Well, aku memang nekat orangnya.
Aku pernah ke luar kota H-1 sebelum sidang akhir skripsi demi nonton film dokumenter BTS yang baru rilis di CGV
Aku pernah naik gunung Semeru sendirian tanpa bawa tenda (berakhir numpang sama pendaki lain, lalu pulang dari Ranukumbolo)
Aku juga sering melamar pekerjaan-pekerjaan yang aku sendiri bahkan gak tau job desk-nya ngapain. Pas diundang interview mulut kayak ikan kekurangan oksigen.
Seru aja gitu. Kalau nekat, apapun bisa terjadi. Daripada jadi pengecut yang suka menunda-nunda. Wkwkwkwk.
Kenekatanku kali ini adalah pergi nonton acara stand up comedy offline yang diselenggarakan komunitas Ketawa di daerah Kemang Jakarta Selatan. Aku dan anak-anak alumni peserta Worksop TipisTipisRispek udah janjian mau ketemu di sana.
FYI, ini kejadiannya minggu lalu. FYI, jarak kosanku ke lokasi acaranya adalah 1.5 jam dengan transportasi umum. Di jadwal, acaranya mulai jam 7 sampai jam 10 an. Tentu jam 10 malam ke atas tidak ada lagi busway atau KRL.
Kalau aku gak nekat, tentu aku gak bakalan pergi. Cewek, sendirian, di Jakarta, malam-malam pulang dari Kemang ke kosan di daerah Jakarta Timur naik gojek? Itu seharusnya menakutkan. Kalau mamakku tau, aku pasti dikampak. Tapi bukan 'gimana pulangnya' yang bikin aku cemas, tapi 'mau pake baju apa nanti ke sana?'
Oh tidak. Bukan karena ada seseorang yang spesial yang akan kutemui di sana. Hanya saja ini pertama kalinya aku keluar dari sangkar (baca : kosan) setelah sekian bulan mendekam karena PPKM. Entah kenapa aku gugup, takut penampilanku gak nyambung dengan konsep dunia stand up comedy (apaan sih). Pada akhirnya cuma pake kaos hitam lengan panjang sama celana cutbray (cuma itu paling modis yang ada di lemari).
Oh yeah. Setelah selesai kerja jam 1 lewat, aku udah siap-siap berangkat ke mall terdekat dulu buat nyari sandal. Padahal biasanya aku pede-pede aja pake swallow ke mana-mana. Tapi swallow memang kurang pas dipadukan sama cutbray. Jadinya aku beli sandal heels tali yang ada tumitnya 3 cm. Kalau aku jalan, suara klotak-klotaknya bikin ribut.
Perlu ganti busway dua kali sampai akhirnya tiba di Blok M (hell, ini tempat masih aja bikin aku parno karena 2 tahun yang lalu HP-ku dicopet di sini). Dari Blok M aku naik gojek sampai ke lokasi.
Sebelum masuk, wajib nunjukin tiket dan sertifikat vaksin kedua. Setelah itu baru boleh duduk di kursi yang udah disediakan. Panggungnya memang kecil, muat satu atau dua orang (ya namanya juga panggung openmic bukan panggung konser). MC-nya uhh, petchaaah.. Yang satu namanya Bang Oza, satu lagi orang India yang mengeluarkan istilah 'ketua agama', namanya Sukraj. Liat mukenya, aku langsung teringat sohibku si Butet yang suka film India. Kalau Butet di sini, pasti dia minta tanda tangan Sukraj meski gak tau Sukraj ini pekerjaannya apa.
Dan pertunjukan openmic malam itu memang tidak ditujukan untuk mereka yang mudah tersinggung atau konservatif. Karena sejak awal sampai akhir, para pesertanya ada yang bawa materi tentang agama, politik sampai tokoh-tokoh penting pejabat di Indonesia. Aku tentu saja duduk di antara 3 peserta Workshop yang datang (2 dari mereka tampil juga malam itu) dan tidak pernah berhenti ketawa sepanjang acara.
Acara ini tidak hanya diisi komika yang baru mencoba openmic saja, tapi banyak juga komika senior yang naik ke panggung : Ben Danio, Marcell Widianto, Bonar Manalu (asisten pribadi Pandji Pragiwaksono), Adit MKM, Ulwan Fakri (kepsek Pecahkan). Tapi dari semua itu ada satu komika orang Batak yang kalau gak salah namanya Reza Pasaribu. Katanya karena hidupnya terlalu baik2 aja, dia rela bikin masalah supaya dapat materi stand up. Dia sampe rela nyuruh bapaknya nikah lagi kalau gak salah, supaya dia punya adik tiri dan bisa ditulis jadi materi..
"Semakin hancur hidupnya, semakin menarik materinya," -Reza Pasaribu, headliner malam itu.
Setelah acara selesai jam 10 lewat, kami foto-foto dulu dengan panggung sebagai backgorund. Ya, gpp lah jadi penonton aja dulu, lain kali jadi orang yang naik ke panggung.
Turun ke bawah, banyak yang belum langsung pulang. Aku langsung sok akrab sama Bang Bonar dan nanya aslinya Batak dari mana. Kata dia dari Tebing Tinggi.
"Jadi kau merantau di sini?" tanya dia samaku.
"Bukan Bang, aku masih 17 tahun. Baru lulus SMA."
Sialnya dia percaya pulak. Terpaksa kuklarifikasi.
"Kerja Bang, jadi sales. Nawarin pinjaman pensiunan. Kalau ada loker di rumah Bang Pandji boleh lah Bang," kataku memelas.
Dia bilang belum ada.
"Nantilah, aku sama si Reza mau bikin komunitas stand up indo Kristen. Tapi kau katolik atau protestan ini?"
Wah, gak pernah kusangka aku akan tiba di saat dimana aku harus berpikir beberapa detik sebelum menyebutkan agamaku.
"Katolik Bang, tapi aku bisa pindah kok. Hahahahah." (Tuhan, ini gak serius ya. Aku lahir sampe mati setia kok).
Setelah lama ngalor-ngidul mereka mau pergi kongkow. Aku diajak sih, tapi kosanku ketat soal jam pulang malam. Ini aja aku kayaknya tidur di luar malam ini, pagar udah dikunci.
"Baik-baik kau ya, jangan nakal." -Bang Bonar.
"Nakal kek mana dulu Bang?"
"Ya kayak kami ini."
"Aku malah terinspirasi sama itok Reza Pasaribu tadi. Semakin hancur hidupnya, semakin menarik materinya."
Bang Bonar menggaruk kepalanya. Dipanggilnya si Reza. "Za, mampus kau. Udah kau sesatkan satu anak orang malam ini!"
Pokoknya ini adalah one of the best night in my life. Akhirnya bisa nonton acara openmic langsung, bukan dari layar HP atau zoom.
Aku pulang naik gojek dan sialnya mahal, 40 ribu. Sepanjang perjalanan pulang dari Kemang ke Rawamangun, aku komat-kamit berdoa semoga ibu kos masih bangun dan semoga si driver tidak aneh2.
| temukan bedanya 😄 |
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar