutan,” kisahnya.
Teman-temanku tertawa ngakak. Sedangkan aku merenungi nasib sendiri kenapa kuliah di teknik pertambangan. Kesasar! Beliau juga memotivasi kami lewat cerita-cerita dan nasehat. Katanya, bahwa ketika kita berdoa, maka tangan Tuhan akan bekerja terus. Luar biasa laki-laki ini, pikirku. Hal lain yang kudengar tentang beliau adalah bahwa rumah beliau di Bandung, istrinya seorang katolik (Pak Pri islam), hanya punya seorang anak yang bernama Granito (geologist mah gitu, nama anak aja dari nama batuan, granit) dan seorang cucu. Istri beliau sering ditinggal namun katanya keduanya tetap mesra. Kata para asisten Pak Pri di Georesearch. Oh iya, ada 10 tuh kakak asisten di Georesearch Indonesia. Semua masih pada kuliah di STTNAS Jogja. Mereka lama baru masuk kuliah karena alasan biaya. Mereka kuliah dengan biaya sendiri, ortu tidak tau demikian. Kebanyakan mereka berasal dari Indramayu. Salut sama mereka. Two thumbs up! Dan kau tau? Jarak camp Plosodoyong ke kampus mereka ada kali 1,5 jam dengan naik motor. Mereka bolak-balik kampus-camp seperti itu setiap hari. Berikut orangnya.
1. Kak Asik
Nama aslinya Mashuri. Entah bagaimana orang-orang memanggilnya jadi kak Asik. Padahal orangnya sih yah, lumayan asik lah. Menurut rumor yang beredar (apaan sih), kak Asik ini paling tua dari semuanya. Udah semester 10 dan belum menyusun tugas akhir (TA). Kak Asik adalah wakil Pak Pri dengan kata lain tangan kanan yang lebih kanan bagi Pak Pri. Kak Asik ini mirip Ariel Noah waktu Noah masih Peterpan jaman dulu. Rambutnya lembut gitu, dan agak gondrong. Pokoknya mirip pangkasan rambutnya Kim Hyun Joong di Boys Over Flowers deh. Udah bisa byangin kan? Ganteng deh orangnya. Aku sempat naksir dia. Tapi pas tau dia udah punya pacar, langsung pengen gantung diri. Gimana gak, pacarnya tuh kakaknya kak Malik. Kak Malik ini asisten juga di Georesearch. Katanya sih!
Ada yang bilang usianya udah 27 tahun. Lambat kuliah karena sebelumnya kerja cukup lama dengan perusahaan luar negri. Wuih, keren kan. Kak Asik kalau menjelaskan materi (kadang Pak Pri kadang dia) pintar banget. Kata-katanya khas. Aku malah gak konsen kalau dia yang jelasin. Soalnya malah bengong ngeliatin mukanya. Gawat! Oh iya asalnya dari Indramayu. Dulunya SMK di sana juga, jurusan geologi pertambangan tentunya.
2. Kak Rianto
Yang satu ini suaranya sangat-sangat pelan kalau bicara. Kayak 0,01 desibel gitu. Eh, entar satu decibel berapa Hertz? Decibel itu apa? Udah tua juga, tapi lebih muda dikit dari Kak Asik. Sebelumnya juga udah pernah kerja sama perusahaan. Memang geologist ini kualitas ya, jam terbangnya udah tinggi. Kak Rianto tertarik sama budaya Batak. Dia sering minta diceritakan tentang budaya batak ke aku. Aku langsung bilang gini, “Nanti kudoakan kakak nikah sama orang batak, ya,” yang langsung diaminkan kakak-kakak asisten yang lain.
3. Kak Bitung
Yang satu ini asalnya dari Sulawesi, dari Pomalaa tepatnya. Namanya Laode Bitung. Laode itu marga keluarga, dan Bitung namanya sendiri. Lucu ya, kayak orang Bali. Marganya di depan. Kak Bitung menurutku dari wajahnya lebih tua dari Kak Asik. Tapi kenyataannya katanya gak. Masih semester 4 di STTNAS Jogja juga dan sering bilang aku itu kayak laki-laki. Kesal gak sih!
4. Kak Daman
Aku sempat salah paham sama kakak yang satu ini. Aku kegeeran gitu. Dia sih, sering ngeliatin aku gitu. Tiga kali aku nangkap dia lagi ngeliatin aku. Nah, pas kepergok dia langsung ngalihkan pandangan kea rah lain. Jadi aku kira dia … sama aku! Haks haks. Orangnya agak linglung, tapi kalau menjelaskan sesuatu suaranya meletup-letup. Tapi baik kok orangnya. Udah tua juga, tapi masih semester 5. Ya itu tadi, masuk kuliahnya lambat. Kurasa kakak-kakak itu punya prinsip kalau ijazah kuliah itu Cuma formalitas doing, yang terpenting adalah pengalaman kerja. Toh ilmu yang mereka dapatkan lebih banyak dari Georesearch daripada di bangku kuliah. Salut deh sama mereka. Terakhir aku tau kalau kak Daman ini juga udah punya pacar.
5. Kak Sugiarto
Namanya kayak menunjukkan dia orang jawa, padahal sebenarnya orang padang. Sama kayak kak Asik semesternya, tapi yang ini udah selesai ngurusin TA. Orangnya agak stress gitu. Entar deh aku tunjukin foto bukti kesetresannya itu. Gak tau entah sama aku aja, ngomong juga agak kasar. Jadinya aku kurang nyaman sama yang satu ini.
6. Kak Abdul
Orangnya pendek, putih dan suka linglung juga kadang. Dia pernah cerita ke aku kalau ibu (atau bapaknya) udah meninggal. Jadinya dia belum bisa kuliah. Katanya sih mau kuliah tahun ini di STTNAS Jogja. Orangnya rapi dan bersih. Aku gak terlalu sering ngobrol sama dia.
7. Kak Engkus
Gempal, hitam, rambut di belakang kayak preman. Juga belum kuliah. Pengen banget diajarin bahasa inggris sama aku. Tapi ya mana sempat juga. Dia mau nanya-nanya arti kalimat berbahasa inggris ke aku. Kujawab aja. Orangnya baik sih, kadang suka ngerjain aja.
8. Kak Taufik
Yang ini nih, yang sering bilangin aku pendek, anak kecil. Padahal dia tuh gak tinggi-tinggi amat kok. Paling 170-an lah.
“Ei anak kecil, makan sana!” Kalau gak “Magda si pendek dari Sumatra!”
Itu semua memang bercanda. Aku balas gini, “Kudoakan ya ka, istrimu segini,” aku membuat tanganku setinggi orang duduk. Pasti langsung dijawabnya, “Iya, segitu kalau duduk kan.”
Gak pernah sejarahnya dia mau kalah adu mulut denganku. Selalu ingin menang. Apapun akan selalu dijawabnya sampai lawannya gak ngomong lagi. Intinya aku sama dia tuh mirip tikus sama kucing. Tapi gak setiap hari juga sih kami adu mulut. Ada saat dimana aku nanya sesuatu sama dia dan dijawab serius. Seperti cara mengetahui di kedalaman berapa baru ditemukan batubara. Bayangin, dia yang belum kuliah, aku udah semester 6 malah nanya ke dia dan dijawabnya dengan lancar.
9. Kak Malik
Aku gak pernah ngomong serius sama yang satu ini. Sebenarnya dia masih semester 1, sekarang 2 lah. Aku segan aja gak manggil dia ‘kak’ seperti yang lainnya. Orangnya jangkung, hitam manis dan kakaknya dialah pacaranya kak Asik (menurut rumor yang beredar). Dia juga pernah jadi pendamping kelompok kami pas mapping di lapangan.
10. Kak Topyana
Malah yang satu inilah yang paling tua menurutku kalau dilihat dari muka. Atau mungkin seumuran sama kak Asik. Dia masih semester 7 kalau gak salah. Dari motornya kayaknya dia yang paling berada. Kak Top juga udah sering dapat proyek kayak kak Asik.
Itulah sekilas tentang Pak Pri dan jajarannya, eh asistennya.     
            Hari-hari di Plosodoyong …
Keesokan harinya materi pun mulai diberikan. Sesuai di jadwal, paling awal kita belajar tentang teori tektonik lempeng dan terbentuknya batuan. Pak Pri menjelaskan dengan suara yang sangat lembut, sehingga banyak diantara kami yang mengantuk. Sesuai kebiasaan di sana, kata pak Pri kalau ada teman yang ngantuk yang lainnya akan tepuk pramuka bersamaan dan diakhir bilang, “Kasian deh lu!” Cara seperti ini kurasa efektif untuk membuat seseorang malu luar biasa. Kuharap aku tidak menjadi korban.
Penduduk Jogja memang ramah luar biasa. Di jalan walaupun tak saling kenal harus tetap bertegur sapa, senyum dan menundukkan badan. Kebiasaan ini agak rumit untuk kami lakukan pada awalnya. Selama 10 hari itu ada saatnya kita di kelas menerima materi dan ada juga saatnya kita terjun ke lapangan. Mengamati batuan, struktur geologi yang ada, mapping dengan kompas geologi dan GPS, mengukur jurus dan kemiringan singkapan dan lapisan batuan, mendeskripsikan batuan di buku lapangan, mengambil sampel. Kadang juga membawa makan siang dan makan di lapangan. Menyusuri hutan, nyamuk jadi teman seperjuangan. Pokoknya kalau fisik dan mentalnya gak kuat jangan coba-coba deh. Kalau paginya sampai siang atau sore kami di lapangan, malamnya membuat peta. Peta lintasan, peta geologi, peta aliran.
Itulah yang terjadi setiap hari. Bangun, senam, mandi, sarapan, belajar, makan siang, lapangan, mandi, makan malam, belajar, istirahat malam.  Rasanya waktu berlalu sangat cepat ketika kami di sini.
Setelah beberapa hari belajar di Geo-camp, aku menyadari satu hal. Bahwa aku masih sangat-sangat dan sangat BODOH! Gak nyesal dah ikut kegiatan ini. Meskipun aku belum tau gimana nasib ongkos pulang ke Palangka.
Ulat Bulu …
Ada satu kejadian yang membuat aku ngerasa mereka memang sepakat mau ngerjain aku. Kan yang nyuci piring sehabis makan di tempat Bu RT disebut kurvei (teman-teman malah sering nyebutnya survey, kurva bahkan kursor).
Suatu pagi seperti biasa jam 6 kami harus senam. Hari itu kelompok kami yang petugas kurvei. Tiba-tiba salah seorang kakak asisten bilang, “Silahkan satu orang mimpin senam.”
Serentak semua menyebut namaku. Aku terkejut. Ada apa itu. “Apa? Ngapain?” tanyaku ke mereka.
“Yang kurvei satu orang mimpin senam ke depan. Kau katanya,” jawab seseorang bohong, tentu saja. Hanya karena aku gak dengar dengan jelas apa yang diucapkan tadi sama kakaknya. Aku dengan kesalnya maju. Memimpin senam asal-asalan. Tiba-tiba..,
“Kak, itu yang di celananya ada ulat bulu,” teriak seorang anak SMK sambil menunjuk celanaku. Aku yang terkejut meloncat dan memekik ketakutan. Semua tertawa. belum juga hilang rasa terkejut, senam dilanjutkan dengan mataku was-was menatap tempat ulat bulu tadi di celanaku. Aku gak tau dia udah dimana. Tapi kayaknya udah jatuh dan mungkin merangkak ke suatu tempat.

Pendakian Gunung Api Purba Nglanggran …
Tanggal 26 Januari pagi-pagi jam 5 kami bangun untuk pendakian ke gunung setinggi 700 mdpl itu. Kami naik Babo ke daerah Patuk, yang ikut Pak Pri, kak Asik dan kak Rianto. Aku mengenakan training, jaket biru tebal dan sandal gunung. Tanpa bawa tas. Kebanyakan teman memakai kaos oblong, jins dan sepatu kets, lengkap dengan tas. Emangnya kita mau ke pasar apa!
Tiba di pos sebelum trek pendakian. Menyelesaikan administrasi (bayar 5 ribu) dan go! Medannya seru abis. Melewati semacam terowongan sempit gitu, terus ada batu besar yang tertahan di atas. Gue serasa jadi Jebraw di seri Jalan-Jalan Men! Disebut Gunung Api Purba karena umurnya itu puluhan juta tahun dan merupakan bongkahan gunung merapi gitu. Sepanjang pendakian banyak papan-papan berisi larangan membuang sampah sembarangan, kata-kata nyemangatin untuk mendaki, dan peringatan berhati-hati selama mendaki. Soalnya batunya licin gitu, terjal juga. Sekali jatuh ya selesai. Baru nyampe pos 1 aja udah banyak teman yang ngos-ngosan. Aku? Udah biasa kale. Daki gunung, secara aku kan anak mapala. Naik yang 1980 mdpl aja udah pernah kok. Yang ada aku duluan melanjutkan ke pos berikutnya. Gak perlu takut tersesat karena ada papan penunjuk arah juga. Beberapa kali aku juga sempat mengambil foto dengan latar pemandangan yang pecah abis dari ats (belum puncak loh!)
“Eh, tungguin dong. Gak usah cepat-cepat,”kata Hendra. Yaelah masa dia kalah sama cewek? Akhirnya aku yang memimpin jalan diikuti Gluck. Salah seorang cowok menyebalkan. Namun kemudian..
“Da, kok jalannya putus di sini? Kita tersesat?”
Dalam hati aku juga sempat takut, tapi gak kuperlihatkan. Stay calm. Aku balik lagi ke belakang dan memilih jalur kanan. Dia mengekor. Ah, untungnya jalannya ketemu dan membawa kita sampai ke puncak. Kita yang pertama di sana. semua kelihatan jelas dari sini. Tak lama kemudian yang lain bermunculan dengan muka setengah mati. Kecapean.
Mulailah ke-alay-an terjadi. Tulis-tulis sesuatu di kertas pake spidol dengan huruf besar-besar. Aku juga ikutan sih. Soalnya si Anita minta dibuatin kayak begituan. Jadinya kutulis: Anita, dapat salam dari Gunung Api Purba Nglanggran 700 mdpl. Yogyakarta, 26 Januari 2016. Ya alay sih, tapi gak separah temanku yang lain yang nulis macam-macam. Ada yang nulis: Hello, my future wife! Atau: Good morning Sunshine becomes you! Kalau ucapan selamat ulang tahun sih masih mending. Itu tuh yang paling parah. Istri masa depan. Bayangin! Kayak dia udah yakin pasti banget pacarnya itulah yang akan jadi istrinya. No one knows our future. Only God. Right? Selanjutnya sesi pemotoan. Kak Rianto ikut juga sampai pucak. Aku bergaya dari berbagai sudut puncak dengan berbagai pose juga tentunya. Untung gak bergulir ke bawah!
Pas turun ke bawah aku juga yang pertama. Pak Pri sama Kak Asik nungguin di babo.
“Gimana rasanya?” tanya Pak Pri.
“Luar biasa, Pak,” jawabku. Beliau menepuk pelan pundakku. Kak Asik tersenyum.

Museum …      
Aku belum pernah ke museum. Setahuku museum itu tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Itu aja. Pada hari terakhir di geocamp,tepatnya tanggal 28 Januari, rombongan kami berangkat ke museum Kars di Wonogiri Tengah. Pak Pri dan Kak Asik yang mengawal rombongan ini.
Kami melewati gua yang pendek sebenarnya. Baru kali itu aku melewati gua. Sensasinya ituloh, kayak di film-film petualangan. Teman-teman banyak yang bertanya pada Pak Pri dan Kak Asik. Tapi aku memilih menikmati saja tour geologi ini dengan melihat-lihat. Pertanyaan yang muncul di benakku kuusahakan kujawab sendiri. Jawabannya maksa gitu.
Apa itu kars?
Kars adalah bentang alam yang luas yang terbentuk dari batugamping atau dolomite. Di museum semuanya jelas. Bagaimana proses terbentuknya, apa factor yang mempengaruhi, apa manfaat kars bagi manusia. Semua lengkap dijelaskan di museum ini. Sesekali kami berfoto dengan latar belakang kars tiruan atau stalagtit atau stalagmite. Bahkan ada juga semacam tiruan gua. Beberapa teman membeli T-shirt di museum ini sebagai oleh-oleh. Aku? Mana punya uang!
Selanjutnya petualangan berlanjut ke museum gunungapi di.. dimana ya? Lupa. Masih mirip dengan museum sebelumnya. Emang semua museum mirip kali ya. Kan fungsinya sebagai sumber informasi, menambah pengetahuan. Di museum gunungapi kita belajar bagaimana proses terbentuknya, bagaimana proses erupsi hingga meletusnya, dampak bagi lingkungan, dsb.
Ketika makan siang dari bekal yang dibawa dari camp Plosodoyong, aku teringat sesuatu. Camp Sleman. Karena belum punya uang untuk beli tiket pulang aku harus tinggal sementara waktu di Jogja. Jadi daripada nginap di penginapan yang harus mengeluarkan duit, Pak Pri pernah bercerita tentang camp Georesearch yang ada di Sleman.
“Pak. Di camp Sleman ada yang jaga, Pak? Saya rencananya mau nginap di sana untuk beberapa hari.”
“Oh, silahkan. Ada Mbak Kezia yang jaga. Silahkan saja,” kata Pak Pri.
Aku lega. Setidaknya setelah nanti anak-anak bubar dan mengambil jurusan masing-masing, aku udah tau harus kemana.

Malioboro (lagi) …
Selesai dengan museum, rombongan kami menuju Malioboro. Rencananya makan malam lesehan di angkringan dan disinilah akan berpisah. Sedih banget gak sih. Aku sejak 3 hari terakhir aja udah sedih mikirin bakalan ninggalin Plosodoyong, ninggalin Jogja. Kok 10 hari singkat amat ya, serasa 3 hari aja loh! Gak rela..
Acara makan berlangsung dalam damai. Setelah itu Pak Pri menyampaikan pidato perpisahan yang sebenarnya lebih banyak berisi nasehat untuk kami. Sesuai kesepakatan, setelah makan dan pidato, kita pun mengambil jalur masing-masing. Ada yang nginap di hotel, atau penginapan sekitar Malioboro. Aku dan beberapa teman memutuskan untuk tinggal di camp Georesearch yang ada di Sleman. Kita pun diantar ke sana naik Babo.

Camp Sleman …
Sesuai rencana, setelah acara makan bersama di angkringan Malioboro selesai, rombongan pun bubar. Ada yang menginap di hotel, tempat teman, keluaraga. Aku sudah fix akan nginap di cmp Sleman malam itu dan untuk beberapa hari ke depannya. Ternyata ada beberapa anak yang memutuskan ikut denganku, ingin menginap di camp itu juga.
“Daripada bayar di penginapan, mending di sini gratis,” kata mereka. Pikirku dalam hati, kalau aku punya uang mau bayar nginap juga gak masalah. Tapi ini benar-benar sekarat. Gilbi, Ega, Riski, Yosef, Martoni, Hendra, Nobel, Andre, Ali, Enggar. Kami pun tinggal di camp itu. Dan ternyata Pak Pri menugaskan Kak Taufik untuk ikut tinggal di sana mengawal kami selama kami di sana.
Aku, Ega dan Gilbi dipersilahkan Pak Pri untuk menempati kamar beliau. Waw, ternyata banyak buku di sana, satu rak buku tentang ilmu geologi berbahasa inggris semua. Pak Pri kan S3dari Australia. Beliau mendapat beasiswa ke sana. Kita juga sempat baca-baca tesisnya Pak Pri. Tentang apa gitu, tapi tempat penelitiannya di Kalimantan. Aku harap suatu hari aku juga bisa kuliah ke luar negeri dengan beasiswa. 
Di camp ada Mbak Kezia yang bertugas mengurusi camp. Mbak Kezia juga memelihara banyak kucing di camp itu. Makanannya? Mereka vegetarian, soalnya hanya diberi tempe aja. Tempe yang direbus, diberi garam dan dihaluskan.
Malamnya kita makan nasi kucing yang dibeli dari angkringan di depan. Memang apa-apa di Jogja ini murah-murah. Aku gak habis pikir, apa mereka yang jualan gak ngerasa rugi ya? Gorengan aja udah sebesar bola kasti dijual lima ratus rupiah. Aku yakin di Palangkaraya itu pasti udah Rp.1.250 per biji. Setelah makan, teman-teman mulai menyusun rencana jalan-jalan.
“Harus kira rencanakan benar-benar supaya gak ada yang tempat yang terlewatkan,” begitu kata Andre.
Ah.. aku gak berdaya. Uangku gak ada lagi. Mau bilang apa juga! Mereka berencana akan ke Candi Borobudur dengan merental mobil seharian. Sewanya dibagi adil ke tiap yang ikut. Lalu Candi Prambanan, ke Parangtritis. Tapi aku tetapkan harus ikut mereka ke Candi Prambanan. Sisanya aku gak ikut lagi. Hanya Prambanan. Keesokan harinya kami naik angkot ke Malioboro, lalu naik TransJogja ke Prambanan. Tiket masuk 50 ribu. Luar biasa. Gak makan lagi aku malam ini!
Memasuki candi agama Hindu itu aku ternganga dengan bangunannya yang ternayata sangat bagus. Dari batu, keindahan dari batu. Aku membayangkan apakah roh Loro Jonggrang tinggal di candi Prambanan itu? Setauku candi prambanan terbentuk ada hubungannya dengan penolakan cinta Loro Jonggrang ke seorang pemuda yang kemudian mengutuknya menjadi batu. Di candi prambanan banyak juga turis mancanegara. Lihat saja ada perempuan inggris yang berposes sikap lilin di depan candi. Temannya memfotonya atau bisa saja direkam juga. Setelah puas berfoto ria, kembali ke camp.
Keesokan harinya adalah saat yang menyedihkan. Mereka semua ke candi Borobudur dengan mobil sedan yang dirental untuk seharian. Aku memutuskan ke tempat-tempat sekitar Malioboro. Ke Keraton, Taman Sari, Taman Pintar, took buku, Mal Malioboro dan yang paling rese adalah nyari gitar titipan si Sahat. Tapi gak papa, soalnya dia mau ngasih minjam uang 200 ribu kalau dia bisa nitip beli gitar dari Jogja.
1. Perpustakaan daerah
Dengan penampilan mirip ala backpacker sejati, berangkatlah gue sendirian mengeksplorasi Malioboro.
“Magda, jangan kesasar ya, apalagi sampai hilang. Nanti kami yang dituntut loh karena ninggalin kamu sendirian di sini,” kata mereka waktu nurunin gue dekat Malioboro.
“Jangan khawatir. Aku udah biasa jalan-jalan sendirian. Masa seorang backpacker kesasar? Oh iya, nanti malam aku ikut nebeng pulang ya, aku nunggu kalian di sini. Malam pulang jam?”
“8.”
Kita pun berpisah. Dengan sandal gunung, celana jins pendek dan kaos putih lengan panjang ditambah topi hitam, gue lebih mirip pencopet dari backpacker kayaknya. Tapi gak papa. Let’s go!
Tempat pertama yang gue datangi adalah perpustakaan daerah yang terletak di jalan malioboro ini. Awalnya gue penasaran aja. Setelah mengisi buku tamu dan menyimpan tas di loker gue mulai melihat-lihat. Ternyata benar-benar apik. Kebanyakan yang ada di sana adalah koran dari tahun-tahun sebelumnya, pastinya udah lama banget. Koran itu dijilid rapi dalam satu jilidan bercover tebal. Gue ketemu dengan seorang ibu yang ternyata lagi kuliah s2 di UGM. Gila, gue gemetaran. Apalagi pas nyebutin kampus gue sendiri, unpar. Kayak gue semut, dia kalajengking. Si ibu lagi nyari artikel gitu buat tugasnya. Gue lupa si ibu jurusan apa.

2.Taman Pintar
Gue kira yang bisa masuk ke sini hanya anak-anak sekolahan gitu. Ternyata untuk umum. Ada beberapa wahana dan tiketnya berbeda-beda harganya. Ada memorabilia, planetarium,. Gue beli 1 tiket untuk memorabilia dan 1 tiket untuk boat air. Gila, entah apa yang merasuki gue ingin naik kayak gituan.
Di arena memorabilia mirip museum gitu. Foto-foto (atau lukisan) besar para sultan Joogja dan informasi seputar keraton, lanjut dengan pahlawan-pahlawan nasional, pendidikan dan kemerdekaan. Baru gue masuk ke wahana sains. Sebelumnya diawali dengan akuarium besar kayak seaworld gitu, terus latar dinosaurus dan kehidupan purbakala lengkap dengan musik suara si dinosaurus yang waw. Memasuki arena sains, disini berbagai teori tentang ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, dan lain-lain dibuktikan. Ada alat peraganya gitu. Terus ada sederetan foto besar-besar para ilmuwan hebat; Einstein, Hawking, Newton, Copernicus. Dalam hati gue bertanya-tanya kapan foto gue ditempel di antara mereka.
Oh iya, tiket boat air tadi ujungnya gue kasih sama seorang ibu yang kebetulan lagi duduk-duduk santai dengan anaknya di area taman pintar. Diterima dengan senang hati. Selanjutnya gue keliling di sekitar took buku dekat taman pintar. Beli beberapa buku.

3.Keraton & Taman Sari
Mungkin karena kelamaan di Taman Pintar, Keraton malah udah tutup. Pas gue tanya kok cepat amat, seorang bapak menjelaskan tutupnya emang jam segitu kalau hari Jumat, jam 14.30. Hah? Udah jam segitu aja, gak kerasa. Meski agak kecewa, berbekal petunjuk jalan ‘Taman Sari 1 km (panah ke depan)’, gue pun bergegas kesana. Moga aja belum tutup. Bayangin aja, begitu banyak ojek yang nawarkan diri tapi gue tolak dengan halus semua. Alasannya tentu saja menghemat uang.
Untungnya Taman Sari belum tutup. Ternyata Taman Sari itu berupa bangunan peninggalan tempat peristirahatan sultan-sultan Jogja dari sultan Hamengkubuwono I. Tiket masuknya  5 ribu. Gue pun berkeliling, sesekali selfie gak jelas dengan hp rongsokan, sesekali minta tolong difotoin sama orang dan sesering mungkin galau karena hanya gue yang gak rombongan. Dengan kata lain hanya gue yang sendiri, tanpa seorang teman pun. Sempat juga ngebayangin yang lain di candi Borobudur pasti lagi senang-senangnya mereka. Sedangkan aku?
“Permisi, Pak. Kalau terowongan yang dibilang itu sebelah mana ya?” tanya gue ke seorang bapak. Gue malah diserahkan ke seorang pemandu yang man ague langsung takut kalau harus kasih dia bayaran nantinya. Gue diantar ke bagian dapur istana dulu, yang ada sumur di dekatnya.
“Ini namanya sumur. Coba mbak ngebelakangin sumurnya, terus bilang permintaanya, lalu lempar koin. Kalu koinnya masuk ke sumur berarti cita-citanya akan terwujud,” jelas si bapak.
“Oke, Pak. Dari sini saya lanjutkan sendiri saja. Tidak apa-apa, terima kasih,” kata gue takut-takut seandainya beliau minta bayaran. Tapi ternyata gak. Gue segera mencari uang logam di dompet, ada logam dua ratus dan lima ratus. Balik kanan, gue sebutin keinginan gue untuk kuliah di luar negeri, lempar koin dan .. masuk! Gue takjub. Satu keinginan lagi dengan logam lima ratus, ingin jadi penulis terkenal, ..blub! masuk lagi.
Gue naik lagi ke atas, nyari jalan pulang. Soalnya udah mau tutup jam 4. Ketemu lagi sama si bapak tadi. Kita malah ngobrol.
“Mbak ini sepertinya orangnya tertutup ya,” katanya setelah gue menyebutkan nama dan asal gue.
“Kenapa pak?”
“Tadi saya temani malah gak mau.”
Astaga. “Bukan begitu pak. Saya takutnya bapak sebagai guide harus saya bayar lagi pak, seandainya jadi pemandu saya. Saya gak bawa uang lebih.”
Jujur lebih baik. Dan itulah yang terjadi, gue sama si bapak malah ngobrol akrab banget. Beliau cerita tentang tamu-tamu yang pernah dipandunya yang datang dari luar negeri, daerah, bahkan menunjukkan foto-fotonya dengan mereka. Bercerita dengan cepat dan logat jogja yang membuat gue kadang susah nangkap isi ceritanya. Si bapak juga cerita tentang keluarganya. Di sini agak sedikit sedih. Gak usah deh gue ceritakan.
“Mbak ini sebenarnya cantik loh,” katanya tiba-tiba setelah ada selang waktu berhenti. “Hanya perlu sedikit ini,” katanya sambil berlagak memolesi wajah. Mungkin maksudnya make up. “Saya salut sama mbak, pemberani. Pasti senang jalan-jalan ya? Keliatan dari sandalnya.”
Gue ngeliat kaki gue sendiri yang sekarang udah makin hitam karena jalan kaki seharian kesana-kemari.

4. Nyari gitar
Gak pernah ngebayangin bakalan nerima titipan teman buat beli gitar di Jogja ini. Lha gue juga gak tau gimana gitar yang bagus, di  sudut mana gue harus nyari di sini. Sahat, Sahat! Kalau aja gak karena lu kasih gue minjam duit lo 200 ribu. Gue gak bakalan mau pusing-pusing sambil keliling nyari gitar. Yang pasti pulang dari Taman Sari gue lewat dari alun-alun dan ngeliat anak-anak udah balik dari Borobudur. Tapi gue gak ngelambaikan tangan. Biara aja deh, toh gue  masih harus nyari gitar. Lagian mereka lagi nyantai aja kok duduk di depan keraton.
Beberapa toko alat musik yang gue datangi malah kehabisan stok gitar akustik Yamaha. Di toko ketiga barulah ketemu. Setelah gue nyaris pingsan berjalan kaki mengitari setengah kota Jogja hanya untuk menemukan gitar akustik Yamaha berwarna hitam itu. Harganya dari 375 gue tawar jadi 350 ribu. Berita sedihnya itu belum termasuk sarung gitarnya. Mesti nambah lagi 75 ribu untuk si sarung. Rasain itu, Sahat. Lu kirim duit buat beli gitar cuma 400 ribu. Tanpa sarungnya, bisa lecet nih gitar! Setelah itu gue ke Mal malioboro. Ternyata ada diskon di toko buku gramedia. Beli buku lagi! Pas teringat papan keyboard laptop yang udah banyak rusak tombolnya, gue pun beli. Dapat 52 ribu.
Masalah timbul lagi waktu nungguin teman-teman mau pulang ke camp Sleman. Melenceng 1 jam lebih dari janji. Jadinya gue kayak orang kesasar nungguin mereka di pinggir jalan, di samping gitar sambil megang kresekan berisi buku dan keyboard laptop. Ransel di pundak. Berulangkali orang nanyain gue mau kemana. Gue bilang aja nunggu teman. Ketika akhirnya mereka datang..
“Eh, si anak kecil gak tersesat toh?” kata Kak Taufik. Iya, dia senang banget manggil gue anak kecil karena gue pendek. Yang lainnya langsung heboh pengen liat gitar yang gue beli.

Satu per satu pergi …
Mungkin karena masih punya banyak budget, teman-teman ada yang pergi ke tempat lain lagi. Gilbi, Ega, Martoni dan Riski ke Bandung. Katanya di Bandung ada tantenya Ega. Ali dan Enggar ke Malang, ke rumahnya Ali. Beruntung sekali mereka. Tinggal gue, Nobel dan Andre. Sudah tanggal 31 Januari. Nobel sama Andre juga udah mesan tiket pesawat untuk berangkat tanggal 3 ke Jakarta. Gue gimana nasibnya?
Semakin sepi, tinggal kami bertiga. Berempat sama kak Taufik. Mungkin dia ditugasi Pak Pri di sini sampai kami semua meninggalkan camp. Malam itu gue nanya kak Taufik. “Bisa gak tinggal disini lebih lama lagi?”
Dia gak jawab. Jawab sih tapi gak jelas. Bisa atau gak. Besoknya gue ikut sama mbak Kezia ke gereja protestan. Gue kira mbak Kezia muslim, sekalinya Kristen. Sepulang gereja kita makan lotek di warung pinggir jalan. Terus ke gramedia karena gue pengen liat ransel. Ada ransel Rei yang diskon 30%+20% dari harga 438 ribu jadi 232 sekian. Omg! Andai aja gue punya duit segitu. Udah gue ambil itu tas. Keluar dari gramedia dengan muka lesu.
“Mbak, saya rencananya mau cari kerjaan di Jogja ini. Ada gak ya? Soalnya tiket pulang belum dikirim abang saya. Di Kalimantan juga belum masuk kuliah. Jadi saya pikir, bisa gak ya nginap lebih lama lagi di camp Sleman?”
Mbak Kezia natap gue dalam-dalam. Mungkin berpikir, betapa mandirinya anak ini. “Kalau kerjaan banyak. Nanti kita lihat di koran. Di rumah ada kok koran kemarin. Kalau masalah nginap di Sleman nanti kita tanya Pak Pri.”
Kita melewati kampus UGM. OH MY GOD!! Kampus yang sempat jadi dambaan gue untuk kuliah di sana, di jurusan sastra inggris. Gak terwujud.
“Mbak, kita bisa berhenti bentar? Minta tolong fotoin saya di gerbang kampus ini.”

Nyari lowongan pekerjaan di koran baru kali itu gue lakuin. Susah juga ternyata, soalnya hurufnya kecil-kecil dan ada buanyak banget kolom lowongan kerja. Mbak Kezia bantuin nyari yang dekat-dekat camp aja biar gampang. Kita berhasil menemukan 2 yang memenuhi syarat. Yang satu restoran yang membutuhkan karyawan cuci piring dan satu lagi toko peralatan bayi yang butuh karyawan. Masalah gaji belakangan deh, mikirin diterima gak nya dulu. Untung si Nobel bawa laptop. Malam itu juga surat lamaran diketik, minta tolong Kak Taufik. Mata gue gak bisa liat jelas kalau malam gini, apalagi ngetik. Lampunya remang juga. Selesai, tinggal besok ngeprint entah dimana. Pastinya nyari tempat ngeprint bareng mbak Kezia.
Udah tanggal 2 Februari. Besoknya, tanggal 3 Nobel sama Andre pergi. Tinggal gue dan sepotong harapan buat kerja di Jogja.

Pak Pri dan Bu Veronika …
Surat lamaran udah selesai dan tinggal print. Suatu pagi yang cerah gue tiba-tiba dibangunkan dan .. disuruh menghadap Pak Pri. Lho? Gue salah apa ya.
“Cepat Magda. Kamu disuruh jumpai Pak Pri di ruang depan,” kak Taufik ngasih tau. Dengan muka baru bangun gue pun ke sana. Ternyata beliau dengan istrinya, Bu Vero atau Mrs.Sannyoto atau Bu Pri!
“Pagi,”sapa Bu Pri. Gue keselek karena disapa duluan sama yang tua. Mereka sedang sarapan pagi. Gue senyum. “Silahkan duduk,”kata Pak Pri. Kok jadi kayak gue mau wawancara kerja gitu ya?
“Pak Pri udah dengar semuanya dari mbak Kezia. Jadi Pak Pri pikir daripada Magda kerja lebih baik ikut Pak Pri lagi ke Plosodoyong. Nanti tanggal 9 Pak Pri ke Ampah, Kalimantan Tengah untuk uji kompetensi anak SMK di sana. Magda bisa ikut sama Pak Pri dan jad asisten, sambil belajar pemboran dan geofisika.”
WHAT??? ASISTEN? PEMBORAN? GEOFISIKA?
“Tapi, Pak ilmu saya juga belum seberapa.”
“Makanya ikut bapak sekarang ke Plosodoyong. Di sana anak-anak AKPRIND dan STTNAS sedang ikut geocamp 1. Magda ikut aja bergabung.”
Gue mikir init uh kesempatan langka banget dalam hidup. Artinya tiket gue ditanggung sama Pak Pri. Gue bisa liat pemboran dan geofisika yang seharusnya ada di materi geocamp 2. Artinya teman-teman gue tertinggal selangkah dari gue. Artinya kalau gue balik lagi ke Plosodoyong bakal ketemu Kak Asik lagi. Yes! Gue fix harus ikut.
“Gimana tawaran Pak Pri? Diterima atau tidak?
Dengan tersenyum gue jawab, Saya terima nikahnya, Pak!”

  Plosodoyong (again) …
Hanya membawa satu ransel berisi 4 pasang baju, alat mandi, handuk dan sarung. Koper dan gitar gue tinggal aja di camp Sleman. Kata Pak Pri nanti bisa singgah dulu buat ngambilnya sebelum terbang ke Kalimantan. Pagi itu cukup mengharukan, perpisahan dengan Andre sama Nobel. Keduanya agak iri mungkin dengan nasib yang menimpa gue. Rencananya mau cari kerjaan di Jogja, malah ditawarkan belajar lagi ke Plosodoyong. Berani bertaruh seandainya mereka belum pesan tiket untuk besok pasti mereka juga mau ikut lagi ke Plosodoyong. Gue salamin semua orang. Bu Pri memberi gue bungkusan nasi dan air minum.
Di tengah jalan gue teringat sesuatu yang rasanya langsung menceloskan hati gue. Saking rumitnya gue pikir sesuatu yang sedang terjadi saat ini, gue lupa masukin dalaman pas packing tadi! Sesuatu banget.
Pak Pri minta gue cerita awalnya gue kuliah di jurusan tambang, bagaimana keadaan keluarga gue. Ya semua gue ceritakan tanpa sungkan. Tentunya apa yang terjadi itulah yang gue ceritakan. Bahwa gue salah jurusan dan lain-lain. Selesai cerita, beliau ngasih nasehat-nasehat dan cerita pengalamannya kuliah dulu. Setelah itu beliau bersenandung mengikuti alunan musik kontemporer gitu dari dasbor mobil. Gue melihat ke luar ke kiri jalan. Dalam hati berpikir ini tuh lucu banget, gue balik lagi ikut geocamp 1 ke Plosodoyong. Sendirian lagi. Apa kiranya yang akan Dista, kakak-kakak asisten dan Bu RT pikirkan?
Setibanya di Plosodoyong, gue langsung nyimpan ransel ke camp cewek. Gak ada Dista di sana. Tapi banyak ransel di ruang depan. Kayaknya anak-anak SMK Indramayu udah datang. Setelah sarapan, gue ngeluarin handuk buat dijemur. Dan ..
“Kayaknya kenal sama dia,” kata suara di belakang gue. Gue balik badan. Kak Asik dan kak Rianto sedang benerin sesuatu di dekat sumur. Gue takjub.
“Kok balik lagi, sendirian?” tanya kak Rianto.
“Eh itu, kak. Plosodoyong memanggil saya lagi.’
Keduanya tercengang dengar jawaban gue yang pasti gak masuk akal menurutnya. Bodo amat, segera gue turun ke kelas di bawah dimana Pak Pri lagi ngasih materi untuk mahasiswa-mahasiswa Jogja.

Flores atau Papua …
Gue cepat mengakrabkan diri dengan mereka. Keadaanlah yang memaksa gue harus demikian. Yang lucu dari mereka adalah logatnya, logat timur yang kayak orang papua gitu. Kau punya buku bagi saja; tidur sudah; nanti kau juga yang ketahuan, toh? Pokoknya tuh geli dengar mereka ngomong. Iya, banyak yang dari Sulawesi, flores, papua. Dan yang paling somplek adalah gue dijodohin sama Berto dan Paldo, masing-masing dari Flores dan Papua. Gue harap kalian udah bisa membayangkan rupa mereka tanpa gue deskripsikan di sini. Yang memulai itu pertama adalah si Klinton, anak Banjarmasin yang bapaknya batak dan mamanya banjar. Si Klinton silalahi. Tapi logatnya ketimuran, kayak Berto sama Paldo. Apalagi gak sengaja gue, Berto dan Paldo satu kelompok buat mapping ke lapangan. Tamat riwayatku!
“Ayo Magda. Kau tinggal pilih saja. Mau ke Flores atau ke Papua. Toh semua mengarah ke timur.” Si Berto malah memperparah keadaan dengan ngomong kayak gitu.
Datang si kribo Jo (orang batak juga, lupa marga apa), “Persaingan yang ketat ini. Tapi Paldo bisa saja menang kayaknya. Dia pasti udah menyusun rencana untuk melarikan Magda ke Papua.” Semua tertawa.
Dasar!
Anak STTNAS sama aja dengan anak-anak AKPRIND. Gue senior loe pada, tau! Gue semester 5, kamfert!! Mereka semua semester 3 juga. Kalau si Paldo sih masih ada sopannya, dia mau manggil gue ‘kakak Magda’. Tapi si Berto? Malah manggil gue beb. Waras abis. Beb, hati-hati ya, batunya licin. Spontan satu kelompok ketawa. Bahkan tanpa sungkan-sungkan minta difoto berdua sama gue, tanpa nanya gue mau atau gak.
Gak terasa 10 udah berlalu. Geocamp 1 untuk mereka selesai. Sama seperti kami kemarin, setelah dari museum mereka kembali ke kos masing-masing di Jogja tentunya.

Alone …
Setelah anak-anak STTNAS dan AKPRIND pergi, gue kesepian. Anak-anak SMK yang lagi prakerin (praktek kerja industri) sibuk dengan kegiatan lapanagan, mapping dan mengerjakan peta, sedangkan para kakak asisten sibuk membimbing mereka. Gue sering sama kak Taufik jadinya. Makan ke tempat Bu RT juga barengan sama kakak asisten. Kami makan setelah anak-anak SMK selesai makan. Itu pun di dapur, bukan membentuk lingkaran di ruang tengah. Lama-lama serasa gue juga udah jadi asisten di Georesearch. Nyatanya kan, belum.
“Kak, ajarin GIS dong,” kata gue suatu siang ketika sedang bosan main onet terus di hp.
“Belajar sendiri aja. Saya lagi sibuk, anak kecil yang pendek,” jawabnya. Yaelah segitunya. Belajar sendiri pake apa? Laptop siapa?
“Kudoakan nanti istrimu juga pendek,” balas gue lalu pergi makan ke tempat Bu RT. Di sana ternyata kakak yang lain juga lagi makan. Ada kak Asik, kak Rianto, kak Daman.
“Makan, Magda.”
“Iya kak, ini mau makan.”
Gue menyendok nasi ke piring. Karena meja tempat nasi dan lauk di depan mereka yang lagi makan, gue agak risih juga mau ngambil banyak. Nanti dipikir, ini anak badannya kecil makannya banyak amat. Jadinya gue ambil sedikit, tapi..
“Makan yang banyak, Magda,” kata kak Asik. Oh my God!
“I..Iya kak. Ini udah banyak kok.”
“Mana juga, itu kok dibilang banyak. Sedikit tuh.”

Setelah makan, gue mau cuci piring dan menawarkan diri untuk cuci piring mereka juga. Tapi gak ada yang mau. Gue pun cuci piring sendiri baru ke camp cewek. Ngapain? Tidur. Dista juga tidur ternyata.  Begitulah hari-hari gue selanjutnya. Bangun pagi, mandi jam 10, nonton di laptop Dista, makan siang, ke kelas ketemu kak Taufik cerita-cerita tentang pemboran, ke warung mbah makan gorengan, tidur lagi. Pak Pri lagi di rumahnya yang di Bandung. Tiba-tiba sore itu malah datang naik jeep dengan 2 orang cewek yang sepertinya masih kuliah. Seorang dari Ampah Kalimantan Tengah namanya kak Tesa yang lagi kursus bahasa inggris di Jogja karena ingin kuliah s2 ke luar negeri, jurusan arsitek.
“Orang Batak?” tanyanya saat kita salaman.
“Langsung tau ya, Kak,” kata gue.
“Iya soalnya mukanya orang Dayak tuh__”
“Gak ada yang sehitam ini,”potong gue. Semua tertawa, temannya kak Tesa juga.
Gue harap suatu hari gue juga bisa kuliah ke luar negeri dengan beasiswa tentunya, seperti Pak Pri. Semoga ya Tuhan.
“Magda, Pak Pri besok berangkat duluan ke Ampah. Nanti you sama Taufik nyusul lusa atau lusanya lagi,” kata Pak Pri.

Tapi setelah Pak Pri di Ampah, lusa atau 3 hari kemudian, gue sama kak Taufik belum juga berangkat. Gue gak tau apa yang salah. Kak Taufik Cuma bilang gue sabar aja. Gak apa-apa lah. Toh belum kuliah juga. Tapi kenapa belum ke sana juga ya?
“Kak kita belum berangkat kenapa ya?” tapi dalam hati gue tebak gara-gara uang untuk tiket pesawat.
“Uangnya belum ada.”
Jleb! Kemudian gue mulai mikir, abang gue udah kirim duit 600 ribu buat tiket pulang gue. Apa gak semestinya gue bilang aja gitu ya, terus gue bisa pulang aja. Di sini juga gak ngapa-ngapain gue.
“Terus kak..”
“Ini, Pak Pri mau ngomong sama kamu,”kak Taufik ngasih hp-nya. Gue temple di telinga.
Pak Pri cerita kalau di sana terjadi sedikit masalah dengan anak-anak SMK yang uji kompetensi. Masalah gimana beliau gak cerita. Gue pun bilang perihal uang gue yang udah dikirim.
“Kan belum kuliah. Kenapa mesti cepat-cepat pulang? Pak Pri tanggal 18 mau ke Jatirogo. Di sana uji kompetensi juga, Magda bisa belajar lihat pemboran dan geofisika,” kata beliau. Gue pun setuju.

Kak Taufik yang Nyebelin …
Ada satu kejadian dengan manusia yang satu itu yang bisa dibilang cukup membuat kesal jiwa dan raga.
Suatu Minggu, gue sempat kepikiran ingin ibadah ke gereja katolik di daerah dekat Wonosari. Lumayan jauh memang dari Plosodoyong. Karena lumayan jauh, kendaraan gak ada, plus gak ingin ngerepotin orang lain, gue pun mengurungkan niat tadi. Tapi kak Taufik malah ngomong gini, “Magda, kamu gak ke gereja?”
Gue pikir mending gue pura-pura lupa aja. “Hah? Ini hari Minggu ya, Kak?”
“Dasar anak kecil dari Sumatra. Hari aja bisa lupa, iya ini hari Minggu. Ke gereja gak? Nanti biar saya antarkan.”
Busyet, baik banget ini anak. Gak menyia-nyiakan kesempatan itu, gue segera berkata, “Iya kak. Saya mau ibadah. Tapi kayaknya sore aja ya, jam 5. Pagi ini gak sempat lagi, udah masuk tadi jam 7.”
“Emang ada yang sore?”
“Ada kok. Aku udah nanya sama teman. Tempo hari pas kami gereja di sana, dia sempat nanya gitu sama orang di gereja dan katanya ada ibadah sore.”
Seharian itu gerimis terus. Sekitar jam 4 barulah gerimisnya berhenti. Gue buru-buru mandi. Mengenakan kemeja dan jins, minjam sepatu kets anak Indramayu yang warna ungu, minjam tas kecilnya Dista buat tempat dompet dan hp, lalu turun ke kelas jumpai kak Taufik. Dia lagi main COC lagi dari notebook-nya. Gak bosan-bosannya.
“Kak, ayo. Anterin saya. Tadi udah janji, loh.”
Dia berpaling dari COC-nya. Bangkit berdiri lalu bilang, “Kita naik apa ya ke sana?”
Loh?
“Bukannya kak Taufik udah tau mau naik apa? Tadi nawarin diri buat ngantar. Motor kakak asisten yang lain atau naik Babo?”
“Gak bisa nyetir. Motor lagi gak ada, semua pada pergi ke Jogja.”
Astaga. Masa gagal sih!
“Coba ke tempat Bu RT,” katanya. Tiba di sana justru gue juga yang ngomong sama Pak RT. Untungnya dikasih. Akhirnya berangkat. Tapi keluar dari dusun Plosodoyong, di jalan menuju kota dia malah nanya mau ke gerejanya dari kiri atau kanan? Gue nepuk jidat karena merasa pergi dengan orang yang salah.
“Gimana sih kak. Tadi nawarin diri mau nganter ke gereja. Kirain kendaraan beres, jalan ke gerejanya tau. Ini? Udah deh, kita pulang aja sebelum nanti malah kesasar,” kata gue jengkel. “Gak apa-apa. Kita jalani aja dulu. Ini ke arah mana, kiri atau kanan?” tanyanya
Hah? Dijalani aja dulu katanya? Oke, biar kita tersesat. “Kayaknya kanan.”
Perjalanan berlangsung terus tanpa kita tau harus lewat mana. Mana dia bawa motornya lumayan ngebut lagi. “Sediain uang ya, buat nanti isi bensin,” katanya. Gue gak jawab dalam hati merutuki. Ada ya orang kayak kak Taufik ini. Waktu berjalan terus. Udah jam 5 kurang seperempat. Kita belum jelas lagi dimana. Bahkan daerah ini gue rasa gak ada kita lewati kemarin pas rame-rame ke gereja dianterin naik pick-up Babo.
“Berhenti aja. Biar aku tanya penduduk aja,”kataku akhirnya.
Aku menyapa sebuah toko sembako. Muncul seorang wanita paruh baya. Gue disambut dengan bahasa jawa yang kental. Kebingungan!
Plosodoyong bye, back to Sleman …
Pak Pri sering cerita tentang mbak Fitri. Katanya mbak Fitri-lah yang membantu Pak Pri jika ada uji kompetensi anak SMK. Mbak itu lulusan UI jurusan Geofisika entah tahun berapa. Gue bayangkan orangnya pasti pendiam dan sangat jenius.
Suatu pagi waktu gue baru mandi dn keluar dari dalam kamar mandi sekitar jam 10 pagi. Kak Taufik stand by di pintu kamar mandi nungguin gue. Gue kira dia mau masuk, tapi aneh kok di kepalanya ada helm?
“Itu kan kosong, kak, “kata gue sambil nunjuk kamar mandi di sebelah.
“Ah anak kecil ini. Kamu anak Sumatra ya, masa mandi jam segini? Terus kemarin seharian kemana? Tadi malam juga gak ada ke tempat Bu RT makan.”
Sekilas kami kayak adegan bentak-bentakan antara bapak sama putinya.
“Terus?” kata gue.
“Pak Pri nunggu kamu di camp Sleman sekarang. Malam ini mungkin langsung berangkat ke Jatirogo sama The Fitri.”
Gue melongo. Kali ini gue benar-benar pergi gak ya?
“Barang-barangku juga dibawa, kak?”
“Ditinggal di sini juga gak papap, kalau gak butuh lagi,” jawabnya enteng. Gue segera lari ke camp dan packing lagi-lagi dengan terburu-baru. Kemarin juga begitu. Tanpa sarapan, kita berangkat ke Sleman naik motor.
“Ini motor siapa, Kak?” tanya gue.
“Kak Asik.”
“Oh.”
“Tadi Pak Pri nelpon ke kak Asik, baru kak Asik kasih tau saya, suruh antar kamu ke Sleman.”
Selama di perjalanan gue mengucapkan salam perpisahan kepada alam gunung kidul yang seakan melambaikan tangan juga mengucapkan selamat jalan kepada gue. Semoga suatu hari gue bisa balik lagi ke sana. Perjalanan ke Sleman kurang lebih 2 jam dan berhasil membuat pantat gue pegal. Ketika tiba di camp, gue salam Pak Pri. Beliau bercerita tentang kegiatan di Ampah dan mengatakan bahwa mala mini kita berangkat jam 9 ke Jatirogo dengan mobilnya mbak Fitri. Gue hampir aja nanya dimana Jatirogo itu. tapi biarlah, nanti juga ketahuan.
Pak Pri pergi ke suatu tempat diantar sama kak Taufik. Gue memanfaatkan momen itu untuk mencuci baju, membereskan barang-barang yang gue tinggal, termasuk koper dan gitar. Oh iya, si Sahat malah nyuruh gue lagi buat beli sarung gitarnya. Dia udah transfer uang 75 ribu itu. yaelah, pelit amat sih.
“Magda, ikut ke Malioboro gak? Dista dan anak teman-temannya mau datang juga. Soalnya mereka semua besok ikut juga ke Jatirogo, ngeliat pemboran,” kata kak Taufik pas gue jemur kain.
“Oke pas banget, Kak. Aku juga mau beli sarung gitar.”
“Ei, gitarmu itu ditinggal aja untuk Georesearch.”
“Bukan punyaku juga. Titipan loh.”

Entah udah 3 kali atau 4 kali mungkin dalam sebulan ini gue balik ke Malioboro. Gak bosan juga sih. Dista beli baju, sedangkan gue nyari sarung gitar. Setelah semua dapat, Dista ngajak makan di pinggiran jalan. “Eh, jangan deh, pasti mahal banget,” kata gue. “Gak kok, Mbak. Ayo lihat harganya dulu,” ajaknya. Ternyata lumayan.. mahal! Ayam bakar aja 16 ribu, ikut es teh 19 ribu. Busyet, dari semua tempat, beberapa waktu di Jogja baru kali ini makanan yang paling mahal yang pernah gue hadapin. Tapi gak apa-apa, demi kepuasaan Dista. Kita makan dengan lahap karena emang udah kelaparan dari tadi keliling-keliling.
Setelah kenyang (daun tempat nasi bersih tanpa sebutir nasi pun), masuk ke bagian pembayran. “Semuanya berapa, Bu?” Gaya gue nanya kayak lagi neraktir aja.
“Semuanya .. totalnya 50 ribu.
WHAT???? Tuh kan, Dista gak percaya sih. Uang gue gak cukup, untungnya Dista kasih pinjam 6 ribu. Setelah itu kita berpisah, Dista dan teman-temannya balik ke Plosodoyong, sedangkan gue ke camp Sleman. Terpaksa nunggu kak Taufik di tempat parkiran yang udah dijanjikan. Seharusnya jam 4, tapi gak apa-apalah nunggu 45 menit lagi. Gue nunggu di dekat stasiun Tugu. Lumayan sambil dengerin kebisingan sirine kereta api.

Bojonegoro-Jatirogo (Tuban, Jawa Timur) …
Malamnya kak Taufik pulang duluan setelah salam gue. “Anak kecil dari Sumatra, pulang dulu ya,” katanya. Dia pun kembali sendiri ke Plosodoyong. Pak Pri, mbak Kezia sama gue makan malam bertiga di angkringan. Setelah itu Pak Pri dan mbak Kezia benerin motornya mbak Kezia yang kemps ke bengkel. Gue nunggu sendirian di camp. Agak ngeri juga. Ketika mbak Fitri akhirnya datang, kita kenalan dan cerita banyak. Orangnya ternyata gak pendiam. Mengenakan jilbab dan terusan hitam pekat. Jam 9 kurang seperempat kita berempat berangkat menuju Bojonegoro, sekolahnya Dista. Di tengah jalan sempat ditilang sama polisi, katanya mobil kita nyelinap di jalur yang bukan jalurnya. Gak ngerti deh gue apa masalahnya.
Kak Asik, kak Rianto dan kak Bitung udah berangkat lebih dulu ke Bojonegoro naik Babo si pick up sambil bawa alat bor. Sedangkan kami tiba di Bojonegoro pagi jam 02.30. Langsung ke penginapan, dan gue tepar sampai jam 7. Mbak Fitri bangunin gue.
“Udah pagi ya, mbak.”
“Udah. Mandi sana baru sarapan. Tuh di depan udah disediain,” katanya.
Gue berjalan ke pintu niatnya mau hirup udara pagi, pas longokin kepala ke kiri ada kak Asik yang lagi ngobrol dengan Pak Pri. Gue.. gue terkejut plus senang aja pas liat dia! Pagi-pagi udah senang aja nih hati.
Selanjutnya kita ke sekolahnya Dista karena Pak Pri sama mbak Fitri mau kasih materi buat anak-anak SMK kelas 3 yang akan ikut uji kompetensi besok. Ada 4 SMK yang mau diuji. SMK 4 Bojonegoro, SMK Nasional Indramayu, SMK Islam Bojonegoro dan SMK Patih. Gue ikut aja dengar-dengar, duduk diantara anak-anak SMK.

Balai Desa …
20 Februari 2016.
Rombongannya Dista udah nyampe di balai desa katanya. Desa Ngepon kecamatan Jatirogo kabupaten Tuban, Jawa Timur. Hari itu juga, sore gue sama Pak Pri dari Bojonegoro menuju Jatirogo. Kurang lebih 1,5 jam-an lah. Tiba jam 5 sore di Jatirogo. Kita langsung ke tempat pemboran, dimana Kak Rianto lagi sendirian sedang mencangkul tanah untuk membuat tempat penampuangan air. Menurut guru SMK Bojonegoro yang ikut, dulu daerah sekitar tempat akan melakukan pemboran itu adalah daerah pertambangan batubara. Tapi illegal, dan yang punya ditangkap sama polisi.
Tak lama kemudian kak Asik sama kak Bitung datang. Mereka ngobrol dengan Pak Pri. Gue karena bingung mau ngapain, ngambil cangkul kak Rianto tadi dan mulai menggali. Udah lama gak megang cangkul. Baru beberapa kali dicangkulkan, kak Asik datang sambil bilang, “Sini Magda, sini cangkulnya.”
Dia gak puas dengan hasil kerja gue atau gak pengen ngeliat gue kerja? Takut kecapean, gitu? Dia pun mulai mencangkul. Gue habis pikir.
“Magda, malam ini tidur di balai desa ya, sama rombongan Dista. Barangnya udah dipindahkan ke babo?” tanya Pak Pri. Gue buru-buru menuju mobil dan mindahin barang-barang gue. Setelah itu mau balik lagi ke tempat mencangkul tapi kak Asik muncul lagi, katanya, “Ayo diantar ke balai desa.”
Anak-anak langsung heboh menyambut kedatangan gue. Ada yang langsung minjam gitar. Gak enak nolak, akhirnya gue kasih. Itu gitarnya si Sahat juga, kalau rusak gak apa-apalah. Malamnya kita makan nasi bungkus. Kamar mandi hanya ada satu dan lumayan kotor. Tidur di keramik tanpa beralaskan apa-apa. Dingin luar biasa. Nyamuk juga sangat ramai. Panas juga hawanya. Benar-benar gak bisa tidur.

Drilling-First Day …
Karena ada 4 sekolah, mereka pun dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk praktek pemboran. Semua punya tugas masing-masing. Jam 9 gue berangkat sendiri ke pemboran. Dari balai desa dekat kok. Masalahnya adalah gue takut diajak ngomong, ditanya sama penduduk di sana pake bahasa jawa. Lha gue kagak ngerti. Gak dijawab takutnya gue dikira sombong. Mau jawab takutnya jawaban gue gak sesuai sama pertanyaan atau pernyataan mereka. Dilematis..
“Magda, kamu jadi Welsite,” kata kak Bitung. Baru aja gue nyampe, udah ada kosakata baru.
“Wel apa tadi?”
Welsite.
“Oh, yang kerjanya ngambil sampel sama deskripsi sampel, kan kak?”
“ Iya.”
“Tapi kenapa harus saya, kak?”
“Dibilang Pak Pri.”
Gue langsung mati kutu. Baiklah. Mari kita persiapkan plastic sampel, spidol dan alat-alat safety, seperti helm dan boot. Kalau perlu sarung tangan juga. And here we go!
Pemboran cutting menggunakan pipa besi sepanjang 150 cm. setiap kedalaman 50 cm diambil sampelnya, lalu sambil dideskripsikan pa yang didapat. Ini sebenarnya agak merepotkan. Gimana ceritanya tangan gue yang berlemotan lumpur bisa sambil megang pulpen buat nulis deskripsi?
Gue ikut makan siang di pemboran, sama kayak kakak asisten yang lain. Tuh kan, kayak gue udah jadi asisten Georesearch beneran. Yang makan ganti-gantian, karena alat bornya jalan terus. Sorenya istirahat satu jam dari jam6-7. Untuk makan malam dan sebagainya. Pas malamnya, gue coba mengendalikan rantai bor menggunakan katrol itu. Tapi lagi-lagi kak Asik datang dan mengambil alih semuanya. Apanya sih maunya dia?
Dan ternyata pemboran hari pertama berlangsung sampai jam 2 pagi. Itu karena ada sedikit masalah dengan air di dalam tanah yang menyumbat pipa sehingga semua pipa harus dikeluarin dulu. Jadinya lama deh. Dista sama Bagus aja udah tiduran di tanah, dekat alat bor. Gue juga sebenarnya, tapi gue tahan. Akhirnya kepala gue ngangguk-ngangguk.
 “Oh iya. Kalian pulang duluan aja,” kata kak Asik ke gue ketika gue berhasil menegakkan kepala. Dari tadi kek, pikir gue.
Pulangnya gue langsung keramas dan tidur.

Drilling second day …
Hari kedua pemborannya tetap masih cutting. Kelompok yang belum praktek juga masih banyak. Gue tetap jadi Welsite. Panggilannya keren ya. Di hari kedua ini gue ngajak Dista ke lapangan. Bukan apa-apa, gue takut aja nanti ditanyain lagi sama penduduk pake bahasa jawa. Kayak kemarin gue dengan ramahnya (terbawa kebiasaan menyapa dari Jogja) menyapa sekelompok ibu-ibu yang lagi ngobrol di depan teras rumah. “Mari, Bu,”sapa gue. Mereka jawab dengan ‘ngge’. Tapi tiba-tiba salah seorang ibu nyeletuk, “xxxqwrqqmyrtyt?” Gue gak ngerti si ibu bilang apa.
“Kenapa bu?” tanya gue lagi, sapa tau kali ini dengan bahasa yang gue mengerti. Tapi ternyata tetap pakai bahasa tadi.
“Ehm, maaf Bu. Saya tidak ngerti.”
“Bahasa Indonesia aja,” sela ibu yang lain. Ternyata si ibu itu nanya. Mau kemana kok sendirian?
Jadi, untuk mengantisipasi kejadian kemarin gue pun membawa Dista. Kita ke lapangan jam setengah 10. Tadi pagi bangun jam 8. Malamnya tidur jam 3 loh, eh paginya. Tiba di TKP, kak Asik begitu ngeliat kita langsung nanya. “Udah makan, Magda?”
Astaga, lama-lama gue naksir juga nih sama asisten Georesearch yang satu ini. Perhatian gitu, dari kemarin loh. “Udah, dong Kak,” busyet entah kenapa suara gue terdengar centil gitu. Gue sama Dista duduk aja ngeliatin mereka yang sedang bekerja. Setelah selesai you know what? Mereka merebahkan diri di tanah dan .. tidur! Gue sama Dista bengong, takjub sekaligus kasian. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Semalaman pasti gak tidur atau lebih tepatnya jam tidurnya kurang.
“Balik aja yok, Mbak,”ajak Dista.
“Lho kenapa?”
“Nanti aja datang lagi ke sini bisa, toh?”

Apapun itu gue malah nurut. Tapi di tengah jalan ketemu sama kak Engkus yang lagi beli kopi untuk para senpai yang lagi tepar tadi.”Magda, kamu mau kemana? Welsite gak bisa kemana-mana,” katanya sambil menerima kopi yang dibungkus dalam plastic dari ibu pemilik warung. Masih panas kelihatannya, plastiknya seperti meleleh.
“Yaudah, mbak Magda di sini aja. Dista balik mau ngerjakan power point buat presentasi entar malam.”
Dista pergi tanpa bisa gue halangi. Busyet, tinggal gue sendiri cewek di antara para makhluk egois ini. Gue sama kak Engkus kembali ke TKP. Beberapa saat kemudian dari belakang muncul suara ramai-ramai dan ternyata para peserta udah datang. Semua senpai terpaksa dibangunkan. Pemboran pun dimulai. Awalnya lancar-lancar saja. Mereka ngambil sampel, gue juga ikut ngambil sampel. Berdesak-desakan di sekitar cebakan aliran sampel adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki. Kadang gue malah gak dapat sampel dan ngemis dari mereka. Dengan senang hati pas gue menjulurkan plastic sampel gue, mereka mengisinya. Anak pintar.
“Mbak Magda, yang di balai desa gitarnya ya? Saya pinjam boleh?” tanya seorang cowok imut anak SMK 4 Bojonegoro. Gue tau dari jaket lapangannya.
“Bukan sih, tapi pake aja. Hati-hati ya, soalnya itu titipan teman saya.”
“Oke, mbak. Makasih mbak.”

Kelihatannya dia sangat senang dan pergi balik ke balai desa dengan teman-teman sekelompoknya. Setelah mereka pergi, datang kelompok lain lagi. Kak Asik gak bosan-bosannya menjelaskan prosedur kerja yang sama kepada kelompok yang baru datang. Dia memang sesuatu yang sesuatu banget.
Pada saat pipa ke 3 untuk kelompok itu terjadi masalah. Bor sepertinya ketemu sama sesuatu yang keras banget dan gak bisa ditembus. Para senpai sampai beramai-ramai naik ke penyangga untuk memberati bor supaya bisa turun dan menembus entah apa itu di bawah sana. setengah jam, satu jam, satu setengah jam gak juga berhasil turun. Akhirnya diantisipasi dengan pindah tempat, di samping lubang sebelumnya. Bongkar lagi semua pipa, pasang lagi. Ini yang membuat lama. Setelah akhirnya keadaan kembali normal, Pak Pri dan beberapa guru SMK Bojonegoro datang meninjau ke TKP.
Sekitar jam 4 sore Dista datang lagi ke pemboran. Tapi jam 6 dia ngajakin numpang ke kamar mandi penduduk. Kita pun pergi ke sana. seperti dugaan gue, kita disambut pake bahasa jawa. Untung ada Dista. Apa? Dia sepertinya memburuk-burukkan gue ke si ibu. Ora iso bahasa jawa, katanya? Sambil nunggu gelap, kita pun duduk di bangku bamboo depan rumah itu. Tiba-tiba Babo meluncur di depan jalan, dibawa sama kak Bitung dan Pak Pri di samping. Di belakang ada para senpai. Gue udah berdoa dalam hati biar mereka lewat aja dan gak ngeliat gue sama Dista. Tapi ternyata ..
“Ayo Magda, ikut gak?”
Itu kak Asik lagi. Sumpah, gue jadi baper. Meskipun gak tau mau ikut kemana, tapi gue sama Dista beranjak dari kursi. Eh gak, si Dista kesulitan masang boot-nya. Gue duluan naik ke bak pick up. “Udah Dista, gak usah bawa kaki. Tinggalin aja kakinya disitu. Nanti diambil,” kata gue. Semua tertawa.
“Kamu bisa melucu juga ya, tinggalin kaki,”kata kak Asik. Pas dengar ini gue jantungan. Eh kok gue malah duduk persis di samping dia?

Ternyata kita tuh mau makan malam. Oh my God. Liat penampilan gue, kotor dan sangat menajiskan. Masa kita makan dengan kondisi seperti itu? Gue liat para senpai yang lain. Kak Daman juga kotor sih. Kak Rianto, kak Bitung juga. Kak Asik juga. Eh tunggu, dia gak terlalu kotor. Dia buka bajunya yang paling luar. Oh pantasan aja kayak kelihatan bersih. Lanjut ke pemesanan makanan. Dista berbisik ke gue, “Mbak, aku jadi gak enak tau. Kenapa aku ikut-ikutan makan di sini?”
“Gak apa-apalah,” kata gue.
“Magda, mau makan apa?” tanya Pak Pri. Kak Asik nyodorin kertas menu. Ah, gue langsung puyeng. Terlalu banyak menu yang tersedia. Efek gak pernah makan di tempat mewah sih. Bahkan rumah makan begini tergolong mewah buat gue. Akhirnya, “Nasi pecel aja.”
“Dista juga,” sambar Dista.
Setelah makan Dista malah langsung ke balai desa. Enak dia bisa istirahat. Lha gue? Gue mesti ikut lagi ke pemboran. Oh Welsite, beratnya beban yang kupikul karena namamu. Udah gitu mati listrik lagi, dingin karena hujan yang makin lama makin deras banget disertai petir yang memekakkan telinga. Satu-satunya tempat berlindung hanya tenda pelindung bor ini. Namun pemboran tetap berjalan, dengan cahaya Babo. Becek yang tidak bisa dilukiskan lagi dengan kata-kata. Boot terasa berat karena tanah banyak yang nempel. Antara ngantuk, dingin, takut sama petir berbaur jadi satu dalam diri gue. Akhirnya tugas ngambil sampel gue limpahkan sama kak Daman dan kak Engkus. Untungnya mereka mau. Gue cuma member nama plastic sampel dengan spidol.
Ketika akhirnya kelompok terakhir juga selesai, gue senang banget dan ikut pulang dengan mereka jalan kaki ke balai desa.

Drilling day 3 …
Pemboran hari ketiga bukan lagi cutting tapi coring. Kalau cutting hasil sampelnya hancur, maka coring hasil sampelnya utuh dalam pipa besi seperti tabung. Lemang juga bisa. Pada hari ketiga ini gue juga gak nyangka, teman-teman yang ikut geocamp 1 dari STTNAS dan AKPRIND jogja datang. Cuma 3 orang sih, tapi gue senang aja. Si cerewet Clinton, si gendut Matias, sama si kribo Jo. Gue udah cerita belum, kalau si Jo itu juga orang batak? Terus dia itu gak bisa bilang huruf ‘r’. Selain mereka ada juga yang lain, kak Yuda teman seangkatan kak Asik, kak Sugi, kak Arie dan seorang lagi gue lupa namanya. Semuanya dari STTNAS. Dan masih tetap gue satu-satunya cewek dalam komplotan ini.
Pagi itu gue datang sekitar jam 10 dan terkejut ngeliat banyaknya mereka. Baru aja gue tiba, udah disuruh ngambil pipa sama kak Daman. Tempat pemboran coring pindah agak jauh dari tempat kemarin. Dan gue harus bolak-balik karena yang gue ambil salh terus.
“Pipa yang dipotong,” kata kak Daman. Gue datang dengan pipa plastic putih sepanjang 30 cm di tangan.
“Bukan itu. pipa yang dipotong,” katanya sambil membuat garis horizontal di udara. Yaelah..
“Kak, itu bukan dipotong. Itu namanya dibelah,” kata gue. Dari bawah kak Asik mengacungkan jempolnya. Apaan sih!
Gue pun kembali. Kali ini dengan pipa yang benar. Gue ngeliatin mereka bekerja dari atas. Kak Asik tiba-tiba naik dan gue kira dia mau duduk di samping gue. Ternyata dia pergi mungkin ngambil sesuatu ke tempat nyimpan perkakas. Dia kembali dengan terpal yabg diseret-seret. Diseret hingga dekat ke tempat gue duduk. Dia pun berhenti di sana dan jarak kita hanya 2 meter.
“Itu buat apa, kak?” tanya gue.
“Buat nutup dari atas,” jawabnya. Oh iya, dari kemarin kan juga gitu. Bego banget sih lu Magda! Terus gue nanya-nanya lagi seputar coring ini. Memang begitu kan, seharusnya yang terjadi? Gue harus belajar di sini. Kalau ada yang gak gue ngerti ya harus ditanya. Mumpung masih di sini juga kan. Kenapa coring bisa lebih lama daripada cutting?
Para peserta mulai berdatangan. Gue katanya masih harus jadi Welsite. Pastinya di sini gak ngambil sampel lagi, tinggal deskripsi. Namun ternyata malah kak Daman yang deskripsi. Gue pun datangi dia dan belajar cara deskripsikan coring itu seperti apa. Dia menjelaskan, tentukan mana bottom mana top. Ukur panjangnya sampel dengan meteran. Apakah ada yang lose? Hitung recovery dan RQD dengan rumus ini begini. Kemudian deskripsikan batuannya. Batuan? Malah lebih mirip tanah sih. Eh, entar ada batubaranya loh. Dan ternayata benar. Menunggu hasil coring lebih lama. Rasanya jadi ngantuk. Gue putuskan untuk jalan-jalan ke atas sana. biar gak ngantuk.
Baru beberapa langkah ada yang manggil gue. “Magda mau kemana? Pulang?” Itu kak Bitung. “Kalau mau pulang, pulang aja. Istirahat sana.”

Ah yaudah, gue pun mengangguk senang. Awalnya kan bukan pengen pulang, tapi karena kak Bitung yang suruh okelah. Gue justru senang luar biasa. Perjalanan dari tempat bor ke balai desa adalah sebuah perjuangan besar sebab penduduk pada ngeliatin gue yang berlumuran lumpur ini, mungkin mengira kalau gue adalah orang gila.

Day 4 …
Para siswa SMK yang uji kompetensi sudah kembali ke tempat asalnya masing-masing. Hari itu hari Kamis kami juga akan kembali ke rumah masing-masing. Rencanaku adalah ikut Dista ke rumahnya di Bojonegoro, lalu dari sana naik kereta ke Surabaya kemudian dari stasiun naik Damri ke bandara.
Pak Pri memberikanku uang 500 ribu. Aku sudah menolak sekuat hati tapi beliau malah memasukkan uang itu ke kantung jins ku dengan keras hati. “Untuk menambahi tiket,” kata beliau. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Ada rasa terharu yang besar dalam diriku. Babo mengantarkan kami ke lampu merah untuk mengambil bus jurusan terminal Bojonegoro. Dalam perjalanan kami melewati sungai Bengawan Solo. Waw, gak nyangka bakalan ngelewatin itu. airnya coklat, sekeruh hatiku yang berat membayangkan besok akan meninggalkan Pulau Jawa ini. Pulau yang memberiku banyak cerita selama kurang lebih 45 hari sejak di Gunung Kidul-Jogja dulu tanggal 18 Januari hingga ke Tuban Jawa Timur 26 Februari.
Dari stasiun Bojonegoro, naik becak ke rumahnya Dista. Nenek dan kakeknya menyambut kami dengan gembira. Ternyata mereka tinggal hanya bertiga.
“Jadi besok rencananya seperti itu?”tanya kakek.
“Iya, kek.”
“Tapi sepertinya akan susah karena barang kamu banyak. Begini saja, kamu berangkatnya dari sini naik travel saja. Biar nanti saya yang bayar.”
Mengapa semua orang memperlakukan aku begini? Kemarin Pak Pri, sekarang kakek Dista. Mana gak bisa kucegah juga.
Keesokan harinya aku terpaksa berangkat jam 8 pagi dengan travel ke bandara. Padahal pesawatku berangkat malam jam 18.45. Dari Bojonegoro-bandara Juanda 4 jam. Kakek Dista memeberikan uang 125 ribu untuk obgkos travelku. Sedangkan nenek Dista membuatkan aku bekal makan siang. Benar-benar keluarga yang sangat hangat dan luar biasa baik. Tapi aku harus seperti orang linglung yang tersesat menunggu di bandara selama kurang lebih 7 jam. Ini adalah rekor terlama menunggu keberangkatan dalam penerbangan.







                                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...