Hari ini pertama kalinya beneran dendam, kesal, marah, muak sama pekerjaan ini. Koreksi : orang-orang yang menjalankan perusahaan ini. Aku gak ada masalah dengan sistem kerjanya yang shifting. Aku bahkan berkorban beberapa kali. Tempo hari abangku yang udah 10 tahun gak pulang kampung (pas pulang malah bawa anak sama istri), akhirnya pulang. Tadinya aku pengen ketemu meski bentar doang sama mereka di bandara, tapi jam shifting ini tidak berpihak. Bahkan nanti tanggal 20 Februari ada acara pesta adat orang tuaku yang pasahat adat sama tulangku, dimana seluruh anggota keluarga berkumpul, kelima saudaraku, termasuk adik laki-laki yang udah 7 tahun gak pulang akhirnya pulang, tapi sekali lagi aku gak bisa hadir di sana.
Bukan karena begitu banyak uang yang kuhasilkan dari pekerjaan ini (gaji kompensasiku aja kurang 1 juta dari yang seharusnya kuterima sesuai UU Cipta kerja). Tapi aku masih bisa menahannya. Bahkan saat seluruh anggota keluarga berkumpul, aku ditinggal di sini sendirian. Hidup macam apa ini.
Setiap detik ada perubahan di kantor. Selalu ada aturan baru. Perubahan di kantor ini bahkan lebih cepat dari kecepatan mutan flash kurasa. Apa karena mereka perusahaan perbankan? Gak tau lah. Kalau CCO gak bisa menyerap perubahan ini dengan cepat, akan dikenakan ketidaksesuaian sama QA bang**t. Pekerjaan apa itu si QA bajing*n ini dengerin calls dan nyari kesalahan si CCO. Dampaknya si CCO bisa kena pengurangan gaji karena di flat (uang shifting-nya hilang), kena surat peringatan (sp) atau mungkin bisa sampai pemecatan, dikembalikan ke vendor.
Aku paham fungsi utama si QA adalah menjamin kualitas call center perusahaan, supaya informasi yang disampaikan ke nasabah tidak keliru dan sesuai ketentuan. Kalau call center salah memberikan informasi ke nasabah nanti bisa berpotensi nasabah komplain dan menjelekkan nama baik perusahaan dengan menyebarluasakannya di media sosial.
TAPI..,
QA kepar*t ini sering ngasih ketidaksesuaian yang bahkan acuannya aja gak ada. Dasar dia menurunkan itu sebagai ketidaksesuaian apa, sering gak jelas. Kita divonis bersalah, tapi gak jelas pasal atau undang-undang yang kita langgar itu yang mana. Kayak yang kuterima hari ini. Bangs*t sih. Udah gitu, tadi aku nanya ke TL ku. Di perusahaan ini masih ada demokrasi gak sih, apakah CCO bisa diberikan kesempatan buat ngasih saran, kritikan atau komentar yang membangun demi kelancaran dan kemajuan bersama, tapi kata TL ku gak akan bisa kalau yang mimpin masih yang sekarang. Aku gak tau persis dia merujuk ke siapa, tapi yeah..
TL-ku juga bilang kalau di perusahaan ini, misalkan ada yang speak-up, bakalan ditekan dan dipersulit hidupnya sebagai call center di perusahaan ini. Dia memang gak akan di PHK, tapi karena sering dicari-cari kesalahannya dan dipersulit, akhirnya si CCO bakalan resign dengan sendirinya. Yang ngomong itu adalah TL-ku, team leader ku sendiri. Yang mana dia udah 6 tahun lebih mengabdi sama perusahaan. Artinya memang sudah pernah terjadi yang kayak gitu.
Kotor sekali permainannya.
Aku sadar satu hal : menerima makian nasabah (meski bukan aku yang salah) lebih mudah daripada menerima vonis bersalah yang tidak ada penjelasannya. Anda dijatuhi hukuman, meski gak tau pasal yang dilanggar yang mana.
#baladaCCOemosi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar