Kematian itu gak terduga. Dia datang tiba-tiba. Mencabut nyawa siapapun. Bisa aja orang yang hari ini kelihatan sehat-sehat saja, eh malamnya menghembuskan nafas terakhir. Orang yang sudah menjalani operasi juga. Awalnya dia udah kelihatan sehat. Tapi kemudian kambuh lagi. Ini juga yang terjadi dengan bapak kos kami, yang kebetulan orang batak. Beliau marga Silalahi. Buat kalian yang belum tahu marga Silalahi, mereka adalah orang-orang yang baik, ramah dan suka membantu. Aku pernah punya guru seni rupa marga Silalahi. Beliau kelihatan kayak orang (maaf) bego, karena setiap kali bicara kepalanya ikut bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Sebenarnya beliau adalah seorang seniman jenius. Tapi sekarang beliau sudah di sisi-Nya. Waktu SMP juga, di sekolah kami ada cowok kelas VII-C marga Silalahi yang jadi rebutan cewek-cewek.
Aku ngekos di kos pink sejak 2015. Sebelumnya aku ngekos berdua. Karena sesuatu hal kami berpisah dan memilih jalan masing-masing. Baru-baru tiba di kos pink ada satu fakta mengesalkan yang membuat aku mau pindah lagi. Listrik. Gak pernah dalam sehari meteran gak jeglek. Apa ya kalian menyebutnya, situasi dimana daya listrik gak sanggup karena terlalu banyak yang pakai, sehingga meterannya berbalik dengan sukacita. Jangan pernah colokin rice cooker siang-siang, karena meteran bakal jeglek. Jangan pernah juga colokin malam-malam. Mau pasang AC? Jangan mimpi dah. Masalah listrik ini gak pernah berakhir meski udah kami laporkan pada bapak dan ibu kos.
"Kalian memang punya jatah listrik segitu. Menggunakan rice cooker memang gak boleh di sini," kata Bapak kos.
Apa-apaan! Terus, masak nasi pakai apaaa. Kompor? Minyak tanah mahal loh. Sejak itu, aku kesal dengan bapak kos.
Hari-hari berikutnya kami malah berselisih paham lagi. Kali ini gara-gara lampu luar yang kupasang di depan kos ku. Aslinya pada malam hari kos kami gelap sangat. Gak ada satu pun lampu luar. Aku pun berinisiatif sendiri. Lampu yang kupasang adalah Philips daya 35 W. Seketika kompleks kos terang macam istana. Kendalanya adalah di pagi hari ketika matahari sudah terang. Jam 6 di sini udah terang banget. Jangankan jam 6, jam 5 juga udah terang. Aku selalu bangun jam 6 lewat, meski ada kuliah pagi jam 7. Nah, bapak kos merasa ini pemborosan listrik yang berakibat pada mahalnya tarif listrik yang dibayar. Sampai jam 6, udah pagi, udah terang, lampu 35 W masih nyala.
Pagi-pagi pintu kos ku digedor sama bapak kos. Dengan gak sabar lagi. Aku masih ngantuk, bangkit berdiri dari tempat tidur sembari mengumpulkan nyawa, kubilang : "Siapa diluar..."
Gak ada jawaban. Yang ada pintu digedor makin keras. Begitu pintu kubuka..
"Kamu sudah bayar uang kos?" semprotnya.
"Ahh..bulan ini belum, Pak Tua."
"Udah belum bayar, lampunya masih nyala jam segini."
Setelah berkata begitu, beliau pergi. Aku terhenyak.
Hari-hari berikutnya, aku makin benci sama bapak kos kami. Dia menggedor pintu kos ku jam 6. Aku bangun setelah itu untuk mematikan lampu. Tapi dua hari kemudian, kudapati bola lampu luarku sudah gak ada lagi. Kabelnya menunjukkan bahwa dia digunting atau dipotong mungkin.
Busyettt... Segitu marahnya. Segitu kesalnya beliau. Segitu bencinya juga aku. Sejak itu kompleks kos kembali gelap. Bahkan pencuri pun gak kelihatan kalau datang.
Tahun-tahun kemudian, kos kami gak jeglek lagi. Kos yang di atas dipasang listrik prabayar. Sekarang udah bebas mau masak nasi jam berapa. Tapi aku ragu masang AC udah bisa.
Dan itulah, bapak kos menikahkan anaknya yang pertama. Oh ya, beliau cuma punya dua anak, satu cowok dan satu cewek. Istri bapak kos orang dayak. Ketika anaknya menikah, aku pulang kampung. Mereka kemudian tinggal di rumah yang sama. Bulan-bulan berikutnya, bapak kos sakit. Sakit parah dan harus dioperasi. Beliau dibawa ke Jakarta. Bapak kos kena penyakit hepatitis. Begitu pulang dari Jakarta, kami para anak kos menjenguknya ke rumah. Beliau sudah kurus dan selalu duduk. Pernah suatu waktu aku membayar uang kos. Ibu kos yang lagi menulis di bukunya, bapak kos nanya, "Kamu sudah dapat beasiswa?"
"Sudah, Pak Tua."
Rasa kebencianku perlahan-lahan mencair, melupakan bola lampu.
Kemudian lahirlah cucunya yang pertama, begitu beliau selesai operasi. Lambat laun juga kesehatannya pulih. Tapi, tiba-tiba drop lagi. Beliau dibawa ke rumah sakit di Palangka Raya sini. Tapi gak tertolong lagi. Kami anak kos yang disuruh bersih-bersih rumah ditelpon anak bapak kos yang cewek, disuruh mindahin sofa-sofa.
Tiba-tiba aku ingat sesuatu, bahwa di surat izin orang tua/wali untuk kegiatan ENJ kemarin inisial bapak kos lah yang kubuat dan aku yang menandatanganinya sendiri
Ah.. Selamat jalan bapak kos, S.Silalahi. Semoga tenang disisi-Nya. Pada akhirnya kita semua akan menghadap-Nya, hanya waktu saja yang berbeda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar