Senin, 30 Oktober 2017

Catatan Perjalanan Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) Tim 1 Kalimantan Selatan 2017

       Tepat 3 minggu yang lalu, aku kembali dari kegiatan ENJ (Ekspedisi Nusantara Jaya) yang bertempat di desa Teluk Tamiang, kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, kabupaten Kotabaru, povinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan ENJ ini adalah agenda tahunan KEMENKO Maritim untuk memberangkatkan pemuda, mahasiswa dan siswa terbaik Indonesia untuk mengabdi ke daerah-daerah terpencil dan tertinggal. Ada sedikit masalah dengan pihak kampus, sehingga aku dan kawan-kawan tidak bisa berangkat sebagai delegasi mahasiswa. Akhirnya kami mendaftar sebagai delegasi pemuda. Bedanya dengan dua delegasi lain, pemuda diberi uang saku yang dihitung per hari. 

        Aku, Bonita, Andre dan Amsal mendaftar dan mengisi form pendaftaran secara online. Pada saat memilih rute pelayaran, aku mengira itu adalah daerah yang akan menjadi tempat kita melakukan pengabdian. Makanya dengan senang hati aku dan Bonita memilih Papua Barat sebagai pengabdian kami. Mengingat pula biaya transport akan ditanggung panitia. Itu pemahaman kami.Tapi ternyata rute pelayaran adalah titik keberangkatan (provinsi), dari sana akan berangkat ke desa yang dianggap terpencil, terluar dan tertinggal. Dan juga biaya transport dari daerah domisili peserta ENJ ke provinsi pengabdian akan ditanggung sendiri. Alamak, punya uang dari mana aku buat beli tiket peswat Palangka Raya-Papua. 

       Pada malam deadline pendaftaran, aku diberitahu Andre soal rute pelayaran itu. Pada saat itu sudah jam 23.40 WIB, aku hanya punya 19 menit untuk mengubah rute pelayaranku. Untung server-nya lancar. Biasa kan, pada hari deadline susah diakses. Aku pun memilih Kalimantan Selatan sebagai rute pelayaranku. Kenapa? Karena rute ini paling dekat. Selain menghemat biaya transport tentunya. Tapi aku lupa sama sekali untuk memberitahu Bonita. Jadinya, hingga hari pengumuman peserta yang lolos tiba, dia pun dikelompokkan pada rute pelayaran Papua Barat. Antara senang atau frustasi. Senang karena bakalan ikut ekspedisi, frustasi karena tiket mahal ke Papua Barat. 

      Salah satu kesulitan bagi delegasi pemuda yaitu, komunikasi. Berhubung bukan perwakilan kampus, kami yang sama sekali belum pernah bertatap muka harus menyusun program kerja yang akan dilakukan di TKP. Maka dibuatlah grup obrolan di LINE. Diskusi memilih koordinator tim, menentukan desa tujuan pengabdian, tanggal keberangkatan, pembahasan proposal donasi, dll. Semua dilakukan online. Untung di tim berjumlah 25 orang ini didominasi pemuda asal Kalimantan Selatan. Mereka bisa ketemu face to face untuk hal-hal seperti pengurusan proposal.

      Koordinator sudah terpilih. Hal sulit lainnya adalah menentukan daerah tujuan pengabdian dan tanggal keberangkatan. Sumber pencarian kami hanya dari internet, desa-desa yang masih tertinggal. Ada desa yang benar-benar membutuhkan perhatian, tapi desa itu endemik malaria. Untuk orang yang jiwa pengabdiannya memang maksimal hal itu bukan jadi masalah. Tapi beberapa kawan menolak keras untuk merubah tujuan pengabdian kami itu. Menentukan jadwal keberangkatan juga sangat susah, karena harus menyesuaikan dengan agenda harian 25 orang. Ada yang bulan sibuk praktikum, konsul, kuliah,ujian, sidang akhir, wisudaan, sampai nikahan kakak. Aku? Gak punya halangan soal jadwal karena semester ini memang gak memprogramkan mata kuliah. Tapi galau juga, ketika di grup kawan-kawan pada bilang lagi sibuk revisi buat maju sidang akhir. Apalagi karena dia seangkatan denganku. Oke, aku memang lagi proposal skripsi dan nunggu dapat perusahaan untuk penelitian. Anggap saja ekspedisi ENJ ini sebagai … pelarian sementara!

       Selanjutnya pengumpulan donasi seperti baju layak pakai, buku, alat tulis, uang dan lain-lain. Meskipun gak terlalu berharap lewat pesan broadcast di LINE, ternyata ada juga kawan yang menyumbangkan baju satu kardus besar. Aku sendiri juga menyumbangkan beberapa baju dan buku serta alat tulis. Selain donasi, program kerja (proker) juga mesti disusun jauh-jauh hari. Ada 3 divisi di tim kami : lingkungan, pendidikan dan ekososmas. Aku masuk divisi lingkungan. Kami akan melakukan edukasi lingkungan di sekolah-sekolah dengan nonton bersama film dokumenter, penanaman pohon, pembuatan vertical garden, pengadaan tong sampah, pengadaan Apotek Hidup, bersih-bersih pantai. 

28 September 2017
       Dari Palangka Raya, ada 3 peserta. Aku, Yaman dan Restu. Keduanya sama-sama dari Nias. Kami bertiga sama-sama dari Sumatera Utara yang numpang kuliah di Kalimantan Tengah. Tapi Yaman gak percaya saat kubilang aku orang Batak. Padahal biasanya orang yang dengar aku ngomong langsung bisa tau dari logatku. 

    Dari Palangka Raya kami berangkat naik travel (aku minum antimo), sehari sebelum keberangkatan ke desa pengabdian. Kami berangkat jam 14.00 WIB. Waktu tempuh Palangka Raya-Banjarmasin 4 jam. Supirnya orang Jawa dan sangat ramah. Bahkan beliau tidak merokok. Katanya itu sebagai tanda menghargai penumpang. Kami tiba di Banjarmasin jam 19.00 WITA. Perbedaan waktu satu jam dengan Palangka Raya. Langsung ke tempatnya kenalan Yaman, yang ternyata orang batak dan memintaku memanggilnya ‘Abang’.

     Istri abang itu suku Manado. Di sana ada laki-laki Papua seumuran Yaman. Tadinya kukira keponakan atau apanya. Kata abang, itu anak binaan rohani-nya. 
“Lena jurusan apa?” 
“Teknik, Bang.” Biasanya aku hanya menyebutkan fakultasku jika ada yang bertanya. Dan biasanya juga yang nanya cukup sampai disitu saja. Tapi ini..
“Teknik apa?”
“Pertambangan, Bang.”
Begitu menyebutkan ‘pertambangan’, raut wajah beliau berubah. “Semester berapa?”
Dengan jujur kujawab semester 9. Kemudian beliau menanyakan Restu, lalu balik lagi pertanyaannya ke aku. “Lena, coba cerita apa masalahnya. Kenapa belum bisa belum lulus?”
        Aku tau, aku tidak ‘mencintai’ jurusan ini. Sehingga sering merasa terbebani mengerjakan tugas, ujian bahkan saat ini (menyusun proposal skripsi). Tapi kujawab bahwa tidak ada yang salah.
“Abang dulu jurusan teknik pertambangan di Bandung.”
“Kampus apa, Bang?”
“ITB.”
         Aku skakmat. Aku kuliah di UPR aja terseok-seok, apalagi di ITB.
“Tapi waktu itu abang gak mendalami jurusan abang. Karena kan, waktu SMA gak ada yang mengarahkan. Jurusan ini kayak gini, kerjanya nanti di sini. Abang asal pilih jurusan aja waktu daftar ujian. Bukannya abang bodoh. Enggak. IPK bagus. Hanya saja, jiwa abang gak disitu. Hampir tiap minggu ke lab, bikin laporan. Tapi abang gak bodoh kok.”

       Serasa tertohok. Karena aku ketemu dengan orang yang bisa dibilang senasib denganku. Beliau lanjut menasehati bahwa kuliah gak perlu ikut organisasi yang bikin lama kuliah. Mahasiswa hanya butuh dua hal, yang pertama kuliah dengan benar dan ikut kegiatan kerohanian.
“Sekarang jiwa anak-anak muda gampang sekali dipengaruhi hal-hal negatif. Makanya untuk mencegah itu, selain kuliah anak muda harus berbaur di dalam sebuah komunitas rohani.”

     Malamnya, kami izin keluar ketemu dengan kawan-kawan tim ENJ. Kami dijemput dengan 3 motor. Malam itu dilakukan perkenalan dan briefing keberangkatan besoknya. Tapi aku masih terbayang-bayang perkataan Abang Sitorus.

29 September 2017
     Alarmku bunyi jam 5 pagi. Kami akan berangkat jam 7 pagi itu. Aku keluar dari kamar dan mengintip pintu kamar sebelah. Kayakanya mereka belum bangun, Yaman & Restu. Aku mengirimkan pesan lewat LINE, baru masuk ke kamar mandi. Jam 7, kami dijemput naik motor dan diantar ke kampus UNLAM. Bus yang akan membawa kami sudah di sana. Aku menyalami keluarga yang telah ringan hati memberikan kami penginapan dan pamit.

“Nanti kalau pulang, singgah aja lagi ya, Lena.”
“Iya, Bang.”

       Hari ini hari yang penting, karena keberangkatan kami ke desa tujuan pengabdian. Satu per satu kawan-kawan tim 1 ENJ Kalsel berdatangan dengan tas besar. Beberapa membawa carriel malah. Kami berjabat tangan dan berkenalan satu sama lain. Ada yang dari Samarinda, Jakarta, dan tentunya Banjarmasin mendominasi. Koodinator divisi kami, mbak Asti berasal dari Samarinda dan baru diwisuda 2 hari yang lalu. Aku yang seangkatan dengan dia, somehow merasa kecil hati karena belum lulus. 
Ini aku yang fotoin pakai HP-ku, jadinya aku gak ada di foto ini

     Aku kembali minum antimo dan memilih kursi dekat kaca. Di kursi sebelahku ada Aulia. Percakapan kami langsung nyambung gitu pas tau sama-sama ikut UKM Mapala. Dan semakin nyambung karena seangkatan dan belum kelar kuliahnya. Wkwkwk. Apakah kami terlalu sibuk mendaki gunung hingga lupa dengan skripsi?

     Dari 25 orang, tersisa 18 orang yang tergabung dalam tim 1 ENJ 2017 Kalsel. Sisanya mengundurkan diri karena agenda pribadi, termasuk Andre. Dia masih di perusahaan, penelitian skripsi. Oke, kayaknya semakin jelas kalau ekspedisi ini ajang pelarian buatku.  

      Desa Teluk Tamiang adalah tujuan kami. Terletak di kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, kabupaten Kotabaru provinsi Kalimantan Selatan.pulau yang sangat bagus. Setelah Pandan, ini adalah kedua kalinya aku merasakan laut. Untuk kalian yang belum pernah ke laut, rasa airnya asin. Desa itu menurutku udah berkembang cukup cepat. Listrik udah lancar, sekolah ada. TK sampai SMP. Iya, SMA-nya mesti ke kecamatan. Karena berada di pesisir, wajar 95% penduduknya nelayan. Dengar-dengar dari penduduk, buat sampai ke Sulawesi hanya semalaman dengan kapal. Ongkosnya? 20 ribu. 

       Perjalanan ke desa itu dari Banjarmasin cukup panjang dengan bus. Ada sekitar 18 jam kayaknya kami duduk di bus. Kami melewati beberapa kabupaten sebelum akhirnya sampai di pelabuhan. Tadinya kukira bus kami tidak ikut masuk ke kapal. Transportasi kapal hanya 30 menit. Di kapal kami berfoto ria. Angin laut sore itu sangat menyejukkan menerbangkan rambut kesana-kemari. \
Mbak Asti, aku dan Aulia

PDH ENJ-nya keren gak sih..

Rombongan Palangka Raya (Restu, aku, Yaman)




    Setelah turun dari kapal, kukira kami sudah sampai di desa pengabdian. Ternyata masih menggunakan bus, sekitar 4 jam lagi dengan kondisi jalan berkerikil dan gak gak rata.

      Jam 9 malam, bus berhenti di dekat masjid. Kami semua keluar, meluruskan badan. Yang solat pergi ke masjid. Sebenarnya dari 18 orang, hanya kami bertiga dari Palangka Raya yang non Muslim. Lima belas menit kemudian, perjalanan dilanjutkan kembali. Awalnya kami melewati rumah-rumah dan pertokoan yang padat. Tapi lama kelamaan rumah semakin jarang dan sederhana. Menemukan desa Teluk Tamiang juga tidak mudah. Berulang kali supir bus harus memutar balik, karena salah masuk gang atau persimpangan. Sang supir marah-marah dengan si kondektur yang tidak menanyakan dengan jelas penduduk di situ. 

       Tiba di daerah pengabdian sekitar jam 11 malam, kami diterima di rumah salah satu penduduk, yang jauh-jauh hari sudah kontak-kontakan. Ada yang langsung mandi, rebahan, berbincang dengan Pak Tabe, pemilik rumah. Beliau asli Bugis. Suku dominan di Teluk Tamiang adalah suku Bugis. Sisanya suku Mandar. 

30 September 2017
        Pagi-pagi aku terbangun. Kukira sudah jam 6, tetapi begitu melirik jam ternyata masih jam 4. Aku terbangun oleh kawan-kawan yang bergegas solat. Susah payah kucoba melanjutkan tidur. Tapi gak bisa. Akhirnya kuputuskan bangun dan mandi. Mau mandi mesti antri, karena kamar mandi ada satu saja, sementara kami ber-18.

       Jam setengah 7 kurang sedikit, semua anggota tim sudah rapi dengan PDH ENJ berwarna abu-abu. Selama di desa Teluk Tamiang, makanan kami akan dimasak oleh keluarga Pak Tabe. Kami akan membayarkannya dengan uang di hari terakhir nanti. Setelah sarapan, tim berangkat ke kantor kepala desa untuk melakukan audiensi, memperkenalkan diri dan tujuan kedatangan kami. Pak kepala desa sebelumnya memberikan gambaran umum desa Teluk Tamiang dari segi ekonomi, sosial dan pendidikan. Di desa itu hanya ada 2 TK, 1 SD, 1 MTs dan belum ada SMA. Mayoritas penduduk nelayan, dengan suku Bugis dan Mandar. Untuk agama, sepertinya 100% muslim.

       Selesai dari kantor kepala desa, tim kami berkeliling desa untuk mengamati lingkungan desa Teluk Tamiang. Rumah penduduknya padat, bisa dibilang udah berkembang. Listrik juga sudah lancar. Provider internet telkomsel juga udah bisa. Kata pak kades, desa ini memang sering didatangi oleh peneliti dari luar daerah. Peneliti itu meneliti terumbu karang di laut Teluk Tamiang. 
Ah, desa ini.. Kayaknya bakalan bikin betah disini !

Judul : Rayuan Pohon Kelapa ^_^

Ivan + Restu = Abang + adek

Oppa and Noona (Sama-sama anak teknik dan K-Popers nih)


Cewek-cewek Mapala yg belum ngerjain skripsi


Gaya bebas

Serasa di pantai...

        Malamnya, tim melakukan briefing untuk menyusun kegiatan besok hari.

01 Oktober 2017
         Setiap pagi aku jadi ikutan bangun jam 4 subuh. Itu karena aku ikutan terbangun. Kawan-kawan lain pada solat. 

        Paginya sesuai dengan pembagian tugas yang sudah dilakukan tadi malam. Cowok-cowok akan kerja bakti membersihkan area pantai dan yang ceweknya senam di lapangan desa. Beberapa ibu-ibu dan anak kecil mengikuti kawan-kawan yang jadi instruktur di depan. Aku, Aulia dan Kiya menggerakkan asal badan kami sambil cengengesan. Selesai senam, semuanya bubar. Tapi kami bertiga malah naik ke bukit di dekat lapangan desa itu. Karena tidak menemukan jalan naik, kami pun merintis jalan baru. Alhasil, Kiya yang bukan anak mapala teriak-teriak takut tergelincir ke bawah. 

      Tiba di puncak bukit, kami bisa melihat pulau ini hampir seluruhnya. Laut, kapal dan burung yang terbang. Cukup lama kami duduk di puncak sambil merasakan angin laut yang segar. Ketika turun, kami bergabung dengan yang lainnya membersihkan pantai. Sisa pagi itu kami habiskan untuk bermain di pantai. Mengumpulkan kerang, main air, foto-foto. 

“Nama asli mu, memang MUTIARA?”aku bertanya pada cowok yang paling suka selfie di tim kami.
“Iya. Keren?”
“Seolah-olah.”
“Bukan juga, nama panjangku MUHAMMAD ADITYA RAMADHAN. Jadi kalau disingkat jadi MUTYARA.”
Kami bertiga ngakak. Singkatan yang haqiqi. 

        Di dekat pantai situ ternyata ada satu bukit lagi dan ini sepertinya lebih tinggi dari bukit yang tadi kami bertiga naiki. Langsung saja semua kawan-kawan naik. Padahal cuaca mendung, mau hujan. Sialnya, aku melepas dan meninggalkan sandalku di belakang rumah warga tadi karena berjalan di pantai lebih enak tanpa alas kaki. Sekalinya diajak naik bukit yang jalannya dipenuhi semak. 

     Setibanya di atas, langsung aja jepret foto sebanyak mungkin. Adnin, cewek asal Bontang Kalimantan Timur adalah yang duluan bikin tulisan “kapan  ke sini” di kertas. Aku dan Aulia ikutan. Tapi isinya cukup memilukan karena buat diri sendiri, “Magdalena, kapan wisuda.” Terus difoto. Tapi yakinlah, gak bakalan di-upload ke sosmed karena akan bikin malu diri sendiri.


RT-06
         Siangnya setelah makan siang dan istirahat sebentar, koordinator tim, Oni dan divisi lingkungan jalan kaki ke RT-06. Kami mau menjumpai ketua RT untuk menanyakan kebun PKK yang bisa ditanami tanaman Apotek Hidup. Kami sudah menyakan ke pak Kades dan diminta ke RT-06.
“Jangan jalan kaki, jauh itu,” kata Pak Tabe.
“Gak apa-apa, Pak. Tadi aja kami udah naik bukit,” kataku.
“Ini lebih jauh dari naik bukit, jalannya juga naik turun.”

         Tapi kami tetap pergi berjalan kaki. Beberapa menit kemudian teriknya matahari mulai kerasa. Panas dan haus bercampur jadi satu. Penyesalan pun mampir di benak masing-masing. Kemudian ketika sebuah pick up muncul dari belakang, kami pun ngompreng. Tiba di rumah Pak RT-nya, ternyata tertutup. Lewat tetangga beliau, kami bisa mendapat nomor HP-nya dan menelpon beliau. Untung bisa dan beberapa lama kemudian beliau datang. Kami pun mensuvei lahan yang akan ditanami Bawang Dayak yang dibawa oleh tim. Lahan yang ditunjuk ternyata sudah padat dengan tanaman lain. Kami pun kembali.

       Kami sudah bolak-balik liat ke belakang siapa tahu ada pick up yang bisa ditumpangi lagi. Di tengah perjalanan pulang, kami malah bertemu dengan kawan-kawan tim yang tadi tinggal di rumah. Mereka niatnya mau nyusul kami ke RT 06. Mereka mencegat kami tidak boleh lewat sebelum menjawab teka-teki konyol mereka.

“Ayam, ayam apa yang bisa bertelur di puncak gunung?” tanya si Restu tepat di mukaku. Aku berpikir sebentar, lalu tau jawabannya.
“Ayam betina.”
Si Restu langsung pasang wajah speechless gara-gara aku bisa jawab.
Dua pertanyaan lainnya juga bisa kami jawab sehingga kami bisa lewat.
“Yakin mau jalan kaki ke RT 06? Masih jauh loh,” Oni memperingati mereka. Kami aja jera.

       Mereka tetap lanjut, kami juga. Kebetulan lewat tukang es krim, disusul di belakangnya ada pick-up pengangkut ternak. Kami naik itu. 

        Jam 3 sore, kami menanam bibit-bibit pohon di sekolah MTs. Penanaman ini dihadiri pak kades. Setelah foto bersama beliau mohon izin. Setelah semua bibit ditanam, kami juga kembali ke rumah, kecuali aku, Kiya dan Ivan. Kami gabung main voli sama anak-anak desa. Pasang muka sok-sok akrab, padahal main voli aja aku gak bisa. 
Sambil nunggu pak kades-nya datang

       Pas pulangnya aku tersadarkan bahwa hari itu hari Minggu dan di desa ini gak ada satu pun gereja.


02 Oktober 2017

          Senin adalah hari wajib upacara. Hari ini kami ikut upacara di halaman sekolah MTs desa Teluk Tamiang. Setelah sekian lama gak pernah upacara bendera, akhirnya bisa merasakannya lagi. Petugasnya, mulai dai MC, pengibar bendera, komandan upacara, pembaca naskah UUD 1945, Pancasila, Janji Siswa dan dirijen adalah tentu siswa dan siswi di sekolah itu. 

Setelah selesai upacara, sesuai tugas yang telah dibagi kami masuk ke kelas-kelas. Divisi lingkungan akan melakukan edukasi lingkungan lewat pemutaran film dokumenter. Sebelum pemutaran film, kami perkenalan dulu dengan mereka. Cita-cita mereka banyak yang pengen jadi guru. Ada anak cowok yang malu nyebutin cita-citanya. Aku kira cita-citanya dia aneh, tapi ternyata : koki. Mana pula koki jadi cita-cita yang memalukan.

“Adek-adek, ada yang tau gak kita tinggal di desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi apa?”tanyaku. beberapa tangan teracung ke atas. Aku sengaja memilih yang paling belakang.
“Desa Teluk Tamiang, kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar, kabupaten Kotabaru dan provinsi Kalimantan Selatan.”
“Oke, benar. Terima kasih. Ayo tepuk tangan untuk temannya.”   
Sambil menunggu proyektornya siap, aku mengajak mereka memainkan beberapa games. Semuanya sangat responsif. Begitu pula saat film ditampilkan, mereka mendengarkan dengan tertib. Di akhir film aku memberikan beberapa pertanyaan yang jawabannya ada dari film tadi. 
Kenalkan, Dek kakak dari Tim ENJ 1 Kalsel..

Nonton film dokumenter lingkungan

Harapannya yang bagus-bagus ya..


Tree of Hopes

Anak-anak SMP-nya gokil nih begayaan


           Terakhir kita bikin tree of hopes. Ini adalah pohon pengharapan.
“Adek-adek, kalian saying gak sama desa kita ini?”
“Sayang, Kak.”
“Nah, kalau kalian saying, pastinya kalian punya impian atau harapan seharusnya desa ini bagaimana. Apakah kalian ingin desa ini makin maju, tetap bersih atau banyak turis yang datang. Silahkan tuliskan apa saja harapan kalian di kertas dan nantinya akan kita temple di depan. Ok?”
“Oke , Kak.”

           Ada aja anak yang bikin harapan aneh-aneh; semoga desa ini digusur. Tapi ada juga yang tulus, semoga desa ini tetap bersih dan indah; semoga ada jembatan dari sekolah ke desaku, supaya ke sekolah bisa cepat; semoga pantai desa Teluk Tamiang tetap indah.
Kertas-kertas berisi pengharapan mereka itu kami tempelkan dalam kertas karton besar. Nantinya akan kami serahkan kepada pak kades. 

          Hari itu kami habiskan dengan kunjungan ke tempat pembenihan ikan sore harinya.

03 Oktober 2017

         Paginya kami melakukan penanaman Bawang Dayak di taman belakang kantor kepala desa. Bawang Dayak warnanya merah dan mirip bawang merah biasa, tapi gak ada aroma bawangnya. Bawang itu kami tanam dalam polybag kecil, setelah ujung-ujung atasnya di potong sedikit supaya tunasnya cepat tumbuh. Setelah dokumentasi, kami lanjut ke program keja beikutnya, kunjungan ke TK.
          Ada 2 TK di desa Teluk Tamiang. Satu dekat dengan kanto kades, TK Seroja. Satu lagi di RT 06. Kawan-kawan tim ENJ yang kebagian di TK RT 06 mesti jalan kaki lagi. Wkwkwk. 
“Mendengar RT 06 kok langsung merinding ya,” celutuk Desti. Yang lain langsung terbahak.
“Itu gara-gara trauma jalan kaki PP kemarin,” tambah Kiya.  

       Di TK Seroja divisi pendidikan sedang menjalankan aksinya. Kawan-kawan yang dari latar belakang ilmu keguruan sedang mengajak anak-anak TK untuk bernyanyi bersama. Anak-anak yang berani maju untuk menyanyi ke depan diberi hadiah. Jadinya mereka berebutan untuk maju ke depan. Selain bernyanyi juga diadakan lomba mewarnai. Objeknya yaitu kapal yang berlayar di lautan. Anak-anak itu mewarnai dengan imajinasi mereka masing-masing. Ada yang mewanai warna laut dengan hijau dan warna bendera kapal berwarna kuning. Tapi ada juga yang mewanainya dengan tepat, warna air laut biru dan bendera merah putih. Gambar itu jadi juara 1. 

      Selain pembagian hadiah untuk para juara mewanai, kawan-kawan ENJ juga memberikan sumbangan berupa buku-buku dan alat peraga untuk belajar anak TK. Selesai berfoto bersama, kami meninggalkan TK itu. Kami go to pasar desa, karena perut sudah menyerang tuannya. 

Sampan atau Perahu
        Setelah makan siang, matahari semakin panas. Tinggal di dalam rumah bukanlah pilihan tepat, karena di dalamnya ada 18 orang, tambah pemilik rumah kurang lebih 7 orang. Oksigen sesak. Makanya kami bertiga memutuskan untuk cari angin dengan bersampan. Siapa lagi kalau bukan partner in crime, aku, Kiya dan Aulia. Tapi sebentar,  sampan atau perahu? Sama saja kan, ya! Sampan itu milik penduduk dan kami sudah minta izin terlebih dulu. Sampan itu agak jauh dari daratan. Ketika kami bertiga mendorongnya menuju air, benda yang terbuat dari kayu itu tidak bergerak sama sekali. Padahal kami bertiga mendorongnya sekuat tenaga, bahkan mata Kiya hampir keluar. Wkwkwk.

      Tak lama kemudian, kami sudah kecapean. Padahal perahu itu belum bergerak. Kemudian muncullah 3 orang anak, yang dari tinggi badannya kayaknya udah SMP semua. 
“Dek, bisa minta tolong bantu dorong perahunya?” kata Aulia sambil melambaikan tangan. Mereka terlihat ngomong dalam bahasa Bugis. 
Dek, kok kalian kuat-kuat amat sih?!

Pake kayu loh, Kak..

Anak Pesisir 

Semangat mendayung, Aulia..


         Kami tidak mengerti, tentu saja. Namun akhirnya mereka membantu kami. Ternyata ada triknya untuk mendorong perahu ke air. Di bawah perahu harus dibuat penyangganya kayu bulat dua, sehingga bisa berguling ketika didorong. Seketika teringat pelajaran Fisika SMP, pesawat sederhana. 
Ketika perahu itu sudah mengapung di atas air, anak-anak itu mau pergi. Kami menahannya untuk ikut bersama kami. Jujur, diantara kami bertiga mungkin hanya aku yang bisa mendayung (itu pun tak banyak). Karena daya tamping perahu hanya muat 5 orang, terpaksa seorang dari mereka tinggal. Kami mulai meninggalkan daratan. Dari atas permukaan air, aku bisa melihat permukaan laut yang dangkal. Wah, suatu pemandangan yang luar biasa. Apalagi jika menyelam ke dasar lautan. Sambil berperahu ria, kami tak lupa mengabadikan momen dengan HP. Memposting foto di IG, aku bahkan melakukan LIVE. Yah, meski yang nonton cuma 2 orang. Wkwkwk.

        Panasnya matahari siang gak membuat kami ingin pulang (dapat dipastikan pulang dari ekspedisi ini, aku bakalan makin hitam). Kami memutuskan pulang karena ombak mulai datang dan itu membuat perahu oleng. Rasa mual dan ingin muntah juga timbul. Tapi, begitu tiba di darat, kami bukannya langsung pulang. Perahu itu dipakai sama Yaman CS yang kebetulan melihat kami dari pintu rumah. Kami bertiga? Lanjut dengan petualangan kami. 

“Dek, cari mangga yuk, buat dirujak. Ada gak?” tanya si Kiya. FYI, kawan-kawan tim ENJ memanggilnya sanca. Yep, ular sanca. Entah kenapa, padahal badannya gak lentur-lentur amat kayak ular sanca.

     Petualangan mencari mangga awalnya gak ingin kuikut di dalamnya. Tapi Aulia terus mengajakku. Mana juga cocok makan yang masam-masam di cuaca panas begini. Hadeuh! Begitu pohon mangga yang berbuah ketemu, lagi-lagi si Kiya nyuruh anak-anak itu yang manjat. Kami makan mangga itu di rumah ibu yang sering main ke rumah Pak Tabe. Ibu ini tinggal bersama 3 anaknya, suaminya kerja di kapal yang bolak-balik Samarinda. Begitu masuk rumahnya, sejuk lah yang petama kali kurasakan. Padahal gak ada kipas angin apalagi AC. Kami minta izin berbaring di lantai papan yang sangat nyaman itu. Begitu si Kiya datang dengan mangga mentahnya, langsung saja dikupas dengan semangatnya sama Aulia. Mereka (aku terpaksa ikut makan) menikmati setiap irisan mangga mentah itu dengan garam dan royco. Sangat berfaedah. 

Kerang, Terowongan & Anak-Anak Pesisir
           Pulang dari pencarian mangga, anak-anak itu sepeti janji Kiya tadi bakalan kami traktir jajan di warung. Itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau jadi tour guide kami siang itu. Mereka pun pulang dengan sepedanya. Kami bertiga juga kembali ke rumah Pak Tabe, dimana kawan-kawan sedang mengerjakan gapura sederhana untuk di pasang di sekolah MTs. Gapura itu berisi ucapan selamat datang, tapi dalam bahasa Bugis; Selamo Pole. Pengerjaannya dibantu oleh Pak Tabe, bapak-bapak sekitar dan tentunya cowok-cowok tim ENJ. Aku ambil bagian ketika tulisannya sudah dibuat dan tinggal mewarnai. Warna merah putih menggunakan kuas kecil dan cat minyak. 

           Sorenya, aku dan Aulia bejalan-jalan ke pantai untuk mengumpulkan kerang. Kami 
teus berjalan, sambil keasyikan memunguti setiap kerang atau apapun yang kami anggap unik. Gak terasa kami tiba di jembatan, dimana ada anak kecil, kurus dan hitam khas anak pesisir yang menghampiri kami tanpa malu-malu.

“Kakak sedang cari apa?”
Aku langsung tau kalau dia anak yang cerewet sekaligus pintar. Dia ikut dengan kami mengumpulkan kerang. Dia mengoceh terus dan kami menimpalinya sambil berjalan sepanjang pantai. Kemudian tampak segerombolan lagi anak-anak kecil yang awalnya hanya melihat-lihat kami, tapi kemudian mendekat dan bergabung. Gak jauh dari situ, ada sekelompok anak yang lagi mengorek-orek pasir. Sepertinya mau bikin orang-orangan salju, bukan__orangan pasir!
“Ada yang mau main benteng-bentengan, gak? Ayo dek, kita nanti perang,” ajak Aulia. Anak-anak kemudian dengan semangat bergabung dengan kami dan mengorek pasir. Tapi berhubung kami berdua gak ahli bikin bentengnya, gak peduli seberapa keras kami berusaha membuat pasir itu berbentuk benteng, semuanya kembali runtuh. Hancur. 
“Kita main yang lain aja, Yuk. Ada yang punya usul mau main apa?” tanyaku. Seorang anak perempuan menyebutkan nama permainan yang aku lupa apa. Teknik mainnya sama kayak main tebak-tebakan nama, yang penebak matanya ditutup. Kami main itu sampai orang tua mereka satu per satu datang memanggil pulang. Hingga tinggal aku, Aulia dan si cerewet Farid.

“Kamu gak pulang, Dek?”
“Nanti aja. Buat apa pulang cepat-cepat, rumahku dekat juga. Tadi mereka dipanggil pulang karena rumahnya jauh ke atas sana.” 
Dia ikut ke rumah Pak Tabe. Di sana ada Zidan, cucunya Pak Tabe. 

04 Oktober 2017
        Jam 08.00 pagi kami sudah di sekolah MTs untuk memasang gapura selamat datang. Pak Tabe lagi-lagi ikut membantu kami untuk mendirikannya. Beberapa penduduk juga ikut membantu mencangkul tanah, menimbun kaki gapura di dalam tanah. Penduduk di desa ini memang ramah dan baik-baik amat. Tadi juga aku sempat meminjam motor mau ngambil paku ke rumah Pak Tabe. Dan dikasih.

       Selesai memasang gapura, aku dan kawan-kawan tim ENJ ke rumah pak kades. Ada acara syukuran kelahiran putri beliau. Karena doa syukurnya udah selesai, ketika kami datang sudah acara resepsi. Soto dan kari kambingnya kuborong sekaligus. Wkwkwk. Padahal gak habis juga. 

“Makanya Magda, jangan gelap mata,” ejek Kiya. Aku pua-pura gak dengar.
Selesai makan, kami masuk menyalami pak kades dan istrinya. Istrinya cantik betul (wajar sih, suaminya ganteng), otomatis anaknya juga. Anaknya tidur dalam ayunan, ayunannya penuh digantungi dengan makanan-makanan; buah-buahan, snack, coklat, makanan tradisional Bugis. Mungkin memang begitu adat mereka. Iseng-iseng Aulia nanya.
“Bu, ini makanan yang digantung buat apa?”
“Oh ambil aja , Nak kalau mau.”
         Dalam hati kami langsung senyum senang. Tanganku refleks nyopot apel hijau yang memang tepat di depan hidungku. Ivan sama Kiya berusaha ngambil buah pir yang tergantung tinggi. Si Ivan aja gak bisa ngambil, apalagi Kiya. 

       Agenda hari itu benar-benar padat. Setelah selesai dari rumah pak kades, jam 11 diadakan pembukaan pesta laut. Jadi pesta laut di desa ini diadakan setiap tahun, tujuannya untuk mensyukuri laut yang telah diberikan Tuhan sebagai berkat bagi penduduk pesisir. Pembukaannya dihadiri oleh wakil bupati dan istrinya. Begitu rombongan wakil bupati datang, pak kades langsung menyambut dan mengalungkan untaian bunga. Kemudian arak-arakan rombongan menuju dermaga dan ... naik kapal. Kukira kami akan berlayar ke pulau seberang. Ternyata hanya begerak sedikit saja dari dermaga. Dalam kapal yang membawa bapak wakil bupati, sudah disediakan ikan laut bakar besar dan buras dalam nampan besar. Kapal yang berisi anak-anak ENJ juga kebagian jatah. Yuhui, makan ikan laut bakar di tengah laut!
Nenek moyangku seorang pelaut..

Maafkeun yang jelek di tengah..


Pasar Murah
        Salah satu program kerja divisi ekososmas yaitu pasar murah. Jadi pada saat berangkat ke desa pengabdian ini, kami membawa barang-barang donasi dari kawan-kawan dan donator lainnya. Ada pakaian, tas dan sepatu. Donasi-donasi itu selanjutnya kami jual, namun dengan harga yang sangat murah, hanya 5.000/pcs. Sore itu kami buka lapak di areal kosong di pasar dekat lapangan bola. Langsung saja diserbu oleh ibu-ibu, bapak-bapak dan gak ketinggalan anak-anak. 
Pak Tabe pakai topi merah 

Mas Faiz ekspresi mukanya tolong dikondisikan ya..


“Yang sayang anak, sayang istri, suami. Dipilih-dipilih. Serba 5.000,” Pak Tabe meneriakkan jualan donasi itu. Aku yang kebagian tugas memasukkan pakaian pembeli ke dalam kantong plastik malah kewalahan, saking banyaknya pembeli. 
“Obral hanya sore ini saja. Lewat jam 6 sore, silahkan datang ke rumah saya,”kembali Pak Tabe berteriak.

05 Oktober 2017
      Donasi yang dijual kemarin tidak semuanya habis. Jadi yang tersisa akan disumbangkan semuanya ke Tanjung Kunyit. Tanjung Kunyit adalah desa seberang, kira-kira 30 menit naik kapal dari Teluk Tamiang. Karena hari itu juga anak-anak ENJ libur dari proker, kami pun memanfaatkan kesempatan ini untuk snorkeling. Wuah, aku aja belum pernah snorkeling. Paling berenang biasa. Alat-alat buat snorkeling sudah disewa. Jam 12 siang barulah bisa berangkat, karena hujan deras dari pagi.  

      Dalam perjalanan menuju Tanjung Kunyit kami naik kapal bermesin. Udara laut betiup sangat segar. Bahkan saking kencangnya angin, topi ENJ-nya Desti diterbangkan angin ke laut. Pak Tabe yang ikut bersama kami memberitahu supir (?) untuk memutar arah, mengambil topinya. Setelah dapat, pejalanan dilanjutkan. Lima menit kemudian malah giliran sendalku yang diterbangkan. Tapi Pak Tabe gak melihat. Aku hanya bisa mengangakan mulut tanda tak rela. Hingga tiba di Tanjung Kunyit, aku hanya mengenakan sebelah sandal saja.

        Setelah donasi diserahkan, kami langsung menuju pantai. Tanya-tanya penduduk sekitar daerah pantai yang bagus untuk snorkeling, kami disarankan untuk jalan kaki kira-kira 15 menit ke utara. Jadilah aku jalan dengan sebelah kaki telanjang. Padahal pantainya penuh dengan bebatuan cadas. Untungnya gak lama kemudian nemu sandal eiger hitam sebelah kiri. Jadinya aku memakai sandal yang beda-beda. Lumayanlah buat ngelindungi kaki.
Sendal yang dua sepesies

Yang pertama kali snorkeling 

HP-ku yang tahan air

Kadang pengen tersesat beneran di pulau beginian

Persahabatan bagai kepompong

Pulau Galapagos ini mah..

Ivan sang diver

Desita, Mbak Asti dan Oni (koordinator tim 1)


        Tibalah kami di tebing batu yang menghadap langsung ke laut. Busyet dah, ini tuh pecah banget pemandangannya. Serasa di Pulau Galapagos deh. Kaktusnya aja lagi yang kurang. Gak kehitung berapa puluh foto yang kuambil di tempat itu. Tulisan juga ada. Isinya, “Kapan Wisuda.” Nanya diri sendiri. Absurd memang! Kami juga gak lupa buat foto keluaga dengan spanduk ENJ. Puas berenang, snorkeling dan liat-liat terumbu karang (meski pun air bisa nembus kaca matanya), aku keluar dari air. Kulit udah menghitam dan telapak kaki tangan mengkerut. Ada dua orang anak perempuan yang melihat-lihat kami berenang. Mereka ngasih tau aku dan Aulia kalau kerang-kerang kecil di bebatuan bisa dimakan. Siput, iya itu namanya. Akhirnya kami menggulingkan bebatuan dan ngumpulin siput sebanyak mungkin. 

    Waktu pulang, aku, Aulia, Ivan dan kedua little girl itu paling belakangan. Si Ivan yang notabenenya duta lingkungan, dengan senang hati memunguti sampah di pantai. Dia nemu karung, terus sambil jalan ke dermaga sampahnya diambilin. Kedua anak kecil itu juga dinasehatinya buat gak buang sampah sembarangan. 

“Tempat sampah di sini belum ada, Kak. Jangankan tempat sampah. WC aja belum punya. Penduduk buang air di sekitar pantai ini,” si adek nunjuk pantai yang baru kami lewati.
Busyet! Jadi tadi yang kuning-kuning kuinjak..???
Ketika mau berpisah, Ivan ngasih mereka duit. Katanya buat jajan. 

      Aku udah kedinginan dan gak bawa baju ganti. Kirain langsung pulang ke Teluk Tamiang, ternyata kawan-kawan masih pada mau ke Tower. Entah lah apa keistimewaan tower itu. Yang pasti kami kedinginan nunggu mereka pulang dari bukit tempat tower itu berada. Mbak Asti, Ivan, Oni dan Adnin masih setia mengumpulkan sampah. Aku juga divisi lingkungan padahal. Aku, Aulia, Kiya, Desti dan Qonita memilih nunggu di warung dekat situ. Ketika melihat di samping warung ada tungku masak, aku pun punya ide untuk menyalakan api. Si ibu ngasih tau cara membakar sabuk kelapa (gak ada kayu) yang udah kering itu. yaelah bu, tau kali saya. Begitu menyala, aku dan Aulia langsung mendekatkan tangan kami kea pi. Hm, hangat. Oni gabung kemudian. Gak lama setelah itu, rombongan yang dari tower kembali. 

      Hari udah gelap waktu kapal membawa kami pulang kembali ke Teluk Tamiang. Aku memandang desa itu dengan perasaan gamang. Kayaknya kami salah tempat pengabdian. bagiku, desa Tanjung Kunyit lebih cocok mendapat perhatian daripada Teluk Tamiang. Di Tanjung Kunyit hanya ada satu SD. Gak ada WC atau poliklinik. Sampah juga masih berserakan. Ah, entahlah. Mungkin next expedition bisa dirundingkan buat ke sana.
Ketika udah di dermaga, aku menarik Aulia untuk pulang cepat-cepat ke rumah. Supaya kami bisa mandi duluan. Ivan yang tau rencana kami malah lari duluan. Terjadilah kejar-kejaran dan tarik-tarikan baju..
“Ivan….aku udah kedinginan…!!!”
Tapi dia udah jauh di depan kami. Lolos dari tarikanku pada bajunya.


06 Oktober 2017
       Hari ini giliran kami mengunjungi SD Teluk Tamiang. Bangunan sekolahnya sudah terbuat dari beton. Tapi beberapa siswa masih menggunakan sandal ke sekolah. 

    Program kerja divisi lingkungan hari itu : membuat pot gantung (vertical garden). Kami melibatkan adek-adek SD untuk memotong akua bekas, mengecat permukaannya dan menanam tanaman dalam pot itu. Yang menggelikan adalah ada bocah yang ngecat rambut dan sepatunya pakai cat minyak itu. Busyet dah. Apakah dia karena ngeliat rambut gue yang pirang? Tapi dek, ini emang ada cat khususnya. Gak cuma itu, gara-gara kuasnya kurang, banyak anak yang menggunakan jarinya untuk mengoleskan cat ke permukaan akua. So creative they are!

Gini loh, Dek cara waranainnya

Ganteng nih adeknya. Bawa pulang bisa?

Kena cat deh sepatu converse kesayangan aing..

      Dan sambil nungguin catnya kering, aku sama Ivan ikutan main voli di lapangan sekolah. Gurunya jago-jago amat main voli. Guru vs ENJ. 
Terakhir kami menyampaikan sumbangan tong sampah untuk sekolah itu. Semoga bisa dimanfaatkan dengan baik. 

Last Game
       Program kerja ENJ yang terakhir adalah : game. Sore itu kami mengumpulkan anak-anak desa buat lomba makan kerupuk dan bakiak. Semua datang, anak-anak desa. Mulai dari yang belum sekolah sampai yang gak sekolah lagi hadir. Yang pusing ngatur : kawan-kawan tim ENJ. 
Semangatttttt...!!!

Yang paling seru emang lomba makan kerupuk

Lagi pada gambar apaan sih di pasir?


      Selesai membagikan hadiah, kawan-kawan yang lain pada pulang ke rumah Pak Tabe. Kami bertiga melangkahkan kaki ke lapangan voli. Kalau si Ivan emang jago main voli. Aku dan Aulia? Kami jadi sasaran bola terus. Ada kejadian dimana aku ingin mengembalikan bola ke seberang, tapi malah jatuh ke tanah dengan posisi terlentang. Aulia malah menghindari bola sambil teriak histeris. Wkwkwk. Malu sama anak-anak kecil disitu yang pada jago mainnya.  

         Jam 6 lewat barulah kami menyudahi permainan voli itu. Itupun dengan berat hati, karena besok sudah akan meninggalkan desa Teluk Tamiang. Dalam perjalanan pulang ke rumah Pak Tabe, kami liat kawan-kawan ENJ yang lain masih ada yang main bola kaki di pantai. Kami gabung lagi ikutan main, padahal udah senja banget. 
“Wei, si Ivan ultah loh hari ini,” kata Adnin.
Tanpa tau itu benar atau gak, aku dan Aulia langsung menarik baju si Ivan, terus dibantuin gotong sama yang lain, terus diceburin ke laut. Wakakakak.

        Malam harinya kawan-kawan udah mulai packing barang-barangnya. Aku sendiri berada dalam perasaan gak rela, kalau besok kami udah pulang. Aku mengajak partner in crime ke pasar, nyari makanan ringan. Kami melewatkan makan malam. Di pasar, kami ketemu sama anak-anak desa yang tempo hari sekolahnya dikunjungi tim ENJ. Cengar-cengir gitu, kirain mau bayarin martabak yang kami makan. Tapi juga gak minta kami yang bayarin.

      Berhubung besok kawan-kawan ENJ udah berpisah, diadakanlah malam penutupan jam 9 malam. Kami bakar-bakar tempe, tahu, terong di pantai. Mau bakar ikan, tapi udah gak tau beli dimana jam segitu. Sambil menunggu yang dibakar mateng, ada yang nyanyi, ngelawak, tiduran di pasir sambil menatap langit malam. Aku, Adnin, Mbak Asti, Ivan, Aulia dan Adit sok belaga lagi di acara LIVE mewawancarai orang penting.

“Selamat malam, dengan mas siapa saya bebicara?” aku selaku MC mengarahkan kayu (dianggap MIC) ke depan wajah Ivan.
“…….”
“Jadi mas Ivan menurut bagaimana, apa yang anda dapatkan selama kegiatan ENJ ini?”
“…….”
“Oh, iya. Dengar-dengar anda ini duta lingkungan ya, apa pesan anda untuk anak-anak bangsa di Teluk Tamiang ini?’
“…….”

       Kegiatan konyol itu berlanjut terus. Dari yang tadinya bahasa Indonesia, si Adit yang jadi MC kali ini mewawancarai Mbak Asti pake bahasa Inggris. 
        Serah mereka deh!
     Ketika bakar-bakarnya udah mateng, kami duduk melingkar di atas pasir. Semua anggota tim, kecuali Kiya. Si Sanca udah tidur dari jam 7 tadi. Tinggallah kami 16 orang, yang saling mengungkapkan kesannya selama ekspedisi di desa ini. Oni sama Qonita menangis. Semua terungkapkan, rasa kesal, kecewa, sedih diungkapkan malam itu juga. Tibalah giliranku..

     “Terima kasih buat kawan-kawan Tim 1 ENJ Kalsel, buat koordinator, kawan-kawan dari Palangka Raya, koordinator tiap divisi. Tanpa kalian semua kegiatan kita tidak akan bisa berjalan. Sedikit cerita bahwa ekspedisi ini adalah pelarian saya dari tugas akhir di kampus. Ada beberapa kendala sehingga saya menundanya. Tapi dalam perjalanan ini saya bertemu dengan banyak orang-orang yang dengan caranya sendiri memotivasi saya untuk menuntaskan kewajiban akhir saya itu. Saya sangat bersyukur sekali akan itu. Semoga di lain kesempatan kita bisa bertemu lagi, di ENJ tahun depan mungkin. Dan saya mohon maaf, jika selama ekspedisi ini berkelakuan menyebalkan sehingga ada kawan-kawan yang sakit hati atau tesinggung. Saya mohon maaf sekali dan sekali lagi terima kasih, kawan!”

       Selesai acara maaf-maaf an, saatnya menyerbu hidangan. Habis tanpa sisa. Selesai makan, kami membersihkan peralatan yang digunakan. Saat mengumpulkan piring, aku memungut HP-ku dari pasir dan berniat ngerjain si Ivan yang ulang tahun. Kawan-kawan satu per satu kembali ke rumah, tidur. 

“Van, HP-ku mana?” tanyaku ke Ivan karena tadi dia yang pake HP-ku itu buat dengerin musik. 
Mukanya langsung tegang. Nyari-nyari di pasir, tempat dia tadi berbaring. Gak ada. 
“Belum kukasih ya sama kakak?”
“Belum ah.”
Aku sudah mengedipkan sebelah mata ke Aulia.
“Astaga, Van HP orang kamu ilangin,” dia ikutan membuat Ivan panik. Tinggal kami bertiga yang masih di pantai. 
“Kak, seriusan nah. Aku tadi tidur di sini aja, gak ada pindah tempat.”
Aku dan Aulia berusaha keras nahan biar gak ketawa. Tapi gak berhasil, kami ngakak kencang. 
“Ta-da..! Selamat ulang tahun, Ivan.”
Aku langsung melarikan diri ke rumah.  

07 Oktober 2017
        Paginya kami ke kantor pak kades untuk melaporkan bahwa kegiatan ENJ sudah berakhir. Sekalian pamit dan mengucapkan terima kasih telah menerima kami selama kurang lebih seminggu di desa Teluk Tamiang. Beberapa penduduk juga hadir di situ. Kami bersalam-salaman dan berfoto bersama untuk terakhir kalinya. Pak kades memberikan oleh-oleh, yang kayaknya kerupuk ikan dalam kardus.
Pak Kadesnya ganteng loh, girls..


       Pulang ke rumah dan mulai packing-packing. Jam 3 sore bus sudah datang. Pak Tabe dan anaknya melepas kepergian kami dengan tangis. Kami berfoto bersama di depan rumah Pak Tabe. 
Bus membawa kami meninggalkan desa yang hangat ini, rasanya seperti aku sudah bertahun-tahun tinggal di sana. Aku melambaikan tangan lewat kaca bus kepada siapa saja yang kami lewati. Entah kenapa air mataku seharusnya jatuh saat seperti ini, tapi malah..kering!

       Jam 8 malam kami sudah menyeberang dengan feri. Di warung pinggir jalan kami makan malam. Rasa-rasa sedih karena akan berpisah itu muncul lagi. Akh! Aku mengeluarkan kepalaku lewat kaca bus. Angin malamnya sejuk. Saatnya kembali ke rutinitas.

       Jam 4 pagi kami udah tiba di Banjarbaru. Ivan turun di sini. Dia menyalami kami semua. Aku melambaikan tangan, “Dadah, Ivan. Sampai ketemu lagi.”

08 Oktober 2017
       Kami tiba di Banjarmasin jam 5 pagi, langsung ke kosnya Oni. Semua pada rebahan begitu tiba di dalam rumah. Kelelahan karena perjalanan panjang dari jam 3 sore kemarin sampai keesokan harinya jam 5 pagi. 

      Agenda hari itu adalah jalan-jalan. Pertama, mengisi perut dulu dengan soto banjar di pasar terapung. Lalu kami naik kapal kecil ke pulau Kembang mau liat bekantan. Perjalanan kira-kira 40 menit sampai kesana. Biaya kapalnya 35 ribu. Kami melewati sungai yang dipagari dengan rumah penduduk di kiri dan kanan. Padat sekali rumah di pinggir sungai itu. Warna airnya? Cokelat kehitaman. Tapi aku melihat penduduk yang menimba air dari sungai itu dan menggunakannya untuk mandi, mencuci. 

      Tapi mungkin kami kurang beruntung hari itu karena gak ada bekantan yang terlihat. Padahal udah bayar tiket 7.500. Kami terpaksa kembali ke pasar terapung.
Gagal ketemu bekantan..

Kok gue kurusan ya di sini???

Muka gua..Gelap!

       Sementara yang lain mau solat, aku dan Aulia ke toko buku gramedia. Lama kami melihat-lihat dan akhirnya hanya membeli satu buku masing-masing. 

Good bye, Friends..
Aku, Yaman dan Restu kembali ke Palangka Raya jam 3 sore dengan travel yang udah dipesan kemarin. Teman-teman yang dari Jawa pulang besok. Mbak Asti dan Adnin juga. Sisanya adalah kawan-kawan yang domisili di Banjarmasin. 
Ah, petualangan sampai di sini …



Another Photos...

Ivan, The Crab Hunter

Senja di Teluk Tamiang

SD Teluk Tamiang dengan Vertikal Garden

Bagus nih, hasil jepretan gua...

Salam Lestari..!!!

Yew..yew

Muhammad Aditya Ramadhan (Mutyara)

Sebelum insiden sendal terbang ke laut

OTW Snorkeling

Beautiful Sunset

Makanan khas Bugis, namanya Bulu Ayam. Ini manis banget!

Kok sendirian aja, Mbak? Pacar mana???!!!

Candid With Sanca

Bawang Dayak, tumbuh subur ya di Teluk Tamiang..

I will be back one day....

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...