Akhirnya setelah menganggur selama kurang lebih 7 bulan, aku tanda tangan kontrak kerja lagi. Yuhuiiii...!
Baru masuk hari kedua. Perusahaan (kurang) beruntung itu adalah bank btp*.
Ini tujuan sensornya buat apa ya? Padahal kalau pun gak disensor pasti udah ketebak itu bank apa lengkapnya. Cuma nebak huruf terakhir 😆
Tapi yang paling penting adalah proses menuju tanda tangan kontrak kerja kali ini cukup dramatis mengalahkan drama korea manapun, bahkan Descendant of The Sun sekali pun (padahal aku gak pernah nonton itu drama sampai ending).
Di 'kick' dari Ruangguru (baca : gak lolos masa OJT) karena belum capai target penjualan, aku bertekad lamar pekerjaan yang tidak ada target-target an termasuk jadi kasir di kafe. Selain di kafe yang kemarin, undangan wawancara juga datang dari kafe yang beralamat di dekat mall Artha Gading Jakarta Utara ini. Aku berangkat ke sana mengenakan rok hitam selulutut dan atasan kemeja. Biasanya sih pakai celana, tapi kali ini lagi pengen pake rok.
Tiba di sana, yang datang interview ada 8 orang. Aku tiba paling awal tapi pada akhirnya pulang paling akhir. Yap, karena diterima. Hanya saja gajinya sangat jauh dari yang dibayangkan, 1 juta 700 ribu. Padahal masuk setipa hari dan jam kerjanya 10 jam.
Gils.
Aku kemarin ketawa-ketawa dalam hati waktu si adek yang ketemu di wawancara jadi waitres di tempat sebelumnya menuliskan gaji yang diinginkan di angka 2 juta. Sekarang aku dapat tawaran dengan nominal lebih kecil dari itu? Wah..wah. Hidup memang gak ketebak gengs. Makanya jangan pernah memandang sebelah sesuatu. Bisa aja kalian ngalamin lebih ekstrim.
"Saya hanya bisa berikan di angka segitu. Tapi jangan khawatir, kamu bisa tinggal gratis di mess di sini dan dapat beras gratis. Tinggal beli lauk aja. Gimana?" tawar si mbak HRD.
Dari tebakanku sih kayaknya kami seumuran. Entah kenapa aku yakin sekali kami seumuran. Tapi karena ini interview pekerjaan, kupanggil dengan embel-embel 'Bu'. Gak mungkin dong dengan embel-embel 'Friend'.
"Ada bpjs tidak, Bu?"
Duh, apa yang kuharapkan.
"Untuk saat ini belum ada."
Akhirnya aku ikhlas menerima tawaran itu. Meski gak dapat bpjs, itung2 gak ada target2 an yang bakalan menghantui setiap hari. Hanya duduk berdiri manis dan menerima pembayaran pelanggan. Kalau ketemu bule, minta nomor WA nya.
Wawancara berikutnya dengan chef-nya. Aku gak ngerti kenapa si chef ikutan mewawancarai juga. Padahal kan, aku gak bakalan ikut belanja kebutuhan dapur ya. Laki-laki yang mewawancaraiku itu ternyata kepala chef-nya dan masih muda. Kuat dugaanku dia belum menikah. Jangan-jangan usianya lebih muda dari aku. Wih, kalau berhasil menggaet kepala chef ini seumur hidup aku gak bakalan menyentuh dapur 😏. Serahin ke dia dah urusan masak dan mengurus anak-anak. Aku? Ongkang-ongkang kaki nulis skenario film.
Mimpimu, nduk...
Kayaknya mereka excited sekali menerimaku, karena si kepala chef langsung menanyaiku, "Bisa langsung mulai training hari ini?"
Pengen langsung kujawab iya, tapi aku sadar hari itu pakai rok. Pasti tidak bakalan nyaman bekerja dengan rok yang sepannya di depan ini.
"Kalau hari ini sepertinya tidak bisa."
"Loh kenapa?" -Chef
Kulirikkan mata ke si rok hitam. "Hari ini saya pakai rok."
Si kepala chef memberikan pandangan 'penting banget gitu kasih tau ke gua? Gua juga bisa liat pake mata sendiri, lu pake rok!' dan aku memilih mengabaikannya. Tapi dia setuju aku training mulai besok.
Sebenarnya dan sejujurnya aku meminta masuk mulai besok karena ingin memastikan hatiku kembali. Apakah aku benar sudah mantap akan mengambil kesempatan yang ditawarkan atau masih ragu. Daripada setelah seminggu masuk tiba-tiba cabut kan gak enak.
Masih ada satu perusahaan yang menunggu jawaban. Iya sih posisi telemarketing yang ada targetnya. Dari perusahaan outsourcing. Gajinya memang umr, dapat bpjs kesehatan dan tenaga kerjaan.
Tapi, lagi.. ada targetnya.
Dalam perjalanan pulang ke kosan, aku melamun. Aku pernah bilang, 'Tuhan beri aku pekerjaan apa saja yang kecil gajinya pun gak apa-apa asalkan jangan ada target2 nya yang bikin otak pusing'. Ternyata setelah doa dikabulkan pun manusia masih merasakan kegalauan ya. .
Turun di halte dekat kos, aku melarikan diri ke Mcd. Pesan sesuatu yang promo lalu naik ke lantai 2. Ini tempat yang pas untuk merenung sambil memandangi jalan raya.
Gak peduli seberapa kerasa aku mikir, aku gak tau mau pilih yang mana. Yang satu menawarkan uang lumayan dengan resiko stres mikirin target, satu lagi nawarin gaji kecil tapi bebas dari stres mikirin target.
"Dek, ingat. Kau udah sekian umurnya. Udah kau pikirin masa depanmu? Udah ada tabunganmu? Cewek kalau mau nikah harus ada loh emasnya atau bajunya yang layak," kakakku menyampaikan pemikirannya.
Kenapa jadi disuruh siap-siap buat nikah?!
Setelah itu dia menekankan semua pekerjaan memang ada tekanannya masing-masing. Kalau aku melarikan diri dari tekanan itu, bukan berarti seumur hidup aku bebas dari yang namanya tekanan. Intinya dia secara gak langsung meminta aku buat GAK NGAMBIL pekerjaan jadi kasir di kafe itu.
Huft,,, padahal aku udah mengkhayal punya suami yang jago masak.
Sorenya pulang dari Mcd, aku dapat email undangan tanda tangan kontrak kerja dari perusahaan outsourcing itu. Dengan hati-hati, malamnya kukirimkan WA permintaan maaf ke HRD kafe serta ucapan terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan padaku.
Berakhir cuma di read dong. Iyalah, dia pasti kecewa dan kesal. Gara-gara menerimaku, dia pasti sudah menolak kandidat lain.
I'm so sorry kepala chef. Eh, bu HRD maksudnya..Semoga anda tidak akan pernah lagi menemui kandidat macam awak ini..
Tiap lihat topi chef ini, langsung keingat film Ratatouille
Tidak ada komentar:
Posting Komentar