Selasa, 30 Oktober 2018

Quarter-Life Crisis

Betapa menyenangkannya ketika impian masa kecil seseorang menjadi kenyataan. Aku paham sebuah kalimat (yang aku lupa siapa yang mengutipnya) 'Ketika kita bersikeras menginginkan sesuatu, saat itu juga seluruh alam semesta tengah berseteru untuk membantu mewujudkannya.' 

Konspirasi alam semesta.

Aku ingat banyak impian kecil yang kurangkai, beberapa diantaranya malah terkesan fiksi sekali. Seiring berjalannya waktu, impian-impian ini perlahan menjadi lebih realistis, meski masih tetap ada rasa pesimis melanda. Jumlahnya juga berkurang, layaknya kerucut yang semakin ke ujung makin mengecil. Semakin lama hidup di bumi, tak dapat dipungkiri bahwa kau akan semakin paham 'what the truly meaning of life is'. Oh yeah, hukum rimba juga berlaku. Siapa yang sanggup bertahan, dialah yag akan hidup. 

Aku masih di sini dengan puing-puing pemikiran ingin segera mengakhiri status mahasiswa, beralih menjadi status pengangguran (baca : sarjana). Rasanya menjadi dua kali lebih berat saat kau tau kawan seangkatanmu sudah banyak yang lulus lebih dulu dan sekarang tidak ketemu di kampus lagi. Cobaan terberatnya adalah menahan semangat yang tak bisa dikatakan full lagi ini, agar tidak menguap. Sebab jika itu terjadi dapat dipastikan semester depan aku harus bayar uang kuliah lagi. Yang artinya aku membohongi ibuku dua kali. 

Waktuku sebagian besar tersita dengan menjaga depot orang di sebuah mall. Gajinya memang tak banyak, tapi aku bisa menghasilkan rupiah dari menit yang dilalui tiap hari. Karena tidak 24 jam juga aku berhadapan dengan skripsi ini. Aku hanya perlu pintar-pintar membagi waktu. 

Kawan-kawan seangkatanku banyak yang sudah mendapatkan pekerjaan. Ada yang bekerja sesuai jurusan, ada yang masih part time (tidak sesuai jurusan). Yang sedang mencari juga ada, mencoba peruntungan menjadi pegawai pemerintah. Ada juga kawanku yang mati-matian tidak ingin mencoba CPNS, namun karena dipaksa oleh orang tuanya, dia mendaftar juga. Ada juga yang melarikan diri dengan prinsip 'asal ada aja dulu', sehingga dia bekerja di bank. 

Mendengar berita kawan-kawanku membuatku was-was dengan masa yang akan datang. Selanjutnya aku yang akan pontang-panting mencari pekerjaan. Iya, aku tau aku bahkan belum lulus. Saat ini usiaku 23 tahun. Lulus nanti usiaku 24. Apakah aku akan berhasil mendapatkan pekerjaan begitu lulus nanti? Setahun, dua tahun, tiga tahun tak akan terasa berlalu begitu saja saat kau memonitor web perusahaan, mencari info lowongan kerja dan menanti balasan e-mail

Kakakku sudah menikah saat usianya 26 tahun. Meski bukan bekerja di BUMN, dia berhasil membiayai kuliahku hingga saat ini. Yang membuatku gusar adalah perkataannya. Setelah dia menikah, akulah yag akan mengambil alih menyekolahkan adik di bawahku. 

Come on, 

Aku bahkan belum kelar dengan laporan skripsi ini. 
Kenapa semua masih terasa gelap..
Apakah semua orang mengalaminya ketika usia mereka 23-an? 

Apakah aku sudah memasuki Quarter-Life Crisis???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...