Selasa, 19 Mei 2015

Pikirlah ini Sebelum Pindah Kos

Sebenarnya hari ini gue malas ngampus. Ternyata bener aja. Dosennya gak ada yang datang. Tanpa pikir pendek lagi, gue balik ke kos ngambil laptop, terus wifi-an di kampus. Gak sendiri, ada cewek ababil yang betah dekat sama gue, Toguma. Sebenarnya dia ini fans gue, tapi dia aja yang gak pernah mau mengakuinya. Gue faham aja sih.

Tiba-tiba aja gue teringat kos gue yang lama. Lebih tepatnya sama teman kos gue yang udah sebulan gue tinggalin di sana, Kome (ini nama panggilan gue aja). Gue juga gak nyangka bakalan punya masalah sama dia, teman gue sejak SMP-SMA, satu kelas, malah pernah satu bangku, eh satu meja. Malah gue udah nebak kalau misalnya nanti gue sama Kome bakalan wisuda sama-sama. Padahal si Kome ini mulai kuliah 2014 (Akuntansi), sedangkan gue udah kuliah dari 2013 lalu Teknik Pertambangan. Karena banyak isu yang beredar di sekitar anak teknik kalau anak teknik wisudanya lama, ada yang 4,5 tahun, 5 tahun, 6 tahun, bahkan 7 tahun. Gue pun ngasih batasan, setidaknya 5 tahun lah gue udah harus wisuda. Tahun 2018 nanti, gue sama Kome sama-sama diwisuda. Orang tua kita akan datang bersama dari Sumatra sana, terus bangga sama kita berdua, terus diadakanlah pesta syukuran 3 hari 2 malam, terus ortu kembali ke Sumatra. Gue sama Kome pun ditinggal. Selanjutnya kita mulai bingung nyari kerjaan. 
                                     
Itu tadinya apa yang gue harapkan terjadi. Ternyata yang gue harapkan terjadi itu gak terjadi sama sekali. Malah jauh sekali dari itu. Kenapa? Karena begini!

Sebelum satu kos sama Kome, gue kan udah kuliah duluan. Nah, teman satu kos gue itu cewek (iyalah) dayak. Padahal emak, sebelum gue berangkat ke pulau ini, udah ngasih nasehat buat satu kos sama orang Batak aja. Tapi nasehat itu gue abaikan. Jadilah gue satu kos sama dia, sebut saja namanya Purna (ini emang nama dia beneran). Purna ini orangnya kayaknya salah jurusan deh. Dia waktu SMA jurusan IPS. Bisa-bisanya dia masuk jurusan teknik pertambangan saat kuliah? Itulah teman, saking gampangnya masuk ke kampus gue. Jadi, kalau anda sudah ditolak oleh semua universitas favorit, silahkan bergabung dengan kampus saya. Akhirnya Purna mendapat masalah. Nilai-nilainya anjlok habis-habisan. Semangat hidupnya mulai terkupas. Tubuhnya pun makin kurus dan pucat. Tatapan matanya mulai kekurangan cahaya. Akhirnya juga, dia memutuskan untuk berhenti kuliah. Keputusan yang tepat menurut gue. Gue juga udah nyerah ngajarin dia di kos. Kalo gue ajarin tentang matriks, dia kendala mengoperasikan minus sama positif. Dia gak tau apa yang akan terjadi kalau minus dikalikan dengan minus. Dia gak pernah tau itu. 

Seperginya Purna, gue udah celingukan nyari teman kos. Mana mau gue bayar uang kos 500 ribu/bulan? Jadi, gue harus cepat-cepat ketemu teman kos. Biar biaya itu bisa dibagi dua. Seperti kata Dumbledore, bahwa pertolongan akan selalu diberikan kepada mereka yang membutuhkan, pertolongan itu juga datang menghampiri gue. Kome, lulus di kampus gue juga. Segera gue jemput dia ke bandara saking senangnya gue, padahal pesawatnya dia aja belum berangkat dari Medan. Kehidupan gue bersama Kome pun dimulai. Awalnya kita berencana untuk punya 3 anak aja (apaannnn..), tapi niat ini diurungkan, mengingat Indonesia yang semakin miskin. Singkatnya kehidupan gue sama Kome awalnya berjalan lancar-lancar aja sama kayak anak kos lainnya. Kurang makan, banyak tidur, ada tugas, senang dapat traktiran, senang makan di nikahan orang. Yang membedakan gue sama Kome adalah, kalau Kome ke kampus ada yang jemput dia pake motor. Lha gue? Kalau gue ke kampus jalan kaki sendirian. Gak ada yang mau jemput gue. Padahal setau gue, berat badan gue masih normal aja. 

Masalah timbul saat kakak gue ngirim uang kerekening BCA Kome. Entahlah apa yang salah. Yang pasti, uang sebesar 850 ribu itu udah menghilang sebagian. Yang tersisa hanya 350 ribu. 

"Gimana dong, Kom?" tanya gue dengan muka mau nangis. Kome gak masang wajah bersalah. "Sebenarnya kejadian gini udah gak sekali ini aja sih. Kemarin juga udah pernah kejadian. Duit teman juga," katanya.
"HAH? Udah pernah kejadian, tapi kau tetap ngasih rekening ini ke aku? Seharusnya kau bilang kek. Rekening itu udah rusak. Terus ini gimana? Kau taulah, itu uang untuk bayar kos sama utang sama teman praktikum bulan lalu."
Sekarang mata gue udah mulai berkaca-kaca karena kemasukan debu.
"Gini deh. Besok kita ke Bank BCA. Kalau uangnya emang gak bisa dapat lagi, biar aku yang ganti uangmu."

Gue pun jadi tenang. Keesokan harinya, kita ke bank BCA. Hasilnya mengecewakan. Gue juga gak ngerti yang dijelasin pegawai bank-nya penyebab uang itu menghilang dari rekening si Kome. Gue harap si Kome ngerti, kan dia anak akuntansi. Sepulang dari bank..

"Maget (ini panggilan dia ke gue), bisa kan uangmu kuganti setengah dulu? Bulan ini kubayar 250 ribu. Sisanya bulan Februari nanti."
Gue ngerasa iba juga. Perjanjian pun disetujui. Tapi ternyata, pas udah bulan Februari waktu gue nagih yang 250 ribu itu, jawaban dia yang nyaris bikin gue nelan pil KB adalah..

"Aku gak akan bayar yang 250 ribu itu lagi."
Gue tarik nafas dalam-dalam, keluarin pelan-pelan.
"Maksudnya?"
"Iya, aku gak akan bayar sisanya itu. Aku udah ngomong sama kakakmu. Lagian juga, ini namanya sial. Seharusnya kita ya, bagi dua dong nanggung resikonya."

Langit seketika jadi gelap. Perlahan tapi pasti, pelangi muncul di langit malam itu. Gue buru-buru nge-sms kakak gue. Jawaban dia ngebuat gue makin bingung lagi. Gue pun langsung nelpon dia.
"Kak, maksud kakak apa sih. Kenapa bilang ke dia gak usah bayar yang sisanya 250 ribu itu?"
"HAH? Kakak gak ada bilang itu. Kakak cuma bilang, iya gpp. Entar aja kalau udah ada uang kamu gantinya. Gitu."
"LHA? Kata dia bukan gitu. Dia gak mau bayar sisanya." 

Gue mencoba memahami apa yang terjadi. Apakah ini cobaan Tuhan atau ujian kehidupan. Gue sama Kome jadi diam-diaman di kos. Gak ada percakapan yang terjadi seperti biasa. Pikiran itu pun muncul. Haruskah gue pindah kos? Tapi kan, gue udah lama di sini. 17 bulan sudah. Gue juga yang duluan di kos ini daripada dia. Kos ini adalah peninggalan Purna. Haruskah gue tinggalkan? 

NGGAK!
GAK AKAN ADA YANG PINDAH!

Gue mulai berpikir dewasa (assek). Gue mulai mengambil nilai moral dari kejadian ini. Biarlah yang 250 ribu itu gue relakan. Gue sama Kome mulai cakapan lagi. Gak sih, gue yang cakapin dia duluan. Dan gue juga yang sering cakapin dia duluan. Itu pun dia jawab seperlunya aja. Masalah lain muncul lagi. Dasar mata gue yang emang kurang ajar, gak sengaja gue nginjak kaca mata si Kome sampai gagangnya patah. Kacanya baik-baik aja sih. Lagian pula, si Kome ngapain coba naroh kaca mata sembarangan di jalan mau ke dapur sama ke depan. Dia dengan pulas tertidur di lantai. Jantung gue mulai jantungan. Bagaimana ini? Ada beberapa opsi yang muncul seketika di otak gue. 

1. Lari dari kos, pergi ke tempat teman. Entar kalo Kome udah bangun, gue punya alibi. Gue gak tau apa-apa karena di tempat teman.
2. Pura-pura tidur di halaman depan kos. 
3. Membuang kaca mata itu ke tempat sampah. Nanti kalau dia bangun, terus nanya, "Kaca mataku dimana ya?" Entar gue jawab, "mungkin tinggal di tempat temanmu kali."
4. Opsi terakhir, ini yang paling ekstrim. Gue tulis surat permintaan maaf sama dia, terus gue minum baygon cair.

Guys, opsi yang mana nih yang paling baik buat gue juga buat dia?

Ternyata dari semua opsi itu gak ada yang gue pilih. Si Kome pun bangun. Gue, dari depan manggil dia. "Kom.."
"Iya, kenapa?"
"Kaca matamu gagangnya patah gak sengaja kuinjak tadi."
Diam sejenak.
"Apalah mau kubilang."

Sejak saat itu, jadi gue yang ngerasa bersalah di kos. Kita jadi gak cakapan, kembali diam-diaman. Tiba-tiba gue teringat si 250 ribu yang belum dia bayar. 0KEY.! Sekarang gue punya senjata. Hari penghakiman itu pun datang. Dia yang nanya ke gue duluan.
"Magda (dia manggil nama gue sebenarnya=suasana gak enak), kacamataku gimana?"
"Aduh, gimana ya. Aku juga gak sengaja mijaknya. Gini aja, kemarin kan ada sisa uangku 250 ribu samamu. Itu aja gantinya. Aku udah nanya ke optik, ada kok gagang yang harganya segitu."
Dia gak jawab lagi, tapi sorenya dia udah pake kaca mata lagi, yang berarti udah dibaikin sama dia. Gue kembali merasa bersalah. 
0K, kali ini gue harus pindah kos beneran. Gue langsung nanya Meli sama Sinta, adik tingkat gue. Kali aja ada kos yang masih kosong di sana. Kata Sinta, dia ngajak gue satu kos aja sama dia. Awalnya ide ini gak buruk. Gue pun disuruh jumpai pemilik kos dia. Keduanya udah mulai tua.

"Pak, Bu. Begini, saya temannya Sinta. Rencananya mau pindah ke kos ini, jadi satu kos sama dia. Kira-kira bisa gak ya?"
Keduanya berpandangan. Yang ngomong duluan adalah yang bapak. "Seumuran Sinta?"
"Bukan, Pak. Saya semester 4. Dia baru semester 2."
"Emang kamu kos awalnya dimana, kenapa mau pindah kos?"
"Kos saya di sana, Pak. Jauh dari kampus, makanya saya mau pindah."
"Lho? Kenapa gak dari awal pindahnya kalau kamu ngerasa jauh. Kenapa baru sekarang?"

Kok gue jadi diinterogasi sih? Kantor polisi udah pindah ya, atau bagi-bagi tugas investigasi ke pemilik kos?

"Sebenarnya, Pak. Saya ada masalah sama teman kos saya yang sekarang. Jadi saya rasa lebih baik saya pindah kos."
Beliau diam. Sekarang si istri yang ngomong. "Kalau kamu pindah kos karena ada masalah sama teman kos kamu, gimana kamu bisa menjamin gak akan ada masalah sama Sinta?"
Kepala gue kayak ditokok pake batu.
"Lagian," tambah si bapak, "Sinta udah bayar sewa untuk satu tahun ke depan. Kalau kamu nambah, bayarannya nambah juga."
"Masalah biaya, Pak kata Sinta entar aja dibicarakan kalau dianya udah balik."

Akhirnya, keduanya faham. Gue dikasih kunci kos si Sinta. Gue penasaran, sekotor dan seberantakan apa sebenarnya kos anak itu. Dia sampai saranin gue bawa tongkat pel sama masker segala. Keesokan harinya, gue ngajak Anita buat bantu gue bersihkan itu kos. Dan ternyata...

Sampah meluap dari kantong hitam besar di sudur ruangan, berserakan, berceceran. Pakaian kotor juga berserakan, bercampur dengan pakaian yang berkeluaran dari lemari. Piring dan gelas kotor juga ada dimana-mana. Dan kolor-kolor (gue yakin tadinya pastilah warna putih) berwarna hitam ikut meramaikan suasana. Si Anita berkali-kali menggelengkan kepalanya. Gue rasa dia mencegah niat gue untuk satu kos sama Sinta. Kau lihat ini? Pertimbangkan lagi..!

Kita pulang dalam keadaan masih hidup. Gue aja gak percaya. Sebenarnya si Sinta ini cewek atau cowok sih? Kalau dia cowok kenapa rambutnya panjang? Kalau dia cewek, kenapa sampai bisa kolornya berwarna hitam????

Gue jadi serius mempertimbangkan kata-kata si Anita. Selanjutnya, gue nanya ke Meli.
"Ada, Kak. Kebetulan satu lagi."
Gue langsung ke sana. Ruangannya cuma satu, 4x3. Kamar mandi di luar, lantai bukan keramik, dan gak rata. Wajar aja 300 ribu/bulan. Tapi gue mikir, daripada sama Sinta. Lagian, bener juga apa kata ibu kosnya dia. Gue bisa jamin gak bakalan ada masalah sama dia nanti? Gak! Kos itu pun gue bersihkan.

Akhirnya gue pindah. Yang bantu gue ngangkatin barang adalah si Kome. Gue sengaja sih. Intinya supaya dia gak ngerasa gue pindah secara brutal. Gue pengen pindahannya baik-baik aja. Hari-hari gue di kos baru itupun segera dimulai. Dan ternyata ada beberapa hal yang gue belum tau tentang kos baru ini, dan gue menyalahkan si Meli sepenuhnya..

Suatu siang, gue mau masak nasi. Setelah rice cooker dicokkan ke terminal, terdengar bunyi jleg. Meterannya balik, karena arusnya gak sanggup. Gue balikin meterannya. Baru beberapa langkah gue balik badan, bunyi jleg lagi. Busyet, ini kos berapa, dayanya berapa sih..! Jengkel juga lama-lama. Mana udah lapar mau mati karena 2 hari belum makan nasi. 

"Mel, tadi pas mau masak kenapa meterannya balik terus ya?" tanya gue pas si Meli udah pulang dari kampus.
"Iya, Kak. Kalau disini satu meteran untuk semua anak kos. Kalau bisa masak itu pas anak yang lain pada di kampus. Biasanya siang bisa aja sih masak nasi."

Busyett.. Mau masak nasi aja butuh perjuangan!

Beberapa hari kemudian setelah kejadian gak bisa masak nasi itu, hujan turun lebat. Saat itu gue di kampus, terperangkap hujan, gak bisa pulang. Gue gak tau kalau itu kos bisa banjir kalau hujan deras. Pas gue pulang ke rumah, gue liat buku-buku yang tergeletak di lantai udah mandi air, sebagian berenang dengan gaya bebas. HIDUP MAHASISWA....

Ibu, kembalikan saja aku ke rahimmu..






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hampir di ujung jalan

Gak terasa 2025 akan berakhir. Natal juga tinggal menghitung hari. Aku memasuki tahun kontrak terakhir dari perusahaan. Oktober tahun depan ...