Jumat, 07 Oktober 2016

Apakah Aku Benar-Benar Telah Salah Jurusan?

Setiap orang pasti ingin hidupnya sukses, bahagia, damai, sejahtera dan sentosa. Tidak ada orang yang ingin hidup dalam penyesalan, kemelaratan atau kemiskinan. Salah satu upaya meraih kebahagiaan dan menghindari kemiskinan adalah lewat pendidikan. Saya bukan mengatakan bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan. Sebab banyak orang sukses di luar sana tanpa pernah tuntas mengecam pendidikan, atau bahkan sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah. Jika pendidikan adalah salah satu cara mengubah jalan hidup, lantas apakah sudah pasti orang yang bersekolah akan sukses? Jawabannya tidak juga. Sebab banyak orang yang bersekolah, kuliah namun tidak sesuai passion-nya. Artinya dia kuliah di jurusan yang bukan minatnya. Misalnya seorang anak yang sangat berminat dengan IT dipaksa kuliah di FKIP atau seorang anak yang gemar bereksperimen di laboratorium kimia dipaksa kuliah di Hukum.

Pemaksaan jurusan kuliah seperti itu adalah tindakan yang berakibat fatal bagi masa depan si anak. Sejatinya setelah kuliah, kita akan mencari pekerjaan. Apa jadinya jika kita bekerja pada bidang yang bukan minat kita? Tentunya ketersiksaan batin yang ada. Artinya tidak bahagia. Sebab kebahagiaan terjadi ketika kita bisa melakukan sesuatu tanpa terasa tertekan atau terpaksa. Bayangkan jika anak yang gemar bereksperimen di laboratorium tadi pada akhirnya bekerja jadi pengacara. Ya, syukur-syukur kalau dia lulus dari kuliahnya. Bagaimana jika dia berhenti dan tidak menyelesaikan kuliahnya.

Kelihatan atau tidak di sekitar kampus pasti saja ada mahasiswa yang salah jurusan. Ya kalau di kampus saya, orang itu adalah saya sendiri. Saya dilahirkan dari keluarga sederhana. Kedua orang tua petani dengan jumlah anak 6 orang. Jadi dapat dibayangkan sesederhana apa keluarga kami. Sewaktu SD dan SMP saya tergolong siswa yang cerdas. Selalu masuk juara kelas. Bahkan di kelas 3 SMP berhasil menyabet juara 1 umum kelas IX di sekolah saya. Saat itu saya bercita-cita jadi dokter. 

Setiap tahun, SMP kami selalu mengirimkan siswa-siswa terbaiknya untuk mengikuti seleksi penerimaan siswa baru di sebuah SMA Plus di Matauli Pandan Sibolga. Seleksinya begitu ketat, mulai dari akademik, psikotes, kesehatan dan olahraga. Biaya keberangkatan untuk ikut seleksi itu akhirnya didapat oleh orang tua saya dengan berhutang kepada kerabat. Saya pun berangkat ke Sibolga. FYI, kakak saya yang paling sulung pernah ikut seleksi ini dan gagal di tahap akademik. Keajaiban terjadi kepada saya. Saya berhasil mengikuti semua seleksi dan dinyatakan sebagai siswa baru. Tinggal daftar ulang dan membayar biaya sebesar 5 juta untuk seragam sekolah, buku-buku dan SPP selesai. Namun bagi keluarga kami 5 juta bukanlah jumlah yang kecil. Orang tua saya tidak berhasil mencarikan pinjaman uang lagi. Tak tega, saya pun berkata akan melepaskan sekolah bagus itu. Biarkan saya sekolah di sekolah biasa saja. Yang tidak mensyaratkan biaya 5 juta untuk daftar ulangnya.

Sekolah di SMA biasa di kecamatan. Semangat saya tidak surut. Di kelas 1 dan 2 saya tetap bisa juara kelas. Namun di kelas 3 saya bahkan tidak masuk 10 besar. Saya kecewa dan ketakutan. Apa yang akan terjadi dengan cita-cita saya? Akhirnya saya melupakan keinginan untuk jadi dokter. Tanpa ikut bimbingan belajar sebagaimana persiapan siswa-siswa lain menjelang SBMPTN, saya ikut tes. Ikut tes tanpa tau apa sebenarnya minat saya. Oke, selama di kampung saya senang berada di alam. Maksud saya, kami punya ladang di dekat hutan. Saya senang berada berlama-lama di sana. Saya juga orangnya tidak tegaan melihat hewan disembelih. Bahkan saya selalu menangis terus ketika ayam atau hewan peliharaan lain disembelih. Ibu saya akan menertawai saya. "Binatang diciptakan Tuhan ya untuk dimanfaatkan manusia. Salah satunya untuk dimakan," kata beliau. Saat itu saya ingin jadi vegetarian saja. Namun sampai saat ini gak terjadi.

Selain hal di atas tadi, kegemaran saya yang lain adalah menulis. Ya taulah tulisan anak ingusan. Saya juga punya buku harian. Saya menuliskan kegiatan sehari-hari dan perasaan saya di sana. Karena sering meletakkannya sembarangan, teman satu kos sering membacanya diam-diam. Kampret memang. 

Jadi atas dasar kegemaran tak penting di atas, apakah ada satu pun bidang ilmu yang cocok dengan saya? Mungkin saja ada. Seperti misalnya, sastra atau dokter hewan atau mungkin juga geologi atau antropologi. FYI, saya sangat ingin kuliah di Jawa karena saya tahu pendidikan di sana lebih "giat". 

Namun, saat pemilihan jurusan saya mendengarkan saran teman untuk membuat pilihan di teknik pertambangan. Sialnya lagi ketika pengumuman saya dinyatakan lulus di jurusan itu, ayah saya dengan begitu semangatnya yang luar biasa mengurus keperluan dan termasuk tiket saya untuk segera terbang daftar ulang di sebuah kampus di kalimantan. Sungguh sebuah pulau paling jauh yang akan pertama kali dijelajahi oleh saya dalam keluarga ini. Dengan berurai air mata, saya berangkat. 

Semester demi semester berlalu. Ketidaknyamanan menghampiri. Saya sempat ikut lagi SBMPTN 2014 (saya sudah semster 3) bahkan 2015 (saya sudah semester 5) namun hasilnya nihil. Mungkin karena saya benar-benar tidak tahu bidang apa yang sesuai dengan minat dan keinginan saya. Semester 7 ini saya jadi ketakutan kalau-kalau tidak bisa lulus 4 tahun. Karena sudah tersusun dalam pemikiran orang tua jika anaknya gak bisa lulus 4 tahun kuliah, berarti anak itu bodoh. Sangat bodoh. Gak ada tawar-menawar. Tertekan dan tertindas. Bahkan jika ada kegiatan seminar dan kuliah umum seperti kemarin. Pembicaranya orang penting. Yang satu ketua PERHAPI (Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia) dan seorang lagi menteri DEN (Dewan Energi Nasional). Seminar ini dikenai biaya 80 ribu/mahasiswa. Mahal, tetapi bukannya mendengarkan. Saya tidak tertarik. Mereka berbicara tentang sebuah industri dan bagaimana caranya mengatur agar tetap berjalan, industri itu. Industri yang merusak alam namun tidak bisa diberhentikan karena kebutuhan peradaban dan pendukung pembangunan nasional. 

Saat ini sudah di semester 7. Gak ada jalan pulang bagi saya. Ingin berhenti kuliah? Gak mungkin. Saya berasal dari keluarga sederhana. Tak bisa terbayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya ayah dan ibu (terutama ibu) saya jika tahu saya berhenti kuliah. Setelah semester-semester ini saya semakin tertarik dengan alam dan petualangannya. Mungkin gak ya nanti lulus dari teknik pertambangan aku bekerja jadi MC sebuah acara televisi kayak MY TRIP MY ADVENTURE. Wkwkwk. Orang putus asa macam apa ini..

Oke, meskipun tersiksa dengan jurusan ini, tapi saya punya rencana. Nantinya bakal ngejar beasiswa S2 di luar negeri. Jurusannya? Sastra.

hahahahahahahahahahahahahahahahahahah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...