Minggu, 15 Desember 2019

Alasan Paling Masuk Akal Untuk Izin Gak Masuk Kerja (Part II)



Meski saat LGD kemarin pendampingnya bilang menyukai ideku, aku tidak berharap banyak bisa lanjut ke tahap tes berikutnya. Itulah kenapa aku kembali kelimpungan mencari alasan izin gak masuk kerja ke atasanku begitu menerima e-mail undangan interview user di markas besar bank BUMN tersebut. Aku benar-benar stres karena alasan BPJS tentu tidak bisa kuandalkan dua kali.

Namun seperti kalimat bijak kepsek sekolah sihir Hogwarts, ‘bantuan akan selalu diberikan kepada mereka yang mengharapkan’, aku kembali mendapat ide (kurang kreatif tetapi bernilai kemanusiaan tinggi). Alasan itu : menjaga sepupu di rumah sakit.

“Oalah. Kamu itu baru masuk, masa sudah dua kali izin?” begitu kata atasanku.
“Iya, Bu. Saya juga berat untuk izin, tapi dia sepupu saya yang tidak punya kerabat lain di sini selain saya. Mohon di-acc ya, Bu?”

Jelas aku terdengar lebih kepada memaksa daripada memohon izin. Tapi ajaibnya beliau setuju, dengan syarat aku harus lebih cepat mempelajari sistem kerja di bagian marketing ini.

“Kamu bulan depan sudah meng-handle customer sendiri. Dan itu tidak mudah, Lena.”

Ya, kuharap bulan depan aku sudah angkat kaki dan bergabung dengan BUMN itu,-

Interview. Hm, ini sudah interview yang keberapa ya, yang kuhadapi sebagai jobseeker. Pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan sudah bisa kutebak, cara menjawabnya pun sudah kucoba untuk diingat-ingat. Malamnya aku tidak numpang di kosan Desry, kuputuskan menggunakan bedak dan lipstik saja.

Aku naik KRL ke gedung dimana tempat interview-nya akan berlangsung. Wah, lingkungan sekitar kantornya memang khusus kantor-kantor perusahaan. Orang-orang berpakaian sangat rapi dan terlihat berkarisma. Yang laki-laki tinggi menjulang. Yang wanitanya cantik gemulai. Penampilan mereka semua mewah. Daerah ini sangat elit. Kurasa harga air mineral pun dipatok 20 ribu segelas di sini. Aku jadi takut haus.

Masuk ke lantai dan ruangan yang sudah disebutkan di undangan e-mail. Di sana kudapati si cewek yang sempat mendebat ideku saat LGD tempo hari sudah duduk manis dengan setelan blazer-nya yang berwarna krem. Rambutnya dibiarkan terurai. Dia memang cantik sih. Kalau sempat dia gak keterima dalam program ini, aku rasa recruiter perlu periksa mata ke dokter.

“Hey, sudah lama?” sapaku.
“Eh, belum kok,” katanya. “Tadi dikasih surat pernyataan ini,” dia menunjukkan kertas yang sudah bermaterai dan ditandatanganinya.

Kubaca poin-poin dalam surat pernyataan itu. Ada poin yang seolah-olah mengatakan bahwa kami sudah pasti diterima meski belum interview dengan user hari itu. Poin seperti : Tidak akan menikah selama program berlangsung. Entahlah, mungkin aku yang terlalu bego memaknai poin itu.
Satu per satu peserta berdatangan dan semakin banyak. Bahkan satu kelompok LGD-ku kemarin sepertinya lolos semua. Aku mulai meragukan kesimpulanku soal surat pernyataan itu. Tidak mungkin kami semua diterima!

Tibalah giliranku untuk interview. Kumasuki ruangan itu dengan jantung bergemuruh. Ini adalah interview paling besar, penting dan berdebar yang pernah kuhadapi. User bank BUMN,..

“Halo, selamat siang, silahkan duduk.”
TENG! BELIAU SATU RAS-KU..!
“Terima kasih, Pak.”
“Bisa diperkenalkan diri dan aktivitasnya saat di kampus atau pengalaman kerja mungkin.”
Aku mulai menjabarkan panjang lebar siapa diri ini dengan sejujurnya. Beliau hanya memandangi ijazahku dengan kacamatanya yang dinaik-turunkan.

“Skripsinya dulu tentang apa?”
*-Answer*
“Nilainya apa?”
*Answer*
“Loh kenapa begitu? Memang pengerjaan skripsinya bagaimana prosesnya?”
“Saya menganalisis data-data yang saya dapatkan dengan metode x, lalu saya tarik kesimpulan apa yang akan terjadi terhadap objek penelitian saya, Pak.”
“Oh, begitu saja? Simpel ya.”
“Saya sengaja ambil judul yang tidak rumit, Pak, mengingat proses pencarian perusahaan tempat penelitiannya sudah lama, saya tidak ingin proses pengerjaan skripsinya juga butuh waktu yang lama. Jadi saya ambil yang sederhana.”

(Aku merasa bukan sedang interview dengan salah satu bank BUMN, tapi interview beasiswa magister)

“Dimana prioritas daerah penempatan pilihanmu?”
Sebelum menjawab aku tersenyum.
“Kalau boleh, Pak di Samosir.”
Beliau tertawa.
“Kita lagi butuh orang di Palangka Raya. Kamu dulu kuliah di sana, kan?”
“Benar, Pak. Tetapi kalau diizinkan saya ingin mengabdi ke desa asal saya. Ada kata petuah bijak dari tanah asal saya begini, ‘Sejauh-jauhnya merantau ke negeri orang, ingatlah untuk pulang dan membangun daerahmu sendiri.’

“Tapi ilmu yang kamu dapatkan itu belum banyak, belum cukup untuk kamu mengadi ke tempat asalmu berada. Sekarang saya tanya, apa yang membuatmu berbeda dari kandidat lain? Hal posistif yang kamu miliki, tapi tidak dimiliki peserta lain.”

Krek!
Hatiku mencelos. Tepat di saat setelah menanyakan hal itu, HP beliau berbunyi. Sambil si bapak ngobrol dengan orang yang menelponnya, aku memutar otak – memikirkan alasan.

Ting!
Persis beliau selesai bertelepon, sebuah lampu menyala di benakku.

“Jadi apa kelebihan kamu itu?”
“Hm, saya kan Pak seperti yang saya sebutkan di awal tadi, saya berasal dari Samosir Sumatera Utara, saya kuliah ke Kalimantan, begitu lulus ke Jakarta sendirian untuk mencari pekerjaan. Tanpa ada keluarga di sini. Tapi saya bisa bertahan hidup. Dibanding kandidat lain, saya pastinya punya mental yang lebih berani, lebih tahan banting.”

“Berarti siap ditempatkan di Palangka Raya, kan?”
Jawaban pertanyaan itu adalah penentu nasibku, diterima atau tidak. Begonya, aku bersikeras dan sok-sok suci ingin mengabdi kepada setan daerah asal.

“Ada yang mau ditanyakan?”
“Kalau boleh tau bapak dulu dari program *sensor* ini juga?”
“Iya dan saya memilih merantau. Dari saya cari pekerjaan, hingga menikah dan punya anak, saya di perantauan. Merantau itu membuat mental kuat. Sebab semakin banyak masalah yang dihadapi, semakin tangguh seseorang.”

“Jadi bapak tidak ada niatan kembali dan membangun kampung halaman sendiri?” tanyaku.
“Nanti,” jawabnya pendek.
Kuamati rambut beliau yang mulai memutih dan tau jawabannya.
“Berarti kita beda prinsip, Pak,” jawabku.

Perjuangan sampai di sana. Meski belum pengumuman aku sudah bisa menebak hasil akhirnya. Dua hari kemudian aku mendengar kandidat lain yang lanjut ke tahap medical check up (MCU).

 – aku TIDAK LOLOS seleksi program bergengsi bank BUMN itu. Saatnya kembali ke kantor – menawarkan stainless steel kepada pelanggan. 

Sorenya sepulang interview, sepupuku yang berada di Tangerang menelponku – dia masuk rumah sakit. Demi janggut Merlin, kenapa dia jadi beneran sakit????!!!
Sambil menyalahkan diri, aku menuju kosan, mengepak baju dan bergegas ke stasiun menuju Tangerang..
Apa ini yang dimaksud ‘perkataan adalah doa..?!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...