Sebenarnya hari ini gue malas ngampus. Ternyata bener aja. Dosennya gak ada yang datang. Tanpa pikir pendek lagi, gue
balik ke kos ngambil laptop, terus wifi-an di kampus. Gak sendiri, ada cewek
ababil yang betah dekat sama gue, Toguma. Sebenarnya dia ini fans gue, tapi dia
aja yang gak pernah mau mengakuinya. Gue faham aja sih.
Tiba-tiba
aja gue teringat kos gue yang lama. Lebih tepatnya sama teman kos gue yang udah
sebulan gue tinggalin di sana, Kome (ini nama panggilan gue aja). Gue juga gak
nyangka bakalan punya masalah sama dia, teman gue sejak SMP-SMA, satu kelas,
malah pernah satu bangku, eh satu meja. Malah gue udah nebak kalau misalnya
nanti gue sama Kome bakalan wisuda sama-sama. Padahal si Kome ini mulai kuliah
2014 (Akuntansi), sedangkan gue udah kuliah dari 2013 lalu Teknik Pertambangan.
Karena banyak isu yang beredar di sekitar anak teknik kalau anak teknik
wisudanya lama, ada yang 4,5 tahun, 5 tahun, 6 tahun, bahkan 7 tahun. Gue pun
ngasih batasan, setidaknya 5 tahun lah gue udah harus wisuda. Tahun 2018 nanti,
gue sama Kome sama-sama diwisuda. Orang tua kita akan datang bersama dari
Sumatra sana, terus bangga sama kita berdua, terus diadakanlah pesta syukuran 3
hari 2 malam, terus ortu kembali ke Sumatra. Gue sama Kome pun ditinggal.
Selanjutnya kita mulai bingung nyari kerjaan.
Itu
tadinya apa yang gue harapkan terjadi. Ternyata yang gue harapkan terjadi itu
gak terjadi sama sekali. Malah jauh sekali dari itu. Kenapa? Karena begini!
Sebelum
satu kos sama Kome, gue kan udah kuliah duluan. Nah, teman satu kos gue itu
cewek (iyalah) dayak. Padahal emak, sebelum gue berangkat ke pulau ini, udah
ngasih nasehat buat satu kos sama orang Batak aja. Tapi nasehat itu gue
abaikan. Jadilah gue satu kos sama dia, sebut saja namanya Purna (ini emang
nama dia beneran). Purna ini orangnya kayaknya salah jurusan deh. Dia
waktu SMA jurusan IPS. Bisa-bisanya dia masuk jurusan teknik pertambangan saat
kuliah? Itulah teman, saking gampangnya masuk ke kampus gue. Jadi, kalau anda
sudah ditolak oleh semua universitas favorit, silahkan bergabung dengan
kampus saya. Akhirnya Purna mendapat masalah. Nilai-nilainya anjlok
habis-habisan. Semangat hidupnya mulai terkupas. Tubuhnya pun makin kurus dan
pucat. Tatapan matanya mulai kekurangan cahaya. Akhirnya juga, dia memutuskan
untuk berhenti kuliah. Keputusan yang tepat menurut gue. Gue juga udah nyerah
ngajarin dia di kos. Kalo gue ajarin tentang matriks, dia kendala
mengoperasikan minus sama positif. Dia gak tau apa yang akan terjadi kalau
minus dikalikan dengan minus. Dia gak pernah tau itu.
Seperginya
Purna, gue udah celingukan nyari teman kos. Mana mau gue bayar uang kos 500
ribu/bulan? Jadi, gue harus cepat-cepat ketemu teman kos. Biar biaya itu bisa
dibagi dua. Seperti kata Dumbledore, bahwa pertolongan akan selalu diberikan
kepada mereka yang membutuhkan, pertolongan itu juga datang menghampiri gue.
Kome, lulus di kampus gue juga. Segera gue jemput dia ke bandara saking
senangnya gue, padahal pesawatnya dia aja belum berangkat dari Medan. Kehidupan
gue bersama Kome pun dimulai. Awalnya kita berencana untuk punya 3 anak aja
(apaannnn..), tapi niat ini diurungkan, mengingat Indonesia yang semakin
miskin. Singkatnya kehidupan gue sama Kome awalnya berjalan lancar-lancar aja
sama kayak anak kos lainnya. Kurang makan, banyak tidur, ada tugas, senang
dapat traktiran, senang makan di nikahan orang. Yang membedakan gue sama
Kome adalah, kalau Kome ke kampus ada yang jemput dia pake motor. Lha gue?
Kalau gue ke kampus jalan kaki sendirian. Gak ada yang mau jemput gue. Padahal
setau gue, berat badan gue masih normal aja.
Masalah
timbul saat kakak gue ngirim uang kerekening BCA Kome. Entahlah apa yang salah.
Yang pasti, uang sebesar 850 ribu itu udah menghilang sebagian. Yang tersisa
hanya 350 ribu.
"Gimana
dong, Kom?" tanya gue dengan muka mau nangis. Kome gak masang wajah
bersalah. "Sebenarnya kejadian gini udah gak sekali ini aja sih. Kemarin
juga udah pernah kejadian. Duit teman juga," katanya.
"HAH? Udah pernah kejadian, tapi kau tetap ngasih rekening
ini ke aku? Seharusnya kau bilang kek. Rekening itu udah rusak. Terus ini
gimana? Kau taulah, itu uang untuk bayar kos
sama utang sama teman praktikum bulan lalu."
Sekarang mata gue udah mulai berkaca-kaca karena kemasukan debu.
"Gini deh. Besok kita ke
Bank BCA. Kalau uangnya emang gak bisa dapat lagi, biar aku yang ganti
uangmu."
Gue pun jadi tenang. Keesokan
harinya, kita ke bank BCA. Hasilnya mengecewakan. Gue juga gak ngerti yang
dijelasin pegawai bank-nya penyebab uang itu menghilang dari rekening si Kome.
Gue harap si Kome ngerti, kan dia anak akuntansi. Sepulang dari bank..
"Maget (ini panggilan dia ke gue), bisa kan uangmu kuganti
setengah dulu? Bulan ini kubayar 250 ribu. Sisanya bulan Februari nanti."
Gue ngerasa iba juga. Perjanjian pun disetujui. Tapi ternyata, pas
udah bulan Februari waktu gue nagih yang 250 ribu itu, jawaban dia yang nyaris
bikin gue nelan pil KB adalah..
"Aku gak akan bayar yang 250 ribu itu lagi."
Gue tarik nafas dalam-dalam, keluarin pelan-pelan.
"Maksudnya?"
"Iya, aku gak akan bayar sisanya itu. Aku udah ngomong sama kakakmu. Lagian juga, ini namanya sial.
Seharusnya kita ya, bagi dua dong nanggung resikonya."
Langit seketika jadi gelap. Perlahan tapi pasti, pelangi muncul di
langit malam itu. Gue buru-buru nge-sms kakak gue. Jawaban dia ngebuat gue
makin bingung lagi. Gue pun langsung nelpon
dia.
"Kak, maksud kakak apa sih. Kenapa bilang ke dia gak usah
bayar yang sisanya 250 ribu itu?"
"HAH? Kakak gak ada bilang itu. Kakak cuma bilang, iya gpp.
Entar aja kalau udah ada uang kamu gantinya. Gitu."
"LHA? Kata dia bukan gitu. Dia gak mau bayar
sisanya."
Gue mencoba memahami apa yang
terjadi. Apakah ini cobaan Tuhan atau ujian kehidupan. Gue sama Kome jadi
diam-diaman di kos. Gak ada percakapan yang terjadi seperti biasa. Pikiran itu
pun muncul. Haruskah gue pindah kos? Tapi kan, gue udah lama di sini. 17 bulan
sudah. Gue juga yang duluan di kos ini daripada dia. Kos ini adalah peninggalan
Purna. Haruskah gue tinggalkan?
NGGAK!
GAK AKAN ADA YANG PINDAH!
Gue mulai berpikir dewasa (assek). Gue mulai mengambil nilai moral dari kejadian ini. Biarlah yang 250 ribu itu gue
relakan. Gue sama Kome mulai cakapan lagi. Gak sih, gue yang cakapin dia
duluan. Dan gue juga yang sering cakapin dia duluan. Itu pun dia jawab
seperlunya aja. Masalah lain muncul lagi. Dasar mata gue yang emang kurang
ajar, gak sengaja gue nginjak kaca mata si Kome sampai gagangnya patah. Kacanya
baik-baik aja sih. Lagian pula, si Kome ngapain coba naroh kaca mata
sembarangan di jalan mau ke dapur sama ke depan. Dia dengan pulas tertidur di
lantai. Jantung gue mulai jantungan. Bagaimana ini? Ada beberapa opsi yang
muncul seketika di otak gue.
1. Lari
dari kos, pergi ke tempat teman. Entar kalo Kome udah bangun, gue punya alibi.
Gue gak tau apa-apa karena di tempat teman.
2.
Pura-pura tidur di halaman depan kos.
3.
Membuang kaca mata itu ke tempat sampah. Nanti kalau dia bangun, terus nanya,
"Kaca mataku dimana ya?" Entar gue jawab, "mungkin tinggal di
tempat temanmu kali."
4. Opsi
terakhir, ini yang paling ekstrim. Gue tulis surat permintaan maaf sama dia,
terus gue minum baygon cair.
Guys, opsi
yang mana nih yang paling baik buat gue juga buat dia?
Ternyata
dari semua opsi itu gak ada yang gue pilih. Si Kome pun bangun. Gue, dari
depan manggil dia. "Kom.."
"Iya,
kenapa?"
"Kaca
matamu gagangnya patah gak sengaja kuinjak tadi."
Diam sejenak.
"Apalah mau kubilang."
Sejak saat itu, jadi gue yang ngerasa bersalah di kos. Kita jadi gak cakapan, kembali diam-diaman. Tiba-tiba
gue teringat si 250 ribu yang belum dia bayar. 0KEY.! Sekarang gue punya
senjata. Hari penghakiman itu pun datang. Dia yang nanya ke gue duluan.
"Magda
(dia manggil nama gue sebenarnya=suasana gak enak), kacamataku gimana?"
"Aduh,
gimana ya. Aku juga gak sengaja mijaknya. Gini aja, kemarin kan ada sisa uangku
250 ribu samamu. Itu aja gantinya. Aku udah nanya ke optik, ada kok gagang
yang harganya segitu."
Dia gak
jawab lagi, tapi sorenya dia udah pake kaca mata lagi, yang berarti udah
dibaikin sama dia. Gue kembali merasa bersalah.
0K, kali
ini gue harus pindah kos beneran. Gue langsung nanya Meli sama Sinta, adik
tingkat gue. Kali aja ada kos yang masih kosong di sana. Kata Sinta, dia ngajak
gue satu kos aja sama dia. Awalnya ide ini gak buruk. Gue pun disuruh jumpai
pemilik kos dia. Keduanya udah mulai tua.
"Pak,
Bu. Begini, saya temannya Sinta. Rencananya mau pindah ke kos ini, jadi satu
kos sama dia. Kira-kira bisa gak ya?"
Keduanya
berpandangan. Yang ngomong duluan adalah yang bapak. "Seumuran
Sinta?"
"Bukan,
Pak. Saya semester 4. Dia baru semester 2."
"Emang
kamu kos awalnya dimana, kenapa mau pindah kos?"
"Kos
saya di sana, Pak. Jauh dari kampus, makanya saya mau pindah."
"Lho?
Kenapa gak dari awal pindahnya kalau kamu ngerasa jauh. Kenapa baru
sekarang?"
Kok gue
jadi diinterogasi sih? Kantor polisi udah pindah ya, atau bagi-bagi tugas
investigasi ke pemilik kos?
"Sebenarnya,
Pak. Saya ada masalah sama teman kos saya yang sekarang. Jadi saya rasa lebih
baik saya pindah kos."
Beliau
diam. Sekarang si istri yang ngomong. "Kalau kamu pindah kos karena ada
masalah sama teman kos kamu, gimana kamu bisa menjamin gak akan ada masalah
sama Sinta?"
Kepala gue kayak ditokok pake
batu.
"Lagian,"
tambah si bapak, "Sinta udah bayar sewa untuk satu tahun ke depan. Kalau
kamu nambah, bayarannya nambah juga."
"Masalah biaya, Pak kata Sinta entar aja dibicarakan kalau
dianya udah balik."
Akhirnya, keduanya faham. Gue dikasih kunci kos si Sinta. Gue penasaran, sekotor dan seberantakan apa
sebenarnya kos anak itu. Dia sampai saranin gue bawa tongkat pel sama masker
segala. Keesokan harinya, gue ngajak Anita buat bantu gue bersihkan itu
kos. Dan ternyata...
Sampah
meluap dari kantong hitam besar di sudur ruangan, berserakan, berceceran.
Pakaian kotor juga berserakan, bercampur dengan pakaian yang berkeluaran dari lemari.
Piring dan gelas kotor juga ada dimana-mana. Dan kolor-kolor (gue yakin tadinya
pastilah warna putih) berwarna hitam ikut meramaikan suasana. Si Anita
berkali-kali menggelengkan kepalanya. Gue rasa dia mencegah niat gue untuk satu
kos sama Sinta. Kau lihat ini?
Pertimbangkan lagi..!
Kita pulang dalam keadaan masih hidup. Gue aja gak percaya.
Sebenarnya si Sinta ini cewek atau cowok sih?
Kalau dia cowok kenapa rambutnya panjang? Kalau dia cewek, kenapa sampai bisa
kolornya berwarna hitam????
Gue jadi serius mempertimbangkan kata-kata si Anita. Selanjutnya,
gue nanya ke Meli.
"Ada, Kak. Kebetulan satu lagi."
Gue langsung ke sana. Ruangannya cuma satu, 4x3. Kamar mandi di
luar, lantai bukan keramik, dan gak rata. Wajar aja 300 ribu/bulan. Tapi gue mikir,
daripada sama Sinta. Lagian, bener juga apa kata ibu kosnya dia. Gue bisa jamin gak bakalan ada masalah sama dia
nanti? Gak! Kos itu pun gue bersihkan.
Akhirnya
gue pindah. Yang bantu gue ngangkatin barang adalah si Kome. Gue sengaja sih.
Intinya supaya dia gak ngerasa gue pindah secara brutal. Gue pengen pindahannya
baik-baik aja. Hari-hari gue di kos baru itupun segera dimulai. Dan ternyata
ada beberapa hal yang gue belum tau tentang kos baru ini, dan gue menyalahkan
si Meli sepenuhnya..
Suatu siang,
gue mau masak nasi. Setelah rice cooker dicokkan ke terminal, terdengar bunyi
jleg. Meterannya balik, karena arusnya gak sanggup. Gue balikin meterannya.
Baru beberapa langkah gue balik badan, bunyi jleg lagi. Busyet, ini kos berapa,
dayanya berapa sih..! Jengkel juga lama-lama. Mana udah lapar mau mati karena 2
hari belum makan nasi.
"Mel,
tadi pas mau masak kenapa meterannya balik terus ya?" tanya gue pas si
Meli udah pulang dari kampus.
"Iya,
Kak. Kalau disini satu meteran untuk semua anak kos. Kalau bisa masak itu pas
anak yang lain pada di kampus. Biasanya siang bisa aja sih masak nasi."
Busyett..
Mau masak nasi aja butuh perjuangan!
Beberapa
hari kemudian setelah kejadian gak bisa masak nasi itu, hujan turun lebat. Saat
itu gue di kampus, terperangkap hujan, gak bisa pulang. Gue gak tau kalau itu
kos bisa banjir kalau hujan deras. Pas gue pulang ke rumah, gue liat buku-buku
yang tergeletak di lantai udah mandi air, sebagian berenang dengan gaya bebas.
HIDUP MAHASISWA....
Ibu, kembalikan saja aku ke rahimmu..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar