Setiap
orang pasti ingin hidupnya sukses, bahagia, damai, sejahtera dan sentosa. Tidak
ada orang yang ingin hidup dalam penyesalan, kemelaratan atau kemiskinan. Salah
satu upaya meraih kebahagiaan dan menghindari kemiskinan adalah lewat
pendidikan. Saya bukan mengatakan bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara
untuk meraih kesuksesan. Sebab banyak orang sukses di luar sana tanpa pernah
tuntas mengecam pendidikan, atau bahkan sama sekali tidak pernah merasakan
bangku sekolah. Jika pendidikan adalah salah satu cara mengubah jalan hidup,
lantas apakah sudah pasti orang yang bersekolah akan sukses? Jawabannya tidak
juga. Sebab banyak orang yang bersekolah, kuliah namun tidak sesuai
passion-nya. Artinya dia kuliah di jurusan yang bukan minatnya. Misalnya seorang
anak yang sangat berminat dengan IT dipaksa kuliah di FKIP atau seorang anak
yang gemar bereksperimen di laboratorium kimia dipaksa kuliah di Hukum.
Pemaksaan
jurusan kuliah seperti itu adalah tindakan yang berakibat fatal bagi masa depan
si anak. Sejatinya setelah kuliah, kita akan mencari pekerjaan. Apa jadinya
jika kita bekerja pada bidang yang bukan minat kita? Tentunya ketersiksaan
batin yang ada. Artinya tidak bahagia. Sebab kebahagiaan terjadi ketika kita
bisa melakukan sesuatu tanpa terasa tertekan atau terpaksa. Bayangkan jika anak
yang gemar bereksperimen di laboratorium tadi pada akhirnya bekerja jadi
pengacara. Ya, syukur-syukur kalau dia lulus dari kuliahnya. Bagaimana jika dia
berhenti dan tidak menyelesaikan kuliahnya.
Kelihatan
atau tidak di sekitar kampus pasti saja ada mahasiswa yang salah jurusan. Ya
kalau di kampus saya, orang itu adalah saya sendiri. Saya dilahirkan dari
keluarga sederhana. Kedua orang tua petani dengan jumlah anak 6 orang. Jadi
dapat dibayangkan sesederhana apa keluarga kami. Sewaktu SD dan SMP saya
tergolong siswa yang cerdas. Selalu masuk juara kelas. Bahkan di kelas 3 SMP
berhasil menyabet juara 1 umum kelas IX di sekolah saya. Saat itu saya
bercita-cita jadi dokter.
Setiap
tahun, SMP kami selalu mengirimkan siswa-siswa terbaiknya untuk mengikuti
seleksi penerimaan siswa baru di sebuah SMA Plus di Matauli Pandan Sibolga.
Seleksinya begitu ketat, mulai dari akademik, psikotes, kesehatan dan olahraga.
Biaya keberangkatan untuk ikut seleksi itu akhirnya didapat oleh orang tua saya
dengan berhutang kepada kerabat. Saya pun berangkat ke Sibolga. FYI, kakak saya
yang paling sulung pernah ikut seleksi ini dan gagal di tahap akademik.
Keajaiban terjadi kepada saya. Saya berhasil mengikuti semua seleksi dan
dinyatakan sebagai siswa baru. Tinggal daftar ulang dan membayar biaya sebesar
5 juta untuk seragam sekolah, buku-buku dan SPP selesai. Namun bagi keluarga
kami 5 juta bukanlah jumlah yang kecil. Orang tua saya tidak berhasil
mencarikan pinjaman uang lagi. Tak tega, saya pun berkata akan melepaskan
sekolah bagus itu. Biarkan saya sekolah di sekolah biasa saja. Yang tidak
mensyaratkan biaya 5 juta untuk daftar ulangnya.
Sekolah
di SMA biasa di kecamatan. Semangat saya tidak surut. Di kelas 1 dan 2 saya
tetap bisa juara kelas. Namun di kelas 3 saya bahkan tidak masuk 10 besar. Saya
kecewa dan ketakutan. Apa yang akan terjadi dengan cita-cita saya? Akhirnya
saya melupakan keinginan untuk jadi dokter. Tanpa ikut bimbingan belajar
sebagaimana persiapan siswa-siswa lain menjelang SBMPTN, saya ikut tes. Ikut
tes tanpa tau apa sebenarnya minat saya. Oke, selama di kampung saya senang
berada di alam. Maksud saya, kami punya ladang di dekat hutan. Saya senang
berada berlama-lama di sana. Saya juga orangnya tidak tegaan melihat hewan
disembelih. Bahkan saya selalu menangis terus ketika ayam atau hewan peliharaan
lain disembelih. Ibu saya akan menertawai saya. "Binatang diciptakan Tuhan
ya untuk dimanfaatkan manusia. Salah satunya untuk dimakan," kata beliau.
Saat itu saya ingin jadi vegetarian saja. Namun sampai saat ini gak terjadi.
Selain
hal di atas tadi, kegemaran saya yang lain adalah menulis. Ya taulah tulisan
anak ingusan. Saya juga punya buku harian. Saya menuliskan kegiatan sehari-hari
dan perasaan saya di sana. Karena sering meletakkannya sembarangan, teman satu
kos sering membacanya diam-diam. Kampret memang.
Jadi
atas dasar kegemaran tak penting di atas, apakah ada satu pun bidang ilmu yang
cocok dengan saya? Mungkin saja ada. Seperti misalnya, sastra atau dokter hewan
atau mungkin juga geologi atau antropologi. FYI, saya sangat ingin kuliah di
Jawa karena saya tahu pendidikan di sana lebih "giat".
Namun,
saat pemilihan jurusan saya mendengarkan saran teman untuk membuat pilihan di
teknik pertambangan. Sialnya lagi ketika pengumuman saya dinyatakan lulus di
jurusan itu, ayah saya dengan begitu semangatnya yang luar biasa mengurus
keperluan dan termasuk tiket saya untuk segera terbang daftar ulang di sebuah
kampus di kalimantan. Sungguh sebuah pulau paling jauh yang akan pertama kali
dijelajahi oleh saya dalam keluarga ini. Dengan berurai air mata, saya
berangkat.
Semester
demi semester berlalu. Ketidaknyamanan menghampiri. Saya sempat ikut lagi
SBMPTN 2014 (saya sudah semster 3) bahkan 2015 (saya sudah semester 5) namun
hasilnya nihil. Mungkin karena saya benar-benar tidak tahu bidang apa yang
sesuai dengan minat dan keinginan saya. Semester 7 ini saya jadi ketakutan
kalau-kalau tidak bisa lulus 4 tahun. Karena sudah tersusun dalam pemikiran
orang tua jika anaknya gak bisa lulus 4 tahun kuliah, berarti anak itu bodoh.
Sangat bodoh. Gak ada tawar-menawar. Tertekan dan tertindas. Bahkan jika ada
kegiatan seminar dan kuliah umum seperti kemarin. Pembicaranya orang penting.
Yang satu ketua PERHAPI (Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia) dan seorang
lagi menteri DEN (Dewan Energi Nasional). Seminar ini dikenai biaya 80
ribu/mahasiswa. Mahal, tetapi bukannya mendengarkan. Saya tidak tertarik.
Mereka berbicara tentang sebuah industri dan bagaimana caranya mengatur agar
tetap berjalan, industri itu. Industri yang merusak alam namun tidak bisa
diberhentikan karena kebutuhan peradaban dan pendukung pembangunan nasional.
Saat
ini sudah di semester 7. Gak ada jalan pulang bagi saya. Ingin berhenti kuliah?
Gak mungkin. Saya berasal dari keluarga sederhana. Tak bisa terbayangkan
bagaimana kecewa dan sedihnya ayah dan ibu (terutama ibu) saya jika tahu saya
berhenti kuliah. Setelah semester-semester ini saya semakin tertarik dengan
alam dan petualangannya. Mungkin gak ya nanti lulus dari teknik pertambangan
aku bekerja jadi MC sebuah acara televisi kayak MY TRIP MY ADVENTURE. Wkwkwk.
Orang putus asa macam apa ini..
Oke,
meskipun tersiksa dengan jurusan ini, tapi saya punya rencana. Nantinya bakal
ngejar beasiswa S2 di luar negeri. Jurusannya? Sastra.
hahahahahahahahahahahahahahahahahahah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar