Jomblo itu identik dengan yang namanya galau. Menurut aku sih gitu. Tiap malam minggu mereka pasti gigit jari. Termasuk aku salah satu di dalamnya.
Apalagi aku ngekos sendirian di ruangan berukuran 3x4 meter. Sempit, berantakan, kadang pengap, kadang ada bau tikus mati entah nyelip dimana tikus mati itu. Aku cari seharian tapi gak ketemu-ketemu. Akhirnya aku menyerah dan berusaha menahan diri atas segala bau yang ada.
Malam itu aku baru ngisi pulsa, lebih tepatnya ngutang ke teman. Bilangnya lewat bbm. Setelah diisi, aku langsung buat gratisan nelpon atau yang biasa disebut talk mania (TM). Bagi yang belum tau cara ngebuat TM, silahkan browsing di internet. Jadi setelah TM berhasil kubuat, aku langsung kesal karena semakin mahal ternyata. Dari pulsa 5000 setelah buat TM yang tersisa 1500. OMG! Dunia ini semakin kompleks! Maksudku semakin mahal saja.
Setelah membuat TM aku malah bingung mau nelpon siapa. Baru nyadar, gak punya pacar ternyata. Oh iya. Aku bisa nelpon keluarga, pikirku. Namun ternyata nomor hp Mom and Dad gak aktif. Dua-duanya! Mereka kemana sih? Masa sengaja menonaktifkan hp supaya kencan malam minggu mereka gak bisa kuganggu?
Aku gak menyerah sampai disitu. Coba telpon kakak atau adek.
"Halo," suara kak Ririn di seberang (bca: Batam).
"Iya, halo kak. Lagi ngapain? Gak keluar, kencan?"
Terdengar desahan suara-suara tawa yang rame di seberang. "Ini aku kencan di rumah aja sama abangmu. Biar lebih higenis," katanya.
Higenis katanya? Apa sekarang pacaran udah bisa dicuci pake Mama Lime?
"Emang kenapa nelpon? Tumben. Lagi banyak pulsa ya? Kalau gak ada sesuatu yang penting coba telpon mama atau bapak atau adek yang lain aja."
Busyett! Segitunya. Tega amir!! Kadang aku suka mikir. Kok bisa ya hidup kak Ririn enak banget. Perfekto gitu. Dia cantik, kulitnya putih, udah kerja dan bisa makan uang sendiri, punya pacar juga (yang kata dia ganteng). Lha aku? Kulit hitam manis (kata Mom), masih kuliah (itupun ngos-ngosan karena gak sesuai dengan hati jurusannya), kocar-kacir ngarepin bulanan dan ngurus beasiswa susah, pacar gak punya, cowok yang kusuka selalu disukai juga sama temanku. Speechless totally!
Tanpa berlama-lama lagi, aku matikan hubungan. Cari-cari lagi kontak di hp. Ketemu. Adek ulun si nomor 4, yang cowok. Dia kuliah di UT di Medan. Semester 2 jurusan Agribisnis. Kali aja dia gak sibuk.
"Halo, kak?"
"Iya, halo. Apa kabar, dek. Kok gak pernah nelpon?"
"Aku sibuk, Kak."
"Kampret. Sok sibuk amat sih. Baru semester 2 juga. Aku aja yang udah semester 6 belum mikirin magang atau tugas akhir. Nih bocah malah__"
"Aku sibuk belajar buat persiapan SBMPTN 2016, Kak!"
"What? Kau masih belum menyerah dengan impianmu itu? Fakultas hukum, pengacara?"
"Ya belum lah. Tapi kalau kakak yang udah semester 6 sih, udah sewajarnya meyerah. Udah tua soalnya kau, Kak."
Ini adek paling asem dari 3 adekku. Kenapa juga tadi aku nelpon dia.
"Pasti kau sendirian ya di kos?" kataku.
"Iya. Tapi lagi nunggu adekmu, kak. Mau jalan kami."
APAA???
"Sok kali lah anak ini."
"Iya loh kak. Aku gak bohong. Dia anak ilmu hukum. Sama kayak aku semester 2. Karena dia yang punya motor dialah yang jemput aku."
"Hahaha. Gak modal sama sekali. Mending gak usah pacaran. Malu-maluin. Masa cewek yang jemput cowok ke kosnya?"
"Ah, daripada kayak kakak gak punya pacar. Sendiri di kos. Gak ada yang bisa ditelpon atau diajak ngobrol di kos. Kasiannya kakak orang ini. Makanya kak, cari pacar lah."
Anak sumplek! Bukannya aku gak nyari. Tapi aku .. Setiap naksir cowok pasti ditikung cewek lain. Sakit tauk!
"Tapi kayaknya dari kita berenam, kakak loh yang susah dapat pasangan hidup kayaknya. Dek Exi cantiknya nanti itu. Kak Ririn udah banyak pacarnya. Bang Rican sama adek Doli juga. Cuma kakak.."
Cukup sudah! Bukannya menghilangkan kesedihan dan kegalauan dengan menelepon anak ini , malah melipatgandakan kerisauan hati! Tapi baru aja aku mau menyudahi telepon, dia udah bilang:
"Udah dulu ya kak, adekmu udah jemput tuh di bawah. Aku mau turun dulu. Bye!"
Tuut..tuuut..tutt.
Mana TM nya masih banyak lagi. Nelpon siapa ya?
Aha! Aku tau. Si Maho. Ini nama samaran kok. Bukan nama beneran.
"Ei, traktiranmu kemarin belum jadi, kan? Nah sekarang aja. Pisang keju ya, yang dekat jalan P.samudra itu. Oh iya, jangan lupa sama minumnya. Masa makan gak minum"
"Tunggu dulu. Kau ada drama korea terbaru, gak?"
Sekedar info si Maho ini kenal drama korea lewat aku. Saat itu dia liat aku nonton He's Beautiful. Mulai saat itu jadilah dia k-drama lovers. Itu bukan dosa juga kok!
"Ada, ada. Yang terbaru Descendants of the Sun. Datang aja. Pesanannya jangan lupa ya."
"Ok. Siap meluncur!"
Sekilas aku kayak lagi mesan KFC. Sekilas dia kayak pesuruhku. Tapi ya itulah. Malam minggu itu kami habiskan dengan menonton drama korea. Meskipun menurutku sih, bahaya kalau nonton drama korea sama cowok. Risih aja kalau misalnya pas adegan ciumannya. Tapi untungnya malam itu gak ada. Sambil nonton, setusuk demi setusuk pisang keju masuk ke mulutku, diikuti teh botol sosro.
"Ho (panggilan samaran), ada gak sih yang kau suka di jurusan kita. Atau lebih luas lagi deh. Di kampus kita?" tanyaku di sela-sela nonton.
Dia kelihatan gak berpikir dan langsung nyerocos. "Gak ada tuh."
"Seorang pun?"
"Seorang pun!"
Aku menatapnya sesaat mencari kebenaran di wajahnya. Tapi gak ada kebenaran di sana. Karena mukanya abstrak. Hahahah, bercanda.
Malam itu kayaknya lebih cepat dari biasanya.
Maho pulang jam 10 lewat.
Itulah yang terjadi. Dua orang manusia jomblo dipertemukan untuk menghabiskan malam dengan menonton drama korea ditemani sekotak pisang keju dan teh botol sosro.
Kansahamnida (Terima kasih), Pisang Keju!
Kansahamnida, Teh Botol Sosro!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar