Terkadang untuk mencapai sebuah tujuan gak selamanya
mulus atau mudah kayak membalikkan kain jemuran. Sering harus melalui sebuah
perjuangan mahadahsyat yang ujung-ujungnya berakhir pada kekonyolan. Selain ngebikin
lucu dan menghibur, kekonyolan ini, sadar atau gak akan ngebuat lo semakin
dewasa, belajar dalam menjalani hidup. Namun kadang lo udah berusaha mati-matian
buat sesuatu, tapi gak tercapai. Tadinya pengen hemat, malah rugi.
Cekidot..
Judul: Terlalu Mahal
Paguyuban KSE UPR bakalan ngadain pelatihan AKSI (entah
dalam rangka apa gue lupa) bulan Februari ini selama 2 hari, tanggal 11-12. Orang-orang
penting bakalan datang dari ibukota sana. katanya, menurut sumber beberapa
orang beswan KSE yang udah pernah ikut pelatihan camp, dalam camp AKSI ini kami
bakalan digembleng secara fisik dan rohani. Samapai disuruh latihan fisik 30
menit minimal tiap hari mulai sekarang. Apapun itu, gue pikir gak ada yang
menandingi “derita” yang gue alami saat diklatsar Mapala. Gak bakalan lebih
sakit dari itu deh. Yakin gue.
Karena salah satu persyaratan administrasi buat ikut
camp ini adalah surat keterangan sehat dari yang berwajib, maka pergilah gue
dan Dwi ke Puskesmas terdekat, di Jln.Bukit Hindu. Kenapa milih ke sana? Karena
murah, hanya 15 ribu. Dibanding puskesmas lain (25 ribu) atau poliklinik kampus
(20 ribu). Gue udah pernah minta surat keterangan sehat di sana, waktu mau
pendakian nasional ke Kalsel. Cuma periksa tensi aja sih, cek berat dan tinggi
badan. Tunggu sebentar diketik sama petugas, ke kasir, dan done. Tapi hari itu kami tidak beruntung. Puskesmas Bukit Hindu
udah tutup. Padahal baru aja jam 11 pagi.
“Gimana nih, Magda? Kita ke poliklinik aja, yok,” ajak Dwi.
“Jangan, Dwi. Mahal. 20 ribu. Padahal gak dicek tensi kita. Cuma ngisi
formulir doang. Besok kita balik lagi kesini.”
Jelas gue gak mau rugi. Kalau ada yang lebih murah, ngapain bayar mahal?
Gak menyerah sampai disitu, keesokan harinya kami
balik lagi. Hari Jumat. Jam 9 si Dwi nge-bm kalo dia udah otw. Tapi 40 menit
kemudian itu anak gak nongol-nongol. Gue malah sempat khawatir terjadi sesuatu.
Soalnya rumahnya gak jauh-jauh amat dari kos gue. 45 menit kemudian setelah dia
nge-bm otw, barulah dia datang. Kita pun capcus ke puskesmas Bukit Hindu. Dan taulah
gue kenapa si Dwi bisa sampai menghabiskan waktu 45 menit tiba ke kos gue. Bawa
motor lama beut. Kalo mau nyebrang, padahal tuh mobil masih jauh sih, masih
sempat buat kita nyebrang tapi si Dwi nunggu sampai jalan raya kosong.
Jam 10 WIB.
“Bu, masih buka, kan?”
Si ibu menggeleng pasti. “Udah tutup, Dek. Orang solat Jumat nih.”
Keluar api dari hidung gue.
Karena besoknya adalah hari terakhir pengumpulan surat itu, kita pun
bela-belain hari itu juga harus selesai ngurus tuh surat. Capcus ke rumah sakit
Doris.
“Yakin di sini lebih murah?”
“Gak tau sih. Belum pernah juga,” kataku.
Rumah sakit swasta terbesar di Palangka Raya. Seharusnya kami tahu itu,
yang otomatis lebih mahal dari puskesmas atau poliklinik. Banyak orang di sana.
Setelah nanya bagian informasi, kami menuju MCU di lantai 2. Si ibu berjilbab
memberikan formulir untuk kami isi. Kemudian cek tensi.
“Bawa ke loket 5 ya dek, di bawah. Terus nanti ke kasir, baru bawa ke
sini lagi,” katanya.
Kami pun turun ke loket 5. Loket 5 memberikan kertas berisi biaya yang
harus kami bayarkan. Mataku membelalak. Tak percaya.
“50 ibu DWIIII…????”
Untuk meyakinkan, aku menuju kasir.
“Bu, ini memang 50 ribu biayanya? Padahal kan, yang dicek cuma tensi
aja. Kecuali kayak bagian dalam juga dicek, saya rasa bisa lebih mahal.”
Beberapa orang petugas di kasir itu serentak memandang gue kesal.
“Ya memang segitu. Ini nanti suratnya dari dokter lho,” jawabnya ketus. Tanpa
melihat wajahku. Aku dan Dwi berpandangan. Aku menggeleng. Dwi pasrah.
“Di puskesmas juga suratnya dari dokter kok, Bu. Cuma tandatangannya aja
yang dari dokter. Yang meriksa bukan dokter juga. Dan yang diperiksa juga toh cuma tensi. Sama aja. Tapi kenapa
lebih mahal bayarnya di sini?”
“Kalau gak mau, yasudah. Sini kertasnya.”
“Ini, Bu. Maaf ya bu. Tapi 50
ribu itu jumlah yang besar untuk anak kos kayak saya.”
Tanpa ba-bi-bu lagi kubalikkan kertas kuning berisi tagihan itu. aku gak
butuh lagi. 50 ribu? Makan 5 kali boh!
Pilihan terakhir adalah poliklinik. Itu pun kalau masih buka. Saat itu jam
11 lewat. Dan untungnya masih buka. Benar seperti yang udah gue bilang, cuma
ngisi formulir dan ditanya, ini sehat aja
kan? Lha mana gue tau.
“Iya Bu. Sehat aja. Biayanya berapa ya?”
“25 ribu, dek.”
Gile, naik aja. Entah sejak kapan bah. Jauh ke sana-kemari,
ujung-ujungnya kita balik ke tempat paling deket, poliklinik kampus dan bayar
10 lebih mahal dari tujuan awal.
Gue hanya bisa elus dada.
Judul: Transferin ke atm gue dong, 27 ribu!
Kali ini gue
berhadapan sama atm. Gegara keukeuh mau nonton Resident Evil: Final Chapter. Kenapa gue pengen banget nonton ini,
karena ada Lee Joon Gi hyungnim yang main disini. Ya, gue tau. Dia cuma cameo,
10 menit aja. Berantem sama Milla Jovovich. Di 21 tiketnya hari biasa 35 ribu. Filmnya tayang tanggal 25 Januari ini. Uang
yang gue punya di atm tinggal 127 ribu. Atm BNI. Karena BNI bisa saldo sisa 0
rupiah, gue pun minta tolong Toguma transferin 23 ribu ke atm gue.
“ATM-ku dipinjam adek tingkat,”
katanya.
“Yaudah kita ambil ke tempat dia.
Posisimu dimana sekarang?”
“Kos Hunter.”
“Oke, otw.”
Gue pinjam motor tetangga kos. Capcus
ke kos Hunter. Langsung ke kos adek tingkat itu. tiba di sana..
“ATM kakak belum jadi kupinjam. Masih
di kos kalian.”
Kita pun ke kosnya si Toguma. Tiba
di sana..
Dia nyari-nyari atm BNI-nya yang tadi
pagi ditaroh di atas meja katanya. Setelah nanya anggota kos yang lain,
ternyata seseorang bernama Yunika salah ambil ATM BNI. Dia bawa ATM si Toguma. Dan
gue kesal..! Si Toguma minta gue nungguin si Yunika pulang. Gue ragu. Entah dia
pulangnya kapan. Lagian yang punya motor bilang biar gue gakl lama-lama dengan
motornya. Akhirnya gue pulang dengan tangan kosong. Tiba di kos, gue telponin
anak-anak penerima KSE siapa yang bisa transfer 23 ribu ke atm gue.
Beberapa orang
mengaku gak punya saldo sama sekali. Satu orang mengaku hanya punya 5 ribu
saldo di atm. Otak gue pun teringat kalo di atm bank BNI jalan Diponegoro ada
mesin setor tunai pecahan 20 ribu. Di dompet gue ada selembar 20 ribu. Gue pun
minta tolong ke Fera nemanin gue ke sana.
“Oh iya, jangan lupa
bawa atm BNI-mu juga.”
Tiba di atm, gue
masukin selembar 20 ribu itu. dan ternyata dia ditolak si mesin. Gue gak tau
apa yang salah. Jelas-jelas di layar dibilang kalo itu mesin nerima pecahan 20
ribu, 50 ribu dan 100 ribu. Tapi kenapa transaksi gagal? Gue cek, itu uang gak
lusuh-lusuh amat, gak berlipat atau sobek. Semua syarat terpenuhi. Tapi kok
ditolak sih?
Oke, sementara kita tinggalkan
mesin setor tunai. Karena orang-orang lain juga mau pake mesin setor tunai, gue
sama Fera minggir ke samping. Mau transfer 5 ribu dari atm dia ke gue.
“Nomor rekening kakak berapa?”
tanya si Fera.
Yaoloh! Gue lupa bawa buku
rekening. Mana gue hapal-hapal itu nomor rekening.
“Bentar, Fer. Kucari dulu dari
internet,” gue keluar dari box atm. Dia ikutan.
“Maksudnya?”
“Iya, kan di akun kita ada. beasiswa.or.id.”
Untungnya gue ingat username dan
paswordnya, jadi bisa login. Segera gue
klik profile dan disana bisa gue liat
nomor rekening BNI gue.
Kita pun masuk lagi
ke box atm. Untungnya transfer 5 ribu ke atm gue dari atm Fera berhasil. Sekarang
saldo gue 132 ribu. Saldo si Fera 200 rupiah poin 845. Wkwkwk, ngeri!
Sekarang butuh 20
ribu lagi biar gue bisa narik 150 ribu. Biar gue bisa nonton Resident Evil: Final Chapter. Biar gue
bisa liat Lee Joon Gi!
Bekali-kali uang
selembar 20 ribu itu kami masukkan, hasilnya tetap mengecewakan. “TRANSAKSI DITOLAK”. Tapi kita gak
langsung pulang. Karena gue emang bukan tipe orang yang gampang menyerah. Orang-orang
yang datang ke atm itu gue tanyain satu-satu. Apakah ada yang punya uang 20
ribuan. Ya yang mestinya agak baru dikit. Gak lusuh kayak yang sedang gue
pegang. Tapi ternyata gak ada yang punya. Terakhir gue beranikan diri menghampiri
seorang bapak-bapak yang lagi nyetor di mesin setor tunai.
“Maaf, Pak. Bisa minta tolong?”
“Ya?”
“Ehm, bapak bisa transferkan ke
atm saya 20 ribu, nanti saya kasih ke bapak tunai 20 ribu. Soalnya ini mesinnya
gak bisa dari tadi saya setor 20 ribu.”
Beliau sejenak menatap gue. Mungkin
meyakinkan dirinya kalo gue bukan tukang hipnotis atau penipu. Setelah yakin,
beliau berkata, “Tunggu sebentar ya.”
Si bapak
menyelesaikan setor tunainya. Lalu pindah ke mesin atm tarik tunai. Gue pun mendekat.
“20 ribu ya?” tanyanya.
“Iya, Pak.”
“Buat apa, dek?”
“Ah.. itu, pak. Maklum anak kos
di akhir bulan. Di atm saya sisa saldonya hanya 32 ribu. Buat makan, pak. Biar bisa
saya ambil 50 ribu saya kan harus masukin uang 20 ribu lagi minimal.”
“Oh.”
Si bapak pun dengan baik hati
mentransfer 20 ribu itu. Gue menyodorkan selembar 20 ribuan yang dari tadi
gagal disetor-tunaikan itu.
“Makasih banyak loh, bapak.”
“Iya, sama-sama.”
Finally, I’m coming Lee Joon Gi hyungnim…!!
Kahggli kakalshggsf




Tidak ada komentar:
Posting Komentar