Saat hidup sudah
melelahkan, mungkin itu saatnya untuk menyingkir dari rutinitas. Jadilah aku
mengajukan triple off plus satu cuti satu hari. Cuti ini tadinya buat ikutan
kegiatan pemuda gereja katolik, kemping rohani gitu, eh karena pendaftarannya
ternyata udah tutup jadilah aku alihkan menjadi naik gunung.
Seminggu sebelum
hari H hanya ada satu kali jogging pagi. Waktunya pun cuma 30 menit. Padahal
gunung yang akan dituju : Gunung Sindoro yang punya ketinggian 3153 MDPL.
Sebagai anak mapala, sebenarnya aku segan ikut open trip naik gunung. Tapi
daripada sendirian ya kan, bawa logistik, tenda dll sendiri. Mending open trip
aja. Kemarin aku ikut @tigadewaadventure biayanya 689 ribu. Itu udah termasuk
biaya transport dari Jakarta-Kledung, makanan, tenda. Kita tinggal bawa sempak
aja.
Awalnya gak
yakin mau ikut karena sendirian, sama sekali gak ada kawan yang benar-benar
udah dikenal. Bahkan H-1 aku udah mau batal karena bingung aja kok gak ada grup
WA gitu. Infonya mau liat dimana coba? Titik kumpul dimana, jam berapa. Belum
lagi matras yoga kegedean. Belum lagi tenggorokan mulai gatal kayak mau batuk.
Untungnya semua
teratasi. Matras jadinya minjam punya Eki (begitu juga dengan carrier). Aku
beli sepatu trekking (hampir 1 jeti), jaket waterproof 2 (satu tipis, satu tebal),
celana pendek dan satu kaos dari Eig*r. Totalnya … pokoknya limit kartu kredit
kandas-lah! Untung ada cicilan 0%.
Terakhir kali naik gunung itu tahun 2016. Itu pun tingginya hanya 1901 MDPL. Gak kebayang gimana naik tingginya gunung sindoro yang 3153 MDPL.
Titik kumpul yang ditentukan di CFC RS Cawang UKI. Dari BSD, aku naik KRL ke tanah abang, lanjut ke manggarai, lalu lanjut ke arah bogor dan turun di stasiun cawang. Sesampainya di titik kumpul, aku melunasi pembayaran lalu mencoba sok akrab dengan peserta cewek lainnya. Ada 4 cewek yang kayaknya lebih muda usianya dari aku. Dinda yang berbadan sangat kurus, Salma dari Bogor, Mei dari sekitaran cawang dan yang paling jauh si Anggun dari Lampung!
Kami meninggalkan Jakarta pada pukul 9 malam. Naik elf (nulisnya gini gak sih) dan untungnya aku udah minum antimo. Kami sampai di Kledung jam 6 subuh dengan disambut udara dingin khas pegunungan. Ah segar nian. Rasanya aku terlahir kembali.
Jumlah pendaki
Sindoro di tim kami ada 10 orang. Tapi ternyata kami digabung sama pendaki
sindoro dari open trip lain sehingga totalnya ada 21 orang kalo gak salah.
Setelah beres sarapan dan cuci muka (ada yang mandi gila sih, brrr dingin),
kami meninggalkan basecamp jam 10 pagi. Dan tebak apa? Ada ojek gunung di sini.
Sebagai anak
mapala, lagi-lagi aku malu. Selama di kampus kami selalu dididik dengan keras
supaya bisa survive di alam. Entah gimana reaksi seniorku di mapala kalau tau
aku naik gunung ikut open trip terus ke pos ketiga diboncengin naik motor?
Rasanya bukan lagi naik gunung, tapi ikut balapan motor trail. Mana gara-gara tanjakan, posisi penumpang itu ya.. hampir jatoh kalau gak pegangan erat (baca : pelukan) sama driver ojek yang sudah berpengalaman di bidangnya ini.
Akhirnya jam 3
sore kami udah sampai di pos tiga. Tenda sudah berdiri, makanan sudah tersedia.
Oh iya, kami makan siangnya berupa telor dadar plus indomi goreng yang udah
dibekalin dari basecamp. Itulah yang kami makan begitu sampai di pos 3.
Saat semakin
sore, udara udah makin menusuk kulit. Kalau gak langsung pakai jaket tebal bisa
kelar deh hidup. Sore itu kami habiskan dengan main UNO, lalu foto-foto
pemandangan gunung sumbing yang mulai ditutupi kabut. Jam 7 malam kami makan malam lagi berupa
daging kambing plus kerupuk. Jam 8 malam udah masuk tenda semua, bersiap untuk
tidur.
Jam 9 an kurang,
terjadi gempa. Begitu terasa karena badan di atas tanah hanya terpisah matras.
Kami tetap di dalam tenda. Gempanya cuma sebentar setelah itu lanjut tidur
lagi.
Tapi aku sama sekali gak bisa tidur. Cewek di sampingku ngorok! Demi apa dengkurannya persis banget di kupingku. Aku sampai pasang music pakai headshet biar gak dengar dengkurannya. Aku baru tidur sebentar dan udah diteriaki bangun sama panitia open trip.
Kuliat jam HP :
jam 01.30 !
Arrgghhhh kurang
tidur plus menggigil. Udara di pengunungan dinginnya gak maen-maen. Masing-masing
peserta diberikan segelas teh anget dan roti bakar pengganjal perut sebelum
‘bertarung’. Dan setelah memasang peralatan lengkap (baca : senter, jaket,
sarung tangan, kaos kaki, sepatu trekking, kupluk dan masker) kami berangkat
jam 2 subuh. Summit attack GO!!!
Tips dalam perjalanan menuju puncak adalah kalau capek silahkan berhenti sejenak. Tapi jangan lama-lama. Kalau kelamaan anda akan kedinginan. Badan harus tetap bergerak supaya hangat.
Oh ya, pendakian ini gak hanya kami aja. Banyaakkk sekali pendaki dari berbagai daerah. Ada yang sendiri, berdua, berkelompok, ikut open trip atau yang mandiri. Jadi, mendakinya tuh rame. Kita bisa berpapasan dengan pendaki lain. Kesenggol dikit bisa tergelincir sampai ke pos 1.
Memang benar ya kata orang bijak. Sifat asli seseorang akan terlihat ketika dia dalam keadaan terjepit. Yang tadinya setia nungguin temannya, karena temannya kelamaan malah ditinggalin. Pengen cepat-cepat nyampe puncak. Dalam posisi kedinginan, harus mendaki di kondisi gelap, jalanan berbatu-batu besar bahkan kadang ada jurang atau cabang pohon menghalangi. Mungkin memang tidak semua orang bisa setia.
Warna jingga
sudah mulai terlihat dari barat sewaktu mulai tercium aroma belerang. Leader rombongan langsung meminta
seluruh peserta untuk memakai masker.
Akhirnya setelah mengeluarkan pittan nunmul, puncak sindoro mulai terlihat. Entah kenapa rasanya udah dekat, tapi gak nyampe-nyampe juga. Aku bahkan sampai berlari menuju puncak dengan kondisi jalanan menanjak dan berbatu-batu besar. Bukannya segera sampai di puncak, yang ada aku sesak nafas.
Semakin berambisi terhadap sesuatu kayaknya sesuatu itu bakalan susah diraih deh!
Aku berhenti melangkah. Kulihat ke bawah, dimana banyak sekali pendaki yang masih berjuang dari bawah sana menuju puncak. Rombonganku juga udah mencar sana-sini. Kami sudah mendaki meraih puncak selama 5 jam. Kutarik nafas sejenak, hembuskan. Ingat, puncak gak akan kemana. Dia berdiam disitu. Kita hanya perlu bersabar mendaki. Kulangkahkan lagi kaki meski berat karena sudah sempat berhenti.
AKHIRNYA... PUNCAK SINDORO 3153 MDPL!!!
Dan ini memang perdana aku ikut open trip naik gunung. Rasanya jelas sangat berbeda dengan kita naik gunung sendiri. Karena saat naik gunung sendiri, kita nyalain kompor sendiri, masak makanan sendiri, bikikn teh anget sendiri, bikin tenda sendiri. Intinya naik gunungnya tuh lebih kerasa kalau gak ikut open trip sih. Belum lagi masalah jadwal. Kalau ikut open trip harus ikutin jadwal panitia. Gak bisa bebas.
Ah.
Kapan-kapan mau nyobain naik gunung sendiri lah. Tanpa open trip, tapi tetap ada temanlah. Masa iya aku sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar